Banjarnegara, 10 Januari 2012
Tangan Mayang gemetar saat mencelupkan alat uji kehamilan pada wadah urinenya. Sesaat setelah stick penguji kehamilan diangkat dari wadah, Mayang mulai merapal doa. Jantungnya berdebar kencang sementara mulutnya tidak berhenti komat-kamit berdoa. Ia sangat berharap kalau hasilnya hanya garis satu, sesuai petunjuk yang tadi ia baca di kemasan.
Tidak siap dengan hasil yang akan segera ia dapatkan, Mayang memejamkan mata. Ia berusaha mengatur napas terlebih dahulu, agar tidak pingsan saat hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Setelah merasa lebih baik, Mayang pun membuka mata. Mayang berkali-kali mengucapkan kata Alhamdullilah dalam hati, saat mendapati garis satu pada stick. Syukurlah, ternyata ketakutannya tidak terbukti. Ia tidak hamil! Mayang berkali-kali mengelus dada. Berusaha untuk menenangkan perasaannya sendiri.
Saat ini ia berada di toilet pabrik. Jikalau ia pingsan di sini, rekan-rekan kerjanya pasti akan heboh. Apalagi saat mereka menemukan alat penguji kehamilan di tangannya. Bakalan habislah ia di tangan kedua orang tuanya. Makanya ia berusaha menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali bekerja.
Baru saja ia bermaksud membuang hasil test ke tempat sampah, sesuatu terjadi. Garis pada stick yang tadinya hanya satu, kini berubah menjadi dua! Mayang kaget. Tanpa sadar menjatuhkan alat penguji kehamilan di lantai kamar mandi sambil menjerit lirih. Ia shock!
Tok... tok... tok
"Siapa sih di kamar mandi? Masa dari tadi nggak keluar-keluar? Gantian dong!" Suara gedoran pintu menyadarkan Mayang di mana dirinya berada. Mayang menarik napas dua kali sebelum menjawab.
"Sa--saya Mayang, Mbak. Sebentar lagi juga selesai kok." Mayang menyelipkan stick penguji kehamilannya di saku, sebelum membasuh wajahnya. Setelah merasa agak tenang, barulah ia membuka pintu kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi, ia disambut oleh kehadiran beberapa rekan kerjanya yang kebelet pipis. Mereka semua mengomelinya karena kelamaan di kamar mandi. Mayang yang masih linglung berjalan menjauh tanpa menyahuti satu pun omelan mereka. Saat ini pikirannya penuh dengan rencana-rencana yang harus segera ia realisasikan. Salah satunya adalah menemui Mahesa di Jakarta.
"Mas, kita tidak boleh melakukan hal seperti ini? Kita 'kan belum menikah, Mas. Dosa?"
"Tidak apa-apa, Mayang. Kita 'kan saling cinta. Lagi pula, cepat atau lambat kamu toh akan menjadi istri Mas. Jadi tidak masalah kalau kita melakukan hal seperti ini sekarang. Kamu tidak usah takut ya?"
"Kalau nanti Mayang hamil bagaimana? Lusa 'kan Mas sudah kembali ke Jakarta."
"Mau kamu hamil atau tidak, Mas tetap akan kembali ke sini secepatnya untuk melamar kamu. Kalau kamu tidak percaya, ini alamat rumah Mas di Jakarta. Kamu boleh menyusul ke rumah Mas, kalau Mas bohong!"
Kalimat demi kalimat yang diucapkan Mahesa dua bulan lalu, terus terngiang-ngiang di telinga Mayang. Karena termakan bujuk rayu Mahesa kala itu, ia pun terlena. Ia menyerahkan mahkota kesuciannya begitu saja pada Mahesa. Ia yakin, Mahesa pasti tidak akan membohonginya. Tapi apa lacur. Dua bulan telah berlalu, namun Mahesa tidak juga kembali ke kampung. Apalagi untuk melamarnya. Dan sekarang ia hamil, sementara Mahesa entah berada di mana.
Keringat dingin kian bermanik di keningnya. Mayang ngeri membayangkan bagaimana kecewanya kedua orang tuanya, saat mengetahui bahwa dirinya hamil di luar nikah. Apalagi orang yang menghamilinya kabur begitu saja. Ia pasti akan diusir oleh kedua orang tuanya karena membawa aib dalam keluarga.
Mayang ketakutan. Dengan keringat dingin membanjir, ia mencoba kembali bekerja. Tugasnya di pabrik ini adalah sebagai buruh pengemas gula pasir. Pendidikan terakhirnya yang hanya kelas 2 SMA, membuatnya hanya bisa bekerja sebagai buruh. Tahun lalu, ia terpaksa berhenti sekolah karena ketiadaan biaya. Ayahnya tidak mampu membiayai pendidikan tiga orang anak sekaligus. Karena ia adalah anak perempuan sementara dua adiknya laki-laki, ayahnya memutuskan sebaiknya dirinya saja yang mengalah. Karena perempuan toh pada akhirnya akan ke dapur juga. Mayang pun mengalah. Ia kemudian melamar pekerjaan di pabrik gula yang tidak jauh dari rumahnya. Hingga hari ini, sudah setahun lebih dua bulan ia bekerja.
"Kenapa kamu malas-malasan bekerjanya, Mayang? Kamu mau dipecat hah?" Bentakan dari mandor pengawas pabrik, membuat Mayang terlonjak. Ia kaget. Gula pasir yang sedianya akan ia kemas pada mesin vertical packaging, nyaris tumpah karena gerakan tidak terkontrolnya.
"Maaf, Bu Henny. Saya sedikit kurang enak badan. Tapi saya janji akan mengemas gula-gula ini secepat mungkin," tukas Mayang cepat. Kalau ia sampai dipecat, bagaimana nasib pendidikan kedua adiknya? Semenjak ayahnya sakit-sakitan, kewajiban membiayai sekolah adik-adiknya kini telah berpindah ke punggungnya.
"Kamu ini saya perhatikan sudah dua bulan tidak semangat bekerja. Tepatnya semenjak anak magang yang bernama Mahesa itu kembali ke kota. Mayang, dengar baik-baik nasehat saya. Kamu jangan percaya begitu saja pada mulut manis mahasiswa kota itu. Dia memacari kamu hanya sekedar untuk membuang sepi di kampung ini. Jangan berharap terlalu banyak. Nanti kamu sakit hati sendiri. Mengerti? Sekarang sebaiknya kamu bekerja, kalau kamu tidak mau saya laporkan pada pihak perusahaan!"
"Ba--baik Bu Henny." Mayang dengan gugup kembali memaksakan diri bekerja. Ia harus mencari kesibukan agar pikirannya tidak melayang ke mana-mana. Mendengar nasehat Bu Henny tadi, tekadnya makin bulat untuk mencari Mahesa ke ibukota. Ia sekarang telah hamil di luar nikah. Itu artinya dan ia harus meminta pertanggungjawaban Mahesa.
Mayang memindai jam dinding. Dua jam lagi, waktu kerjanya akan usai. Ia berencana akan kembali menemui Bu Henny, untuk izin tiga hari. Ia tahu kalau izin yang ia minta, pasti akan diikuti dengan pemotongan gaji. Tetapi ia tidak peduli. Perutnya akan membesar dari hari ke hari. Hal seperti ini tidak bisa ditangguhkan lagi. Ia harus meminta pertanggungjawaban Mahesa secepat mungkin.
***
Sore hari saat pulang ke rumah, Mayang heran melihat banyaknya aneka makanan yang tersaji. Belum lagi kedua orang tuanya memakai pakaian terbaik, yang biasanya hanya mereka kenakan pada acara-acara tertentu. Ada tamu yang akan datang sepertinya. Kedua adiknya, Aris dan Arfan juga tidak kalah rapi. Mereka mengenakan kemeja kotak-kotak, yang merupakan pakaian lebaran mereka tahun lalu. Tamunya ini pasti sangat istimewa.
"Kamu kok lama sekali sih pulangnya, May? Sana cepat mandi dan berdandan yang rapi. Sebentar lagi Sena dan ibunya akan datang."
Kalimat sang ibu yang mengatakan Sena dan ibunya akan datang, menghadirkan rasa ngeri di hati Mayang. Bukan rahasia lagi kalau Sena itu menyukainya. Sena adalah anak tunggal Bu Zainab. Sedangkan ayahnya Sena, tidak seorang pun yang tahu keberadaannya. Menurut rumor, Sena adalah anak haram karena Bu Zainab hamil di luar nikah. Sedari kecil, Sena memang sering diolok-olok sebagai anak haram. Tetapi Bu Zainab dan Sena itu pekerja keras. Mereka mempunyai sebidang tanah yang lumayan luas. Mata pencaharian Bu Zainab dan Sena adalah bertani.
"Untuk apa Mas Sena dan Bu Zainab kemari, Bu?" tanya Mayang dengan jantung berdebar. Jangan... jangan...
"Untuk apa? Ya untuk melamar kamu lah. Sena itu sudah berumur 25 tahun. Sudah pantas untuk berumah tangga. Kamu memang baru berusia 17 tahun. Tapi kamu 'kan perempuan. Sudah tidak sekolah lagi. Jadi jika ada yang melamar, ya diterima saja. Apalagi yang kamu tunggu?" tutur ibunya.
Astaga, benar 'kan tebakannya? Bagaimana ini? Sedangkan saat ini, ia tengah berbadan dua.
"Tapi Bu--"
"Tidak ada kata tetapi. Ibu sudah setuju untuk menerima lamaran Sena. Titik."
Mayang bergeming. Tidak bisa begini. Ia harus melakukan sesuatu. Lamaran dari Sena, tidak boleh ia terima. Tetapi menilik sikap ibunya yang tidak mempedulikan keberatannya, ia harus memakai strategi lain. Mudah-mudahan saja, efek kejutnya ini berhasil menggagalkan lamaran Sena. Begitulah, saat mendengar suara motor Sena memasuki halaman, Mayang menarik napas panjang. Ia telah siap berakting. Ia tahu kalau kata-katanya ini akan sangat melukai Sena. Namun setidaknya luka ini akan menyelamatkan penyesalan tidak berkesudahan Sena, apabila ia menerima lamarannya. Sena pasti merasa seperti memakan kotoran, apabila melamar seorang wanita yang telah berbadan dua bukan?
Saat ketukan pintu terdengar, Mayang beranjak dari kursi dan membukanya dengan gerakan kasar.
"Mas mau apa membawa ibu Mas ke sini?" sembur Mayang kasar. Sekilas Mayang melihat keterkejutan di wajah Sena. Wajar Sena kaget. Karena selama ini ia tidak pernah berbicara kasar kepada siapa pun.
"M--Mas ma--mau melamar, Dek Mayang. Mas dan ibu Mas, sudah lebih dulu membicarakan masalah ini dengan ibunya Dek Mayang. Dan--dan ibu Dek Mayang sudah setuju," jawab Sena gagap.
Mayang menarik napas pendek-pendek demi menenangkan debaran jantungnya. Ia nyaris tidak sanggup melanjutkan sandiwara, saat melihat piasnya wajah Sena. Sena tampak serba salah. Mayang sendiri tidak mempersilahkan Sena dan Bu Zainab masuk. Ia menahan mereka berdua di depan pintu. Hal itu memang ia sengaja. Ia ingin mempermalukan Sena, sehingga niatnya buyar dan lamaran pun akhirnya dibatalkan.
"Mau melamar Mayang? Di rumah Mas Sena ada cermin tidak?" Mayang meringis. Ia tahu kalimat-kalimat yang akan ia lontarkan berikutnya akan menghancurkan harga diri Sena. Sementara para tetangga mulai berkumpul di halaman. Mereka tertarik mendengar suara ribut-ribut di depan rumahnya. Untungnya, saat ini kedua orang tuanya sedang berada di dapur. Ayahnya yang berpenyakit lambung memang tidak boleh terlambat makan. Tetapi Mayang yakin, sebentar lagi kedua orang tuanya pasti akan keluar. Mustahil mereka tidak mendengar suara ribut-ribut di luar. Untuk itu ia harus menyelesaikan sandiwaranya secepat mungkin. Saat melihat Sena mengangguk ragu, Mayang pun kembali mencecarnya.
"Oh ada toh . Nah, kalau ada, harusnya Mas bercermin dulu sebelum ke sini. Apa pantas Mas yang kere ini melamar Mayang? Yakin Mas sanggup menghidupi Mayang?" sindirnya sadis. Mayang sampai ingin menggigit lidahnya sendiri mendengar kata-kata tidak manusiwinya. Mata Bu Zainab berkaca-kaca. Mayang merasa sangat berdosa karena telah melukai hati Sena dan Bu Zainab. Namun hebatnya, Sena masih belum mau menyerah. Ia menebalkan muka dan tetap pada niatnya semula. Sementara para tetangga menggeleng-gelengkan kepala. Mereka berkasak kusuk mengatakan kalau dirinya adalah perempuan yang tidak tau diri.
"M--Mas su--sudah lama menabung, Dek. Mas juga berjanji akan bekerja keras untuk menafkahi Dek Mayang." Suara Sena bergetar. Mayang sampai ingin menangis melihat perjuangan Sena. Sementara Bu Zainab sudah benar-benar menangis.
"Maaf, Mas. Seberapa keras pun Mas bekerja, Mas tidak akan mampu mewujudkan impian-impian Mayang. Mayang butuh laki-laki yang mapan dan kalau bisa tampan Mas. Bukan laki-laki kere dan ceking seperti Mas ini. Sadar diri dong, Mas."
Maafkan Mayang, Mas. Semua ini Mayang lakukan demi kebaikan Mas sendiri. Mayang minta maaf sekali ya, Mas? Bu Zainab.
"Sudahlah, Sena. Ayo kita pulang, Nak. Hati Ibu sakit mendengar kamu dihina seperti ini."
Hati Mayang pun sakit mendengar kata-kata Mayang sendiri. Maafkan, Bu. Maafkan.
"Ibu Mas benar. Sebaiknya Mas pulang saja. Kebetulan saya juga tidak ingin punya suami anak haram. Sudah miskin, jelek, anak haram lagi. Tidak ada satu hal pun di diri Mas yang bisa saya banggakan."
Plak!
Saat terdengar langkah-langkah bergegas dari arah dapur, Mayang tahu, pasti ibunya akan keluar. Dan tamparan pedas di pipinya ini adalah bukti kemarahan ibunya.
"Kamu membuat malu Ibu, Mayang! Ibu sudah menerima lamaran Sena sebelumnya. Sena itu anak baik. Kamu beruntung memiliki suami sebaik dia!"
"Kalau begitu, silahkan saja Ibu menikah dengan Sena!"
Plak! Plak!
Tamparan bolak balik dari ibunya, membuat Mayang begitu gembira. Ia puas karena ibunya menamparnya. Ia dengan senang hati menerima makian dari ibunya. Bahkan, umpatan dari para tetangga yang bergerombol di halaman depan pun ia terima dengan baik. Ia merasa dengan menerima makian dari mereka semua, sedikit melegakan hatinya. Ia memang pantas diperlakukan seperti ini. Sementara Sena dan Bu Zainab telah pergi dengan motor yang sengaja digas kencang. Sena tadi tampak malu dan sakit hati. Mayang yakin, seumur hidup, Sena tidak akan bisa melupakan penghinaan luar biasa yang diterimanya hari ini.
Dan sisa malam itu, ia habiskan dengan menerima segala kemarahan dan kekecewaan dari kedua orang tuanya. Ibunya terus mencecar bahwa ia membuang-buang kesempatan menjadi menantu orang kaya. Menurut ibunya, ayah kandung Sena itu kaya raya. Ibunya mendapatkan informasi itu dari mulut Bu Zainab sendiri. Dan ibunya berharap siapa tau ayah kandung Sena akan mencari putranya. Dengan begitu ia akan menjadi menantu orang kaya dan bisa membantu perekonomian keluarga.
Saat ibunya membahas tentang masalah perekonomian keluarga, Mayang merasa timingnya tepat sekali untuk ia meminta izin ke ibukota. Mayang beralasan kalau Tanti, anak Pak Dullah yang kini sudah sukses di Jakarta, mengajaknya bekerja. Dan ia ingin membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di sana. Pada mulanya kedua orang tuanya keberatan. Mereka takut kalau ia dijahati orang di luar sana. Tetapi saat ia membahas akan biaya pendidikan kedua adiknya, kedua orang tuanya luluh juga. Mereka mengizinkan karena mengira ada Tanti yang akan menjaganya di sana. Begitulah. Pada pukul tujuh malam, ia mengemas beberapa stel pakaiannya dalam satu tas ransel. Ia bertekad akan mencari Mahesa di Jakarta sesuai dengan alamat yang Mahesa berikan dua bulan lalu. Pikirannya penuh dengan rencana baru. Ia berpikir, seandainya pun ia pulang ke kampung dan tidak jadi bekerja dengan Tanti, tapi kini statusnya jelas. Ia adalah seorang istri dari Mahesa Haryanto. Sepanjang malam, Mayang tidak bisa memejamkan mata sepicing pun. Otaknya begitu penuh dengan rencana-rencana. Semoga saja apa yang ia rencanakan sesuai dengan kenyataan. Aamiin.
***
Mayang yang sedang tidur-tidur ayam, terbangun saat bus Sinar Jaya memasuki terminal bus Kampung Rambutan. Sejenak Mayang termangu. Jakarta. Inilah tempat yang ia tuju. Masa depannya seperti apa, akan ditentukan di sini. Sebenarnya ia gentar. Sewaktu di kampung dulu, ia belum pernah ke kota sendirian. Ia takut dijahati orang. Dan kini, hanya karena seorang laki-laki, ia bahkan berani keluar kota sendirian. Betapa menakjubkan.
Ketika para penumpang lainnya turun dari bus, Mayang pun bergegas membuntuti. Ia berusaha mengingat-ingat cerita Tanti dulu tentang kota Jakarta. Menurut Tanti, pertama sekali ia ke Jakarta dulu, ia juga tidak tahu jalan. Ia hanya memberikan secarik alamat pada supir taksi, dan langsung diantarkan hingga ke depan pintu rumah yang dituju. Menurut Tanti, di Jakarta transportasi itu mudah. Asalkan kita punya uang untuk membayar taksi, pasti kita akan diantarkan sampai alamat yang dituju. Satu hal yang penting. Pilihlah taksi yang berargo. Berbekal cerita Tanti, Mayang telah merencanakan perjalanan selanjutnya. Ia tinggal mencari taksi saja.
Setelah Mayang keluar dari bus, ia kebingungan. Terminal bus Kampung Rambutan ini ramai sekali. Tidak seperti terminal bus di Banjarnegara sana. Selain jumlah manusianya lebih banyak, bahasa yang mereka gunakan juga tidak familiar di telinganya. Di kampungnya sana, bahasa yang lazim ia dengar adalah bahasa Jawa. Sementara di Kampung Rambutan ini adalah campuran antara bahasa betawi dan beberapa bahasa daerah lainnya. Dialek yang mereka ucapkan, sangat asing di telinganya. Saat mendengar orang-orang berbicara saja, Mayang langsung merasa kalau ia telah berada jauh dari kampungnya. Ia juga diserbu oleh para calo yang terus menanyakan tujuannya. Sesuai apa yang diingatnya saat Tanti bercerita dulu, ia pun menolak para calo-calo itu dengan sopan. Demi menghindari para calo yang seperti tidak bosan-bosannya mengikuti, Mayang mempercepat langkah menuju jajaran taksi yang terparkir.
"Mau ke mana, Dek?" Seorang bapak berkemeja batik biru muda menyapa ramah. Melihat ada beberapa bapak-bapak lainnya yang juga berkemeja yang sama, Mayang berasumsi kalau mereka adalah para supir taksi. Berarti tujuannya sudah benar.
"Saya mau ke alamat ini, Pak. Ongkosnya mahal tidak?" Mayang menyerahkan secarik kertas lusuh pada bapak supir taksi. Kertas lusuh itu adalah alamat rumah Mahesa di Jakarta ini. Kertasnya sampai lusuh, karena ia berulang kali membacanya saat masih di rumah ataupun di dalam bus.
"Waduh, alamat ini jauh banget dari sini, Dek. Ongkosnya mahal. Seratus ribuan bakalan habis ini," imbuh sang supir. Mayang membelalakkan mata. Seratus ribuan itu artinya seratus ribu lebih. Sementara ongkosnya dari Banjarnegara ke Jakarta ini saja hanya sembilan puluh ribu rupiah. Uang yang tersisa di sakunya hanya tinggal seratus lima puluh ribu rupiah. Apakah cukup untuk membayar ongkos taksi? Mayang ragu.
"Jadi tidak naik taksinya ini, Dek?" tanya sang supir tidak sabar.
"Uang saya hanya ada seratus lima puluh ribu rupiah, Pak. Saya takut kalau uang saya tidak cukup untuk membayar ongkos," terang Mayang jujur.
"Gampang kalau masalah itu, Dek. Saya rasa kalau seratus lima puluh ribu itu cukup. Tapi kalaupun kurang, 'kan Adek bisa minta sama yang punya rumah nanti." Mendengar usul sang supir, Mayang seperti menemukan titik terang. Iya juga. Tidak mungkin Mahesa tidak mau membayar kekurangan ongkos taksinya.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang, Pak," seru Mayang semangat. Memikirkan Mahesa, selalu membuatnya bahagia. Terkadang ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Suasana hatinya naik turun jika berhubungan dengan nama Mahesa. Ia bisa gembira sekaligus sedih di saat yang bersamaan. Cinta telah membuat hatinya jungkir balik dan logikanya tumpul. Beberapa menit kemudian ia telah berada di dalam taksi yang dingin dan empuk. Penumpangnya pun hanya dirinya seorang. Ia tidak harus berdesak-desakan seperti angkot omprengan di kampungnya. Pantas saja harga taksi ini mahal.
Di sepanjang jalan, Mayang tidak henti-hentinya memandangi gedung-gedung pencakar langit. Ia heran, bagaimana orang bisa tinggal di gedung setinggi itu. Apa mereka semua tidak kelelahan harus menaiki tangga setinggi itu setiap hari? Pak supir tertawa saat mendengarnya berbicara sendiri. Ternyata tanpa Mayang sadari, ia telah menyuarakan suara hatinya. Pak supir menjelaskan kalau gedung-gedung setinggi itu menggunakan lift. Pak supir yang baik hati itu juga menasehatinya, agar pintar-pintar menjaga diri di Jakarta. Mayang mengingatkannya pada sosok putrinya sendiri katanya.
Sekitar satu jam kemudian, mereka telah tiba di tempat tujuan. Perkiraan pak supir taksi memang benar. Argonya hanya mencatat angka seratus dua puluh ribu rupiah. Uangnya masih bersisa tiga puluh ribu rupiah, beserta uang receh empat ribuan. Alhamdullilah.
"Itu rumahnya, Dek. Yang berpagar coklat. Tapi Bapak rasa kok rumahnya kayak kosong ya?" Pak supir taksi memandang rumah Mahesa dengan tatapan skeptis. Sepertinya pak supir ragu kalau rumah Mahesa berpenghuni.
"Nggak mungkin kosong, Pak. Kalau Mas Esa pindah, pasti Mas Esa memberitahukannya pada saya," bantah Mayang yakin. Mahesa tidak mungkin sejahat itu.
"Ya, semoga saja ada orangnya ya, Dek? Tapi Bapak ingatkan. Kalau sekiranya orang yang kamu cari tidak ada, sebaiknya Adek pulang ke kampung saja. Jakarta ini keras, Dek. Kamu ini masih bisa dibilang anak-anak," nasehat pak supir lagi.
Anak-anak yang akan segera punya anak. Batin Mayang miris.
Mayang mengangguk seraya membayar ongkos taksi. Saat ia memberikan uang sejumlah seratus dua puluh ribu rupiah, pak supir menarik napas kasar. Pak supir mengembalikan uang dua puluh ribu rupiahnya. Katanya korting karena Mayang msngingatkannya pada putrinya sendiri. Mayang sangat bersyukur. Hari pertamanya di Jakarta, ia telah bertemu dengan orang baik. Setelah taksi menjauh, Mayang segera mendekati rumah Mahesa. Ia tidak peduli kalau pintu pagar telah tergembok. Ia akan mencoba memanggil Mahesa. Kalaupun tidak ada orang, ia tidak keberatan untuk menunggu. Paling Mahesa sedang bekerja. Sore atau malam hari Mahesa pasti akan pulang juga 'kan?
"Assalamualaikum. Apakah ada orang di rumah?" Mayang berteriak dari luar pagar.
"Assalamualaikum Mas Esa. Ini Mayang, Mas. Mas ada di rumah?" seru Mayang lagi. Sepi. Tidak terdengar jawaban apapun dari dalam rumah. Mayang mendekati pagar. Ia mengetuk-ngetuk gembok pada besi pagar. Ia berharap keributan yang ia timbulkan, akan membuat penghuni rumah keluar. Sepuluh menit ia memanggil Mahesa dengan diiringi gedoran besi gembok. Namun tidak juga membuahkan hasil.
"Eh lo nggak ada kerjaan apa ngegedor-gedor rumah kosong?" Tetangga di samping rumah Mahesa membuka pintu. Seorang ibu muda dengan anak balita yang sedang menangis dalam gendongannya, berkacak pinggang.
"Ko--kosong? Bukannya ini rumah Mahesa Heryanto ya?" Mayang merasa darahnya tersirap. Ternyata apa yang diduga oleh pak supir taksi itu benar. Rumah Mahesa kosong!
"Bener, emang ini rumahnya si Esa. Tapi Esanya udah kagak tinggal di sini. Esa udah kawin sama anak atasan bokapnya bulan lalu. Esa udah tinggal di rumah gedongan."
"Ni--nikah? Mas Esa sudah menikah? Tidak mungkin!" Mayang merasa bumi yang dipijaknya amblas ke dalam tanah. Kalau Esa sudah menikah, bagaimana dengan nasibnya? Istimewa nasib bayi dalam kandungannya.
"Kagak mungkin bagaimana? Gue juga diundang kok. Makanya lo jangan teriak-teriak di mari nungguin Esa. Sampai lebaran kuda juga si Esa kagak bakalan keluar. Orang rumahnya kosong. Yang ada lo gangguin anak gue tidur. Berisik tau! Nih anak gue sampai terbangun. Awas lo ya, kalau berisik lagi!" Si ibu muda mengomelinya sebelum masuk kembali ke dalam rumah. Mayang masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia kehilangan fokus. Ia masih tidak percaya kalau Mahesa telah menikah. Kalau sudah seperti ini, apa yang harus ia lakukan? Perutnya makin hari akan semakin membesar, sementara ia tidak mempunyai suami. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Mayang jongkok memeluk lututnya sendiri di depan pagar. Rasa lelah dan lapar yang tadi ia rasakan, hilang sudah. Ia kini mati rasa. Bahkan saat hujan turun dan tubuhnya basah kuyub, Mayang sama sekali tidak merasakannya. Pikirannya kosong. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia tidak menyadari berapa jam telah berlalu. Ia malas melihat jam. Hanya saja langit yang tadinya biru cerah, kini telah menjadi kelabu. Dan ia masih setia berjongkok di depan pagar rumah Mahesa. Ketika memindai jam di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan pukul 17.30 WIB.
"Etdah ini bocah kagak percaya kalo si Esa udah pindah! Eh bocah, lo mau sampai kapan ngejogrok di sono? Udah gue bilangin kalo si Esa kagak bakalan pulang. Lo batu amat yak? Sono pulang! Ntar lo dicariin emak lo." Sang tetangga menggeleng-gelengkan kepala melihat kedegilan Mayang. Anak abege siapa yang sampai sedemikian gigihnya mencari suami orang? Atau jangan... jangan...
"Eh bocah, lo siapanya si Esa? Pacarnya? Atau jangan-jangan lo bunting ya? Makanya lo nekad banget nyariin si Esa?" Mayang kaget saat tetangga Esa bisa menebak tujuannya. Susah payah karena kakinya kesemutan, Mayang mencoba berdiri. Sebaiknya ia pergi saja dari sini. Tidak ada gunanya juga ia menunggu Esa. Seandainya pun mereka bertemu, status Esa telah berubah. Esa telah menjadi suami orang. Tanpa menjawab pertanyaan tetangga Esa, Mayang melangkahkan kaki menuju jalan raya. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah pulang ke Banjarnegara. Nasi sudah menjadi bubur. Akan ia hadapi saya segala konsekuensi dari kebodohannya sendiri.
Karena sisa uangnya tidak cukup untuk naik taksi ke terminal Kampung Rambutan, Mayang memutuskan untuk mencari angkutan umum saja. Karena tidak mengetahui trayek angkot, Mayang terus bertanya-tanya pada orang-orang yang ia temui di sepanjang jalan. Ia menanyakan angkot mana yang sekiranya lewat ke terminal Kampung Rambutan. Satu jam empat puluh menit kemudian, barulah ia sampai di tempat tujuan. Ia berkali-kali salah menaiki angkot, makanya ia lama di jalan. Selain waktunya yang habis di jalan, uangnya juga ikut ludes. Berkali-kali salah menaiki angkot membuatnya harus berkali-kali membayar juga.
Sesampai di terminal, Mayang bingung. Ia tidak mempunyai uang yang cukup untuk kembali ke kampung. Sisa uang yang ia punya hanya cukup untuk membeli mie instant cup dan air mineral saja. Sisanya hanya berupa uang recehan. Sementara bus terakhir yang akan berangkat ke Banjarnegara baru saja meninggalkan terminal. Mayang hanya bisa menatap nanar bus terakhir, dengan mulut masih mengunyah mie instan. Sementara bajunya yang tadinya basah kuyub karena hujan, kini menyisakan rasa lembab. Ia mulai merasa kedinginan.
"Neng ini mau ke mana? Ibu perhatikan dari tadi, si Eneng kok kayak orang bingung?" Mayang yang sedang duduk di kursi tunggu, menoleh samping tempat duduknya. Ada seorang ibu-ibu yang duduk tidak jauh darinya.
"Saya... saya mau pulang ke Banjarnegara, Bu," jawab Mayang lesu.
"Lho, itu tadi 'kan busnya baru saja jalan. Kok si Eneng tidak naik?" Si ibu mengernyitkan kening.
"Saya tidak punya ongkos, Bu," ucap Mayang malu. Saat ini sesungguhnya ia bingung dan ketakutan. Ia tidak tau harus meminta tolong kepada siapa. Tidak ada seorang pun yang ia kenal di ibu kota ini.
"Aduh, kasihan banget si Eneng. Ibu anterin pulang besok mau? Tapi malam ini Eneng tidur aja dulu di rumah Ibu. Besok pagi-pagi sekali Ibu anterin pulang ke Banjarnegara. Mau?" tanya si ibu ramah. Mayang bimbang. Di satu sisi, ia memang ingin sekali pulang. Ia tidak tahu, akan jadi apa ia di sini tanpa uang dan pekerjaan. Namun ia juga sungkan kalau merepotkan si ibu.
"Mau tidak, Neng? Tidak usah takut. Nama Ibu, Fatma. Nama Eneng siapa?" sapa si ibu ramah. Ragu-ragu Mayang mengulurkan tangannya. "Saya Mayang, Bu. Mayang Kania Putri lengkapnya."
"Wah, nama Eneng bagus. Ibu panggilnya Mayang saja ya?" Mayang mengangguk. "Kamu mau tidak ikut dengan Ibu hari ini. Kamu tidak usah khawatir. Ibu tinggal sendiri kok. Pokoknya besok pagi-pagi, kamu akan ibu antar naik mobil pribadi ke Banjarnegara. Jadi lebih cepat sampainya. Mau ya, May?" bujuk Bu Fatma lagi. Mayang yang memang sudah kelelahan sedari pagi setelah melalui perjalanan jauh, akhirnya menganggukkan kepala. Di pikirannya saat ini adalah pulang ke kampung halamannya.
Dengan langkah tertatih, ia mengikuti Bu Fatma masuk ke dalam mobil mewah. Mayang sama sekali tidak menyangka, kalau Bu Fatma yang berpenampilan sederhana ini ternyata sangat kaya. Mobilnya saja, mewahnya luar biasa. Mayang duduk di belakang, sementara Bu Fatma duduk di depan dengan supir. Tubuh lelah, sementara perut baru saja diisi, seketika membuat Mayang mengantuk. Beberapa menit kemudian, Mayang jatuh tertidur dan Bu Fatma tersenyum gembira. Mangsa telah masuk dalam perangkapnya. Dengan segera ia meraih ponsel dan menelepon seseorang. Ia mendapat rezeki besar hari ini.
Mayang terbangun saat seseorang menepuk-nepuk bahunya. Ia gelagapan dan membuka mata seketika. Ia tertidur pulas rupanya.
"Ayo, May. Kita turun," perintah Bu Fatma. Mayang yang baru terbangun, memayungi mata dengan jemari karena silau. Mayang memandang sekeliling. Ia bingung melihat suasana tempat mobil Bu Fatma berhenti. Alih-alih melihat rumah Bu Fatma, ia malah melihat jejeran mobil yang terpakir rapi.
"Kita sudah sampai ya, Bu?" Rumah Ibu yang mana? Kok di sini mobil semua?"
"Rumah Ibu ada di dalam gedung, May. Ayo, kamu ikuti saja langkah Ibu." Mayang yang baru saja bangun tidur, melangkah tersaruk-saruk mengikuti Bu Fatma. Saat Bu Fatma masuk ke dalam kotak kecil, yang Bu Fatma sebut dengan nama lift, ia pun ikut masuk. Saat lift bergerak naik, jantung Mayang mencelos. Ia merasa tubuhnya mendadak ringan. Setelah pintu lift terbuka, ia kembali mengikuti langkah Bu Fatma menelusuri lorong-lorong berkarpet tebal. Di kanan kirinya terdapat pintu-pintu dengan angka-angka di depannya. Saat tiba di pintu bernomor 263, Bu Fatma berhenti.
"Ini rumah Ibu ya?" tanya Mayang penasaran. Bu Fatma tidak menjawab. Si ibu menekan bell. Sejurus kemudian pintu pun terbuka. Mayang merasa tubuhnya didorong masuk oleh Bu Fatma. Pintu pun kemudian segera terkunci rapat.
"Ini bukan rumah Ibu. Tapi rumah kamu, Mayang," sahut Bu Fatma dingin. Air mukanya berubah datar.
"Kok rumah Mayang, Bu? 'Kan rumah Mayang di Banjarnegara sana," bantah Mayang makin bingung.
"Sekarang bukan lagi. Rumahmu adalah di sini. Bu Fatma telah menjual kamu kepada saya."
"Apa?!" Mayang kaget saat seorang wanita berwajah menor keluar dari dalam kamar. Sementara itu, empat orang laki-laki bertubuh kekar, berjalan di belakang wanita menor yang konon katanya telah membelinya.
Cobaan apalagi ini, ya Allah?"
Mayang memandang nanar Bu Fatma. Ada pengertian samar yang perlahan masuk dalam benaknya. Hal pertama yang ingin ia lakukannya segera adalah kabur! Mayang berlari ke arah pintu. Herannya tidak ada seorang pun yang menahannya. Mereka semua malah tertawa. Padahal tidak ada hal lucu yang perlu mereka tertawakan. Dengan tangan gemetaran, Mayang memutar gagang pintu. Terkunci! Pantas saja mereka semua tertawa. Karena mereka sudah tau kalau perbuatannya itu sia-sia belaka.
"Sudahlah, Mayang. Terima saja takdirmu. Mulai hari ini, pintar-pintarlah kamu membawa diri. Bahagia atau sengsaramu di sini, kamulah yang menentukannya. Ibu pergi dulu." Bu Fatma melenggang pergi begitu saja, setelah salah seorang pengawal si ibu menor mengeluarkan serenceng kunci. Saat pintu dibuka dan Bu Fatma keluar, Mayang ikut menghambur ke arah pintu. Namun usahanya sia-sia. Secepat pintu dibuka, secepat itu pula pintu ditutup. Kini hanya tinggal lima orang saja di dalam ruangan. Si ibu menor pemiliknya. Empat orang pengawal si ibu menor, dan dirinya sendiri. Mayang mengkeret saat si ibu menor mendekatinya.
"Kamu tidak usah ketakutan begitu, Mayang. Nama kamu Mayang 'kan? Santai saja. Seperti yang telah kamu dengar tadi, saya adalah pemilikmu. Bahasa gampangnya adalah mucikarimu. Panggil saja saya dengan sebutan Mami Elsye." Wanita menor yang bernama Elsye tersebut, menghampiri Mayang. Mata tajamnya yang diberi celak hitam, memandang Mayang dingin.
"Mulai hari ini, apartemen ini adalah rumahmu. Di sini, kamu akan tinggal dengan tujuh orang wanita penghibur lainnya. Khusus hari ini kamu boleh libur. Karena hari ini kamu akan ditatar khusus oleh para seniormu tentang tata cara memuaskan tamu. Tetapi besok kamu sudah harus bekerja. Mengerti?"
"Tidak mau! Saya ingin pulang! Saya bukan milik siapa-siapa. Buka pintunya. Buka!" Mayang panik. Ia memutar-mutar gagang pintu sekuat tenaga. Ia tidak mempedulikan kata-kata Mami Elsye. Mami Elsye itu bukan siapa-siapanya. Ia tidak harus mendengarkan perkataannya.
"Jaya, Abdul, beri anak ini sedikit pelajaran. Kalau setelahnya ia masih membangkang, kurung dia di ruang khusus sampai dia menyerah. Ingat, jangan beri dia apapun sampai besok pagi. Saya ingin melihat. Sampai berapa lama ia sanggup membangkang."
Mami Elsye mendekati pintu. Seperti saat Bu Fatma keluar tadi, salah seorang pengawal dengan segera membuka pintu. Dengan cepat Mayang bergerak. Ia ingin ikut keluar. Namun seorang pengawal yang dipanggil Jaya, menahan laju tubuhnya. Mayang tidak mau menyerah. Dengan beringas ia berusaha melepaskan diri dari sang pengawal. Sang pengawal yang marah, membopongnya di punggung seperti sekarung beras. Mayang yang tidak mau menyerah, memukuli punggung si pengawal. Ia berteriak, memukul sembarang, hingga menggigit keras tangan si pengawal. Si pengawal yang kesakitan menurunkan Mayang dari punggungnya. Sebagai balasan atas kenekadannya, sang pengawal menamparnya keras bolak balik. Mayang terbatuk. Ia merasa kedua pipinya nyeri dan panas. Selain itu, ia mencecap rasa asin darah. Namun Mayang masih belum mau menyerah. Ia kembali menerjang ke depan, saat bayangan Mami Elsye berkelebat melewati ambang pintu.
"Tunggu! Jangan tinggalkan saya di sini! Saya mau pulang!" Mayang kembali berteriak histeris. Ia ketakutan. Bagaimana nasibnya jika ia terkurung di sini? Lebih dari itu, ia sedang hamil. Akan jadi apa kandungannya nanti saat ia harus bekerja? Senaif-naifnya dirinya, ia tahu akan dijadikan apa ia di sini. Namun teriakannya sia-sia. Mami Elsye dan dua orang pengawalnya telah pergi. Meninggalkannya di apartemen dengan Jaya dan Abdul yang sadis. Ketakutan memikirkan nasibnya, Mayang kembali menjerit-jerit histeris seraya menggedor-gedor daun pintu. Ia putus asa dan tidak tahu harus mencari bantuan ke mana.
"Lo bisa diem nggak hah?" Sebuah tamparan keras kembali melayang ke pipi Mayang. Kali ini kuatnya tamparan, menghempaskan kepala Mayang hingga ke sisi kanan. Seketika Mayang merasa kepalanya mendadak ringan. Detik berikutnya ia seperti tersedot ke dalam pusaran hitam yang menggulungnya kejam. Ia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
***
Jakarta, 10 Januari 2014.
Mayang berjalan tergesa menghampiri Mami Elsye. Di belakangnya, Abdul, sang pengawal membayangi dalam diam. Air muka Mayang begitu masam. Berbanding terbalik dengan Mami Elsye yang tersenyum bahagia di sudut club. Mayang tahu, Mami Elsye sedang girang bukan kepalang karena para kupu-kupu kertasnya banyak mendapat bookingan. Mami Elsye bahkan tidak malu-malu menjemur gigi, sambil membuat gerakan mengipas-ngipas dengan lembaran uang. Mami Elsye puas karena anak didiknya laris manis semua. Mayang geram. Mereka semua yang sibuk bekerja tanpa kenal malu apalagi lelah, tetapi Mami Elsyelah yang menikmati hasil jerih payah mereka semua. Dasar germo keparat! Setelah langkahnya sampai di depan Mami Elsye, Mayang memuntahkan kekesalannya. Saat ini ia sudah tidak peduli pada apapun lagi. Mentalnya sudah jauh berbeda dengan mentalnya dua tahun lalu.
"Mengapa Mami ingkar janji?" tuntut Mayang tanpa tedeng aling-aling. Mami Elsye meliriknya sesaat. Namun germo keparat itu tidak menanggapi pertanyaannya sama sekali. Mami Elsye hanya menganggapnya seperti seekor lalat.
"Maksud kamu apa, Mayang? Mami tidak mengerti? Sudah sana kerja. Masalah lainnya nanti kita bicarakan saja di apartemen." Mami Elsye mengibaskan tangan. Tanpa mempedulikan Mayang lagi, Mami Elsye berjalan menghampiri seorang pemuda gagah tattoan yang baru masuk ke dalam club. Walau muda, tetapi Mami Elsye tampak sangat menghormati sang pemuda. Sepertinya Mami Elsye memang sudah menanti-nantikan kedatangan sang pemuda.
Mayang tidak mau kalah. Ia mengekori langkah Mami Elsye nekad. Ia sudah terlalu lama dimanfaatkan oleh germo keparat ini. Kini ia ingin bebas!
"Saya tidak mau bekerja lagi. Karena itulah saya mencari Mami di jam bebas saya ini." Kalimat Mayang sukses membuat Mami Elsye menyurutkan langkah. Mami Elsye kini berbalik menghadap Mayang dengan air muka bengis.
"Tidak mau bekerja lagi kamu bilang? Coba ulangi sekali lagi kata-katamu?"
"Saya tidak mau bekerja lagi," eja Mayang tegas. Ia tidak mempedulikan ekspresi Mami Elsye yang mendadak berubah beringas. Terlalu lama ditekan, bisa membuat seseorang nekad. Begitu juga dengan dirinya.
"Dulu Mami bilang saya bisa bebas dari tempat ini, kalau saya bisa membayar 100 juta rupiah. Karena sejumlah itulah Mami dulu membayar Bu Fatma. Dan hari ini, tepat setelah dua tahun saya berada di sini, saya baru mampu mengumpulkan uang sejumlah yang Mami minta. Uang simpanan saya tersebut, tadi sudah saya berikan pada Abdul. Itu artinya saya sudah bebas bukan? Tapi kata Abdul, Mami tidak mengizinkan saya keluar dari apartemen. Mengapa Mami ingkar?" Mayang meradang.
Mayang meluapkan segenap emosinya. Sejak hari pertama tinggal di apartemen, ia telah dipaksa bekerja. Akibatnya ia mengalami pendarahan dan keguguran di hari itu juga.
Saat memohon untuk dipulangkan ke Banjarnegara, Mami Elsye meminta satu syarat. Yaitu ia harus membayar 100 juta yang tentu saja tidak mampu ia bayar. Kala ia menolak bekerja, Abdul dan Jaya akan mengurungnya di ruangan khusus dan membiarkannya kelaparan. Kedua pengawal Mami Elsye tersebut juga tidak segan-segan memukulinya. Masalah perut sejengkal membuatnya menyerah. Dengan keluguan seorang remaja tujuh belas tahun, ia terpaksa menjalani profesi sebagai seorang wanita penghibur.
Begitulah, selama dua tahun penuh ia terkurung di dalam apartemen. Ia hanya boleh keluar apartemen untuk bekerja. Artinya melayani para laki-laki hidung belang di club. Dalam kurun dua tahun itu, ia diperlakukam bagai budak pemuas nafsu tamu-tamu club oleh Mami Elsye, yang letaknya tidak jauh dari apartemen. Mayang sadar. Tanpa membayar, mustahil ia bisa keluar dari pekerjaannya ini. Oleh karena itulah, siang dan malam ia terus bekerja. Ia menyisihkan 5 juta rupiah setiap bulan, untuk dibayarkan pada Mami Elsye. Ia juga mengirim sejumlah uang pada keluarganya di Banjarnegara. Kepada mereka, ia mengaku kalau telah mendapat pekerjaan tetap di Jakarta. Begitulah, selama dua tahun ia menjalani hidupnya di ibukota.
"100 juta itu hutang pokok Mayang. Bunganya adalah 10% setiap bulannya, yaitu 10 juta tiap bulan. Kalikan 2 tahun. Jadi kamu harus membayar membayar sejumlah 240 juta lagi kalau kamu ingin bebas hari ini. Tapi kalau besok-besok, lain lagi perhitungannya. Ngerti kamu?"
Bunganya 10% tiap bulan? Dasar germo lintah darat!
"Mami tidak mengatakan soal bunga pada saya dua tahun lalu! Mami hanya mengatakan 100 juta." Mayang mengkertakan geraham. Betapa ia putus harapan sekarang. Kemarin ia telah membusungkan dada dengan gembira. Berharap agar ia bisa secepatnya terbebas dari tempat ini. Namun kini semua harapannya buyar! Sepertinya ia akan terus membusuk di tempat ini.
"Kamu pikir kamu bisa makan, tidur, dan bera* gratis di Jakarta ini? Tidak bisa, Shay! Bunganya adalah biaya kompensasi kamu selama tinggal 2 tahun di apartemen saya! Sekarang kita sudahi omong kosong ini, dan kembalilah bekerja. Nanti malam pasti akan ramai. Banyak pejabat-pejabat dari luar kota yang meeting di Jakarta hari ini. Bersiaplah mendapat tangkapan ikan besar. Sana, dandan yang cantik!" Mami Elsye mengibaskan tangan ke udara. Ia menganggap pembicaraan konyol ini sudah selesai.
"Tidak mau! Mami boleh memerintahkan Abdul dan Jaya untuk memukuli, bahkan membunuh saya. Saya tidak takut. Toh saya memang sudah mati sejak dua tahun lalu," tantang Mayang nekad. Ia sudah tidak mempedulikan apapun sekarang. Mati hanya sekali. Sungguh, ia memang sudah seputus asa ini sekarang.
"Mati itu gampang, Mayang. Tapi apa kamu sampai hati membuat keluargamu di kampung menanggung malu berkali-kali lipat. Anak gadis tulang punggung keluarga, yang digadang-gadang sukses di ibukota mati dengan nista. Mati dalam profesi sebagai pelacu*. Tega kamu melemparkan setumpuk kotoran di wajah kedua orang tuamu? Lantas, mau jadi apa kedua adikmu yang masih sekolah dan ayahmu yang sakit-sakitan? Kamu mau kalau ayahmu mati juga? Mau kamu?" Mami Elsye menoyor kening Mayang dengan jari telunjuknya.
Mayang adalah primadona di clubnya. Mana mungkin ia akan melepaskan Mayang semudah itu? Dari pertama kali melihat Mayang, ia tahu kalau gadis ini kelak akan menjadi bintang. Wajahnya yang sendu namun seksi, mempunyai daya jual tinggi. Kecantikan Mayang menguras emosi laki-laki. Mayang tampak rapuh sekaligus menggairahkan. Perpaduan mematikannya selalu tidak pernah gagal dalam menjerat pelanggan. Hati laki-laki mana yang tidak bergetar melihat sendunya air muka Mayang? Ditambah dengan rambut ikal sepinggangnya, Mayang seperti hasrat terlarang yang diimpi-impikan semua kaum adam. Lihatlah, dalam busana tertutup dan wajah pucat seperti ini pun, aura seksi Mayang tidak terbantahkan.
Mendengar kalimat demi kalimat bernada provokasi dari Mami Elsye, Mayang meradang. Mami Elsye menyerang sisi emosionalnya. Topik tentang keluarganya itu terlarang baginya. Ia sanggup melakukan apapun demi keluarganya. Membawa-bawa nama keluarganya dalam masalah mereka, membuat Mayang kalap. Dengan membabi buta ia menjambak rambut panjang Mami Elsye dan membantingnya ke lantai club. Mami Elsye yang tidak menyangka kalau Mayang akan menyerang, tidak siap. Ia terjatuh dengan posisi Mayang yang kini menduduki perutnya.
"Dasar germo bejat! Lintah darat! Karena Mami lah, saya sekarang jadi seperti ini. Mami pikir Mami ini siapa hah? Sampai-sampai Mami berani menyumpahi ayah saya? Siapa?" Mayang yang kalap memukuli Mami Elsye yang terlentang di bawah tubuhnya. Namun aksinya tidak bertahan lama. Abdul dan dua pengawal lainnya muncul dan gantian menggampari Mayang. Mami Elsye dan sudah berdiri kembali, menyumpahi Mayang dengan rambut awut-awutan.
"Sudah berani kamu dengan saya, Mayang? Berani? Sekarang rasakan pembalasan saya melalui Abdul dan Jaya. Lihat, apa kamu besok masih bisa berdiri? Dasar lont* sialan!" Mami Elsye menyempatkan menghajar wajah Mayang yang sudah berdarah-darah. Abdul dan Jaya, memang terkenal sadis saat marah.
"Sudah pertunjukannya?" Sebuah suara menyela dari arah belakang Mami Elsye. Dengan mata yang sudah tertutup separuh karena bengkak, Mayang memandang si pemilik suara. Ternyata si pemuda gagah tattoan yang tadi ingin ditemui Mami Elsye.
"Maaf ya, Xander. Kamu sampai harus melihat drama-drama murahan seperti ini. Ayo Mami akan segera membayar minuman yang sudah papamu kirimkan. Uangnya sudah Mami siapkan kok." Mami Elsye buru-buru menghadap Xander. Anak Axel ini memang tidak banyak bicara. Karena itulah, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya berbahaya. Ia harus segera mengurus pembayaran minuman yang dipasok oleh papa Xander.
"Tidak perlu. Uang itu adalah pengganti kebebasan perempuan ini," Xander menunjuk Mayang dengan dagunya. Mami Elsye tercekat. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Xander akan memberi Mayang kebebasan. Padahal tadi ia hanya menggertak. Rugi besar kalau ia melepaskan Mayang. Mayang adalah investasinya dalam jangka panjang.
Akan halnya Mayang, ia takut kalau pendengarannya salah. Makanya sekarang telinganya berusaha ia buka lebar-lebar. Tadi telinganya memang terasa berdenging akibat pukulan-pukulan Abdul dan Jaya.
"Maksudnya?" Mami Elsye berusaha mengelak. Otaknya dengan cepat berputar. Berusaha mencari alasan yang tepat untuk menggagalkan niat Xander.
"Anda mengerti sekali maksud saya. Tidak usah belagak pilon di depan saya. Jumlah yang harus ia bayar 240 juta rupiah bukan? Tagihan Anda adalah 250 juta. Ambil sepuluh juta kembaliannya. Dan urusan Anda dengan perempuan ini usai sudah," ucap si pemuda santai. Namun sorot matanya menjanjikan ancaman.
"Jangan main-main dengan saya. Saat saya katakan usai. Itu artinya usai. Paham?" Mami Elsye menahan kalimat yang sudah gatal, ingin ia ucapkan diujung lidah. Masalahnya ia tidak berani membantah Xander. Bukan rahasia umum lagi, kalau anak sulung Axel ini bahkan lebih sadis dari papanya. Sudahlah, ia relakan saja Mayang. Namun ia masih sedikit menekan mantan anak didiknya ini. Kala Mayang melewatinya di belakang Xander, ia membisikan sepenggal kalimat.
"Kamu pikir kamu sudah bisa jadi perempuan baik-baik? Kamu itu perempuan kotor. Kalau kamu kembali ke kampung, itu artinya kamu mengotori kampungmu dengan segala kekotoranmu. Bisa-bisa kampungmu terkena bencana alam karena didatangi manusia nista sepertimu. Cuih!"