Bab 1

"Keluar kau dari rumah kami! Perempuan tak tahu diri!"

Teriakan lantang berupa makian di akhirnya itu masih menggema dalam ingatan Keina. Gadis

berpenampilan sederhana yang hanya mengenakan pakaian lengan pendek dan rok di bawah lutut terlihat lusuh, ia berjalan di pinggiran jalan.

Lalu lalang berbagai jenis kendaraan, besar dan kecil di tengah jalan berpohon dan banyak rumput di sisi kiri dan kanannya seakan menganggap Kei sesuatu yang tak berarti. Tiada seorang pun yang peduli padanya.

Kepala tertunduk, sorot mata berlinang air mata itu menatap dalam aspal jalan yang terlihat gelap. Dia menautkan kedua jari telunjuk membentuk lilitan janji jari kelingking.

Air mata membasahi pipi, tersamar hujan deras di malam hari. Pakaian basah, ia mulai kedinginan. Sementara sama sekali tidak mempunyai tempat singgah, setidaknya untuk berteduh sebentar saja.

Rumah yang ia tempati dan tumbuh besar hingga beberapa jam yang lalu telah mengusirnya. Sebagai tanda jika Kei tidak bisa kembali setidaknya menyinggah.

Hanya karena dilihat perpelukan dengan lelaki, Kei diusir. Namun lelaki itu bukan lelaki sembarangan, dia adalah Leo, pria yang digemari adik angkatnya, Kara.

Kecemburuan sebab kakak angkatnya perpelukan dengan pria yang digemarinya padahal baru pagi, awal masuk sekolah kelas sebelas ia memutuskan mengatakan perasaan cinta. Dan diterima.

Belum melakukan apapun terhadap pria itu,

hanya memegang tangan. Dan Kei, Kara rasa sudah mengambil bagian lebih besar itu dari padanya.

Api membara menyapu semua kebaikan yang dilakukan Kei pada Kara menjadi segeganggam debu. Memutuskan otak iblis menguasainya,

Kara mengadu pada ibu dan ayah kandungnya.

"Syukur-syukur kami masih memberi kau makan! Sekarang, apa balasanmu untuk kami, perempuan penghianat! Menyesal aku buat kau jadi putriku!"

Menangis dan meraung minta jangan diusir, tapi tiada yang bisa dilakukan selain mengikuti perintah.

Kekuatan dua bodyguard di rumah itu berkali-kali lebih besar darinya. Kei di campakkan keluar dari rumah itu. Ia di usir, dan berjalan keluar dari lingkungan asri, tempat para orang berada berkumpul.

Hatinya sedih, pilu dan merasa tak berguna merasuk di jiwanya. Kei, merasa di dunia ini dia tidak punya arti.

Berusaha semaksimal mungkin agar orang dalam rumah tempat ia tinggal dan menetap menyukainya.

Kei melakukan segala sesuatu dengan sangat baik. Walau hanya mampu mengemas rumah tiap hari, memasak dan mengurus keperluan adiknya yang manja. Hanya hal kecil itu yang bisa dilakukannya untuk sementara ini.

Kei, sudah terlanjur baik pada perempuan yang sembilan tahun lebih muda darinya itu. 

Awalnya, ia memerankan diri sebagai asisten rumah tangga agar mendapatkan hati ayah dan ibu angkatnya, lama kelamaan menjadi pelayan melebihi babu.

Kei tidak di bayar dengan uang, hanya sepiring nasi setiap harinya. Menyebabkan ia sangat kurus dan kekurangan gizi.

Lihatlah, tubuhnya sudah sempoyongan berjalan. Ia tidak sanggup melanjutkan perjalanan yang jujur tidak ia ketahuinya mau bermalam di mana.

Hampir setengah kilometer dia berjalan. Dia meneguk saliva yang terasa mengering, tak mendapat air.

Sesekali menjulurkan lidah menghadap langit, hanya mendapat beberapa tetes saja. Haus, namun pegal pada leher yang melengkung terus-terusan.

Ia tak tahan, Kei yang malang hanya mampu berharap Tuhan masih menolongnya. Memberi sesuatu berharga baginya, setidaknya menemani gadis itu tidak sendirian. Sebab jujur, Kei tidak pernah memiliki teman.

Bahkan semasa ia di panti asuhan selama 6 tahun, anak-anak seusianya menjauhinya, seakan menganggap Kei sebagai sebuah mahluk tak kasat mata.

Hanya ibu penjaga panti menemaninya. Karena dia pendiam dan tak mudah bergabung dengan masyarakat. Ia pemalu.

Bisa dihitung, kurang dari dua ratus orang yang bertemu dengannya. Dan berkenalan, kurang dari lima puluh orang.

Itu pun terjadi karena suatu paksaan. Entah ada seminar khusus anak anak panti, lalu bertemu dan berkenalan dengan orang lain menemuinya, dan mulai berkenalan.

Lelah berat menyerangnya. Kei terpaksa harus duduk di atas batu dan menyeka keringat bercampur air hujan yang menetes dari angkasa.

Di sekitar, terlihat ada banyak orang. Laki-laki dan seorang perempuan cantik berpakaian sangat seksi.

Bahkan ada yang dua sampai tiga, mereka begitu mesra, seakan tak peduli dengan pandangan Kei, sebagai orang risih yang melihatnya.

"Hey perempuan cantik," seorang lelaki mencolek rahang Kei.

Di sekitar lelaki itu terdapat dua wanita bersolek tebal dan sepertinya mempesona bagi lelaki bertubuh gendut dan tampak bergairah namun begitu menjijikan bagi Kei.

Sontak Kei menoleh, ia melemparkan pandangan tak suka. Berdiri, entah mendapat kekuatan dari mana, "Jangan macam-macam, ya!" menepis, dan segera berlari dari sana.

Kei hanya mendengar suara gelak tawa dan ucapan berupa lontaran kuat meremehkan dari mulut pria tua, hidung belang itu.

Rasa takut menguasainya, hingga…

Dugh!

"Awh," ia meringis kesakitan kala kepalanya terbentur sangat kuat, oleh benda keras berakhir kenyal seperti seogok daging hewan di pasaran.

Tapi apa ada pasar mendadak di sini? Seingat Kei tidak ada. Mengingat sembari berlari, gadis itu menunduk sesekali menoleh ke belakang.

Cara utama mengetahuinya hanyalah Kei harus melihat siapa pemilik benda keras berakhir kenyal bertubruk pada kepalanya barusan.

Ia memijit kening yang terasa nyeri itu. Mengangkat kepala, pandangan Kei beradu pada seorang pria berwajah tampan dan dingin yang terlihat sempoyongan berdiri.

Mata memerah, dan racauan sedaritadi Kei dengar tapi dihiraukannya. Terasa bahunya dipegang oleh pria itu, "Temani aku sayang!" menarik tangan Kei.

"L-lepaskan!" Kei mencoba melawan genggaman tangan besar dan kuat serta kokoh pria itu. Namun tak kunjung berhasil.

"T-tolong! Siapapun, tolooongggg!"

Tiada yang prihatin padanya.

Kei tidak mengerti, sedaritadi mencoba melawan. Orang-orang melihatnya karena suara kerasnya itu.

Tapi hanya melempar pandangan takut, entah takut karena apa. Berbisik-bisik dengan pasangan di sampingnya.

"Dia wanita pilihan CEO."

Hanya itu berhasil di dengarnya sebelum Kei di campakkan, masuk ke dalam mobil mewah keluaran tahun ini.

Tak hanya sampai di sana. Pintu di tutup, dan pria itu berada di atasnya. Menatapnya dengan pandangan bergairah. Kei semakin takut menatap netra biru pria berahang tegas tersebut.

"L-lepaskan, tuan… Tolong," pergelangan tangan sudah dikunci, Kei membuang wajah ke samping, air mata membasahi pipi, jatuh ke kursi lembut kepemilikan pria itu.

"Tidak sayang. Tidak, temani aku malam ini!" telunjuk pria itu menyentuh sudut wajah Kei. Mulai dari garis pertengahan rambut hitam legamnya, sampai telinga Kei.

Memperlakukan begitu lembutnya. Namun Kei sangat risih. Tiada yang bisa dilakukan. Ia disekap secara lembut.

Melucuti pakaian Kei. Pria itu melakukan tindakan sebagai pria bajingan. Kei menangis kesegukan saat pria itu sudah tertidur menggatikan posisinya.

Ia keluar dengan langkah kaki terlatih-latih, sudah tidak ada harapan lagi dan kebanggan bagi dirinya. Kei sudah kotor dan dia benci mengakuinya.

Pakaian yang dikenakan pun tampaknya sudah mengering. Sejam lelaki itu melakukan tindakan tak berperikemanusiaannya pada Kei.

Kei juga takut kalau lelaki itu melakukan tindakan kasarnya seperti tadi jika Kei berlama-lama menangisi kebodohannya menjadi wanita lemah.

Bab 2

"Aku di mana?"

Kei berkata nada suara lemah. Membuka mata dan tampak cahaya sangat terang dan menyilaukan menembus retina matanya. Hanya telapak tangan menghalangi cahaya terang itu.

"Kamu ada di rumahku, nak."

Sontak Kei menoleh ke sumber suara. Ungkapan dari mulut seorang wanita menarik perhatiannya.

"Siapa kamu?" ia bertanya garang, sejujurnya ada nada takut terselubung dalam dirinya. Matanya membulat, dengan posisi kini duduk, ia menatap wanita dengan senyuman manis terukir di bibir tuanya.

Bisa saja wanita itu orang suruhan pria bajingan yang telah memerkosanya entah sudah berapa jam waktu ia lewatkan hingga sampai di sini.

"Perkenalkan, aku Gina. Panggil saja bibi Gin kalau ingin mengenalku lebih jauh lagi. Dan mengenai mengapa kau ada di sini, bibi punya penjelasan untukmu."

"Jadi gini, sewaktu anak teman bibi pergi, ia menemukanmu di semak-semak dekat perumahan ini. Tubuhmu sangat kacau, dan… Yah, tampaknya kamu dan suamimu baru melakukannya."

"Tidak! Dia bukan suamiku!" bantah Kei segera.

Wanita berwajah segar dan berpostur tubuh gendut itu menatapnya aneh, "Tapi inti tubuhmu? Maaf, tapi sempat dokter datang kemari. Dan kata beliau, ada sedikit perobekan pada inti tubuhmu. Selain tidak berhubungan, bibi rasa tidak ada sebab lain kecuali kecelakaan. Tapi tubuhmu tampak baik-bajk saja."

Kei tertunduk. Dia menatap dalam kasur hangat dan lembut yang kini di dudukinya.

"Tadi juga kata dokter inti tubuhmu membengkak dan memar. Seharusnya tidak diperbolehkan setelah berhubungan, melakukan perjalanan panjang. Apa kamu punya masalah dengan calon suamimu?"

"Tidak!"

"Lalu?"

"Aku belum pernah menikah, setidaknya bertunangan, nyonya!"

"Hmm, apa dia pacarmu?"

"Sudah ku katakan! Dia bukan siapa-siapaku! Jangan banyak tanya, nyonya! Aku tau kamu utusan laki-laki brengsek itu!"

"Arghhh!!"

Kei menjambak kasar rambutnya.

Semakin membuat wanita itu mengeryit, namun lumayan mengerti dengan maksud Kei.

"Ini, minumlah dahulu. Buat pikiranmu kembali segar," wanita itu menyodorkan secangkir teh dengan lembut dan penuh kasih sayang serta kesabaran.

Namun tangan Kei malah menepis teh hangat dari tangan Gina hingga tumpah dan membentuk remahan kaca sebab terbentur dinding.

Gina menghela napas dan tersenyum tipis. Bangkit dari posisi duduknya dan mengutip remahan kaca, "Aku tau hal itu menyakitkan bagimu, nak," suaranya berubah parau.

"Tapi percaya lah, bukan hanya kau yang bernasip naas seperti itu."

"Karena anakku, dia juga sepertimu…"

Pandangan Kei berubah penasaran. Dia menatap Gina yang memunggunginya.

"Dulu anakku adalah gadis periang. Berubah pendiam dan tertutup. Sering berteriak ketika dipegang bagian tubuhnya. Ntah itu lengan, atau sesulur rambutnya."

"Aku dan almarhum ayahnya yang meninggal beberapa bulan lalu sudah menghubungi psikiater. Tapi tak kunjung berhasil karena tak mendapatkan sedikit pun dukungan dari masyarakat, orang sekitar."

Kalimat terhenti. Gina berdiri dan berjalan. Berhenti di samping Kei.

"Kau tau kan, nak? Orang yang dilecehkan seperti itu tidak diterima masyarakat. Hanya dianggap sampah masyarakat karena dikira adalah salah satu wanita nakal."

Kei mengangguk.

"Di sana, anakku semakin depresi. Berangsur gila. Ejekan dan hinaan begitu gencar diterimanya."

"Anakku meninggal karena menubrukkan kepalanya ke dinding hingga geger otak. Dia meninggal dua tahun lalu."

Kei merasa semakin bersalah dengan cerita singkat yang baru diceritakan Gina padanya.

"Maafkan aku bi. Aku tersulut emosi. Aku kira, bibi orang suruhan laki-laki kejam itu."

"Tak apa," Gina berjongkok. "Aku tau kau marah sekali. Dan sudah menjadi hal biasa kalau dalam kemarahan bisikan setan benar-benar menguasai."

"Apalagi ketika pikiran mulai disasarkan kepada hal miring yang mulai bermunculan, bahkan mau saja kita mengikuti. Kita manusia. Penuh salah dan dosa. Bibi memaafkanmu."

***

Dengan ditemani semua nasihat mendidik bibi Gina, Kei benar-benar kembali merasa hidup.

Walau ia tau, dirinya tak sesempurna dahulu. Ia sudah berubah menjadi seorang wanita. Bukan gadis suci lagi. Karena lelaki bajingan itu telah melepaskan keperawanannya.

Kehormatan yang seharusnya menjadi milik suaminya kelak. Ntahlah, Keina tidak tau siapa pria yang akan menikahinya jika tau keadaannya seperti ini.

"Hey, Kei. Apa kabar? Kok melamun gitu sih? Masih pagi-pagi kok, udah melamun aja. Lamunin apa sih?" Celica, sahabat Kei. Datang menghampiri Keina yang tengah melamun.

Keina sontak menoleh. Ia terkejud, namun hanya menarik napas tanpa menghelanya beberapa detik. Mata membulat lebar. Bahkan wajahnya berhasil menjadi bahan tertawaan Celica, anak teman bibi Gina.

"Hahah, kamu sangat lucu Kei!"

Kei mendengus, "Bukan sekali ini aja, Cel."

"Iya… Tapi tetap lucu aja menurut aku. Hahah. Gimana sih kamu bisa selucu ini?"

"Aku tidak sedang membuat lelucon, Cel."

"Haha, iya-iya. Aku ngerti. Kamu pasti mikirin laki-laki yang akan nikahin kamu, kan? Mengingat keadaan kamu…" kalimat Celica tergantung.

"Ssstttt, sudah, diamlah!"

Celica tertawa, wanita yang usianya hanya terpaut lima tahun dari Kei yaitu 29 tahun dan memiliki anak tiga dari pernikahannya itu sudah diberitahu dengan keadaan Kei oleh bibi Gina.

Dan dia mengerti. Sering-sering datang kemari. Bahkan sejak dua minggu diberitahu.

"Yakinlah, Kei. Pasti ada laki-laki yang mau menikah denganmu. Tidak semua lelaki sama saja, Kei."

"Tapi mau cari di mana Cel? Sampai satu dunia ini pun, tak ada!"

"Suamiku?" Celica mendekatkan tubuhnya yang sedari tadi duduk sejak ia sampai dan menyapa Keina. Memainkan mata, seakan memberitahu sesuatu, maksud lain di balik itu.

"Maksudmu, aku menjadi perebut suamimu? Ah, tidak lah, aku bukan pelakor seperti di sinetron, ibu Celica yang terhormat. Keina Natalia ini masih punya pekerjaan lain selain merebut hak milik seseorang!"

"Terus? Kamu mau pergi sama si bajingan brengsek itu!? Kamu tau siapa dia dan di mana!? Ya ampun, Kei! Kenapa gak dikasih tau aja sama aku? Biar aku pukuli dia sampai lenyot sebelum nikahin kamu!"

"Haha, tidak lah, ibu Celica yang terhormat. Aku tidak tau siapa dan asal-usulnya. Sekalipun aku tau, aku ragu dia aka  menikahiku."

"Maksudmu, kalian hanya one night stand?" Celica terkejud. Pasalnya selama ini Kei tidak pernah diberitahu akan cerita ini.

Hanya mengangguk. Belum berkata apapun pada Celica. Kei sudah pergi dari tempat duduk dan menuju kamar mandi dengan menutup mulut.

"Huek!"

"Kamu kenapa, Kei?" Celica mengejar perempuan itu.

Kei menggeleng begitu kuat dan melanjutkan muntahnya lagi.

Lima menit.

Celica hanya bisa memijit leher belakang Kei. Sementara Kei muntah, cairan lengket dan terkesan menyengat.

"Sudah?" Celica menunjukkan raut prihatin.

Kei mengangguk.

"Ayo duduk di sini," Celica menuntun Kei ke kursi dapur, di luar kamar mandi.

Menuangkan teko berisi air ke gelas, "Minum ini," Celica memberi minum kepada Kei.

Kei menerimanya. Wajahnya mendadak pucat dan lemah. Bahkan perlu pertolongan untuk minum saja.

Baru dua tekuk. Kei kembali berlari menuju kamar mandi selurus kursi meja makan di dapur.

Begitulah seterusnya. Celica tidak tahan lagi untuk berkata hal yang merupakan kenyataan yang ia tebak sedaritadi.

"Aku kenapa Cel?" Kei, sudah sangat sangat lemah. Mengatupkan kelopak mata serasa sulit sekali.

"Maaf, tapi menurut perkiraanku kamu hamil, Kei."

Degh!

Bab 3

"B-bagaimana bisa?"

Kei menutup mulut. Membelalakkan netra sebagai tanda keterkejutan yang dirasanya. Ia tidak percaya. Hamil? Bukankah...

"Karena kamu wanita dewasa Kei. Segalanya bisa terjadi jika sudah melakukannya," Celica menjawab seadanya.

Wanita beranak tiga itu sejujurnya kasihan dengan Kei. Tapi yang bisa dibuat? Lelaki yang sudah melakukan hal itu pada Kei saja tidak kelihatan batang hidungnya.

Mengingat menurut cerita bibi Gin dari narasumbernya yaitu Kei, Kei dan pria itu melakukan percintaan satu malam.

Setelah melalui malam yang panjang, sama sama tak dikenal menjelang paginya. Namun di situ Celi tidak menganggap Kei wanita murahan.

Karena sahabat baiknya, anak bibi Gin juga mengalami kejadian sial sama seperti nasip Kei.

"Sabar ya, Kei," Celi mengelus bahu Kei.

"Apa yang sabar, bunda Hyan?"

Pandangan Kei dan Celi mengarah ke sumber suara.Ada bi Gin di samping kulkas. Menatap penasaran akan perbincangan kedua perempuan ini.

Bunda Hyan adalah sebutan untuk Celi karena anak pertamanya bernama Hyan. Kei tidak menyebut Celi dengan bunda Hyan, karena Celi tidak mengizinkan. Mengingat usia Celi dan Kei tidak terlampau jauh.

"Kei hamil, bi," ungkap Celi jujur.

Bi Gin menghampiri Kei. Setelah ia menutup mulut, ada naluri jika ia harus menenangkan perasaan Kei, si perempuan yang kini berwajah pucat bagai mayat.

"Sabar ya nak. Berpikirlah positif. Jangan depresi hingga pikiran iblis menguasaimu," pesan bibi Gin. Air mata membasahi pipi bibi Gin dan tak lupa ada Celi.

Kedua perempuan itu, sudah pernah kehilangan satu orang yang paling mereka sayangi. Anak bibi Gin, teman Celi sejak kecil. Malah mati muda… Dengan janin tak berdosa hasil perbuatan bejat lelaki yang sudah mati seminggu setelah anak bibi Gin meninggal.

Sedang Kei menatap terharu. Ia masih tidak percaya, ternyata masih ada orang baik yang mau menerima keberadaannya walau seperti ini.

****

Enam setengah tahun kemudian.

 Sinar matahari hangat terbit, perlahan menggeser cahayanya memasuki setiap celah yang mampu dimasukinya.

Sebuah rumah rapi dengan jendela transparan sebagai dinding di beberapa ruangan tertutup gorden dua lapis.

Susunan cat, palet, kanvas. Kertas demi kertas, membentuk buku tebal terbuka di atas meja. Tulisan sangat rapi, sepertinya membentuk suatu cerita panjang di dalamnya.

Tiga ranjang berukuran mini ditempati tiga orang anak sedang tidur, tentunya. Dua perempuan, satu laki-laki. Mereka sangat nyenyak dalam alam mimpi.

Tok, tok, tok. Pintu dalam ruangan menyatu kamar dan ruang permainan, diketuk lembut oleh seorang wanita cantik berpakaian sederhana tampak memegang nampan berisi tiga piring.

"Anna, Alice, Andre. Bangun nak," wanita itu menyerukan nama anak-anaknya.

Sedetik. Dua detik. Tiga detik.

Ceklek.

"Bunda!"

"Bunda!"

"Bunda!"

Tiga anak balita itu seperti biasanya selalu mengagetkan Kei, nama panggilan wanita itu. Ketiga anak, memeluk di berbagai sisi, bagian kaki panjang berbalut celana hitam karet milik Kei.

"Haha, tunggu sayang. Jangan terburu-buru," Kei segera meletak nampan di atas meja dekat posisinya. Di sana terdapat susunan buku cukup tebal tampak sudah dicetak rapi.

Kei berjongkok, menunjukkan senyuman manis, keibuannya. Menatap tiga anaknya. Ya, tiga anak. Anak yang dikandung, dan dilahirkannya secara cesar lima setengah tahun yang lalu.

Anna, Alice, dan Andre, nama ketiga anak-anaknya. Sangat cantik dan tampan. Mata biru, dan rambut pirang menjadi dominasi permukaan wajah mereka.

Nampaknya tiada dari raut wajahnya ditiru oleh anak-anaknya kecuali kenyataan yang tidak pernah bisa terbantahkan, yaitu Kei adalah wanita yang melahirkan ketiga jagoan cilik ini!

"Selamat pagi sayang-sayang bunda!" sambut Kei melebarkan telapak tangan.

Dan anak-anaknya segera mendekatkan tubuh mereka ke dalam pelukan hangat ibu mereka.

"Pagi bunda!"

"Pagi sayangnya Alice."

"Pagi bundaku yang jelek!"

Dan begitulah Kei disebut oleh ketiga anak-anak kembarnya. Anna, si kakak besaran, biasa menyebut mamanya.

Sedang Alice, gadis cilik itu sangat sayang dengan mamanya. Uh, terlihat sekali jika Alice anak mami, sayang keluarga!

Serta Andre, dengan segala keusilan yang membentuk dirinya, entah dapat dari mana sifat itu, mengejek Kei, mamanya adalah kebiasaan usilnya tiap hari.

Karena menurutnya, tiada orang yang lebih luar biasa dari padanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED