Arifin POV:
Aku terduduk dengan napas terengah-engah, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Jantungku berdebar kencang, seolah baru saja berlari maraton.
Kepalaku pusing. Gambaran Natania, dengan wajah pucat dan tatapan kosong, masih terbayang jelas di mataku.
"Arifin, ada apa?" Liana mendekat, memelukku erat. Tangannya mengusap punggungku.
Aku mendorongnya menjauh, menatapnya dengan pandangan kosong.
"Aku... aku melihat Natania," gumamku, suaraku bergetar.
Liana tertawa, sinis. "Kau pasti terlalu stres, sayang. Itu cuma halusinasi. Dia kan sudah mati."
Mati. Kata itu menusuk telingaku.
Aku menatap surat cerai di tanganku. Tanda tanganku terpampang jelas di sana.
Aku bangkit, berjalan ke jendela. Pemandangan kota yang ramai di bawah sana terasa kabur.
Aku tidak gila. Aku tahu apa yang kulihat.
Tapi, mengapa? Mengapa Natania kembali?
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar.
"Permisi, Bapak Arifin Antara?" seorang polisi berdiri di ambang pintu, dengan ekspresi serius.
Aku mengerutkan kening. "Ya, saya sendiri. Ada apa?"
"Kami menemukan sesuatu di ponsel Nona Natania Soerjosoemarno," kata polisi itu, menyerahkan sebuah ponsel yang hangus sebagian.
Ponsel Natania? Jantungku berdebar kencang.
"Ponsel ini merekam seluruh kejadian di mobil sebelum ledakan," lanjut polisi itu, menatapku dengan tajam.
Seluruh kejadian di mobil? Suasana hening mencekam.
Liana memucat, matanya membelalak ketakutan.
Aku merasakan tangan Liana bergetar di tanganku.
Aku menatap ponsel itu, lalu ke wajah Liana.
"Maksud Anda... rekaman suara?" tanyaku, suaraku serak.
"Ya. Dan kami menemukan bukti niat jahat."
Dunia di sekitarku seolah runtuh.
Aku melihat Liana. Wajahnya kini dipenuhi ketakutan yang nyata.
"Tidak! Tidak mungkin!" Liana berteriak, mencoba merebut ponsel itu.
Tapi polisi itu lebih cepat. Dia mengunci ponsel itu, menatap Liana dengan dingin.
"Nona Liana Tambunan, Anda ditangkap."
Liana ambruk, tubuhnya lemas. Ia menangis histeris.
Aku masih berdiri terpaku, tidak bisa bergerak.
"Bapak Arifin Antara, Anda juga ditangkap."
Kata-kata itu menghantamku seperti godam. Aku merasa seluruh duniaku hancur berantakan.
Rekaman suara. Niat jahat.
Semua kebohongan yang selama ini kubangun, semua rencana jahatku, kini terbongkar.
Aku melihat Liana yang kini menangis tersedu-sedu, wajahnya kotor oleh air mata dan riasan yang luntur.
Dia tidak lagi terlihat cantik. Dia hanya terlihat menyedihkan.
Dan aku? Aku adalah seorang pembunuh.
Para polisi membawaku pergi. Aku tidak melawan. Aku tidak berdaya.
Harta warisan. Firma arsitektur baru. Semua itu kini tidak ada artinya.
Aku melihat ke belakang, melihat rumah yang dulu kusebut rumah impian.
Kini, rumah itu terasa seperti penjara. Penjara yang dibangun dari kebohongan dan pengkhianatan.
Aku masuk ke mobil polisi, merasakan dinginnya borgol di pergelangan tanganku.
Dunia di luar sana, yang dulu kuanggap milikku, kini terasa begitu asing.
Aku melihat Liana dibawa ke mobil polisi yang lain. Matanya menatapku, penuh kebencian.
Kebencian? Dialah yang mendorongku melakukan semua ini!
Tapi tidak. Aku tidak bisa menyalahkan orang lain. Aku yang membuat keputusan.
Aku yang meninggalkannya mati.
Penyesalan itu datang, menghantamku seperti ombak besar.
Natania. Aku melihat wajahnya. Wajahnya yang pucat, matanya yang kosong.
Dia tidak gila. Dia kembali. Kembali untuk membalas dendam.
Dan dia berhasil. Dia berhasil menghancurkan hidupku.
Aku memejamkan mata, merasakan dinginnya air mata yang mengalir di pipiku.
Aku menyesal. Aku sangat menyesal.
Jika saja aku bisa memutar waktu.
Jika saja aku bisa kembali ke masa lalu.
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menyilaukan mataku. Aku merasakan tubuhku melayang, berputar.
Lalu, kegelapan.
Arifin POV:
Aku terbangun dengan napas terengah-engah, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Jantungku berdebar kencang, seolah baru saja berlari maraton.
Kepalaku pusing. Aku melihat sekeliling.
Ini... ini kamarku. Kamar asramaku.
Poster-poster band favoritku masih menempel di dinding. Tumpukan buku arsitektur berserakan di meja belajar.
Aku bangkit, berjalan ke cermin.
Bayanganku muncul. Wajahku terlihat jauh lebih muda. Tidak ada lagi kerutan di dahi, tidak ada lagi sorot mata lelah yang dulu selalu kulihat di cermin.
Aku menyentuh pipiku. Halus. Tidak ada lagi janggut tipis yang biasanya menghiasi wajahku.
Aku melihat ke luar jendela. Pemandangan kampus yang ramai. Mahasiswa-mahasiswa berjalan kaki, tertawa, bercanda.
Ini... ini masa kuliah?
Aku memejamkan mata, mencoba memahami apa yang terjadi.
Aku ingat semuanya. Kecelakaan itu. Natania. Liana. Rekaman suara. Penangkapan.
Dan kemudian, cahaya terang.
Apakah ini reinkarnasi?
Aku melihat ke cermin lagi. Aku adalah diriku yang dulu. Diriku yang masih muda, yang masih penuh harapan.
Yang belum bertemu Natania.
Atau, apakah aku sudah bertemu dengannya?
Jantungku berdebar kencang. Aku harus mencarinya. Aku harus menemukan Natania.
Aku harus menebus dosaku.
Aku keluar dari kamar, berjalan menyusuri koridor asrama. Kulihat mahasiswa-mahasiswa lain. Wajah-wajah yang familiar, tapi juga asing.
Aku berjalan ke kantin. Ramai.
Aku mencari-cari. Mencari Natania.
Dan kemudian, aku melihatnya.
Dia duduk di meja sudut, sendirian. Membaca buku.
Rambutnya panjang, tergerai indah. Wajahnya bersih, tanpa riasan. Matanya yang indah menatap buku dengan serius.
Dia adalah Natania. Natania yang dulu. Natania yang kucintai.
Aku berjalan mendekat, jantungku berdegup kencang.
"Natania?" gumamku, suaraku bergetar.
Dia mendongak, menatapku. Matanya yang indah, yang dulu selalu memancarkan kehangatan, kini terlihat dingin. Tidak ada emosi.
Dia tidak mengenalku.
"Ya?" tanyanya, suaranya pelan.
Tidak. Dia mengenalku. Dia hanya tidak ingin mengenalku.
Aku duduk di depannya, menatapnya dengan lekat.
"Ini aku, Arifin," kataku, mencoba tersenyum.
Dia menatapku dengan dingin. "Maaf, aku tidak mengenalmu."
Tidak mengenaliku? Aku adalah suaminya!
"Kau... kau tidak ingat?" tanyaku, suaraku bergetar.
Dia mengerutkan kening. "Ingat apa?"
Tidak. Dia tidak ingat. Atau dia pura-pura tidak ingat?
"Kita... kita pernah menikah," kataku, suaraku hampir tidak terdengar.
Dia tertawa, sinis. "Kau bercanda? Aku bahkan belum pernah berpacaran."
Aku menatapnya. Matanya memang dingin. Tidak ada kehangatan yang dulu selalu kulihat di sana.
Dia membenciku.
Tentu saja dia membenciku. Aku yang meninggalkannya mati.
"Natania, aku... aku menyesal," kataku, suaraku pecah.
Dia menatapku dengan tatapan kosong. "Maaf, aku harus pergi."
Dia bangkit, membawa bukunya, dan berjalan pergi.
Aku mencoba meraih tangannya, tapi dia menghindariku.
Dia meninggalkanku. Sama seperti aku meninggalkannya di mobil yang terbakar itu.
Aku terduduk sendirian di kantin, melihat punggungnya yang menjauh.
Penyesalan itu datang lagi, menghantamku dengan keras. Lebih keras dari sebelumnya.
Aku telah menghancurkan hidupnya. Dan kini, dia menghancurkan hatiku.
Aku harus menebus dosaku. Aku harus mendapatkan pengampunan darinya.
Aku akan melakukannya. Aku akan mengubah takdir kami.
Aku akan melindunginya. Aku akan mencintainya.