Aku berdiri di atas balkon hotel yang menjulang tinggi bersama gedung pencakar langit lainnya. Aku sudah sampai di posisi pemilik tunggal dengan saham terbanyak, memiliki segalanya dan dihormati serta disegani banyak orang.
Siapa yang akan menduga jika aku nyonya Airin Zafira dulunya hanya seorang gadis kampung lulusan diploma pariwisata perhotelan yang mampu mencapai posisi tertinggi di sini. Aku tersenyum puas mungkin malam ini adalah puncak keberhasilanku dan juga titik kehancuranku. Dendamku sudah usai, kubayar dengan tunai pada seorang laki-laki yang dulu tidak melihatku sebagai manusia.
Laki-laki itu tidak melihatku sebagai manusia, dia hanya menganggap semua wanita hanya permainan dan pemuas nafsunya belaka. Betapa dulu dengan mudahnya dia menginjak harga diriku, merampas kehormatanku dan membuangku begitu saja.
Kamar hotel VIP ini jadi saksinya, saksi atas bejadnya seorang laki-laki memperdaya gadis lugu yang sedang bekerja membiayai keluarganya di kampung. Gadis muda yang hanya bisa menangisi dirinya yang sudah tidak suci lagi, membakar seragam hotelnya dan ingin bunuh diri seketika itu juga.
Tetapi takdir berpihak padaku hingga aku diperkenankan hidup, merangkak, jatuh bangun kerja keras meraih kesuksesan. Lalu di sinilah aku, berdiri tegak di malam laki-laki bernama Ariel sedang menuai karma. Aku tertawa puas … sangat puas … Ariel menggelar pesta di ball room hotelku, pesta yang sangat meriah hingga nyaris pembesar-pembesar dan kaum kalangan atas menghadiri pestanya. Tentu saja aku tidak keberatan untuk membantunya menyiapkan pesta untuknya. Pesta kemeriahan menuju nerakanya
Dua puluh tahun yang silam …
“Rin, dipanggil sama bu Sanjaya di ruangannya.” Kartika salah seorang temanku menghampiriku yang sedang membawa map dan ingin menyerahkan laporan ke menejer hotel.
“Sekarang?” tanyaku ragu, pak Andy menejer hotel ini galaknya minta ampun tapi menunda panggilan pemilik hotel ini pun kurasa tidak etis.
“Baik Tika, aku kesana sekarang, makasih yaa.” Kartika hanya tersenyum dan berlalu. Aku merapikan sejenak pakaian dan sanggul rambutku. Perasaanku cemas tak karuan, apa aku melakukan kesalahan yaa selama aku bekerja di sini? Memang aku baru bekerja beberapa bulan tapi aku bekerja dengan penuh dedikasi bahkan aku rela bekerja melebihi jam kerjaku jika memang ada hal yang belum beres atau belum maksimal.
Aku menarik nafas panjang dan mengatur debaran jantungku, aku tidak boleh gugup dan harus tampak percaya diri. Pintu kuketuk dengan pelan dan suara lembut ibu Sanjaya terdengar menyahutiku dan menyuruhku masuk.
“Duduklah Airin. Jangan tegang begitu gak ada yang salah kok sama kamu.” Nyonya itu tersenyum hangat dan memberi efek tenang.
“Maaf jika mengganggu waktu kerja kamu. Aku ingin bicarakan hal yang penting dan bersifat pribadi.”
“Tidak kok Bu, tidak mengganggu. Hal pribadi apa yaa Bu?”
Ibu Sanjaya mendehem sejenak, tampaknya beliau sedang mempersiapkan diri berbicara denganku.
“Apa kamu sudah punya kekasih atau calon suami Airin?”
Aku cukup terkejut dengan pertanyaan bu Sanjaya ini, apa ada maksud tertentu beliau menanyakan hal itu?
“Saya tidak punya pacar atau calon suami Bu, saya masih ingin fokus pada pekerjaan saya. Saya ingin menerapkan semua pengetahuan yang telah saya pelajari di hotel ini.”
Ibu Sanjaya tampak tersenyum lega, lalu beliau berjalan menuju sofa dan memanggilku untuk duduk di sampingnya.
“Duduk di sini Airin agar kita bisa bicara lebih santai.” Tangannya menepuk sofa yang letaknya di samping beliau, sedikit ragu aku mengikuti keinginannya. Lagi-lagi aku terkejut saat beliau meraih tanganku dan menggenggam jemariku erat.
“Airin, aku ingin minta tolong sama kamu. Aku sudah memperhatikan prestasi kamu sejak kamu magang dan aku akhirnya meminta kamu bekerja di sini. Kamu cerdas, pekerja keras, berdedikasi tinggi dan kamu tipe yang ramah serta baik hati.” Ibu Sanjaya mengatupkan bibirnya ada kesedihan di raut wajahnya lalu mata sendu miliknya memandangiku sayu.
“Aku terkena kanker setengah tahun yang lalu, harapan hidupku tipis Airin, usiaku tidak muda lagi dan aku sepertinya ditakdirkan tidak bisa memiliki keturunan. Aku tidak ingin semua usahaku ini sia-sia, Ariel keponakanku mengincar hotel ini untuk diubah menjadi casino dan tempat hiburan. Aku tidak akan rela Airin, jadi … ku mohon menikahlah dengan suamiku Sanjaya.”
Aku seperti tersengat listrik spontan menarik tanganku dari genggaman hangat ibu Sanjaya. Aku berharap presdir dari hotel megah ini sedang membuat lelucon yang tidak lucu.
“Aku tahu kau pasti terkejut Airin, aku pahami itu. Kau gadis muda yang cantik dan punya masa depan yang cerah, tak mungkin bagimu menikahi seorang lelaki tua yang bahkan seumuran dengan ayahmu. Tapi aku memohon kepadamu.” Air mata ibu Sanjaya menitik jatuh ke pipinya yang mulai tampak kerutan.
“Ta-tapi … kenapa harus saya Bu? Saya hanya gadis miskin yang hanya mengadu nasib di kota besar ini. saya dan Ibu bagai langit dan bumi, tidak mungkin saya menikahi tuan Sanjaya yang sangat terpandang dan dihormati.”
Ibu Sanjaya kembali menarik tanganku dan menggenggamnya lebih erat lagi.
“Aku melihat bayangan diriku ketika muda di dirimu Airin. Penuh semangat, pekerja keras, jujur dan tangguh. Aku dan suamiku sudah membicarakan ini berkali-kali dan hanya dirimu yang tepat untuk menggantikanku menjalankan hotel ini.”
“Sa-saya belum berpengalaman Bu, saya belum tahu apa-apa untuk hotel sebesar ini.” jantungku berdebar tidak karuan, ini seperti mendapat durian runtuh tetapi beserta durinya yang menimpa kepalaku dan membuatku pening.
“Pak sanjaya akan membimbingmu sebaik mungkin, kau akan melanjutkan pendidikanmu di luar negeri setelah menikah dengan pak sanjaya. Kamu anak yang pandai aku yakin dalam waktu singkat kau akan menyelesaikan pendidikanmu dan kembali ke hotel ini.”
Ibu Sanjaya menatapku dengan mata yang basah dan memohon.
“Airin, waktuku sudah tidak banyak, aku yakin kelak kau akan membawa hotel ini jauh lebih besar dan sukses lagi. Jangan biarkan Ariel mengambil alih jerih payahku selama puluhan tahun. Dengan tali pernikahan resmi kepemilikan saham hotel akan bisa kau miliki dan selamatkan hotel ini. ku mohon Airin. Pikirkanlah dan beri aku jawabannya segera.”
Aku melangkah gontai keluar dari ruangan ibu Sanjaya, seperti ada beban berat yang tiba-tiba jatuh di bahuku. Segala kebaikan dan keramahan suami istri Sanjaya itu melintas berulang kali di kepalaku.
Brruuuk … aku terkejut dan hilang keseimbangan hingga tersungkur di lantai hotel. Kertas laporanku berhamburan di lantai. Rupanya aku sudah menabrak seseorang.
“Maaf … Maaf Tuan, saya tidak hati-hati sampai menabrak anda.” Aku segera berlutut dan memunguti kertas itu di lantai, laki-laki itu membantuku memungutinya dan berusaha pula membantuku berdiri.
“Kalau jalan jangan sambil melamun dong Nona Cantik.” Suara laki-laki itu terdengar berat seperti suara di iklan-iklan tivi . Aku mendongak ke arah sumber suara itu, pria dengan pahatan rupa yang sempurna. Mata iris coklat yang tajam, hidung mancung dan alis yang bertaut. Tubuh tegap berisi tercetak hasil dari olah tubuh di gym. Tetapi cara memandang ke arah ku membuatku jengah. Tatapan matanya liar menyusuri setiap lekuk tubuhku seakan ingin menelanjangiku sekejap itu juga.
“Terima kasih, maaf permisi saya harus bekerja lagi.” Aku melewatinya begitu saja dari tatapan matanya aku bisa membaca jika laki-laki ini sekelas buaya berat.
“Hey, tunggu nama kamu siapa Nona ? by the way namaku Ariel!” serunya saat aku mulai menjauh, ‘Huuh tahu namamu saja enggan bagiku Tuan.’ Omelku dalam hati.
Langit sudah mulai malam, jadwal shift ku sudah hampir selesai. Aku ingin masuk ke ruang ganti baju karyawan ketika manajerku memanggilku.
“Rin tolong handle dulu tamu di kamar 1133, dia mau room servis untuk dinner tapi gak tau nih kenapa pesanannya salah mulu dianter dari tadi. Coba cek jangan sampai ada komplain.”
“Baik Pak.” Mau tidak mau aku bergegas menuju kamar yang dimaksud. Aku ingin bicara dengan penyewa kamar dan memahami keinginannya. Pintu lift terbuka dan aku masih menggenggam HT di tanganku untuk kemudahan berkomunikasi. 1133, angkanya tertera di pintu paling ujung dengan pemandangan balkon yang terbaik.
Aku mengetuk pintu dan suara dari dalam sana terdengar familiar. Aku masuk untuk memastikan masalah apa yang terjadi. Tampak di meja telah tersaji aneka rupa hidangan dan dua botol anggur yang mahal.
“Hai Nona Airin, butuh waktu setengah hari untuk mencari informasi tentangmu. Waktu yang sempurna sekarang untuk mengajakmu makan malam.” Laki-laki yang kutabrak tadi pagi ternyata penyewa kamar ini. Ariel … Ariel … aku mencoba mengingat nama ini, apakah dia keponakan ibu Sanjaya?
“Maaf Tuan saya tidak bisa. Jam kerja saya sudah selesai dan saya harus pulang sekarang.” Aku berbalik hendak keluar tapi tiba-tiba Ariel memelukku dari belakang dan berbuat hal yang kurang ajar. Aku berontak sekuat tenaga, sayangnya HT ku terlepas dari tanganku. Aku ingin mengambilnya kembali agar bisa meminta bantuan namun tenaga Ariel jauh lebih kuat, bahkan cakaran, tendangan dan pukulanku tidak mempan baginya.
“Woaahh … singa betina yang tangguh, ayolah jangan melawan… ini pertama kali bagimu yaa?” Ariel semakin bernafsu ingin menjamahku, aku melawan sekuat yang aku bisa, aku tidak akan memohon untuk dilepaskan yang akan membuatku terlihat lemah di matanya. Aku harus keluar dari sini!
Mungkin Ariel memang sudah merencanakannya dari saku celananya dia mengeluarkan sapu tangan dan membekapku beberapa menit. Aroma dari sapu tangan itu menyengat hingga membuat tubuhku lemas, kepalaku pusing berat dan pandangan mataku kabur. Aku masih melakukan perlawanan terakhirku hingga setengah kesadaranku mulai menghilang, yang terakhir ku ingat adalah kancing bajuku yang mulai dibuka oleh laki-laki bajin*an itu. Lalu aku merasakan sakit di bawah sana kemudian semuanya memudar, hilang dan gelap.
Aku membuka mata perlahan, kepalaku masih terasa pusing dan berat. Ku coba untuk mengumpulkan ingatanku, ruangan ini … aku ada di kamar hotel. Dengan terperanjat aku bangun, hanya selimut saja yang menutupi tubuhku, semua pakaianku terserak di lantai. Mendadak aku gemetar, jantungku seakan mau meledak karena degupannya yang kencang.
Aku pun membungkus diriku dengan selimut, air mataku deras mengalir tanpa suara, ku punguti pakaian dalam, rok dan baju seragamku dengan hati yang pecah. Rasa perih dan sakit di bawah sana semakin mempertegas perbuatan laki-laki itu yang telah menghancurkan hidupku. Aku benci dirinya dengan semua kebencian yang aku punya!
Jemariku masih gemetar mengancing satu persatu kancing baju seragamku bahkan ada sobekan di bagian bahu baju ini. Sanggul rambutku terurai dan membuatku sangat kacau. Napasku berhenti sesaat ketika suara air di kamar mandi terhenti dan laki-laki itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk dengan kepala dan badan yang basah. Tatapanku tajam dan nyalang menghujam dirinya, perutku mual saat dia tersenyum lebar kepadaku seakan tidak terjadi apa-apa di antara kami.
“Kau sudah sadar Nona? Sudahlah jangan diambil hati kejadian ini, semua perempuan kan akan mengalaminya juga,menikmati surga dunia he he he …” dia terkekeh dan menganggap kejadian ini hanya permainan.
“Kau sudah memperkosaku bajin*an!!” seruku dengan tumpahan air mata, semua rasa sakit bercampur aduk memenuhi diriku. Ariel berbalik dan mengambil dompetnya, dia mengeluarkan uang puluhan lembar pecahan seratus ribu dan menyodorkannya kepadaku. Darahku mendidih melihat uang yang dia tawarkan layaknya aku seorang pelacur. Dada bidangnya serta pipinya terdapat goresan yang ku yakin itu adalah bekas cakaranku. Aku maju mendekatinya, dia tersenyum semakin lebar dan …
Plaak…! Plaaak…! Dua tamparan beruntun di kedua pipinya kulayangkan dengan sekuat tenaga.
“Aku bukan pelacur banji*an ! kau sudah menghancurkan kehidupanku ban*saaat!” aku berteriak histeris di depannya. Laki-laki itu mengusap pipinya yang merah lalu meletakkan uang itu begitu saja di atas tempat tidur matanya menatapku dengan sinis.
“Aku bersumpah Tuhan, malaikat dan iblis jadi saksinya Ariel, suatu saat nanti kau akan mendapatkan pembalasan yang luar biasa atas perbuatanmu kepadaku!” aku berbalik dan berjalan perlahan sambil mendekap diriku yang masih gemetar hebat, aku merutuk semua sakit yang ku rasakan, aku benci sakit di sela pahaku yang membuatku sulit berjalan.
Aku benci dengan diriku yang berhasil dikotori Ariel. Aku berjalan di koridor hotel dengan perasaan hancur, koridor di mana yang sering aku lalui dengan kepala tegak serta percaya diri. Hidupku sudah selesai … sudah selesai.
Aku tiba di rumah menjelang dini hari, ibu sudah tidur hingga aku tak perlu menjelaskan mengapa aku pulang terlambat. Sesampainya di kamar aku mengambil baju handukku dan melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhku. Aku memasukkan semuanya ke dalam tempat sampah di bawah meja riasku. Ku amati leher dan dadaku yang terdapat titik titik merah, lenganku yang memar serta pahaku yang terdapat cairan yang bercampur darah mongering di sana.
Aku merasa jijik bergegas aku masuk ke kamar mandi, menyalakan shower, membasuh seluruh tubuhku dengan kuat, menuangkan semua isi sabun cair yang baru saja kubeli kemarin. Sambil terisak aku membersihkan diriku, tapi bekas merah di leher dan dadaku ini tidak bisa menghilang. Aku benci diriku yang kotor ini, aku benci makhluk biadab bernama Ariel itu!
Sinar matahari menerobos masuk dan jatuh di lantai kamarku. Aku masih bergelung dalam selimut, menggunakan sweeter turtle neck, celana panjang dan kaos kaki. Badanku terasa panas dingin dan remuk mataku bengkak dan kepalaku yang sakit seperti mau pecah. Dari semalam usia mandi aku tidak bisa tidur bahkan sejenak. Ketukan di pintu kamarku terdengar dan aku menutup mata berpura-pura tidur.
“Rin, ini sudah siang lho Nak, kamu gak berangkat kerja Sayang?”
Kerja ? apa masih penting lagi hal itu untukku? Yang ku inginkan sekarang adalah menyusul ayah ke alam baka sana.
Pintu pun dibuka ibu, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambutku.
“Sayang, kamu gak kerja hari ini Nak?” suara lembut ibu semakin membuat hatiku teriris apa jadinya jika ibu tahu kalau hidupku sudah hancur karena diperkosa orang?
“Gak Bu, Airin off beberapa hari ini jadi Airin ingin istirahat dulu.” Air mataku meleleh tapi ibu tidak boleh tahu apa yang terjadi denganku meski aku tidak tahu harus menyembunyikannya berapa lama.
“Hari ini ada hajatan di rumah bibimu, ibu mau ke sana bantu-bantu dulu yaa, mungkin sore baru ibu pulang. Ada makanan di kulkas bisa kamu panasi. Istirahat yang cukup yaa Nak.” Ibu mengecup kepalaku dengan lembut kemudian pintu terdengar ditutup kembali. Bahuku berguncang, tangisku kembali meledak yang ku samarkan dengan menutup mulutku memakai selimut.
Ponsel Nokia milikku bergetar dan berdering berkali-kali, silih ganti panggilan dan sms masuk namun aku tak hiraukan. Kartika, pak Andy dan rekanku yang lain tengah mencariku, peduli setan dengan mereka serta hotel itu. Mendadak melintas bayangan ibu Sanjaya yang yang tersenyum ramah, pak Sanjaya yang berwibawa serta bertutur kata lembut.aku akan menjadi istri muda pak Sanjaya? Aku merasa seperti terdengar seperti seorang gundik yang haus harta saja. Lalu bayangan itu berganti ke sosok setan bernama Ariel wajah rupawan yang berhati busuk andai bisa kubunuh saja laki-laki itu.
Hari ketiga aku bolos kerja, ponselku pun sudah tidak sibuk berdering lagi ketika kehabisan daya dan aku tidak mengisi ulang. Bersyukur ibu masih sibuk di rumah bibiku yang akan menggelar pesta pernikahan putrinya. Aku masih mengenakan sweeter turtle neck itu karena bekas merah dan memar karena kejadian itu masih terlihat walau sudah samar-samar. Kemarin aku membakar seragam hotelku yang kupakai di kejadian malam itu. Lamunanku terhenti ketika aku mendengar ketukan di pintu depan. Aku mengabaikannya dan seakan rumah ini kosong. Tapi ketukan it uterus terdengar dan tahu jika ada aku di dalam rumah. Dengan enggan aku melangkah dan membukanya, aku terkesiap, wajahku pias dan kembali tubuhku bergetar. Ibu Sanjaya dan pak Sanjaya sudah berdiri di hadapanku.
“Boleh kami masuk Airin?” tanya beliau masih dengan suara yang lembut. Aku hanya mengangguk dan mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di kursi tamu. Aku duduk di depan mereka dengan wajah tertunduk dan tubuh yang gemetar, semua yang berkaitan dengan hotel tempatku bekerja membuatku ingin menangis.
“Apa sesuatu telah terjadi padamu Airin?” ibu Sanjaya berdiri dan mengambil posisi duduk di sampingku.
“Kami mencarimu tiga hari ini, kamu bukan tipe pekerja yang menghilang begitu saja tanpa alasan. Aku bertanya pada menejer Andy, hari terakhir kau terlihat adalah saat melayani tamu di kamar 1133. Kamarnya Ariel.”
Tangisku meledak mendengar nama itu, bahkan namanya saja yang ku dengar sudah membuatku ingin mati saja. Elusan di punggungku sedang berusaha membuatku tenang.
“Kami akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padamu Airin, katakan apa kau ingin membawa ini menjadi kasus hukum?” pak Sanjaya bertanya juga dengan suara lembut.
“Bagaimana Ibu dan Bapak bisa tahu apa yang sudah terjadi?” aku masih terisak dan merasa tak percaya bisa menjerat Ariel ke hukum negara.
“Aku tahu ketika aku bertanya pada menejer Andy mengapa kamu tak terlihat dua hari terakhir ini, aku pikir kau sedang meminta ijin cuti, tapi firasatku tidak enak saat menejer Andy bilang kalau kamu terakhir berada di kamar Ariel. Kemarin aku bertemu Ariel ada bekas goresan di pipinya katanya itu ulah kucing betina.” Ibu Sanjaya menghela napas, dia meminta suaminya ikut menjelaskan, suaranya serak menahan tangis di tenggorokannya.
“kami akhirnya memutuskan untuk melihat rekaman cctv, kami melihat kamu masuk dengan berpakaian rapi dan menggenggam HT. Tetapi beberapa jam kemudian kamu keluar dari kamar Ariel dengan berantakan, baju yang sobek dan jalan yang gontai. Kami mendesak Ariel untuk bicara dan Ariel mengelak katanya kalian melakukan itu karena saling suka.” Terang pak Sanjaya yang membuat tangisku semakin meledak.
“Saya diperkosa Pak … Bu… laki-laki itu telah memperkosa sayaaa…! Aku menangis meraung dan seketika ibu Sanjaya memelukku erat.
“Iya Airin … kami tahu… kami percaya Ariel telah melakukan perbuatan terkutuk itu. Maka dari itu kami datang mencarimu untuk membantumu. Apa yang bisa kami lakukan untukmu?”
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, aku berusaha menenangkan diri. Lalu ide gila itu muncul begitu saja.
“Apa tawaran Ibu masih berlaku meski saya sudah tidak suci lagi?” tanyaku dengan mantap. Ibu Sanjaya memandangi suaminya sejenak pak sanjaya mengangguk.
“Tentu, kamu harus melanjutkan hidupmu Airin, apa yang menimpa kamu jangan menjadi penghancur bagimu. Kamu harus bangkit dan tegak berdiri.” Ibu Sanjaya menepuk bahuku untuk menguatkanku.
“Baiklah, saya bersedia menikah dengan Bapak dan saya berjanji akan belajar sungguh-sungguh, bekerja sebaik mungkin dan memberi yang terbaik buat hotel, buat nama Sanjaya. Tapi saya meminta sesuatu pada Ibu dan Bapak.”
“Hal apa itu Airin?” Ibu Sanjaya bertanya dengan hati-hati.
“Tolong rahasiakan kejadian ini, saya tidak mau kalau ibu saya tahu jika saya sudah diperkosa orang. Ibu saya sudah membesarkan saya dengan baik seorang diri, saya tidak ingin ibu saya sedih. Tidak boleh ada yang tahu jika Ariel adalah pelakunya, siapa pun.”
“Baiklah jika itu keinginanmu Airin, kami menghargainya.” Ujar pak Sanjaya masih dengan sikap wibawanya.
“Kapan kau akan siap kami lamar? Apa kau masih butuh waktu?” Ibu Sanjaya menatapku dengan dalam, pasti dia tau berat bagiku korban perkosaan untuk mengubah keadaan begitu cepat.
“Segera Bu, secepatnya, saya ingin kuliah setelahnya seperti yang Ibu janjikan.”
“Baiklah, kita akan melakukan lamaran sekaligus pernikahan untukmu. Kabari aku jika ibumu sudah berada di rumah.” Ibu Sanjaya mengelus kepalaku, mengecup dahiku kemudian memberi pelukan hangatnya.
“Terima kasih Airin, terima kasih.” Bisiknya di telingaku.
Pernikahan berjalan secara sederhana dan hanya dihadiri oleh orang terdekat saja. Ibuku sangat terkejut dengan keputusanku yang mendadak ini. Beliau sempat menolak karena tak percaya aku mau jadi istri kedua laki-laki yang usianya lebih pantas jadi ayahku saja.
Akan tetapi semua penjelasanku tentang sakit kanker yang diderita ibu Sanjaya dan kuliah lanjutan yang ku cita-citakan itu mampu meluluhkan hati ibuku. Hanya Kartika saja dan pak Andy yang menghadiri pernikahanku itu pun aku meminta mereka untuk merahasiakannya sementara waktu paling tidak sampai aku kembali dari luar negeri kelak.
Aku dan ibu diboyong keluarga Sanjaya ke rumahnya yang besar. Semua asisten rumah tangga menaruh hormat yang sama seperti mereka menghormati ibu Sanjaya. Di malam pertama itu aku melihat kasih sayang antara suami istri yang baru saja mengambilku sebagai madunya.
Ibu Sanjaya kelelahan karena ikut mengurus proses pernikahan kami sehingga kesehatannya menurun. Dengan telaten pak Sanjaya mengurus istrinya dengan penuh kasih sayang. Aku membantu membersihkan tubuhnya dan menggantikan bajunya.
“Istirahatlah Mas, aku sudah mendingan. Malam ini kamu tidur dengan Airin yaa.” Ibu Sanjaya tersenyum manis kepada suaminya seakan tak ada beban baginya di poligami ini. Aku terharu dan seketika berlutut di depan ibu Sanjaya, menopang kepalaku di lututnya dan menangis tersedu.
“Eeeh… kamu kenapa Airin? Kenapa jadi nangis begini?” ibu Sanjaya terlihat sedikit cemas, tanpa riasan wajah ibu Sanjaya terlihat lebih tua dan lelah.
“Terima kasih atas kebaikan Ibu kepada saya, jika tidak terjadi pernikahan ini mungkin saya sudah mati.”
Aku kembali tergugu di atas pakaian tidur halus berwarna putih tulang yang dikenakan ibu Sanjaya.
“Lupakanlah perlahan kejadian buruk di masa lalumu Airin. Sekarang kamu adalah nonya muda tuan Sanjaya. Percayalah, bapak itu laki-laki yang baik, lembut, tak pernah dia menyakiti hatiku dan aku yakin bapak juga akan berlaku hal yang sama untukmu. Jadilah istri yang baik untuk bapak yaa Airin.”
Aku mengangguk, tangannya yang lemah memegang kedua bahuku dan memintaku berdiri.
“Bersikaplah lemah lembut kepada bapak, dengarkan keluh kesahnya jadilah sandaran bapak jika nanti aku sudah pergi lebih dahulu. Tetapi di luar sana jadilah wanita yang tangguh, perkasa dan disegani. Lakukan itu untukku yaa Airin?” masih dengan senyumnya yang teduh ibu Sanjaya menatapku dengan penuh harap. Air mataku sekali lagi jatuh, aku melihat nyata sosok malaikat dalam diri ibu Sanjaya.
Tatapanku berkeliling dalam kamar yang dipersiapkan untukku. Benar-benar kamar pengantin dengan dekorasi bunga yang cantik. Aku terduduk di lantai kamar menyaksikan ini semua, kembali merasakan sakit di balik dadaku. Walaupun kamar ini indah seperti dalam dongeng, bukan tapi ini bukan malam pertama yang kudambakan.
“Tenangkan dirimu Airin, Bapak paham dengan situasimu. Ayo, berdirilah.” Pak Sanjaya membimbingku untuk duduk di tempat tidur yang bertabur kelopak bunga.
“Bapak tidak akan melakukan hal itu meski Bapak sudah resmi jadi suami kamu. Bapak tidak akan menambah beban kamu, jadi lupakan hal itu. Bapak melakukan ini demi memenuhi permintaan ibu juga. Bapak ingin melihat ibu tenang menghadapi penyakitnya.” Pak Sanjaya mengelus kepalaku dengan penuh kasih. Sifat pengayomnya begitu terasa dan seketika membuat hatiku tenang.
“Maafkan sikap saya Pak, saya akan berusaha untuk mengendalikan diri saya.” Dengan sekuat tenaga aku menahan perasaan dan traumaku.
“Kau tahu Airin, baru kali ini Bapak tidur terpisah dengan ibu, meski kami bertengkar hebat kami tetap tidur seranjang tapi saling memunggungi he he he …,” pak Sanjaya tertawa kecil. Lalu beliau mengambil satu bantal.
“Kau tidurlah yang nyenyak, biar Bapak tidur di sofa saja.” Pak Sanjaya kemudian berbaring dan menutup matanya. Perlahan aku merebahkan tubuhku dan berharap esok adalah permulaan yang baik untuk hidup baruku.
Kami berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, bahkan mba Tias asisten pribadi ibu Sanjaya juga turut hadir. Tampaknya ada hal yang penting sehingga pagi-pagi mba Tias datang ke rumah ini.
“Tias, tolong bantu Airin berpakaian yaa, pilihkan dia pakaian yang sesuai, aku ingin mengumumkannya menjadi Assistant General Manager siang ini.”
Aku nyaris tersedak makananku, itu adalah posisi yang jauh di atas sana dibanding posisiku sekarang sebagai bawahan Food And Beverage Manager.
“Maaf Bu, apa ini tidak terlalu cepat?” tanyaku hati-hati.
“Tidak Airin, kamu harus mulai belajar dari sekarang karena jika aku sudah tidak ada nanti maka kamu yang akan menjadi General Manager Sanjaya Hotel.”
“Tapi bukankah Bapak…,” aku menjeda kalimatku, aku melirik ke arah pak Sanjaya yang tengah santai membaca Koran.
“Bapak tetap akan membantumu Airin, tapi bisnis kontruksi Bapak sedang menyedot perhatian Bapak ke sana . kamu gak bakal sendiri, ada mba Tias dan Andy yang akan mendampingi kamu.”
Akhirnya aku menurut saja, perkuliahan pun masih ada beberapa bulan lagi untuk menunggu terbuka.
Aku mendorong kursi roda ibu Sanjaya menuju ruang rapat diikuti mba Tias dan pak Andy. Semua mata tertuju padaku yang menghilang selama dua pekan lalu muncul bersama ibu Sanjaya. Aku memilih blazer dan celana panjang berwarna hitam, entah mengapa sejak kejadian itu aku enggan menggunakan rok lagi. Aku lebih percaya diri dengan celana panjang pipa ini. Mba Tias bahkan memanggil juru rias ibu Sanjaya juga untuk merias diriku dan hasilnya banyak yang tidak percaya kalau yang sedang bersama ibu Sanjaya itu aku.
Dadaku bergemuruh melihat sosok laki-laki itu tengah duduk santai menunggu rapat internal dimulai, Ariel … Ariel Rivaldo. Hanya butuh waktu sebentar saja semua Manager mulai dari controller, Plant, executive house keeper, HRD, Recreation Director, Food and Beverage, Front Office hingga Security Director berkumpul. Ariel sebenarnya tidak punya jabatan di sini namun awal dari usaha perhotelan milik ibu Sanjaya melibatkan adik dari pak Sanjaya dan adik pak Sanjaya menyerahkan saham 25% kepada putra tunggal mereka Ariel. Konon kabarnya Ariel sendiri memiliki bisnis yang lain sejumlah restoran, casino dan tempat hiburan malam.
“Saya ingin mengumumkan kepada kalian, jika saya dalam waktu dekat saya akan mengundurkan diri sebagai General Manager. Sebagai gantinya saya akan menunjuk seseorang yang belum saya umumkan sekarang. Jika sebelumnya di hotel kita ini belum ada Assistant General Manager maka mulai hari ini posisi itu ada dan dipegang oleh Airin Zafira.”
Seketika ruangan terdengar bisik-bisik yang riuh. Segala macam keterkejutan dan dugaan merebak dalam ruangan yang dihadiri para Manager dan Director. Aku bergeming dan memasang wajah datar terlebih saat mata Ariel terbelalak melihat ke arahku tak percaya.
“Posisi Ibu Airin sudah disahkan dalam berkas hukum mengenai jabatan di hotel kita. Jadi mulai hari ini dia akan bertanggung jawab menggantikan saya sementara. Kalian bisa bekerja sama dengan Airin dalam segala keputusan hotel dan Airin yang akan bertanggung jawab langsung kepada saya.”
Ibu Sanjaya terbatuk kecil, aku ingin membantunya namun beliau menolak dan memberi kode pada mba Tias untuk memberinya segelas air. Ibu sanjaya mempersilahkan aku berdiri untuk menyampaikan sesuatu. Aku mengepalkan tangan meredam gugup yang membuatku sedikit gemetar.
“Selamat Siang semuanya, perkenalkan saya Airin Zafira. Mohon bantuan dan kerjasamanya untuk hotel kita ini. Terima kasih,” aku kembali duduk dengan tenang. Ibu Sanjaya memberiku senyumannya.
Para Manager dan Director mulai meninggalkkan ruang rapat dan hanya menyisakan aku, ibu Sanjaya, mba Tias dan … Ariel.
“Bibi Andriana, apa gak salah Bibi mengangkat perempuan ini menjadi asisten general menejer?” Ariel mendekat dan duduk tak jauh dari kursi roda bu Sanjaya. Ibu Sanjaya memberi kode agar mba Tias meninggalkan kami.
“Tidak, keputusanku tidak salah. Toh kamu juga tidak terlibat langsung dalam operasional hotel.”
“Tapi aku pemegang saham juga di hotel ini Bi, andai posisi itu tadinya ada maka aku yang berhak bukan perempuan yang tidak jelas latar belakangnya.” Ariel menatapku sinis. Wajahku memanas, dia mulai menghinaku lagi.
“Ariel, kamu tidak berkompeten sama sekali dalam bisnis hotel ini, kembali saja kamu ke Macau untuk rumah judimu itu! Itu lebih cocok untukmu.”
“Bi, casino dan hiburan malam jauh menguntungkan dibanding hotel Bibi saat ini.”
“Ariel, Bibi masih menyimpan bukti atas kejahatanmu kepada Airin,pergilah sejauh mungkin dari tempat ini. Jika kau masih mencoba mengganggu Airin atau salah seorang pegawai hotelku maka aku tidak akan segan-segan memenjarakanmu! Ibu Sanjaya mulai tersulut emosi.
Ariel tertawa seakan baru saja mendengar hal yang lucu.
“Kejahatan apa Bi jika kami melakukannya dengan suka sama suka, iya kan Sayang?” Ariel ingin menyentuh pipiku tapi aku menepisnya dengan kasar. Rasanya aku ingin menusuknya tepat di jantung sekarang ini.
“Jangan memaksaku untuk menyeretmu ke penjara Ariel, mulai dari sekarang jaga sikap dan perbuatanmu, kau tahu jika aku bisa berbuat apa saja.” Ancam ibu Sanjaya dengan geram.
Wajah Ariel memerah dan berbalik mendekatiku,
“Ooh… apa kau sedang merencanakan sesuatu perempuan jala*g? kau sanggup mempengaruhi Bibi Andriana untuk posisimu ini hah?!”
“Jaga sikapmu Ariel, kau sudah sangat kurang ajar!” hardik seorang pria. Kami spontan melihat ke arah pintu. Pria yang biasa kusebut pak Andy terlihat marah dan siap bertarung dengan Ariel
Ariel tidak melanjutkan lagi intimidasinya dia pun meninggalkan kami namun sebelum berlalu dia mengatakan sesuatu kepada pak Andy.
“Kau hanya anak har*m papa jangan sok dan belagu jadi pahlawan di sini! Tapi terima kasih yaa sudah mengirimkan Airin ke kamarku malam itu rupanya dia masih perawan.” Ariel melemparkan seringainya kepadaku dan pak Andy.
Aku tersentak kaget mengetahui jika Ariel dan pak Andy bersaudara dan kalimat Ariel tentang aku. Akan tetapi yang membuatku lebih terkejut lagi tiba-tiba ibu Sanjaya terkulai lemas tak sadarkan diri.