Hawa dingin kota Bandung di jam tiga pagi benar-benar menusuk tulang, tapi Kinanti nggak peduli. Dia duduk di pojokan bus antarkota yang membawanya menjauh dari Jakarta. Kepalanya bersandar di kaca jendela yang bergetar hebat, mengikuti laju bus yang ugal-ugalan. Setiap kali bus menghantam lubang, kepalanya terbentur, tapi rasa sakit itu nggak ada apa-apanya dibanding sesak di dadanya.
Dia terus meraba tas ranselnya yang ditaruh di pangkuan. Di dalamnya cuma ada beberapa potong baju, ijazah SMA, dan uang tabungan yang nggak seberapa. Uang itu rencananya mau dipakai buat beli laptop bekas buat keperluan kuliah semester depan, tapi sekarang? Kuliah cuma jadi mimpi yang harus dia kubur dalam-dalam.
"Nggak mungkin aku balik lagi," bisiknya pelan, hampir nggak kedengaran di antara suara mesin bus yang bising.
Kinanti memejamkan mata, dan bayangan wajah Arjuna langsung muncul. Bukan wajah Arjuna yang biasanya menyapa dia dengan senyum tipis kalau mereka papasan di meja makan, tapi wajah Arjuna yang merah padam karena murka. Tatapan mata pria itu tadi pagi benar-benar menghancurkan jiwanya. Arjuna menatapnya seolah-olah Kinanti adalah hama yang paling menjijikkan.
Dia ingat betul kata-kata Arjuna. Gugurkan atau buang saja.
Air mata Kinanti luruh lagi. Dia mengusap perutnya yang masih terasa datar. Ada rasa takut yang luar biasa kalau benar-benar ada sesuatu yang tumbuh di sana. Bagaimana mungkin dia bisa membesarkan anak dalam keadaan seperti ini? Dia nggak punya kerjaan, nggak punya rumah, dan sekarang dia jadi buronan keluarga Adiwangsa karena kabur.
Bus akhirnya sampai di terminal. Kinanti turun dengan langkah gontai. Dia nggak tahu mau ke mana. Dia punya bibi di sebuah desa kecil dekat Garut, tapi dia ragu. Kalau dia ke sana, apakah dia nggak akan makin mempermalukan keluarganya? Kabar kalau dia "tidur" sama anak majikan pasti bakal menyebar cepat kalau ada yang tahu.
Sementara itu, di Jakarta, rumah megah keluarga Adiwangsa kacau balau.
Arjuna baru saja pulang dengan keadaan berantakan. Bau alkohol masih tercium meski dia sudah mandi entah berapa kali. Dia masuk ke ruang tengah dan melihat ayahnya, Tuan Adiwangsa, sedang berdiri di depan jendela besar sambil memegang ponsel.
"Dia kabur," ucap Tuan Adiwangsa tanpa menoleh. Suaranya dingin, penuh kekecewaan.
Arjuna tertegun sejenak. "Siapa?"
"Kinanti. Dia lari lewat jendela kamarnya. Satpam baru sadar pas lihat jendelanya terbuka dan kamarnya kosong melongpong."
Arjuna mendengus kasar. Dia melempar kunci mobilnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara denting yang keras. "Baguslah kalau dia tahu diri. Biar dia pergi. Itu kan yang dia mau? Main drama supaya kita kasihan, terus sekarang kabur biar kita yang merasa bersalah."
Tuan Adiwangsa berbalik, matanya menatap tajam putra tunggalnya itu. "Kamu pikir ini bercanda, Arjuna? Kalau dia kenapa-napa di jalan, atau kalau dia benar-benar hamil anak kamu, nama Adiwangsa bakal hancur di tangan media. Kamu tahu sendiri gimana saingan bisnis kita nunggu kita terpeleset."
"Ya terus aku harus gimana, Yah? Aku harus cari dia? Aku harus sujud di kakinya?" suara Arjuna meninggi. "Dia sudah ngerusak hidup aku! Valerie mutusin aku! Dia pergi ke London pagi ini tanpa mau dengerin penjelasan aku sedikit pun. Semua karena cewek kampung itu!"
"Cari dia, Arjuna," perintah ayahnya, tidak mau dibantah. "Cari dia sampai ketemu. Bukan karena aku sayang sama dia, tapi karena aku nggak mau ada masalah di masa depan. Seret dia balik, kita urus ini secara tertutup."
Arjuna mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Dia benci situasi ini. Dia benci harus berurusan lagi dengan Kinanti. Dalam kepalanya, Kinanti bukan lagi gadis polos yang dulu sering dia kasih tumpangan kalau mau ke kampus. Sekarang, Kinanti adalah monster yang sudah menghancurkan rencana masa depannya dengan Valerie.
"Oke, aku cari. Tapi jangan harap aku bakal baik sama dia," desis Arjuna sebelum melangkah pergi menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Arjuna melihat ke arah ranjangnya. Seprai sudah diganti dengan yang baru, tapi bayangan kejadian semalam seolah menempel di dinding kamar itu. Dia mencoba mengingat-ingat. Dia ingat minum banyak di bar, lalu pulang diantar sopir. Dia ingat masuk kamar, dan ada Kinanti di sana. Tapi setelah itu? Semuanya kabur.
"Apa benar dia yang jebak aku?" gumam Arjuna.
Dia memeriksa ponselnya, mencoba menghubungi Valerie untuk kesekian kalinya, tapi nomornya sudah tidak aktif. Frustrasi, Arjuna menendang kursi kerjanya sampai terjungkal. Dia merasa terjebak dalam lubang hitam yang diciptakan oleh gadis yang selama ini dia anggap tidak berbahaya.
Kembali ke Kinanti.
Dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke daerah pinggiran yang jauh dari jangkauan siapa pun yang mengenalnya. Dia menyewa sebuah kamar kos kecil yang pengap di dekat pasar. Dindingnya hanya triplek, dan kamar mandinya ada di luar, berbagi dengan penghuni lain. Jauh sekali dari kemewahan rumah Adiwangsa yang punya pemanas air dan kasur empuk.
Malam pertamanya di sana terasa seperti neraka. Suara nyamuk dan bisingnya orang-orang pasar yang mulai beraktivitas sejak tengah malam membuatnya tidak bisa tidur. Dia meringkuk di atas kasur tipis, memeluk tasnya.
"Ibu... Kinanti takut," isaknya pelan.
Dia merasa sangat kotor. Setiap kali dia memejamkan mata, dia merasakan sentuhan-sentuhan yang tidak dia inginkan dalam mimpinya. Dia merasa dikhianati oleh takdir. Dia hanya ingin sekolah, kerja bagus, dan memperbaiki nasib. Tapi kenapa jalannya harus sekejam ini?
Besok paginya, Kinanti mencoba mencari pekerjaan. Dia berjalan menyusuri ruko-ruko, menanyakan apakah ada yang butuh tenaga cuci piring atau pembantu toko. Banyak yang menolak karena penampilannya yang terlihat terlalu "lemah" dan pucat.
Sampai akhirnya, seorang pemilik warung makan kecil kasihan melihatnya. "Kamu bisa nyuci piring? Tapi di sini kerjanya berat, dari pagi sampai malam. Gajinya nggak seberapa," kata ibu pemilik warung.
"Bisa, Bu. Apa saja saya lakukan, yang penting bisa buat makan," jawab Kinanti cepat.
Hari-hari berikutnya adalah siksaan fisik bagi Kinanti. Dia harus jongkok berjam-jam di depan tumpukan piring kotor, dengan uap panas dari tungku nasi yang membuatnya makin pusing. Tapi rasa sakit di perutnya mulai terasa berbeda. Mualnya bukan lagi mual karena telat makan, tapi mual yang sangat hebat sampai dia sering harus lari ke kamar mandi belakang untuk muntah.
"Kamu sakit, Nduk?" tanya Bu Siti, pemilik warung, suatu siang.
Kinanti menggeleng, menyeka keringat di dahinya. "Cuma masuk angin, Bu."
"Masuk angin kok tiap pagi? Wajahmu pucat banget. Jangan-jangan kamu..." Bu Siti menggantung kalimatnya, menatap perut Kinanti dengan curiga.
Kinanti membeku. Dia langsung menunduk, pura-pura sibuk menggosok panci yang berkerak. "Nggak, Bu. Saya cuma kecapekan."
Ketakutan Kinanti semakin menjadi. Dia harus memastikan semuanya. Dengan uang sisa tabungannya, dia memberanikan diri pergi ke apotek kecil yang agak jauh dari warung agar tidak ada yang melihat. Dia membeli alat tes kehamilan paling murah.
Di kamar kosnya yang remang-remang, Kinanti menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Tangannya gemetar saat memegang plastik kecil itu. Dia memejamkan mata, berdoa dalam hati agar hasilnya cuma satu garis. Dia belum siap. Dia nggak akan pernah siap.
Perlahan, dia membuka matanya.
Dua garis merah. Jelas sekali.
Kinanti merasa dunianya seolah runtuh menimpanya. Dia jatuh terduduk di lantai semen yang dingin. Alat tes itu terlepas dari tangannya.
"Nggak... ini nggak boleh terjadi," tangisnya pecah.
Dia membayangkan wajah Arjuna lagi. Pria itu pasti akan menuduhnya macam-macam lagi kalau tahu. Pria itu pasti akan menganggapnya semakin licik. Tapi yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa anak ini tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Anak ini lahir dari sebuah kebencian dan skandal yang memuakkan.
Kinanti menangis sampai matanya bengkak. Dia merasa tidak punya pilihan. Haruskah dia menggugurkan kandungan ini seperti yang dikatakan Arjuna? Tapi dia tidak tega. Ini nyawa. Nyawa yang tidak berdosa yang terjepit di antara egonya dan kemarahan Arjuna.
Di sisi lain kota, Arjuna tidak berhenti mencari. Dia sudah mengerahkan orang-orangnya, bahkan mendatangi kampus Kinanti, tapi tidak ada hasil. Teman-teman Kinanti juga tidak tahu di mana gadis itu berada.
Suatu sore, Arjuna duduk di dalam mobilnya, memandangi foto Kinanti yang ada di file data mahasiswanya. Di foto itu, Kinanti terlihat tersenyum malu-malu, sangat lugu dengan rambut yang dikuncir kuda.
"Kenapa kamu harus lari, hah? Kalau kamu lari, semua orang makin anggap kamu salah," gumam Arjuna.
Ada perasaan aneh yang mulai mengusik hati Arjuna. Rasa marah itu masih ada, sangat besar bahkan. Tapi ada juga sedikit rasa bersalah yang dia tekan dalam-dalam. Dia ingat semalam sebelum kejadian itu, dia sempat melihat Kinanti sedang belajar di ruang perpustakaan rumahnya. Gadis itu terlihat sangat tekun.
"Nggak, dia pasti akting," Arjuna mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Semua orang miskin punya cara buat naik kasta, dan dia salah satunya."
Dia membanting ponselnya ke jok samping. Dia bersumpah, kalau dia menemukan Kinanti, dia tidak akan memberi ampun. Dia akan membuat gadis itu mengakui semua perbuatannya di depan Valerie, supaya Valerie mau kembali padanya.
Tapi Arjuna tidak tahu, bahwa di sebuah kamar kos sempit di pinggiran kota, Kinanti sedang meringkuk memegangi perutnya, berjanji pada janin yang belum berbentuk itu bahwa dia akan melindunginya, meski harus menghadapi seluruh kebencian dunia, terutama kebencian dari pria yang seharusnya melindunginya.
Kinanti tahu, pelariannya mungkin akan segera berakhir. Tapi dia tidak tahu bahwa saat dia ditemukan nanti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia akan masuk ke dalam sangkar emas yang lebih menyiksa daripada kemiskinan mana pun.
Matahari baru saja naik, tapi hawa di pasar sudah mulai menyengat. Kinanti mengelap keringat yang bercucuran di pelipisnya dengan ujung daster yang sudah kusam. Bau sisa sayuran busuk dan amis ikan jadi makanan sehari-harinya sekarang. Dia baru saja selesai mencuci tiga tumpuk piring besar di warung Bu Siti, tapi rasa mual di perutnya benar-benar nggak bisa diajak kompromi pagi ini.
"Kin, kamu istirahat dulu aja. Muka kamu udah kayak kertas putih, pucat banget," tegur Bu Siti sambil menuangkan teh manis hangat ke gelas plastik.
Kinanti tersenyum tipis, mencoba terlihat kuat. "Nggak apa-apa, Bu. Dikit lagi selesai kok."
"Jangan dipaksa, Nduk. Inget, kamu itu lagi isi. Badanmu itu bukan cuma buat kamu sendiri sekarang," bisik Bu Siti pelan, takut kedengaran pelanggan lain.
Mendengar kata "isi", jantung Kinanti serasa diremas. Rahasia itu memang nggak bisa dia simpan sendiri dari Bu Siti yang sudah seperti ibunya sendiri di perantauan ini. Dua garis merah itu benar-benar mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Sekarang, setiap kali dia mau menyerah, dia selalu teringat ada nyawa kecil yang bergantung padanya.
Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran mewah di pusat Jakarta, Arjuna Adiwangsa sedang menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Di depannya ada tumpukan laporan keuangan, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Sudah hampir sebulan Kinanti menghilang tanpa jejak.
"Gimana? Ada perkembangan?" tanya Arjuna saat asisten pribadinya, Bayu, masuk ke ruangan.
Bayu menggeleng pelan. "Kami sudah cek semua terminal dan stasiun di Jakarta, Pak. Nggak ada nama dia di daftar manifes. Tapi ada informasi dari salah satu sopir bus jurusan Jawa Barat. Dia bilang sempat lihat gadis dengan ciri-ciri seperti Kinanti turun di sebuah kota kecil di perbatasan."
Arjuna berdiri tegak. Kursi kerjanya berderit keras. "Kirim lokasinya sekarang. Saya sendiri yang ke sana."
"Tapi Pak, siang ini ada rapat dengan dewan komisaris..."
"Batalkan! Urusan ini lebih penting," potong Arjuna ketus.
Dia menyambar kunci mobilnya. Rasa marah, penasaran, dan dendam bercampur jadi satu. Sebulan ini dia hidup seperti orang gila. Valerie memblokir semua akses komunikasinya. Orang tuanya setiap hari menanyakan keberadaan Kinanti. Dan yang paling parah, Arjuna sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk soal kejadian di kamar itu. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang gadis yang selama ini dia beri tumpangan.
Perjalanan menuju kota kecil itu memakan waktu empat jam. Sepanjang jalan, Arjuna cuma bisa memaki dalam hati. Dia membayangkan akan menemukan Kinanti sedang hidup senang dengan uang hasil "menjebak" dirinya. Dia membayangkan Kinanti akan tertawa puas karena berhasil membuat hidupnya hancur.
Begitu sampai di alamat yang diberikan, Arjuna harus turun dari mobil mewahnya karena jalanan terlalu sempit dan becek. Sepatu pantofel mahalnya kini kotor terkena lumpur. Dia berjalan melewati gang-gang sempit dengan wajah masam, menarik perhatian banyak orang pasar.
"Mana ada orang kaya masuk sini," bisik orang-orang, tapi Arjuna nggak peduli.
Dia berhenti di depan sebuah warung makan kecil yang terlihat sangat sederhana. Di sana, di sudut belakang warung dekat tempat cuci piring, dia melihat seorang gadis sedang jongkok. Gadis itu memakai daster longgar yang warnanya sudah pudar, rambutnya diikat asal-asalan, dan tangannya penuh busa sabun.
Itu Kinanti.
Darah Arjuna mendidih. Dia berjalan mendekat dengan langkah lebar yang mengintimidasi.
"Jadi di sini tempat persembunyian kamu?" suara Arjuna menggelegar di tengah bisingnya pasar.
Kinanti tersentak. Piring plastik yang sedang dia pegang terlepas dan jatuh ke lantai semen dengan suara klontang yang nyaring. Dia mendongak, matanya membelalak lebar melihat sosok tinggi besar yang berdiri di depannya dengan tatapan membunuh.
"Mas... Mas Arjuna?" suara Kinanti bergetar hebat.
"Hebat ya kamu. Bisa akting jadi orang susah lagi setelah bikin kekacauan di rumah saya," sindir Arjuna. Dia mencengkeram lengan Kinanti dan memaksanya berdiri.
"Lepas, Mas... sakit," rintih Kinanti.
"Sakit? Kamu pikir perasaan saya nggak sakit? Kamu pikir hidup saya nggak hancur karena ulah kamu?!" Arjuna membentak tepat di depan wajah Kinanti.
Bu Siti yang melihat itu langsung keluar dari dapur. "Eh, Mas siapa ya? Jangan kasar-kasar sama Kinanti!"
Arjuna menatap Bu Siti dengan pandangan menghina. "Ibu nggak usah ikut campur. Urusan saya sama cewek licik ini belum selesai."
"Aku nggak licik, Mas... aku cuma mau pergi supaya Mas nggak marah lagi," tangis Kinanti pecah. Dia mencoba melepaskan cengkeraman Arjuna, tapi tenaga pria itu jauh lebih kuat.
"Pergi? Kamu kabur supaya saya yang disalahin orang tua saya, kan? Supaya semua orang mikir saya cowok brengsek yang buang kamu setelah pake kamu?" Arjuna menarik Kinanti menuju ke arah mobilnya yang terparkir jauh di depan.
Orang-orang pasar mulai berkumpul menonton drama itu. Kinanti merasa sangat malu. Dia diseret seperti binatang. Tenaganya habis karena dia memang belum makan apa-apa sejak pagi.
"Mas, tolong... dengerin aku dulu," pinta Kinanti dengan napas tersengal.
"Nggak ada yang perlu didengerin lagi! Kita balik ke Jakarta sekarang. Kamu harus jelasin ke Valerie, kamu harus bersihin nama saya!"
Saat sampai di pinggir jalan raya, Kinanti mendadak berhenti. Dia merasa kepalanya berputar hebat. Perutnya terasa melilit, rasa mual yang tadi dia tahan kini memuncak. Dia melepaskan tangan Arjuna dengan sisa kekuatannya, lalu berjongkok di pinggir jalan dan muntah-muntah hebat.
Arjuna berdiri mematung. Dia menatap Kinanti dengan rasa jijik sekaligus bingung. "Nggak usah akting mual di depan saya. Saya nggak bakal kasihan."
Kinanti tidak menjawab. Dia hanya terus memuntahkan cairan bening karena perutnya memang kosong. Wajahnya yang semula pucat kini berubah jadi putih pasi, nyaris membiru. Setelah muntahnya berhenti, Kinanti mencoba berdiri, tapi matanya mendadak gelap.
Bruk!
Tubuh kecil Kinanti ambruk di atas aspal.
Arjuna tersentak. Refleks, dia menangkap kepala Kinanti sebelum menghantam tanah. "Kinanti? Hei! Bangun! Jangan main-main kamu!"
Dia menepuk-nepuk pipi Kinanti, tapi tidak ada reaksi. Napas gadis itu pendek-pendek. Orang-orang mulai mengerumuni mereka, berteriak-teriak menyuruh Arjuna membawa Kinanti ke klinik terdekat.
Dengan perasaan campur aduk antara panik dan marah, Arjuna menggendong Kinanti ke dalam mobilnya. Dia tidak peduli lagi jok mobil mewahnya terkena noda dari daster kotor Kinanti. Dia langsung memacu mobilnya menuju klinik kesehatan yang dia lewati tadi.
Di dalam klinik yang sederhana, Arjuna mondar-mandir di depan ruang periksa. Pikirannya kacau. Dia benci mengakui kalau dia merasa sedikit takut melihat Kinanti pingsan seperti itu. "Pasti dia cuma pura-pura," batinnya berkali-kali mencoba menyangkal.
Sepuluh menit kemudian, seorang dokter paruh baya keluar.
"Keluarganya?" tanya dokter itu.
Arjuna ragu sejenak. "Iya, saya... suaminya," bohongnya agar bisa mendapat informasi.
Dokter itu menghela napas panjang. "Lain kali tolong diperhatikan nutrisi istrinya, Pak. Dia kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Gula darahnya sangat rendah. Ini berbahaya buat janinnya."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Arjuna. Dia merasa seperti tersambar petir di siang bolong. "Janin? Maksud dokter?"
Dokter itu menatap Arjuna dengan heran. "Lho, Bapak belum tahu? Istri Bapak sedang hamil. Usianya sekitar enam sampai tujuh minggu. Kondisinya sangat lemah sekarang."
Arjuna mundur selangkah sampai punggungnya menabrak dinding. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat dia hampir kecelakaan tadi. Kata-kata dokter itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Hamil. Anak.
Pria itu langsung masuk ke dalam ruangan tempat Kinanti dibaringkan. Kinanti sudah sadar, tapi matanya terlihat sangat kosong menatap langit-langit klinik. Begitu melihat Arjuna masuk, dia langsung memalingkan wajah, air matanya mengalir di sudut mata.
"Benar itu?" suara Arjuna bergetar, kali ini bukan karena marah, tapi karena syok yang mendalam.
Kinanti tidak menjawab. Dia hanya terisak pelan.
Arjuna mendekati ranjang, suaranya naik satu oktav. "Jawab aku, Kinanti! Itu anak siapa?!"
Kinanti menoleh, menatap Arjuna dengan tatapan yang sangat menyedihkan. "Mas tanya anak siapa? Setelah apa yang Mas lakuin malam itu... Mas masih tega tanya itu anak siapa?"
Arjuna terdiam seribu bahasa. Logikanya mencoba menolak kenyataan itu, tapi hatinya tahu bahwa hanya dia yang menyentuh Kinanti malam itu. Skenario yang dia susun di kepalanya-bahwa Kinanti hanya ingin menjebaknya demi uang-kini terasa goyah saat melihat kondisi Kinanti yang sangat menderita.
"Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja nggak minum obat pencegah atau apa pun supaya ini terjadi?" tuduh Arjuna lagi, mencoba mempertahankan egonya yang hancur.
"Aku nggak tahu apa-apa, Mas! Aku cuma gadis kampung yang bodoh! Aku bahkan nggak tahu gimana caranya beli obat kayak gitu!" teriak Kinanti dengan sisa tenaganya. "Kalau aku mau jebak Mas, kenapa aku harus lari? Kenapa aku harus kerja jadi buruh cuci piring di sini? Aku bisa tinggal di rumah Mas dan minta uang banyak!"
Skak mat. Arjuna tidak bisa menjawab. Logika Kinanti benar. Kalau memang tujuannya harta, Kinanti tidak akan berakhir di pasar kumuh sebagai pembantu warung.
Arjuna duduk di kursi di samping ranjang, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Hidupnya benar-benar sudah berakhir. Rencananya dengan Valerie, kariernya, kebebasannya-semuanya terkunci di dalam perut gadis yang sangat dia benci ini.
"Nasi sudah jadi bubur," gumam Arjuna pahit.
Dia berdiri, menatap Kinanti dengan sorot mata yang dingin dan penuh kebencian yang baru. "Oke. Kamu menang. Kita balik ke Jakarta sekarang juga. Kita bakal nikah. Tapi jangan harap kamu bakal dapat cinta atau kebahagiaan dari aku."
Kinanti menatapnya nanar. "Aku nggak minta dinikahi, Mas. Biar aku urus anak ini sendiri."
"Nggak! Nama baik Adiwangsa nggak boleh tercemar. Kamu akan jadi istri aku secara hukum, tapi itu cuma status," Arjuna mendekatkan wajahnya ke Kinanti, memberikan ancaman yang akan mengubah hidup Kinanti selamanya. "Begitu anak itu lahir, kamu harus pergi. Kita cerai, dan anak itu jadi urusan keluarga aku. Kamu nggak punya hak seujung kuku pun atas anak itu nanti. Paham?!"
Kinanti merasa jantungnya berhenti berdetak. Ini lebih kejam daripada diusir. Arjuna ingin mengambil bagian dari dirinya, lalu membuangnya seperti sampah. Tapi dalam kondisinya yang lemah dan tidak punya siapa-siapa, Kinanti hanya bisa mengangguk pelan sambil memeluk perutnya yang kini menjadi satu-satunya alasan dia harus bertahan hidup di tengah badai kebencian pria di depannya.