Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo

Dunia Mimpi Para Jomblo

8.1 / 10.0
Pasca-kelulusan kuliahnya di Bandung, Rino Rahman sangat mendambakan kehadiran cinta yang belum pernah ia rasakan. Di tengah kesepian itu, muncul sosok misterius yang menawarkan jalan pintas untuk menggapai asmara lewat dunia mimpi. Rino pun dihadapkan pada ketidakpastian: apakah tawaran tersebut benar-benar nyata atau sekadar janji palsu? Temukan kisah unik Rino dalam menembus batas antara kenyataan dan fantasi demi menemukan cinta sejatinya.

Dunia Mimpi Para Jomblo Bab 1

“Selamat ya nak. Akhirnya wisuda juga,” ungkap Ibu dan Bapak menghampiriku.

Kami berpelukan dengan sumringah, aku terharu dalam pelukan itu. Kemudian kami mengadakan sesi foto bersama di halaman depan universitas. Lelaki berkacamata yang memberikan jasa fotografi pun sudah siap dengan kamera dilengannya.

“Cissss,” ujar lelaki berkacamata.

“Cissss,” Kami bertiga mengikuti arahannya.

Momen bahagia pada saat itu, sudah aku abadikan didalam potret dan tergantung pada dinding rumah yanng kokoh.

“Hey, malah bengong, ayo bantu ibu sama bapak beres-beres disana,” Ibu menepuk pundaku.

Aku kaget. Seketika khayalan yang kunikmati saat itu buyar. Aku tersadar dari khayalan, mataku sedang melihat foto wisuda yang tergantung di dinding.

“Ayo cepat, bapak udah nungguin disana,” Ibu menegur kembali.

“Iya bu,” Jawabku ketus.

Kemudian aku mengambil wadah berbentuk kotak yang berisi barang-barang yang sudah disiapkan oleh bapak di meja dan kemudian membawanya pergi bersama ibu ke tempat bapak berada.

***

Rino Rahman, sebuah nama yang diberikan oleh Bapak dan ibu kepadaku, saat aku masih kecil. Aku adalah satu-satunya anak yang tuhan titipkan pada mereka berdua. Karena itulah, mereka sangat berharap terhadap kesuksesanku di masa mendatang terjadi. Segala cara telah mereka lakukan untuk membiayaiku sekolah sampai aku lulus sarjana. Keluargaku mengelola restoran kecil yang khusus menyediakan bubur ayam, yang didirikan saat aku berumur 4 tahun. Bubur ayam kita, adalah nama restoran kecil tersebut, bertempat di sisi kanan rumah kami. Pelanggan kami sudah lumayan banyak karena mungkin sudah terkenal dari dulu.

***

Sesampainya kami berdua di restoran kecil keluargaku, aku langsung meletakan barang yang kubawa ke lantai.

“Ini barangnya pak,” Kataku setelah meletakan wadah berbentuk kotak itu.

“Oh iya,” Balas bapak mengangguk.

“Coba bapak cek dulu,” ucap bapak menghampiri wadah berbentuk kotak itu.

Kemudian bapak mengecek dan mengeluarkan barang-barang tersebut dari dalam wadah. Dia merasa ada barang yang belum terbawa.

“Sendok sama garpu mana?” Tanya bapak mencari-cari.

“Mungkin bapak lupa memasukannya kedalam wadah,” Jawabku melihat barang-barang yang sudah dikeluarkan oleh bapak.

“Tidak mungkin nak. Bapak ingat, sudah bapak masukan kedalam wadah satu lusin sendok dan garpu,” Tegas bapak sambil mencarinya.

“Ini ada sama ibu pa,” ucap ibu dengan santainya.

Aku dan bapak langsung melihat ke arah ibu dan terdiam.

“Kenapa? Kok pada diam?” Tanya ibu melihat kami berdua yang terdiam melihatnya.

“Aduh bu, kenapa enggak bilang dari tadi kalau sendok sama garpunya ibu yang bawa,” Kataku membalas pertanyaan ibu.

“Ya kan tadi kamu sama bapak enggak nanya ibu no,” Jawab ibu.

“Yang seperti itumah langsung aja kasih tau bu, tidak perlu nunggu ada yang nanya sama ibu dulu,” Aku membalas perkataan ibu dengan wajah yang sedikit kesal.

“Jadinya kan, waktu kita terbuang cuma-cuma,” Sambungku mengeluh.

“Sudah, sudah,” ucap bapak sambil membereskan barang-barang.

Setelah kami berdua membereskan barang-barang yang diacak-acak oleh bapak. Kemudian aku dan bapak menata barang-barang yang dibawa tadi pada tempat yang seharusnya dan ibu mengambil bubur dan bahan-bahan lainnya kembali ke rumah.

Restoran kecil bubur ayam kami, kembali di buka setelah 3 hari tutup karena adanya acara wisuda, ibu dan bapak pergi untuk ikut berpartisipasi mengikutinya dengan dibarengi tujuan lainnya yaitu melihat anak tunggalnya memakai toga. Tentu saja bapak dan ibu tidak akan melewatkan acara yang bersejarah itu begitu saja. Anak tunggalnya menjadi yang pertama di keluarganya yang mendapatkan gelar sarjana.

Sekejap, hawa dingin tiba-tiba menyengat, membuat tubuhku sampai berlari kedinginan kedalam rumah. Aku kembali ke restoran kecil dengan mengenakan jaket hoodie berwarna biru. Aku juga membawa jaket untuk bapak.

“Pak, ini pakai dulu,” ucapku sambil menyodorkan jaket.

“Haturnuhun,” balas bapak berterimakasih.

“Sudah beberapa hari ini cuacanya kok begini terus ya pak?” Tanyaku menyilangkan tangan kedinginan.

“Apa kamu kedinginan?” Bapak bertanya balik.

“Tiii..tidak,” Jawabku gugup tersenyum.

“Lalu kenapa kamu menyilangkan tanganmu seperti itu?” Tanya bapak kembali.

Aku hanya terdiam dan membalasnya dengan senyuman.

“Awas, awas, awas, awas,” teriak ibu yang berjalan sambil membawa panci yang berisikan bubur didalamnya.

Kemudian ibu meletakan panci itu pada tempatnya dan menyuruhku untuk memgambil bumbu yang sudah disiapkannya di rumah.

“No, ambil bumbunya di rumah,” ucap ibu.

“Iya bu,” Jawabku mengangguk.

Lalu aku langsung bergegas mengambilnya, meninggalkan ibu dan bapak di tempat itu.

“Sudah beberapa hari ini cuacanya kok begini terus ya pak?” Ibu tiba-tiba bertanya.

“Hah,” Bapak kaget mendengar pertanyaan yang diajukan ibu.

“Aku tadi tanya sama bapak, sudah beberapa hari ini cuacanya kok begini terus? Begitu,” Ibu menjelaskannya.

“Deja vu,” bapak membalasnya dengan pelan dan singkat.

“De..de..de apa?” Ibu kembali menanyakannya dengan penasaran.

Sementara itu aku sudah kembali dengan membawa wadah yang berisikan bumbu.

“Ini bumbunya bu,” ungkapku yang membuyarkan rasa penasaran ibu pada perkataan bapak.

“Eh,” ucap ibu terkaget.

“Kamu kaya jurig aja, tiba-tiba udah ada di belakang ibu,” Sambungnya menatapku.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya itu.

“Tuh, letakan disitu,” ucapnya menyuruhku.

Dan tiba-tiba setelah aku meletakannya, air hujan mulai berjatuhan sedikit demi sedikit. Dan Pemandangan langit begitu menyeramkan, tidak layak dipandang oleh seseorang yang sedang berbunga-bunga.

“Padahal baru jam setengah 7 pagi tapi langit sudah menurunkan air matanya, aku sedikit kesal,” ucapku berbicara sendiri dengan nada kesal.

“Huss ah, hujan itu berkah dari tuhan. Jangan menyesalkan hujan yang turun,” kata bapak menimpaliku.

Aku hanya mengangguk-anggukan kepala sesaat setelahnya.

Kreeeettttttttttt

Pintu masuk terbuka. Seseorang masuk ke dalam restoran kecil keluargaku dengan pakaian yang serba putih.

Dia tersenyum kemudian bertanya.

“Apa restoran ini sudah buka?”

“Selamat datang,” Kami bertiga mengucapkannya dengan serempak.

Kemudian aku yang lebih dekat dengan pintu masuk segera menghampirinya.

Seorang pria dengan tinggi sekitar 172 cm, memakai pakaian dan celana putih polos, rambutnya rapih tersisir ke kanan dan tangannya memegang payung yang sedikit terkena cipratan air hujan.

“Simpan saja payungnya di situ,” Teriakku menunjuk tempat penyimpanan payung yang berada di dekat pintu masuk.

“Ah, oke, oke,” Balasnya sambil meletakan payung.

Setelah itu kami berdua saling melemparkan senyum.

“Silahkan duduk,” ucapku tersenyum.

“Terimakasih,” Balasnya tersenyum.

Kemudian setelah aku mempersilahkannya duduk, aku mengambil daftar menu makanan yang sedang dipegang oleh ibu.

Restoran kecil milik keluargaku ini hanya memfokuskan pada makanan bubur ayam jadi dalam daftar makanan itu tidak ada menu makanan lain selain bubur ayam. Untuk minuman ada berbagai jenis minuman, mulai dari jus sampai dengan susu.

“Silahkan,” Aku menyodorkan daftar menu makanan itu.

“Ah, terimakasih,” Balasnya mengangguk-anggukan kepala.

Kemudian dia membuka daftar menu makanan itu.

“Oh, apa disini hanya menyediakan bubur ayam?” Tanyanya dengan wajah yang kaget.

“Iya,” jawabku tersenyum.

“Bubur ayam a..aageung?” Tanyanya keheranan.

“Ageung. Ageung itu bahasa sunda?” Dia bertanya kembali.

“Iya,” jawabku singkat.

“Oh, apa kamu bisa menjelaskan makanan yang ada dalam daftar ini? aku tidak bisa bahasa sunda,” Tanyanya sambil tersenyum.

“Tentu!” Aku kembali menjawabnya dengan singkat.

“Oke. jadi di dalam daftar menu makanan ini, ada tiga hidangan/makanan yang bisa anda nikmati. Tetapi ketiga-tiganya itu adalah bubur ayam. Bumbu untuk bubur ayam kami sedikit berbeda dengan bumbu bubur ayam yang biasanya biasanya, artinya bubur ayam kami sedikit spesial dari yang lain. Pertama ada bubur ayam alit, maksud dari kata alit itu adalah kecil, jadi yang pertama itu bubur ayam dengan porsi kecil. Kedua ada bubur ayam PAS, porsi makanan bubur ayam PAS ini porsinya PAS tidak sedikit tidak banyak. Dan yang terakhir yaitu bubur ayam ageung, porsi bubur ayam ageung ini memiliki porsi makanan yang banyak,” ucapku menjelaskannya dengan detail.

“Mmmm.. mmmm,” Dia sedang memilih-milih makanan apa yang akan dia pesan.

Tidak lama kemudian dia memesan makanan dan minuman.

“Aku pesan ini,” Dia menunjuk gambar bubur ayam alit.

“Untuk minumannya aku pilih yang ini,” Sambungnya menunjuk gambar jus jeruk.

Aku menulisnya sambil mengangguk-anggukan kepala.

“1 bubur ayam alit dan 1 jus jeruk,” ucapku mengulangi apa yang dia pesan.

“That’s right,” Balasnya singkat tersenyum.

“Baik. Tunggu sebentar,” ucapku tersenyum.

Segera aku menyampaikan pesanan pelanggan kepada ibu untuk segera disiapkan. Ibu langsung membuat bubur ayam alit sementara bapak membantu menyiapkan jus jeruk. Beberapa menit berlalu, pesanan sudah siap untuk dihidangkan pada pelanggan. Kemudian dengan segera aku membawanya kepada pelanggan.

“1 bubur ayam alit,” ucapku sambil meletakan bubur ayam alit itu di mejanya.

“Dan 1 jus jeruk,” Sambungku meletakannya.

“Oke terimakasih,” balasnya tersenyum.

Tiba-tiba saja ibu berteriak memanggil namaku.

“Rino! ibu mau beres-beres rumah dulu. Kamu jangan kemana-mana,” Teriaknya.

“Bapak juga mau ke kamar mandi dulu” ungkap bapak berjalan keluar.

“Iya, siap,” aku membalasnya.

Setelah itu aku berencana pergi ke tempat kasir untuk menunggu dia menghabiskan makanannya. Kaki kanan kulangkahkan tapi tiba-tiba dia memanggilku.

“Hei!” ucapnya.

Aku kaget dan aku langsung memandang ke arahnya. Kemudian aku mencoba melihat bubur ayam dan jus jeruknya tidak disangka ternyata sudah habis. Mungkin dia ingin membayar makanannya pikirku. Tiba-tiba dia menanyakan hal yang aneh.

“Apa kamu ingin merasakan jatuh cinta?” tanyanya menatapku tajam.

“Hah! apa maksudmu?” Aku kaget dan balik bertanya.

“Aku tahu apa yang sedang kamu inginkan sekarang,” Ucapnya sambil menunjuku.

Aku hanya menatap matanya dan terdiam membisu, dengan diselimuti rasa gugup. Kemudian dia melanjutkan perkataannya tentang apa yang sedang aku inginkan sekarang.

“Jatuh cinta bukan?” Tanyanya sambil tersenyum.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Dunia Mimpi Para Jomblo

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya yang koma, tetapi saat terbangun, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan umum. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Di hari pernikahan, ia tega membuangku di jalan tol demi Stella. Akhirnya, aku memilih pergi meninggalkan semuanya menuju bandara.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung petaka. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke pusaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi makian dan adegan dewasa, gadis lugu ini terperangkap dalam cinta segitiga yang rumit bersama dua pria. Simak perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ekstrem ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa mendampingi pria yang dahulu pernah ia hancurkan hidupnya. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, mampukah ketulusan Nada melunakkan dinginnya kebencian Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf justru berujung sia-sia?
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita kontroversial yang kerap dicap perusak hubungan, bertekad mengubah hidupnya. Demi belajar dari desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menerjang musim dingin utara yang ekstrem. Sialnya, Amber dirampok hingga tersesat di tengah hutan beku. Harapan hidupnya kini bergantung pada Tuan Dingin, duda misterius pembenci wanita yang dirumorkan sebagai kanibal. Bisakah Amber menaklukkan hati pria tersebut, atau ia justru akan menjadi korban dari kebenciannya?
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Puluhan ribu anak berusia di bawah sepuluh tahun berkumpul khidmat di Puncak Lundao, Pulau Sepuluh Ribu Binatang. Sebagai murid baru yang telah menemukan akar spiritual mereka, mereka menyimak kisah dari tetua berjubah hijau. Ia menceritakan sejarah sekte yang dirintis oleh sang pendiri legendaris, Wan Beast Immortal Li. Sebelum meraih keabadian, Li hanyalah seorang kultivator biasa dari Kerajaan Qin di Alam Qianyang.
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Kehidupan pernikahan Dewi yang semula tenang seketika runtuh setelah ia mendapati benda asing milik seorang wanita di koper suaminya. Kejadian tak terduga ini menuntunnya mengungkap berbagai kebusukan dan rahasia kelam yang selama ini disembunyikan sang suami dengan rapi. Terluka akibat perselingkuhan tersebut, Dewi kini dihadapkan pada pilihan hidup yang berat. Apakah ia akan pasrah menerima rasa sakit, atau justru memilih bangkit untuk membalas dendam?

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED