"Woi, melamun mulu, Neng. Udah mau Ujian Nasional juga fokusnya masih lari ke mana-mana." Gadis yang ditegur itu hanya bisa tersenyum kecil kemudian bangkit berdiri setelah duduk lesehan di lantai selama hampir dua jam lamanya.
"Ribut, ah. Aku mau ke toilet dulu. Kantung kemihku tiba-tiba jadi penuh gara-gara diomelin kamu terus, Ni." Setelah berkata demikian, gadis itu lantas berjalan menuju kamar mandi tamu yang berada tidak jauh dari rumah tamu untuk menuntaskan sesak di kantung kemihnya yang sudah menjerit dan meminta untuk segera dikeluarkan.
Begitu kedua tungkai sang gadis berhenti di depan pintu kamar mandi, indra pendengarannya menangkap suatu hal yang lebih menarik dari sekadar panggilan alam yang sudah meronta di bawah sana. Ia mendengar suara yang sangat dikenalinya dari arah ruang makan.
Meskipun suara itu terdengar samar, tetapi kedua telinganya masih bisa menangkap dengan jelas suara dua orang pria yang sedang duduk di kursi bar dengan posisi yang membelakanginya saat ini. Dua pemilik punggung tegap itu adalah orang yang sangat dikenalinya, yaitu Laskar dan Kaisar.
"Ampun, Kai. Mana mau gue sama dia. Lihat wujudnya aja udah sepet duluan mata gue. Ya, kali nyokap gue sampai doain biar gue jodohnya sama dia.”
Gadis itu jelas mengenali pemilik suara yang baru saja mengatakan kalimat-kalimat tersebut pada sahabatnya.
"Awas itu mulut lo. Beneran jodoh baru nyaho lo," tegur suara lain yang dipanggil dengan sebutan ‘Kai’ tadi.
"Nggak mungkinlah. Kayak udah nggak ada cewek lain aja di dunia ini. Lagian dia masih bocah banget, mana mau gue sama bocah yang dadanya aja bahkan belum tumbuh gitu,” sahut Laskar membalas ucapan sahabatnya. "Mana lagi mukanya jerawatan, dekil, gendut lagi," lanjut suara itu tanpa tahu kalau kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya sudah membuat hati seorang gadis hancur berkeping-keping tanpa ada yang tersisa sedikit pun.
Gadis yang diam-diam sedang menguping itu hanya bisa tersenyum miris sembari menahan bulir kristal bening agar tidak meluncur dari kedua netranya.
Seharusnya kamu sadar diri dong. Dia itu ibarat pangeran yang dipuja-puja semua wanita, sedangkan kamu? Bahkan nggak lebih baik dari seorang upik abu. Benar-benar definisi yang tepat untuk menggambarkan peribahasa pungguk yang merindukan bulan, batin gadis itu bermonolog pada dirinya sendiri di dalam hati.
"Terserah lo, deh. Awas aja kena karma. Gue mah nggak ikut-ikut,” putus Kai pada akhirnya setelah menghela napas pelan karena kelakuan sang sahabat yang kerap mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya itu.
"Eh, sebentar ... gue baru sadar kalau nama kalian ada korelasinya. Laskar Pelangi. Percayalah sama gue, kalian berdua udah ditakdirkan untuk berjodoh oleh semesta."
"Angi, ayo berangkat sama aku aja biar kamu ngirit ongkos juga," teriak seorang gadis dari depan gerbang rumahnya yang berhadapan dengan rumah sang sahabat.
Teman yang dipanggil Angi itu hanya bisa menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan setelah mendengar teriakan yang baru saja meluncur dari mulut sahabatnya itu. Suara yang melengking itu sepertinya bisa terdengar oleh seluruh penghuni kompleks perumahan tersebut.
"Ih, Harmonia! Suara kamu itu kurang kencang, deh. Udah bisa buat bangunin warga sekampung, Ni," gerutu Pelangi sembari mengeluarkan sepeda motor dari pekarangan rumahnya.
Harmonia mengabaikan ucapan Pelangi. "Ngapain kamu keluarin motor itu?" tanya gadis itu sebelum menahan tangan Pelangi, mencegah untuk melanjutkan aksi mengeluarkan motornya.
"Ya, mau ke sekolah, Harmonia. Jangan-jangan kinerja otakmu mulai menurun, ya, sekarang karena diracuni drama-drama dari Negeri Ginseng itu?" balas Pelangi bertanya dengan nada jenaka di dalam suaranya.
"Heh, sembarangan kamu kalau ngomong. Iya, tau kok kamu anak akselerasi dari SD yang otaknya di atas rata-rata," balas Harmonia yang tidak terima dengan ledekan Pelangi. "Tapi ... itu nggak sopan loh, Dek Angi. Kalau mau perhitungan, seharusnya kamu manggil aku kakak loh sekarang," lanjut gadis itu sembari menaik-turunkan kedua alisnya bergantian. Kini gilirannya yang menggoda Pelangi.
Ternyata godaan yang meluncur dari mulut Harmonia sukses membuat Pelangi mencebikkan bibirnya karena apa yang baru saja diucapkan oleh gadis itu adalah sepenuhnya benar. "Iya, iya. Maaf atuh, Kak, tapi aku harus ke sekolah sekarang karena sebelum kelas nanti ada rapat di klub debat, jadi aku nggak boleh telat," jelas Pelangi membalas ucapan Harmonia sembari memasangkan helm ke kepalanya.
"Ya, udah, tapi besok sampai minggu depan kamu harus berangkat sama aku, ya. Awas aja kalau nolak!" ancam Harmonia dengan kedua netra yang menyipit seolah berniat untuk mengintimidasi sang lawan bicara. Pelangi tampak berpikir sejenak, tetapi ketika mendapati ekspresi Harmonia yang tampak seperti singa betina, mau tak mau pun ia pun akhirnya mengangguk pasrah dan menyetujui ucapan gadis itu.
Gadis itu jelas tahu kalau Harmonia adalah tipikal yang tidak bisa ditolak kemauannya. Kalau kemauannya tidak dituruti, siap-siap saja hidupmu akan diganggu oleh gadis itu sampai kamu sendiri yang akan dengan sukarela menyetujui permintannya. Pelangi paham betul watak sahabatnya itu.
*
Harmonia melangkah memasuki rumah dengan wajah yang kusut dan tertekuk. Bahkan ketika sampai di ruang makan, ekspresi wajah gadis itu masih belum berubah sedikit pun.
"Kenapa pagi-pagi mukanya udah ditekuk begitu?" tanya Rafael pada putrinya. Pria setengah baya itu langsung menghentikan acara membaca korannya dan memilih untuk menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh sang putri.
"Gara-gara Mas Laskar ini, Pa," jawab Harmonia dengan bibir yang mencebik dan ekspresi yang tidak bersahabat. Gadis itu bahkan menatap ke arah abangnya dengan pandangan yang penuh dengan ketidaksukaan, sementara pria yang ditatap oleh gadis itu hanya cuek dan pura-pura tidak merasa.
"Loh ... memangnya Mas-mu kenapa, Nak?" Kini giliran Tabitha—sang ibu yang bertanya pada gadis itu.
"Pelangi jadi berangkat sendiri gara-gara Mas Laskar bangunnya kesiangan. Sarapannya juga jadi lama," jawab Harmonia yang kini sudah duduk bersandar di kursi yang biasa ditempatinya ketika bersantap di ruang makan dengan nada menggerutu yang kentara di dalam suaranya.
Mendengar gerutuan yang baru saja dilontarkan oleh sang adik lantas membuat Laskar menoleh dengan sebelah alis yang terangkat. Terkadang pria itu heran tentang hubungan darah yang ada di antara mereka karena Harmonia tampaknya lebih sering membela Pelangi daripada dirinya. Gadis itu bahkan hampir menyangkut pautkan segala hal di dalam hidupnya dengan Pelangi sampai-sampai Laskar terkadang muak mendengar ceritanya.
"Lalu hubungan dia berangkat sendiri dengan aku apa?" tanya Laskar sebelum meneguk habis kopi hitam yang ada di dalam gelasnya.
"Kalau Mas Laskar bangunnya lebih pagi, pasti kita bisa berangkat sama Pelangi, Mas," jelas Harmonia menjawab pertanyaan Laskar dengan menggebu-gebu. Gadis itu tampaknya kesal dengan sang kakak laki-lakinya.
"Nggak ada urusannya sama aku. Dia 'kan punya kendaraan sendiri, punya kaki sendiri, ngapain juga harus nebeng sama kita terus? Nyusahin aja!" Mendengar ucapan abangnya yang dingin itu tentu saja membuat Harmonia menjadi bertambah dongkol pada Laskar.
"Tapi Pelangi baru belajar naik motor nggak sampai seminggu, Mas. Nanti kalau ada apa-apa sama dia gimana?" tanya Harmonia.
"Balik lagi, urusannya sama aku apa? Toh, dia punya orang tua, 'kan? Paling kalau ada apa-apa, ya, tinggal telepon aja orang tuanya. Gitu aja kok susah," jawab Laskar sebelum bangkit dari posisi duduk untuk meletakkan piring bekas makannya ke bak pencucian piring, meninggalkan kedua orang tuanya dan Harmonia di ruang makan.
"Kasihan abangmu, Ni. Jangan protes terus sama dia, ya, Nak," ujar Tabitha memberi nasihat seraya mengusap pelan puncak kepala putrinya itu. Sementara itu, Rafael hanya menjadi pengamat dari ujung meja makan. Pria setengah baya itu melanjutkan acara membaca korannya yang sempat tertunda tadi. Ia membiarkan sang istri saja yang memberikan wejangan pada putri bungsu mereka itu.
Harmonia hanya bisa mendengus pelan ketika mendengar ucapan Tabitha. Namun, tidak ada sedikit pun rasa iri pada abangnya atas kalimat yang baru saja meluncur dari mulut sang ibu yang seakan-akan lebih membela Laskar.
Pada akhirnya, Harmonia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa perlu meletakkan alat makannya ke bak pencucian piring karena ia sudah lebih dulu menyelesaikan sarapannya sebelum menghampiri Pelangi tadi.
Sungguh, dari semua saudaranya, Laskar inilah yang paling menyebalkan di mata Harmonia dan paling berpotensial untuk disembelih hidup-hidup. Mereka lima bersaudara dengan jarak usia yang berjauhan dan sifat yang berbeda pula. Terkadang Harmonia juga heran bagaimana cara kedua orang tuanya bisa menghadapi sifat anak-anak mereka yang terkadang kelewat absurd dan saling bertolak belakang itu.
Meskipun Sagara terkesan dingin, tetapi pria itu selalu mampu mengeluarkan kalimat-kalimat yang mengadamkan hati siapapun yang mendengarnya. Berbeda jauh dengan kembarannya, Anggara lebih ekspresif dan penuh lelucon yang mampu membuat orang-orang di sekitaranya terbahak kencang sampai sakit perut.
Beranjak dari sepasang anak kembar yang merupakan anak angkat Rafael itu, Talitha adalah tipikal wanita penuh kelamah-lembut yang selalu menjaga tutur katanya. Sementara itu, Laskar-lah yang sifat dan perkataannya sudah hampir mencapai titik minus. Sudah dingin, ketus pula. Tidak jarang kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya itu adalah kalimat sarkatis yang menyakitkan hati.
Harmonia sebagai anak bontot yang selalu ceria dan kerap bersuara bak petasan pun bisa dibuat mengeluarkan air mata oleh Laskar hanya karena satu kalimat tanpa intonasinya itu. Jadi, sudah bisa dibayangkan seperti apa pedasnya mulut pria itu? Melebihi cabai Carolina Reaper.
Laskar baru saja kembali melangkah memasuki ruang makan setelah meletakkan piring bekas makannya di bak pencucian ketika suara sang ibu tiba-tiba menginterupsi. Suara Tabitha sukses membuat pria itu mau tidak mau harus menghentikan langkahnya.
"Laskar ... Mama heran, deh. Pelangi pernah punya salah, ya, sama kamu?" tanya Tabitha pada putranya dengan nada suara pelan sembari menatap ke arah pria itu dengan penuh kelembutan. Wanita setengah baya itu baru menanyakan pertanyaan tersebut setelah memastikan bahwa Harmonia sudah benar-benar keluar dari ruang makan dan tidak akan mendengar percakapan di antaranya dan Laskar, mengingat betapa pedas dan arogannya kalimat yang bisa saja meluncur dari mulut putranya itu.
Laskar menghela napas setelah mendengar pertanyaan yang sang ibu tujukan padanya. Pria itu paling malas kalau ibunya sudah membahas perihal topik seperti ini. "Entahlah, Ma. Sepet aja mata Laskar kalau lihat wujud bocah itu," jawab Laskar cuek. "Lagi pula, memangnya Harmonia nggak bisa cari sahabat yang lebih bagus gitu?" lanjut pria itu menambahkan.
Tabitha hanya bisa melirik sang suami yang sedang membaca koran kemudian menghela napas lelah. Entah sudah berapa kali wanita setengah baya itu menegur putranya yang kerap bersikap dingin pada Pelangi, padahal gadis itu tidak melakukan apapun padanya.
Sepertinya sikap dan tutur kata Pelangi baik-baik saja selama ini, bahkan terkesan sangat sopan, meskipun siapapun dapat dengan jelas melihat bahwa ia memiliki ketertarikan pada Laskar. Pelangi adalah gadis murah senyum yang introvert, sifatnya yang agak pendiam itulah yang membuat ia dan Harmonia bisa saling melengkapi sehingga menjadi sahabat selama beberapa tahun terakhir.
"Capek aku Mas nasihatin anakmu itu. Semoga aja dia nggak kena batunya nanti," gumam Tabitha pada Rafael setelah Laskar sudah meninggalkan rumah bersama Harmonia.
*
"Mas ... nyetirnya dikencangin dong. Aku takut Pelangi kenapa-napa nanti," pinta Harmonia yang tampak gelisah di kursi sebelah kemudi. "Lagian anak itu juga nekat banget. Udah badannya pendek begitu, sok-sokan mau bawa motor lagi. Mana baru juga bisa bawa motor nggak sampai seminggu," lanjut gadis itu bergumam.
Laskar mendengus kasar di balik kemudi karena sedari tadi hanya hal itu yang diributkan oleh sang adik. "Kenapa kamu harus khawatir sama dia?" tanya Laskar dengan nada jengah yang kentara di dalam suaranya. Rasa-rasanya Harmonia lebih peduli pada sahabatnya itu ketimbang abangnya sendiri.
"Ya, karena Pelangi sahabatku," jawab Harmonia lugas. Oke, jawaban yang masuk akal.
"Lalu kenapa kamu nggak berangkat aja sama dia tadi?" Laskar bertanya.
"Tadi dia buru-buru karena harus latihan debat dulu sebelum mulai sekolah, sementara aku terlalu malas kalau harus nunggu di kelas sendirian. Lagi pula, aku juga nggak mau biarin Mas keenakan dengan nggak nganterin aku ke sekolah," jawab Harmonia dengan nada sedikit pongah di dalam suaranya, sementara kedua tangan gadis itu terlipat di depan dada.
"Mas heran banget sama kamu, Ni. Kamu punya teman sekian banyak, tapi kenapa ujung-ujungnya malah sahabatan sama si Burik itu sih? Kayak nggak ada yang mau temenan sama kamu aja, Ni," ujar Laskar tanpa menatap ke arah sang adik.
Harmonia menggeplak lengan Laskar yang sedang memegang setir kemudi. Ulah Harmonia sukses membuat Laskar menolehkan kepalanya untuk menatap ke arah gadis itu dengan kedua netra yang melotot lebar karena keseimbangan tangannya terganggu sehingga mengakibatkan mobil yang ia kemudikan sedikit melenceng dari jalur yang seharusnya.
"Kamu mau cari mati, Harmonia?" bentak Laskar pada sang adik yang kini sedang memasang wajah tengilnya di kursi samping kemudi.
"Kematian itu nggak bisa dicari, Mas. Mati itu udah takdir dan nggak bisa diatur," balas Harmoni sembari mengendikkan pundaknya seolah tidak terdistraksi oleh ekspresi marah yang kini sudah terpatri di wajah abangnya itu. Tidak ada ketakutan yang ditunjukkan oleh gadis itu ketika menghadapi Laskar. Sungguh terlalu memang.
"Berteman dengan upik abu seperti sahabatmu itu kayaknya membuat kelakuanmu semakin mirip dengannya ... menyebalkan!" balas Laskar dengan nada menggerutu.
"Memangnya kenapa kalau sahabatku kayak upik abu, Mas?" tanya Harmonia dengan nada ketidaksukaan yang terdengar jelas di dalam suaranya. Sepertinya amarah di dalam diri gadis itu mulai tersulut, terbukti dari api kemarahan yang sudah tampak pada kedua indra penglihatannya. Ia benar-benar tersinggung dengan ucapan sang abang yang terang-terangan menjelek-jelekkan sahabatnya itu.
"Pelangi juga manusia, Mas ... nggak peduli gimana rupa dia sekarang. Mas kira Mas udah ganteng dari lahir? Mas lupa gimana rupa Mas sebelum puber?" Harmonia balas bertanya dengan menggebu-gebu. "Lagian, siapa juga yang mau hidup dengan rupa jelek, Mas? Kalau bisa, semua orang juga mau cantik dan ganteng, tapi apa mereka bisa memilih dan mengatur hidup mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri?" lanjut gadis itu memberondong Laskar.
Harmonia menjeda ucapannya sejenak lalu menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan uneg-uneg yang ingin disembutkan pada Laskar. "Nggak peduli gimana pun keadaan Pelangi, dia yang selalu ada untuk aku, Mas. Di saat teman-teman yang lain mendekatiku hanya karena kekayaan Papa, tapi diam-diam menyibir sifat minusku di belakang, hanya Pelangi yang nggak melakukan itu. Jadi, tolong bilang sama aku gimana aku bisa ninggalin orang sebaik dan setulus dia?" Air mata hampir menetas dari kedua indra penglihatan Harmonia ketika menyelesaikan ucapannya.
Teman-teman dekat Harmonia saat SMP dulu melarangnya untuk berteman dengan Pelangi hanya karena fisik gadis itu. Harmonia yang sangat marah pada saat itu pun langsung meninggalkan grup yang sudah mereka bentuk sejak tahun pertama di tingkat SMP.
Jangan dipikir Harmonia tidak tahu apa yang mereka katakan di belakangnya selama ini. Teman-temannya itu berteman baik dengan Harmonia hanya karena kekayaan ayahnya dan hal itu sukses membuat Harmonia menjadi jijik pada tingkah penjilat mereka.
Selama tiga tahun, Harmonia berusaha menutup mata tentang sikap mereka yang kurang elok itu, tapi semuanya berubah ketika amarah gadis itu mencapai puncaknya, tepatnya ketika mereka duduk di bangku kelas satu SMA.
Saat itu, Pelangi menjadi murid pindahan di sekolah mereka. Entah bagaimana ceritanya, gadis itu pun akhirnya berteman dengan geng Harmonia. Namun, baru beberapa bulan berteman, hubungan pertemanan itu sudah tidak sehat.
Teman-teman Harmonia sejak SMP itu kerap menggunjingkan Pelangi. Tentu saja Harmonia tidak terima atas ulah mereka yang menghina Pelangi dan memprovokasinya untuk memutuskan hubungan pertemanan dengan gadis itu. Murka dengan tingkah mereka, Harmonia bukannya memutuskan hubungan dengan Pelangi, melainkan dengan geng-nya sejak SMP itu.
"Kalau Mas Laskar nggak bisa suka sama Pelangi, aku mohon setidaknya jangan hina dia. Aku yang dengar aja sakit hati, Mas, apalagi kalau Pelangi yang dengar pakai telinga dia sendiri." Harmonia tidak mau repot-repot mendengar balasan dari mulut Laskar. Setelah mengatakan kalimat tersebut, gadis itu pun kemudian keluar dari mobil abangnya setelah membanting pintu kendaraan beroda empat itu dengan gerakan yang sedikit kencang sehingga menimbulkan suara yang cukup kuat.
Laskar mendesis akibat ulah yang Harmonia lakukan pada mobilnya. Ia adalah tipikal orang yang menyayangi barang miliknya, terlebih lagi kendaraan beroda empat itu adalah hasil keringatnya sendiri dari upah bekerja di perusahaan ayahnya. Tentu saja perbuatan sang adik itu menyulut api kemarahan di dalam dirinya sehingga umpatan pun meluncur dari mulutnya dan memenuhi seluruh penjuru kendaraan beroda empat itu.
"Sial ... kalau bukan adikku, pasti udah aku potong tangannya itu!" desis Laskar sembari menatap punggung Harmonia yang berjalan menjauhi mobilnya.
Belum sempat Laskar menjalankan mobilnya untuk meninggalkan area lobi sekolah sang adik, kedua netranya sudah lebih dulu menangkap sosok Harmonia yang berlari kecil menuju ke arah seorang gadis. Gadis itu tampak terduduk di kursi dekat parkiran mobil. Meskipun posisi duduk gadis itu membelakangi Laskar, tetapi pria itu jelas tahu siapa pemilik punggung yang tidak terlalu mungil itu.
Harmonia tampak berjongkok di depan Pelangi dan meneliti kakinya dengan saksama. Pandangan itu tidak luput dari penglihatan Laskar yang masih setia mengamati dari balik setir kemudinya. Meski dari kejauhan, tetapi Laskar masih dapat menangkap luka yang bersarang di lutut Pelangi dan hal itu sukses membuatnya terusik. Namun, sayangnya aksi mengamati pria itu menjadi urung ketika mendengar suara klakson yang berasal dari mobil di belakang sehingga ia harus lanjut menjalankan kendaraannya dan meninggalkan area lobi sekolah itu dengan perasaan yang bahkan tidak bisa ia deskripsikan sendiri.
"Astaga, Pelangi! Tangan sama kaki kamu kenapa?" pekik Harmonia dengan suara yang sedikit melengking ketika menangkap sosok sang sahabat yang sedang duduk di kursi yang dekat dengan area parkiran sekolah mereka. Gadis itu segera berjongkok di depan kaki Pelangi untuk memastikan kondisi luka yang bersarang di sana. Harmonia bahkan sampai meringis perih ketika melihat luka yang cukup dalam itu. Parahnya, luka itu dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan apa-apa.
Anak ini benar-benar minta dihujat, gerutu Harmonia dalam hati tanpa menyuarakannya.
"Ini bisa infeksi loh," ujar Harmonia yang masih fokus meneliti luka Pelangi dan membuat gadis itu menjadi tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di area lobi sekolah itu. Pelangi segera menarik lengan Harmonia agar bangkit berdiri dari posisi berjongkoknya karena bisik-bisik di sekitaran mereka mulai tertangkap oleh indra pendengarannya.
"Ni, bangun ih. Malu dilihatin banyak orang," gumam Pelangi sembari menundukkan kepalanya agar orang-orang tidak berfokus ke arahnya dan Harmonia saat ini.
Harmonia berdecak. Namun, gadis itu tetap mengikuti ucapan Pelangi yang memintanya untuk berdiri. Sementara itu, Pelangi yang tangannya sudah ditarik kecil oleh Harmonia pun hanya bisa mengikuti langkah gadis itu, walaupun dengan kaki yang terseok-seok.
"Sabar, Ni. Pelan-pelan ... bisa putus tanganku kalau kamu tarik terus," omel Pelangi.
"Kamu itu 'kan udah aku bilangin jangan bawa motor, Angi! Kenapa bandel banget, sih?" tanya Harmonia sebal. "Udah tau badannya begitu, masih juga ngeyel. Mana kamu masih belum punya KTP. Jadi pengen aku jitak, deh, kepala pintar kamu itu," lanjut gadis itu menambahkan dengan kening yang mengerut karena sebal dengan sifat keras kepala sahabatnya.
Pelangi yang tadi meringis kini malah terkekeh kecil setelah mendengar ucapan Harmonia yang terasa lucu baginya.
"Ih, kok malah ketawa, sih," gerutu Harmonia. “Nggak ada yang lucu, Pelangi.”
"Aku cuma nggak mau nyusahin Mas Laskar," gumam Pelangi membalas ucapan gadis itu. Mereka sudah membahas ini beberapa minggu lalu, tapi Harmonia seakan-akan tuli dan tak peduli dengan protes yang kerap Pelangi layangkan padanya.
"Nyusahin gimana, sih, Angi? Mas Laskar 'kan memang mau anterin aku ke sekolah. Kamu ini ngomongnya ngadi-ngadi, deh." Harmonia tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis yang lebih muda dua tahun darinya itu.
Ia jelas tahu kalau Pelangi menyimpan perasaan pada abangnya, Laskar. Namun, melihat kepasifan gadis itu sukses membuat Harmonia merasa gemas. Makanya, tak jarang ia berusaha menjadi mak comblang di antara keduanya, meskipun Laskar kerap menolak keras, sementara Pelangi hanya bisa pasrah karena bukan cuma sekali gadis itu meminta Harmonia untuk berhenti menggodanya dengan Laskar, tetapi sudah berkali-kali. Sepertinya ucapan gadis itu hanya dianggap sebagai angin lalu oleh Harmonia.
Pelangi hanya ingin menyimpan perasaannya pada Laskar dalam diam. Meskipun terlihat pasrah dan kurang ekspresif, tetapi gadis itu diam-diam selalu mencari tahu dan mengagumi apa yang Laskar lakukan. Namun, sayangnya mulut ember Harmonia tidak bisa diajak kompromi dan meledak-ledak bagai petasan.
Sejak kapan cinta itu lebih banyak mengalah dan menyakitkan ketimbang memberi kebahagiaan? Atau memang sebenarnya begitu cara kerja cinta? Hanya menyakiti dan disakiti?
Harmonia terkadang bingung dengan otak pintar Pelangi. Gadis itu adalah yang terpintar di kelasnya, tetapi untuk masalah perasaan, Pelangi jelas nol besar. Gadis itu masih sangat awam dengan perasaan, cinta, dan sejenisnya.
"Dari cara Mas Laskar lihat aku aja udah kayak monster yang lagi mantau mangsanya, Ni. Terlebih kalau aku terus-terusan berbagi oksigen di dalam mobil yang sama dia, bisa-bisa aku dipindahin ke atas atap mobilnya," jelas Pelangi dengan nada datar, sementara Harmonia sudah terkekeh di tempatnya setelah mendengar penjelasan sang sahabat.
Pelangi mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kenapa Harmonia tertawa, padahal tak ada nada humor di dalam kalimatnya tadi. Gadi itu sungguh-sungguh ketika mengatakan Laskar akan memindahkannya ke atas atap mobil.
"Mas Laskar mana mungkin sejahat itu. Paling-paling kamu diturunin terus dikasih ongkos naik angkot-lah setidaknya," balas Harmonia sebelum kembali terkekeh, bermaksud meledek Pelangi.
"Nah daripada begitu, lebih bagus kalau aku berangkat sendiri ‘kan. Lagi pula, Mas-mu itu juga ilfeel-nya kayak udah mendarah daging sama aku,” kata Pelangi dengan volume suara yang mengecil, mirip seperti sebuah gumaman.
Harmonia yang gemas setelah mendengar ucapan Pelangi pun lantas menekan luka gadis itu lebih dalam dengan kapas yang sudah diberikan antiseptik sebelumnya.
"Harmonia!" pekik Pelangi dengan suara tertahan karena ulah Harmonia yang hampir membuatnya ingin mati karena rasa nyeri yang bertambah siginifikan di bagian lukanya.
Tangan gadis itu sontak melayang pada salah satu punggung tangan Harmonia yang sedang menganggur. "Kamu kalau mau bunuh aku, nggak kayak gini juga caranya, Oni," gerutu Pelangi dengan ekspresi masam dan cemberut di wajahnya.
"Makanya kalau ngomong itu yang bagus-bagusnya aja, Dek. Ingat, ucapan itu doa loh. Sekali lagi Kak Oni dengar kamu ngomong ngawur, tak sentil lambe-mu, ya!"
Pelangi mendengus kemudian mengangguk dan berkata, "Iya, Kakak. Maafin Adek, ya." Gadis itu sedang berperan sebagai sosok adik yang patuh pada kakaknya. Namun, belum sampai satu menit berlalu, tawa Pelangi malah menyembur keluar. "Ah, geli banget kita. Jadi jijik sendiri aku, Ni."
*
Kaki Pelangi masih terseok saat berjalan sehingga Harmonia memutuskan untuk pergi ke kantin seorang diri. Biasanya Pelangi dan Harmonia selalu ke kantin bersama-sama. Kebetulan hari ini Pelangi membawa bekalnya sehingga tanpa harus berdesakan di kantin sekolah yang tidak terlalu luas, ia sudah bisa mengenyangkan perutnya.
Sebenarnya Pelangi juga membawakan bekal untuk Harmonia. Namun, memang dasar perut Harmonia yang sebelas dua belas dengan karet, alias susah kenyang sehingga ia pun membutuhkan asupan tambahan dan memutuskan pergi ke kantin untuk membeli cemilan di sana.
Pelangi baru saja mengeluarkan dua kotak bekal makan dari dalam tas. Satu untuknya dan satu untuk Harmonia. Baru membuka kotak makan dan belum sempat menyendok ke dalam mulutnya, beberapa gadis yang Pelangi kenali tiba-tiba berdiri mengelilingi mejanya dan Harmonia.
"Eh, guys, lihat … ada yang lagi makan bekal ala kaum miskin,” celetuk salah satu dari gadis di hadapannya dengan nada mencemooh yang kentara dalam suaranya.
Pelangi kira urusan mereka sudah selesai sejak memutuskan untuk mengakhiri tali pertemanan, tetapi ternyata Delilah masih terus mengusiknya sampai hari ini. Ya, itu adalah Delilah dan geng-nya yang selalu tampil berlebihan di sekolah. Riasan wajah mereka seperti gadis yang hendak menghadiri kondangan, bukan ke sekolah.
Ketika Pelangi sedang bersama Harmonia, Delilah dan kawanannya tidak berani melakukan apapun padanya. Namun, ketika Harmonia tidak berada di sisi gadis itu, maka barulah mereka akan menjalankan rencananya yang lebih mirip seperti pengecut itu. Beramai-ramai melawan satu orang. Contohnya seperti saat ini.
Salah satu anggota geng Delilah yang bernama Rachel tiba-tiba menuangkan teh kemasan yang sudah diminumnya sampai setengah ke dalam kotak makan Pelangi. Bukan hanya itu, cairan berwarna kecoklatan itu bahkan merembes sampai mengenai rok yang Pelangi pakai.
Pelangi yang diperlakukan seperti itu pun hanya bisa terdiam dengan tangan yang mengepal. Gadis itu tidak memiliki cukup keberanian untuk melawan gadis-gadis yang ada di depan mejanya. Kalau saja ia punya keberanian seperti Harmonia, sudah dipastikan sendok dan garpu yang kini berada di tangan Pelangi pasti sudah menancap di salah satu bagian tubuh para pem-bully itu.
"Kok dia malah diam, sih? Selain gendut, ternyata mulutnya juga bisu," ejek Delilah karena belum puas dengan ulah temannya yang menguyur bekal Pelangi tadi. Dua gadis yang berdiri di masing-masing sisi Delilah pun menyoraki Pelangi dengan berbagai ejekan yang membuat siapapun meringis ketika mendengarnya.
Begitu banyak manusia lain yang ada di dalam ruangan kelas itu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berani maju untuk membela Pelangi. Di mana letak hati nurani orang-orang yang ada di ruangan itu? Sepertinya tidak ada.
"PENGECUT!" teriak Harmonia dengan lantang dari ambang pintu ruang kelas.
Gadis dengan rambut dikuncir kutda itu lantas berjalan cepat menuju tempat di mana Delilah dan geng-nya mengerubungi Pelangi. Tanpa babibu, Harmonia langsung menyemprotkan susu yang ada di tangannya ke muka Delilah dan membuat makian meluncur dari mulut gadis itu.
“Anjing!” sembur Delilah yang tidak terima dengan ulah Harmonia sembari mengusap wajahnya yang terkena cairan putih hasil keberanian gadis itu.
"Anggap aja itu balasan dari Pelangi yang katamu gendut dan bisu!" desis Harmonia berang dengan tangan yang masih setia menggenggam sekotak susu berwarna biru. Namun, bedanya kini benda itu sudah penyok dan tidak berbentuk dalam genggamannya. Susu kotak itu bahkan hampir habis karena derasnya volume yang disemprotkan Harmonia ke wajah Delilah.
Seolah belum puas dengan ulahnya menyiram wajah Delilah dengan susu tadi, kini Harmonia lanjut menghadiahkan dua teman gadis bermuka du aitu dengan hadiah yang hampir sama. Bedanya gadis itu menyiramkan cairan berwarna merah dari botol soda yang berada di dalam genggaman tangan kirinya.
Rachel dan Monica yang mendapatkan perlakuan spontan itu menggeram marah. Kedua gadis itu sudah bersiap menyerang Harmonia, tetapi gadis itu dengan sigap menghindar sehingga mereka hanya bisa menggapai angin.
Napas tercekat dan suara berbisik-bisik terdengar di sekeliling mereka. Lima orang yang menjadi pusat perhatian di dalam ruangan kelas itu jelas tahu kalau semua orang yang berada di dalam sana sedang menatap ke arah mereka dengan pandangan yang berbeda-beda dan sulit untuk dideskripsikan. Ada yang meringis ngeri, tetapi ada juga yang menatap kumpulan gadis itu seperti acara smack down yang seru dan menegangkan.
"Oh, ada yang mau jadi pahlawan kesiangan?!" desis Delilah yang tidak terima dengan ulah Harmonia. Ia jelas merasa direndahkan oleh gadis itu. Namun, bukannya ketakutan melihat wajah Delilah yang sudah seperti kerasukan setan, Harmonia malah tampak santai seolah-olah dirinya akan mendapatkan hadiah yang besar sebentar lagi.
"Setidaknya bukan jadi penjilat menjijikkan yang jago kandang!" balas Harmonia menyindir sembari menyusuri seluruh tubuh Delilah dari atas sampai ke bawah dengan pandangan mencemooh yang tidak berusaha untuk ditutupi sedikit pun.
Saking santainya, Harmonia menjadi lengah dan diserang mendadak oleh Delilah. Gadis itu tidak mempersiapkan diri sehingga tubuhnya pun menabrak sudut meja dan membuat barang-barangnya di sana jatuh berserakan di atas ubin ruang kelas.
Pelangi meringis ketika melihat adegan jambak-jambakan yang terpampang dengan jelas di hadapannya. Namun, yang paling mendominasi adalah rasa nyeri dan sesak di hatinya ketika melihat sang sahabat dikeroyok oleh tiga orang. Sungguh tidak imbang.
Merapalkan doa dan mempersiapkan mentalnya, Pelangi meyakinkan diri bahwa ia harus turun tangan untuk mengamankan Harmonia sebelum terjadi apa-apa pada gadis itu.
"BERHENTI!" pekik Pelangi sebelum tiba-tiba menyusup di antara Harmonia dan Delilah serta teman-temannya. Gadis itu sudah tidak memedulikan lagi luka yang baru saja didapatkannya tadi pagi.
Namun, sayangnya niat Pelangi untuk mengamankan Harmonia tidak berjalan dengan mulus. Bukannya mereda, pertengkaran kelima gadis itu malah menjadi semakin kacau. Tubuh Pelangi tidak luput dari cakaran Delilah dan teman-temannya yang berkuku panjang. Gadis itu jelas adalah sasaran empuk mereka, terlebih lagi ia tidak memiliki pernah mengecap pendidikan bela diri sebelumnya.
Tanpa babibu, Pelangi lantas mendorong tubuh Harmonia sedikit ke belakang dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng dari serangan Delilah dan teman-temannya. Sayangnya, aksi heroik yang dilakukan oleh gadis itu sukses membuat kuku panjang Delilah menggores pipinya hingga mengeluarkan darah dan mengenai sklera salah satu matanya.
"Angi!" pekik Harmonia dengan nada tinggi tanpa bisa menutupi kepanikannya ketika mendapati cairan berwarna merah pekat dan berbau anyir mengalir dari pipi Pelangi tanpa bisa dicegah.
Belum sempat ada balasan atas pekikan Harmonia, sebuah suara tiba-tiba menggema di seluruh ruangan kelas tersebut.
"Ada apa ini?"
Semua murid lantas menoleh ke sumber suara. Banyak pasang mata yang langsung menemukan sosok guru mereka yang sedang berdiri di ambang pintu dan sudah bersiap untuk melangkah masuk ke dalam ruangan kelas. Namun, sayangnya tidak ada satu pun murid yang menyadari kehadirannya sehingga wanita setengah baya itu dapat melihat kekacauan yang sedang terjadi di kelas.
"Di belakang kenapa kacau begitu? Kalian habis ngapain sampai kursinya bisa terbalik hah?" tanya Guru Matematika yang terkenal paling galak di se-antero sekolah itu.
"Itu, Bu. Harmonia duluan nyerang saya. Dia semprotin susunya ke muka saya, Bu," adu Delilah menunjuk Harmonia dengan telunjuknya.
"Jadi, kenapa Rachel dan Monica yang di belakangmu bisa ba—" Belum sempat guru killer itu menyelesaikan ucapannya, Harmonia sudah lebih dulu memotong dengan segenap keberaniannya.
"Bu, urusanku sama mereka nanti baru diproses, ya. Ini ada yang lebih penting daripada itu." Setelah mengatakan itu, Harmonia segera memapah Pelangi menuju ruang UKS tanpa memedulikan suasana kelas lagi. Gadis itu mengabaikan tatapan kekaguman yang dilayangkan oleh teman-teman sekelasnya karena sudah berani menyela ucapan guru mereka.
Jantung Harmonia rasanya hampir terjatuh ke perut melihat kondisi Pelangi sekarang. Pipinya mengeluarkan darah yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti, ditambah lagi dengan sklera matanya yang kini bewarna merah.
"Angi, kamu baik-baik aja, 'kan? Tolong jangan buat aku mati muda, Angi!" gumam Harmonia dalam tangisnya. Dokter jaga di UKS langsung membaringkan Pelangi di brankar, sedangkan Harmonia hanya bisa berdoa dalam hati ketika tirai di sekeliling brankar itu ditutup sehingga ia tidak bisa melihat ketika dokter itu menanganin Pelangi di dalam sana.
Harmonia sudah lebih dulu dipanggil ke ruang konseling sebelum Pelangi selesai ditangani. Gadis itu duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan guru konseling dengan Delilah yang duduk di sebelahnya. Sementara itu, Rachel dan Monica berdiri di belakangnya dengan ekspresi yang tidak bisa Harmonia deskripsikan.
Ekspresi Harmonia jelas menunjukkan kemarahan yang sedang ditahannya sedari tadi, sementara Delilah malah tampak tidak bersalah sedikit pun seolah-olah dialah yang paling tersakiti dalam kejadian ini.
Playing victim, batin Harmonia berdecih di dalam hati.
"Jadi, salah satu dari kalian bisa menjelaskan kronologisnya?" tanya guru bernama Yohanna itu.
Belum sempat Harmonia membuka mulutnya, suara nyaring Delilah sudah lebih dulu terdengar. Kalau tidak khawatir dengan keadaan Pelangi saat ini, mungkin tangan Harmonia sudah hinggap di kedua pipi Delilah dan menariknya sekuat tenaga ke araha yang berlawanan karena terlalu geram dengan gadis itu.
"Dia duluan nyerang saya, Bu, padahal saya nggak ada urusan sama dia," jawab Delilah membalas dengan ekspresi seolah paling tersakiti yang tercetak di wajahnya.
"Benar begitu, Harmonia?" tanya Bu Yohanna, meminta konfirmasi dari Harmonia.
"Dengan dia cari masalah dengan Pelangi, artinya dia juga cari masalah dengan saya. Kira-kira sebutan apa yang cocok untuk tiga orang yang berani bully satu orang kalau bukan PENGECUT, Bu?" Harmonia yang dengan penekanan pada akhir kata dan nada penuh sindiran yang tidak berniat untuk disembunyikannya. Gadis itu bahkan sudah tidak peduli ketika mendapatkan tatapan dari guru konseling yang lain karena suaranya yang memenuhi seluruh isi ruangan.
"Apa benar yang baru dikatakan Harmonia, Delilah, Rachel, dan Monica?" Kini tatapan guru itu beralih pada Delilah dan teman-temannya yang berdiri di belakang gadis itu.
Tak mendapat jawaban yang diharapkan, Bu Yohanna pun akhirnya menghela napas dan berkata, "Panggil orang tua kalian sekarang! Saya nggak mau tau gimana caranya. Pokoknya orang tua kalian masing-masing sudah harus berada di sini nanti. Saya beri waktu setengah jam dari sekarang."
Harmonia mengangguk singkat. Setelahnya, gadis itu memilih keluar dari ruangan konseling dan menuju ke ruang UKS. Gadis itu sepertinya sudah cukup muak harus berbagi oksigen di dalam ruangan konseling yang cukup sempit bersama Delilah dan teman-temannya sehingga ia memilih untuk pergi. Memikirkan bagaimana dulu ia bisa berteman dekat dengan tiga pengecut itu sukses membuat Harmonia bergidik ngeri.
"Halo?" sapa suara di seberang sana ketika panggilan dari Harmonia tersambung .
"Mas Laskar, buruan ke sekolah, ya. Dapat panggilan dari guru konseling nih, tapi jangan bilang-bilang sama Papa Mama, ya," pinta Harmonia tanpa menjawab sapaan sang kakak lelaki sebelumnya.
Laskar mengerutkan keningnya, meskipun Harmonia tidak akan bisa melihat hal tersebut dari seberang sana. "Kamu ngapain aja di sekolah sampai-sampai orang tua didatang?" tanya Laskar yang kini sudah menggelengkan kepalanya. Tentu saja ulah apapun yang dibuat oleh Harmonia sehingga masuk ke ruang konseling tadi pasti akan menyita waktunya yang berharga.
"Ada masalah dikit, Mas. Pokoknya buruan ke sini, ya. Dengan Mas Laskar datang, bukan cuma Oni yang selamat, tapi Pelangi juga."
Setelah itu, hanya ada suara sambungan telepon yang sudah terputus dan tertangkap oleh indra pendengaran Harmonia. Laskar mematikan sambungan panggilan itu secara sepihak tanpa mengatakan membalas ucapan sang adik dengan sepatah kata pun.
Astaga, jangan-jangan Mas Laskar beneran ngadu ke Papa Mama, batin Harmonia bermonolog pada dirinya sendiri. Ah, Mas Laskar nggak mungkin setega itu sampai membiarkan adiknya ini kesusahan, pikir gadis itu setelahnya lalu mendorong pintu ruang UKS.
"Gimana keadaannya, Dok?" tanya Harmonia ketika melihat dokter jaga tadi sudah duduk kembali di balik mejanya.
"Udah saya bersihkan dan kasih salap di luka pipinya. Oh, ya, itu luka di tangan dan kaki juga harus sering dibersihkan, ya, supaya nggak infeksi nanti," jelas dokter yang merangkap sebagai guru laboratorium itu.
"Kalau untuk masalah luka skleranya, lebih baik langsung dicek ke dokter mata. Takutnya akan menganggu fungsi penglihatan kalau dibiarkan," lanjut dokter berjenis kelamin perempuan itu menjelaskan. Setelahnya, ia pun berjalan keluar dari ruang UKS tersebut dan membiarkan Harmonia menemani Pelangi di dalam sana.
Memastikan sang dokter sudah benar-benar keluar dari ruangan UKS itu barulah Harmonia menyibak perlahan tirai yang menutupi brankar Pelangi. Kedua netranya langsung menemukan sosok Pelangi yang sedang berbaring di atas brankar dengan indra penglihatan yang terpejam. Harmonia tidak tahu jelas apakah gadis itu benar-benar tertidur atau hanya sekadar menutup matanya saja.
"Angi," bisik Harmonia pelan seolah-olah jika volume suaranya sedikit lebih tinggi saja akan membuat sebuah benda berbahan kaca yang ada di dalam ruangan UKS itu pecah. Ia takut mengganggu Pelangi jika gadis itu benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Jarang sekali suara yang dikeluarkan dari mulut Harmonia sepelan ini. Sepertinya selama Pelangi berteman dengan gadis itu, inilah pertama kalinya ia mendengar suara Harmonia yang sepelan tadi.
Pelangi tidak langsung menjawab panggilan Harmonia, melainkan membuka kedua netranya lalu menoleh ke arah sang sahabat yang kini sedang berdiri di sisi brankarnya. "Mana yang sakit? Nanti setelah ini kita ke rumah sakit, ya," kata Harmonia masih dengan suara yang sama pelan seperti sebelumnya. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan nada suara dan ekspresinya yang sarat akan kekhawatiran. Namun, sayangnya ucapan Harmonia tadi dibalas dengan gelengan kepala oleh Pelangi, menandakan bahwa gadis itu menolaknya.
"Anak siapa, sih, kamu ini? Bandel banget kalau dibilangin," gerutu Harmonia yang masih menahan nada suaranya agar tidak meninggi. Gadis itu benar-benar gemas dengan Pelangi yang selalu membantah ucapannya. “Bisa nggak, sih, sehari aja kamu turutin ucapanku?” lanjut gadis itu bertanya pada Pelangi.
"Nggak bisa," balas Pelangi ringan dan santai dengan ekspresi ceria yang terlukis di wajahnya. Gadis itu tidak ingin menambah kekhawatiran Harmonia sehingga hanya ekspresi cerialah yang dapat ditampilkan untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
“Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan-tahan. Pundakku siap kok untuk jadi tempatmu bersandar,” ujar Pelangi sembari mengelus pelan punggung tangan Harmonia dengan binar geli yang terpatri di kedua netranya. Gadis itu kini sedang menggoda Harmonia, berharap kekhawatirannya segera memudar.
“Sok kuat! Kamu aja duluan tumbang daripada aku,” ledek Harmonia berusaha menerbitkan senyum lebar di bibirnya.
Setelahnya, ruang UKS itu diisi oleh kesunyian selama beberapa saat sebelum Pelangi kembali membuka suara.
“Maaf ya, Ni. Gara-gara aku, kamu jadi kena masalah,” gumam Pelangi dengan tatapan yang menerawang dan menatap kea rah langit-langit ruang UKS.
Sifat inilah yang Harmonia benci dari Pelangi. Terlalu tulus dan mudah merasa bersalah, padahal ini bukan kesalahannya sama sekali.
"Sekali lagi kamu minta maaf, aku suruh Papa nikahin kamu sama Mas Laskar baru tau!" Bukannya senang setelah mendengar ucapan Harmonia, ekspresi Pelangi malah tampak getir.
"Mana bisa. Kami terlalu jauh. Ibarat kayak langit dan bumi," gumam gadis itu pelan, tetapi masih sangat bisa tertangkap oleh indra pendengaran Harmonia. Sayangnya, belum sempat gadis itu membalas ucapan Pelangi, seseorang sudah masuk ke dalam ruang UKS dan menyuruhnya untuk kembali ke ruang konseling.