Sampul Novel Api Dendam di Masa Lalu

Api Dendam di Masa Lalu

8.9 / 10.0
Hidupku berakhir tragis saat Arifin, suamiku, membiarkanku tewas dalam mobil yang terbakar demi menyelamatkan selingkuhannya. Tragisnya, itu adalah rencana pembunuhan demi menguasai warisanku. Kini, aku terbangun kembali di masa kuliah dengan ingatan yang utuh. Menatap wajah polos Arifin, aku tahu persis kebusukan yang dia sembunyikan. Takdir memberiku kesempatan kedua untuk membalas dendam dan menghancurkan semua orang yang telah mengkhianatiku.
Ringkasan Api Dendam di Masa Lalu
Hidupku berakhir tragis saat Arifin, suamiku, membiarkanku tewas dalam mobil yang terbakar demi menyelamatkan selingkuhannya. Tragisnya, itu adalah rencana pembunuhan demi menguasai warisanku. Kini, aku terbangun kembali di masa kuliah dengan ingatan yang utuh. Menatap wajah polos Arifin, aku tahu persis kebusukan yang dia sembunyikan. Takdir memberiku kesempatan kedua untuk membalas dendam dan menghancurkan semua orang yang telah mengkhianatiku.
Baca Selengkapnya

Api Dendam di Masa Lalu Bab 1

Aku ditinggalkan untuk mati di dalam mobil yang terbakar oleh suamiku sendiri. Dia lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya, junior kerjaku. Saat aku membuka mata lagi, aku kembali ke masa lalu, dengan semua ingatan tentang pengkhianatan mereka.

Di kehidupan sebelumnya, aku terperangkap di kursi penumpang, melihat Arifin, suamiku, memeluk Liana dengan senyum puas saat mobil kami meledak.

Ini bukan kecelakaan. Ini adalah pembunuhan berencana yang kejam demi menguasai harta warisanku.

Rasa sakit karena dikhianati jauh lebih membakar daripada api yang melahap tubuhku.

Aku mati dengan hati hancur dan penuh dendam.

Aku tidak mengerti mengapa takdir memberiku kesempatan kedua.

Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa kuliah, jauh sebelum tragedi itu terjadi. Arifin berdiri di hadapanku, dengan senyum polos yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Tapi kali ini, aku melihat kebusukan di baliknya. Aku akan membuat mereka membayar semua penderitaanku.

Bab 1

Natania POV:

"Aku menyesali setiap detik yang kubuang untuk mencintaimu, Arifin," kataku, suaraku serak, teredam oleh rasa sakit yang menusuk.

Tenggorokanku tercekat, perih dan panas. Aku merasakan hawa panas yang membakar melingkari kakiku.

Mobil itu, rumah kedua kami, sedang terbakar. Api menjilat-jilat kursi, melahap dasbor yang retak. Asap hitam pekat memenuhi paru-paruku.

Kupalingkan wajahku ke samping. Arifin, suamiku, arsitek brilian yang kucintai, baru saja menarik Liana Tambunan keluar dari kobaran api.

Liana, rekan kerja juniorku yang selalu kubimbing.

Tubuhnya, yang biasanya lincah dan bersemangat, kini tergeletak lemas di pelukan Arifin. Arifin memeluknya erat, menepuk-nepuk pipinya, seolah dialah satu-satunya yang penting.

Arifin, yang pernah bersumpah akan mencintaiku sampai mati, kini meninggalkanku begitu saja di dalam mobil yang sebentar lagi akan meledak.

Aku melihat matanya. Tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi rasa panik. Hanya ketenangan dingin. Seolah dia sudah merencanakan ini.

Seolah dia memang ingin aku mati di sini.

Seketika, rasa sakit di hatiku jauh lebih membakar daripada api yang menjilat-jilat kakiku. Lebih menyakitkan daripada tulang-tulangku yang mungkin patah akibat benturan.

Ini pengkhianatan. Pengkhianatan yang paling kejam.

"Tolong! Arifin! Selamatkan aku!" teriakku, suaraku pecah.

Tapi Arifin tidak menoleh. Dia terus memeluk Liana, tatapannya terpaku pada wajah Liana yang pucat.

Dunia di sekitarku berputar. Warna merah, oranye, dan hitam memenuhi pandanganku.

Panas itu semakin hebat, membakar kulit dan rambutku. Bau bensin dan karet terbakar menusuk hidungku.

Aku merasakan jantungku berdebar kencang, lalu melambat. Napasku tersengal-sengal.

Melihat Arifin dengan Liana, semua kenangan kami berkelebat. Malam-malam tanpa tidur saat kami merancang maket rumah impian kami.

Tawa renyah saat kami menerima penghargaan pertama sebagai duo arsitek muda. Janji yang terucap di depan altar, disaksikan oleh kalung giok pusaka keluargaku yang melingkari leherku.

Semua itu kini terasa seperti kebohongan besar.

Satu detik. Dua detik.

Aku memejamkan mata, menunggu ledakan yang tak terhindarkan.

Tapi kemudian, sebuah cahaya terang menusuk kelopak mataku. Rasa dingin yang aneh merambat di tubuhku, menggantikan panas yang membakar.

Aku membuka mata. Aku tidak lagi di dalam mobil. Aku berdiri di sampingnya, melihat diriku sendiri yang terperangkap di kursi penumpang.

Wajahku pucat pasi, rambutku acak-acakan. Mataku menatap kosong ke depan.

Lalu, sebuah ledakan dahsyat. Api melambung tinggi, melahap habis sisa-sisa mobil yang hancur.

Dan di sana, di dekat semak-semak, Arifin masih memeluk Liana. Wajahnya dipenuhi senyum tipis, puas.

Sebuah senyum yang tidak pernah diberikannya padaku dalam beberapa bulan terakhir.

Aku merasakan diriku melayang, transparan. Aku adalah arwah.

Aku kembali.

Karena janji suci yang terikat pada kalung giok itu. Janji yang kini terasa pahit.

Aku kembali untuk menyelesaikan urusan terakhirku.

Berpisah. Berpisah dengannya.

Aku terbangun di tempat tidurku yang lembut. Ini kamarku, kamar kami.

Cahaya matahari menembus tirai, menerangi ruangan yang tertata rapi. Maket rumah impian kami, yang dulu kubuat dengan penuh cinta, berdiri anggun di sudut ruangan.

Piagam-piagam penghargaan kami berjejer rapi di dinding.

Aku bangkit, berjalan ke cermin. Bayanganku muncul, samar, hampir transparan.

Aku menyentuh pipiku. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi kesedihan yang membakar. Hanya kekosongan.

Aku berjalan ke balkon, melihat ke bawah.

Di halaman, Arifin sedang menyiram bunga. Bunga mawar yang dulu selalu kuberikan padanya setiap ulang tahun pernikahan kami.

Dia tersenyum. Senyum itu. Senyum yang sama saat dia memeluk Liana di dekat mobil yang meledak itu.

Aku mengepalkan tinju. Rasa marah menyengat hatiku.

Aku harus mengakhiri ini. Hari-hariku terbatas. Tujuh hari.

Aku kembali ke kamar, mencari kalung giok itu. Kalung yang diwariskan turun-temurun di keluargaku, yang konon menyimpan kekuatan cinta sejati dan ikatan pernikahan.

Aku menyentuhnya. Dingin. Penuh energi.

Aku mulai menulis. Menulis surat cerai.

Keesokan harinya, aku melihat Arifin di ruang kerja. Dia sedang berbicara dengan seseorang di telepon, suaranya pelan dan mesra.

"Ya, sayang. Tentu saja. Firma kita akan menjadi yang terbaik."

Firma kita? Aku mengerutkan kening. Firma kita?

Aku mengintip. Di layar laptopnya, ada foto Liana. Liana tersenyum, wajahnya cerah.

Juga ada rencana pembangunan firma arsitektur baru. Dengan nama mereka berdua.

Air mataku menetes. Ini bukan sekadar perselingkuhan. Ini pengkhianatan yang direncanakan.

"Aku sengaja meninggalkannya mati demi menguasai harta warisan," suara Arifin menggema di telingaku, seolah dia baru saja mengucapkannya.

Mengerikan. Begitu kejam.

Aku merasakan amarahku membumbung tinggi. Aku tidak bisa lagi menahan diri.

Aku merenggangkan tanganku, dan maket rumah impian kami jatuh dari sudut ruangan. Pecah berkeping-keping di lantai.

Suara pecahan itu menarik perhatian Arifin. Dia menoleh, matanya membelalak.

"Ada apa ini?" gumamnya, menatap maket yang hancur.

Aku menatapnya dengan pandangan dingin. Aku ingin dia merasakan setidaknya sedikit dari rasa sakitku.

Dia tidak bisa melihatku. Aku tahu itu. Tapi aku ingin dia tahu, aku ada.

"Natania?" Arifin berjalan mendekat, melihat ke sekeliling ruangan dengan bingung.

Aku tertawa sinis, tanpa suara. Aku bukan Natania yang dulu. Aku adalah arwah.

Aku mulai menghancurkan semua kenangan. Piagam-piagam penghargaan yang dulu kami raih bersama, kuturunkan satu per satu.

Kurobek, kulemparkan ke lantai.

"Siapa di sana?" Arifin berteriak, suaranya mulai panik.

Aku tidak menjawab. Aku terus menghancurkan.

Ini adalah perpisahan yang sebenarnya.

Malam itu, aku meninggalkan surat cerai di meja makannya.

Keesokan paginya, dia menemukannya. Wajahnya berubah pucat.

"Apa-apaan ini?" gumamnya, membaca tulisan tanganku.

Dia menoleh ke sekeliling, mencari-cari. Mencari aku.

Aku berdiri di depannya, menatapnya dengan dingin.

"Tandatangani, Arifin," kataku, suaraku hanya bisa kudengar sendiri.

Dia tertawa, sinis. "Ini pasti ulahmu lagi, Natania. Halusinasi."

Halusinasi?

Amarahku kembali membakar. Aku bukan halusinasi. Aku adalah korbanmu.

Aku terus mengganggu dan meremehkannya. Aku memindahkan barang-barangnya, membuat suara-suara aneh di malam hari.

Aku ingin dia tahu, aku tidak akan membiarkannya hidup tenang.

Tapi dia hanya menganggapnya sebagai lelucon, atau tanda bahwa dia terlalu stres.

Sampai pada hari terakhir.

Aku muncul di depannya dan Liana di sebuah acara penghargaan arsitektur.

Liana mengenakan gaun yang dulu pernah kubeli, yang Arifin bilang sangat cocok untukku.

Aku berdiri di samping mereka, tak terlihat. Mendengar bisikan-bisikan manis mereka.

Melihat Arifin memeluk Liana dengan erat, tepat di depan semua orang.

Dan aku, Natania, berdiri di sana, seperti hantu yang tidak diinginkan.

Aku menunggu. Menunggu momen yang tepat.

Ketika Arifin menerima penghargaan, di atas panggung, aku muncul.

Aku berdiri di sampingnya, menatapnya dengan pandangan kosong.

Liana terkesiap, matanya membelalak ketakutan. "Arifin! Ada... ada dia!"

Arifin menoleh, melihatku. Wajahnya pucat pasi.

"Natania?" gumamnya, suaranya bergetar.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya menatapnya, dengan tatapan yang mengatakan, 'Aku tahu segalanya.'

Dia berteriak. "Keamanan! Keamanan! Wanita ini gila!"

Keamanan datang, mencoba menangkapku. Tapi mereka tidak bisa menyentuhku.

Aku adalah arwah.

"Aku akan menceraikanmu, Arifin!" teriakku, suaraku bergema di seluruh ruangan. Semua orang menoleh ke arahnya.

Liana mencoba menyembunyikan wajahnya.

Arifin menatapku dengan kebencian. "Baik! Aku akan tandatangani! Asal kau lenyap dari hidupku!"

Dia meraih pulpen, menarik surat cerai yang kutaruh di sakunya, dan membubuhkan tanda tangannya dengan kasar.

Tanda tangannya. Kini aku bebas.

Rasa lega bercampur sedih membanjiri diriku. Misiku telah selesai.

Aku menatap Arifin untuk terakhir kalinya. Matanya masih dipenuhi amarah dan ketakutan.

Aku tersenyum tipis. "Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, Arifin."

Lalu, aku lenyap.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Api Dendam di Masa Lalu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari rela menjual kesuciannya pada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Di tengah kemalangan itu, ia tanpa sengaja bertemu dengan duda tampan bernama Damian di supermarket. Kini, Daiva berada di persimpangan jalan ketika Keyko dan Damian sama-sama berjuang memenangkan hatinya. Siapa pria yang akan dipilih Daiva untuk menemani masa depannya dan melepaskannya dari bayang-bayang masa lalu?
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil diam-diam dari Jeremy, walau tahu dia hanya dimanfaatkan. Demi lepas dari cengkeraman pria kejam itu, Angela sengaja memicu kemarahannya agar diusir. Namun, pelariannya gagal setelah Jeremy menemukan tempat persembunyiannya. Saat Angela pasrah memohon dibebaskan, situasi justru berbalik karena kehadiran anak mereka. Jeremy yang semula begitu dingin kini berubah drastis, bahkan menawarkan diri untuk melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
9.4
Di hari pernikahannya, seorang wanita dipaksa mengalah demi kakaknya yang sakit parah agar bisa menikahi James, sang tunangan. Karena menolak mentah-mentah rencana tersebut, orang tuanya tega mengikatnya di rumah sebelum pergi ke acara pernikahan. Malang, saat ditinggalkan sendirian dalam kondisi terikat, seorang penyusup masuk dan membunuhnya dengan kejam. Ketika keluarganya akhirnya kembali untuk membebaskannya, mereka hanya mendapati jasadnya yang telah membusuk tanpa nyawa.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Demi keselamatan buah hatinya, Neva rela bertahan melewati penderitaan batin dan tekanan konstan. Kisah perjuangan penuh pengorbanan ini memperlihatkan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi peliknya dinamika hubungan yang menjerat hidupnya.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED