Hidup bergelimang harta membuat Keluarga Harold menjadi salah satu keluargaterpandang di Jakarta.Tuan Kenan Harold dan Nyonya Clement Harold memiliki seorang anak lelaki, satu-satunya bernama Zefki Harold.
Zefki adalah seorang lelaki tampan dengan wajah blasteran Indonesia Amerika yang diwariskan oleh kedua garis keturunan orang tuanya.
Hal itu membuat Zefki menjadi idaman setiap wanita. Baik dari kalangan remaja maupun wanita dewasa.Saat ini, zefki telah berumur tiga puluh tahun dan dia telah memimpin satu perusahaan ayahnya yang bergerak dalam bidang property. Berbekal pendidikan S2 dari sebuah universitas di luar negeri, membuat Zefki dipercaya ayahnya untuk mengelola bisnis keluarga.
Zefki terlahir sebagai anak tunggal, membuat sifatnya terkesan angkuh dan semaunya saja. Wataknya yang keras dan cuek membuat banyak wanita, semakin penasaran dengannya.
Saat Zefki duduk dibangku sekolah pun, dia menjadi idola di sekolahnya. Banyak cewek-cewek di sekolahnya nya yang menaruh hati kepadanya. Akan tetapi tak satu pun yang digubris olehnya.Baginya, cinta dan semacamnya adalah omong kosong belaka.
Zefki tidak butuh cinta, logika dan cara berpikirnya terlalu dominan sehingga otaknya tidak berkoneksi dengan cinta untuk lawan jenis.
Bahkan sampai banyak orang beranggapan jika dia adalah seorang pecinta sejenis. Akan tetapi, Zefki seolah tidak peduli dengan opini publik tentang dirinya.
Namun pada suatu ketika kabar itu pun sampai kepada orang tuanya.
Sang ibu, Nyonya Clement, sampai menitikkan air matanya mengingat anak satu-satunya yang sampai saat ini, masih belum berumah tangga.
Suatu ketika di kamar Zefki,
"Mami ... kenapa sih menangis, gitu? Aku heran deh dengan tingkah Mami. Menangisi sesuatu yang abstrak, gitu." Tukas Zefki, kepada ibundanya.
Sambil menghela napas panjang, Nyonya Clement mengusap dadanya, lalu berkata,
"Bagaimana Mami tidak merasa sedih, jika melihat anak Mami satu-satunya, masih belum menikah juga. semetara anak teman sosialita Mami lainnya yang seumuran denganmu, sudah pada menikah dan memiliki anak. Bahkan mereka sangat antusias menceritakan perkembangan dari cucu-cucu mereka." Nyonya Clement, semakin mendramatisir tangisannya.
Akan tetapi, hal itu tidak membuat Zefki berempati sedikitpun.
"Sudahlah, Mi. Lupakan dan jangan ingat apa kata orang. Toh aku juga tidak hidup dengan uang mereka, iya kan Mamiku ... yang cantik?" Zefki lalu memeluk tubuh sang mami. Namun Nyonya Clement tetap ngotot kepada putranya,
"Pokoknya Mami nggak mau tahu! Tahun ini kamu harus menikah! Titik!" Tukas, sang ibu.
Mendengar perkataan ibunya, Zefki pun tertawa lebar,
"Ha-ha-ha! Mami ini ada-ada saja, deh. Aku menikah dengan siapa? Aku sama sekali tidak memikirkan pernikahan, Mi. Masih sangat jauh dari planning-ku. Ha-ha-ha Mami lucu deh!" Zefki pun berlalu dari hadapan ibunya, menuju ke dalam kamarnya dan tidak mempedulikan ibunya, lagi.
"Zefki, kamu mau ke mana, Nak?"
"Aku mau exercise, Mi.Apakah Mami mau ikutan? Angkat berat gitu, Moi Pasti Mami nggak bisa, ha-ha-ha."
"Zefki! kamu ledekin Mami, ya?"
"Aku hanya bercanda, Mami."
"Ya, sudah sana kamu, olahraga dulu, tapi ingat pesan Mami, tadi." Nyonya Clement kembali mengingatkan anaknya.
Zefki seketika bersenandung ria. Seolah-olah dia tidak mendengar perkataan Nyonya Clement.
Zefki pun mulai melangkah ke ruang gym yang ada di rumahnya. Dia melakukan pemanasan terlebih dahulu. Setelah itu Zefki mulai mengangkat beberapa alat berat yang ada di dalam ruangan itu.
Dengan bobot tubuh yang proporsional dada six pack dan tinggi seratus delapan puluh lima senti meter. Membuat para wanita tergoda dengan pesonanya.
Setelah puas angkat berat, Zefki lalu melangkah menuju ke samping rumahnya dan mulai menceburkan dirinya ke dalam kolam renang.
Namun disaat Zefki sedang asyik berenang, tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Dia pun menghentikan sebentar kegiatan olah raganya dan mengangkat telepon itu.
Zefki"Halo, ini siapa?"
Sutan "Maaf Tuan Muda, jika saya mengganggu istirahat, Anda."
Zefki"Saya sedang berolah raga. Iya, langsung saja katakan, ada apa?"
Ternyata telepon itu dari Asisten Pribadi Zefki bernama, Sutan. Sutan mengabarkan, jika ada klien yang ingin bertemu dengannya besok pagi.
Zefki"Baiklah, Sutan. Tolong sampaikan kepada mereka saya akan bertemu besok pagi, tepat pukul sepuluh pagi."
Lalu Zefki pun menutup panggilan itu. Saat ini, dia sedang duduk di kursi santai, dekat kolam sambil menatap langit senja yang biru, sambil merenungkan perkataan maminya, tadi.
"Ting-ting-ting." bunyi alarm dari telepon genggam milik Zefki mengagetkannya. Dia melihat sudah pukul lima pagi saatnya, dirinya untuk bangun.
Seperti rutinitasnya sehari-hari, pagi ini Zefki mengawali paginya dengan berolahraga.
Zefki pun berjalan menuju salah satu ruang di lantai bawah rumahnya. Lalu dia pun mulai menggerakkan kedua tangan dan kakinya sebagai pelemasan awal. Terlihat dengan jelas otot-otot tubuhnya, yang menambah pesona dalam dirinya.
Zefki sangat menyukai olah raga tinju. Kegiatannya itu dapat membantu melepaskan hormon adrenalin dari dalam tubuhnya. Karena dia yang selalu disibukkan dengan urusan pekerjaan.
Peluh dari tubuhnya semakin banyak keluar. Disaat Zefki semakin cepat menggerakkan tangannya secara bergantian melayangkan tinjunya ke arah samsak tinju. Setelah dia rasa cukup, Zefki pun melangkah keluar dari ruangan itu menuju ke dalam kamarnya.
Saat melewati dapur, Zefki disapa oleh Bik Yati, sang art kepercayaan keluarganya.
"Selamat pagi, Tuan Muda." Sapa, Bik Yati.
"Pagi, Bik. Nasi gorengnya sudah masak?" Tanyanya.
"Sudah Tuan Muda semua sudah tersedia di atas meja. Oh ya, Tuan dan Nyonya sudah berangkat sekitar setengah jam yang lalu."
"Lho, Bik. Kok Papi dan Mami cepat sekali berangkat ke kantor?" Tanyanya, lagi.
"Anu ... itu, Tuan Muda. Tuan dan Nyonya kedatangan tamu di perusahaan pagi ini. Sepertinya, sahabat lama dari Tuan Kenan."
"Baiklah, Bik. Saya ke atas dulu. Mau mandi." Zefki pun berlalu dari dapur menuju ke dalam kamarnya.
Guyuran air yang membasahi tubuh Zefki sungguh sangat menyegarkan. Setelah selesai mandi, dia pun keluar dari kamar mandi. Dengan hanya berbalut handuk di pinggangnya. Zefki pun segera mengenakan pakaian kantornya.
Lalu setelah selesai menyantap sarapan spesial, nasi goreng buatan Bik Yati. Zefki pun segera menuju garasi mobilnya dan berangkat ke kantor tepat pukul tujuh pagi.
Setelah menempuh beberapa saat dalam perjalanan Zefki pun tiba di kantor.
Saat ini, para karyawan terlihat sedang berbaris rapi. Mulai dari lobi luar, sampai ke pintu masuk.
Zefki keluar dari mobil. Dia langsung disambut oleh sang asistennya, Sutan.
"Selamat pagi, Tuan Muda."
"Pagi ... ada apa ini, kenapa semua orang berbaris?" Tanyanya.
"Maaf, Tuan Muda. Ini semua atas perintah Tuan Kenan. Untuk menyambut klien spesial perusahan. Anda juga diharuskan ikut menyambut klien itu." Asisten Sutan, menjelaskan pada Zefki jika semua ini, adalah perintah Tuan Kenan, ayahnya.
Zefki pun mengangguk, tanda setuju.
Rombongan mobil mulai berjejer rapi di halaman kantor, itu menandakan jika klien tersebut telah sampai. Semuanya terlihat keluar dari mobil, tamu tersebut berjumlah dua orang. Zefki pun seakan kaget, hanya untuk meyambut dua orang itu, ayahnya, Tuan Kenan seolah-olah menyambut secara berlebihan, sedangkan isi mobil lain adalah para kepala cabang, property mereka.
Tuan Kenan pun mulai menyalami para tamu tersebut, mereka adalah sepasang suami istri, Tuan Fidel dan Nyonya Santi yang merupakan pebisnis, sahabat kedua orang tuanya.
Zefki sama sekali tidak tahu maksud terselubung dari kedua orang tuanya, mengapa sampai menggelar penyambutan yang apik bagi Tuan Fidel dan Nyonya Santi.
Kedua orang tuanya semata-mata ingin Zefki menikah dengan salah satu anak dari pasangan suami istri, sahabatnya itu.
Keduanya sangat ingin menimang cucu dari anak mereka satu-satunya, Zefki Harold.
Kedua orang tuanya berpikir jika saat ini, Zefki sudah layak untuk berumah tangga, mengingat usianya yang sudah berumur, tiga puluh tahun.
Terutama Nyonya Clement yang sangat menginginkan Zefki, untuk secepatnya menikah.
Sehingga muncullah ide untuk menjodohkan Zefki dengan anak rekan bisnis mereka.
Tuan Fidel dan Nyonya Santi keluar dari mobil seiringan dengan kedua orang tua Zefki yang juga keluar dari mobil. Para petinggi perusahaan sibuk saling memberi salam bagi tamu istimewa, itu.
Tibalah giliran Zefki untuk memberi salam.
"Selamat pagi, selamat datang di perusahaan kami, ZR TBK." ujarnya.
Tuan Fidel dan Nyonya Santi seakan terkagum-kagum dengan sosok Zefki yang berwibawa dan terkesan cerdas. Juga ditambah dengan ketampanannya yang memukau.
Lalu Tuan Kenan berkata,
"Perkenalkan Fidel, ini Zefki Harold. CEO, ZR TBK dan dia adalah anak saya, satu-satunya."
"Selamat pagi anak muda," ujar, Tuan Fidel.
"Anda sangat tampan, anak muda. Pasti juga sangat rajin mengelola perusahaan."
Zefki hanya tersenyum sinis mendengar pujian itu.
"Selamat pagi juga, Zefki. Saya, Santi. Istri sahabat ayahmu." Lagi-lagi Zefki hanya tersenyum sinis.
Dia lalu bergumam dalam hati,
"Cih sangat berlebihan menyambut mereka. Memangnya sehebat apa sih perusahaannya, sampai -sampai Papi menyambut dengan cara seperti ini."
"Wah mari kita masuk," ujar Nyonya Clement
"Nanti kita dikira penjaga pintu jika keterusan di sini." Dan semua pun tertawa dengan ucapan Nyonya Clement. Mereka pun langsung masuk ke ruang rapat.
Tuan Kenan mulai memimpin rapat dan menjelaskan siapa tamu itu, serta maksud dan tujuan mereka ke ZR TBK, yaitu untuk menjalin kerjasama pembangunan sebuah Mall di daerah Tangerang.
"Baik untuk lebih jelasnya tentang perusahaan ZR TBK ini, akan di sampaikan oleh CEO kita," tukas, Tuan Kena.n
"Cih, apa-apaan sih, Papi. Kenapa mesti aku yang menjelaskan." Zefki menatap datar kepada Ayahnya sambil berdiri dan mulai menjelaskan sejarah perusahaan ZR TBK dan bergerak dalam bidang apa saja.
Kedua orang tamu itu sangat terkagum-kagum dengan cara Zefki menyampaikan semuanya.
Nyonya Santi berkata kepada suaminya,
"Papi, tidak salah lagi pilihan kita untuk putri kita, kita jodohkan dengan Nak Zefki. dia sangat berkharisma."
"Iya, Mi. Tapi apakah Grace atau Raceh, Mi. Yang akan kita jodohkan dengan Zefki?" Seru, Tuan Kenan.
"Wah soal itu kita serahkan kepada Zefki saja, Pi. Dia mau pilih siapa, nanti kita tunjukkan foto kedua anak kita. Tapi, Pi. Mami ragu dengan Grace. Papi tahu kan anak itu masih sedikit manja beda jauh dengan Raceh yang lebih mandiri. Walaupun Grace lebih dewasa umurnya dari Raceh. Tapi Grace lebih kekanakkan, Pi."
"Ya sudah, Mi nanti kita bicarakan lagi." Sela, Tuan Fidel.
Demikianlah sekilas dari profil perusahaan kami ZR TBK, terimakasih." Saking asyiknya kedua suami istri itu mengagumi Zefki, sampai-sampai mereka tidak sadar jika pemuda itu, telah selesai memperkenalkan perusahannya.
Tiba saatnya waktu makan siang, seluruh petinggi ZR Group juga ikut. Tidak terkecuali Zefki, juga ikut serta. Tamu tadi itu, makan satu meja dengan Zefki dan kedua orang tuanya.
Disaat Zefki sedang asyik makan. Nyonya Santi, menyela,
"Nak Zefki, kalau boleh Tante tahu, umur kamu berapa?"
Namun disaat Zefki hendak menjawab, Nyonya Clement malah menyahut,
"Oh, Zefki tahun ini berusia tiga puluh tahun, Jeng."
"Wah cukup matang, ya."
Lalu Nyonya Santi, berkata lagi,
"Apakah Nak Zefki, sudah memiliki kekasih?" Namun lagi-lagi nyonya Clement yang menjawab,"
"Kebetulan sekali, Jeng. Zefki masih jomlo." Tutur, sang ibu.
Perkataan Nyonya Clement itu, berhasil membuat Zefki menatap tajam ke arah ibunya.
Menyadari akan hal itu, Tuan Kenan segera berkata,
"Sudah-sudah nanti saja membahas yang lain, kita fokus makan siang dulu."
Sementara itu di sebuah rumah,
Seorang gadis bernama Grace sedang menangis terisak di pangkuan adiknya.
"Hiks, Raceh. Berapa lama sih, Papi dan Mami sibuk terus di luar rumah? Apakah mereka itu, tidak rindu dengan kita, anak-anaknya?" Ucap Grace, kepada adiknya.
Lalu sang adik, menjawab,
"kakak kok ngomong gitu sih, Kak. Kan Papi sudah jelasin jika mereka sibuk untuk urusan bisnis dan juga untuk kemajuan perusahaan Papi. Kakak tahu sendiri perusahaan papi lagi mengalami masa-masa sulit, seharusnya kita memberi dukungan kepada mereka." Tukas, Raceh.
"Tapi kan, Papi dan Mami terlalu lama meninggalkan kita. Biasanya Papi saja yang sibuk, ini kok Mami ikut-ikutan juga." Seru, Grace.
"Sudah deh, Kak. Jangan menggerutu seperti itu, mending kita doain Papi dan Mami berhasil menyelesaikan masalah perusahaan."
Raceh Pratista demikian nama gadis cantik itu, beumur dua puluh tiga tahun, dan baru lulus dari kuliahnya di sebuah Universitas Negeri di Jakarta. Raceh merupakan anak bungsu dari Tuan Fidel dan Nyonya Santi.
Raceh adalah seorang perempuan yang memiliki pribadi pendiam, tidak banyak bicara dan sedikit pemalu. Tapi walaupun begitu, dia memiliki sifat yang lebih dewasa dalam berpikir dibandingkan dengan kakaknya, Grace.
Sifatnya yang dewasa itu, membuat Raceh lebih disukai oleh kedua orang tuanya. Karena Raceh lebih mandiri dibandingkan dengan Grace. Tapi bukan berarti kedua orang tua mereka, membagi kasih sayang kepada keduanya.
Sementara sang kakak. Grace Pratista, berusia dua puluh lima tahun. Saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan, sebagai seorang asisten manager. Grace memiliki sifat yang manja. Namun dia tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya. Grace telah memiliki seorang kekasih bernama Roy. Tapi mereka pacaran jarak jauh karena Roy bekerja sebagai seorang tenaga ahli di sebuah perusahaan di Belanda, dan hal itu tidak diketahui oleh kedua orang tua mereka.
Sebuah dering telepon yang melengking mengejutkan Raceh. Lalu dia segera mengambilnya dan melihat di layar ponselnya jika sang mami yang menelepon.
Raceh"Halo, Mi. Apa kabar? Papi juga apa kabar?"
Mami Santi " Halo, Raceh. Papi dan Mami sehat, kok. bagaimana kabar kalian? ke mana kakakmu, Grace dari tadi Mami telepon. Kok kakak tidak angkat?"
Raceh"Oh iya, Mi. Kakak sudah tidur di kamarnya, dari tadi kakak nungguin kabar dari Papi dan Mami.
"Waduh, tadi Papi dan Mami rada sibuk."
Raceh"Mi, kapan nih Papi dan Mami urusannya selesai semua?"
Mami Santi "Besok, Papi dan Mami akan pulang ke rumah dan juga kebetulan kolega Papi akan ikut bertamu ke rumah kita."
Raceh "Mereka itu siapa, Mi? apakah investor yang akan membantu perusahaan Papi?"
Mami Santi"Iya, Raceh. Ya sudah sampai besok, ya. Jangan lupa kasi tahu kakakmu, Grace."
Lalu Nyonya Santi mematikan sambungan teleponnya.
Sementara Raceh saat ini sedang menyetrika pakaiannya yang akan dia pakai besok untuk bekerja.
Seminggu sudah Raceh telah bekerja sebagai pegawai tidak tetap di sebuah perusahaan ZR TBK, dan dia di tempatkan di bagian administrasi yang mengurus surat masuk dan surat keluar pada perusahaan tersebut.
Raceh dan Grace adalah anak-anak yang cerdas. Mereka tamat kuliah tepat waktu. Maka tidak heran jika keduanya secepat kilat, diterima untuk bekerja di perusahaan-perusahan besar yang ada di Jakarta.
Ayah mereka, Tuan Fidel. Memiliki perusahaan kecil yang bergerak dalam bidang property. Namun yang saat ini sedang mengalami kerugian akibat investor yang tiba-tiba memutuskan kontrak kerja.
Sekitar tiga bulan yang lalu Tuan Fidel mendapat undangan dari sahabatnya, Tuan Kenan untuk mengunjungi perusahaannya. Oleh karena itu Tuan Fidel dan Nyonya Santi, bisa datang ke sana.
Hari ini hari Sabtu, seperti yang Nyonya Santi katakan. Jika hari ini, mereka akan kembali pulang ke rumah.
"Ra, jam berapa Papi dan Mami nyampai ke rumah?" Tanya, Grace.
"Mungkin agak siangan sih, Kak. Lho, Kakak kok sudah berpakaian rapi gitu. Memangnya kakak mau ke mana? kemarin kakak nangis-nangis. Karena kangen sama Mami dan Papi, ini kok kakak malah, pergi?" Tanya, Raceh.
Lalu, Grace menyahut,
"Itulah, Ra. Kakak hari ini ada acara kantor di Bogor. Kakak jadi perwakilan dari kantor. Yah mau nggak mau, kakak harus mengikuti acara itu. Tapi Kakak sudah kasi tahu Mami sih, Ra. Tadi subuh, melalui chat."
Saat Grace berpamitan untuk pergi ke BogorRaceh pun menuju ke dapur untuk melihat apa saja menu yang sudah dimasak oleh Bik Tina, asisten rumah tangga di rumahnya.
Raceh pun membantu asisten rumah tangganya di dapur menyiapkan bahan makanan untuk makan siang nanti.
"Bibik, apa semua udah kelar masaknya?" Tanya Raceh, kepada Bik Tina.
"Masih belum, Non. Bibik bingung mau masak apa." Sela, Bik Tina.
"Ya, sudah. Aku bantuan bibik memasak, ya?" Ucap, Raceh.
"Wah terima kasih, Non." Tukas, Bik Tina.
Hari ini hari Sabtu, kantor tempat kerja Raceh libur, tiap weekend. Jadi hari ini, Raceh di rumah saja dan membantu Bik Tina, memasak.
Satu jam berkutat di dapur. Akhirnya semua masakan terhidang di meja. Raceh merasa puas dengan hasil masakannya bersama, Bik Tina.
Raceh sejak kecil, menyukai waktu untuk memasak. Dia sering menonton channel memasak dan mencoba resep-resep baru. Oleh karena itu, Raceh sudah sangat terbiasa memasak.
Berbeda jauh dengan Grace yang paling tidak suka hal-hal yang berbau dapur dan sejenisnya.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Itu artinya sekitar setengah jam lagi kedua orang tuanya, bersama tamu tersebut akan tiba di rumahnya.
Raceh pun pamit kepada Bik Tina untuk membersihkan dirinya ke kamar pribadinya untuk mandi.
Sehari sebelumnya,
"Pokoknya Mami nggak mau tahu kamu harus ikut ke rumah kolega Papi!" Ucap Nyonya Clement, kepada putranya, Zefki.
"Tapi, Mi. Besok aku ada banyak pekerjaan yang deadline. Masa Mami maksain aku harus ikut?"
Ketika itu, Tuan Kenan masuk ke dalam kamar anaknya. Karena mendengar perdebatan istrinya dan sang putra.
Lalu sang ayah berkata,.
"Papi mau, kamu ikut ke rumah Om Fidel."
"Apa-apan sih, Papi! Besok aku sangat sibuk, Pi."
"Tunda semuanya. Ini demi masa depanmu juga!" Tegas sang ayah, lagi.
"Jangan menyusahkan, Mamimu!" Setelah berkata begitu, Tuan Kenan pun berlalu keluar dari kamar anaknya. Sambil mengedipkan satu mata kepada istrinya dan dibalas dengan Nyonya Clement yang mengacungkan kedua jari jempolnya. Menandakan jika rencana mereka berhasil.
"Mami sangat senang. Kamu jadi patuh begitu." Tukas, sang ibu.
Zefki hanya terdiam. Dia lalu merasakan tiba-tiba perutnya, sakit. Dirinya pun, berkata, "Mi ... tolong bilangin Bik Yati untuk memasak nasi goreng dan membawanya ke kamar. Aku lapar banget." Seru Zefki, sambil mengusap perutnya.
" Baiklah Zefki. Jangan lupa ya kamu setel alarm jangan sampai telat bangun, besok."
Kediaman Pratista,
Pukul setengah satu siang, kedua orang tua Raceh, berserta Tuan dan Nyonya Harol sampai di kediaman koleganya.
Mereka dipersilahkan masuk oleh Bik Tina. Sedangkan Raceh masih berada di dalam kamarnya.
Mereka pun masuk dan berbincang-bincang di ruang keluarga, sambil meneguk teh.
"Kenan, saya sangat berterima kasih atas bantuan mu pada perusahaan saya. Tanpa campur tanganmu, saya pasti tidak bisa melewati masa-masa sulit ini." Seru, Tuan Fidel.
"Tidak masalah, Fidel. Kan sebentar lagi kita juga akan menjadi keluarga, kamu tidak perlu sungkan begitu." Sela, Tuan Kenan.
"Ngomong-ngomong, Nak Zefki ke mana?" Tanya Nyonya Santi.
"Iya nih, Jeng. Tadi tiba-tiba Zefki langsung ditelepon oleh temannya katanya penting. Tapi setelah itu, dia akan menyusul ke sini kok, tadi saya sudah memberi tahu alamat ini." Tutur, Nyonya Clement.
"Mi, anak-anak di mana kok nggak kelihatan?" Seru Tuan Fidel, kepada istrinya.
"Iya nih, Pi. Tadi pagi Grace chat Mami katanya dia ada kerjaan kantor." Seru, Nyonya Santi.
"Oh iya, Jeng. Grace itu, anak sulung kami. Dia berumur dua puluh lima tahun, dan Si bungsu, Raceh berumur dua puluh tiga tahun. Raceh lagi di kamar. Tukas Nyonya Santi, kepada Nyonya Clement.
Lalu dari arah samping Raceh datang dengan setengah berlari,
"Mami ... Papi kapan datang? Aku kangen." Raceh segera memeluk ibunya dan juga ayahnya. Raceh tidak sadar, jika ada orang lain di situ.
Lalu ayahnya berkata,
"Hei, kamu ini udah kangen banget rupanya sampai nggak tahu ada Om dan Tante juga di sini."
"Eh maaf ... Mi, Pi." Seru Raceh dan dia pun memberi salam kepada, Tuan dan Nyonya Harold.
"Apa kabar Om dan Tante?" Sapa, Raceh.
Tuan dan Nyonya Harold, sangat kagum dgn paras Raceh yang cantik dan juga terkesan ramah.
Lalu Nyonya Clement berkata,
"Apa kabar Raceh, kamu sangat cantik sekali."
"Baik ... Tante. Terima kasih." Seru Raceh, sambil tersenyum.
Lalu Tuan Fidel menimpali,
"Karena sudah siang baiklah, mari kita makan."
Lalu mereka pun menuju ke ruang makan, di sana semua telah tersedia, hidangan khas Indonesia.
Raceh melayani mereka di meja makan. Nyonya Clement seakan terkagum-kag dengan sikap dan gerak-gerik Raceh, menjamu mereka.
"Wah-wah sepertinya makanan kita sangat lezat. Ini yang masak siapa?" Tanya, Tuan Kenan.
"Sa-ya, Om." Jawab, Raceh.
"Raceh, kamu pinter memasak?" Tanya, Nyonya Clement.
"Masih belajar, Tante." jawab Raceh, merendah sambil tersenyum.
"Iya, Jeng. Raceh memang jago memasak. Semua hasil masakannya pasti enak." Seru, Nyonya Santi.
"Kalau begitu, Raceh mau yah jadi calon mantu, Tante? Itu lho anak Tante lagi cari-cari jodoh," Raceh pun seakan kaget, dengan ucapan Nyonya Clement.
"Sudah-sudah nanti ngobrol lagi, mari kita santap hidangan ini, dulu." Seru, Tuan Kenan.
Raceh pun kembali tersenyum dan bertanya-tanya di dalam hatinya, maksud perkataan Nyonya Clement.
Hanny seakan ingat perkataan ibunya, tentang keadaan perusahaan ayahnya dan ada seseorang yang ingin membantu ayahnya. Akan tetapi dengan syarat salah satu dari mereka, Grace atau Raceh akan dijodohkan dengan anak dari orang itu.
"Raceh, kamu kok nggak bareng makan, Nak?" Perkataan Nyonya Clement, seakan menyentaknya dari lamunannya, tentang perjodohan itu.
"Iya ... Tante. Jangan sungkan, tadi aku sudah duluan makan." Jawabnya.
Setelah acara makan selesai, mereka kembali berbincang di ruang keluarga membahas tentang kerja sama bisnis. Lalu tiba-tiba telepon genggam Nyonya Clement berbunyi dan tertera nama putranya.
Zefki : "Mamiku, Sayang. Sepertinya aku tidak bisa ke sana. Maaf ya, Mi. Aku ada urusan penting saat ini."
Lalu Nyonya Clement membalas pesan dari anaknya,
Mami Clement : "Mami nggak mau tahu jam tujuh malam kamu harus sudah sampai di rumah!"
Nyonya Clement terus menunggu balasan pesan dari putranya. Tapi tidak kunjung datang.
"Duh ... anak ini!" Keluh Nyonya Clement.
"kenapa, Mi?" Seru Tuan Kenan, setengah berbisik.
Nyonya Clement lalu berkata kepada suaminya. Jika putra mereka, tidak akan ke sini. Tuan Kenan menjadi geram mendengarnya.
"Gini lho, Jeng. Sepertinya, Zefki berhalangan datang, dia tiba-tiba ada meeting penting dengan rekannya." Nyonya Clement terpaksa berbohong, saat ini.
"Iya nggak apa-apa, Jeng. Lain kali, Nak Zefki, bisa main ke sini." Seru Nyonya Santi, dengan nada setengah kecewa. Karena dalam hatinya, juga menginginkan Zefki, menjadi menantunya.
"Tapi, Jeng. Bisa nggak nasi goreng yang kita makan tadi saya bawa pulang sebagian? Soalnya, putra kami, sangat menyukai nasi goreng." Tukas, Nyonya Clement.
"Bisa kok, Jeng. Nanti saya suruh Raceh untuk membungkusnya." Jawab, Nyonya Santi.
Di dapur, Raceh terlihat sedang sibuk menyiapkan nasi goreng untuk dibawa pulang oleh Nyonya Clement.
Pukul empat sore suami istri itu pun berpamitan kepada Tuan dan Nyonya Pratista. Begitu juga dengan Raceh, turut mengantar mereka pulang sampai ke pintu depan.
Nyonya Clement tidak pernah lepas melirik kearah Raceh. Yang sontak membuat gadis itu merasa sedikit risih dan hanya membalasnya dengan tersenyum ramah.