"Saya terima nikah dan kawinnya Mentari Ayuningtyas binti Anshori Prasetyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Pramudya dengan lantang dalam satu kali tarikan napas.
Setelah mendengar suara "Sah" yang di ucapkan serempak warga yang menyaksikan pernikahan spesial antara Pramudya dan Mentari, mereka berdua segera mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sebagai tanda syukur.
Baik Mentari maupun Pramudya masih gugup dengan situasi ini. Mentari segera meraba-raba sampingnya seraya mencari tangan sang suami. Dia hendak mencium punggung tangan pria yang sudah menjadi suaminya.
Seakan mengerti dengan apa yang akan dilakukan sang istri, Pramudya meraih tangan wanita itu itu. Mentari sedikit terkejut merasakan tangannya ada yang memegang, dia mendongak ke arah Pramudya. Mentari tidak bisa melihat, dia mengikuti feeling saat tangannya di genggam. Segera dicium punggung tangan suaminya. Pramudya pun menyentuh bahu Mentari. Setelah itu dikecup puncak kepala istrinya sambil membacakan doa yang dia hafalkan secara mendadak tadi.
Pramudya sangat terpesona saat melihat mata coklat istrinya. Mata yang tidak bisa memandangnya, tapi Pramudya bisa melihat kecemasan dalam mata itu. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya saat melihat Mentari. Apa hubungan dengan keluarganya baik-baik saja. Kenapa dia juga mau menjadi pengantin pengganti untuk saudaranya.
Saat ini Mentari tampak selayaknya seorang pengantin walau terlihat biasa. Dia mengenakan kebaya putih, kebaya sang ibu yang dulu digunakan untuk menikah dengan ayahnya. Dia juga dirias sang ibu dengan peralatan seadanya. Rambutnya pun di hair do sedemikian rupa. Walau serba dadakan dan apa adanya, gadis tuna netra itu tetap terlihat cantik. Apalagi sang suami yang tak berkedip melihatnya. Andai Mentari tahu bagaimana sang suami memandangnya, dia pasti tersipu malu.
Penampilan Pramudya pun sangat sederhana. Dia mengenakan kemeja putih polos dan celana bahan berwarna hitam, seperti out fit saat bekerja.
Tak berselang lama setelah ijab qobul, sepasang pengantin baru beserta keluarga pamit pulang. Mentari hanya datang dengan Pak Anshori, ayahnya. Sedangkan Pramudya datang dengan paman dan seorang supir pribadi keluarga Angkasa.
Saat hendak memasuki mobil masing-masing, Pak Anshori berhenti karena sang putri terus mengikutinya. Mentari berjalan sambil melamun karena pikirannya belum tenang. Dia belum bisa menerima kenyataan ini. Saat Pak Anshori berbalik, Mentari langsung menabrak ayahnya. Dengan sigap Pak Anshori meraih tangan putrinya dan menahannya agar tidak terjatuh.
"Tar, kenapa ikuti Papa? Sekarang kamu sudah menikah, sudah kewajiban seorang istri ikut suami kemanapun suaminya pergi," mata Pak Anshori berkaca-kaca saat mengatakan itu, tapi sayang Mentari tidak melihatnya.
Dalam benak gadis itu, ini adalah cara mengusirnya. Dia sadar selama ini hanya Mbok Jum yang sangat menyayanginya. Mungkin keluarganya sudah tidak menginginkan Mentari lagi. Mungkin Mentari selalu menyusahkan keluarga. Makanya mereka mengusirnya dengan cara halus yaitu menikahkan Mentari secara mendadak. Berkali-kali dia meminta penjelasan tentang pernikahannya, tapi tidak ada seorang pun yang menjelaskan. Tapi saat ijab qobul tadi, Mentari merasa kalau suaminya bukan orang jahat. Tapi kenapa suaminya mau menikahi wanita buta sepertinya.
Saat ijab qobul pernikahan putri sulungnya tadi, pintu hati Pak Anshori seperti ada yang membuka paksa. Dia menangis dalam diam saat menyerahkan Mentari, salah satu putrinya pada seorang pria lewat ikrar ijab qobul tadi. Dia baru menyadari betapa cantiknya sang putri yang selalu disia-siakan. Dia menyesal selalu menganaktirikan Mentari. Tapi semua sudah terlambat. Dia sudah tidak mempunyai hak lagi pada putrinya itu. Ada suaminya yang lebih berhak atas putrinya saat ini.
Pramudya berjalan mendekati sepasang ayah dan anak itu. Sebenarnya dia ingin mengajak Mentari berjalan-jalan terlebih dahulu. Supaya mereka bisa lebih kenal satu sama lain. Semakin mendekat terdengar suara isak tangis sang istri.
"Apa salah Tari, Pa? Andai bisa memilih, Tari juga tidak ingin buta. Tari juga ingin seperti Bulan yang bisa melihat," kata Mentari disertai isak tangis.
"Tari juga ingin diperhatikan Mama dan Papa. Tari …." Mentari tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia semakin tersedu-sedu. Dia jongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Air mata Pak Anshori menetes. Beliau memalingkan wajahnya. Beliau ingin memeluk anaknya, menenangkan putrinya, tapi dia tidak bisa. Dia merasa tidak pantas karena terlalu banyak luka yang telah dia torehkan.
Pramudya ikut jongkok di samping Mentari. Dia memegang sebelah bahu istrinya. "Jangan menangis lagi. Aku berjanji akan membuatmu bahagia," ucapnya. "Sekarang kita partner dalam hidup. Kita akan lewati semua bersama. Jadi jangan pernah merasa sendiri lagi."
Mentari seketika menoleh ke sumber suara. Dia mengenal suara ini. Suara yang beberapa saat lalu mengucap ijab qobul untuknya.
Pramudya segera menghapus air mata yang membasahi pipi Mentari. "Kita bisa berbagi semua hal sekarang. Jangan menangis lagi ya!"
Suara Pramudya terdengar lembut dan menenangkan. Ada rasa hangat dalam hati Mentari. Tanpa sadar tangan Mentari terulur dan memeluk suaminya. Dia malah menangis lebih keras seperti menumpahkan segala rasa yang mengganjal di hatinya.
"Jangan menangis. Tersenyumlah untuk mengawali kehidupan baru kita," ucap Pramudya sambil mengelus lembut punggung mentari. Dibiarkan gadis itu menangis sebentar. Kemudian Pramudya meraih tangan sang istri dan membantunya berdiri.
Para orang tua yang menyaksikan kejadian itu juga merasakan kehangatan yang Mentari rasakan.
Pak Anshori mendekati anak dan menantunya. Ditepuk bahu Pramudya dengan pelan. Pramudya yang memunggungi Pak Anshori pun menoleh. Diraihnya tangan sang putri kemudian menyatukan dengan tangan Pramudya.
"Papa titip Tari, Nak. Mulai saat ini dia adalah tanggung jawabmu. Tolong bahagiakan dia. Jangan sakiti Tari seperti yang Papa lakukan. Jika kamu tidak menyukainya lagi, jangan sakiti hatinya. Kembalikan Tari pada papa. Papa akan berusaha untuk membuat dia bahagia."
"Baik, Pa. Saya akan berusaha membuat putri Papa bahagia. Jika menangis, saya pastikan dia menangis bahagia," janji Pramudya sambil mengeratkan genggaman tangan Mentari dan Pak Anshori.
Kini tatapan beralih ke Mentari. Ditarik salah satu tangannya dari genggaman Pramudya, kemudian menyentuh bahu putrinya. "Maafkan Papa, Tar, belum bisa membuatmu bahagia selama ini. Kami yakin suamimu bisa membuatmu bahagia. Jadilah istri yang patuh dan berbakti pada suami. Anggap mertua sebagai orang tua sendir. Nanti kamu bisa tanya suamimu alasan kalian menikah …," Pak Anshori tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Beliau segera memeluk erat tubuh putrinya yang selama ini tidak pernah dia lakukan. Air matanya pun jatuh semakin deras. Mentari ikut menangis lagi. Dia sangat merindukan pelukan dari cinta pertamanya. Pelukan seorang ayah pada putrinya.
Kemudian Pramudya menuntunnya mendekati mobil sang paman. Selang beberapa langkah, Mentari berhenti dan menoleh kebelakang. Berharap ayahnya akan mencegah kepergiannya. Tidak ada tanda-tanda ayahnya mendekat. Hanya terdengar suara ayahnya berkata "Sering-sering ya main kerumah. Mbok Jum pasti kangen," Pak Anshori mengatakan itu untuk menghibur putrinya.
Mentari tersenyum getir. Hanya Mbok Jum yang akan merasa kehilangan mentari. Mungkin memang benar kata suaminya tadi. Ini awal kehidupan baru untuknya.
Menantu Keluarga Angkasa
Dalam perjalanan pulang, Pramudya meminta izin berhenti sebentar di sebuah toko pakaian wanita. Dia hendak membelikan istrinya baju karena Mentari tidak membawa apapun saat ke rumah Pak RT. Hanya pakaian yang melekat di tubuhnya saja yang dia bawa. Pramudya turun sendiri meminta Mentari, Pak Saman dan Pak Sam, supir, menunggu.
Tak perlu waktu lama, Pramudya kembali ke dalam mobil. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah keluarga Angkasa.
Setibanya di rumah, terlihat Bu Rukaiya yang menunggu dengan cemas. Beliau terlihat mondar-mandir. "Bagaimana, Pa?" tanya Bu Rukaiya sambil menghampiri Pak samat yang sedang masuk rumah.
"Alhamdulillah, Ma. Lancar," jawab Pak Saman seraya melepaskan kancing tangan kemejanya.
"Paman, Bibi, Pram sama Tari mau langsung ke kamar dulu ya?" izin Pramudya dengan menggenggam tangan Mentari, menuntunnya menuju kamar. Saat melewati Pak Saman dan Bu Rukaiya, Mentari tersenyum sambil menunduk sopan. Dia menggunakan feeling saja untuk memastikan keberadaan paman dan bibi suaminya.
Mata Bu Rukaiya bergerak mengikuti Mentari. Yang buta saja cantik apalagi saudaranya yang merupakan pacar Arjuna, pikir Bu Rukaiya. "Dia seperti tidak buta, Pa?" tanya Bu Rukaiya curiga. Dalam pikirannya buta itu seperti memejamkan mata. Tapi mata Mentari terlihat seperti mata orang normal pada umumnya.
"Dia memang buta, Ma," jelas Pak Saman. " Bagaimana manapun dia, sekarang dia sudah menjadi menantu keluarga Angkasa."
Bu Rukaiya menoleh ke arah suaminya. "Tapi, Pa? Apa kita harus memperkenalkan dirinya pada orang lain termasuk rekan bisnis kita?" Bu Rukaiya mulai takut kalau nama keluarganya akan tercemar saat orang lain tahu menantu yang buta.
"Paman dan Bibi tidak perlu memberitahukan soal Tari. Dia istriku bukan istri Arjuna," perkataan itu membuat Pak Saman dan Bu Rukaiya menoleh ke arah Pramudya.
Dia tadi hendak ke dapur mengambilkan minuman untuk sang istri. Dan mendengar obrolan paman bibinya.
"Bukan begitu maksud kami, Pram," sela Pak Saman.
Pramudya tersenyum. Dia mengerti maksud pamannya. Dia benar-benar tidak mempersalahkan andai Mentari tidak di akui sebagai menantu keluarga Angkasa. Pramudya sendiri sudah lama menganggap dirinya bukan anggota keluarga Angkasa. Dia takut disangka anak yang tidak tahu balas budi. Dia tidak mengharapkan apapun dari perusahaan pamannya. Yang tanpa dia sadari itu adalah perusahaannya. Dia akan berusaha berdiri sendiri tanpa ada bantuan keluarga pamannya.
"Aku mengerti maksud Paman. Paman tak perlu cemas," Pramudya mencoba menenangkan sang paman. "Aku permisi dulu. Mau mengantar minuman untuk Tari."
Pramudya segera berjalan menuju kamarnya. Menemui istrinya yang membuatnya ingin menatap wajah ayu istrinya.
Sesampainya di kamar, Pramudya langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Kebiasaan yang semestinya harus berubah. Sekarang dia tak lagi sendiri menghuni kamar tersebut.
Di dalam kamar, Mentari terperanjat saat mendengar pintu kamar terbuka. "Mas?" tanyanya ragu-ragu.
Pramudya hanya tersenyum mendengar ucapan Mentari. Dia tidak berkata apapun. Dia berjalan mendekati istrinya. Sedangkan Mentari nampak ketakutan. Dia mencengkeram sprei dan menggeser mundur posisi duduknya.
"Aku hanya mengambilkan air putih, tak apakan?" ucap Pramudya sambil meraih tangan Mentari lalu menyerahkan gelas yang dipegangnya. Mengetahui yang masuk ke kamar adalah Pramudya, Mentari menghela napas lega.
Segera diminum air yang di ambilkan suaminya. Pramudya tetap memandang kagum sosok wanita di depannya. Kemudian dia duduk di samping sang istri.
"Istirahatlah dulu. Nanti sore kita akan pergi membeli beberapa baju lagi untukmu. Aku tadi sengaja membelikan satu karena tidak tahu bagaimana seleramu," ucap Pramudya lagi.
Setibanya di kamar tadi, Pramudya memang menyuruh Mentari untuk ganti baju dengan yang dia belikan dadakan. Lalu Pramudya turun untuk mengambil air minum.
Pramudya tadi membelikan sebuah dress dengan panjang dibawah lutut dan lengannya sampai siku. Itu rekomendasi dari SPG toko.
Sedari tadi Mentari menatap lurus ke depan. Setelah mendengar ucapan Pramudya, dia segera menoleh ke arah sang suami yang duduk di sampingnya
"Tak perlu, Mas. Nanti kita bisa pulang mengambil baju di rumah," ucap Mentari merasa sungkan
"Tidak-tidak," ucap Pramudya sambil menggeleng dan istrinya tidak bisa melihat itu. "Kita memulai semua dengan yang baru. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan keluarga, tapi yang aku lihat saat kamu berbicara dengan Papa tadi, itu bukan hal yang baik."
Mentari meraba-raba ke arah Pramudya. Setelah itu dia mengusap pelan lengan suaminya.
"Kita tidak perlu membuang-buang uang untuk beli baju. Aku masih punya baju yang masih layak digunakan," ucapnya sambil tersenyum manis. Manis sekali bagi Pramudya.
"Kita masih mempunyai banyak waktu untuk saling mengenal. Nanti aku pasti akan menceritakan semua. Seperti yang Mas Pram katakan, kita adalah partner hidup. Kita berdua akan menjalani pernikahan ini dengan kejujuran dan saling terbuka."
Pramudya terdiam mendengar ucapan istrinya. Dia segera meraih gelas yang di pegang Mentari kemudian menaruhnya di atas nakas. Setelah itu Pramudya menggenggam kedua tangan Mentari dan mencium punggung tangan gadis itu. Sebenarnya ingin sekali Pramudya mencium bibir mungil itu, tapi dia belum berani. Tanpa sadar Pramudya melakukan itu. Dan Mentari langsung tersipu mendapat perlakuan yang manis ini. Pengalaman pertama yang dia rasakan.
"Walau pernikahan kita awalnya ketidaksengajaan dan paksaan. Tapi kita akan berusaha menjadikan pernikahan ini abadi sampai Jannah. Berusahalah untuk mencintaiku. Aku juga akan berusaha mencintaimu," ucap Pramudya lembut tapi penuh ketegasan. "Kita harus saling membantu dan saling mengingatkan sebagai partner hidup agar perjalanan kita menjadi lebih mudah."
"Aku minta maaf, Mas, belum bisa jadi istri yang baik seperti yang Mas Pram harapkan," ucap Mentari saat mengingat kalau dirinya tidak bisa melihat.
"Kita sama-sama berusaha. Aku juga bukan suami yang baik. Terima kasih menjadi partner hidupku," sekali lagi Pramudya mencium punggung tangan istrinya dengan mesra.
"Sekarang istirahatlah," ucap Pramudya sambil melepas genggaman tangan Mentari. Gadis itu menggeleng dan menarik tangan Pramudya kembali.
"Aku mau minta tolong," ucap Mentari.
"Minta tolong apa?" balas Pramudya penuh tanda tanya.
"Mas ceritakan tentang orang-orang yang tinggal di sini. Dan tentang rumah ini, maksudku tentang setiap sudut ruangan dalam rumah ini," kata Mentari ragu. "Mas bingung ya?". Mentari beranjak dari duduknya tapi tetap menggenggam tangan sang suami.
"Tolong bantu aku mengenal rumah ini dan penghuninya. Aku hanya bisa mengenali mereka lewat suara. Mas bantu aku keliling rumah ini agar aku mengenali setiap sudut ruangannya."
Pramudya mengangguk mengerti perkataan istrinya. Dia bangkit dan berdiri di samping Mentari.
"Nanti saat pulang mengambil baju, tolong antar beli the white cane juga ya Mas," pinta Mentari.
Setiap mendengar kata "Mas" dari bibir Mentari rasanya ingin meleleh hati Pramudya. Entah apa yang terjadi pada pria itu. Mungkinkah dia sudah jatuh cinta pada istrinya yang baru beberapa jam dia kenal.
Awal Kisah
Setelah merapikan penampilannya, Mentari pun mengikuti Pramudya keluar kamar. Seperti niat awalnya, dia ingin mengetahui seluk beluk rumah yang akan Mentari tempati sekarang.
Rumah keluarga Angkasa hanya terdiri dari dua lantai. Kamar Pramudya berada di lantai dua. Setelah turun, ternyata lantai bawah sepi. Paman dan bibinya sudah pergi. Bergegas Pramudya mengajak istrinya ke dapur untuk menemui Bik Sumi.
"Bik!" panggil Pramudya. Bik Sumi yang sedang membersihkan kitchen set segera menoleh. "Kenalkan ini Mentari, istri Pram," lanjut Pramudya.
Mentari pun segera mengulurkan tangan dengan senyum tersungging di bibirnya. Bik Sumi mengelap tangannya di daster yang dikenakannya seolah membersihkan tangannya.
"Selamat datang, Non," ucap bik Sumi seraya menyambut uluran tangan Mentari. "Nona bisa panggil saya bik Sumi," lanjut art keluarga Angkasa.
"Bik Sumi jangan panggil saya Nona. Bibi bisa memanggil saya, Tari," ucap Mentari.
Bik Sumi memandang Pramudya seolah meminta penjelasan tentang ucapan Mentari. Tak mungkin bik Sumi hanya memanggil dengan Tari saja. Dia telah menjadi menantu keluarga Angkasa.
"Bik Sumi bisa memanggil dengan Tari saja. Asal jangan panggil Sayang itu hanya aku yang boleh," ucap Pramudya menjawab kode pertanyaan bik Sumi.
Bik Sumi tersenyum mendengar ucapan Pramudya. Dia bisa merasakan cinta yang tumbuh di hati Pramudya untuk istrinya. Wajah Mentari langsung merona mendengar ucapan sang suami.
"Cie …. sudah Sayang rupanya," goda bik Sumi, "Baru menikah langsung panggil Sayang untuk istrinya," ucap bik Sumi.
Wajah Mentari tambah merah mendengar perkataan bik Sumi. Dia benar-benar tidak menyangka semua ini akan terjadi. Dia berpikir akan menikah dengan pria tua karena ayahnya tidak bisa membayar hutang ya seperti yang ada dalam novel. Dia juga belum tahu apa alasan pernikahannya dengan Pramudya.
Siapa Pramudya dan keluarga, dia pun belum tahu. Nanti bisa dia tanyakan. Sekarang yang terpenting mengenal keluarga sang suami.
"Wa bibi membuat wajah istriku seperti kepiting rebus. Lihatlah, merah sekali," ucap Pramudya malah menggoda istri.
Mentari segera memalingkan wajahnya kearah berlawanan dengan Pramudya. Pria pun ikut tertawa melihat tingkah sang istri.
"Paman dan bibi tadi kemana, Bik?" tanya Pramudya mengingat tujuannya membawa Mentari turun.
"Sepertinya tadi Tuan dan Nyonya masuk ke kamar," ucap bik Sumi.
"Kamu saudaranya Bulan?" tanya Arjuna ketika melihat seorang wanita bersama Pramudya. Dia baru bangun tidur dan hendak mengambil minum di dapur.
Serempak, mereka bertiga menoleh ke sumber suara. Arjuna langsung menatap Mentari. Seperti mencari sesuatu dalam diri wanita yang sudah menjadi istri sepupunya.
"Sekilas kalian mirip, tapi Bulan lebih seksi darimu. Tubuhnya lebih berisi," Arjuna langsung mengomentari tentang Mentari.
Mentari terkejut mendengar pria yang baru datang menyebut nama adiknya. Siapa lagi pria ini, pikir Mentari.
"Arjuna, jaga bicaramu. Dia istriku sekarang," kata Pramudya tak suka.
"Yaelah Pram, punya istri buta saja sombong. Tenang saja aku juga tidak akan tertarik padanya," ucapan Arjuna tambah membuat emosi tersulut.
Tidak hanya Pramudya yang marah, bik Sumi pun tidak suka. Sedangkan yang di bicarakan, biasa saja. Mentari sudah terbiasa mendengar hinaan seperti ini. Orang tua dan saudaranya saja sudah bisa Mentari hadapi apalagi Arjuna yang bukan siapa-siapa.
"Arjuna!" teriak Pramudya penuh emosi.
Mentari segera menggenggam tangan sang suami. Dia menghadap Pramudya dan menggeleng pelan.
"Ada apa lagi ini? Kenapa ribut sekali?" Pak Saman berjalan menghampiri mereka yang berada di dapur. Terlihat dari belakang Bu Rukaiya ikut mendekati dapur.
"Pram, Pa. Punya istri buta saja sombong …,"
"Arjuna!" bentak Pak Saman membuat sang putra tidak melanjutkan perkataannya.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada Pram dan istrinya. Andai mereka tidak menikah apa jadinya kamu dan pacar kamu itu," Pak Saman ikut geram.
Arjuna masih tetap sama belum berubah. Beberapa jam tidak akan merubah sifat Arjuna yang semaunya. Arjuna mendengus kesal. Sang ibu langsung merangkul putranya.
"Pa, jangan terlalu keras pada Arjuna," kata Bu Rukaiya sang ibu yang selalu membela putranya meski Arjuna salah.
"Mama yang jangan terlalu memanjakan Arjuna. Dia sudah sangat dewasa. Dua puluh tujuh tahun, Ma. Seharusnya dia bisa bertanggung jawab dengan perbuatannya. Bisa menerima kesalahannya. Bukan selalu lari dari masalah," ucap Pak Saman dengan emosi yang tidak bisa dibendung lagi.
"Maafkan perkataan Arjuna tadi ya," pinta Pak Saman pada Mentari. Pak Saman menatap Mentari sendu, tapi istri Pramudya tidak menyadari. Karena Mentari belum terbiasa dengan keluarga barunya.
"Tari, Paman bicara padamu," bisik Pramudya pada istrinya.
Mentay terkesiap, baru menyadari kalau Pak Saman bicara padanya.
"Iya Paman, tak apa-apa," ucap Mentari sambil tersenyum.
Arjuna langsung berbalik pergi meninggalkan dapur. Dia kesal dengan semua. Ayahnya selalu membela Pramudya. Bukan dari dulu, tapi beberapa tahun terakhir. Arjuna masih belum mengerti perubahan sikap ayahnya selama ini karena ingin menjadikan Arjuna sosok yang lebih baik lagi.
Setelah Arjuna pergi, Bu Rukaiya menyusul anaknya. Pak Saman hanya menghela napasnya melihat sikap putranya.
"Pram, segera urus pernikahanmu supaya sah di mata negara juga," titah sang paman sambil berbalik memutar tubuhnya.
"Iya, Paman," kata Pramudya sambil mengangguk.
Setelah pamannya pergi, Pramudya melanjutkan kembali keliling rumah keluarga Angkasa. Dia menuntun sang istri sambil menjelaskan ruangan yang dikunjungi.
"Oh iya, Mas," ucap Mentari mengingat sesuatu yang akan ditanyakan. "Siapa pria tadi? Kok kenal Bulan?"
Pramudya terdiam tidak melanjutkan perkataannya. Dia kasihan pada Mentari yang benar-benar tidak tahu alasannya dia dijadikan pengantin pengganti oleh keluarganya. Pikiran buruk tentang keluarga Mentari pun berkecamuk dalam benak Pramudya.
"Karena dialah kita menikah," kata Pramudya.
Mentari mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti maksud ucapan sang suami.
"Mereka, Arjuna dan saudaramu digrebek warga saat berbuat mesum di dalam mobil," lanjut Pramudya.
Mentari langsung menghentikan langkahnya. Dia menutup mulutnya dan menggeleng. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Tak mungkin Bulan melakukan hal semacam itu.
"Terus mereka dipaksa menikah, tapi keduanya tidak mau. Lalu warga mengancam akan menikahkan paksa. Akhirnya mereka berdua setuju menikah dengan syarat meminta sedikit waktu untuk membujuk orang tua masing-masing," Pramudya melanjutkan cerita yang membuat Mentari penasaran.
"Dan akhirnya seperti saat ini. Kita yang menikah, padahal kita tidak melakukan apa-apa," lanjut Pramudya.
"Mas tahu? Aku mikirnya Papa tidak bisa melunasi hutang dan menjadikan aku sebagai pengganti hutangnya," ucap Mentari, dia pun merasa geli dengan pikirannya itu. "Seperti di cerita-cerita."
Pramudya tersenyum bahagia melihat Mentari tertawa lepas. Dia terlihat cantik dan semakin mempesona.
"Memang Papa punya hutang?"
"Aku tidak tahu masalah itu. Terus aku harus berpikir seperti apa? Masih pagi dibangunkan disuruh menikah?" ucap Mentari lagi. " Tidak mungkinkan tiba-tiba disuruh menikah dengan seorang pangeran. Kalau memang yang datang pangeran, pasti sudah dinikahkan dengan Bulan."
Pramudya masih mengagumi istrinya dalam diam. Tak bosan dia memandang Mentari. Sudah tidak nampak raut wajah yang cemas dan ketakutan. Dia sudah terlihat tenang. Mentari sudah bisa menerima kehadiran Pramudya.