''Hp siapa yang berbunyi? Mas Deno? Nggak, aku hapal betul bunyi nada deringnya. Tapi hp siapa?''
Aku yang sedang menidurkan si kecil bergegas mencari bunyi benda itu di seluruh sudut ruangan bahkan lemari, tak kutemui. Aneh! Di mana benda ponsel itu sebenarnya? Ia kembali berdering, kali ini lebih lama. Kucoba merungkukkan kepala ke bawah.
Tampak cahaya putih, aku langsung berusaha mengambilnya dengan susah payah karena tanganku sulit untuk menjangkaunya. Aku terheran memandangi benda canggih nan sangat asing bagiku. Namun, mataku tertuju pada layarnya.
''2 Panggilan tak terjawab dan 2 pesan dari WA? Siapa?'' Dengan hati terus bertanya bergegas kutelusuri.
''Chika sayangku?'' Membaca nama yang tertulis itu membuat dadaku terasa sesak, hatiku bak ditusuk ribuan belati, dan tanpa disadari buliran air mata lolos begitu saja.
''A-apa Mas Deno bermain di belakangku? Kalo nggak, kenapa nama kontaknya Chika Sayangku? Aku harus cek pesan di wa-nya,'' lirihku dengan buliran air mata yang terus menetes. Tanganku bergetar menekan tombol benda itu.
''Mas, kapan sih mau menikahiku? Kita udah 4 tahun pacaran loh, Mas.''
Tubuhku lemas tak berdaya, kubanting benda pipih itu ke ranjang begitu saja.
''Empat tahun kamu selingkuh Mas? Kenapa aku nggak pernah tahu, begitu licik dan pandainya kamu menutupi semuanya dari aku! Ya, bagaimana pun menyimpan bangkai suatu saat baunya akan tercium juga.''
''Kamu mau bermain denganku, Mas! Oke, aku akan ikuti permainanmu.'' Kuseka air mata dengan kasar.
''Lelaki brengs*k itu nggak perlu ditangisi. Air matamu akan terbuang sia-sia saja, Nelda!''
Aku meraih benda pipih itu kembali, langsung aku hapus pesan yang dikirimkan oleh si pelakor itu dengan tangan gemetar, begitupun dengan panggilan tak terjawab. Lalu kuletakkan kembali di tempat semula.
''Begitu rapatnya kamu tutupi dari aku, Mas.''
Aku kembali merebahkan tubuh ke ranjang sembari menatap langit-langit kamar dan sesekali melirik buah hatiku saat ini yang masih berumur 5 tahun. Jika memandang ke anak hatiku sungguh terasa teriris, tetapi aku tak tahu harus bagaimana saat ini.
Aku hanya bisa berpura-pura tak tahu soal perselingkuhan suami demi menjalankan sebuah remcana. Hatiku sungguh terasa perih sekali. Beraninya Mas Deno bermain api di belakangku apalagi sudah 4 tahun.
''Kamu kira aku ini wanita apaan, Mas!'' gumamku tersenyum sinis. Seketika pintu berderit.
Aku berpura-pura tidur. Itu pasti Mas Deno yang memasuki kamar. Mungkin dia habis mandi, karena biasanya dia pergi ke kantor lebih pagi.
''Kamu masih tidur, Sayang? Nggak solat?''
Cuih! Aku jijik mendengar kata Sayang dari mulut lelaki seperti kamu Mas. Solat? Berpura-pura baik kamu ternyata ya. Kamu bisa berbohong padaku, tetapi tidak pada Allah.
''Tukang selingkuh, nyuruh aku solat. Hahah!'' gumamku dalam hati. Aku masih berusaha berpura-pura terlelap.
''Yang, bangun dong. Udah jam berapa ini, bikini aku sarapan.'' Dia mengguncang tubuhku pelan.
''Apaan sih, Mas. Aku masih ngantuk nih. Kamu bikin mi aja sana.'' Suaraku berpura-pura seperti orang bangun tidur. Kuusap mata pelan.
''Mi? Kok kamu gitu sih? Kan kamu tahu, aku nggak suka makan mi.'' Terdengar suaranya mulai kesal denganku. Nanti malah curiga Mas Deno dengan sikapku. Ahh! Aku harus bersikap seperti biasanya. Aku bergegas duduk sambil mengumpulkan nyawa.
''Ma'af deh, Sayang,'' lirihku yang berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Entah kenapa perutku seketika mendadak mual ketika menyebut kata sayang.
''Iya, kok kamu bicara kayak gitu. Kamu kan tau kalo Mas nggak suka mi,'' ucapnya yang masih merapikan rambut lantas menatap cermin. Aku menyunggingkan bibir.
''Habisnya aku ngantuk banget, Mas.''
''Ya udah, aku bikini kamu sarapan. Tapi aku nyuci muka dulu sebentar.'' Dia hanya mengangguk lantas tersenyum menatapku.
''Sandiwara kamu sungguh luarbiasa, Mas!'' gumamku dalam hati.
Aku bergegas melangkah ke kamar kecil. Beberapa menit kemudian, aku telah selesai mencuci muka. Lantas melangkah menuju dapur. Kubuka kulkas. Alhamdulillah ada ikan dan juga seikat sayur.
Sebenarnya aku malas memasak buat suami yang tukang selingkuh, tetapi apalah daya sekarang aku hanya bisa bersikap seperti biasanya walau begitu menyakitkan.
Aku bergegas menyiapkan semua bahan. Membersihkan ikan terlebih dahulu lantas memoles dengan bumbu-bumbu halus yang kubeli kemaren yaitu bawang putih, bawang merah, kunyit, dan kububuhi garam kasar sesuai selera. Lalu kurebus hingga matang.
''Hatiku sungguh sakit. Terbayang olehku isi pesan wanita pelakor itu!'' Aku mengepalkan tangan.
''Lelaki pembohong dan nggak tahu diri, nggak seharusnya aku pertahankan!'' kesalku dalam hati. Aku tak mau gegabah dalam bertindak, demi menjalankan semua rencanaku aku akan berpura-pura tak tahu bahwa aku sudah mengetahui perselingkuhan Mas Deno.
**
Ikanku tampak sudah matang bergegas aku menggorengnya. Beberapa menit kemudian, aku telah selesai memasak dan membereskan dapur terlebih dahulu.
Seketika ada sosok tangan yang melingkar di pinggangku membuat sulit untuk bergerak, tanganku terhenti yang tengah mengelap kompor gas. Aku merasa muak dan jijik membayangkan dia yang selingkuh dengan wanita lain, apalagi kalau dia pernah memeluk pelakor itu.
''Mas, ngapain sih? Ini aku sedang kerja loh,'' sungutku. Mencoba untuk melepaskan rangkulannya namun tenaganya mengalahkan tenagaku. Mas Deno tidak tahu hatiku begitu sakit teringat pesan dari si pelakor itu.
''Mas kangen kamu. Emang kenapa? Masa suami sendiri dimarahin.'' Cuih! Aku sangat muak! Seperti hendak keluar isi perutku mendengar ucapanmu yang mungkin juga kamu ucapkan ke si pelakor itu.
''Sudah basi tahu nggak!'' kesalku dalam hati.
''I-iya, Mas. Kan Mas tahu, aku lagi kerja nih,'' lirihku kembali. Dia masih bergelayut manja.
''Mas pasti laper kan? Ya udah sarapan dulu, kan Mas mau kerja. Ntar telat loh,'' ucapku melepaskan tangan Mas Deno dari pinggangku. Dia seperti terheran menatapku. Semoga saja dia tak curiga dengan sikapku kali ini.
Tanpa mempedulikannya, aku bergegas membawa masakanku ke ruang makan, lalu menatanya di meja.
Aku tersenyum memandangi masakanku. Tak lupa pula kuletakkan nasi di meja makan. Seketika Mas Deno menghenyak di kursi.
''Kamu kok berubah sekarang, Yang?'' Aku menatapnya heran dan berpura-pura tak mengerti apa yang sedang diucapkannya.
''Apa sih maksudmu, Mas?'' tanyaku sembari mengernyitkan kening.
''Kamu kayak berubah sekarang, Nel,'' ulangnya kembali.
''Hah? Berubah? Kamu nggak demam kan, Mas?'' Aku bergegas memeriksa keningnya. Lantas dia terkekeh. Lalu beralih menatapku.
''Apaan sih kamu. Mas kan serius nanya.''
''Kamu yang apaan, Mas. Kamu bilang aku berubah dari mananya berubah coba?'' kesalku.
Tanganku masih sibuk mengaduk kopi hangat untuk Mas Deno, sekilas menoleh pada lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu.
''Mas meluk kamu aja merasa gimana gitu, aku ini suami kamu loh. Nggak biasanya kamu bersikap kayak gitu,'' jawab Mas Deno ketus. Tampak dari raut wajahnya yang kesal.
''Alahh! Gayamu, Mas. Aku jijik memeluk kamu yang bekas dipeluk wanita murahan itu!'' batinku.
''Kan aku lagi sibuk kerja, Sayang. Masa sih itu aja kamu langsung ngambek. Kayak anak kecil aja,'' ucapku lirih dan bergegas memeluknya walau terasa jijik olehku.
''Iya, iya. Ma'af deh, Yang,'' sahutnya seketika. Aku menghela napas pelan.
Segitu aja ngambek. Kamu egois, Mas! Di belakang aku aja selingkuh!
''Jangan-jangan itu untuk menutupi aibmu aja. Dasar lelaki!'' Aku tersenyum sinis.
''Ya udah, kita sarapan dulu ya,'' ucapku sembari melepaskan pelukan darinya.
Dia mengangguk lantas tersenyum. Sejak pengkianatannya terbongkar membuat aku malas memandanginya, hatiku hancur.
''Mas, Mas. Kamu lihat aja, aku lebih licik dari kamu!'' gumamku sembari tersenyum sinis memandanginya. Oke, aku akan melakukan sesuatu padamu, Mas!
''Sayang, aku berangkat dulu ke kantor ya,'' pamit Mas Deno sambil meraih tas hitam miliknya, lalu bergegas melangkah ke luar.
Seperti biasa aku mengantar ke depan hingga teras rumah. Tak lupa juga aku meraih tangannya lantas mengecup punggung tangan suami untuk takdzim. Aku tersenyum simpul dan mengangguk.
Aku berusaha untuk bersikap seperti biasanya, walaupun sakit hatiku terlalu dalam ketika mengetahui perselingkuhan Mas Deno. Demi menjalankan sebuah rencana besar.
''Hati-hati, Mas,'' sahutku kemudian menatapnya yang kini telah memasuki mobil.
Dia mengangguk sambil tersenyum. Senyumannya yang dulu begitu aku rindukan dan selalu aku nantikan. Kini? Senyumnya membuat hatiku makin teriris sejak perselingkuhannya terungkap.
''Begitu pandainya kamu menutupi kebusukanmu selama ini, Mas. Berpura-pura setia ternyata kamu selama ini!'' gumamku sambil menyunggingkan bibir.
Aku menatap mobilnya yang sudah mulai jauh melaju. Dia membunyikan klakson untuk pamit padaku seperti biasa. Lalu membuka kaca mobil dan menatapku dengan seulas senyuman. Cuih! Sandiwaramu sungguh luar biasa patut kuacungi jempol kaki.
Aku terpaksa memberikan senyuman paksa lalu melambaikan tangan, mobilnya pun sudah hilang dari pekarangan rumah. Aku sungguh lega rasanya setelah berpura-pura bermanis muka terhadap Mas Deno.
Aku mengunci pagar terlebih dahulu lantas melangkah memasuki rumah. Oh iya, putriku sejak tadi pagi aku biarkan terlelap di kamar. Bergegas aku menemuinya.
''Duuhh! Anak Mama ternyata udah bangun ya, Sayang?'' Kudapati putriku sudah terduduk sambil mengusap pupil matanya, untung saja dia tak menangis.
''Mama.''
''Iya, Sayang. Adik mandi dulu ya? Setelah itu baru kita sarapan,'' sahutku tersenyum sambil duduk di sampingnya.
''Papa, Ma?''
''Papa Adik kerja untuk kita.'' Membuatku tersenyum mendengar ucapan putriku sekaligus juga teriris hati ini.
Bagaimana jika Mas Deno memilih pergi bersama selingkuhannya? Tak terbayangkan olehku bagaimana nasib putriku. Karena dia sangat dekat sekali dengan papanya.
''Kok nggak minta ijin dulu sama Adik?'' ucapnya dengan logat anak kecil.
''Adik tidur, Nak. Jadi Papa kasihan buat bangunin Adik,'' sahutku dengan tenang.
Kupandangi wajah mungilnya seperti ada kekecewaan yang muncul di sana. Apa memang benar Mas Deno sebelum pergi kerja tak mengecup kening Naisya seperti biasa.
Apa segitu terburu-burunya dia berangkat ke kantor hingga tak sempat untuk mengecup kening Naisya? Atau dia sengaja, karena ingin ketemu dengan si perempuan murahan itu?
''Aku harus melakukan sesuatu,'' gumamku.
**
''Bibi!'' panggilku seketika.
Sebenarnya aku punya ART tetapi jarang aku bolehkan memasak, karena suamiku lebih suka aku yang memasak.
''Ada apa, Bu?'' Bibi Sum tergopoh-gopoh menghampiriku.
''Bi, Bibi pernah liat sesuatu yang mencurigakan ngga dari Bapak? Atau menelpon tengah malam gitu?'' tanyaku to the point. Seketika dia terdiam seperti tengah berpikir.
''Pernah, sih Bu. Tengah malam terdengar Bapak menelpon di dapur, Bibi kaget karena udah larut malam. Bibi kira siapa, eh tau-taunya Bapak.''
Jleb! Apa si pelakor itu yang menelpon tengah malam dengan suamiku? Hatiku makin terasa tak enak.
''Emang kenapa, Bu?''
''E-enggak kok, Bi. Aku ingin tau aja. Soalnya Bapak pernah nggak ada di kamar waktu itu, padahal udah malam banget. Aku pikir Bapak ke mana.''
''Eh, ternyata kata Bibi malah menelpon di luar. Takut akunya keganggu kali ya, Bi?'' kilahku mencoba untuk baik-baik saja. Bibi Sum menatapku, aku memalingkan muka sejenak berpura-pura sibuk merapikan baju Naisya.
''Syukurlah, Bu. Kalo ada apa-apa bilang aja sama Bibi ya? Jangan sungkan, Bu.'' Aku mengangguk lantas mencoba untuk tersenyum.
''Ya udah Bibi lanjut kerja dulu ya, Bu?'' Bibi Sum menunduk. Lantas aku mengangguk dan tersenyum. Bibi Sum pun hilang dari pandanganku. Mataku beralih memandang Naisya yang asyik bermain dengan boneka barbinya.
''Sayang, Adik laper kan?'' Dia membalas dengan anggukan.
Aku bergegas menggendong Naisya ke ruang makan. Langsung membuatkan susu botol untuknya, karena hingga saat ini dia masih meminum susu botol dan roti sebagai tambahannya.
Naisya menungguku di kursi sedangkan aku sibuk membuatkan susu botol untuknya. Selalu terbayang olehku isi pesan si pelakor itu. Membuat hatiku remuk redam. Air mataku lolos seketika. Kuseka dengan kasar.
''Aku bodoh! Menangisi lelaki brengsek kayak dia! Air mataku malah sia-sia jadinya!'' gumamku tak berhentinya menyeka air mataku dengan kasar. Ternyata Naisya memandangiku sedari tadi.
''Ma,'' panggilnya lirih.
''Eh, iya , Sayang. Nih susunya udah jadi.'' Aku bergegas membawa botol yang berisi susu ke tempat Naisya duduk. Tangan mungilnya itu bergegas meraih botol yang kusodorkan dan langsung meneguknya.
''Mama harus kuat demimu, Nak,'' gumamku sambil menatap Naisya yang sibuk meneguk susu botolnya. Hatiku hancur berkeping-keping jika teringat isi pesan wanita murahan itu. Sungguh keterlaluan kamu, Mas!
**
Aku mengajak putriku ke kamar. Bergegas aku menuntunnya melangkah. Setibanya di kamar aku memberikan kue dan meletakkan mainan di depan Naisya supaya dia bisa duduk dengan tenang.
Aku bergegas meraih benda pipih yang terletak di tempat tidur. Lantas menekan kontak seseorang.
Berdering.
''Wa'alaikumussalam, Fan. Kamu sedang sibuk nggak?''
''Eh, enggak kok, Nel. Tumben kamu nelpon aku.'' Suaranya di seberang sana.
''Aku takut ngangguin kamu kerja, makanya aku nggak pernah nelpon kamu.''
''Kamu mah, Nel. Aku nggak sesibuk itu juga kali. By the way, ada yang mau aku bantu?''
''Siapa tahu kan, Fan. Kamu kan kerja kantoran pasti sibuklah ya. Beda dengan aku, ya kan?'' Aku tertawa kecil.
''Fan, di kantor ada perempuan bernama Chika, nggak?''
Mas Deno dan Fani bekerja di kantor yang sama. Siapa tahu Fani tahu dan kenal sama si pelakor itu.
''Oh, Chika? Ada, dia sekretarisnya Deno, suami kamu.'' Jleb! Sekretaris? Aku sungguh terperanjat mendengar ucapan Fani barusan. Terdengar lirih tetapi menusuk di hatiku ini.
''Emang kenapa, Nel?''
''Kamu punya nomer WA-nya kan? Minta dong.'' Aku memberanikan diri untuk meminta nomor ponsel si pelakor itu untuk menyusun semua rencanaku.
''Buat apa, Nel? Kamu cemburu sama dia? Dia cuma sekretaris Deno kok, nggak lebih.''
''Kamu nggak akan tahu, Fan. Kalo nggak ada bukti perselingkuhannya, aku nggak akan kayak gini!'' batinku kesal.
''Aku pengen kenalan aja sama dia, biar lebih dekat. Apa salahnya sih aku meminta nomor WA-nya?'' sahutku kesal dan mencoba untuk bersikap baik-baik saja.
''Jangan ngambek dong, Nel. Maksud aku tuh nanti kamu malah nuduh yang enggak-enggak ke Chika lagi.''
''Suamimu itu nyari nafkah untuk kamu dan anakmu loh. Jadi saranku jangan su'uzon ya sama Deno,'' tambah Fani yang membuat dadaku semakin panas. Dia tak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di keluarga kecilku. Bagaimana jika itu terjadi padanya? Aku menghela napas pelan.
''Kamu tahu kan gimana aku?'' tanyaku ketus. Tanpa menanggapi ucapannya.
''Oke deh, aku kirimkan nanti ya? Ya udah, aku mau lanjut kerja dulu.''
''Sip! Jangan lupa ya? Lanjutkan kerja kamu, maaf aku menganggu, Fan. Assalamua'laikum.'' Belum dijawabnya aku bergegas memutuskan sambungan sepihak.
Aku tak habis pikir dengan perubahan sikap Fani saat ini padaku. Seketika benda pipihku berdering tanda ada pesan masuk dari aplikasi hijau itu.
Ternyata benar pesan dari Fani. Tampak Fani mengirimkan nomor si pelakor itu. Aku langsung menyimpan nomor wanita itu dengan nama P saja.
Oke, aku akan menjalankan semua rencanaku dengan pelan-pelan. Kupandangi Naisya masih asyik bermain sambil mengemil kuenya yang masih tersisa.
Aku meminta bantuan Bibi Sum untuk membeli kartu demi menjalankan semua rencana besarku. Tak berselang lama Bibi sudah pulang dan memasuki kamarku.
''Ini, Bu. Oh ya, Bibi lupa nanyain berapa pulsanya. Bibi belikan aja deh semuanya,'' ucapnya tersenyum yang tengah menyodorkan kartu. Aku tertawa kecil.
''Nggak apa-apa kok, Bi. Makasih banyak ya,''
''Sama-sama, Bu. Kalo gitu Bibi lanjut kerja dulu.'' Seketika si bibi melangkah.
''Tunggu, Bi!'' Bibi Sum pun menoleh.
''Iya, Bu?''
''By the way, kartunya udah diaktifkan langsung kan?''
''Udah kok, Bu.''
''Ya udah, makasih sekali lagi ya, Bi.'' Bibi Sum mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya.
''Rencanaku harus berjalan dengan mulus!'' gumamku tersenyum sinis memandangi kedua kartu di tanganku.
''Lah, kok nggak ada hpnya? Bukannya sudah kuletakkan lagi di sini?'' lirihku terheran setelah meraba benda pipih yang tak kudapati lagi keberadaannya di bawah lemari. Aku kembali menghenyak di ranjang.
''Atau? Jangan-jangan Mas Deno mencurigaiku, trus dia yang ngambil hp itu? Ahh! Itu bukan urusanku, sekarang yang penting aku udah mendapatkan nomor si Pelakor itu!'' gumamku tersenyum sinis.
Aku bergegas mengganti kartu dengan kartu baru yang tadi dibelikan oleh si Bibi. Kupandangi putriku masih asyik dengan mainannya.
''Oh iya, nomor si pelakor itu belum aku salin,'' gumamku yang bergegas menggganti kartuku kembali.Tak berselang lama sudah selesai aku menyalin nomor wanita itu. Aku langsung menjalankan rencanaku
''Selamat siang, Mba! Maaf menganggu waktunya. Ini aku sepupunya Mas Deno. Ini Mba Chika, bukan?'' tulisku. Tak berselang lama sudah tampak centang biru dua olehku, itu tandanya sudah dibaca olehnya.
P sedang mengetik.
''Selamat siang juga! Eh, sepupunya yang mana? Kok Mas Deno nggak pernah cerita ke aku ya?''
Jleb! Berarti mereka memang punya hubungan yang spesial. Kuhela napas yang sangat terasa sesak.
''Masa Mas Deno nggak pernah cerita tentang aku ke Mba? Oh ya, jangan bilang kalo aku mengambil nomor Mba di hpnya Mas Deno dan jangan bilang juga soal aku menghubungi Mba. Aku takut dimarahin dan aku janji kok akan menutupi semua rahasia kalian, gimana? Kita sepakat?'' balasku seketika sambil menyunggingkan bibir.
Kupandangi masih centang dua, belum muncul berwarna biru. Mungkin si pelakor itu sedang sibuk bekerja. Kupandangi putriku sudah terlelap dengan sendirinya di tempat tidur. Aku beralih menatap benda pipih yang masih di genggamanku.
P sedang mengetik.
Iya, Mas Deno nggak pernah cerita ke aku, biasanya apa pun itu dia selalu cerita. Bahkan istrinya juga diceritain ke aku. Oke, aku nggak bakalan bilang kok, tapi kamu harus janji juga kalo kamu bakalan menutupi semua rahasia kita.
Jangan sampe si sok suci itu tau kalo aku selingkuhan suaminya. Aku mah malah beruntung kalo dia tau, tapi ya gimana Mas Deno menyuruh untuk merahasiakan dulu.
Lagian kan Mas Deno baru punya satu orang anak sama dia. Nah, makanya setelah dia punya anak cowo. Mas Deno bakalan menceraikan istrinya, karena dia udah muak dan nggak tertarik lagi sama tuh perempuan.
Jleb! Astaghfirullah 'al adziim Air mataku luruh seketika. Aku melemparkan benda pipih ke ranjang. Aku terduduk tak berdaya. Aku tak habis pikir dengan wanita murahan itu.
Begitu teganya dia bermain api dengan lelaki yang sudah punya istri. Dia juga wanita, tetapi apakah tak terpikir olehnya bahwa dia telah menyakiti hatiku? Atau wanita itu tak punya hati?
'' Ya Allah, aku kira Mas Deno lelaki yang setia. Aku kira dia adalah suami yang baik untukku, ternyata apa? Begitu teganya dia berkhianat di belakangku. Dan lebih sakitnya lagi, dia akan menceraikanku setelah mendapatkan anak laki-laki dariku? Dasar lelaki brengs*k! Lihat aja apa yang aku lakukan sebelum kamu menceraikanku, Mas!'' Amarahku sudah berada di ubun-ubun, napasku terasa sesak dan buliran air mata tak hentinya menetes.
''Lelaki brengs*k kayak ngga bisa dipertahankan! Jangan jadi wanita lemah, Nel! Kamu harus jadi wanita kuat!'' Aku menyemangati diri sendiri.
Untuk apa mempertahankan lelaki yang berselingkuh selama 4 tahun, dia sudah berkhianat di belakang kita dan dengan manis mulutnya mengatakan kalau cintanya hanya untukku seorang. Aku bergegas bangkit dan meraih benda pipih yang sempat kulemparkan, untung saja tak rusak.
''Nama kamu siapa? Eh, kenapa cuma diread aja? Kamu nggak suka sama aku?''
Aku menghela napas berat. Air mataku selalu saja menetes. Kuseka dengan kasar. Ya, aku tak boleh menangis karena lelaki itu. Dia tak pantas untuk ditangisi. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi lelaki pengkianat seperti dia, Nelda.
''Namaku, Imelda. Ma'af Mba, tadi aku dipanggil temenku. Sudah membaca pesan Mba, eh nggak sempat balas,'' tulisku dengan tangan gemetaran. Aku mencoba menahan rasa sesak yang membuncah di dadaku ini.
''Ya Allah! Tolong berikan aku kekuatan untuk semua ujian yang Engkau berikan padaku. Jangan biarkan aku mudah rapuh,'' lirihku pelan dengan suara bergetar.
Semuanya sudah terungkap kalau perempuan yang bernama Chika itu memang pelakor. Tinggal aku menjalankan semua rencanaku. Aku tak kan membiarkan dia memperlakukanku seperti itu. Bergegas aku ganti kartu ponsel kembali, lalu meletakkan kartu rahasiaku itu di bawah kasur.
Aku menghela napas kasar dan menatap putriku yang tengah terlelap. Sudah lama aku dan Mas Deno menunggu buah hati kami, hingga dihadirkanlah seorang putri cantik oleh Allah ke rahimku ini.
''Mama beruntung punya kamu, Sayang,'' lirihku sembari mengecup keningnya.
Hatiku sungguh teriris dan sakit sekali terbayang isi pesan wanita murahan itu. Semudah itu hatimu berpaling dariku Mas, semuanya telah kuberikan padamu selama ini, tetapi apa balasannya? Bisa-bisanya kamu berkhianat di belakangku.
Aku tak tahu lagi apa yang ada di pikiran Mas Deno. Saat ini pikiranku sungguh lelah dan kantuk pun datang menyerang.
''Baiknya aku istirahat dulu.'' Aku bergegas membaringkan tubuh di samping putriku yang kini tengah terlelap.
***
''Yang, Sayang! Hei! Bangun dong, udah jam berapa nih?'' Terdengar samar olehku. Dia menepuk pipiku pelan. Mataku terasa sulit untuk dibuka.
''Kamu sakit, Yang?'' Suara yang tak asing lagi di telingaku.
''Basi tahu nggak!'' batinku merasa kesal. Aku mengusap mata pelan dan mencoba membuka mata.
''Ka-kamu udah pulang, Mas?'' ucapku dengan suara khas bangun tidur. Dengan pelan aku duduk, mengumpulkan nyawa terlebih dahulu.
''Nel, kamu sakit?'' ulangnya kembali dan menghenyak di sebelahku.
''Iya, aku sakit. Sakit hati, Mas. Semua itu karena kelakuanmu!'' batinku.
''A-aku nggak apa-apa, Mas. Cuman kecapek'an aja kali,'' kilahku berbohong.
''Kita ke rumah sakit ya?'' Dia mendekatiku. Aku menggeser posisi dudukku. Pedih! Ibaratkan luka yang disirami air garam.
Aku menggeleng cepat.
''Berapa kali pun kamu membawaku ke rumah sakit, nggak akan bisa sembuh, Mas. Kamu yang membuat aku kayak gini! Aku sakit hati karena kelakuanmu!'' batinku.
Ingin sekali mengeluarkan semua ucapan yang pantas didapatkan oleh lelaki itu, akan tetapi saat ini aku mencoba untuk tetap sabar hingga pada waktunya. Aku tak mau rencanaku akan gagal begitu saja.
''Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa.'' Dia menatapku, aku malah memalingkan muka. Muak rasanya menatap wajah lelaki brengsek ini.
''Nel, kok gitu mukanya? Kamu marah sama, Mas?''
''E-enggak kok, kamu ini bicara apa sih, Mas? Lebih baik ganti dulu seragam kerjamu sana.''
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia beranjak bangkit dan mengganti pakaiannya. Mas Deno masih menatapku. Membuatku tak nyaman, sejak perselingkuhannya terbongkar membuat aku merasa resah jika ditatap olehnya.
''Aku mau nanya sama kamu nih,'' ucap Mas Deno sambil membuka dasi yang terpasang di lehernya.
Apa ya? Atau jangan-jangan...
Bersambung.