Part 1
Senangnya hasil testpack ku positif
"Yank aku hamil loh!!" Kataku girang pada suamiku pagi itu.
"Beneran nih Yank? Alhamdulillah berarti sebentar lagi aku jadi Ayah nih," kata suamiku tak kalah bahagia sambil memelukku.
"Iya Yank, Alhamdulillah. Sebentar lagi kita jadi orang tua. Mulai sekarang kita ganti panggilan jadi Ayah dan Bunda aja ya, biar tersbiasa nantinya. Gimana Yah?" Ucapku sambil melepaskan pelukan dengan suamiku.
"Siap Yank, eh Bunda. Terima kasih ya sudah memberi kebahagian tak terkira padaku. Memang ini yang kutunggu tunggu. Dan Alhamdulillah belum genap sebulan kita menikah, kamu sudah hamil Bun. Dijaga baik baik ya kandungannya ya, kalau bisa sih Bunda berhenti saja bekerja, biar aku saja yang cari nafkah. Insyaallah gajiku sudah sangat cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kita, dan juga untuk lahiran nanti," jawab suamiku yang kini sedang menggenggam tanganku dan menatapku.
"Tapi aku masih ingin bekerja Yah, janji deh nggak bakal kecapekan. Pliss ya, nanti kalau mau lahiran baru aku resign deh," kataku memohon.
"Oke oke deh. Tapi nanti kalau misalnya setelah kita periksa, dokter meminta Bunda banyak istirahat, Bunda juga harus janji bakal langsung resign dari kerjaan loh," ucap suamiku menatapku serius, masih setia menggenggam tanganku.
"Siap Pak Bos!!" Kataku sambil menaruh tangan kanan di dahi dan tersenyum padanya.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi setelah berjamaah shalat subuh tadi, kami melanjutkan istirahat. Karena beberapa ini aku merasa agak mual, maka kemarin sepulang kerja, aku berinisiatif membeli tespeck, siapa tahu aku hamil, karena memang aku dan suami sangat ingin segera memiliki momongan setelah menikah. Dan ternyata pagi ini tespeck tersebut menunjukkan dua garis, subhanallah walhamdulillah sungguh sangat bahagia aku, dan tentu juga dengan suamiku.
"Yank, eh Bun, maaf lupa terus sih. Lebih baik sekarang kita telepon Mamaku, pasti beliau sangat senang karena akan segera memiliki seorang cucu. Dan juga langsung menghubungi Bapak dan Ibu dikampung, pasti mereka juga bahagia kan Bun," ucap suamiku.
"Yuk Yah. Sekalian minta doa supaya dedek utun didalam kandungan sehat selalu hingga hari kelahirannya nanti," jawabku dengan mengangguk.
Kemudian suamiku langsung menelepon Mama mertua, dan benar saja respon beliau sangat luar biasa, beliau sangat senang akan mendapatkan cucu pertama. Karena memang suamiku adalah anak sulung dan adiknya Fabian, baru kelas tiga sekolah menengah atas. Sejak meninggalnya Papa Mertua, dua tahun yang lalu, beliau terus saja meminta suamiku, Mas Febry, untuk segera menikah. Dan sebenarnya saat itu aku dan suamiku sudah berpacaran, namun aku memang belum siap menikah, karena masih ingin bekerja dan membantu orang tuaku menyekolahkan adik adikku.
Mendengar berita kehamilanku ini, Mama meminta kami untuk tinggal bersamanya, karena memang jarak rumah mertuaku lebih dekat dari pada rumah orang tuaku. Dari rumahku ke rumah Mama, hanya sekitar tiga puluh menit perjalanan, dan memang lebih dekat ke tempat kerjaku. Kalau rumah orang tuaku, berada di luar kota, berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari rumahku.
Memang sejak pertama kali dikenalkan kepada Mama, beliau sudah sangat senang padaku dan sudah mengangapku sebagai anaknya sendiri. Karena memang dia tak memiliki anak perempuan. Beliau sering mengundangku makan malam di rumah, dan saat hari minggu aku pun kadang seharian disana membantunya melakukan perkerjaan rumah. Kebetulan juga memang tempat kost ku sangat dekat dengan rumah beliau.
Saat menikah kemarin pun beliau menghadiahiku sebuah motor matic klasik keluaran itali, karena memang Ibu mertuaku ini mempunyai usaha sebuah toko bangunan dan perkebunan teh peninggalan Papa dulu. Sebenarnya katanya sih, Mama ingin memberiku kado sebuah mobil, namun karena beliau tau aku sungguh tak berani mengemudikannya maka beliau pun membelikan ku motor matic saja, tapi jangan salah harganyapun tak jauh dari harga satu buah mobil loh. Sungguh aku sangat bersyukur memiliki mertua seperti beliau. Namun meskipun beliau sangat baik, aku lebih suka tinggal dirumah sendiri, rumah yang diberikan Mas Febry sebagai hadiah pernikahan kami.
Meninggalkan euforia Mama yang akan mendapatkan cucu pertamanya, aku pun kemudian menelepon orang tuaku di kampung. Dan seperti biasa teleponku diangkat oleh Ibu, karena Bapakku sama sekali tak bisa menggunakan telepon.
"Assalamualaikum Bu, bagaimana kabar Bapak dan Ibu dirumah?" Ucapku memulai pembicaraan lewat telepon.
"Waaaikumsalam, Rik. Kabar Bapak dan Ibu disini baik baik saja. Kamu dan Febry juga baik baik saja kan disana?" Jawab Ibu di seberang sana.
"Alhamduliah kami juga baik baik saja Bu. Bapak dan adik-adik apa ada di rumah Bu?" Tanyaku.
"Bapak seperti biasa di sawah. Adik adikmu sudah ikut jalan sehat yang diadakan di lapangan tadi pagi. Ada apa sih memangnya? Ini disini ada Bude Nur," jawab Ibuk lewat telepon.
"Oalah pada tak ada di rumah semuanya ya, padahal aku ingin menyampaikan kabar bahagia loh." Aku mengatakan itu pada Ibu.
"Kabar bahagia apa to Nduk, kamu ini membuat penasaran saja. Ayo cepat bilang, kebetulan kan Bude mu juga ada disini, dia juga pingin tahu ini kabar baik apa? Apa kami baru saja diberi hadiah oleh suamimu? Atau diberi hadiah oleh mertua mu yang baik itu?" Kata Ibu yang sepertinya sudah sangat penasaran.
"Bukan Bu, kabar ini lebih membahagiakan lagi, aku dan Mas Ferdi sudah di beri hadiah oleh Allah Bu, alhamdulillah aku hamil Bu," jawabku dengan antusias.
"Apa??? Kamu hamil? Nikah belum genap sebulan kok sudah hamil," jawab Ibu dari sana.
Sungguh kaget aku dengan respon dari Ibu kandungku tersebut, kenapa sepertinya malah tidak senang dengan kehamilanku ini.
"Iya Bu, Rike hamil. Memangnya kenapa kalau belum genap sebulan menikah, aku tak boleh hamil gitu ya Bu? Ini kan rejeki dari Allah Bu, masak aku harus menolaknya. Bukankah banyak diluar sana para wanita yang kurang beruntung, sudah menikah bertahun tahun masih belum diberi momongan kan Bu?" Ucapku dengan lirih pada Ibu.
Kudengar pelan suara Bude Nur meminta telepon dari tangan Ibu, dia ingin bicara denganku langsung katanya.
"Rike Rike, kamu itu lo kok nggak kasihan sih sama orang tuamu. Ibuk dan Bapakmu itu orang miskin, kenapa kamu masih tega mempermalukan mereka juga. Susah payah mereka membesarkanmu dan menyekolahkan mu, hingga Bapakmu mau melakukan semua pekerjaan kasar agar kami bisa kuliah di kota, malah kamu mencoreng muka mereka sekarang!. Dasar anak tak tau terima kasih kepada orang tua kamu ini!!" Bude Nur mengucapkan itu dengan tegas.
"Lho lho lho, sebentar Bude, apa maksud perkataan Bude tadi? Aku kan menyampaikan kabar bahagia, mengapa malah dibilang mempermalukan orang tua? Bude lupa ya kalau aku ini sudah menikah, jadi halal dong kalau aku hamil dengan suamiku," ucapku sedikit tak terima dengan perkataan Bude Nur.
"Kamu ini masih pura pura nggak ngerti juga sih? Lha kelakuanmu yang hamil duluan kan mencoreng wajah orang tuamu to! Masak iya sih, belum satu bulan kok sudah hamil, Bude hitung hitung kamu itu baru nikah selama dua puluh jari loh. Pasti kamu sudah nyicil duluan kan!! Dan juga sebagai anak sulung perempuan harusnya kamu itu jadi teladan buat adik adikmu, jangan malah ngajarin yang tidak benar. Memang ya kamu dari dulu itu nggak bisa dibilangin kok!" Bude Nur masih terus berucap dengan tegas.
Next???
Part 2
Semakin salah paham
"Lho lho lho, sebentar Bude, apa maksud perkataan Bude tadi? Aku kan menyampaikan kabar bahagia, mengapa malah dibilang mempermalukan orang tua? Bude lupa ya kalau aku ini sudah menikah, jadi halal dong kalau aku hamil dengan suamiku," ucapku sedikit tak terima dengan perkataan Bude Nur.
"Kamu ini masih pura pura nggak ngerti juga sih? Lha kelakuanmu yang hamil duluan kan mencoreng wajah orang tuamu to! Masak iya sih, belum satu bulan kok sudah hamil, Bude hitung hitung kamu itu baru nikah selama dua puluh jari loh. Pasti kamu sudah nyicil duluan kan!! Dan juga sebagai anak sulung perempuan harusnya kamu itu jadi teladan buat adik adikmu, jangan malah ngajarin yang tidak benar. Memang ya kamu dari dulu itu nggak bisa dibilangin kok!" Bude Nur masih terus berucap dengan tegas.
"Kok Bude ngomong kayak gitu, aku kan nggak hamil duluan Bude. Jangan fikiran negative sama aku lah Bude. Aku tak mungkin berbuat sesuatu yang membuat malu Bapak dan Ibu. Tolong berikan handphonenya lagi pada Ibu, aku ingin ngomong sama Ibu!" Ucapku yang sudah ingin menangis, tetapi aku masih berusaha menahannya.
Terdengar jelas jika Bude Nur sedang marah besar kepadaku, "bocah kok dibilangi orang tua mbanggeli, yo begini jadinya. Malu maluin orang tua saja kamu. Bapakmu juga sih, terlalu memanjakanmu, jadine yo gini. Yang malu itu nggak cuma orang tuamu, tapi keluarga besar kita juga!"
"Nduk, kamu kok tega banget sama Ibu dan Bapak. Salah apa kami padamu Nduk. Sungguh Ibu kecewa sekali sama kamu, yang tak bisa menjaga kepercayaan Ibuk," kudengar suara Ibu lirih sambil terisak.
Aku saat itu juga langsung menangis, menangis karena tuduhan yang tak pernah kulakukan. Aku juga bersedih sudah membuat Ibu menangis, padahal selama ini, aku selalu berusaha membahagiakannya, agar air mata tak lagi jatuh dipipinya. Sudah cukup Ibuku merasakan susahnya hidup sebagai orang miskin, saat aku dewasa aku selalu berusaha membuatnya bahagia.
"Demi Allah Buk, Rike tak pernah berbuat zina sebelum menikah. Rike tak sebejat itu Bu, meski kami sudah berpacaran sebelumnya selama dua tahun, namun tak pernah kami melakukan hal yang dilarang agama, kami tahu batasannya Bu. Kemaren sebelum menikah aku haid Bu, dan saat menikah itulah masa masa suburku, jadi aku langsung bisa hamil," kataku panjang lebar sambil terisak juga, namun panggilan malah diakhiri oleh Ibu dari sana.
Pasti Ibu saat ini merasa amat kecewa padaku, apalagi ada Bude Nur bersamanya, pasti Bude sudah mempengaruhi pikiran Ibuk. Karena memang di kampungke Bude ku itu jadi biang gosip. Semoga saja Ibu terbuka hatinya, dan mencoba mencerna penjelasanku tadi.
Aku masih saja terisak saat suamiku kembali dari kamar mandi. Sepertinya dia langsung kaget melihat perubahanku. Yang tadinya senyam senyum malah sekarang tiba tiba menangis tersedu sedu.
"Ada apa Bun? Kok sampai nangis gitu? Apa karena tanggapan Ibu jadi Bunda ikut nangis?" Tanya suamiku sambil senyum senyum, namun perkataannya itu malah membuat tangisanku pecah, dan dengan sigap dia pun langsung memelukku.
"Ada apa sebenarnya Bun? Sekarang coba Bunda tarik nafas dalam dalam dan keluarkan perlahan. Kemudian cerita padaku apa yang barusan terjadi. Masak baru ditinggal sebentar di kamar mandi kok sudah nangis?" Ucap suamiku untuk menenangkanku.
Aku pun menarik nafas dalam dalam dan segera menghembuskannya perlahan. Dan benar saja cara ini sedikit membuatku rileks. Kemudian akupun mulai meredakan tangisku dan bercerita pada Mas Ferdi.
"Tadi pas aku cerita ke Ibu tentang kehamilanku, beliau malah marah dan bilang kalau aku hamil duluan. Bahkan Bude Nur mengataiku yang bukan bukan Yah. Sakit hati ini, karena kenyataannya tak seperti itu. Apalagi yang mengatakan itu adalah Ibu kandungku sendiri," kataku sambil kembali menangis, karena air mata ini tak kuasa kubendung.
"Mungkin karena memang Ibu tidak paham Bun, dengan yang terjadi pada kita. Harusnya tadi Bunda menjelaskan semuanya pada Ibu, biar beliau pun mengerti," katanya sambil mengusap usap kepalaku yang masih bersandar di pelukannya.
"Sudah Yah, tapi Ibu masih kekeh dengan pendiriannya. Apalagi disana ada Bude Nur, yang malah mengompor ngomporin Ibu. Rasanya ingin kusumpal saja mulut Bude ku itu!!" Kataku geram.
"Ssst nggak boleh ngomong begitu dong sama orang yang lebih tua. Istighfar Bun. Jangan dimasukin hati ya, toh ini hanya salah paham saja. Nanti sore kalau tidak ada halangan, ayok kita main ke rumah Ibuk, dan menjelaskan semuanya pada Beliau," kata suamiku lembut.
"Tapi kan Yah, jika tadi disana tak ada Bude Nur pasti Ibu nggak sampai berpikiran jauh macem macem seperti itu. Aku tahu Ibu itu orangnya kolot, namun aku selalu bisa memberi beliau pemahaman, walau harus sedikit lebih sabar dan pelan pelan menjelaskannya. Tapi dengan hasutan Bude Nur tadi, pasti sudah akan sangat sulit sekali memberi pemahaman pada Ibu. Karena Ibu itu selalu percaya dengan apa yang dikatakan Bude Nur!! Apalagi Ibuku itu memang orang yang sangat polos dan kolot," ucapku dengan masih terisak.
"Ibu pasti bisa mengerti Bun, meski memang agak sulit namun kita harus tetap mencoba memberi beliau pemahaman dan meluruskan masalah ini. Insyaallah semua akan baik baik saja, asal Bunda pun menyikapi semua ini dengan sabar dan kepala dingin," katanya sambil mencium pucuk kepalaku.
Sejak kami berpacaran dua tahun yang lalu, suamiku ini memang orang yang sabar dan bijaksana dalam segala hal, dan sebab itu juga aku menerima cintanya dahulu.
"Atau begini saja, sekarang juga kita berangkat ke rumah Ibu, agar pikiran Bunda lebih tenang. Namun Bunda harus janji akan sabar dan tidak emosi jika nanti ketemu dengan Bude Nur juga," ucapnya sambil melepaskan pelukan, lalu menatapku.
"Oke, aku janji yah. Insyaallah aku bisa mengontrol emosiku, yang penting Ibu tidak salah paham lagi pada kehamilanku ini," kataku senang.
Rumah Bude Nur memang bersebelahan dengan rumah orang tuaku di kampung, letaknya ada di samping kanan, dan di samping kiri terdapat rumah Bulek Janah, adik dari Ibuku.
Sejak aku kuliah dulu, Bude Nur selalu langsung datang ke rumah saat aku pulang. Selalu saja dia memberikan nasehat-nasehat yang menurutku keterlaluan itu, dan selalu di ulang-ulang, jadi risih kan aku mendengarnya.
Bude Nur adalah seorang janda, dengan dua orang anak. Anak pertamanya Mas Narto yang usianya lima tahun lebih tua dariku, sepantaran dengan Mas Ferdi. Mas Narto hingga saat ini belum menikah, setiap hari dia akan kesawah dan mengurus ternak peninggalan Pakde aryo.
Anak kedua perempuan, Mbak Ninik, usianya dua tahun dibawahku, dan saat ini sedang bekerja di sebuah mini market katanya, dia saat ini ngekost di kabupaten sebelah, yang lebih dekat dengan tempat kerjanya.
Karena anak anaknya yang sibuk itulah, Bude Nur setiap hari selalu bertandang ke rumah adik-adiknya dan juga kerumah tetangga untuk bergosip ria tentunya. Dan di kampungku Bude Nur memang sudah dikenal dengan sebutan biang gosip. Rata-rata gosip yang beredar di kampungku selalu di sebar luaskan oleh Bude, tak peduli itu nyata atau hanya kebohongan belaka.
Dari dulu juga Bude selalu iri terhadap kehidupan keluargaku, terutama setelah Pakde meninggal dunia lima tahun lalu, makin kentara ketidaksukaannya pada pencapaian keluargaku.
Apalagi ketika Bapak yang hanya seorang buruh tani bisa mengantarkanku menuntut ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi, dan lulus dengan nilai yang amat memuaskan, terlihat Bude semakin merasa terkalahkan.
Dulu saat aku masih kuliah, setiap aku pulang ke rumah, Bude selalu mengatakan banyak hal namun berulang ulang padaku.
Next??
Part 3
Rumah Ibu Mertua
Dari dulu juga Bude selalu iri terhadap kehidupan keluargaku, terutama setelah Pakde meninggal dunia lima tahun lalu, makin kentara ketidaksukaannya pada pencapaian keluargaku.
Apalagi ketika Bapak yang hanya seorang buruh tani bisa mengantarkanku menuntut ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi, dan lulus dengan nilai yang amat memuaskan, terlihat Bude semakin merasa terkalahkan.
Dulu saat aku masih kuliah, setial aku pulang ke rumah, Bude selalu mengatakan banyak hal namun berulang ulang padaku.
"Rike, kamu itu loh harusnya jadi anak yang berbakti kepada orang tua, bukan malah jadi anak yang bisanya hanya membebani orang tua saja. Kamu nggak kasihan lihat Bapakmu pontang panting cari nafkah, hanya untuk kuliahin kamu. Memangnya nanti kamu bisa membalas semua yang orang tuamu lakukan dan berikan?! Paling juga sebelum lulus kamu sudah nikah gara gara hamil duluan. Jadi orang miskin itu harus tau diri, jangan sok kaya, mimpi kok kebangetan tingginya, kalau jatuh sakit banget loh nanti.
Lihat tuh Mas dan Mbak Ninik semua pinter cari uang to, jadi tak merepotkan orang tua, nggak kayak kamu itu. Bapak dan Ibumu juga itu ngeyel sih, mau saja membiayai kuliahmu. Ngapain juga buang buang uang percuma, kan mending disimpan buat beli sawah atau ternak. Lihat tuh gara gara sekolahin kamu, Bapak danp Ibumu jadi tambah miskin, kerja terus tapi tak punya tabungan. Nggak kayak aku, banyak simpanan sawah dan juga ternak. Harusnya kamu itu sebagai anak sulung itu ya mikir dong!!" Bude selalu berceramah panjang lebar kepadaku, dengan ekspresi yang tak suka.
Dan aku hanya diam saat Bude berceramah, karena jika aku menanggapinya, maka semua akan panjannngggg seperti kereta api yang sedang pawai.
"Bun, kok malah ngelamun sih. Nggak baik loh orang hamil itu sering ngelamun. Pamali kata orang tua," kata suamiku mengagetkanku.
"Nggak ngelamun kok, cuman lagi mikirin Bude Nur saja, hehehehe," jawabku sambil nyengir.
"Pasti lagi mikir yang jelek jelek ya tentang Bude, kebiasaan banget deh Bun kamu ini. Oh iya Bun, maaf aku tadi lupa mengatakan bahwa tadi waktu Bunda menelepon Ibu, Mama juga meneleponku lagi. Mama meminta kita kesana sekarang juga karena Mama akan memasak spesial untuk merayakan kehamilan Bunda ini. Tadi habis dari kamar mandi aku mau mengatakanya, namun saat melihat Bunda menangis, aku jadi lupa segalanya. Karena kau selalu mengalihkan duniaku, hehehe," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya dan sambil tersenyum menggoda.
"Mulai deh ngegombalnya, ya sudah sekarang kita ke rumah Mama dulu saja Yah, nanti siang baru berangkat ke rumah Ibu. Yuk ah kita siap siap, aku pingin bantu Mama masak, sekalian belajar resep masakan yang kamu sukai Yah, biar jadi sedep dan enak seperti masakan Mama," jawabku sambil menatapnya.
"Semua masakan yang dibuat oleh Bunda, itu selalu enak buatku. Dulu hanya masakan Mama lah yang enak di dunia ini menurutku, sekarang tetnyata Mama mempunyai saingan seorang chef cantik yaitu kamu Bun," kata suamiku sambil menoel daguku.
Kami pun bersiap siap menuju rumah Mama mertuaku itu.
Akhirnya sampai juga kami dirumah Mama. Ternyata Farhan juga sedang ada dirumah saat itu, sebenarnya sih dia ada rencana main sama teman temannya tadi pagi, namun saat diberi tahu oleh Mama tentang kehamilanku dan kami akan makan siang disini, diapun tak jadi pergi, karena dia ingin ikut merasakan kebahagiaan kami. Farhan adalah seorang adik ipar yang sangat baik, namun dia sangat manja padaku dan kakaknya.
Mama pun menyambut kami dengan bahagia, beliau langsung memelukku dan menciumiku.
"Terima kasih ya sayang, kamu sudah hadir di kehidupan kami, dan terima kasih banyak karena kamu akan segera membawa seorang malaikat kecil di rumah ini," katanya lembut sambil memberikanku segelas susu, yang akhirnya kutahu itu adalah susu untuk Ibu hamil, dan beliau pun memintaku untuk langsung meminumnya, segera saja kuhabiskan susu dengan rasa coklat itu, hemmm ternyata enak sekali rasanya.
"Sama sama Ma. Rike juga sangat berterima kasih karena Rike diterima dengan baik di keluarga ini. Semoga selamanya Rika bisa menjadi bagian dari keluarga ini," ucapku yang baru saja menaruh gelas di atas meja, yang isinya sudah kuminum hingga tak tersisa.
"Amiiin, pasti sayang, kamu adalah anugerah untuk kami. Dijaga baik baik ya kandungannya, jangan kecapekan. Kalau bisa sih kamu berhenti bekerja sayang, istirahat saja dirumah. Nanti Mama akan mengirim seorang pembantu untuk membantumu dirumah. Atau seperti kata Mama tadi, kamu dan Ferdi, tinggal disini saja, biar Mama bisa menjagamu, dan kamu pun tak kesepian saat Febry kerja. Gimana maukan sayang?" Tanya Mama sambil memegang kedua pundakku.
"Maaf Ma, seperti yang Rike bilang tadi, Rike ingin tinggal di rumah Rike sendiri saja dulu, aku dan Mas Ferdi ingin mandiri Ma. Dan kamipun tak ingin merepotkan Mama. Dan untuk soal kerjaan, seperti yang tadi aku katakan pada Mas Ferdi, untuk saat ini, aku belum bisa resign Ma, aku masih ingin bekerja, janji nanti kalau sudah usia tujuh bulan aku akan segera resign dan fokus pada kehamilanku Ma. Janji juga aku tidak akan kecapekan, aku akan menjadi dengan baik sekali calon cucu Mama ini," jawabku pada Mama. Sebenarnya sudah untuk menolak permintaan Mama, tapi itu semua memang keinginanku.
"Oke deh Sayang, Mama percaya padamu. Kamu pasti melakukan semua.yang terbaik untuk keluarga ini. Dan kamu Fer, jaga dengan baik istri mu, jangan sampai dia kecapekan dan jangan buat perasaannya jadi sedih, awas saja kalau sampai kamu buat menantu cantik Mama ini menangis," ucap Mama yang kini sudah menatap Mas Ferdi.
"Siap delapan enam komandan," kata Mas Ferdi yang dibuat lucu hingga membuat kami berempat yang sedang duduk di ruang tamu jadi tertawa semua.
Kebersamaan di keluarga ini memang sangat terasa, dan membuatku sangat nyaman. Kedua anak laki laki ini sangat menghormati dan menyayangi Mamanya, karena Mamapun selalu memberi perhatian dan kasih sayang berlimpah pada mereka, di sela sela kesibukannya mengelola usaha peninggalan Papa. Mama selalu berusaha menjadi sahabat juga untuk anak anaknya, berusaha menjadi pendengar yang baik saat mereka mempunyai masalah apapun, jadi mereka tak mencari pelampiasan lain di luar.
Sesibuk apapun beliau pasti menyempatkan memasak, agar anak anaknya bisa makan di rumah bersama, terutama saat makan malam, kadang waktu makan malam itu menjadi moment curhat tentang kejadian yang di alami seharian. Aku sedikit banyak memang tahu dengan kondisi keluarga ini, karena selama dua tahun sebelum menikah, Mama seminggu sekali pasti mengundangku untuk makan malam. Semoga kelak aku juga bisa menjadi ibu yang baik untuk anak anakku, seperti Mama.
"Ya sudah kalian disini dulu ya, Mama mau membantu Mbok Darmi menyiapkan makan siang," pamit Mama sambil menuju dapur.
Tanpa beliau tau akupun membuntutinya dari belakang.
"Rike, kamu ngapain sih kesini, sana duduk manis di depan," ucap Mama mertua sambil menoleh ke belakang.