Sampul Novel Lentera Rindu

Lentera Rindu

8.6 / 10.0
Menikah di usia 18 tahun, Rima harus menghadapi kenyataan pahit bersama suaminya, Bary. Pemuda yang berusia tiga tahun lebih muda darinya itu bersikap dingin dan menolak mentah-mentah saat Rima mengajaknya tidur bersama. Penolakan tersebut menyisakan misteri besar mengenai perasaan serta komitmen pernikahan mereka. Kisah ini akan membawa pembaca menelusuri makna mendalam dari rasa rindu dan cinta sejati yang melampaui batas duniawi lewat lentera hati.
Ringkasan Lentera Rindu
Menikah di usia 18 tahun, Rima harus menghadapi kenyataan pahit bersama suaminya, Bary. Pemuda yang berusia tiga tahun lebih muda darinya itu bersikap dingin dan menolak mentah-mentah saat Rima mengajaknya tidur bersama. Penolakan tersebut menyisakan misteri besar mengenai perasaan serta komitmen pernikahan mereka. Kisah ini akan membawa pembaca menelusuri makna mendalam dari rasa rindu dan cinta sejati yang melampaui batas duniawi lewat lentera hati.
Baca Selengkapnya

Lentera Rindu Bab 1

"Kamu mau tidur dengan saya?" tanya Rima.

"Kenapa Kakak bicara begitu?" jawab Bary balas bertanya.

"Kenapa? Bukankah siang tadi di depan Penghulu, kamu sudah berikrar menjadikan saya sebagai istri kamu?" tegas Rima.

Meskipun Rima cukup lugas dalam menyampaikan argumennya, tetapi pada saat yang bersamaan, Bary masih bisa menangkap dengan jelas ada lara dalam gaung suara Rima.

"Iya, Kakak memang betul," ucap Bary juga pada akhirnya. "Tapi sampai kapan pun, Kakak tetaplah kakakku. Kakak yang saya hormati, yang akan saya cintai dengan sepenuh jiwa."

"Apakah kamu tidak mencintai saya?"

Kembali Rima melaungkan sendunya. Bary semakin mudah membaca, barusan Rima hanya coba berkamuflase tentang rasanya.

"Sangat, Kak, sangat," timpal Bary, remaja pria lima belas tahun ini dengan penuh keyakinan. "Sumpah demi Allah, saya sangat mencintai Kakak. Apakah Kakak mulai meragukan saya?"

"Lalu, kenapa kamu tidak mau tidur dengan saya?" Rima masih bersikeras, tetapi nada bicaranya semakin landai.

"Karena Kakak adalah kakakku. Mana mungkin saya berani kurang ajar sama Kakak? Saya ini adik kamu, Kak! Kenapa Kakak memaksa saya untuk melakukan itu? Apakah Kakak sudah tidak menginginkan saya untuk menemani hidup Kakak lagi? Kenapa, Kak? Apa salah saya ... ?" lirih Bary.

Bary sudah berusaha keras, tetapi pada akhirnya ia mulai kesulitan meredam rasa perih. Matanya mulai berkaca-kaca.

Mendapati itu, sedetik kemudian, Rima yang tengah hamil dengan usia kandungan jelang enam bulanan ini, sigap menabrakkan tubuhnya ke tubuh Bary, lalu memeluk Bary dengan begitu eratnya.

"Maafkan Kakak, Dek!" desis Rima dengan tidak kalah lirihnya.

Sampai di sini, bak dam jebol, Rima yang sejak tadi juga memperjuangkan tangisnya agar tidak sampai tumpah, pada akhirnya tak terbendungkan lagi.

"Karena Kakak, kamu juga ikut terlunta-lunta seperti ini," tambah Rima di antara derai isak tangisnya.

"Tidak, Kak, tidak!" balas Bary cepat. "Kakak tidak boleh bicara seperti itu. Ini mungkin sudah takdir kita. Saya ikhlas, Kak, sangat ikhlas. Kakak tidak perlu meragukan saya. Bisa hidup bersama Kakak saja, itu sudah lebih dari segalanya bagi saya. Percaya sama saya, Kak!"

Rima tak mampu lagi berkata-kata. Rima tahu, keikhlasan Bary tak mungkin dapat ia pungkiri. Akan tetapi, karena keikhlasan itu jugalah Rima semakin sukar menyembunyikan perih pada lahir dan batinnya.

Tiga bulanan hidup bersama di 'pembuangan' ini, Rima semakin letih berpura-pura tegar di hadapan Bary, adik angkatnya yang hanya dilabeli 'anak pungut' oleh Bu Lija, ibu Rima.

Sedangkan Bary, semakin ke sini, dia semakin hapal dengan sikap Rima, wanita yang menjadi korban dari kebejatan orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung bagi Rima sendiri.

Bary rela pasang badan, dan mengorbankan banyak hal, hanya demi mengembalikan senyum yang terenggut dari wajah Rima. Padahal, Bary tidak punya hubungan apa pun dengan Rima kecuali sebatas kakak angkat tersebut.

Empat bulan kemudian.

"Mana bidannya?" Rima menyambut Bary dengan mimik resah.

"Dia tidak mau datang, Kak!" sahut Bary dengan nada yang sangat terukur.

"Ya Tuhan ...," lirih Rima. "Kenapa, Dek?" tambah Rima.

"Mama Yohana minta kita bayar uang muka, lima ratus. Uang kita tidak cukup," terang Bary.

"Mama Yohana bilang begitu?" tanya Rima lagi.

"Iya, Kak," sahut Bary.

"Ya, Allah ...," gumam Rima pelan seolah-olah menggumam untuk dirinya sendiri.

Bary terdiam. Bary yang baru saja kembali dari rumah Mama Yohana, meminta Bidan Kampung tersebut untuk membantu persalinan Rima, tetapi ditolak mentah-mentah dikarenakan Bary tidak punya cukup uang untuk membayar uang muka persalinan, kian terpuruk saat mendapati mimik perih di wajah Rima.

Ingin rasanya Bary saja yang menangis menggantikan Rima. Rima yang malang ini, semenjak dia dibuang oleh ibu kandungnya sendiri, ia sudah terlalu letih menangis. 

"Tolong, Dek! Cepat cepat! Uh ... uh!" Rima membuyarkan lamunan Bary sesaat barusan.

"Iya, iya, Kak," sahut Bary dengan begitu paniknya. "Bantu apa, Kak?" tambahnya sembari menghampiri Rima.

"Cepat ambilkan sarung!" seru Rima dengan nada yang memburu.

"Iya, iya!" sahut Bary dan langsung meraih sarung yang tersusun rapi di atas tikar. "Mau diapakan sarungnya, Kak?" tanya Bary kemudian.

"Cepat lipat tiga baru taruh di bawah paha kakak!" Nada Rima semakin melaju.

Secepat itu juga Bary melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Rima. Sesaat kemudian, Bary sudah melipat kain sarungnya menjadi tiga bagian sebagaimana yang diinginkan oleh Rima. Akan tetapi, untuk menaruh kain sarung tersebut di bawah paha Rima, yang tengah rebahan terlentang dengan kedua lutut ditegakkan, Bary sungkan, Bary tidak berani.

Apalagi, Rima tengah dalam kondisi hendak bersalin, yang mana, otomatis dia tidak mengenakan pakaian dalam.

Bary sangat menghormati Rima. Meskipun dalam keadaan darurat seperti saat ini, tetap saja Bary merasa risih jika harus menatap bagian-bagian privat di tubuh Rima.

"Sudah?" tanya Rima.

"I-iya, Kak, sudah," sahut Bary sambil menyodorkan kain tersebut kepada Rima, tanpa menolehinya.

Rima menyambutnya, tetapi jika hanya satu helai kain sarung, Rima merasa belum cukup. "Masih ada sarung kita, 'kan? Tambah satu lagi!" seru Rima.

Rima semakin panik, begitupula dengan Bary. Bersamaan dengan itu, tanpa menunggu diperintah dua kali, secepat itu juga Bary melakukan seperti apa yang Rima minta. Kini Bary sudah memegang kain sarung yang lain.

"Taruh di mana ini?" tanya Bary.

"Pegang, pegang!" seru Rima. "Pegang! Taruh di bawah 'anu' kakak. Sambut bayinya pakai itu!"

"Ta-tapi, Kak?" Kondisinya semakin darurat, tetapi Bary belum bisa melakukan begitu saja apa yang diperintahkan oleh Rima.

"Tidak apa-apa, Dek, tidak apa-apa! Tolong bantu, kakak! Aduh, Ma ... tolo-ng!" lirih Rima dengan napas yang kian memburu.

Rima menyebut 'Ma', Ma yang mana? Bary merasa Rima tidak punya Ma lagi. Ma-nya sudah membuang Rima. Sedih, Bary benar-benar pilu.

Bary risih, Bary sungkan, Bary cemas. Akan tetapi, Bary harus melakukannya. Meskipun Bary tidak tahu kenapa Rima memintanya untuk melakukan hal tersebut, tetapi ia lakukan saja seperti apa yang Rima perintahkan. 

Lalu, dengan kain sarung di genggaman, ragu-ragu Bary menengadahkan tangan di 'jalan keluar', di bawah pangkal paha Rima.

"Kak ... !" desis Bary. Bary sudah melihat adanya separuh kehidupan baru yang tersembul dari sesuatu Rima.

"Uh ... ! Uh ... !" Deru napas Rima. Ia tengah mengejan sekuat tenaga.

Pada saat yang bersamaan, Rima yang kesulitan bernapas, Bary yang ketakutan. Rima yang bertarung melawan hidup atau mati, separuh nyawa Bary yang serasa telah lebih dulu melayang.

"Sudah keliatan? Uh ... ! Uh ... !" Kembali terdengar napas memburu dari Rima.

"Apa, Kak?" jawab Bary balas bertanya.

"Bayinya!" imbuh Rima.

"O, iya iya! Kepalanya sudah keliatan!" Jawab Bary.

Samar-samar, memang Bary sudah melihat kepala bayi Rima sejak beberapa saat barusan tadi. Itulah kenapa Bary sampai keringat dingin.

"Pasang tangan! Sambut kalau dia keluar! Jangan sampai dia jatuh ke lantai! Uh ... ! Uh ... !" Kali ini napas Rima lebih berat, dan lebih panjang. 

Sesaat kemudian.

"Uh ... ! Ah ... !"

Bayi Rima pada akhirnya terlahir ke dunia. Tangkas pula sepasang tangan Bary yang beralaskan kain sarung terlipat menyambut bayi tersebut. 

"Ngek ... !"

Ada jeda sekian saat lamanya barulah bayi berjenis kelamin laki-laki ini mengeluarkan suara tangisan pertamanya.

"Cepat, cepat!" Kembali nada bicara Rima menderu.

"Iya, iya, kenapa?" Bary pun kembali pada kepanikan semula.

"Kasi tengkurap!" seru Rima.

"Apa, Kak?" Bary tidak mengerti.

"Kasi tiarap dia supaya ari-arinya tidak kembali dalam perutnya," ucap Rima lagi.

"O ...." Bary membolakan bibirnya.

Lalu, meskipun bimbang, tetapi Bary tidak berani membantah. Hati-hati ia telungkupkan bayi tersebut di atas lipatan kain sarung yang yang lain. Bary menaruhnya di samping Rima.

"Lepas! Biar kakak yang tekan!" seru Rima. "Tolong ambilkan pisau biar kakak yang potong!"

"Ya, Tuhan? Jangan, Kak, jangan! Kasian, salah dia, apa? Biarkan saja dia tetap hidup! Ada saya yang nanti bantuin Kakak!"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Lentera Rindu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan. Alih-alih bahagia, ia justru menjadi sasaran kekejaman Adnan, suaminya yang menyimpan dendam membara kepada sang mertua. Setiap hari, Saschya harus bertahan menghadapi siksaan fisik dan mental yang keji. Namun, di tengah keputusasaan yang mendalam, sosok dari masa lalunya mendadak hadir kembali. Apakah kemunculan mereka akan menjadi penyelamat yang membebaskan Saschya, atau malah memicu prahara baru di hidupnya?
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Alicia Huang rela mendonorkan sumsum tulang belakang demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun setuju dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka wajib dirahasiakan dari publik. Kini, Alicia harus menjalani hari-hari sebagai istri yang disembunyikan layaknya wanita simpanan. Akankah pernikahan kontrak penuh rahasia ini menumbuhkan benih cinta sejati, atau justru menyisakan luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang terjadi menyisakan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan, serta pengorbanan tulus. Walau mengenalmu membawa kesedihan dan rasa sakit, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, saat kesadaran terlambat itu datang, andai saja waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik berharga bersamamu.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang di sekitarku tewas secara mengerikan. Mulai dari sahabat, kerabat dekat, hingga musuh-musuh yang pernah berbuat jahat kepadaku, semua berakhir tragis. Sang pembunuh berdarah dingin beraksi sangat rapi tanpa meninggalkan bukti sedikit pun. Teror mencekam ini terus berlanjut, memakan korban baru tanpa bisa dihentikan. Kini, di tengah misteri yang tak terpecahkan, nyawaku sendiri pun terancam menjadi target berikutnya dari sosok misterius yang mengintai.
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.3
Enam tahun menjalani pernikahan rahasia dengan seorang direktur miliarder, sang istri harus menelan pil pahit karena suaminya menolak diakui sebagai ayah oleh putra kandung mereka sendiri. Puncaknya, sang suami kembali absen di hari ulang tahun anak mereka demi menemani sekretaris wanitanya. Kecewa mendalam, sang istri mengajukan gugatan cerai lalu pergi membawa putranya selamanya. Sang suami yang biasanya tenang seketika kehilangan kendali dan mencarinya dengan panik, namun penyesalan itu sia-sia karena mereka tidak akan pernah kembali.
Sampul Novel Suamiku Mantan Playboy
9.3
Kehidupan damai Riri setelah lulus kuliah mendadak berubah ketika Julian Raffa Gunawan datang melamarnya. Walau bergelimang harta dan berparas rupawan, Raffa adalah pria keras kepala yang memiliki masa lalu sebagai playboy ulung. Riri yang semula enggan membina rumah tangga akhirnya terpaksa menyetujui lamaran tersebut. Mereka pun sepakat untuk berpacaran dan bertunangan terlebih dahulu. Kini, Riri harus tetap waspada demi menjaga hatinya agar tidak dikhianati jika tabiat buruk Raffa kembali kambuh.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED