Bab 1

Hujan turun perlahan di balik jendela rumah sakit, seperti ikut menangisi sesuatu yang belum terjadi... atau mungkin sedang terjadi. Di ruangan yang nyaris membeku oleh suhu dan rasa putus asa, Calla berdiri kaku di samping ranjang rumah sakit mungil itu-menatap tubuh kecil dengan selang-selang yang seakan menegaskan bahwa hidup sang putri kini bergantung bukan pada kasih sayang, tapi pada mesin.

Leona, putri mereka, baru berusia lima tahun. Terlalu kecil untuk berperang, terlalu polos untuk mengerti bahwa jantung kecilnya tak lagi berdetak sekuat dulu. Napasnya berat, teratur oleh alat, dan setiap bunyi bip yang terdengar seolah menusuk ulu hati Calla lebih dalam. Sakit itu tak punya suara. Tapi kini, ia merasa bisa mendengarnya-menderu di dadanya, di sekujur tubuhnya, memekakkan telinga hingga membuatnya nyaris gila.

Di balik pintu, para dokter hanya bisa menunduk. Mereka sudah menyampaikan semuanya. Leona tak akan bertahan lama. Beberapa jam, mungkin. Sehari, jika mujizat datang. Tapi mereka tahu... mujizat tidak akan datang malam ini. Tidak untuk Calla.

Dan Ares tidak ada di sana.

Tidak ada suara pintu terbuka. Tidak ada langkah tergesa masuk ruangan. Tidak ada pelukan, pelipur, atau bahkan tatapan iba dari seorang ayah yang seharusnya berlari, jatuh, menangis-untuk putri yang pernah ia sebut "cahaya kecil di dunia paling gelapku."

Karena malam ini, Ares memilih berada di tempat lain.

Tiga belas jam sebelumnya, Calla meneleponnya. Tangannya gemetar saat memencet nomor itu, berharap hanya sekali ini saja Ares menjawab dengan cepat. Ia bahkan belum sempat menyeka air mata yang terus turun saat suara sambungan mengalun tiga kali... empat... lalu akhirnya,

"Ares, tolong... Leona... dia-"

"Aku sedang boarding ke Florence. Pesawat tinggal lepas landas," sahut Ares cepat, terdengar tergesa dan... tak sabar. "Bisa nanti saja?"

"Nanti?" suara Calla pecah. "Leona kritis. Jantungnya-"

"Aku sudah titip pada rumah sakit terbaik. Dokter-dokternya akan-"

"Dia butuh kau, Ares! Dia... putri kita!" Calla berteriak, tidak peduli lagi pada suara orang-orang di ruang tunggu yang mulai menatapnya. Ia berdiri sendiri di tengah dunia yang retak, dan satu-satunya orang yang seharusnya memeluknya, justru memutus panggilan tanpa pamit.

Klik.

Suara itu lebih menyakitkan dari berita apapun yang dokter sampaikan malam itu.

Sekarang, saat jam dinding menunjukkan pukul 22.14, dan Leona mulai menunjukkan penurunan drastis, Calla sudah tidak menangis lagi. Air matanya kering. Hatinya pun demikian. Ia duduk di kursi plastik dingin, menggenggam tangan mungil itu erat-erat-seolah bisa memaksa jiwa anaknya untuk tetap tinggal hanya dengan cinta seorang ibu.

Tapi tubuh itu mulai melemah. Warna kulit Leona semakin pucat. Mesin menunjukkan angka-angka yang tak lagi menjanjikan harapan. Perawat masuk dan keluar membawa instrumen yang tak ia mengerti. Salah satu dokter mencoba menenangkannya, dengan suara tenang dan penuh hormat.

"Jika Anda ingin memanggil keluarga... mungkin sekarang saatnya."

Keluarga?

Calla memejamkan mata. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu mertuanya bahkan tak pernah menyukai keberadaannya. Ibunya sendiri meninggal saat Calla masih duduk di bangku SMA. Ayahnya entah di mana. Yang ia punya... satu-satunya yang ia anggap rumah... justru sedang menjemput wanita dari masa lalunya.

Lyanna.

Nama itu seperti duri dalam tenggorokannya. Wanita yang dulu pernah Ares cintai sebelum mereka menikah. Wanita yang katanya menghilang, lalu muncul kembali dua minggu lalu. Dan Ares, dengan segala luka yang katanya belum sembuh, langsung terbang-untuk menjemputnya di bandara dan menyambutnya dengan pesta privat di vila keluarga.

Calla bahkan tidak diberitahu langsung. Ia mengetahuinya dari media sosial salah satu rekan bisnis Ares, yang tanpa sadar memotret kebersamaan mereka dan mengunggahnya dengan caption:

"Akhirnya, pasangan yang ditakdirkan bersama kembali bersatu. Welcome home, Lyanna."

Pasangan yang ditakdirkan?

Calla menggenggam lebih keras tangan Leona. Seolah mengalirkan seluruh rasa sakitnya lewat sentuhan itu.

Dia tidak pernah menjadi 'takdir' bagi siapa pun. Bahkan ketika menikah dengan Ares tiga tahun lalu, itu bukan karena cinta. Tapi karena sebuah perjanjian keluarga yang tidak pernah Calla minta. Ia dijodohkan. Dijadikan istri pengganti karena kakaknya kabur menjelang pernikahan.

Dan Ares? Ia menerimanya karena bisnis.

Tapi saat Leona hadir, Calla benar-benar percaya... bahwa hidupnya punya makna. Bahwa Ares mungkin bisa melihatnya. Mungkin bisa mencintainya. Tapi semua itu hanya harapan kosong.

Kini, saat anak mereka terbaring antara hidup dan mati, Ares memilih wanita lain.

Pukul 23.02.

Detik itu, mesin utama berbunyi panjang. Dokter berteriak. Perawat berlari. Seseorang menekan tombol alarm.

Calla tidak bergerak. Ia hanya berdiri, terjebak di tengah kekacauan itu, dengan jantung seperti diremas, lidah kelu, tubuh dingin.

Salah satu perawat menatapnya dengan iba.

"Bu... Anda harus keluar dulu."

"Tolong selamatkan dia," bisiknya. "Tolong..."

Tapi tidak ada jawaban pasti.

Calla berjalan mundur dengan langkah goyah. Ia bersandar di dinding luar ICU, dan di saat itulah... sebuah pesan masuk di ponselnya.

Dari: Ares

"Kami baru sampai. Malam ini akan jadi malam yang panjang. Aku akan pulang besok siang. Jaga dirimu."

Tidak ada pertanyaan tentang Leona.

Tidak ada kata bagaimana kondisi anak kita.

Tidak ada.

Calla menatap pesan itu lama, lalu menurunkan ponsel perlahan. Saat suara alarm di ruang ICU berhenti, dan dokter keluar dengan tatapan muram, ia sudah tahu.

Dunia itu berhenti malam ini.

Dan Ares bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia hancurkan.

Bab 2

Pagi menjelang, tapi ruang ICU masih tetap dingin dan sunyi, penuh dengan aroma antiseptik dan kesedihan yang menyesakkan dada. Calla duduk termenung di kursi panjang di sudut ruang tunggu, tubuhnya remuk, tapi pikirannya masih berusaha keras merangkai kenyataan yang baru saja menghancurkan hatinya.

Leona... putrinya, telah pergi.

Ia meninggalkan dunia tanpa satu kali pun melihat ayahnya di sisinya. Tidak ada pelukan terakhir, tidak ada suara yang menenangkan, tidak ada janji yang dibuat dengan penuh harapan.

Dan Ares? Masih jauh dari sini.

Calla memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir bebas untuk pertama kalinya sejak malam itu. Tangis yang dipendam berhari-hari akhirnya meledak, merobek sepi di ruang tunggu yang dingin.

"Bu Calla?" suara seorang perawat lembut membuyarkan lamunannya.

Ia menoleh, melihat wajah muda yang penuh simpati. "Kami sudah melakukan segala yang kami bisa. Leona sudah tenang sekarang. Tapi jika ibu ingin, kami bisa bantu untuk proses administrasi dan memberikan waktu untuk keluarga."

Calla mengangguk pelan, tapi hatinya terasa kosong. Ia menatap jendela, hujan masih turun pelan, seperti mengiringi perpisahan yang tak pernah ia inginkan.

Di sisi lain kota, di sebuah vila mewah dengan lampu kristal yang berkilauan, suasana berbeda sama sekali.

Ares duduk di ruang tamu, dikelilingi oleh kerumunan yang bersorak. Gelak tawa dan musik jazz mengalun lembut di udara yang hangat. Lyanna, dengan gaun merah anggur yang elegan, berada di pelukan Ares. Mereka tertawa, berbagi cerita masa lalu yang penuh gairah dan penyesalan yang belum tuntas.

Namun di balik senyum itu, mata Ares sesaat terlihat kosong-seolah ada bayangan gelap yang mengintai di balik tirai pesta mewah ini.

Namun saat seseorang mengirimkan pesan singkat ke ponselnya, Ares mengabaikannya. Sebuah pesan yang ia tahu berasal dari Calla.

"Leona kritis. Tolong segera pulang."

Ia membalas dengan pesan singkat, berusaha menenangkan dirinya sendiri:

"Aku sudah titipkan semuanya pada rumah sakit terbaik. Jangan khawatir."

Tapi saat pesta berlangsung, kabar buruk datang menghantamnya lewat telepon dari asistennya.

"Pak Ares, saya... maaf. Leona sudah meninggal dunia."

Waktu terasa membeku. Musik di pesta seolah berubah menjadi suara hantu, tawa berubah menjadi gema kosong. Ares memandang ke arah Lyanna, yang kini wajahnya juga berubah-dari bahagia menjadi cemas.

Ia berusaha menyusun kata-kata, tapi hanya suara bisu yang keluar dari mulutnya.

Calla menerima kabar itu lewat telepon beberapa menit setelahnya. Hatinya yang remuk menjadi lebih hancur. Air matanya berhenti mengalir, berganti dengan rasa amarah yang membara.

Bagaimana mungkin pria yang dulu mengucapkan janji di altar itu bisa memilih untuk tidak ada di saat putrinya sekarat? Bagaimana mungkin ia bisa merayakan dengan wanita lain, sementara dunia Calla runtuh?

Setelah pemakaman Leona yang sunyi dan sederhana, Calla pulang ke rumah mereka-rumah yang dulu penuh harapan dan tawa kecil anaknya. Kini hanya menyisakan dinding yang dingin dan bayangan masa lalu yang menghantui.

Ia berdiri di tengah ruang tamu, menatap foto keluarga yang retak di sudut meja. Foto itu menunjukkan tiga sosok bahagia: Ares, Calla, dan Leona kecil yang tersenyum ceria.

Calla merasakan amarah yang membakar dalam diam. Ia tahu, ini bukan hanya soal kehilangan anak mereka, tapi juga soal pengkhianatan terbesar dari seorang pria yang dulu ia percayai.

Malam itu, ponselnya bergetar. Pesan dari Ares.

"Calla, aku ingin bicara. Aku tahu aku sudah gagal sebagai suami dan ayah. Tapi aku ingin memperbaikinya."

Calla menatap pesan itu tanpa balasan. Di matanya, Ares sudah kehilangan hak untuk berbicara.

Beberapa hari setelahnya, Calla bertemu dengan Lyanna secara tak sengaja di sebuah kafe kecil di kota.

Lyanna tersenyum manis, namun ada sesuatu di matanya yang membuat Calla merinding. "Aku tahu ini sulit, Calla. Tapi aku datang bukan untuk merebutmu. Aku datang untuk mengingatkan bahwa cinta tidak selalu berjalan mulus."

Calla membalas dengan dingin, "Cinta? Bagaimana kau bisa bicara soal cinta, saat kau merenggut nyawa putriku dengan kehadiranmu?"

Lyanna menunduk, "Aku tidak merencanakan ini. Aku hanya ingin kesempatan kedua. Ares dan aku dulu... kami punya masa lalu yang belum selesai."

Calla tertawa getir, "Masa lalu yang menghancurkan masa depan kami."

Setelah pertemuan itu, Calla mulai merasakan api dalam dirinya yang tak pernah padam. Ia sadar bahwa hidupnya harus terus berjalan, meski penuh luka dan pengkhianatan.

Ia mulai merencanakan langkahnya dengan hati-hati. Ia tidak bisa membiarkan Ares dan Lyanna berjalan begitu saja, sementara dirinya terluka dalam kesunyian.

Calla bertekad untuk mengambil kendali hidupnya kembali, dan menunjukkan pada dunia bahwa ia bukan hanya wanita yang hancur.

Ares, di sisi lain, mulai merasakan konsekuensi dari pilihannya. Bisnis keluarga mulai goyah karena fokusnya terbagi, dan rumor tentang hubungan gelapnya dengan Lyanna mulai merebak di kalangan bisnis.

Ia tahu, jika tidak segera memperbaiki keadaan, segalanya akan hancur. Namun, hatinya tetap terbelah antara rasa bersalah, cinta lama, dan kewajiban yang belum selesai.

Malam itu, saat hujan turun pelan seperti di hari terakhir Leona, Calla berdiri di balkon rumahnya, menatap ke kejauhan dengan mata yang penuh tekad.

"Ini bukan akhir," bisiknya pada diri sendiri. "Ini baru awal."

Bab 3

Sejak hari itu, hidup Calla berubah total. Semua yang dulu ia kenal-rumah, pernikahan, bahkan impiannya tentang keluarga bahagia-runtuh bersamaan dengan hilangnya Leona. Tapi yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa Ares, suaminya, lebih memilih untuk merayakan bersama wanita lain ketimbang menemani putrinya di saat kritis.

Hari-hari Calla kini dihabiskan dengan kesunyian yang mengerikan, penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban.

Pagi itu, Calla duduk di meja makan, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Ia tak lagi peduli pada hal-hal kecil yang dulu membuatnya tersenyum. Kehilangan Leona menyisakan luka yang dalam, tapi luka itu juga membakar amarah yang sulit ia kendalikan.

"Bagaimana mungkin kau bisa begitu kejam, Ares?" gumamnya, suaranya pecah. "Apakah kau benar-benar tidak peduli? Atau kau sudah tidak pernah peduli sejak awal?"

Teleponnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ares.

"Calla, aku tahu aku tak berhak memintamu memaafkanku. Tapi aku butuh kita bicara. Tolong beri aku kesempatan."

Calla membalas dengan satu kata saja: "Tidak."

Ia menatap langit-langit rumah, mencoba meredam amarah yang menyala-nyala. Ia tahu Ares butuh pembicaraan, tapi ia belum siap. Bahkan, mungkin tidak akan pernah.

Hari-hari berlalu dengan perlahan, dan Calla mulai memusatkan energinya pada hal lain: membangun kembali dirinya yang hancur. Ia tahu, ia harus kuat-bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk keadilan bagi Leona.

Ia memutuskan untuk kembali ke pekerjaannya sebagai arsitek, sebuah dunia yang dulu pernah membuatnya merasa hidup dan berdaya.

Di kantor, rekan-rekannya menyambut dengan hangat, tapi tatapan mereka penuh belas kasihan yang membuat Calla semakin tersiksa. Ia tak mau jadi objek belas kasihan. Ia ingin mereka melihatnya sebagai wanita yang kuat, yang akan bangkit dari puing-puing hidupnya.

Suatu sore, saat sedang mengerjakan proyek besar, Calla bertemu dengan seorang pria muda bernama Dario. Dia adalah konsultan bisnis yang baru saja bergabung di perusahaan.

Dario punya mata yang tajam, tapi hangat. Ada sesuatu di dirinya yang membuat Calla merasa nyaman, meski hatinya masih berdarah dan penuh dendam.

"Mau kopi?" tanya Dario sambil tersenyum ramah.

Calla mengangguk pelan. "Kenapa kau begitu baik padaku?" tanyanya tanpa sadar.

Dario menatapnya serius. "Karena aku tahu apa artinya kehilangan dan bagaimana rasanya bangkit lagi. Aku juga pernah di titik terendah."

Percakapan itu mengalir begitu saja, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Calla merasa ada secercah harapan yang tumbuh di dalam dirinya.

Namun, dunia Calla segera kembali bergejolak.

Ares tiba-tiba muncul di depan kantor, dengan ekspresi yang sulit dibaca. Mata mereka bertemu, dan Calla bisa melihat luka dalam di balik tatapan itu.

"Calla, aku ingin bicara," katanya pelan.

Calla menggeleng, suaranya dingin. "Tidak ada yang ingin aku dengar darimu, Ares."

Namun Ares tak menyerah. "Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya. Tapi aku tak bisa hidup tanpamu. Aku siap melakukan apa saja untuk memperbaiki semuanya."

Calla menatapnya tajam. "Apa yang kau ingin perbaiki? Kehilangan putri kita? Atau kebohongan dan pengkhianatanmu?"

Ares terdiam sejenak, lalu berkata lirih, "Aku salah. Aku tak membela diriku. Tapi aku ingin menebus kesalahan itu. Tolong beri aku waktu."

Calla merasa hatinya tercabik-cabik. Ia ingin membenci Ares sepenuhnya, tapi di dalamnya masih ada rasa cinta yang tak bisa ia abaikan.

Malam itu, Calla duduk di ruang tamu, merenung. Ia tahu perjalanannya belum selesai. Ia harus menghadapi Ares dan semua kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Esok harinya, ia mengundang Ares untuk bertemu di sebuah kafe yang tenang.

Saat Ares datang, suasana tegang memenuhi ruangan. Calla memandangnya dengan mata penuh tanya.

"Aku ingin tahu semuanya, Ares. Mengapa kau tega memilih wanita lain saat putri kita sekarat? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Ares menghela napas dalam, lalu mulai bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Tentang bagaimana Lyanna, wanita yang selama ini disebut sebagai cinta pertamanya, ternyata adalah bagian dari masa lalu yang tak pernah ia tinggalkan sepenuhnya.

"Aku bodoh, Calla. Aku mencoba melupakan, tapi dia selalu ada di pikiranku. Saat Leona sakit, aku bingung dan takut. Aku memilih kabur, bukan karena aku tak mencintai kalian, tapi karena aku tak tahu bagaimana menghadapi semuanya."

Calla mendengarkan dengan hati yang hancur, tapi juga sedikit lega mengetahui kebenaran.

Namun ada satu hal yang masih mengganjal.

"Apakah kau masih mencintainya?" tanya Calla dengan suara bergetar.

Ares menunduk. "Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mencintaimu dan Leona lebih dari apapun. Aku harus belajar bagaimana mencintai kalian dengan cara yang benar."

Waktu berlalu, dan hubungan mereka tetap dalam ketegangan yang rapuh.

Calla tahu, untuk bisa memaafkan Ares, ia harus melewati proses yang panjang dan menyakitkan. Tapi ia juga sadar, membiarkan kebencian menguasai hati hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.

Dengan perlahan, ia mulai membuka hati lagi, sedikit demi sedikit.

Namun bayangan Lyanna terus menghantui mereka berdua.

Lyanna sendiri tak tinggal diam. Ia berusaha memasuki kehidupan Ares dengan cara apapun, berharap suatu hari bisa mendapatkan tempat yang dulu pernah ia miliki di hati Ares.

Calla pun harus menghadapi pertarungan batin yang tak berkesudahan antara cinta, dendam, dan pengkhianatan.

Suatu malam, saat hujan deras membasahi kota, Calla mendapat telepon dari Dario.

"Ares ada di luar rumahmu. Dia butuh bicara denganmu. Ini penting."

Calla ragu, tapi hatinya memberanikan diri untuk membuka pintu.

Di depan pintu berdiri Ares, basah kuyup, dengan mata yang penuh penyesalan.

"Aku tak bisa terus seperti ini, Calla. Aku siap melakukan apa saja untuk mendapatkan kepercayaanmu kembali. Tolong, beri aku kesempatan."

Calla menatapnya dalam-dalam, kemudian membuka pintu selebar-lebarnya.

"Ini bukan soal kesempatan, Ares. Ini soal aku yang harus belajar mempercayai lagi. Dan itu bukan hal yang mudah."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED