Bab 1

Hari ini Mas Fandi memberitahu kalau ia pulang terlambat, karena mau melayat ke rumah temannya. Seperti itulah Mas Fandi, setiap terlambat selalu memberitahu, jadi aku tidak cemas menunggu kabarnya.

Aku seorang ibu dari dua anak, yang sudah beranjak remaja. Aku juga bekerja di sebuah kantor kecamatan, dan Mas Fandi merupakan pegawai di sebuah kantor pemerintah. Sesibuk apapun aku di kantor, aku selalu mengutamakan keluarga.

***

"Anis, temenin aku melayat ya?" kata Sandra teman sekantorku, pagi ini.

"Siapa yang meninggal?" tanyaku.

"Teman SMA ku?"

"Sekarang melayatnya?" tanyaku lagi.

"Enggak, lebaran nanti! Ya sekarang!" kata Sandra.

Aku tertawa. Setelah izin dengan teman, kami langsung berangkat. Sepanjang perjalanan Sandra bercerita tentang temannya. Anton, temannya Sandra meninggal karena penyakit gagal ginjal. Sudah setahun ini rutin cuci darah. Memiliki dua anak laki-laki. Sekitar usia 15 dan 10 tahun. Istrinya memiliki toko sembako. Anton sebagai PNS di kantor pemerintahan.

Sesampai di rumah duka sudah banyak pelayat yang datang. Karangan bunga juga banyak berjejer. Tanpa sengaja, aku melihat mobil Mas Fandi. Aku berusaha mengedarkan pandangan mencari keberadaan mas Fandi. Tak terlihat dimana mas Fandi.

Sandra mengajak aku menemui istri Anton. Aku kaget, ternyata istri Anton itu bernama Leni yang pernah ketemu aku di rumah sakit. Leni juga tampak terkejut melihatku. Setelah mengucapkan bela sungkawa, kami keluar mencari tempat duduk.

Sandra bertemu dengan beberapa temannya. Aku ikut bergabung dengan mereka.

"Istrinya Anton pasti senang ya?" kata Ine teman Sandra.

"Kok bisa?" tanya Sandra.

"Anton sakit-sakitan malah istrinya selingkuh dengan mantan," sambung Citra teman Sandra yang lain. Aku hanya menjadi pendengar saja.

"Selingkuhannya datang nggak ya?" tanya Ine.

"Datang, aku tadi lihat kok. Mana ya?" kata Citra sambil mengedarkan pandangan.

"Itu, pakai kemeja putih, duduk dekat pintu masuk," kata Citra lagi. Kami semua menatap ke pintu.

Deg! Itu kan Mas Fandi. Sandra juga kaget, langsung menatap aku.

"Kenapa? Kenal ya?" kata Ine bertanya padaku.

"Kayaknya tetanggaku itu," jawabku berbohong sambil menata emosi. Aku menatap Sandra mengkode untuk ikut bersandiwara.

"Namanya Fandi, dia mantannya Leni. Leni ninggalin Fandi, karena Anton lebih kaya. Padahal sekarang Fandi sudah memiliki istri dan anak," kata Ine menjelaskan pada kami.

Aku sudah tidak kuat mendengar cerita Ine. Hatiku terasa nyeri, mataku mulai berembun. Sandra menatapku iba.

"Eh kami pulang dulu ya? Nggak enak kalau kelamaan ninggalin kantor," potong Sandra.

Kami berjalan menuju mobil Sandra.

Aku lihat mbak Sisi dan Ibu datang melayat, mereka kaget melihatku.

"Lho kamu kok kesini, kenal ya?" tanya ibu.

"Nemenin Sandra Bu," jawabku.

"Oh."

"Tuh Mas Fandi juga ada di sana," kataku sambil menunjuk ke arah Mas Fandi duduk. Secara bersamaan ternyata Mas Fandi melihatku dengan ekspresi yang terkejut. Mbak Sisi dan ibu diam, sepertinya ada yang mereka sembunyikan.

"Ayo San," aku menarik tangan Sandra.

Di dalam mobil Sandra, aku menangis melepaskan sesak dan emosi yang dari tadi aku tahan.

"Menangislah biar kamu lega," kata Sandra.

"Maaf ya Nis, kalau aku tidak ngajak kamu tadi, kamu tidak akan tahu ini," kata Sandra lagi.

"Enggak apa-apa kok, dengan begini akhirnya ketahuan juga," jawabku

"Jangan bertindak gegabah, ya? Selidiki dulu semuanya. Aku akan selalu ada untukmu kapanpun kamu butuh bantuanku." kata Sandra.

Aku mengangguk, sambil berusaha menghapus air mata. Jangan sampai orang di kantor tahu kalau aku habis menangis.

***

"Pa, kemarin melayat dimana? Di tempat lain atau di tempat Leni?" tanyaku pada Mas Fandi ketika pulang dari kantor.

"E..e kemarin gak jadi melayat. Banyak yang harus di selesaikan di kantor. Makanya pagi ini baru melayat," jawab Mas Fandi agak gugup.

"Kok nggak bilang sama Mama? Biasanya Papa tu apa-apa cerita sama Mama," tanyaku lagi.

"Maaf Papa lupa. Jangan marah ya sayang," kata Mas Fandi sambil mencium keningku.

Inilah yang membuat aku bucin. Ia pandai sekali membuat hati berbunga-bunga.

Aku mengangguk.

Drtt....drtt

Gawai Mas Fandi bergetar, sekilas kulihat nama Dani yang tertera di layar. Dani siapa ya? Perasaan Mas Fandi tidak punya teman yang bernama Dani.

"Halo?" Mas Fandi menerima panggilan di telepon

"..............."

"Iya, iya."

"..............."

Mas Fandi mengakhiri panggilan di telepon.

Setelah Magrib, Mas Fandi sudah kelihatan rapi.

"Mau kemana, Pa?" tanyaku.

"Mau takziah, Ma."

"Ke tempat Leni ya? Mama ikut ya?" Kataku sambil bergegas ganti baju.

"Tapi Ma, Papa berangkat sama Mirza dan Candra."

"Ya nggak apa-apa, Mama kan kenal sama mereka. Mereka pasti tidak akan keberatan."

"Nggak jadilah ma. Nggak enak sama mereka, mereka kan nggak bawa istri."

"Lho emang kenapa? Kan tujuannya mau takziah."

"Enggak usahlah, sudah banyak orang juga yang takziah kesana." Mas Fandi menjawab dengan nada agak kesal. Apa yang kamu sembunyikan Mas?

Aku kembali ke kamar. Berganti pakaian lagi, samar-samar aku dengar Mas Fandi menelpon seseorang.

"Maaf ya, aku nggak jadi datang. Soalnya Anis mau ikut."

"................"

"Jangan marah, Sayang, nanti hilang cantiknya."

"..............."

"Iya...."

Sayang?! Mungkinkah Leni yang dipanggil sayang oleh Mas Fandi? Aku pura-pura sibuk dengan gawaiku, ketika Mas Fandi masuk ke kamar.

Malam ini aku terbangun, aku lihat jam, menunjukkan pukul satu dini hari. Aku menoleh ke samping, Mas Fandi tidak ada. Aku keluar kamar untuk mencari Mas Fandi. Samar-samar ku dengar suara di dapur. Dengan langkah pelan aku menuju dapur. Mas Fandi sedang melakukan video call dengan perempuan.

Aku kembali masuk ke kamar dan menangis. Tak lama kemudian Mas Fandi masuk ke kamar. Aku pura-pura tidur. Mas Fandi masih menatap gawainya. Akhirnya Mas Fandi terlelap. Segera aku mengambil hp Mas Fandi pelan-pelan. Aku tahu pasword hpnya. Ternyata belum diganti. Aku cari panggilan terakhir dengan seseorang bernama Dani Setelah kusalin no hpnya, kuletakkan kembali.

***

"San, bantuin aku ya," Kataku pagi ini di kantor.

"Bantuin apa?" kata Sandra, tapi mata masih menatap gawainya.

"Mencari informasi tentang Leni."

"Apa?" Sandra langsung memandangku dengan heran.

Aku menceritakan tentang kejadian tadi malam.

"Oke, serahkan padaku," Kata Sandra

"Makasih ya, San."

Sandra bertindak cepat buktinya baru sehari sudah mendapatkan bukti-bukti berupa foto Mas Fandi dan Leni. Leni memang cantik, pantas kalau Mas Fandi terpikat lagi. Aku mengenal Leni ketika Ibu mertua sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit. Ternyata kamarnya bersebelahan dengan kamar suami Leni yang juga dirawat di rumah sakit.

"Leni, kenalkan ini Anis istrinya Fandi" kata Mbak Sisi ketika aku menunggu Ibu mertua di rumah sakit.

"Leni."

"Anis."

"Saya keluar dulu ya Mbak. Nanti Mas Anton nyariin" kata Leni pamit. Aku dan Mbak Sisi mengangguk.

Mbak Sisi menceritakan kalau Leni sedang menunggui suaminya yang sakit. Anton sudah sering keluar masuk rumah sakit karena penyakit ginjal yang dideritanya.

Setelah itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Perilaku mas Fandi juga masih biasa. Atau aku yang tidak pernah peka, karena terlalu bucin.

Kupandangi foto mereka, terasa nyeri dihati. Mengapa engkau berbagi hati Mas? Apakah kekurangan ku selama ini? Walaupun aku seorang wanita kantoran tapi urusan rumah tangga masih yang utama. Aku selalu menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak.

Aku tidak akan bertindak gegabah, harus menyelidiki dulu supaya tidak jadi bumerang untukku sendiri. Harus menyusun strategi.

Bab 2

Malam ini, Mas Fandi mau takziah lagi. Aku menggunakan strategi yang sama. Awalnya Mas Fandi tidak mau mengajakku.

"Apa salah Pa, kalau Mama ikut Papa takziah. Yang meninggal kan suami temannya Papa, berarti ya temanku juga. Kalau alasannya nggak enak sama Mirza dan Candra, sini Mama telpon mereka. Pasti mereka tidak keberatan."

"Apa Papa merasa malu kalau pergi sama Mama?" tanyaku pada Mas Fandi.

Akhirnya Mas Fandi takziah dengan mengajakku. Sepanjang perjalanan Mas Fandi hanya diam membisu. Sampai disana ternyata sudah ada Mirza dan Candra. Mirza dan Candra merupakan teman akrab Mas Fandi, walaupun mereka tidak satu kantor.

Aku duduk agak jauh dari Leni, dapat kulihat kalau Leni selalu mencuri pandang dengan Mas Fandi. Dan beberapa kali juga kepergok olehku. Leni langsung tersenyum padaku.

"Leni cantik ya, Pa? Masih muda, kaya, wah bakal jadi rebutan deh. Mulai dari bujangan, duda bahkan mungkin laki-laki beristri pasti kepincut dengan Leni. Janda semakin didepan, yang jomblo perawan kalah pamor ha..ha..," kataku memecah kesunyian di perjalanan pulang.

"Kalau menurut Papa gimana?" tanyaku

"Gimana apanya, Ma."

"Kalau Papa masih single pasti juga tertarik. Tapi sayang Papa sudah punya istri. Ya kan, Pa?"

"Mama ngomong apa sih? Nggak baik lho ngomongin orang," kata Mas Fandi dengan gugup.

"Ngomongin Leni, si janda baru yang bakal jadi primadona para lelaki. Terutama lelaki hidung belang."

Mas Fandi terdiam, seolah-olah tidak mendengarkan ucapanku.

***

Sandra mendapatkan telpon dari seseorang. Entah berbicara apa, sepertinya sangat serius.

"Ayo ikut aku," kata Sandra mengajakku pergi.

"Kemana?" tanyaku penasaran.

"Ikut saja!"

Kebetulan sekarang waktu istirahat siang. Aku ikut Sandra pergi untuk makan siang.

Ternyata mobil Sandra menuju ke sebuah restoran yang cukup ternama di kotaku. Sandra memilih tempat yang dipojok, yang tidak terlalu terlihat. Kami memesan makanan.

Restoran cukup ramai karena memang waktunya makan siang. Tak lama kemudian datang seseorang yang sangat aku kenal, teman hidupku dalam ikatan pernikahan. Aku kaget, shock, dadaku terasa bergetar. Benarkah yang aku lihat ini? Mas Fandi datang bersama Leni bergandengan tangan seperti orang yang sedang jatuh cinta.

Sandra memegang tanganku, menguatkan ku. Air mataku langsung menetes.

"Siapkan mental, Nis! Ingat jangan terbawa emosi. Harus elegan." Sandra mengingatkanku untuk tidak bertindak bar-bar.

"Kita lihat dulu apa yang akan terjadi," lanjut Sandra.

Mereka memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbincang-bincang dengan mesra, tangan saling berpegangan. Dadaku terasa sangat panas. Ya Allah, kuatkan aku.

Aku melihat Mas Fandi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Begitu pesanan mereka datang, aku berjalan mendekati mereka. Mengambil kursi di meja lain dan duduk di hadapan mereka. Wajah mereka pucat pasi seperti mayat.

"Wah, makan siang nggak ngajak-ngajak nih." Aku berkata membuka pembicaraan. Mas Fandi tersenyum kecut sedangkan Leni tampak ketakutan.

"Apa ini? Wow sebuah cincin, bagus banget! Baru jadian ya?" kataku sembari mengambil kotak kecil berwarna merah di meja.

Mereka masih terdiam, salah tingkah. Ada beberapa pasang mata yang mengawasi kami.

"Kok diam? Tadi tertawa-tawa mesra, saling pegang tangan." Aku melanjutkan.

"Apa maumu, Anis?" tanya Leni dengan suara yang agak keras, sehingga banyak pengunjung yang menoleh ke arah kami. Punya nyali juga Leni ini. Memang kebanyakan selingkuhan lebih galak daripada istri sah.

"Mauku? Aku yakin kamu tahu apa mauku!" jawabku

"Mas Fandi mencintaiku, tidak mencintaimu." Leni semakin keras bersuara. Aku lihat beberapa orang mengeluarkan hp dan merekam kejadian.

"O ya, kalau tidak mencintaiku, bagaimana kami bisa hidup bersama selama tujuh belas tahun, sampai lahir dua orang anak?"

"Pa, Mama tunggu penjelasan di rumah" kataku sambil melangkah pergi dengan cincin masih di tanganku.

Aku tidak mau menjadi viral karena kejadian ini.

***

"Ma, maafkan Papa. Papa khilaf," kata Mas Fandi ketika sudah di rumah.

"Kapan hubungan terlarang kalian dimulai?" Aku bertanya dengan suara yang bergetar.

"Ketika Ibu masuk rumah sakit dan suami Leni di rawat di rumah sakit yang sama."

"Jadi ketika Leni masih memiliki suami?"

"Papa kasihan melihat Leni mengurus suaminya yang sakit-sakitan. Papa berusaha menjadi teman untuk dia."

"Teman? Tidak ada yang namanya teman antara laki-laki beristri dan perempuan bersuami. Apalagi berteman dengan mantan! Yang namanya mantan itu tidak perlu dikenang tapi dibuang ke kotak sampah. Sudah pernah ditinggal menikah karena memilih yang lebih kaya, kok mau-maunya dekat lagi."

"Darimana Mama tahu kalau Leni itu mantan?"

"Pa, Mama tu dengar sendiri dari orang-orang yang melayat waktu suaminya Leni meninggal. Berarti yang dikatakan orang-orang itu benar, kesedihan Leni hanya pura-pura. Mama yakin dalam hati Papa juga bersyukur karena suaminya Leni meninggal. Jadi kalian bisa bersama tanpa ada gangguan, karena pasti Papa mengira Mama diam itu tidak tahu apa-apa!"

"Tahukah, Pa? Sejak suami Leni meninggal, aku sudah punya orang yang selalu melaporkan kegiatan kalian. Papa yang rajin setiap istirahat siang datang ke toko Leni untuk makan siang atau keluar seperti tadi. Hebat sekali ya, selingkuhan dibelikan cincin, istri sendiri tidak pernah. Mama punya semua bukti-bukti perselingkuhan kalian. Jangan macam-macam! Nanti Mama laporkan ke atasan Papa!"

"Tolong Ma, jangan lakukan itu! Apa Mama tidak malu kalau papa dipecat dengan tidak hormat?" tanya Mas Fandi.

"Apa Papa tidak malu ketika berselingkuh dan akhirnya ketahuan? Dimana akal sehat Papa? Papa nggak mikir ya kalau punya anak-anak yang sudah remaja?" jawabku dengan sengit

"Jangan sampai anak-anak tahu, Ma?"

"Makanya hentikan perselingkuhan kalian, sebelum semuanya menjadi penyesalan!"

"Papa janji, tidak akan mengulanginya,"

"Kalau mengingkari janji, bagaimana?"

"Papa ikuti apa kemauan Mama."

Aku masih mencintai mas Fandi. Mungkin aku yang terlalu bucin, yang dibutakan oleh cinta. Sejujurnya hatiku ini terlalu sakit mendengar pengakuan Mas Fandi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang aku pikirkan hanya anak-anak. Bagaimana perasaan mereka kalau sampai tahu, papanya berselingkuh.

***

"Apa yang harus aku lakukan San?" Aku curhat pada Sandra.

Sandra tempat aku berkeluh kesah, karena dia teman baikku. Kami sering berbagi cerita dan saling mendukung juga saling menguatkan.

"Semua ada ditanganmu, Nis. Yang baik menurutku, belum tentu baik menurutmu. Begitu juga sebaliknya. Yang menjalaninya itu kamu. Menurutku, sebaiknya pasrahkan semua pada Allah, ikuti kata hatimu. Sebagai teman, aku akan selalu mendukungmu."

"Terimakasih ya, San?"

"Sama-sama, Nis! Yang jelas, kamu harus kuat demi anak-anak."

Aku mengangguk.

Aku mencoba untuk belajar memaafkan, berat memang. Setidaknya aku mencoba untuk melakukannya. Mungkin memang Mas Fandi sedang khilaf dan bisa berubah sesuai dengan janjinya.

Bab 3

Mas Fandi sekarang lebih perhatian dengan keluarga, terutama denganku. Hubungan kami perlahan mulai harmonis lagi. Kami berusaha untuk memperbaiki kualitas hubungan kami. Mas Fandi memang pintar mengambil hati, pantas saja banyak perempuan yang kesengsem. Aku saja masih selalu meleleh kalau ia sudah memberikan perhatian yang lebih.

Aku berharap ia akan seperti ini terus. Memperhatikan keluarga, terutama anak-anak. Semoga saja anak-anak tidak ada yang tahu permasalahan ini. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana hati mereka akan terluka jika tahu kelakuan papanya.

Drtt...drtt.

Drtt...drtt

Gawai Mas Fandi berbunyi, ada panggilan masuk bernama Dani. Mas Fandi baru saja masuk ke kamar mandi.

Drtt...drtt.

"Halo," kataku ketika menerima panggilan itu.

Langsung dimatikan. Nggak ada sopan-sopannya yang bernama Dani ini. Apa salahnya menjawab dulu. Bikin kesal saja. Aku penasaran, aku buka foto profilnya. Hanya foto dua tangan yang saling berpegangan, aku yakin kalau itu tangan laki-laki dan perempuan. Kuamati foto itu, sepertinya aku mengenal tangan laki-laki ini. Karena ada bekas luka berwarna hitam. Seperti luka yang dialami Mas Fandi yang menyenggol wajan panas ketika menggoreng telur. Jantungku berdetak sangat kencang, ini kan tangan Mas Fandi. Aku hafal betul tangan Mas Fandi.

Aku cek chat dari akun bernama Dani tadi, ternyata sudah banyak yang dihapus. Ku cek lagi riwayat panggilan, banyak panggilan dari Dani. Semakin mencurigakan.

Kukembalikan gawai ditempat semula dan bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Kuhapus juga riwayat panggilan.

"Mau kemana, Pa? Minggu pagi kok sudah rapi?" tanyaku pada Mas Fandi. Ia terlihat sangat gagah dengan celana jeans dan kaos yang terlihat body fit. Sangat macho.

"Ada keperluan Ma, nemenin Mirza nyari peralatan untuk bersepeda. Papa juga pingin lihat-lihat, siapa tau ada yang Papa sukai. Pengen ikutan klub gowes, biar semakin sehat," kata Mas Fandi.

Aku penasaran, sepertinya ada yang disembunyikan Mas Fandi. Tumben ia mau ikutan klub gowes. Selama ini ia tidak suka dengan berbagai macam club. Katanya buang-buang waktu saja nongkrong hanya ngobrol-ngobrol. Mending di rumah ngumpul bersama keluarga. Tapi kok sekarang ia berbeda pandangannya? Aduh, kenapa aku jadi paranoid kayak gini. Mungkin aku takut kalau Mas Fandi khilaf lagi.

Aku membuntuti Mas Fandi dengan menggunakan motor teman Angga, yang kebetulan sedang main ke rumah.

Kuikuti laju mobil Mas Fandi, ternyata berjalan tidak ke arah rumah Mirza melainkan ke arah rumah Leni. Lemas rasanya tubuhku melihat kelakuan Mas Fandi. Katanya tidak akan berhubungan dengan Leni lagi. Ternyata semua bohong.

Aku pulang dengan perasaan tak menentu. Mas Fandi bukanlah orang yang kukenal dulu. Tujuh belas tahun pernikahan tidak mampu mengalahkan pesona sang mantan.

"Kenapa, Ma? Kok kelihatan lesu sekali," tanya Angga ketika aku sampai di rumah.

"Ternyata lumayan capek naik motor. Mungkin faktor U ya?" jawabku menutupi kesedihanku. Aku harus terlihat biasa saja, jangan sampai Angga tahu kalau mamanya sedang bersedih.

"Bukan Faktor U, Ma. Tapi karena Mama sudah tidak terbiasa naik motor, jadi capek. Lagian ngapain Mama pergi naik motor, mobil kan ada, " sahut Angga. Teman Angga hanya tersenyum saja.

"Terima kasih, ya?" ucapku pada teman Angga sambil menyerahkan kunci motor.

"Sama-sama, Tante." Teman Angga menjawab.

Aku masuk ke dalam rumah, mengambil air putih dan meminumnya. Sambil duduk di dapur, aku merenung memikirkan kejadian tadi. Tak terasa air mata menetes di pipiku.

***

"Mirza, jujurlah! Kamu tau kan kalau Mas Fandi selingkuh," tanyaku pada Mirza.

Mirza diam dan tidak berani melihat ke arahku. Aku sengaja mengajak Mirza untuk bertemu, awalnya dia menolak. Aku mengancam kalau tidak mau bertemu denganku, aku akan datang ke rumahnya dan akan meminta penjelasan tentang Mas Fandi di rumahnya. Biar Selly istrinya tahu, kalau ia menyembunyikan hubungan terlarang Mas Fandi dan Leni.

"Maafkan aku, Nis," kata Mirza.

"Kenapa kamu nggak menasehati Mas Fandi, ketika ia mulai salah?" tanyaku.

"Orang yang sedang mabuk cinta tidak akan bisa dinasehati. Apa yang kita bicarakan hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Giliran dinasehati baik-baik, dia bilang aku iri. Serba salah Nis. Aku sudah sering mengingatkan dia, bahwa yang dilakukan itu salah. Tapi ia tetap seperti itu."

"Aku minta bantuanmu."

"Maaf Nis, aku nggak mau terlibat masalah rumah tangga kalian."

"Tenang saja, kamu tidak akan terlibat."

Aku menjelaskan semua rencanaku. Awalnya Mirza kekeh tidak mau mencampuri urusanku.

"Tolonglah, Mirza. Ada sebuah rumah tangga yang dipertaruhkan disini. Ada anak-anak yang mungkin kehilangan figur ayah mereka. Tentu kamu sangat mengenal Angga dan Anggi. Apa kamu tega melihat mereka terluka?" bujukku.

Akhirnya Mirza menyetujui.

***

Aku membuntuti Mas Fandi, yang menurut Mirza hari ini Mas Fandi ke sebuah hotel untuk merayakan ulang tahun Leni. Aku sudah mempersiapkan semuanya.

Aku meminta Adi, orang suruhanku untuk mengintai Mas Fandi dan Leni.

Tok..tok..

"Room service," kata pegawai hotel, aku ada dibelakangnya. Sandra dan Adi masih ada di lobby hotel.

"Saya nggak pesan..... Mama," kata Mas Fandi membuka pintu dengan memakai singlet dan celana pendek. Ia sangat terkejut dengan kehadiranku disini. Ia pasti tidak menyangka semua ini

"Surprise!" kataku dengan nada sewajar mungkin sambil memegang handphone yang sedang merekam. Hatiku sudah tidak karuan lagi rasanya. Leni nampak gugup, dia yang sedang mengenakan handuk mandi langsung masuk ke kamar mandi lagi.

"Aku bisa jelaskan, Ma!" kata mas Fandi.

"Oke Mama tunggu penjelasannya," kataku.

"Kami tidak melakukan apa-apa," kata Mas Fandi gugup. Tak lama Leni keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.

"Belum, Pa? Karena sudah ketahuan sama Mama. Ya kan? Ngapain coba ada laki-laki dan perempuan berada dalam hotel berduaan. Meeting? Membicarakan bisnis proyek? Oh tentu saja proyek perselingkuhan," kataku dengan emosi.

"Papa ingat kan? Kalau Papa mengingkari janji Mama boleh melakukan apa saja. Mama sudah menyiapkan semuanya. Tanda tangani ini," kataku sambil memberikan surat perjanjian.

"Kamu licik sekali," kata Leni.

"Maaf, aku nggak ada urusan dengan kamu. Kamu itu yang nggak tahu malu, suami orang di embat juga," kataku.

Aku menelpon Sandra yang ada di luar kamar. Sandra masuk bersama Adi dan pegawai hotel. Mas Fandi dan Leni kaget.

"Kenapa? Kaget? Upss jadi ketahuan banyak orang ya," Kataku.

Akhirnya Mas Fandi dan Leni menandatangani surat perjanjian yang aku bawa, karena mereka tidak mau diviralkan. Padahal aku juga tidak akan berpikir sampai kesitu. Kalau aku viralkan yang terkena dampaknya juga aku dan anak-anak. Sandra, Adi dan pegawai hotel sebagai saksi dalam surat perjanjian.

Entah apa yang kurasakan saat ini. Puas, senang, sedih dan hancur semua menjadi satu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED