Bab 1

"Kamu mau tidur dengan saya?" tanya Rima.

"Kenapa Kakak bicara begitu?" jawab Bary balas bertanya.

"Kenapa? Bukankah siang tadi di depan Penghulu, kamu sudah berikrar menjadikan saya sebagai istri kamu?" tegas Rima.

Meskipun Rima cukup lugas dalam menyampaikan argumennya, tetapi pada saat yang bersamaan, Bary masih bisa menangkap dengan jelas ada lara dalam gaung suara Rima.

"Iya, Kakak memang betul," ucap Bary juga pada akhirnya. "Tapi sampai kapan pun, Kakak tetaplah kakakku. Kakak yang saya hormati, yang akan saya cintai dengan sepenuh jiwa."

"Apakah kamu tidak mencintai saya?"

Kembali Rima melaungkan sendunya. Bary semakin mudah membaca, barusan Rima hanya coba berkamuflase tentang rasanya.

"Sangat, Kak, sangat," timpal Bary, remaja pria lima belas tahun ini dengan penuh keyakinan. "Sumpah demi Allah, saya sangat mencintai Kakak. Apakah Kakak mulai meragukan saya?"

"Lalu, kenapa kamu tidak mau tidur dengan saya?" Rima masih bersikeras, tetapi nada bicaranya semakin landai.

"Karena Kakak adalah kakakku. Mana mungkin saya berani kurang ajar sama Kakak? Saya ini adik kamu, Kak! Kenapa Kakak memaksa saya untuk melakukan itu? Apakah Kakak sudah tidak menginginkan saya untuk menemani hidup Kakak lagi? Kenapa, Kak? Apa salah saya ... ?" lirih Bary.

Bary sudah berusaha keras, tetapi pada akhirnya ia mulai kesulitan meredam rasa perih. Matanya mulai berkaca-kaca.

Mendapati itu, sedetik kemudian, Rima yang tengah hamil dengan usia kandungan jelang enam bulanan ini, sigap menabrakkan tubuhnya ke tubuh Bary, lalu memeluk Bary dengan begitu eratnya.

"Maafkan Kakak, Dek!" desis Rima dengan tidak kalah lirihnya.

Sampai di sini, bak dam jebol, Rima yang sejak tadi juga memperjuangkan tangisnya agar tidak sampai tumpah, pada akhirnya tak terbendungkan lagi.

"Karena Kakak, kamu juga ikut terlunta-lunta seperti ini," tambah Rima di antara derai isak tangisnya.

"Tidak, Kak, tidak!" balas Bary cepat. "Kakak tidak boleh bicara seperti itu. Ini mungkin sudah takdir kita. Saya ikhlas, Kak, sangat ikhlas. Kakak tidak perlu meragukan saya. Bisa hidup bersama Kakak saja, itu sudah lebih dari segalanya bagi saya. Percaya sama saya, Kak!"

Rima tak mampu lagi berkata-kata. Rima tahu, keikhlasan Bary tak mungkin dapat ia pungkiri. Akan tetapi, karena keikhlasan itu jugalah Rima semakin sukar menyembunyikan perih pada lahir dan batinnya.

Tiga bulanan hidup bersama di 'pembuangan' ini, Rima semakin letih berpura-pura tegar di hadapan Bary, adik angkatnya yang hanya dilabeli 'anak pungut' oleh Bu Lija, ibu Rima.

Sedangkan Bary, semakin ke sini, dia semakin hapal dengan sikap Rima, wanita yang menjadi korban dari kebejatan orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung bagi Rima sendiri.

Bary rela pasang badan, dan mengorbankan banyak hal, hanya demi mengembalikan senyum yang terenggut dari wajah Rima. Padahal, Bary tidak punya hubungan apa pun dengan Rima kecuali sebatas kakak angkat tersebut.

Empat bulan kemudian.

"Mana bidannya?" Rima menyambut Bary dengan mimik resah.

"Dia tidak mau datang, Kak!" sahut Bary dengan nada yang sangat terukur.

"Ya Tuhan ...," lirih Rima. "Kenapa, Dek?" tambah Rima.

"Mama Yohana minta kita bayar uang muka, lima ratus. Uang kita tidak cukup," terang Bary.

"Mama Yohana bilang begitu?" tanya Rima lagi.

"Iya, Kak," sahut Bary.

"Ya, Allah ...," gumam Rima pelan seolah-olah menggumam untuk dirinya sendiri.

Bary terdiam. Bary yang baru saja kembali dari rumah Mama Yohana, meminta Bidan Kampung tersebut untuk membantu persalinan Rima, tetapi ditolak mentah-mentah dikarenakan Bary tidak punya cukup uang untuk membayar uang muka persalinan, kian terpuruk saat mendapati mimik perih di wajah Rima.

Ingin rasanya Bary saja yang menangis menggantikan Rima. Rima yang malang ini, semenjak dia dibuang oleh ibu kandungnya sendiri, ia sudah terlalu letih menangis. 

"Tolong, Dek! Cepat cepat! Uh ... uh!" Rima membuyarkan lamunan Bary sesaat barusan.

"Iya, iya, Kak," sahut Bary dengan begitu paniknya. "Bantu apa, Kak?" tambahnya sembari menghampiri Rima.

"Cepat ambilkan sarung!" seru Rima dengan nada yang memburu.

"Iya, iya!" sahut Bary dan langsung meraih sarung yang tersusun rapi di atas tikar. "Mau diapakan sarungnya, Kak?" tanya Bary kemudian.

"Cepat lipat tiga baru taruh di bawah paha kakak!" Nada Rima semakin melaju.

Secepat itu juga Bary melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Rima. Sesaat kemudian, Bary sudah melipat kain sarungnya menjadi tiga bagian sebagaimana yang diinginkan oleh Rima. Akan tetapi, untuk menaruh kain sarung tersebut di bawah paha Rima, yang tengah rebahan terlentang dengan kedua lutut ditegakkan, Bary sungkan, Bary tidak berani.

Apalagi, Rima tengah dalam kondisi hendak bersalin, yang mana, otomatis dia tidak mengenakan pakaian dalam.

Bary sangat menghormati Rima. Meskipun dalam keadaan darurat seperti saat ini, tetap saja Bary merasa risih jika harus menatap bagian-bagian privat di tubuh Rima.

"Sudah?" tanya Rima.

"I-iya, Kak, sudah," sahut Bary sambil menyodorkan kain tersebut kepada Rima, tanpa menolehinya.

Rima menyambutnya, tetapi jika hanya satu helai kain sarung, Rima merasa belum cukup. "Masih ada sarung kita, 'kan? Tambah satu lagi!" seru Rima.

Rima semakin panik, begitupula dengan Bary. Bersamaan dengan itu, tanpa menunggu diperintah dua kali, secepat itu juga Bary melakukan seperti apa yang Rima minta. Kini Bary sudah memegang kain sarung yang lain.

"Taruh di mana ini?" tanya Bary.

"Pegang, pegang!" seru Rima. "Pegang! Taruh di bawah 'anu' kakak. Sambut bayinya pakai itu!"

"Ta-tapi, Kak?" Kondisinya semakin darurat, tetapi Bary belum bisa melakukan begitu saja apa yang diperintahkan oleh Rima.

"Tidak apa-apa, Dek, tidak apa-apa! Tolong bantu, kakak! Aduh, Ma ... tolo-ng!" lirih Rima dengan napas yang kian memburu.

Rima menyebut 'Ma', Ma yang mana? Bary merasa Rima tidak punya Ma lagi. Ma-nya sudah membuang Rima. Sedih, Bary benar-benar pilu.

Bary risih, Bary sungkan, Bary cemas. Akan tetapi, Bary harus melakukannya. Meskipun Bary tidak tahu kenapa Rima memintanya untuk melakukan hal tersebut, tetapi ia lakukan saja seperti apa yang Rima perintahkan. 

Lalu, dengan kain sarung di genggaman, ragu-ragu Bary menengadahkan tangan di 'jalan keluar', di bawah pangkal paha Rima.

"Kak ... !" desis Bary. Bary sudah melihat adanya separuh kehidupan baru yang tersembul dari sesuatu Rima.

"Uh ... ! Uh ... !" Deru napas Rima. Ia tengah mengejan sekuat tenaga.

Pada saat yang bersamaan, Rima yang kesulitan bernapas, Bary yang ketakutan. Rima yang bertarung melawan hidup atau mati, separuh nyawa Bary yang serasa telah lebih dulu melayang.

"Sudah keliatan? Uh ... ! Uh ... !" Kembali terdengar napas memburu dari Rima.

"Apa, Kak?" jawab Bary balas bertanya.

"Bayinya!" imbuh Rima.

"O, iya iya! Kepalanya sudah keliatan!" Jawab Bary.

Samar-samar, memang Bary sudah melihat kepala bayi Rima sejak beberapa saat barusan tadi. Itulah kenapa Bary sampai keringat dingin.

"Pasang tangan! Sambut kalau dia keluar! Jangan sampai dia jatuh ke lantai! Uh ... ! Uh ... !" Kali ini napas Rima lebih berat, dan lebih panjang. 

Sesaat kemudian.

"Uh ... ! Ah ... !"

Bayi Rima pada akhirnya terlahir ke dunia. Tangkas pula sepasang tangan Bary yang beralaskan kain sarung terlipat menyambut bayi tersebut. 

"Ngek ... !"

Ada jeda sekian saat lamanya barulah bayi berjenis kelamin laki-laki ini mengeluarkan suara tangisan pertamanya.

"Cepat, cepat!" Kembali nada bicara Rima menderu.

"Iya, iya, kenapa?" Bary pun kembali pada kepanikan semula.

"Kasi tengkurap!" seru Rima.

"Apa, Kak?" Bary tidak mengerti.

"Kasi tiarap dia supaya ari-arinya tidak kembali dalam perutnya," ucap Rima lagi.

"O ...." Bary membolakan bibirnya.

Lalu, meskipun bimbang, tetapi Bary tidak berani membantah. Hati-hati ia telungkupkan bayi tersebut di atas lipatan kain sarung yang yang lain. Bary menaruhnya di samping Rima.

"Lepas! Biar kakak yang tekan!" seru Rima. "Tolong ambilkan pisau biar kakak yang potong!"

"Ya, Tuhan? Jangan, Kak, jangan! Kasian, salah dia, apa? Biarkan saja dia tetap hidup! Ada saya yang nanti bantuin Kakak!"

Bab 2

"Tidak, Dek, tidak! Kakak hanya mau potong tali pusarnya," ucap Rima dengan intonasi melaju.

"Oh," sahut Bary yang pada akhirnya paham dengan maksud Rima.

Sedetik setelah itu, gegas Bary beredar meraih pisau dapur, lalu kembali menyodorkannya pada Rima.

"Bukan itu, Dek!" tampik Rima.

"Tapi Kak, mana ada pisau lain lagi? Atau parang, ya?" ucap Bary.

"Ya, Allah, Dek! Bukan, bukan! Gunting, Dek, gunting. Tolong cepat ambilkan," ulang Rima membenarkan ucapannya sendiri.

"O, iya, iya!" sahut Bary.

Kembali Bary bergegas meraih gunting yang dimaksud, lalu menyodorkannya pada Rima. Rima menyambutnya, lalu mulailah pula ia mengurusi bayinya. Sedang Rima mengurusi bayinya, Bary beredar ke depan pintu gubuk, lalu duduk melempar pandang ke luar gubuk.

Malam semakin larut. Kegelapan di luar gubuk sana, tidaklah segelap pikiran Bary. Rima sudah melahirkan, Bary mulai berpikir, bagaimana kehidupan mereka esok nanti, sedangkan mereka tidak punya persiapan uang yang cukup? 

"Ya, Allah ... kuatkan kami," lirih Bary dalam hati.

Lalu, diam-diam Bary melirik Rima. 

Aneh, pikir Bary.

Kata Bu Lija, ibu Rima, Rima ini mengalami gangguan kejiwaan, kenapa malam ini dia bisa secerdas ini? Apakah tadi ada Malaikat yang datang menyembuhkan penyakitnya? Atau, apakah tadi Malaikat Jibril datang memberinya banyak ilmu? 

Ajaib. Bary berpikir, andai ia menceritakan kejadian malam ini pada orang-orang di kampung sana, Bary yakin orang-orang di kampung sana akan berpikir seribu kali untuk memvonis Rima ini mengidap kelainan jiwa.

Sampai di sini, Bary mulai berpikir, Rima tidak gila. Orang-orang yang menganggap Rima gilalah yang sebenarnya gila.

"Dek, boleh tolong Kakak lagi, ndak?" Suara Rima membuyarkan lamunan Bary.

"Boleh, Kak, boleh! Tolong apa?" jawab Bary balas bertanya sembari menghampiri Rima.

Bersamaan dengan itu, meskipun gubuk mereka ini hanya berlenterakan teplok, tetapi Bary masih bisa melihat dengan jelas bercak darah di tangan Rima. 

Aroma anyirnya, juga semakin mengukuhkan bahwa apa yang Bary lihat memang adalah darah. Bary menduga, inilah yang dimaksudkan nifas.

"Tolong bawakan gentong. Ambil yang paling kecil, ya, Dek!" ucap Rima kemudian setelah barusan sempat diam hingga beberapa saat lamanya.

Tanpa kata atau bertanya terlebih dulu untuk apa gentong, Bary beredar ke ruang belakang gubuk, meraih sebuah gentong yang biasa mereka gunakan sebagai wadah air bersih.

Gentong mereka ini adalah gentong yang terbuat dari batok buah Maja kering.

Ada beberapa buah gentong menggantung di dinding belakang gubuk. Ruangan tak bersekat dengan ruangan lain, ini yang mereka sebut dapur. Usai meraih gentong berukuran paling kecil, Bary kembali pada Rima.

"Oh, iya!" ujar Rima. "Anu, Dek!" tambah Rima.

Meskipun semakin tenang, tetapi kalimat Rima masih menggantung dikarenakan kesibukannya yang mengurusi bayinya.

"Apa, Kak?" tanya Bary yang belum mendapatkan kejelasan dari Rima.

"Coba sini gentongnya!" seru Rima.

Bary pun menyodorkan gentongnya.

"Jadi ini, Dek, ya!" Rima mulai menjabarkan apa yang harus dilakukan Bary.

Sedang Rima berkata-kata, Bary malah sibuk menjiwai bayi yang kini dalam posisi menengadah. 

"Tidurkah dia?" tanya Bary dalam hati untuk bayi yang sudah tenggelam dalam balutan kain sarung.

Bayi ini tidak bersuara. Bary khawatir jika dia tidak lagi bernapas. Sesaat, jantung Bary berdesir halus.

"Ini, Dek, tolong liat dulu!" Rima minta diperhatikan. 

"Oh, um, iya," sahut Bary.

Kini Rima sudah berada dalam posisi duduk dengan kedua lutut terlipat menyamping dan saling berimpitan, dengan tumit ia gunakan untuk mengganjal sesuatunya. 

"Tolong potong ini, ya! Potong di bawahnya sedikit," ucap Rima seraya menyentuh leher gentong. "Hati-hati potongnya jangan sampai rusak," tambah Rima.

Seperti sebelumnya, usai menyambut gentong tersebut, tanpa kata, Bary langsung beringsut, mengerjakan seperti apa yang diperintahkan oleh Rima.

Kembali ke bagian dapur.

Di sini, dengan menggunakan parang, perlahan-lahan Bary mengerat gentong buah maja kering ini. Sangat hati-hati, agar keratan tangan Bary tidak sampai menimbulkan retakan serius.

Beberapa menit kemudian, Bary pun kembali pada Rima dengan gentong yang sudah terpotong bagian atas di sekitaran leher buah maja. 

Rima menyambut gentong dari tangan Bary, lalu menjumputi benda berbau anyir yang tidak lain adalah Tembuni bayinya. Tembuni atau Plasenta tersebut, Rima memasukkannya ke dalam gentong.

"Dek, tolong jaga dia sebentar, ya!" seru Rima sembari menyudahi mengurusi Tembuni barusan. "Kakak mau urus ini dulu, sekalian mau rebus air," tambahnya sembari menjumput kain sarung yang barusan ia gunakan untuk menaruh Tembuni.

"Mau diapakan, Kak?" tanya Bary. "Biar saya saja."

"Tidak usah, Dek! Biar Kakak saja. Kamu baring-baring saja temani dia di sini. Kamu sudah ngantuk, 'kan?" sahut Rima.

"Tidak, Kak, tidak!" timpal Bary. "Saya belum ngantuk! Betul, saya!" 

Memang, meskipun sudah beberapa kali menguap, tetapi Bary merasa masih cukup mampu jika hanya untuk merebus air. 

"Biar Kakak sajalah, Dek! Apalagi, kamu pasti capek bolak-balik ke kampung sana." Rima berkeras.

"Tidak, Kak! Percayalah, saya belum ngantuk!" Bary tak mau mengalah begitu saja. "Kakak pasti lebih capek. Apalagi, kata orang-orang, pamali orang yang habis melahirkan kalau langsung kerja." 

Bary mengarang bicara demi mencegah Rima melakukan pekerjaan yang semestinya belum harus ia lakukan.

"Ah, bohong itu, Dek! Orang-orang yang bicara begitu, itu hanya alasan saja," sanggah Rima "Mereka hanya takut sakit lalu mati."

Rima begitu terus. Bersikeras untuk mengurusi sendiri urusannya. Sedangkan Bary, ia juga tidak mau mengalah. Bary lebih memilih mengurusi gentong berisi Tembuni barusan daripada harus menunggui bayi. 

Meskipun Bary tidak mengatakannya, tetapi ia masih khawatir, jangan sampai bayinya benar-benar sudah mati. 

Bayi Rima benar-benar sedang tanpa suara. Andai tak merasa sungkan, ingin rasanya Bary mendekatkan jari telunjuk ke hidung sang bayi demi memastikan apakah bayi yang tengah berbalut kain sarung ini masih bernapas atau tidak.

Beberapa saat kemudian, setelah diyakinkan oleh Bary, pada akhirnya Rima mengalah.

Selain merebus air, Rima meminta Bary untuk menutup mulut gentong dengan menggunakan kresek atau apa saja agar Tembuni yang berada di dalamnya tetap berada dalam keadaan aman.

Tentu, itu bukanlah hal yang sulit bagi Bary. Beberapa saat kemudian, Bary sudah selesai melakukannya. 

Untuk mengamankan tembuninya agar tidak ada yang mengganggunya seperti kucing atau tikus, Bary menaruhnya di bawah lesung.

Tembuni sudah aman berada di bawah lesung yang ditelungkupkan, kini saatnya untuk merebus air. Selang beberapa saat kemudian, satu panci berisi air sudah berada di atas tungku tanah liat berbahanbakarkan dahan-dahan kayu kering. Ini tidak akan lama karena panci yang Bary gunakan hanyalah sebuah panci berukuran kecil. Panci dua kilograman inilah panci terbesar yang ada di gubuk mereka. 

Sedang menunggu airnya mendidih, Bary menyempatkan diri menyandarkan punggung ke dinding di depan tungku dapur.

Di sini, selain letih, sebenarnya Bary juga sudah mengantuk berat. Bary bersikeras, semata-mata hanya ingin membantu Rima.

Bersamaan dengan itu, malam terus beringsut. Di gubuk mereka yang berada di tengah ladang, yang jaraknya dari rumah penduduk sekira satu kilometer, Bary dan Rima tidak mempunyai sebarang benda yang bisa dijadikan alat penunjuk waktu. Karenanya, mereka tidak tahu pukul berapa saat ini.

Untuk penunjuk waktu di malam hari, biasanya mereka hanya berpatokan pada kicau burung, juga cahaya di ufuk timur yang menandakan bahwa hari telah berganti.

Selainnya, adalah malam membantarkan sepi.

Asik bersandar, tanpa sadar lamunan telah menuntun Bary ke alam mimpi. Bary tertidur tanpa tahu lagi bagaimana kondisi air yang ia rebus.

"Kasian adikku ini," gumam Rima sambil merenungi wajah Bary. Setelah itu, Rima mengurusi sendiri segala keperluannya.

****

Bary baru terjaga kala asap kayu bakar di atas tungku menelesup ke pernapasannya.

"Uhuk uhuk!" Bary sampai terbatuk kecil.

"Sarapan dulu, Dek! Lapa-lapanya sudah kakak panasi. Maaf, tadi kakak icip sedikit," sambut Rima kala mendapati Bary yang sudah terjaga.

Sudah pagi? Bary mengernyit. Dari celah-celah dinding, ia mengintip ke luar. Bumi telah terang benderang.

"Dek!" ulang Rima.

"Iya, Kak," sahut Bary.

Mimik Kak Rima di pagi ini kian membuat Bary bertambah pilu. 

Siapa yang tidak merasa sedih? 

Lapa-lapa* yang Rima tawarkan ini adalah Lapa-lapa yang Bary dapatkan dari sisa jamuan Halalbihalal di gedung serbaguna di kecamatan sana. 

Tadi malam, saat proses halalbihalal tengah berlangsung, Bary yang memaksakan diri ke sana, tidak berani ikut berbaur bersama para tamu undangan dan para pengunjung lainnya.

Bary hanya berani bersembunyi di belakang gedung, sembari menunggu hingga para panitia pelaksana membuang sampah. 

Sekira pukul sebelas malam, barulah Bary keluar dari persembunyian. Usai memastikan sekeliling dalam kondisi 'aman', barulah Bary menghampiri tong sampah.

Di situ, Bary tidak sendirian, tetapi ada makhluk lain yang juga butuh makanan sisa tersebut. 

Pun Bary, bersama hewan-hewan yang juga butuh, mulailah mereka berebut makanan sisa yang dibuang dalam tong sampah di samping gedung serbaguna tersebut. 

Bary kebagian beberapa potong Lapa-Lapa, serta beberapa ruas tulang ayam. Lalu, dengan menggunakan baju yang ia kenakan, Bary membungkus rezeki yang setahun sekali belum tentu bisa mereka dapatkan, kemudian membawanya pulang dengan hati yang berbunga-bunga. 

Bary tahu makanan sisa yang ia bawa pulang sudah tersentuh najis berat. Selain itu, bisa jadi telah pun terkontaminasi virus penyebab tipes.

Demi, Rima, Bary tidak peduli.

Tadi malam, Anjing dan tikus sudah lebih dulu ada dalam tong sampah saat Bary menghampiri tong sampah yang dimaksud.

Jarak antara gedung serbaguna dan gubuk mereka, cukup jauh. Sekira delapan kilometer. Butuh langkah yang cukup melelahkan untuk bisa sampai ke gubuk. 

Tadi malam, saat tiba di gubuk, di saat itulah Bary mendapati Rima yang tengah mengerang kesakitan. Dari situlah Bary sibuk mondar-mandir ke rumah Mama Yohana, yang jaraknya sekira dua kilometer dari gubuk mereka, sebelum akhirnya Bary ditolak mentah-mentah oleh Mama Yohana sang Bidan Kampung.

Selain itu, kesibukan Bary membantu proses persalinan Rima, telah membuatnya lupa dengan Lapa-Lapa yang ia bawa pulang.

Lapa-Lapa adalah makanan kesukaan Rima. Jika bukan karena Rima, Bary tidak akan mungkin pergi mengais sisa Lapa-Lapa tersebut.

***

Lapa-Lapa adalah makanan olahan sejenis Lemper, atau Buras.

Bab 3

"Makan lagilah, Kak!" seru Bary. "Saya sudah tadi malam. Itu memang sengaja saya bawa pulang untuk Kakak, kok. Maaf, tadi malam saya tidak sempat kasi tau Kakak."

Bary sadar telah berdusta, tetapi ia tidak mungkin bisa berterus-terang. 

"Tidak, Dek! Saya tidak boleh makan ini. Kasian nanti bayinya," tampik Rima.

Kali ini, Bary tidak seberapa paham dengan apa yang diucapkan Rima, tetapi Bary tidak berani menanyakan kejelasannya.

"Iyalah, Kak!" ucap Bary. "Saya cuci muka dululah kalau begitu."

Sesaat kemudian, Bary berdiri, lalu turun ke kamar mandi yang berada di tanah, bagian belakang gubuk. Bary hanya turun membasuh wajah lalu kembali ke gubuk. 

Di gubuk, potongan Lapa-Lapa yang sudah tak lagi utuh, tampak sudah tersaji di situ.

"Sarapanlah, Dek! Kalau sudah, tolong bantu Kakak lagi, ya!" seru Rima.

"Iya, bantu apa itu, Kak?" tanya Bary sambil mengambil tempat duduk, bersila di depan piring kaleng berisi Lapa-Lapa, dan beberapa potong daging ayam yang juga sudah tak lagi utuh. 

Hanya berupa tulang-tulang ayam. Apakah masih ada sedikit daging atau tinggal tulangnya saja, Bary belum bisa memastikan. Apalagi, tampaknya Rima telah menambahkan kuah yang cukup banyak saat menjerang tulang ayam ini. 

Lalu, dengan mendahuluinya memohon ampun kepada Tuhan jika apa yang hendak ia makan ini ternyata memang sudah tersentuh najis 'mughalazzah', serta memohon agar dibebaskan dari tipes apabila ia telah pun terkontaminasi virus yang menyebabkannya demikian, Bary pun memulai suapan pertama seraya menyebut nama Tuhannya. 

"Lumayan," batin Bary saat mendapati masih ada sedikit daging yang menempel pada tulang-tulang ayam tersebut.

Sedang Bary menikmati sarapannya, Rima yang duduk di bagian tengah gubuk, mulai sibuk mengurusi bayinya. 

Melihat itu, Bary mengucap syukur dalam hati. Bayi Rima masih hidup, tidak seperti dugaan Bary tadi malam.

"Enak, Dek?" tanya Rima di tengah kesibukannya mengurusi bayinya.

"Alhamdulillah, Kak!" sahut Bary. Entah untuk yang mana satu ungkapan rasa syukurnya, Bary sendiri tak tahu.

"Itu tadi malam, siapa yang kasi, Dek?" tanya Rima.

"Orang yang di acara halalbihalallah, Kak! Kenapa, memang?" balas Bary.

"Dapat dari mana tadi, Dek? Halalbihalal, ya?" ulang Rima tanpa menolehi Bary.

"Iya," sahut Bary.

"Itu siapa yang masak, ya? Kayaknya tidak bersih mereka cuci ayamnya." Rima mengucap berdasarkan apa yang ia rasakan saat menyicipi makanan tersebut sesaat barusan tadi.

Mendengar itu, dengan kening mengerut, Bary menjeda kunyahan, berpikir sebentar. 

"Kenapa Kakak bisa ngomong begitu?" Bary mulai was-was.

"Ayamnya itu kayak berpasir. Pasti cucinya asal-asalan saja! Tadi terpaksa kakak cuci kembali. Itu sudah hambar, 'kan?"

"Tidak, Kak, tidak! Masih enak, kok!" sambung Bary cepat.

Rima mengutas satu senyum simpul. Hanya sampai di situ, Rima tidak menambahkan lagi, meskipun ia merasa ada yang aneh dengan makanan yang dibawa pulang oleh Bary tersebut. 

Lalu, Rima kembali sibuk mengurusi bayinya, Bary pun melanjutkan sarapannya.

Selang tidak berapa lama kemudian, Bary sudah mengakhiri sarapan dan beralih menanyai Kakak, apakah dia sendiri, sudah sarapan atau belum?

"Sudah dari tadi," jawab Rima.

"Terus, tadi Kakak bilang minta bantu, bantu apa, Kak?" tanya Bary lagi.

"Itu, na, Dek!" ujar Rima tanpa menoleh, tanpa memperinci. 

Bary diam saja sembari memperhatikan Rima yang masih sibuk mengganti lampin buatan tangan Rima sendiri. 

"Rima secerdas ini, kok, dibilang sakit jiwa, ya?" batin Bary.

Bary tidak tahu, entah sejak kapan Rima mengubah kaos oblongnya menjadi bebat bayi. Rasa kagum sekaligus sedih semakin tidak bisa Bary gambarkan untuk Rima yang konon mengalami gangguan jiwa.

Sampai di sini, Bary semakin bingung, kenapa bisa Rima yang secerdas ini divonis mengalami gangguan jiwa oleh Mama, ibunya sendiri? 

"Itu, na, Dek, Tembuni yang tadi malam. Kamu simpan di mana?" Rima membuyarkan lamunan Bary.

"O, itu?" sahut Bary. "Ada, tuh, Kak! Saya taruh di bawah lesung," terangnya.

"Bisa tolong tanamkan?" 

"Bisa, kak, bisa!" jawab Bary cepat. "Mau ditanam di mana?" tambah Bary sembari berancang-ancang untuk beredar mengambil Tembuni yang dimaksud.

"Tanam di kolong," jawab Rima. "Tapi tunggulah sampai makananmu turun di perut."

"Tidak apa-apa, Kak, sekarang saja, biar saya bisa cari kerjaan yang lain juga," ucap Bary juga.

Tanpa menunggu, Bary langsung beredar meraih gentong berisi Tembuni, lalu ia bawa turun ke tanah. Di kolong gubuk gubuk, yang berlantaikan bilah bambu, dan berdindingkan jelaja ini, dengan menggunakan Tembilang, mulailah Bary menggali lubang kecil. Tidak berapa lama kemudian, Bary sudah menggali lubang sedalam siku orang dewasa.

Merasa butuh petunjuk bagaimana cara mengebumikan tembuninya, Bary pun bertanya, "Kak! Sedalam mana galinya?"

"Itu sudah cukup, Dek!" jawab Rima yang mengintip dari celah-celah lantai gubuk. Rima dari tadi diam-diam memperhatikan Bary dari situ.

"Terus, Kak?" 

"Masukkan gentongnyalah, Dek!" 

"Begitu saja?" Bary memastikan sembari mulai meraih gentong maja berisi Tembuni.

"Iya!" jawab Rima. "Bismillah saja, atau salawat, atau apalah gitu! Pokoknya tanam saja. Usahakan jangan sampai digali hewan."

"Bijak! Tidak ada tanda-tanda dia seperti orang yang sedang mengidap kelainan jiwa," puji Bary dalam hati.

Tidak berapa lama kemudian, gentong berisi Tembuni sudah terbenam dalam tanah. Sudah pula Bary memadatkan tanah galiannya. Setelah itu, barulah Bary bertanya apakah masih ada yang perlu dikerjakan perihal Tembuni tersebut. Rima yang mengintip dari celah-celah lantai, mengucap, itu sudah cukup.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara tangis bayi Rima. Buru-buru pula Barykembali ke atas gubuk.

"Masih ada lagi yang mau dikerjakan, Kak?" tanya Bary apabila ia sudah duduk bersila di hadapan Rima.

Rima tidak menyahut. Ia begitu cemas dengan suara tangis bayinya yang kian melengking. Rima berusaha keras untuk mendiamkannya.

Saat Rima menjulurkan ujung 'susunya' ke mulut mungil sang bayi, buru-buru pula Bary membuang muka.

Rima terus berusaha hingga beberapa menit lamanya. Namun, alih-alih reda, tangis bayinya justru kian melengking.

Kini, bukan hanya Rima yang menjadi panik dibuatnya, Bary pun demikian.

"Ya, Allah, Nak ... diamlah," lirih Rima.

Mata Rima mulai berkaca-kaca. Beberapa saat kemudian, bukan hanya berkaca-kaca, tetapi Rima pun mulai ikut menangis. 

"Kenapa dia, Kak?" Bary tidak bisa lagi untuk tidak bertanya.

"Air susu kakak belum lancar, Dek!" jawab Rima di antara tangisnya.

Bary kebingungan untuk pengakuan Rima. "Apa karena Kakak yang belum cukup umur?" tanya Bary.

"Bukan, Dek!" jawab Rima. "Umur kakak sudah delapan belas, mestinya bukan itu masalahnya!"

"Syukurlah," batin Bary. Rima masih bisa menyahut, meskipun ia sambil menitikkan air mata.

"Sebentar, tolong ke pasar. Belikan kakak kacang tanah biar setu genggam. Kamu mau turun bikin bata, 'kan?" tanya Rima.

"Iya, kalau sudah tidak ada lagi yang dikerjakan di rumah ini!" jawab Bary.

"Banyak sebenarnya, Dek! Tapi turunlah! Bawa uang kakak itu. Beli sama anu, Dek, ya!"

"Apa itu?" sela Bary.

"Sama bayam cabut kalau ada," imbuh Rima.

"Apa lagi?"

"Pupur bayi, cari yang lima ribuan. Ada itu yang merek R*ta. Sama sabun mandinya. Beli yang botolan. Cari yang paling kecil."

"Lainnya?"

"Itu saja dulu. Jangan malam pulangnya, ya! Maaf kakak tidak sempat siapkan bekal."

"Iya, tidak apa-apa, Kak!"

Setelah itu, dengan membawa serta empat buah jerigen kosong lima literan yang ia pikul dengan menggunakan pikulan belahan bambu, Bary pun turun ke desa. Desa yang Bary tuju ini adalah desa tetangga, tempat di mana ia membuat batu bata.

Desa yang dimaksud ini bukanlah desa tempat dimana mereka dilahirkan, dibesarkan, kemudian diusir.

Membuat batu bata dengan upah seratus rupiah per batanya adalah pekerjaan Bary semenjak beberapa bulan setelah mereka diusir. 

Bary tahu empunya usaha tersebut sudah memberinya harga yang tidak sesuai, tidak sama rata dengan pekerja-pekerja lainnya yang rata-rata orang dewasa. 

Akan tetapi, bagi Bary cukuplah! Sebab dari penghasilan membuat batu bata tersebutlah ia dan Rima masih bisa bertahan hidup hingga sekarang ini.

Selain itu, empunya usaha batu bata ini dialah Pak Haji Gofur, orang yang sudah banyak membantu mereka.

Sampai hari ini, Bary masih berutang pada Pak Haji Ghofur. Uang satu juta rupiah yang Bary utang untuk biaya ijab kabul tempo hari, Bary mengangsurnya seratus ribu rupiah perbulan, dipotong hasil batu bata yang ia kerjakan. 

Hal inilah yang membuat Mereka kekurangan persediaan uang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED