“Selamat ya nak. Akhirnya wisuda juga,” ungkap Ibu dan Bapak menghampiriku.
Kami berpelukan dengan sumringah, aku terharu dalam pelukan itu. Kemudian kami mengadakan sesi foto bersama di halaman depan universitas. Lelaki berkacamata yang memberikan jasa fotografi pun sudah siap dengan kamera dilengannya.
“Cissss,” ujar lelaki berkacamata.
“Cissss,” Kami bertiga mengikuti arahannya.
Momen bahagia pada saat itu, sudah aku abadikan didalam potret dan tergantung pada dinding rumah yanng kokoh.
“Hey, malah bengong, ayo bantu ibu sama bapak beres-beres disana,” Ibu menepuk pundaku.
Aku kaget. Seketika khayalan yang kunikmati saat itu buyar. Aku tersadar dari khayalan, mataku sedang melihat foto wisuda yang tergantung di dinding.
“Ayo cepat, bapak udah nungguin disana,” Ibu menegur kembali.
“Iya bu,” Jawabku ketus.
Kemudian aku mengambil wadah berbentuk kotak yang berisi barang-barang yang sudah disiapkan oleh bapak di meja dan kemudian membawanya pergi bersama ibu ke tempat bapak berada.
***
Rino Rahman, sebuah nama yang diberikan oleh Bapak dan ibu kepadaku, saat aku masih kecil. Aku adalah satu-satunya anak yang tuhan titipkan pada mereka berdua. Karena itulah, mereka sangat berharap terhadap kesuksesanku di masa mendatang terjadi. Segala cara telah mereka lakukan untuk membiayaiku sekolah sampai aku lulus sarjana. Keluargaku mengelola restoran kecil yang khusus menyediakan bubur ayam, yang didirikan saat aku berumur 4 tahun. Bubur ayam kita, adalah nama restoran kecil tersebut, bertempat di sisi kanan rumah kami. Pelanggan kami sudah lumayan banyak karena mungkin sudah terkenal dari dulu.
***
Sesampainya kami berdua di restoran kecil keluargaku, aku langsung meletakan barang yang kubawa ke lantai.
“Ini barangnya pak,” Kataku setelah meletakan wadah berbentuk kotak itu.
“Oh iya,” Balas bapak mengangguk.
“Coba bapak cek dulu,” ucap bapak menghampiri wadah berbentuk kotak itu.
Kemudian bapak mengecek dan mengeluarkan barang-barang tersebut dari dalam wadah. Dia merasa ada barang yang belum terbawa.
“Sendok sama garpu mana?” Tanya bapak mencari-cari.
“Mungkin bapak lupa memasukannya kedalam wadah,” Jawabku melihat barang-barang yang sudah dikeluarkan oleh bapak.
“Tidak mungkin nak. Bapak ingat, sudah bapak masukan kedalam wadah satu lusin sendok dan garpu,” Tegas bapak sambil mencarinya.
“Ini ada sama ibu pa,” ucap ibu dengan santainya.
Aku dan bapak langsung melihat ke arah ibu dan terdiam.
“Kenapa? Kok pada diam?” Tanya ibu melihat kami berdua yang terdiam melihatnya.
“Aduh bu, kenapa enggak bilang dari tadi kalau sendok sama garpunya ibu yang bawa,” Kataku membalas pertanyaan ibu.
“Ya kan tadi kamu sama bapak enggak nanya ibu no,” Jawab ibu.
“Yang seperti itumah langsung aja kasih tau bu, tidak perlu nunggu ada yang nanya sama ibu dulu,” Aku membalas perkataan ibu dengan wajah yang sedikit kesal.
“Jadinya kan, waktu kita terbuang cuma-cuma,” Sambungku mengeluh.
“Sudah, sudah,” ucap bapak sambil membereskan barang-barang.
Setelah kami berdua membereskan barang-barang yang diacak-acak oleh bapak. Kemudian aku dan bapak menata barang-barang yang dibawa tadi pada tempat yang seharusnya dan ibu mengambil bubur dan bahan-bahan lainnya kembali ke rumah.
Restoran kecil bubur ayam kami, kembali di buka setelah 3 hari tutup karena adanya acara wisuda, ibu dan bapak pergi untuk ikut berpartisipasi mengikutinya dengan dibarengi tujuan lainnya yaitu melihat anak tunggalnya memakai toga. Tentu saja bapak dan ibu tidak akan melewatkan acara yang bersejarah itu begitu saja. Anak tunggalnya menjadi yang pertama di keluarganya yang mendapatkan gelar sarjana.
Sekejap, hawa dingin tiba-tiba menyengat, membuat tubuhku sampai berlari kedinginan kedalam rumah. Aku kembali ke restoran kecil dengan mengenakan jaket hoodie berwarna biru. Aku juga membawa jaket untuk bapak.
“Pak, ini pakai dulu,” ucapku sambil menyodorkan jaket.
“Haturnuhun,” balas bapak berterimakasih.
“Sudah beberapa hari ini cuacanya kok begini terus ya pak?” Tanyaku menyilangkan tangan kedinginan.
“Apa kamu kedinginan?” Bapak bertanya balik.
“Tiii..tidak,” Jawabku gugup tersenyum.
“Lalu kenapa kamu menyilangkan tanganmu seperti itu?” Tanya bapak kembali.
Aku hanya terdiam dan membalasnya dengan senyuman.
“Awas, awas, awas, awas,” teriak ibu yang berjalan sambil membawa panci yang berisikan bubur didalamnya.
Kemudian ibu meletakan panci itu pada tempatnya dan menyuruhku untuk memgambil bumbu yang sudah disiapkannya di rumah.
“No, ambil bumbunya di rumah,” ucap ibu.
“Iya bu,” Jawabku mengangguk.
Lalu aku langsung bergegas mengambilnya, meninggalkan ibu dan bapak di tempat itu.
“Sudah beberapa hari ini cuacanya kok begini terus ya pak?” Ibu tiba-tiba bertanya.
“Hah,” Bapak kaget mendengar pertanyaan yang diajukan ibu.
“Aku tadi tanya sama bapak, sudah beberapa hari ini cuacanya kok begini terus? Begitu,” Ibu menjelaskannya.
“Deja vu,” bapak membalasnya dengan pelan dan singkat.
“De..de..de apa?” Ibu kembali menanyakannya dengan penasaran.
Sementara itu aku sudah kembali dengan membawa wadah yang berisikan bumbu.
“Ini bumbunya bu,” ungkapku yang membuyarkan rasa penasaran ibu pada perkataan bapak.
“Eh,” ucap ibu terkaget.
“Kamu kaya jurig aja, tiba-tiba udah ada di belakang ibu,” Sambungnya menatapku.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya itu.
“Tuh, letakan disitu,” ucapnya menyuruhku.
Dan tiba-tiba setelah aku meletakannya, air hujan mulai berjatuhan sedikit demi sedikit. Dan Pemandangan langit begitu menyeramkan, tidak layak dipandang oleh seseorang yang sedang berbunga-bunga.
“Padahal baru jam setengah 7 pagi tapi langit sudah menurunkan air matanya, aku sedikit kesal,” ucapku berbicara sendiri dengan nada kesal.
“Huss ah, hujan itu berkah dari tuhan. Jangan menyesalkan hujan yang turun,” kata bapak menimpaliku.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala sesaat setelahnya.
Kreeeettttttttttt
Pintu masuk terbuka. Seseorang masuk ke dalam restoran kecil keluargaku dengan pakaian yang serba putih.
Dia tersenyum kemudian bertanya.
“Apa restoran ini sudah buka?”
“Selamat datang,” Kami bertiga mengucapkannya dengan serempak.
Kemudian aku yang lebih dekat dengan pintu masuk segera menghampirinya.
Seorang pria dengan tinggi sekitar 172 cm, memakai pakaian dan celana putih polos, rambutnya rapih tersisir ke kanan dan tangannya memegang payung yang sedikit terkena cipratan air hujan.
“Simpan saja payungnya di situ,” Teriakku menunjuk tempat penyimpanan payung yang berada di dekat pintu masuk.
“Ah, oke, oke,” Balasnya sambil meletakan payung.
Setelah itu kami berdua saling melemparkan senyum.
“Silahkan duduk,” ucapku tersenyum.
“Terimakasih,” Balasnya tersenyum.
Kemudian setelah aku mempersilahkannya duduk, aku mengambil daftar menu makanan yang sedang dipegang oleh ibu.
Restoran kecil milik keluargaku ini hanya memfokuskan pada makanan bubur ayam jadi dalam daftar makanan itu tidak ada menu makanan lain selain bubur ayam. Untuk minuman ada berbagai jenis minuman, mulai dari jus sampai dengan susu.
“Silahkan,” Aku menyodorkan daftar menu makanan itu.
“Ah, terimakasih,” Balasnya mengangguk-anggukan kepala.
Kemudian dia membuka daftar menu makanan itu.
“Oh, apa disini hanya menyediakan bubur ayam?” Tanyanya dengan wajah yang kaget.
“Iya,” jawabku tersenyum.
“Bubur ayam a..aageung?” Tanyanya keheranan.
“Ageung. Ageung itu bahasa sunda?” Dia bertanya kembali.
“Iya,” jawabku singkat.
“Oh, apa kamu bisa menjelaskan makanan yang ada dalam daftar ini? aku tidak bisa bahasa sunda,” Tanyanya sambil tersenyum.
“Tentu!” Aku kembali menjawabnya dengan singkat.
“Oke. jadi di dalam daftar menu makanan ini, ada tiga hidangan/makanan yang bisa anda nikmati. Tetapi ketiga-tiganya itu adalah bubur ayam. Bumbu untuk bubur ayam kami sedikit berbeda dengan bumbu bubur ayam yang biasanya biasanya, artinya bubur ayam kami sedikit spesial dari yang lain. Pertama ada bubur ayam alit, maksud dari kata alit itu adalah kecil, jadi yang pertama itu bubur ayam dengan porsi kecil. Kedua ada bubur ayam PAS, porsi makanan bubur ayam PAS ini porsinya PAS tidak sedikit tidak banyak. Dan yang terakhir yaitu bubur ayam ageung, porsi bubur ayam ageung ini memiliki porsi makanan yang banyak,” ucapku menjelaskannya dengan detail.
“Mmmm.. mmmm,” Dia sedang memilih-milih makanan apa yang akan dia pesan.
Tidak lama kemudian dia memesan makanan dan minuman.
“Aku pesan ini,” Dia menunjuk gambar bubur ayam alit.
“Untuk minumannya aku pilih yang ini,” Sambungnya menunjuk gambar jus jeruk.
Aku menulisnya sambil mengangguk-anggukan kepala.
“1 bubur ayam alit dan 1 jus jeruk,” ucapku mengulangi apa yang dia pesan.
“That’s right,” Balasnya singkat tersenyum.
“Baik. Tunggu sebentar,” ucapku tersenyum.
Segera aku menyampaikan pesanan pelanggan kepada ibu untuk segera disiapkan. Ibu langsung membuat bubur ayam alit sementara bapak membantu menyiapkan jus jeruk. Beberapa menit berlalu, pesanan sudah siap untuk dihidangkan pada pelanggan. Kemudian dengan segera aku membawanya kepada pelanggan.
“1 bubur ayam alit,” ucapku sambil meletakan bubur ayam alit itu di mejanya.
“Dan 1 jus jeruk,” Sambungku meletakannya.
“Oke terimakasih,” balasnya tersenyum.
Tiba-tiba saja ibu berteriak memanggil namaku.
“Rino! ibu mau beres-beres rumah dulu. Kamu jangan kemana-mana,” Teriaknya.
“Bapak juga mau ke kamar mandi dulu” ungkap bapak berjalan keluar.
“Iya, siap,” aku membalasnya.
Setelah itu aku berencana pergi ke tempat kasir untuk menunggu dia menghabiskan makanannya. Kaki kanan kulangkahkan tapi tiba-tiba dia memanggilku.
“Hei!” ucapnya.
Aku kaget dan aku langsung memandang ke arahnya. Kemudian aku mencoba melihat bubur ayam dan jus jeruknya tidak disangka ternyata sudah habis. Mungkin dia ingin membayar makanannya pikirku. Tiba-tiba dia menanyakan hal yang aneh.
“Apa kamu ingin merasakan jatuh cinta?” tanyanya menatapku tajam.
“Hah! apa maksudmu?” Aku kaget dan balik bertanya.
“Aku tahu apa yang sedang kamu inginkan sekarang,” Ucapnya sambil menunjuku.
Aku hanya menatap matanya dan terdiam membisu, dengan diselimuti rasa gugup. Kemudian dia melanjutkan perkataannya tentang apa yang sedang aku inginkan sekarang.
“Jatuh cinta bukan?” Tanyanya sambil tersenyum.
Kemarin malam tepatnya pukul 19.30 aku berkumpul dengan teman-teman di sebuah cafe, untuk merayakan keberhasilan karena telah menyelesaikan perkuliahan selama 4 tahun lamanya dan mendapatkan gelar sarjana.
Ketiga temanku bernama Rifai, Reno dan Aji. Aku merasa tidak senang saat kami berempat kumpul bersama di cafe tersebut, padahal biasanya aku yang paling senang saat kami berempat berkumpul tapi untuk hari ini rasa senang itu tidak ada, bahkan sedikitpun tidak ada. Hal yang membuatku tidak senang saat itu adalah disebabkan mereka membawa pasangannya masing-masing, hanya aku yang terlihat sendirian tidak mempunyai pasangan.
Kemudian Reno tiba-tiba mengacungkan tangannya untuk memesan minuman.
“Permisi!!” Reno sedikit berteriak.
Seorang pemuda bergegas menghampiri kami dengan membawa daftar menu makanan dan minuman.
“Iya mas,” ucap pelayan itu.
“Kami mau pesan mas,” Balas Reno tersenyum.
“Oh iya, ini daftar menunya mas,” ucap pelayan itu menyodorkan daftar menu yang dia bawa.
“Oke,” ucap Reno setelah memikirkan apa yang akan dipesan.
“Jus jeruk satu,” Sambungnya.
“Aku samain aja sama kamu,” ungkap pacar reno tiba-tiba.
Reno kemudian hanya menganggukan kepala.
“Jus jeruk dua ya mas,” ucapnya kembali.
“Kalian gimana, samain aja?” tanya Reno pada kami.
“Enggaklah, aku jus melon dua, satunya buat pacarku” ucap Aji tersenyum pada pacarnya.
“Kalau lu fai?” Tanya Reno sambil melihat kearah rifai.
“Kalau gue sama pacar gue pesen jus sirsak deh,” ucap Rifai dengan tegas.
“Kalau lu no?” Tanyanya padaku yang saat itu sedang duduk melihat sekeliling.
Aku masih memperhatikan sekelilingku. Setelah ku amati baik-baik ternyata dalam sebuah cafe tersebut. Hari itu, waktu itu, malam itu semua orang yang berada di cafe itu mempunyai pasangan lawan jenisnya masing-masing. Aku hanya bisa terdiam setelah melihat kenyataan itu.
“Disini, hanya aku yang tidak ada pasangannya?” ucapku dalam hati.
“Disini, hanya aku yang tidak ada pasangannya?” ucapku dalam hati.
“Disini, hanya aku yang tidak ada pasangannya?” ucapku dalam hati.
“Apa-apaan ini,” Sambungku berteriak kesal.
Mereka bertiga dan pacarnya, kaget setelah melihatku kesal seperti itu, dan pastinya saat itu semua orang memandangiku dengan tatapan tajam penuh penasaran.
“No, no, Rino!” ucap Aji memanggilku.
“Rino!” Pangilnya kembali dengan sedikit berteriak.
Aku terperanjat kaget.
“Ya, ada apa? Kenapa?” ucapku sambil melihat ke arah Aji.
“Lu kenapa?” Tanya Aji penasaran.
“Ah, enggak apa-apa,” Jawabku membohonginya dan kemudian tersenyum.
“Ada lagi mas yang mau di pesan?” Tanya pelayan itu pada kami.
“Eh no, lu burun pesen deh, kasian udah lama nunggu tuh,” ucap Aji.
“Lah kenapa cuman saya yang pesen? Kalian engga mau makan atau minum gitu?” Tanyaku pada mereka.
“Kita mah udah pesen dari tadi,” ucap Rifai padaku dengan wajah sedikit kesal.
“Oh, Bilang dong. Diem-diem bae,” Ungkapku.
“Dih, lu planga-plongo mulu,” Balas Rifai padaku.
“Susu soda Strawberry satu ya mas,” ucapku pada pelayan itu.
“Satu aja mas, enggak dua?” Pelayan itu malah bertanya.
“Iya satu aja, emangnya kenapa?” Tegasku sembari balik bertanya.
“Enggak, soalnya temen-temen mas pesennya dua semua,” ucapnya sambil menunjukan angka dua dengan jarinya.
Tingkahku tidak karuan setelah apa yang di ucapkan oleh pelayan itu. kemudian tiba-tiba Reno yang berada dekat dengan pelayan itu membisikan sesuatu pada telinga pelayan tersebut.
“Dia datang kesininya sendirian, dia tidak punya pasangan,” Bisik Reno pada pelayan itu.
“Tapi kan mas ini cafe khusus buat orang-orang yang mempunyai pasangan, yang single dilarang masuk,” balas pelayan berbisik pada telinga Reno.
“Harap maklum aja ya,” Reno kembali berbisik.
“Iya deh mas,” Pelayan itu kembali membalas bisikan Reno.
Setelah itu, pelayan langsung pergi ke dapurnya untuk mempersiapkan minuman yang kami pesan. Saat sedang menunggu minuman yang kami pesan, bisa-bisanya mereka tidak mengajakku berbicara dan lebih memilih untuk bermesraan dengan pacarnya di depanku. Aku sangat muak saat itu, aku menyesal karena telah ikut berkumpul bersama orang-orang ini.
Beberapa menit kemudian, minuman yang kami pesan sudah datang dan pelayan membagikannya. Obrolan pun akhirnya dibuka oleh Aji tentang masalah pekerjaan. Narulah disitu mereka serius mebicarakannya dan tidak bermesraan seperti tadi.
Kira-kira 45 menit sudah kami lewatkan bersama, berdiskusi tentang masalah pekerjaan yang akan kami jalani. Tapi kemudian tiba-tiba Aji mngeluarkan uang dari dompetnya dan meletakannya ke meja.
“Pulang duluan ya,” ucap Aji beranjak dari tempat duduknya.
“Gua juga deh, mau ada acara keluarga,” Rifai juga ikut-kutan.
“Nih,” Sambung Rifai meletakan uangnya di meja.
“Kita juga mau ada acara, nonton bioskop,” ucap Reno meletakan uangnya kemudian tersenyum pada pacarnya.
“Lu mau disini dulu no?” Tanya Aji.
“Iya,” ucapku singkat.
“Ya sudah. nanti lu bayarin sekalian kalau lu mau pulang,” Balas Aji.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala. Mereka pun pulang beriringiringan ke luar. Terlihat kemudian mereka meninggalkan tempat parkir cafe. Aku pun kembali meminum minuman yang kupesan sedikit demi sedikit. Banyak orang tiba-tiba menatapku dengan penuh rasa penasaran, karena aku nyaman dalam situasi seperti itu, aku pun langsung berjalan ke tempat kasir. Aku langsung memberikan uang yang terkumpul dimeja tadi karena menurutku uang itu sudah sesuai dengan harga yang perlu kami bayar.
“Maaf mas uangnya kurang 15 ribu,” Tiba-tiba penjaga kasir itu menegurku.
“Kok kurang mbak, saya tadi itung pas kok uangnya,” ucapku heran.
“Maaf, kurang mas,” Penjaga kasir itu kembali menegurku.
“Mana coba saya itung lagi mbak,” ucapku mengambil uang yang tadi diberikan pada penjaga kasir.
“Ini Pas ko mba uangnya,” ucapku setelah menghitung kembali uangnya.
“Maaf mas, ini kan cafe couple, cafe khusus untuk yang mempunyai pasangan, kalau ada seorang jomlo yang masuk ke dalam cafe ini dan mereka memesan makanan/minuman di cafe ini, konsekuensinya dia harus membayar 2 kali lipat dari harga tersebut. Seperti itu” Penjaga kasir itu menjelaskan peraturan cafe couple.
“Hah! ada-ada aja atuh,” Teriakku kaget kesal.
“Ya sudah nih 15 ribu,” Teriakku kesal dan pergi meninggalkan kasir.
Aku bergegas menuju pintu keluar, tapi disaat yang bersamaan orang-orang yang kulewati membicarakanku.
“Kasian ya orang itu enggak punya pasangan,” ucap seseorang sebelah kananku.
“Ngenes banget hidupnya,” ucap seseorang menertawakanku.
Saat itu yang bisa aku lakukan adalah berjalan lurus dengan pura-pura tidak mendengar apapun selama aku melangkahkan kakiku ke luar.
Setelah aku keluar dari cafe itu aku bertanya pada diri sendiri.
“Memangnya apa indahnya jatuh cinta?” Tanyaku heran.
“Memangnya aneh kalau orang sepertiku tidak mempunyai pasangan?” Tanyaku kembali.
“Memangnya aku terlihat tidak bahagia saat sedang sendirian?” Tanyaku lagi.
“I’m Fine, I’m happy,” Gumamku.
“Padahal seseorang berhak bahagia meskipun berbeda dari yang lain,” Gumamku.
Aku sangat kesal dan marah, sampai aku berpikir bahwa hal ini adalah sebuah penghinaan yang ditunjukkan kepadaku.
Aku melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan situasi, kemudian aku bertanya dengan penasaran kepada pemuda itu.
“Apa kamu bisa membantuku?” Tanyaku serius.
“Soalnya, sejak peristiwa kemarin malam, aku sampai tidak bisa tidur karena bertanya-tanya, memikirkan seperti apa perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta itu,” ucapku menatapnya.
Kemudian aku melirik ke kanan dan ke kiri lagi untuk memastikan bahwa yang ada di situ hanya aku dan dia.
“Aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta,” ucapku pelan.
“Hah, dasar orang aneh,” Ungkapnya sambil menggelengkan kepala karena tidak percaya.
Aku terdiam menunduk karena malu.
“Jadi bagaimana, apa kamu masih mau merasakan jatuh cinta?” Tanyanya.
“Aku hanya penasaran dengan perasaan orang-orang yang sedang jatuh cinta,” Jawabku menatapnya.
“Mmm, baiklah. Ayo sini, duduk dulu,” ucapnya menarik tanganku.
“Iiiya,” Kataku gugup.
Kemudian kami terdiam, timbul suasana hening dalam restoran kecil saat itu.
“Oke, aku akan mengabulkan keinginanmu,” ucapnya tiba-tiba sambil tersenyum.
“Serius?” Tanyaku.
“Ya. tentu saja serius. Apa wajahku seperti pembohong?” Jawabnya dengan bertanya balik kepadaku.
“Ah, tidak juga sih,” Jawabku mengamati wajahnya.
“Apa kamu sudah menemukan seorang perempuan untuk dijadikan teman kencanku?” ucapku pelan sambil mengamati sekeliling ruangan takut terdengar oleh Bapak dan ibu.
“Kenapa harus aku yang menemukannya. Cobalah untuk mencarinya sendiri, jatuh cinta itu perlu perjuangan. Jika kamu ingin jatuh cinta artinya kamu akan menjadi seorang pejuang,” Jawabnya menasihatiku.
“Tapi aku amatir, tidak tahu caranya dekat dengan seorang perempuan atau membuatnya senang, apalagi perempuannya itu tidak ku kenali,” Kataku jujur.
“Semua orang juga tadinya amatir, mungkin hanya keberuntungan saja yang membuat perbedaannya,” Balasnya seperti menyemangatiku.
“Tenanglah. Pengalaman menjadi seorang amatir itu adalah suatu keharusan dan sangat diperlukan” Sambungnya memegang pundaku.
“Menurutmu aku harus berpakaian seperti apa? Jaket levis dengan celana levis biru, bagus tidak? Atau memakai kaos tangan pendek warna putih dengan celana chino hitam? Atau...?” Aku terus bertanya padanya.
“Hei! tidak perlu yang wah, yang penting kamu nyaman dengan pakaianmu, itu sudah cukup,” Dia menasihatiku lagi.
“Seorang perempuan itu lebih menyukai seorang pria yang terlihat biasa dan natural. Meskipun hanya sedikit yang seperti itu,”. Sambungnya tertawa.
“Artinya aku harus berpakaian modis ya,” ucapku mengangguk-anggukan kepala.
“Tapi menurutku, jika kamu menemukan seorang perempuan yang seperti aku ucapkan tadi, kamu akan bahagianya dengannya,” Dia menimpaliku.
Aku hanya melihatnya sambil memikirkan apa baju yang harus kupakai nanti. Bapak kemudian tiba-tiba masuk dari arah pintu belakang. Dia melihat kami berdua yang sedang berbicara tentang cinta.
“Masih sepi ya nak?” Suara bapak mengagetkanku.
“Ah, i..iiya pak” Jawabku mencari dari mana suara itu berasal.
“Kenapa kamu celangak-celingukan gitu?” Bapak yang penasaran mendekati kami dan kembali bertanya.
“Enggak apa-apa pak,” Jawabku melihat bapak yang sedang berdiri di belakangku.
“Ini semuanya berapa?” Tiba-tiba pemuda itu bertanya dan beranjak dari tempat duduknya.
“Mm...satu bubur ayam alit dan satu jus jeruk, semuanya totalnya 10 ribu,” Kataku tersenyum.
“Ini uangnya,” Dia meletakannya di meja.
“Aku pergi, terimakasih buburnya,” Sambungnya, kemudian mengambil payung yang tersimpan di dekat pintu masuk.
“Terimakasih sudah datang,” ucapku sedikit menundukan kepala.
Kemudian setelah itu, aku mengambil uang yang ada di meja dan membawa mangkuk dan gelas ke dapur untuk segera dibersihkan.
“Sini biar bapak yang cuci,” ucap bapak mengambil mangkuk dan gelas dari tanganku.
“Kamu bersihkan saja meja yang tadi,” Sambung bapak.
“Iya, baiklah,” Balasku dengan pelan.
Sebelum aku membersihkan meja tersebut aku menaruh uang terlebih dahulu ke tempat kasir, kemudian bergegas pergi menuju meja pemuda tadi. Selagi aku membersihkannya aku menemukan sebuah kotak yang berukuran sebesar tangan anak SD. Pikirku sepertinya ini barang milik pemuda tadi jatuh.
“Aku harus mengembalikannya,” ucapku berdiri dan segera pergi ke luar.
“Sudah tidak ada ya?” Tanyaku melihat sekeliling.
Tiba-tiba tanganku menjatuhkan barang itu, dan terlihat bahwa yang ada didalam kotak tersebut adalah sebuah jam tangan. Dan terdapat sesobek kertas kecil didalamnya, kemudian aku membacanya.
“Jam tangan ini adalah hadiah dariku untuk mu. Pakailah, jika kamu masih ingin mengetahui seperti apa perasaan saat sedang jatuh cinta itu,” Tulis pemuda itu.
Kemudian aku melihat jam tangan tersebut dan benar saja, jam tangan itu tidak seperti jam tangan pada umumnya. Warna jam tangan itu putih dan angkanya hanya sebagian saja mulai dari angka 8 sampai angka 5, selain dari angak itu tidak ada.
“Kenapa dia memberiku jam tangan yang seperti ini?” Aku bertanya-tanya.
“No! Rino!” Bapak memanggil dari dalam.
“Iya pak, sebentar,” Balasku berteriak.
Dengan terburur-buru, aku langsung memasukan jam tangan itu ke dalam kotak yang tadi dan menyembunyikannya kedalam saku jaket.