Aku adalah kiana anak yang tidak di Harapkan oleh kedua orang tuaku hubungan haram yang melahirkan aku ke dunia perih sekali rasanya hati ini setalah mengetahui dari mulut papah dan mamah, aku ingin menanyakan perihal itu semoga saja itu hanya angin lalu dan tidak kenyataan. Oh iya kenalin aku Kiana Anjani Saputri anak pertama dari hubungan haram kedua orang tuaku lalu menikah karena di anggap membawa berita buruk yang tidak mengenakan apalagi omah dan opah adalah orang komisaris karena terpaksa kedua orang tuaku menikah lalu meninggalkan karir mereka yang sangat mereka sayangi itu di bandingkan aku anaknya, Devandro Bagaskara atau pak Devan adalah papah yang sangat jahat dan kejam kepada ku begitu juga dengan mamah ku yang terikut-ikut membenci anak yang bersalah itu dialah Tania Ameera putrianj dan seorang anak yang sangat cantik, yang selalu di manjakan di beri fasilitas mewah yang tak lain dialah Kiara Ameera Anjani putriani aku tidak pernah meminta ini pada rabbku dia memberi ini semua karena aku mampu.
Aku menghampiri papah dan mamah yang sibuk dengan gadgetnya itu, ku tanyakan langsung kenapa papah dan mamah tidak adil kepadaku. Penjelasan itu membuat aku ingin tenang.
"Pah, mah aku boleh ngomong sebentar tidak?," Tanya ku penuh harap karena selalu ada aja papah dan mamah yang mengabaikan ku.
"Hm," deheman mamah yang ku dengar, namun ku lanjutkan untuk membicarakan itu pada mamah.
"Mah kian tau, kian bukan anak yang mamah dan papah harapkan, kenapa papah dan mamah tidak adil dengan ku!" ucapku tersedu.
kulihat raut wajah mamah yang tidak bersahabat, air mata kini tak tertahan aku yang berbicara padahal mamah dan papah lebih fokus pada gadgetnya itu.
"Mah," panggilku lagi.
Suara lantang itu nyaris membuat hati ini sakit ku tahan air mata itu agar tidak tumpah di depan mamah dan papah yang lebih fokus memegang gadgetnya di Bandingkan aku.
"Mah salah nara apa? kenapa di saat kian berbicara sama mamah dan papah selalu ada aja kian yang di kacangi! beda hal nya dengan dek Kiara, mamah dan papah pasti memilih mendengarkan ocehan Kiara yang tidak penting itu. padahal aku dan kia anak kandung mamah, salah kian apa mah?," ucap Kiana.
"Kamu mau tau hah! Kenapa kami tidak suka kamu lahir ke dunia ini," ucap papah berbicara.
"Kenapa pah! Kian butuh alasan supaya kian tau kenapa mamah dan papah tidak peduli pada kian, supaya kian sadar mah! Jika kehadiran kian tidak di butuhkan di sini," ucap Kiana.
"Oke! Biarin mah biar aku kasih tahu sama anak yang tidak di untung ini. Untung saja kita tidak membunuh dia!" Ucapan pak Devan pada putri sulung nya itu membuat hati kiana semakin sakit dengan perkataan papanya itu.
"Dulu pas mamah dan papah itu masih pacaran, kehadiran kamu tidak di harapkan di saat papah dan mamah ingin mengejar karir, kamu hadir tanpa kami inginkan. Kamu tau kamu anak haram yang tidak kami harapkan! Seandainya kamu tidak lahir mamah mu sudah jadi model dan papah ingin Melanjutkan kuliah S3, itu terhalang oleh kamu saat itu," jelas pak Devan.
"Jadi kian lahir sebelum papah dan mamah menikah?" Tanya Kiana.
"Iyah."
"Jika itu benar pah. kenapa papah dan mamah tidak bunuh kian saja. Kian gak ingin hidup jika kehadiran kian tidak di harapkan," ucapnya terpotong."
"Dasar anak gak tau di untung, kami udah rela mengorbankan kamu dan kamu mau ingin mati!," bentak Bu Tania.
"Ngapain kian hidup mah, apa pernah mamah kasih ASI pada Kiana, apa pernah mamah rawat Kiana, tidak kan mah? Yang rawat Kiana hanya Oma dan bi murni kan! Buat apa kian hidup jika tidak di inginkan," ucap Kiana karena tidak ada sahutan sama sekali Kiana pergi dari hadapan mamah dan Papahnya yang hanya mengacuhkan nya.
Kiana akhirnya memutuskan berlari menaiki anak tangga, air mata kini menumpah seluruh jiwa nya.
"Huhuhuhu mamah jahat, papah jahat sama kian. Kenapa gak kalian bunuh saja kian pah, mah hiks hiks hiks," hisakan tangis Kiana dan air mata yang kini mengeluarkan unek-unek rasa sakit yang ia tahan selama ini.
Kiana akhirnya memutuskan untuk tidur dengan luka-luka yang ia simpan lama di hatinya itu.
****
Pagi harinya Kiana terbangun dan memutuskan untuk membantu Bi murni di dapur. Itu lah kegiatan kian setiap harinya.
"Pah kia mau berangkat sekolah dulu," pamit adikku.
"Hati-hati yah sayang." Ucap kedua orang tua yang super sibuk itu.
"Iyah pah. Cup cup cup," ciumnya pada papah dan bersalaman lalu pamit ke kampus, dan sekarang Kiara sudah memasuki semester 6 sedangkan aku memasuki semester 8.
Aku dan Kiara berbeda, Kehidupan kiara lebih baik daripada Kiana yang sedari kecil sudah mandiri. Beda halnya dengan kiara yang di fasilitasi mewah bahkan kasih sayang papah dan mamah nya hanya di dapatkan oleh Kiara tidak dengan Kiana.
Lain halnya Kiana yang jerih payahnya membeli sepeda motor sudah merupakan cukup baginya berangkat ke kampus dengan menaiki sepeda motornya itu.
"Pah,mah aku berangkat dulu," ucap Kiana tangan yang ia ulurkan kini ia tarik karena papah dan mamah nya tidak pernah memperdulikan nya, hatinya sakit perlahan ia tahan dan berlalu lari dari hadapan papah dan mamah nya menuju dapur, sudah ada bi murni yang mau menjabat tangannya dengan takjub Kiana mencium punggung tangan bi murni.
☘️☘️
"Bi Kian pamit yah," pamit Kiana.
"Iyah non, non Kian hati-hati yah," ucap bi murni dan di anguki oleh Kiana.
Kiana menaiki sepeda motornya dengan melaju cepat tak di sengaja Kiana jatuh dari sepeda motornya.
"Siapa sih yang menghalangi jalanku? Turun kau! Hei aku tau kamu orang kaya tapi ini jalanan bukan jalanan nenek moyang kau," ucap Kiana geram.
Ceklek.
Kiana menatap wajah tampan yang sengaja menghalangi jalannya matanya tak bisa berkedip.
"Hei ada apa nona ini memang bukan jalanan saya," ucap cowok tampan yang kini memikat hati kiana.
"Kalo memang ini bukan jalanan kau tuan aku mohon cepat minggir karena aku gak butuh meladeni cowok seperti kau ini," ucap Kiana.
Awalnya aku kagum melihat ketampanan cowok yang di temui nya barusan namun hati nya tidak tertarik dengan cowok tampan nan sombong itu. Perlahan punggung Kiana menjauh dari hadapan cowok Sombong itu.
Helaan napas Kiana menuju kelasnya dengan langkah gontai.
"Aku sebal banget hari ini. udah bimbingan sama pak Fadli yang super nyebelin itu ," keluh Kiana yang kini masuk ke ruangan dosen yang menurut Kinara dosen nyebelin membuat mood Kiana hilang setiap harinya.
"Tok.... Tok..... Tok...."
"Assalamualaikum, permisi pak," ucapnya penuh sopan.
"Masuk!" Pinta dosennya itu.
Kiana bimbingan dengan dosennya yang sudah beberapa bulan ini dia menunggu sidang yusium yang sebentar lagi. ia akan wisuda dan hanya mempersiapkan diri untuk wisuda nya nanti.
Setelah itu Kiana akhirnya memutuskan pulang menuju kafe tempatnya bekerja.
Meskipun Kiana anak komisaris terkenal di kotanya. Tapi yang membiayai kuliahnya hasil jerih payahnya Kiana sendiri.
"Pagi pak." Sapa Kiana dan pagi-pagi sekali Kiana sudah sibuk melayani pembeli kadang kala dia mengantarkan pesanan.
"Mbak pesan Latte frappe sama stake ayam yah mbak," pesan pembeli itu.
Dengan sigap Kiara membuat pesanan pembeli setelah pesanan itu jadi akhirnya Kiana mengantarkan nya, setiap hari inilah pekerjaan Kiana.
"Lin, jalan yok nanti malam!," ajak Kiara.
"Kemana kian? kalo jalan mah gas kan atuh, apalagi," ucapnya terpotong.
"Iya.. iya aku dah tau maksud kamu Lin, pasti minta traktiran kan! Aman tuh aku yang traktir," ucap Kiana yang membuat Liana tersenyum bahagia.
Tepat jam 19 : 00 malam mereka akhirnya pulang, namun tidak langsung ke rumah, Liana dan kiana pergi ke sebuah mall untuk belanja sesuai janji Kiana yang mentraktir sahabat kerjanya itu.
"Makasih yah kian." Ucap liana.
"Sama-sama Lian."
"Gimana skripsi kamu? Aman!" Tanya Liana.
"Aman, gak seperti kamu yang duluan kamu kan anak pintar," ucap Kiana, liana memang anak pintar 3 ½ tahun lamanya Liana mentuntashon kuliahnya, Liana dan Kiana satu kampus dulunya namun Liana yang pintar dapat menyelesaikan S1 selama 3½ tahun.
Kini akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah sudah ada papah dan mamah dan Kiara di ruang tamu yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing
"Assalamualaikum," sapanya tapi tidak ada sahutan dari kedua orang tuanya.
"Huhft," helaan nafas dari Kiana yang memutuskan untuk ke kamarnya dari pada mengeluh yang ujungnya tidak akan ada habisnya itu.
"Non kian udah makan malam bibi dari tadi nunggu non," ucap bi murni menghampiri Kiana.
"Bi tidak usah menunggu kian. Kian gak perlu di tunggu, di perhatikan seperti itu yang membuat hati kian sakit bi," ucap Kiana perlahan ia menahan sakit dan memegangi dadanya itu.
"Kian mau bersih-bersih dulu yah bi," pamit Kiana.
****
Malam harinya kiana menatap langit yang kini sudah mulai gelap Kiana masih betah berkeluh kesah pada malam di bandingkan pada pagi hari. Kiana adalah gadis cantik yang memiliki Aurora yang berbeda pada adik kembarnya itu yang tak lain adalah Kiara gadis manja dan sombong itu.
Kiana terlelap dari tidurnya dan pagi hari sudah mulai memunculkan dirinya kian merasa jenuh dan sesekali mengambil benda pipihnya untuk ia mainkan. Pertama adalah kian berusaha belajar untuk mempersiapkan wisudanya nanti dengan harapan papah dan mamanya mau mengikuti acara wisuda Kiana itu.
Aku adalah Aidah seorang wanita pendiam,baik dan ramah. berkulit putih, dengan rambut panjang dan sedikit gelombang di bawah dan tinggi sekitar 150 cm dan berat badan 48 kg. Sekarang menempuh pendidikan Di Madrasah Aliyah negeri medan, berusia 17 sedang menduduki kelas 3 Akhir di sekolah Aliyah yang berada di kota ku.
Informasi mengagetkan siswa siswa bahwasanya pengumuman hasil seleksi masuk ke perguruan tinggi telah keluar namun di sudut ruangan kelas 12 terlihat Aidah yang termenung kelihatan begitu takut Untuk melihat papan pengumuman yang ada di dekat perpus, semua siswa siswa membondong-bondong untuk melihat pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi kecuali Aidah yang termenung kelihatan nya dia takut akan pengumuman itu jika hasilnya tak memuaskan baginya.
Dini yang merupakan sahabat dekat Aidah merasa kasihan melihat sahabatnya itu namun dia penasaran apakah dia dan Aidah akan masuk seleksi itu, sebelum dia pergi meninggalkan Aidah, dia sempat menenangkan hati sahabat nya kemudian dia bergegas menuju perpustakaan untuk melihat siswa siswi yang lolos seleksi perguruan tinggi. Begitu kagetnya dini ketika melihat namanya tercantum di dalam papa pengumuman itu,
"Alhamdulillah ternyata aku lulus juga yah, gumannya dalam hati."
" Eh aku liat Aidah dulu manatau masuk juga pikirnya."
ketika melihat hasil seleksi dari pendaftaran urut 1 sampai urut 30 tak di sangka kedua sahabat sejoli itu lulus seleksi masuk ke kampus yang sama dan jurusan yang sama, dini bergegas meninggalkan tempat itu menuju ruang kelas yang di mana sahabat nya masih saja termenung di sudut ruangan kelasnya.
Dini menghampiri Aidah sambil memanggil - manggil nama Aidah, tak ada sahutan dari Aidah terlihat sedih tanpa mendengarkan panggilan dari sahabat itu.
"Aidah.... Jangan termenung gitu dong, cantiknya gak kelihatan tau, aku ada kabar bahagia untuk kita, ucap dini kepada Aidah,"
namun tak ada jawaban bahkan kedipan mata di wajah Aidah, dia masih melamun tak menyadari bahwa dini berada di sampingnya, melihat tak ada sahutan akhirnya dini berusaha untuk mengakhiri lamunan sahabat nya itu.
"Aidah......,
dengan memanggil manggil sahabat nya sambil melambaikan tangan nya pada wajah sahabat nya, seketika itu Aidah tersadar,
"eh dini eh... Iya.... Begitu jawabannya.
"Kenapa sih ngelamun aja kerjanya, dari tadi kelihatan murung, gak semangat aja hidup mu Ida, gerutu dini."
"Gimana aku mau semangat Din, padahal aku kepengen bisa lulus seleksi ini dengan jalur beasiswa, kamu juga tau kan aku dari keluarga yang kurang mampu, kalau aku gak lulus seleksi cita cita aku jadi penulis gak bakalan tercapai, padahal aku pengen jadi penulis terkenal bisa banggain kedua orang tua ku bisa ngangkat derajat orang tuaku Din, tapi aku takut pas aku liat pengumuman itu tapi hasilnya nihil percuma juga kan,"
Mendengar curhatan sang sahabat nya dia ikut sedih.
"Jangan sedih dong da, aku juga ikut sedih nih," sambil merangkul sahabat nya itu.
Eh seketika ia ingat bahwa dia mau nyampain informasi dari pengumuman yang dia lihat di papan pengumuman.
"Eh aku lupa ida, dan ternyata kita lulus loh di universitas Gunadarma, hal yang kita tunggu tunggu dan kamu tauu nggak kita lolos di jurusan sastra Indonesia loh,"
"Apa? Kita lolos Din, aku gak mimpikan Din," sambil mencubit pipi nya, ah sakit..... Gerutunya bahwa yang di dengar nya itu bukan mimpi tapi kenyataannya, sangkin senang nya Aidah sampai bersujud di hadapan teman temannya itu, " terimakasih ya Allah sudah mengabulkan doa hamba, bisiknya dalam hati.
Sahabat sejoli itu pun saling berpelukan satu sama lain dan merasakan nikmat yang Allah berikan kepada mereka berdua.
Ting.... Ting.... Bunyi pel pun berbunyi bertanda bahwa ujian akhir telah di laksanakan oleh siswa-siswi selama kurang lebih satu Minggu, kesedihan yang mendalam yang akan di rasakan oleh kelas 12 Ips bahwa sebentar lagi mereka akan di pisahkan oleh masa depan untuk mencari jati diri sebenarnya.
Sebentar lagi kita akan berpisah teman teman sambil menyalam teman temannya dan saling berpelukan satu sama lain.
Pas giliran Aidah dan dini, mereka saling berpelukan dan nangis di pelukan sambil mengatakan kita akan berpisah bestie, sampai jumpa di kampus Gunadarma yah.
"kita tetap barang lagi kan, sahut dini."
"Iyah Din, kita tetap sama kok, nanti pas dah masuk kampus kita duduk barengan yah, ucap Aidah.
"Siip, ucap dini".
"Tapi aku di tawarin tinggal di rumah sepupu ku Din, ibuku meminta ku untuk tinggal di rumah. Keluarga ku yang di sana biar dekat kalo ke kampus, aku mau menolaknya biar kita sama sama ngekos bareng, tapi orang tuaku belum bisa sepenuhnya lepasin aku gitu aja, harus di pantau, karena kedua orang tua takut kalo aku gak bisa menjaga diri, ucap dini dengan rasa sedih."
"Iyah, gimana lagi da mungkin itu yang terbaik untuk kita, apa yang di rencanakan oituamu itu yang lebih buat kamu Din, terima aja aku gak bakalan ninggalin kamu kok, jawab dini,"
Mendengar hal itu mereka pun bergegas menuju asrama untuk membereskan baju dan peralatan nya untuk di bawa pulang sambil menunggu izajah keluar.
"Din kita pulang bareng yah,"
"Iyah sahabat ku tercinta, ucap dini"
Semua sudah di bereskan akhirnya kedua sahabat sejoli itu memutuskan untuk berpamitan dulu kepada ibu asrama dengan menyalin tangan dan mengatakan " Terimakasih yah Bu sudah membimbing kami selama tinggal di asrama ini, sebuah pelajaran berharga bagi hidup kami Bu, banyak kesenangan yang dapat kami ambil, dari kepahitan, keromantisan, kebahagiaan, belajar yang berhatlrga tidak kami lupakan, sahut dini dan Aidah" dan meninggalkan asrama tercinta dan sekolah yang selama ini tempat mereka menuntut ilmu ilmu ag Ama dan ilmu lainnya.
Kedua nya turun kebawah dengan menaiki tangga bergegas menuju halte bus yang tidak jauh dari sekolah nya itu, dengan sedikit kelas dan air mata yang menetes dari tadi sampai sekarang dan keringat yang bercucuran kedua sahabat itu memilih untuk beristirahat sejenak sebelum bis datang.
"Aku lapar nih Din, kita cari tempat makan yok," mengajak Andini untuk makan siang akhirnya Andini menerima tawaran tersebut dan mereka mencari makanan yang enak di makan di siang hari dengan cuaca panas.
"Enaknya sekarang makanan nya soto pedas ditambah dengan minuman dingin pasti segar deh di tenggorokan, apalagi kita seharian penuh habis ujian langsung perpisahan pasti kita capek dan lelah di tambah lagi sampai nangis nangis tadi, ucap Andini."
"Yah udah, ayoklah aku dah lapar nih Din, tanpa memikirkan enak atau tidaknya udah sudah kelaparan gak sempet milih milih makanan yang enak meskipun makanan soto bukan makanan kesukaan Ida tapi karena itu selera Sahabatnya, dia ngikut-ngikut aja.
Akhirnya kedua sahabat itu siap makan dan bergegas menuju halte bus, kebetulan bus nya sudah datang mereka menaiki tangga dan memasuki bus itu dan bus pun melaju dengan kecepatan rata rata.
Aku adalah Aidah seorang wanita pendiam,baik dan ramah. berkulit putih, dengan rambut panjang dan sedikit gelombang di bawah dan tinggi sekitar 150 cm dan berat badan 48 kg. Sekarang menempuh pendidikan Di Madrasah Aliyah negeri medan, berusia 17 sedang menduduki kelas 3 Akhir di sekolah Aliyah yang berada di kota ku.
Informasi mengagetkan siswa siswa bahwasanya pengumuman hasil seleksi masuk ke perguruan tinggi telah keluar namun di sudut ruangan kelas 12 terlihat Aidah yang termenung kelihatan begitu takut Untuk melihat papan pengumuman yang ada di dekat perpus, semua siswa siswa membondong-bondong untuk melihat pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi kecuali Aidah yang termenung kelihatan nya dia takut akan pengumuman itu jika hasilnya tak memuaskan baginya.
Dini yang merupakan sahabat dekat Aidah merasa kasihan melihat sahabatnya itu namun dia penasaran apakah dia dan Aidah akan masuk seleksi itu, sebelum dia pergi meninggalkan Aidah, dia sempat menenangkan hati sahabat nya kemudian dia bergegas menuju perpustakaan untuk melihat siswa siswi yang lolos seleksi perguruan tinggi. Begitu kagetnya dini ketika melihat namanya tercantum di dalam papa pengumuman itu,
"Alhamdulillah ternyata aku lulus juga yah, gumannya dalam hati."
" Eh aku liat Aidah dulu manatau masuk juga pikirnya."
ketika melihat hasil seleksi dari pendaftaran urut 1 sampai urut 30 tak di sangka kedua sahabat sejoli itu lulus seleksi masuk ke kampus yang sama dan jurusan yang sama, dini bergegas meninggalkan tempat itu menuju ruang kelas yang di mana sahabat nya masih saja termenung di sudut ruangan kelasnya.
Dini menghampiri Aidah sambil memanggil - manggil nama Aidah, tak ada sahutan dari Aidah terlihat sedih tanpa mendengarkan panggilan dari sahabat itu.
"Aidah.... Jangan termenung gitu dong, cantiknya gak kelihatan tau, aku ada kabar bahagia untuk kita, ucap dini kepada Aidah,"
namun tak ada jawaban bahkan kedipan mata di wajah Aidah, dia masih melamun tak menyadari bahwa dini berada di sampingnya, melihat tak ada sahutan akhirnya dini berusaha untuk mengakhiri lamunan sahabat nya itu.
"Aidah......,
dengan memanggil manggil sahabat nya sambil melambaikan tangan nya pada wajah sahabat nya, seketika itu Aidah tersadar,
"eh dini eh... Iya.... Begitu jawabannya.
"Kenapa sih ngelamun aja kerjanya, dari tadi kelihatan murung, gak semangat aja hidup mu Ida, gerutu dini."
"Gimana aku mau semangat Din, padahal aku kepengen bisa lulus seleksi ini dengan jalur beasiswa, kamu juga tau kan aku dari keluarga yang kurang mampu, kalau aku gak lulus seleksi cita cita aku jadi penulis gak bakalan tercapai, padahal aku pengen jadi penulis terkenal bisa banggain kedua orang tua ku bisa ngangkat derajat orang tuaku Din, tapi aku takut pas aku liat pengumuman itu tapi hasilnya nihil percuma juga kan,"
Mendengar curhatan sang sahabat nya dia ikut sedih.
"Jangan sedih dong da, aku juga ikut sedih nih," sambil merangkul sahabat nya itu.
Eh seketika ia ingat bahwa dia mau nyampain informasi dari pengumuman yang dia lihat di papan pengumuman.
"Eh aku lupa ida, dan ternyata kita lulus loh di universitas Gunadarma, hal yang kita tunggu tunggu dan kamu tauu nggak kita lolos di jurusan sastra Indonesia loh,"
"Apa? Kita lolos Din, aku gak mimpikan Din," sambil mencubit pipi nya, ah sakit..... Gerutunya bahwa yang di dengar nya itu bukan mimpi tapi kenyataannya, sangkin senang nya Aidah sampai bersujud di hadapan teman temannya itu, " terimakasih ya Allah sudah mengabulkan doa hamba, bisiknya dalam hati.
Sahabat sejoli itu pun saling berpelukan satu sama lain dan merasakan nikmat yang Allah berikan kepada mereka berdua.
Ting.... Ting.... Bunyi pel pun berbunyi bertanda bahwa ujian akhir telah di laksanakan oleh siswa-siswi selama kurang lebih satu Minggu, kesedihan yang mendalam yang akan di rasakan oleh kelas 12 Ips bahwa sebentar lagi mereka akan di pisahkan oleh masa depan untuk mencari jati diri sebenarnya.
Sebentar lagi kita akan berpisah teman teman sambil menyalam teman temannya dan saling berpelukan satu sama lain.
Pas giliran Aidah dan dini, mereka saling berpelukan dan nangis di pelukan sambil mengatakan kita akan berpisah bestie, sampai jumpa di kampus Gunadarma yah.
"kita tetap barang lagi kan, sahut dini."
"Iyah Din, kita tetap sama kok, nanti pas dah masuk kampus kita duduk barengan yah, ucap Aidah.
"Siip, ucap dini".
"Tapi aku di tawarin tinggal di rumah sepupu ku Din, ibuku meminta ku untuk tinggal di rumah. Keluarga ku yang di sana biar dekat kalo ke kampus, aku mau menolaknya biar kita sama sama ngekos bareng, tapi orang tuaku belum bisa sepenuhnya lepasin aku gitu aja, harus di pantau, karena kedua orang tua takut kalo aku gak bisa menjaga diri, ucap dini dengan rasa sedih."
"Iyah, gimana lagi da mungkin itu yang terbaik untuk kita, apa yang di rencanakan oituamu itu yang lebih buat kamu Din, terima aja aku gak bakalan ninggalin kamu kok, jawab dini,"
Mendengar hal itu mereka pun bergegas menuju asrama untuk membereskan baju dan peralatan nya untuk di bawa pulang sambil menunggu izajah keluar.
"Din kita pulang bareng yah,"
"Iyah sahabat ku tercinta, ucap dini"
Semua sudah di bereskan akhirnya kedua sahabat sejoli itu memutuskan untuk berpamitan dulu kepada ibu asrama dengan menyalin tangan dan mengatakan " Terimakasih yah Bu sudah membimbing kami selama tinggal di asrama ini, sebuah pelajaran berharga bagi hidup kami Bu, banyak kesenangan yang dapat kami ambil, dari kepahitan, keromantisan, kebahagiaan, belajar yang berhatlrga tidak kami lupakan, sahut dini dan Aidah" dan meninggalkan asrama tercinta dan sekolah yang selama ini tempat mereka menuntut ilmu ilmu ag Ama dan ilmu lainnya.
Kedua nya turun kebawah dengan menaiki tangga bergegas menuju halte bus yang tidak jauh dari sekolah nya itu, dengan sedikit kelas dan air mata yang menetes dari tadi sampai sekarang dan keringat yang bercucuran kedua sahabat itu memilih untuk beristirahat sejenak sebelum bis datang.
"Aku lapar nih Din, kita cari tempat makan yok," mengajak Andini untuk makan siang akhirnya Andini menerima tawaran tersebut dan mereka mencari makanan yang enak di makan di siang hari dengan cuaca panas.
"Enaknya sekarang makanan nya soto pedas ditambah dengan minuman dingin pasti segar deh di tenggorokan, apalagi kita seharian penuh habis ujian langsung perpisahan pasti kita capek dan lelah di tambah lagi sampai nangis nangis tadi, ucap Andini."
"Yah udah, ayoklah aku dah lapar nih Din, tanpa memikirkan enak atau tidaknya udah sudah kelaparan gak sempet milih milih makanan yang enak meskipun makanan soto bukan makanan kesukaan Ida tapi karena itu selera Sahabatnya, dia ngikut-ngikut aja.
Akhirnya kedua sahabat itu siap makan dan bergegas menuju halte bus, kebetulan bus nya sudah datang mereka menaiki tangga dan memasuki bus itu dan bus pun melaju dengan kecepatan rata rata.