Chapter 20
Wajah Mama dan Mas Bagas lantas tak enak setelah aku mengatakan hal tersebut. Tak lama kemudian, aku masuk ke dalam kamar tak menggubris perkataan kedua manusia laknat yang dengan teganya mengkhianati kepercayaanku.
Keesokan harinya..
Hari ini hari Senin. Mas Bagas mulai masuk dan aktif bekerja, ia sudah siap dengan setelan jas berwarna hitam dan dasi yang menggantung di lehernya. Aku masih bersikap sok baik, aku bahkan sudah membantunya untuk memasangkan dasi di lehernya.
Setelahnya, aku juga mengantar Mas Bagas ke depan dan memberikan kecupan sekilas di pipinya. Entahlah, apa yang akan ia pikirkan, tapi yang jelas ini adalah salam perpisahan alias salam terakhirku.
"Aku berangkat dulu ya, Sof," ujarnya.
"Ia Mas hati-hati." Jawabku.
Hari ini aku akan menggugat cerai Mas Bagas sesuai dengan rencanaku. Aku akan memproses segalanya berdasarkan bukti yang ada di ponsel Mela setelah aku rekam kemarin.
Aku Pun bersiap-siap untuk pergi. Ibu yang melihatku berdandan cantik lantas mengucapkan sesuatu yang tidak kusangka sebelumnya.
"Kamu kok dandan cantik-cantik sih, Sof? Kamu mau selingkuh dari Bagas ya?" tanyanya. Sontak saja setelah mendengar ucapannya, hatiku memanas. Amarahku yang sempat ku simpan mencuat ke ubun-ubun dan bersarang di sana.
"Untuk apa aku membalas perbuatan selingkuh dengan berselingkuh, ma? Aku bukan wanita yang murahan yang bisa berselingkuh dengan laki-laki lain sementara statusku masih istri sah seseorang," sindirku. Aku tak peduli siapa dia dan apa statusnya.
Karena setahuku penghianatan tetaplah sebuah kesalahan yang tidak memandang posisi, entah orang tua atau sanak keluarga sekalipun, jelas aku tidak akan pernah memaafkannya.
Mama terdiam, ia tak menjawab ucapan ku. Mungkin, ia mulai merasa jika apa yang ku ucapkan benar-benar telah menyindirnya. Aku juga tidak peduli, terlebih Mela sudah mengirimkan pesan singkat padaku, bahwa ia sudah menungguku di depan.
Akupun menutup gerbang pagar rumah dengan sedikit keras. Pertanda, jika aku sedang kesal dengan sosok yang telah melahirkanku ke dunia, dan dengan sengajanya mengkhianati bahkan menghancurkan rumah tanggaku ini.
"Kamu udah kasih tahu Bagas, Sof soal video mereka di hotel dan berboncengan mesra kemarin?" tanya Mela padaku.
"Belum, aku hari ini mau ke pengadilan. Aku akan gugat cerai Mas Bagas secara diam-diam. Selama surat itu belum sampai di tangannya, aku ingin berpura-pura sok baik di depannya,"
"Kenapa begitu?" Mela
tampak heran dengan ucapanku.
"Aku ingin dia menyesal karena telah diceraikan olehku," jawabku singkat. Mela tidak banyak bicara ia lantas mengantarku ke pengadilan untuk menggugat cerai Mas Bagas
Setelah dua jam aku dan Mela
berkutat di pengadilan, kami pun memutuskan untuk ke pantai berdua. Mela hari ini juga suntuk karena banyaknya pekerjaan di Restorannya kemarin, apalagi katanya tiga anaknya membutuhkan biaya besar untuk sekolah.
"Kamu kirim kemana suratnya, Sof?" tanya Mela di perjalanan menuju pantai.
"Ke rumah." Jawabku singkat.
"Apa enak begitu ya? Kenapa kamu nggak bawa aja suratnya kasihkan ke Bagas, biar dia tahu apa kesalahan nya!" Mela tampak kesal dan jengkel padaku.
"Tidak, aku lebih suka memberikan terapi kejut Mel. Sama seperti Mas Bagas, yang beraninya selingkuh dengan mana kandungku sendiri,"
Mela menghela nafasnya pelan. "Setelah cerai, kamu akan kemana?"
"Aku akan pergi, aku akan cari kehidupan baru untuk diriku sendiri,"
Mela tersenyum dan menepuk pundakku. "Kamu yang sabar ya? Aku tahu bagaimana rasanya jika berada di posisi mu, aku tahu bagaimana gelisah nya perasaan mu saat ini," ujar Mela yang berbicara dan berkomunikasi denganku sembari menatap pantulan wajah kami di spion sepeda motornya.
Ketika jam 4 sore aku memutuskan untuk pulang dari pantai, rasanya aku sudah mulai lega. Perasaanku yang campur aduk sedari kemarin sedikit demi sedikit mulai lega.
Mela pun sama, ia hari ini membeli banyak makanan dan
mainan untuk ketiga anaknya. Katanya, kemarin ia mendapatkan bayaran yang cukup besar daripada biasanya. "Memang anak kamu suka boneka, Mel?"
"Suka, Sof,Apalagi boneka kelinci, wah mereka rebutan," ujar Mela yang bercakap-cakap denganku selama di perjalanan.
Sesampainya di pertengahan lampu merah di keramaian kota, ketika sore menjelang malam, aku bertemu Susan teman SMA-ku yang menaiki mobil dengan kaca jendelanya yang terbuka. Ia juga merupakan teman sekantor Mas Bagas di perusahaan furniture di mana tempat Mas Bagas bekerja.
"Sofia," panggilnya.
"Susan? Eh kamu darimana?" tanyaku."Habis dari kantor, oh ya? Kamu hamil, Sof?" tanya Susan.
"Hamil? Eh, enggak kok. Belum, kenapa ya?" tanyaku dengan menunjukkan wajah masam ku seketika.
"Masa sih? Sekarang 'kan suamimu mesra banget ke kamu, tadi aja pas mau pulang telpon kamu, tanya mau beli makanan apa, tanya kesehatan adek bayi juga di perut kamu,"
Deg.
Sakit jantungku, belum aku sempat aku menjawab ucapan Susan, kini lampu traffic kembali hijau. Susan pun memberikan bel klakson sebagai tanda, jika ia akan melajukan mobilnya terlebih dahulu.
Mela terdiam, aku juga. Terjadi keheningan di sepanjang jalan. "Kamu masih kepikiran ucapan Susan, ya Sof?" tanya Mela kepadaku.
Aku meyahut sekenanya. "Iya, Mas Bagas pernah menanyakan padaku kapan aku akan hamil, apa pertanyaan Susan ini ada hubungannya?" tanyaku dengan meneteskan buliran kristal di pipiku.
Mela menghela nafasnya berat. "Apa iya Sof.. mama kandungmu sedang hamil anak suami mu?" tanyanya.
Hatiku remuk, padahal aku tidak tahu kenyataannya. Berarti benar dugaanku, Mas Bagas dan Mama sudah menjalin hubungan sejak lama, buktinya Mama katanya hamil? Astaga, manusia laknat model apa mereka itu?! Benar-benar menjijikan dan memalukan!
Aku tak bisa berkata-kata, rasanya lidahku berat untuk digerakkan. Sesampainya di rumah, suasana begitu sepi. Aku pun yang masih emosi, kini mulai menangis sejadi-jadinya sembari mengetuk pintu rumahku. Mela, sahabatku tak lantas meninggalkanku sendirian di teras, ia masih di sini menemaniku hingga seseorang membukakan pintu untukku.
Klek.
Lagi, aku melihat Mas Bagas yang sedang topless dan nafasnya tersengal-sengal sembari membuka pintu rumah.
"Sofia?" tanyanya dengan wajah paniknya. Aku terdiam. Tak sanggup aku mengatakan apa yang ada di kepalaku, hingga akhirnya aku kelepasan juga untuk melayangkan tamparan di pipinya. Mungkin ini karena kepalaku sudah tak mampu menampung emosiku yang meledak ledak sedari tadi.
Plak!Mas Bagas terkejut. "KENAPA
DATANG-DATANG KAMU JUSTRU MENAMPAR SAYA, Sofia?!" cercanya dengan meledak-ledak.
Tanpa basa-basi, aku juga menghardiknya. "AKU SUDAH CUKUP SABAR MAS, DENGAN BEBERAPA FILE VIDEO MESUM YANG KAMU HAPUS DI TABLETKU! AKU JUGA CUKUP SABAR DENGAN OMONG KOSONGMU! AKU MAU KITA CERAI, SURATNYA AKAN DATANG BESOK PAGI! KAMU CUKUP TANDA TANGANI SAJA!"
"Oh, jadi benar kata mama
kamu selingkuh dengan pria lain? Kamu bermain di luar sana bersama pria lain hingga pulang sesore ini? Ini 'kan alasan kamu cerai dari aku?!"
"Sayangnya, kamu salah Mas! Aku sudah tahu sebuah fakta kalau mama, mama kandungku saat ini tengah hamil anakmu! Ya, kamu suami sahku!" tudingku dengan menunjuk ke arah wajahnya. Masyarakat yang memang berkumpul karena pertengkaran kami lantas menjadi gaduh dan bersorak-sorai.
"Usir! Usir!"
"STOP!!!" ujar Mas Bagas di tengah-tengah warga yang meneriakkan kata mengusir untuknya.
Mereka semua lantas berhenti sejenak. "Kalian semua percaya omongan Sofia? Apa ada buktinya tuduhan nya ini?!" ujar Mas Bagas dengan matanya yang merah, dan urat lehernya yang menegang.
Tanpa basa-basi, Mela menyahut. "Ada kok, gas.. coba lihat ini.." Mela lantas memamerkan sebuah video di ponsel nya. Semua warga kini yang begitu, mending aku bakar aja hidup-hidup, nanti dagingnya aku kasihkan anjing liar!" Wajah Bu RT juga tampak emosi ketika mengatakan hal tersebut.
Gunjingan demi gunjingan keluar dari mulut warga kala melihat video yang ada di ponsel Mela. Sedangkan aku masih mematung, aku tak pernah percaya jika katanya Mas Bayu bahkan memiliki sebuah mobil, bahkan setahuku Mas Bayu selalu memberi uang pas-pasan karena katanya aku masih belum memiliki momongan, jadi uangnya ia tabung saja.
Terlebih, Mas Bagas sering bilang jika perusahaan furniture di mana ia bekerja sering mengalami kerugian, karena kurangnya minat atas pengrajin mereka. Saat itu aku hanya percaya-percaya saja. Aku bahkan tidak tahu, jika mama sering ke salon dengan suamiku sendiri.
Maklum, selama liburan dua minggu ini aku jarang di rumah, bahkan ketika Mas Bagas mulai aktif bekerja aku tidak pernah curiga jika mama yang sendirian di rumah akan pergi kemanapun sesukanya bersama suami sahku.
Setelah semua warga puas melihat video yang berdurasi lima belas menit itu, mereka meneriaki rumah ku dengan cercaan kasar."Keluar kamu, gas!"
"Hey, orang sok suci, ayo keluar!!"
Aku hanya membisu. Tatkala itu, papa baru pulang dari sawah, ia kebingungan dengan teriakan-teriakan warga yang berada di depan rumah kami.
"Ada apa ini, Sofia?" tanya papa dengan heran, ia lantas memarkir sepeda motornya di halaman. Papa yang masih ngos-ngosan dengan membawa cangkul dan topi petaninya menghampiri para warga di depan terasku.
"Pak Radit, bapqk itu terlalulugu. Coba lihat video ini," Mak Sarwini memberitahukan video yang dipegang oleh Amela. Sebenarnya, aku tidak tega jika papa mengetahui fakta tentang perselingkuhan mama dan Mas Bagas, aku takut jika papa akan depresi setelah melihat semuanya.
Tapi nyatanya, aku telat. Video itu sudah di lihat oleh papa dengan mata kepalanya sendiri. Mimik wajah papa kini berubah, ia tampak pucat pasi. Ia dengan gemetar meletakkan cangkul dan topi petaninya di kursi yang berada di teras.
Pak RT pun tak lama datang, ia menenangkan para warga untuk tak menghakimi secara sepihak.papa pun terhuyung-huyung masuk ke dalam rumah. Ia meneriakkan nama mama untuk beberapa kali.
"Hen, Henny.." panggilnya.
Tak ada jawaban sama sekali. Tak lama kemudian, papa kembali keluar. "Sof, sepertinya Bagas dan Mama mu si Henny sudah pergi lewat pintu belakang. Di kamar, di dapur, semuanya sudah papa cek tapi hasilnya nihil,"
"Kalau maling sudah
ketahuan kedoknya pasti begitu!"
"Kalau kembali ke rumah ini, kita arak saja habis-habisan, giring ke kantor polisi!""Tya, ini sudah asusila, berzina, sudah pasti ini kena pasal berlapis, betul apa betul?!" teriak Mpok Lela.
"Betul!!! Usir, usir!" Teriakan
kompak semua warga komplek di rumahku."Ingat! Yang serempak ya?! Kita harus menolak kembali kehadiran Bagas dan mama Henny!" Bu Sutinah ikutan bersuara sekarang.
"Betul, betul!"
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, sabar! Ini memang sangat menjijikkan! Mereka ini sudah mencoreng nama komplek kita Bu-Ibu. Oh ya, Mira, Pak Radit, dengarkan saya, kalau sampai kalian menerima kembali mereka di komplek ini, saya tidak sudi!" Pak RT tiba-tiba memberikan peringatan.
Semua warga tampak riuh, aku masih mematung. Bukan karena aku menyesal. Tidak! Tapi,aku kesal karena bisa-bisa nya mereka kabur begitu saja? Bukannya Mas Bagas adalah orang yang memiliki wawasan luas? Bukannya Mas Bagas orang yang bisa melakukan apa saja? Kemana mentalnya? Apa benar mereka serendah itu? Hingga memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa mau bertanggung jawab? Belum aku selesai melamun Bapak sudah menjawab.
"Maafkan istri saya Pak RT. Saya tahu dia salah, tapi jika dia tidak di terima lagi untuk tinggal di sini, dia akan tinggal di mana?" tanya papa seolah memohon belas kasih untuk Mama kandungku bejat itu.Aku masih membisu. Mela lantas menjawab. "Maafkan saya Pak, tapi istri Bapak tidak akan kekurangan tempat untuk berlindung. Suami Sofia ini katanya kaya, sampai punya mobil istrinya nggak tau, benar itu, Bu-Ibu?" tanya Mela yang berdiri tegap di depan Bapak.
"Benar, usir aja. Jangan mau terima wanita laknat yang berselingkuh dengan menantunya sendiri!" teriak warga yang mulai berkobar-kobar.
Lantas Bu Sutinah mulai membuka suara soal kesaksiannya melihat Mas Bagas bersama Mama. Hatiku remuk berkeping-keping, entah apa yang akan dirasakan setelah mendengarnya.
"Benar itu, tiga minggu yang lalu. Saya lihat Bayu bawa mobil x-pander berwarna putih kemari. Saya pikir itu mobil perusahaan, tapi Henny justru sombong, katanya itu hasil tabungan dan kerja keras Bagas yang di simpan di rekening pribadinya. Saya ada buktinya kok, ini loh foto mobil dan mereka berdua waktu keluar bersama, katanya Ibumu itu mau nyalon. Pas saya tanya kok nggak sama kamu, katanya kamu nggak suka diurus, nggak suka di rawat sama Bagas."
Deg.
Seketika, aku mulai melemas.Tak kusangka seorang mama yang polos dan selalu kusayangi meski selama ini ia banyak berbicara kasar padaku akan berbuat sekeji ini. Tidakkah dia ingat siapa aku? Lantas, untuk apa papa ada di sini? Kenapa harus Mas Bagas?
"Tuh, Pak Radit. Dengarkan penjelasan Bu Sutinah, walau seperti apapun anda mencintai bu Henny, saya mohon maaf saya nggak bisa lagi mentolerir masalah ini," ujar Pak RT.
Bapak juga shock, ia tak menjawab apapun. Mungkin, ia benar-benar tidak bisa terima, istri yang ia sayangi selama ini justru menikamnya dari belakang. Di tengah kericuhan warga, Susan Teman sekantor Mas Bagas justru tiba-tiba datang kerumahku. Hingga, membuat warga semakin panas mendengar ucapan wanita cantik berkulit putih itu.
"Permisi, Bagas-loh kok rame sih?" tanyanya sembari celingak-celinguk.
"Kamu siapa lagi? Wanita simpanan Bagas yang nomor berapa?" ketus Bu RT.
Susan tampak kesal, tapi ia berusaha tenang. "Maaf Bu, saya teman sekantornya Bagas. Saya ke sini cuma mau berikan susu Ibu hamil milik Bagas yang ketinggalan ," ujar Susan yang memberikan sekardus susu ibu hamil ditangannya.
Sontak Pak RT bertanya padaku. "Kamu hamil, Mir?" tanyanya. Aku hanya menggeleng. "Bukan aku yang hamil Pak, tapi Ibu.."
Pov Bayu.
Sudah jam enam sore..
Setelah kedatangan Susan, aku justru tak bisa bergerak. Aku harus bersabar hingga semuanya mulai bubar, ini hari sialku. Lagian, ini juga salahku, aku lupa mengabari Susan jika ia tak perlu mengantarkan susu ibu hamil milik Mbak Henny yang kuanggap sebagai istri keduaku.
Aku masih bersembunyi di kebun pohon mangga yang penuh dengan semak belukar di dekat rumah. Rencananya aku akan pergi ke rumah baruku bersama Mbak Henny ketika nanti larut
malam setelah para warga bubar dari hadapan rumahku.
Aku masih geram dengan para warga dan Mela yang seenaknya mempermalukanku di depan banyak warga komplek, bapak termasuk Pak RT. Sofia memang tidak tahu malu! memang nya salah siapa, aku begini? Bukannya ini juga kesalahan dia yang tidak bisa memberikan aku momongan. Beda dengan Mbak Heny ku sayang, yang masih subur meski usianya sudah dua puluh tahun di atasku.
Masyarakat terdengar berteriak-teriak akan membakar seluruh pakaianku karena aku mungkin dianggap melakukan sesuatu yang terlarang bagi mereka, padahal menurutku cinta itu tak pandang bulu. Aku tahu ini mungkin salah, tapi aku sudah merasa nyaman dengan Mbak Henny yang memberikan kelembutan dan perhatian lebih dari istriku.
Aku juga sengaja selama ini merahasiakan rumah baru dan mobil baru untuk sofia. Aku ingin dia merasakan kecewanya diriku yang lantas tidak memiliki momongan bersamanya, padahal aku sudah menunggunya sampai tiga tahun. Bukannya aku sudah cukup sabar? Setiap pernikahan yang dinantikan adalah keturunan, agar pernikahan nya tidak hambar.
Tapi, sofia? Apa ia layak dijadikan istri? Rahimnya saja sudah kering! Kini, aku muak dengannya, yang sok miskin karena aku memberinya uang bulanan pas-pasan, ia bahkan sengaja bekerja di restoran sebagai pelayan untuk mencari uang tambahan demi bisnis kateringnya bersama Zahra sahabat nya. Tapi, aku tidak kasihan dengannya, aku sengaja memperlakukannya seperti itu. Karena bagiku ia bukan sepenuhnya wanita jika ia belum bisa memberikan keturunan.
Kini, aku masih mengintip di balik pagar bambu yang menjadi penghalang antara rumahku dan kebun kosong yang berisikan banyak pohon mangga itu.
"Pak Radit, sebaiknya bakar semua barang-barang Bagas yang ada di rumah ini, supaya ia tidak kembali ke sini!" ujar Mpok Lela yang dengan seenaknya menghakimiku.
Mungkin, Mpok Lela masih dendam karena dulu aku tidak mau melayani nya saat suaminya pergi bekerja, dia pernah memintaku datang kerumahnya, ia menyukaiku sejak lama, tapi jika dibandingkan dengan Mbak Henny, aku masih jauh lebih suka dan lebih kagumakan permainan Mbak Henny di ranjang bersamaku.
Melihat para warga mulai mengepulkan asap karena membakar barang-barang kami, Mbak Henny yang masih duduk bersembunyi di sebelahku menangis di bahuku. Kasian dia, ia hamil tiga bulan tapi ia berusaha menahan pedih ini. Harus bersembunyi dan menunggu orang-orang untuk pergi jauh dari rumahku. Aku pun membelai lembut rambut nya dan menyandarkannya di bahuku, tak ada suara di antara kami. Karena aku takut ketahuan jika terlalu berisik. Kulihat papa dan sofia tampak pasrah ketika para warga satu persatu menggeledah rumah kami dan membakar semua barang-barangku. Kenapa sofia hanya pasrah? Masih ingatkah kamu jika aku ini suamimu? Kenapa kamu tidak membelaku sama sekali? Kamu rela mereka membakar pakaianku dan Ibu sendiri?
Setelah jam 8 malam komplek mulai sepi, aku memutuskan untuk berjalan kaki lewat jalan pintas, jalan setapak di komplekku. Jalan ini tembus kejalan raya di mana aku akan naik taksi dan pulang ke rumah baruku bersama Mbak Heny.
"Ini karena kamu Bagas, terlalu sering minta jatah. Kamu gegabah, lihat sofia mulai curiga, tetangga juga, sampai akhirnya kita harus diusir secara paksa seperti ini," keluh Mbak Heny padaku.
Aku menggelengkan kepalaku. "Bukan, Mbak sayang bukan salahmu, ini sudah takdir kita. Lagian, untuk apa aku bertahan dengan sofia. Dia sampai sekarang belum bisa kasih aku momongan loh, Mbak.."
"Tetap saja. Ini namanya mempermalukan diri sendiri, lagian, bukannya kamu yang memberiku ide untuk bersenang-senang ketika bapak mertuamu merantau kemarin?" sahut Heni padaku.
Sebenarnya aku kesal mendengar penuturan Mbak Henny, harusnya ia tak saling menyalahkan. Kenapa harus aku? Dia lupa, jika dia sendiri yang membutuhkan sentuhan ketika papa mertua tidak di rumah hingga akhirnya kami ketagihan dan semuanya berujung dengan kehamilan.
"Bukannya Mbak juga yang mau? Karena Bapak Radit tidak pernah sesering dulu berhubungan dengan Mbak?" tanyaku. Mbak Heny menghela nafasnya pelan.
Kami pun tak sadar tiba di jalanan besar, aku segera menghubungi taksi online untuk pergi ke rumah baruku. Aku akan bertahan di sana untuk beberapa waktu, meski aku tidak tahu nanti bagaimana ekspresi orang-orang kantor padaku, walaupun aku di anggap melanggar aturan, mungkin aku lebih baik resign dan melanjutkan bisnis jual beli mobil bekas bersama Afran. Ya, Afran mantan suami Mela itu.
Setelah sepuluh menit kami menunggu, akhirnya taksi datang dan membawa kami menuju ke rumah besar, rumah baru kami yang jauh lebih baik daripada rumah yang di tinggali Sofia dan papa, Bodoh amat dengan cercaan orang, aku Bayu Wijaya Hanya ingin keturunan, itu saja, tidak lebih! Aku ingin keturunan yang wajahnya masih mirip dengan Sofia dan diriku, jadi dengan terpaksa aku menggauli seseorang yang mirip dengan nya, siapa lagi kalau bukan ibunya sendiri? Sofia tidak punya saudara, ia memang terbiasa hidup mandiri sedari kecil. Ia juga bukan istri yang biasa menadahkan tangan kepada suami. Aku sebenarnya kagum akan sosoknya, tapi-perkara keturunan memang itu alasan utamanya.
Setelah sampai rumah, aku memode pesawat ponselku. Aku duduk di sofa besar dengan sedikit menyesal, menyesal karena sofia mengetahui perbuatanku. Seandainya ia tidak tahu, dan aku tidak gegabah untuk pamer kemesraan dengan ibunya, mungkin tetangga tidak akan ada yang tahu. Aku memang labil dalam hal ini, mungkin aku masih sangat mencintai Mira, hanya saja aku butuh keturunan bukan pernikahan yang hambar tanpa hadirnya buah hati.
Mbak Heny n masih menata ruangan, ia juga memasak semur daging di dapur. Aku masih pusing, pusing karena sudah pasti setelah beberapa hal yang membuat terbongkar nya hubungan ku dengan Ibunya ini, sudah pasti Sofia akan jijik kepadaku dan tidak akan memaafkanku. Aku mungkin tadi kesal, tapi sosok Mbak Henny jelas jauh lebih buruk dibandingkan dengan wajah istriku. Istriku cantik, sayang ia tidak bisa memberikan apa yang aku mau sebagai seorang suami.
"Gas,nasinya sudah siap. Semur nya sudah jadi, ayo makan dulu. Soal Sofia, kamu tenang aja. Aku akan coba bicara padanya kalau masalah mulai mereda.. Mira itu anak yang berbakti tidak mungkin ia akan membenciku, bukan nya surga ada di telapak kaki ibu?
"Mbak Heny, kamu masih memikirkan sofia ya?" tanya Bagas yang mencolek dagu ibu mertua nya yang ia panggil dengan sebutan Mbak itu.
"Ya, aku juga memikirkan sosok papa mertuamu, gas. Aku yakin dia pasti akan membenciku," keluhnya dengan menghela nafasnya.
"Biarlah soal papa, Mbak. Lagian 'kan masih ada aku, aku yang akan menemani Mbak sampai bayi kita lahir," ujarnya lagi."Tapi-aku mau setelah bayi ini lahir nanti, ia tetap anak kita berdua, bukan anak kamu dan sofia." Jawab Henny sembari mengunyah makanan di mulutnya, mendengar ucapan Heni ekspresi Bagas seolah berubah tak suka. Tapi, ia tidak menanggapi ucapan ucapan Henny ibu mertuanya.
"Gas, baju-bajuku sudah di bakar habis, aku bahkan tidak sempat menyelamatkan baju-baju yang pernah aku beli bersamamu dulu," keluh henny dengan berdecak kesal.
"Sabarlah, nanti kita beli lagi Mbak. Beli yang bagus-bagus. Kita 'kan punya mobil, jadi ga khawatir akan gunjingan tetangga mereka ga akan mengenali kita," ujar Bagas. Henny n pun tersenyum." Ya, mudah-mudahan hubungan kita ini bisa berjalan dengan mulus ya? Saya benar-benar senang bisa punya menantu sekaligus pacar sebaik kamu." Bagas terdiam. Otaknya masih memikirkan hubungan terlarangnya dengan wanita yang harusnya jadi Ibu mertuanya di depan matanya itu.
Di lain sisi, sofia masih mematung. Ia duduk menepi di ruang tamunya, duduk sendirian di sana. Mela sahabatnya sudah pulang sedari tadi. Ini sudah hampir jam 12 malam. Sofia masih tidak bisa memejamkan matanya. Air matanya masih menetes deras, bukan karena ia tak menerima karena diusirnya Bagas dari dirumahnya. Tapi, ia merasa kecewa. Tak menyangka jika sosok Bagas yang memiliki pengetahuan luas, pandai dan luwes itu kini berubah menjadi iblis yang buta hati.
Namun, tak lama kemudian, sebuah pesan di ponsel nya berhasil menyita perhatian sofia yang sedari tadi masih tak bisa berhenti melihat video ibu kandungnya dengan suaminya yang berboncengan mesra dan berhubungan badan di hotel kemarin.
[ Zahra
Mir, aku dengar Bayu selingkuh dengan Ibu kandungkamu sendiri ya?]
Sofia melotot heran, kenapa sahabatnya bisa mengetahui hal ini, bukannya ia tak sempat bertemu dengan Zahra cukup lama. Beras yang ia beli sekwintal kemarin juga tidak sempat ia kirim ke MZ katering. Sebuah tempat di mana sofia biasa melakukan kesibukan nya setelah ia bekerja sementara di Restoran Cece Amalia.
Jujur saja sofia bekerja di Restoran juga bukan pegawai tetap, ia bekerja di sana karena permintaan sang owner Restoran yang berani membayar nya tinggi untuk sekedar membantu dihari-hari libur atau hari-hari besar yang biasanya malah akan banyak pengunjung.
Jadi ketika ia tidak bekerja di Restoran, ia lebih memilih untuk berada di warung khusus katering milik ia dan sahabat nya bernama Zahrala Kayyara. Seorang perempuan cantik jelita yang sudah lama berteman dengan sofia. Keduanya dipertemukan kala Sofia belajar memasak untuk mengikuti lomba masak di kompleknya.
Sofia pun membalas pesan singkat Zahra di aplikasi hijaunya.
[ Kok kamu tahu? Apa warga ada yang berdesas-desus sampai ke telingamu?]
[Nggak. Tadi sempat Viral, ada yang taruh video mereka berdua di facebook.]
Sofia terdiam sejenak. Memang itu balasan yang setimpal untuk orang yang sudah melanggar aturan dan menjalin hubungan terlarang, tak ada yang perlu disalahkan jika menghujat keduanya. Karena itu sudah jelas-jelas perlakuan hewan. Tak lama karena kelelahan sofia pun terlelap. Ia tak sempat menanyakan kepada Zahra sosok siapa yang menyebarkan hubungan gelap antara Ibu Kandungnya dan suaminya itu.
Keesokan harinya..
Susan teman Bagas kembali bertandang kerumah Sofia. Gadis itu masih terlelap, Pak Raditlah yang menyambut sosok Susan di depan pintunya. Pria paruh baya itu tampak malas sebenarnya untuk menyambut tamu. Hatinya masih sangat sakit dan hancur berkeping-keping karena ulah istrinya bersama menantunya.
"Permisi, Pak. Ini ada surat dari kantor untuk Bagas, ini perintah dari atasan kami katanya Bagas resmi dikeluarkan dari perusahaan kami. Semalam Banyak yang mengetahui hubungan terlarang ia dan Ibu mertuanya." Susan memberikan sebuah amplop coklat berisikan surat pemecatan Bagas secara tidak terhormat kepada Bapak Radit.
"Tapi, Bagas sudah tidak ada di sini. Dia kan sudah diusir semalam, warga banyak yang membakar pakaiannya dan benda-benda istri saya." Jawab Pak Radit malas.
"Oh, apa iya pulang ke rumah barunya ya, Pak?" tanya Susan. Pak Radit menggelengkan kepalanya lesu. "Saya juga nggak tahu dimana rumah barunya, saya belum pernah tahu soal perkembangan aset Bagas, karena selama ini saya sibuk bekerja dan merantau." Jawab Pak Radit lagi, sesaat setelahnya sofia sudah berdiri di depan pintu.
"Susan?""Eh, sofia? Kamu jangan sedih ya? Kamu yang tabah, masih banyak laki-laki yang mau bersanding denganmu, kamu masih cantik, masih muda belum punya anak lagi." Hibur Susan. Sofia mengangguk dengan matanya yang sembab.
"Emang kamu tau rumah baru Mas Bagas?" tanya Sofia lagi. Susan mengangguk. "Tahu kok, di belakang swalayan Daskara. Di sana ada komplek elit namanya komplek Nusa Regency. Rumah Bagas nomor 12. Masa kamu nggak tahu sih? Bagas sudah lama beli rumah itu," ujar Susan yang lantas memberikan amplop ditangannya kepada sofia.
Sofia Menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu. Ya sudah biarlah. Anggap aja aku sekarang bukan lagi istrinya," jawab sofia santai. Meski matanya bengkak bekas menangis semalaman, sofiamasih berusaha tersenyum simpul. Susan pun kembali memeluknya.
"Sabar ya. Bumi tidak selamanya malam, ada kalanya siang, kamu harus yakin nanti akan ada orang lain yang lebih baik dan bisa menggantikan posisi bagas di hati kamu, sementara ini kamu fokus untuk menjaga diri kamu dulu, setidaknya memulihkan perasaan sakit kamu.. kamu harus kuat!" ujar Susan. Sofia tersenyum. "Makasih ya? Aku akan berusaha untuk melupakan semuanya dengan seiringnya waktu yang berjalan kok."
Susan pun tersenyum, lantas ia juga pamit untuk kembali ke kantornya. Surat pemecatan suaminya di tangan sofia membuat sofia penasaran akan rumah baru suaminya. Ia pun meminjam sepeda matic milik bapaknya untuk mengantar surat itu ke tempat Bagas.
Ia menyusuri jalanan yang cukup padat karena aktivitas
masyarakat yang berlalu-lalang di pagi hari. Setibanya di tempat yang diberitahukan Susan tadi, sofia mencari rumah yang diucapkan Susan. Rumah nomor 12. Kala ia tiba di depan rumah itu, ia melihat Ibunya yang mengecup kening suaminya dengan mesra kala pria itu bersiap untuk berangkat bekerja.
"Ibu.. " lirih Mira
Bagas yang menyadari kehadiran seseorang di depan gerbangnya segera menoleh ke arah sofia. "Sofia? Kamu?" tanyanya yang lantasmembukakan pintu untuk istrinya.
Sofia masih membisu,
tapi-lantas ia mencoba untuk berbicara kepada Bagas. "Ya, Mas. Ini aku, ini surat pemecatan dari kantor kamu, Mas. Tadi Susan yang kirim ke rumah," ujarnya yang memberikan amplop surat itu kepada suaminya.
Bagas terbelalak, lantas Henny datang menghampiri anak kandungnya. "Sofia, ini pasti ulah kamu 'kan yang menghasut semua orang agar mereka membenci Aku dan Suamimu?" tegurnya.
"Maaf, Bu. Bukan aku yang meminta mereka untuk membenci mu dan Mas Bagas. Tapi, karena perlakuan kalian sendirilah yang sekarang bahkan viral di media sosial." Jawab Sofia yang lantas meninggalkan Bagas yang masih tidak tahu harus berbicara apa. Wanita itu sudah enggan untuk berbicara banyak dengan keduanya.
"Sofia! Tunggu!" Bagas memanggil nama sofia kala ia sudah siap pergi untuk meninggalkan dirinya, ia sudah siap dengan menarik gas motor maticnya. Sofia hanya menoleh dan tersenyum. "Aku nggak akan ganggu kalian, selamat tinggal, Mas." Ujarnya yang lantas pergi begitu saja dari hadapan Bagas
"Sial! Sial! Sekarang aku sudah benar-benar dipecat! Dasar mantan istri Afran kurang ajar, berani sekali dia merekamku dan membagikan ke media sosial!"
Henny pun terburu-buru mengambil ponselnya. "Gas, ini bukan ulah Mela. Ini Pak RT yang semalam memposting video kita saat terekam di hotel, seperti nya kalau seperti ini terus, kita terancam akan mendapatkan sanksi sosial." Henny n tampak panik.
Bags menghela nafasnya pelan. "Wah, kalau begini sepertinya aku nggak bisa buka usaha apapun, mereka pasti akan mencemoohku!" gerutu Bagas. Kamu sih, Mbak. Terlalu sering ke Salon, ke mana-mana pamer, lihat kita terbongkar 'kan! Reputasiku hancur sekarang!",
"Kok kamu salahkan aku?
Bukannya kamu yang menggodaku kala papa mertuamu pergi merantau?!"
"Tetap saja, ini juga salahmu yang jelas-jelas memberikan lampu hijau di kala aku merindukan sosok sofia! Kamu juga 'kan Mbak, yang bilang kalau aku tidak cocok jadi menantumu?! Kita cocoknya kakak adik begitu ' kan?!"
Bagas dan henny mulai bertengkar, Bagas sebenarnya sudah tahu jika ia akan mau tidak mau kehilangan pekerjaannya. Ia pun segera menelpon sahabatnya bernama Afran di tengah percekcokan keduanya.
"Iya, memang aku! Lagian kamu juga 'kan yang menginginkan momongan dengan wajah seperti Mira istrimu?!"
"SUDAH! CUKUP, AKU
MUAK! AKU MAU MENGHUBUNGI ARFAN SAJA DULU!"
Bagas menjauh dari Henny. Ia lantas mengambil ponselnya dan menelepon sahabat nya itu. Tak beberapa lama ia menunggu, Arfan sudah mengangkat nya.
"Halo, Bagas ada apa?"tanyanya.
"Aku dipecat. Nanti aku akan kerumahmu, aku akan menjenguk bisnis kita berdua,"
"Maafkan aku gas, bisnis kita tidak bisa berlanjut sementara ini, karena modalnya terpakai," jawaban Afran membuat Bagas panik seketika.
"Apa?!! Terpakai?! Lalu bagaimana kita bisa membeli mobil-mobil bekas dan memolesnya lagi, Fan?! Astaga, di saat-saat sulit ku kenapa modalnya juga harus terpakai?!" tanyanya dengan kesal.Afran menghela nafasnya pelan. "Maafkan aku Bagas, tapi secepatnya akan aku ganti, karena kemarin ku pakai untuk anak sambungku, aku menikah lagi dengan janda anak dua," keluhnya dengan penuh penyesalan.
"Ya, tapi kapan kamu akan menggantinya? Uang tabunganku juga sedikit, aku juga dipecat paksa oleh perusahaan dimana aku bekerja,"
"Bulan depan aku usahakan, aku sudah mengganti modalnya. Maafkan aku gad, kamu kenapa dipecat?" tanya Afran dengan heran. Karena sepengetahuan Afran,Bayu sangat baik selama ini dalam mengelola perusahaan nya.
"Aku ketahuan selingkuh," jawab Bagas. Afran terkejut." Selingkuh? Dengan siapa? Dengan tunangan Direktur perusahaan mu?" tanya Afran heran.
"Bukan, tapi dengan ibu mertuaku. Mbak Heny, kamu ingat saat kuliah dulu aku sering dibantu olehnya, di bantu membayar uang kost kala ayahku telat mengirim uang, ingat 'kan kamu?"
"Tunggu. Iya! Astaga, tapi Bagas, kalau kamu memang menyukai sosok Mbak heny,kenapa kamu harus menikahi putrinya?" tanya Afran lagi.
"Aku selingkuh dengan heny bukan karena aku cinta, aku hanya ingin seorang anak yang bisa hadir di dalam pernikahan ku dan sofia, itu saja, wajah sofia dan heny itu sama," jawab Bagas dengan nada lirih, ia juga duduk menjauh dari Henny yang masih murung.
"Kamu gila, gas! Nggak seharusnya kamu melakukan itu. Aku dan kamu memang sama bobroknya, kita sama-sama selingkuh dan tidak bisa menghargai pernikahan kita, tapi.. perbuatanmu jelas lebih gila.Lebih tidak masuk akal! Aku jijik denganmu!" telepon pun terputus. Bagas mulai kesal dan berteriak.
"SIAAAAL!!! INI GARA-GARA KAMU MBAK Heny! KAMU YANG SALAH!" bentaknya.
"Kok aku? Kamu yang gegabah, gas! Kamu yang memaksakan aku untuk melayanimu ketika sofia putriku berada di rumah, kamu yang salah !" bentak Heny dengan kesal.
"Aku, kamu bilang?
Hahahahah, kamu lupa ya? Siapa yang selama ini merindukan sentuhan Pak Radit? Siapa selama ini yang mengizinkan aku untuk menyentuh tubuh keriputmu?!" Bayu mulai merutuki Henny dengan kata-kata yang membuat Henny sakit hati.
"Keriput katamu?!" bentak Henny.
"Ya, kamu 'kan sudah nenek-nenek. Kalau aku tidak punya pekerjaan seperti ini, apa kamu bisa membantuku?! Kamu hanya perempuan malas, perempuan gengsian! Kamu tidak seperti putrimu, yang pekerja keras dan dia tidak lemah!" ungkap Bagas dengan amarahnya yang berkobar-kobar."Sekarang kamu sudah mulai membandingkan aku dengan sofia? Anak pembawa sial dalam
hidupku itu?!" Henny mulai memanas. Amarahnya memuncak. Bagas pun sama, keduanya kini beradu mulut dengan sengit.Hinga tiba-tiba seorang tukang pos memotong pembicaraan sengit keduanya.
"Permisi, Bapak Bagas Wijaya ?" tanya Tukang Pos itu dengan membawa sebuah amplop besar di tangan nya. Bagas pun mereda sejenak. Sedangkan Henny ia kini dengan kesalnya masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Bagas.
Hatinya benar-benar hancur, sosok Bagas yang dikenal hangat dan benar-benar membuatnya luluh dan jatuh cinta di masa tuanya kini berubah total kala pria itu kehilangan segala macam bentuk penghasil uangnya.Wanita berusia 47 tahun itu menangis di dalam kamarnya.
"Ya, apalagi ini? Surat apa lagi?" tanyanya yang menyambut kedatangan tukang pos tersebut. Nafas bagas juga mulai tersengal. Emosinya seolah ingin ia luapkan begitu saja.
Tukang Pos itu hanya menyampaikan dengan wajah datarnya. "Dibaca saja dulu, Pak. Saya permisi dulu." Tukang pos itu lantas pergi dari hadapan Bagas. Bagas pun dengan terburu-buru membuka amplop tersebut.
"S-s-urat Cerai?! Sofia!! Berani nya kamu melakukan ini?!Tidak, tidak akan! Aku tidak akan membiarkan kita bercerai, bagaimana pun aku melakukan perselingkuhan ini demi rumah tangga kita, agar kita memiliki anak! Kamu jahat, sofia!!!"
"Mbak Heny, kamu masih memikirkan sofia ya?" tanya Bagas yang mencolek dagu ibu mertua nya yang ia panggil dengan sebutan Mbak itu.
"Ya, aku juga memikirkan sosok papa mertuamu, gas. Aku yakin dia pasti akan membenciku," keluhnya dengan menghela nafasnya.
"Biarlah soal papa, Mbak. Lagian 'kan masih ada aku, aku yang akan menemani Mbak sampai bayi kita lahir," ujarnya lagi."Tapi-aku mau setelah bayi ini lahir nanti, ia tetap anak kita berdua, bukan anak kamu dan sofia." Jawab Henny sembari mengunyah makanan di mulutnya, mendengar ucapan Heni ekspresi Bagas seolah berubah tak suka. Tapi, ia tidak menanggapi ucapan ucapan Henny ibu mertuanya.
"Gas, baju-bajuku sudah di bakar habis, aku bahkan tidak sempat menyelamatkan baju-baju yang pernah aku beli bersamamu dulu," keluh henny dengan berdecak kesal.
"Sabarlah, nanti kita beli lagi Mbak. Beli yang bagus-bagus. Kita 'kan punya mobil, jadi ga khawatir akan gunjingan tetangga mereka ga akan mengenali kita," ujar Bagas. Henny n pun tersenyum." Ya, mudah-mudahan hubungan kita ini bisa berjalan dengan mulus ya? Saya benar-benar senang bisa punya menantu sekaligus pacar sebaik kamu." Bagas terdiam. Otaknya masih memikirkan hubungan terlarangnya dengan wanita yang harusnya jadi Ibu mertuanya di depan matanya itu.
Di lain sisi, sofia masih mematung. Ia duduk menepi di ruang tamunya, duduk sendirian di sana. Mela sahabatnya sudah pulang sedari tadi. Ini sudah hampir jam 12 malam. Sofia masih tidak bisa memejamkan matanya. Air matanya masih menetes deras, bukan karena ia tak menerima karena diusirnya Bagas dari dirumahnya. Tapi, ia merasa kecewa. Tak menyangka jika sosok Bagas yang memiliki pengetahuan luas, pandai dan luwes itu kini berubah menjadi iblis yang buta hati.
Namun, tak lama kemudian, sebuah pesan di ponsel nya berhasil menyita perhatian sofia yang sedari tadi masih tak bisa berhenti melihat video ibu kandungnya dengan suaminya yang berboncengan mesra dan berhubungan badan di hotel kemarin.
[ Zahra
Mir, aku dengar Bayu selingkuh dengan Ibu kandungkamu sendiri ya?]
Sofia melotot heran, kenapa sahabatnya bisa mengetahui hal ini, bukannya ia tak sempat bertemu dengan Zahra cukup lama. Beras yang ia beli sekwintal kemarin juga tidak sempat ia kirim ke MZ katering. Sebuah tempat di mana sofia biasa melakukan kesibukan nya setelah ia bekerja sementara di Restoran Cece Amalia.
Jujur saja sofia bekerja di Restoran juga bukan pegawai tetap, ia bekerja di sana karena permintaan sang owner Restoran yang berani membayar nya tinggi untuk sekedar membantu dihari-hari libur atau hari-hari besar yang biasanya malah akan banyak pengunjung.
Jadi ketika ia tidak bekerja di Restoran, ia lebih memilih untuk berada di warung khusus katering milik ia dan sahabat nya bernama Zahrala Kayyara. Seorang perempuan cantik jelita yang sudah lama berteman dengan sofia. Keduanya dipertemukan kala Sofia belajar memasak untuk mengikuti lomba masak di kompleknya.
Sofia pun membalas pesan singkat Zahra di aplikasi hijaunya.
[ Kok kamu tahu? Apa warga ada yang berdesas-desus sampai ke telingamu?]
[Nggak. Tadi sempat Viral, ada yang taruh video mereka berdua di facebook.]
Sofia terdiam sejenak. Memang itu balasan yang setimpal untuk orang yang sudah melanggar aturan dan menjalin hubungan terlarang, tak ada yang perlu disalahkan jika menghujat keduanya. Karena itu sudah jelas-jelas perlakuan hewan. Tak lama karena kelelahan sofia pun terlelap. Ia tak sempat menanyakan kepada Zahra sosok siapa yang menyebarkan hubungan gelap antara Ibu Kandungnya dan suaminya itu.
Keesokan harinya..
Susan teman Bagas kembali bertandang kerumah Sofia. Gadis itu masih terlelap, Pak Raditlah yang menyambut sosok Susan di depan pintunya. Pria paruh baya itu tampak malas sebenarnya untuk menyambut tamu. Hatinya masih sangat sakit dan hancur berkeping-keping karena ulah istrinya bersama menantunya.
"Permisi, Pak. Ini ada surat dari kantor untuk Bagas, ini perintah dari atasan kami katanya Bagas resmi dikeluarkan dari perusahaan kami. Semalam Banyak yang mengetahui hubungan terlarang ia dan Ibu mertuanya." Susan memberikan sebuah amplop coklat berisikan surat pemecatan Bagas secara tidak terhormat kepada Bapak Radit.
"Tapi, Bagas sudah tidak ada di sini. Dia kan sudah diusir semalam, warga banyak yang membakar pakaiannya dan benda-benda istri saya." Jawab Pak Radit malas.
"Oh, apa iya pulang ke rumah barunya ya, Pak?" tanya Susan. Pak Radit menggelengkan kepalanya lesu. "Saya juga nggak tahu dimana rumah barunya, saya belum pernah tahu soal perkembangan aset Bagas, karena selama ini saya sibuk bekerja dan merantau." Jawab Pak Radit lagi, sesaat setelahnya sofia sudah berdiri di depan pintu.
"Susan?""Eh, sofia? Kamu jangan sedih ya? Kamu yang tabah, masih banyak laki-laki yang mau bersanding denganmu, kamu masih cantik, masih muda belum punya anak lagi." Hibur Susan. Sofia mengangguk dengan matanya yang sembab.
"Emang kamu tau rumah baru Mas Bagas?" tanya Sofia lagi. Susan mengangguk. "Tahu kok, di belakang swalayan Daskara. Di sana ada komplek elit namanya komplek Nusa Regency. Rumah Bagas nomor 12. Masa kamu nggak tahu sih? Bagas sudah lama beli rumah itu," ujar Susan yang lantas memberikan amplop ditangannya kepada sofia.
Sofia Menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu. Ya sudah biarlah. Anggap aja aku sekarang bukan lagi istrinya," jawab sofia santai. Meski matanya bengkak bekas menangis semalaman, sofiamasih berusaha tersenyum simpul. Susan pun kembali memeluknya.
"Sabar ya. Bumi tidak selamanya malam, ada kalanya siang, kamu harus yakin nanti akan ada orang lain yang lebih baik dan bisa menggantikan posisi bagas di hati kamu, sementara ini kamu fokus untuk menjaga diri kamu dulu, setidaknya memulihkan perasaan sakit kamu.. kamu harus kuat!" ujar Susan. Sofia tersenyum. "Makasih ya? Aku akan berusaha untuk melupakan semuanya dengan seiringnya waktu yang berjalan kok."
Susan pun tersenyum, lantas ia juga pamit untuk kembali ke kantornya. Surat pemecatan suaminya di tangan sofia membuat sofia penasaran akan rumah baru suaminya. Ia pun meminjam sepeda matic milik bapaknya untuk mengantar surat itu ke tempat Bagas.
Ia menyusuri jalanan yang cukup padat karena aktivitas
masyarakat yang berlalu-lalang di pagi hari. Setibanya di tempat yang diberitahukan Susan tadi, sofia mencari rumah yang diucapkan Susan. Rumah nomor 12. Kala ia tiba di depan rumah itu, ia melihat Ibunya yang mengecup kening suaminya dengan mesra kala pria itu bersiap untuk berangkat bekerja.
"Ibu.. " lirih Mira
Bagas yang menyadari kehadiran seseorang di depan gerbangnya segera menoleh ke arah sofia. "Sofia? Kamu?" tanyanya yang lantasmembukakan pintu untuk istrinya.
Sofia masih membisu,
tapi-lantas ia mencoba untuk berbicara kepada Bagas. "Ya, Mas. Ini aku, ini surat pemecatan dari kantor kamu, Mas. Tadi Susan yang kirim ke rumah," ujarnya yang memberikan amplop surat itu kepada suaminya.
Bagas terbelalak, lantas Henny datang menghampiri anak kandungnya. "Sofia, ini pasti ulah kamu 'kan yang menghasut semua orang agar mereka membenci Aku dan Suamimu?" tegurnya.
"Maaf, Bu. Bukan aku yang meminta mereka untuk membenci mu dan Mas Bagas. Tapi, karena perlakuan kalian sendirilah yang sekarang bahkan viral di media sosial." Jawab Sofia yang lantas meninggalkan Bagas yang masih tidak tahu harus berbicara apa. Wanita itu sudah enggan untuk berbicara banyak dengan keduanya.
"Sofia! Tunggu!" Bagas memanggil nama sofia kala ia sudah siap pergi untuk meninggalkan dirinya, ia sudah siap dengan menarik gas motor maticnya. Sofia hanya menoleh dan tersenyum. "Aku nggak akan ganggu kalian, selamat tinggal, Mas." Ujarnya yang lantas pergi begitu saja dari hadapan Bagas
"Sial! Sial! Sekarang aku sudah benar-benar dipecat! Dasar mantan istri Afran kurang ajar, berani sekali dia merekamku dan membagikan ke media sosial!"
Henny pun terburu-buru mengambil ponselnya. "Gas, ini bukan ulah Mela. Ini Pak RT yang semalam memposting video kita saat terekam di hotel, seperti nya kalau seperti ini terus, kita terancam akan mendapatkan sanksi sosial." Henny n tampak panik.
Bags menghela nafasnya pelan. "Wah, kalau begini sepertinya aku nggak bisa buka usaha apapun, mereka pasti akan mencemoohku!" gerutu Bagas. Kamu sih, Mbak. Terlalu sering ke Salon, ke mana-mana pamer, lihat kita terbongkar 'kan! Reputasiku hancur sekarang!",
"Kok kamu salahkan aku?
Bukannya kamu yang menggodaku kala papa mertuamu pergi merantau?!"
"Tetap saja, ini juga salahmu yang jelas-jelas memberikan lampu hijau di kala aku merindukan sosok sofia! Kamu juga 'kan Mbak, yang bilang kalau aku tidak cocok jadi menantumu?! Kita cocoknya kakak adik begitu ' kan?!"
Bagas dan henny mulai bertengkar, Bagas sebenarnya sudah tahu jika ia akan mau tidak mau kehilangan pekerjaannya. Ia pun segera menelpon sahabatnya bernama Afran di tengah percekcokan keduanya.
"Iya, memang aku! Lagian kamu juga 'kan yang menginginkan momongan dengan wajah seperti Mira istrimu?!"
"SUDAH! CUKUP, AKU
MUAK! AKU MAU MENGHUBUNGI ARFAN SAJA DULU!"
Bagas menjauh dari Henny. Ia lantas mengambil ponselnya dan menelepon sahabat nya itu. Tak beberapa lama ia menunggu, Arfan sudah mengangkat nya.
"Halo, Bagas ada apa?"tanyanya.
"Aku dipecat. Nanti aku akan kerumahmu, aku akan menjenguk bisnis kita berdua,"
"Maafkan aku gas, bisnis kita tidak bisa berlanjut sementara ini, karena modalnya terpakai," jawaban Afran membuat Bagas panik seketika.
"Apa?!! Terpakai?! Lalu bagaimana kita bisa membeli mobil-mobil bekas dan memolesnya lagi, Fan?! Astaga, di saat-saat sulit ku kenapa modalnya juga harus terpakai?!" tanyanya dengan kesal.Afran menghela nafasnya pelan. "Maafkan aku Bagas, tapi secepatnya akan aku ganti, karena kemarin ku pakai untuk anak sambungku, aku menikah lagi dengan janda anak dua," keluhnya dengan penuh penyesalan.
"Ya, tapi kapan kamu akan menggantinya? Uang tabunganku juga sedikit, aku juga dipecat paksa oleh perusahaan dimana aku bekerja,"
"Bulan depan aku usahakan, aku sudah mengganti modalnya. Maafkan aku gad, kamu kenapa dipecat?" tanya Afran dengan heran. Karena sepengetahuan Afran,Bayu sangat baik selama ini dalam mengelola perusahaan nya.
"Aku ketahuan selingkuh," jawab Bagas. Afran terkejut." Selingkuh? Dengan siapa? Dengan tunangan Direktur perusahaan mu?" tanya Afran heran.
"Bukan, tapi dengan ibu mertuaku. Mbak Heny, kamu ingat saat kuliah dulu aku sering dibantu olehnya, di bantu membayar uang kost kala ayahku telat mengirim uang, ingat 'kan kamu?"
"Tunggu. Iya! Astaga, tapi Bagas, kalau kamu memang menyukai sosok Mbak heny,kenapa kamu harus menikahi putrinya?" tanya Afran lagi.
"Aku selingkuh dengan heny bukan karena aku cinta, aku hanya ingin seorang anak yang bisa hadir di dalam pernikahan ku dan sofia, itu saja, wajah sofia dan heny itu sama," jawab Bagas dengan nada lirih, ia juga duduk menjauh dari Henny yang masih murung.
"Kamu gila, gas! Nggak seharusnya kamu melakukan itu. Aku dan kamu memang sama bobroknya, kita sama-sama selingkuh dan tidak bisa menghargai pernikahan kita, tapi.. perbuatanmu jelas lebih gila.Lebih tidak masuk akal! Aku jijik denganmu!" telepon pun terputus. Bagas mulai kesal dan berteriak.
"SIAAAAL!!! INI GARA-GARA KAMU MBAK Heny! KAMU YANG SALAH!" bentaknya.
"Kok aku? Kamu yang gegabah, gas! Kamu yang memaksakan aku untuk melayanimu ketika sofia putriku berada di rumah, kamu yang salah !" bentak Heny dengan kesal.
"Aku, kamu bilang?
Hahahahah, kamu lupa ya? Siapa yang selama ini merindukan sentuhan Pak Radit? Siapa selama ini yang mengizinkan aku untuk menyentuh tubuh keriputmu?!" Bayu mulai merutuki Henny dengan kata-kata yang membuat Henny sakit hati.
"Keriput katamu?!" bentak Henny.
"Ya, kamu 'kan sudah nenek-nenek. Kalau aku tidak punya pekerjaan seperti ini, apa kamu bisa membantuku?! Kamu hanya perempuan malas, perempuan gengsian! Kamu tidak seperti putrimu, yang pekerja keras dan dia tidak lemah!" ungkap Bagas dengan amarahnya yang berkobar-kobar."Sekarang kamu sudah mulai membandingkan aku dengan sofia? Anak pembawa sial dalam
hidupku itu?!" Henny mulai memanas. Amarahnya memuncak. Bagas pun sama, keduanya kini beradu mulut dengan sengit.Hinga tiba-tiba seorang tukang pos memotong pembicaraan sengit keduanya.
"Permisi, Bapak Bagas Wijaya ?" tanya Tukang Pos itu dengan membawa sebuah amplop besar di tangan nya. Bagas pun mereda sejenak. Sedangkan Henny ia kini dengan kesalnya masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Bagas.
Hatinya benar-benar hancur, sosok Bagas yang dikenal hangat dan benar-benar membuatnya luluh dan jatuh cinta di masa tuanya kini berubah total kala pria itu kehilangan segala macam bentuk penghasil uangnya.Wanita berusia 47 tahun itu menangis di dalam kamarnya.
"Ya, apalagi ini? Surat apa lagi?" tanyanya yang menyambut kedatangan tukang pos tersebut. Nafas bagas juga mulai tersengal. Emosinya seolah ingin ia luapkan begitu saja.
Tukang Pos itu hanya menyampaikan dengan wajah datarnya. "Dibaca saja dulu, Pak. Saya permisi dulu." Tukang pos itu lantas pergi dari hadapan Bagas. Bagas pun dengan terburu-buru membuka amplop tersebut.
"S-s-urat Cerai?! Sofia!! Berani nya kamu melakukan ini?!Tidak, tidak akan! Aku tidak akan membiarkan kita bercerai, bagaimana pun aku melakukan perselingkuhan ini demi rumah tangga kita, agar kita memiliki anak! Kamu jahat, sofia!!!"