Bab 1

Di dalam bangunan rumah dua lantai yang tidak terlalu besar, Alana tinggal bersama kedua orang tuanya, dan kedua adiknya, Adzriel dan Qiara.

Alana Ramdhani, itu adalah nama lengkapnya, Alana sekarang berusia 23 tahun, dia sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri jurusan Arsitektur, semester Akhir.

Suara derap langkah Alana terdengar di atas lantai kayu jati, dia sedang menuju kamarnya untuk tidur, dia segera mematikan lampu kamar dan membaringkan badannya di atas ranjang, jarum jam menunjukkan pukul 02.33 malam, remang cahaya bulan menerobos menuju kamar Alana melewati jendela kamarnya yang tiba-tiba terbuka,

“Praak!”

“Wush.”

Suara napas Alana terengah-engah, sekali lagi Alana mengalami mimpi buruk, keringat mengalir deras dari pelipisnya menuju leher, badannya bergetar hebat, kepala Alana bergerak ke kiri dan ke kanan secara terus-menerus,

“Aku sedang berada di mana?” ucapnya.

Alana berjalan melewati sebuah lorong panjang rumah sakit menuju jalan raya, kepulan asap putih menghalangi jarak pandangnya, angin berhembus kuat di sekeliling Alana, membuat jendela rumah sakit terbuka dan tertutup dengan tiba-tiba, pandangan Alana tertuju pada papan nama rumah sakit yang terlihat kotor di penuhi debu dan beberapa bagiannya sudah penyok, terlihat tanaman liar menjalar di papan nama rumah sakit,

Rumah Sakit Permata. “Mengapa rumah sakit ini sangat sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini?” gumamnya sambil berjalan menuju gerbang rumah sakit, mobil ambulan yang bertandang di parkiran rumah sakit tampak kotor dan penyok di bagian belakang.

Alana memegang tengkuknya yang meremang, tiupan angin terasa berhembus di telinganya.

“Astagfirullahal’adzim.” Dengan sigap dia menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun yang berada di sekitarnya. Alana mengedarkan pandangannya dengan liar, sesosok wanita bergaun putih lusuh rambut panjang menjuntai aur-auran berdiri di sudut rumah sakit. Belum sempat memperhatikan wajahnya, Alana berbalik dan berjalan secepatnya menuju gerbang. Perasaan takut menyelimuti Alana, tubuhnya gemetar, sosok bayangan putih sekilas melintas dari hadapan Alana, tidak jauh dari posisi Alana memijakkan kakinya, di depannya, seorang anak kecil berdiri dengan pakaian lusuh memeluk boneka. Anak perempuan itu melambaikan tangannya memanggil Alana, wajahnya sangat pucat, kedua matanya bolong, dalam sekejap mata anak itu berpindah posisi ke depan Alana, dan memegang tangan Alana,

“Aaaaa!”

Saat Alana sedang berusaha melepaskan pegangan anak perempuan itu dari tangannya, anak itu tiba-tiba menghilang dari hadapan Alana, dengan napas terengah-engah, dia berusaha berlari menjauh dari rumah sakit kosong tak terpakai.

***

“Alana! Alana bangun!” ucap ibunya, sambil menggoyangkan tubuh Alana. “Qiara tolong ambilkan air minum!” ucap ibu kepada Qiara-adik perempuan Alana.

“Baik, Bu,” ucapnya sambil berjalan menuju dapur.

Kedua mata Alana terbuka lebar, ia terbangun dari mimpinya dengan napas yang tersengal-sengal dan badan yang bergetar.

“Bu ….” Suaranya terdengar lemah dan serak. “Alana mimpi buruk lagi,” ucapnya.

“Ya, ibu tahu, suara mengigau kamu terdengar sampai ke kamar ibu dan Qiara,” ucap ibu sambil memeluk anak sulungnya.

Qiara berjalan memasuki kamar Alana membawa satu gelas air putih, dan langsung memberikannya kepada Alana, dia segera meminumnya hingga tetesan terakhir.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kamu mengambil wudhu dan salat malam,” ucap ibunya seraya berjalan keluar dari kamar Alana.

“Ya, Bu,” jawab Alana.

Alana berjalan menuju kamar mandi dengan rasa takut yang masih menyelimutinya, memutar keran lalu membasuh mukanya hingga kaki, dengan berwudhu dengan tertib, lalu berdo'a di luar kamar mandi. Dia mengambil mukena miliknya yang tergantung di dalam lemari, kemudian menunaikan salat tahajjud.

“Allahuakbar.”Seruan takbir menjadi tanda bahwa Alana sudah memulai salatnya, sekitar 15 menit berlalu, dua rakaat salat tahajjud sudah selesai Alana laksanakan. Setelah berdo' a dia menyimpan kembali mukenanya ke dalam lemari.

Alana melihat ke arah jendela yang terbuka lebar. "Rasanya aku sudah menutup jendela dengan rapat sebelum aku beranjak tidur, tapi kenapa jendela ini bisa terbuka dengan sendirinya,” ucapnya bergumam.

Alana segera menutup jendela dengan rapat, dia melihat ke luar jendela, tapi hanya terdengar gonggongan anjing yang terdengar sangat mengerikan.

“Auuuuu!”

Tidak mau berlama-lama di dekat jendela dia beranjak ke tempat tidur untuk berbaring dan menarik selimutnya. Alana menatap ke arah kain berwarna putih yang tergantung di sudut ruangan. Dia merasa seolah seseorang sedang memperhatikannya dari balik kain warna putih, dia memberanikan diri untuk kembali menuju stop kontak dan menyalakan lampu kamarnya. Kain berwarna putih itu adalah sarung yang di gantungnya tadi sore.

“Ada apa dengan kain putih ini, mengapa aku merasa seolah ada energi negative yang menyerap energiku, setiap kali ada kain putih ini di sekitarku. Entah itu mimpi buruk atau kejadian mistis,” ucap Alana sambil menggantung kembali kain putih itu ke tempat semula.

“Hah, tidak mungkin, pikiranku pasti salah, bagaimana mungkin kain putih membawa energi negative untukku, sementara kain ihram untuk ibadah haji saja berwarna putih. Lebih baik aku membuang jauh pikiran burukku mengenai kain putih ini, dan melanjutkan tidurku,” ucap Alana dalam hati.

Alana kembali ke tempat tidur tanpa mematikan lampu kamar. Dia mengambil ponsel yang di letakkannya di atas meja dekat ranjang, satu pesan masuk dari Citra belum terbaca oleh Alana, citra adalah teman satu kampus dan satu kompleks dengannya, “Alana sore ini aku berangkat ke rumah keluargaku di Sukamulya untuk empat hari ke depan,” ucapnya.

“Bukankah tadi malam aku berjalan bersama Citra di gang sebelah? Kalau citra ke rumah keluarganya sore tadi, lantas aku bersama siapa tadi malam?” ucap Alana dengan mulut menganga, bagaimana bisa?

Alana ingin menelepon Citra, namun ini masih waktu tengah malam, jam menunjukan tepat pukul 03.00 dini hari.

“Ehem!”

“Ehem!”

Suara orang berdehem terdengar keras dari luar kamar Alana, dia menajamkan pendengarannya. Namun suara itu sudah tidak terdengar lagi, rambut tangan Alana berdiri, bulu kuduknya meremang. Dengan lampu yang masih menyala, dia tidur bersembunyi di balik selimut.

“Kukuruyuk!”

“Kruyuk!”

Suara kokok ayam tetangga sebelah membangunkan Alana dari tidurnya, ponselnya masih berada dalam genggaman tangannya, suara azan subuh terdengar dari speaker masjid, dia melihat jam di layar ponselnya sudah menunjukkan waktu subuh,

“Alana ayok bangun, salat subuh Nak, kita salat berjama'ah sama bapak,” ucap ibunya terdengar dari balik pintu.

Alana mengumpulkan semua keberanian, berjalan menuju pintu dan memutar gagang pintu kamarnya.

“Krieet ….”

Ibunya berdiri di depan pintu dengan wajah yang basah, “Ya Bu, sekarang Alana segera menyusul ke mushalla (masjidul bait),”ucap Alana sambil melangkah menuju lemari untuk mengambil mukena.

“Cepat Alana, bapak sudah menunggu kita,”ucap ibunya seraya berjalan menuju mushalla.

Alana segera mempercepat langkahnya untuk mengambil air wudhu dan mengenakan mukenanya, dan menunaikan salat berjama'ah bersama keluarganya.

“Assalamu'alaikum warahmatullah.”

“Assalamu'alaikum warahmatullah.”

Pagi menjelang, fajar mulai tampak, Alana sedang membantu ibunya memotong sayur yang sedari tadi sedang mencuci piring. “Yang cepat sedikit Nak masaknya, bentar lagi bapak berangkat kerja, dia harus sarapan,” ucap ibunya.

“Bu, tadi malam waktu Alana sedang membaringkan badan, suara orang berdehem terdengar dari luar kamar Alana, apa semalam ibu berjalan melewati kamar Alana?”tanya Alana.

“Tidak Alana, selesai membangunkan kamu dari mimpi buruk, semalam ibu langsung masuk ke dalam kamar, ibu tidak kemana-mana lagi,”jawab ibu yang sedang sibuk mencuci piring di wastafel.

Bab 2

“Tapi semalam Alana mendengar suara wanita sedang berdehem Bu, dua kali berturut-turut suara itu terdengar keras dari luar kamar Alana, karena merasa takut, Alana menarik selimut dan segera tidur,” ucap Alana sambil memotong satu papan tempe.

“Ibu tidak mendengar apapun Alana, mungkin itu karena kamu sedang merasa gelisah sebab mimpi buruk yang kamu alami. Jangan terlau di pikirkan,”ucap ibu bergegas mengambil wajan untuk menggoreng tempe yang ada di tangan Alana.

Flashback.

Sekitar jam delapan malam, Alana memasuki ruang kelas untuk mengikuti kelas design, dosen menjelaskan materi di depan kelas, kemudian memberikan tugas design,

“Bapak pulang duluan, karena ada tugas mendadak di luar jam kampus, bapak memberikan kalian mengumpulkan tugas sampai jam 10 malam di loket administrasi kampus. Kumpulkan tugas kalian kepada Pak Danang, jika lewat jam 10 malam atau kalian kumpulkan esok pagi, maka tugas kalian tidak akan bapak terima, bapak anggap kalian tidak mengerjakan tugas,” tukasnya lalu berjalan keluar dari ruangan kelas Alana.

“Huu!”

Sekeluarnya dosen dari ruangan Alana, ruang kelas Alana menjadi sangat ribut. Semua teman sekelasnya sibuk mengerjakan tugas, mereka tidak mau jika dianggap tidak mengerjakan tugas, untuk itu sebelum jam 10 malam, mereka sudah harus menyelesaikan tugas, termasuk Alana.

Kampus Alana mulai sepi, hanya terdengar suara riuh dari ruang kelasnya, sementara ruang kelas lain sudah pulang. Satu-persatu teman Alana keluar mengumpulkan tugas menuju loket administrasi. Alana segera berjalan membawa tugasnya menuju loket administrasi bersama temannya Lara, lampu lorong sudah dimatikan, kampus sangat sepi yang membuat kesan horror makin terasa menakutkan. Alana dan beberapa teman sekelasnya berlari keluar menuruni tangga, menuju parkir kendaraan. Alana menyalakan mesin motornya dan mengendarai motornya untuk pulang.

Ketika sampai gerbang kampus, palang kampus sudah tertutup, petugas satpam shift malam segera membukakan gerbang untuk mereka. “Terimakasih, Pak,” ucap Alana sambil kembali melajukan motornya, satpam hanya membalas Alana dengan senyuman.

Tepat di dekat gerbang, hanya berjarak beberapa meter dari gerbang kampus, pohon beringin besar berdiri tegak di tikungan jalan kampusnya. Lara sudah lebih dulu mengendarai motornya, dia terlihat melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, suasana malam itu semakin mencekam, dengan rasa takut Alana berteriak meminta Lara untuk mengunggunya.

“Lara tunggu!” ucapnya sambil melajukan motornya mencoba untuk mengejar Alana, tiba-tiba suara tangis bayi terdengar dengan keras di tikungan kampus di bawah pohon beringin,

“Oek! Oek!”

Alana tersentak mengingat ucapannya, pasalnya di tikungan ini tidak boleh mengatakan kata tunggu. Alana mencoba untuk melanjutkan laju kendaraannya dan mengabaikan suara yang di dengarnya. Dari spion motornya dia melihat sesuatu terbang di atasnya, sesosok wanita bergaun putih, yang tiba-tiba saja menghilang dari spion. Sesaat setelah itu, tiba-tiba saja kedua belah pundak Alana terasa berat, seperti ada yang menariknya, tengkuknya meremang, badannya terasa berkeringat. Lara yang dikejar sudah tak terlihat, sepertinya Lara tidak mendengar teriakan Alana.

“Ya Allah, mengapa pundakku teras berat,” ucap Alana seraya membaca bacaan Al-Qur’an sebisanya. Karena dalam kondisi seperti ini seolah bacaan yang ada di otaknya hilang begitu saja, dia lekas melafadzkan takbir, “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar” hingga awalan ayat kursi mengalir dari bibirnya begitu saja.

“Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum. Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh. Man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznih. Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal ‘aliyyul ‘azhiim.”

Sampai Gapura Universitas pundaknya sudah tidak terasa berat lagi, rasa takutnya mulai berkurang. Suasana jalan raya lebih ramai jika dibandingkan jalanan beraspal menuju kampusnya. Alana terus mengendarai motornya menuju rumah, sampai di gang komplek rumahnya, Citra berdiri melambaikan tangannya. Alana menghentikan motornya.

“Kamu ngapain jam segini di sini Citra?” tanya Alana mengerem kendaraannya.

“Aku bara saja menjenguk bayi Mba Asih, dia pulang tadi dari sore dari rumah sakit,” jawab Citra, dia menaiki jok belakang motor Alana. “Tolong antar aku ke rumah Alana,” ucapnya membetulkan posisi duduknya.

Citra terlihat membawa satu bungkus bakso. “Kamu beli bakso di mana Citra, memang ada mamang bakso masih keliling jam setengah 11 seperti ini?” ucap Alana menancap gas motornya dan meluncur menuju rumah citra yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.

“Tadi aku beli bakso di mang bakso yang biasa mangkal di depan lapangan bulutangkis di depan sana Alana, waktu balik dari rumah Mba Asih,” ucapnya.

Sepersekian menit berlalu, Alana sampai di depan rumah Citra, saat Citra sudah turun dari motor Alana. Dia gegas melajukan motornya menuju rumahnya, yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumah Citra.

Sampai di rumah, Alana segera memasukan motornya ke dalam garasi. Dia masuk melalui pintu belakang rumahnya. Untuk yang kedua kalinya Alana merasakan pundaknya terasa berat, dia segera masuk ke dalam rumah, rumahnya sangat gelap.

“Assalamu’alaikum Bu, Alana pulang,” ucap Alana sambil menekan stop kontak lampu di pinggir jendela.

“Wa’alaikumussalam, kenapa baru pulang jam 11 malam Alana? Bisa tidak pulang dari kampus jangan kelayapan, kamu itu perempuan Alana, tidak baik perempuan pulang malam jam segini,” jawab Ibu Alana berjalan keluar dari kamar.

“Maafkan Alana Bu, ini salah Alana tidak memberitahukan ibu. Tadi di kampus ada kelas yang mengharuskan Alana untuk pulang jam 10 malam. Alana harus mengerjakannya malam ini juga, jika tidak tugas Alana di anggap gugur Bu,” terang Alana menjelaskan.

“Dosen kamu siapa, kok bisa mahasiswa dipulangkan jam 10 malam,” ucap ibu bergedumel.

“Dosen Alana namanya Pak Syahril, Bu, dia termasuk dosen killer di kampus Alana,” ucapnya meyakinkan ibunya.

“Sebelum tidur jangan lupa wudhu dulu, jika pulang larut malam seperti ini, barang kali ada makhluk halus yang mengikuti kamu di kampus atau mungkin di perjalanan. Makan malan sudah ada di meja makan, setelah makan langsung tidur,” ucap Ibu Alana masuk menuju kamarnya, dia menyalakan lampu dan televisi di dalam kamar, dan membesarkan volumenya.

Alana berjalan menuju meja makan, dia membuka tudung saji, ayam goreng dengan sambal lalapan terhidang di meja makan. Dia gegas mengambil piring, satu sendok nasi dari bakul berpindah dengan cepat ke piring Alana, tidak beberapa lama, makan malam Alana sudah selesai. Ibu Alana masih menonton televise di dalam kamar dengan pintu yang terbuka lebar.

“Bu, Alana naik dulu,” ucapnya seraya menaiki tangga dari kayu jati menuju kamarnya.

Sampai di kamar dia masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu sebelum tidur seperti yang di perintah ibunya.

***

Alana memberikan potongan tempe kepada ibunya, lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk kimono yang di simpannya di dalam kamar.

“Ya sudah Bu, Alana mau siap-siap berangkat ke kampus,” ucap Alana dia masih kekeh dengan apa yang di dengarnya.

‘Tidak mungkin itu hanya reaksi dari rasa takutku, masalahnya deheman itu terdengar sangat jelas di telingaku,’ ucapnya dalam hati, sambil menggaruk kepalanya.

Bab 3

Alana masuk menuju kamar, dan bersiap-siap berangkat ke kampus. Dengan sedikit sarapan untuk mengganjal perutnya, Alana melajukan kendaraannya menuju kampus. Sampai di kampus, Alana segera memarkiran motornya di parkir kendaraan.

Alana masuk menuju loket administrasi, kemudian menyerahkan berkas permohonan pengajuan judul kepada petugas administrasi. “Pak Danang, kira-kira berkas pengajuan judul ini berapa hari ya selesainya?” tanya Alana yang sedang berdiri di depan loket jurusannya.

“Paling cepat tiga hari Alana, tiga hari lagi, kamu coba saja cek di loket jurusan. Kalau berkas kamu sudah selesai, sudah pasti ada di depan situ, sama berkas pengajuan judul mahasiswa yang lain,” ucap Pak Danang, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tumpukan berkas di depan loket jurusan.

“Paling telat semingguan, itupun karena ada kegiatan atau rapat di kampus,” ucapnya menambahkan.

“Baik Pak, tiga hari lagi saya cek berkasnya di sini,” ucap Alana dia pergi menjauh dari loket jurusan. “Mari Pak, terimakasih,” ucapnya kepada petugas.

Selesai menyerahkan berkas pengajuan judul, Alana langsung pulang. Ketika sampai rumah, ternyata rumah Alana sepi, dia mencari ibunya ke belakang, tapi dia tidak menemukannya. Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya, kemudian menghubungi ibunya. “Assalamu’alaikum, Bu lagi di mana?” ucap Alana.

“Ibu sedang di rumah Bu Rasmi, komplek sebelah, kemarin anaknya meninggal,” ucap ibu dari seberang telepon.

“Innalillahi wa inna ilaihiroj’un ya sudah Bu, Alana segera menyusul ibu ke sana. Assalamu’alaikum,” ucap Alana lalu mematikan panggilan telepon.

Alana bergegas menuju rumah Bu Rasmi. Sesampai di halaman rumah Bu Rasmi, banyak warga yang sudah berada di sana. Alana berjalan di tengah banyaknya pelayat, aroma melati dan kapur barus mulai menyeruak.

“Alana, kamu kapan datang?” tanya Ibu Alana, menepuk pundaknya anaknya dari belakang.

“Alana baru saja datang Bu, jenazah anaknya Bu Rasmi di mana Bu, apakah sudah dikafani?” ucap Alana berbisik kepada ibunya, di tengah keramaian para pelayat.

“Belum, keluarga masih menunggu beberapa keluarga dekat yang belum melihat jenazah almarhum. Kabarnya kakaknya yang ditunggu itu kakaknya yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah,” ucap ibu Alana menarik tangan anaknya menuju ruangan jenazah.

Sebuah ruangan sudah bergema baca’an tahlil, di tengah-tengah keramaian itu berbaring jenazah anaknya Bu Rasmi, yang ditutup dengan kain jarik di kepalanya.

“Assalamu’alaikum, permisi Bu,” ucap Alana berjalan kecil sambil membungkukkan tubuhnya di tengah keramaian warga yang sedang duduk membaca tahlil.

Alana berjalan menuju jenazah, dibukanya kain jarik yang menutupi wajah jenazah. Tiba-tiba saja, kepala Alana terasa sakit, seperti tertusuk jarum, dia memegang kepalanya, pandangannya berkunang-kunang, mendadak wajahnya pucat pasi, seakan semua energi Alana terserap habis oleh kain jarik yang disentuhnya. Alana terlihat akan terjatuh pingsan dari posisi duduk, keduanya bola matanya berputar, ibunya yang duduk di sampingnya dengan sigap memegang tubuh anaknya,

“Astagfirullah, Alana kamu kenapa?” ucap ibunya sambil memegang tubuh anaknya.

Wajah ibunya memerah, dia terlihat sangat panik. Warga yang berada di ruang tahlilan membopong Alana ke ruangan yang lebih leluasa, agar Alana bisa mendapat udara, karena di dalam sangat sesak dengan warga yang sedang tahlilan.

Alana dibaringkan di dipan rumah Bu Rasmi. Tubuhnya sangat pucat dan dingin, ibunya meminta minyak kayu putih kepada Bu Rasmi, kemudian digosoknya kaki anaknya dibantu ibu-ibu yang melayat. Ibunya mengoleskan minyak kayu putih di hidung Alana, berharap anaknya akan segera sadar. Terlihat Alana menggerakan jari-jarinya, perlahan mata Alana mulai terbuka.

“Alhamdullillah, Alana akhirnya kamu sadar Nak, kamu kenapa Alana?” tanya ibunya sambil mengusap pucuk kepala anaknya.

“Entahlah Bu, mungkin Alana lagi masuk angin aja,” ucap Alana, sambil berusaha bangkit dari posisi tidurnya. “Alana mau pulang Bu, Alana mau istirahat di rumah secepatnya,” ucap Alana sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.

“Ya iya, ayo pulang bareng sama ibu, kamu tunggu sebentar di sini, ibu mau pamit dulu sama Bu Rasmi dan mengambil baskom ibu,” ucap ibunya sambil berjalan menuju Bu Rasmi yang sedang duduk di samping jenazah anaknya.

“Permisi Bu Rasmi, berhubung Alana sudah siuman, saya mau langsung balik dulu Bu, biar Alana istirahat di rumah aja,” ucap ibu Alana di depan Ibu Rasmi yang sedang berduka karena kematian anaknya.

“Baik Bu Rana, semoga Alana lekas membaik, terimakasih atas kunjungannya Bu,” ucap Bu Rasmi bersamalaman dengan ibu.

Kemudian ibu berjalan menuju ibu-ibu yang menerima beras melayat. “Bu, tolong baskom saya,” ucap ibu Alana.

“Ini Bu, baskomnya.” Seraya menyodorkan baskom Ibu Alana. “Terimakasih Bu, hati-hati,” ucap mereka pada Ibu Alana.

Ibu Alana berjalan menuju ruangan Alana berada, dan memapah Alana dari posisi duduknya.

“Tidak apa-apa Bu, Alana masih sanggup jalan kok Bu. Ayok Bu cepat, Alana mau pulang,” ucap Alana menarik lengan ibunya, menuju pintu rumah Bu Rasmi.

Kembali ditatapnya jenazah yang ditutup kain jarik. Seketika itu tubuh Alana terasa lemas, tak ingin berlama-lama, Alana langsung berjalan menjauh dari pusat keramaian menuju rumahnya. Alana segera membuka pintu rumahnya dan segera masuk ke dalam kamarnya.

“Bu, kain sarung warna putih di belakang pintu kamar Alana di mana Bu?” tanya Alana dari dalam kamar.

“Sudah ibu cuci Nak, sedang ibu jemur di luar,” ucap Ibu Alana dari luar kamar.

Mendengar jawaban ibunya, Alana mengangguk. “Oowh iya sudah,” ucap Alana dia berjalan menuju tempat tidur, dan membaringkan badannya. Tidak beberapa menit kemudian Alana sudah tertidur lelap.

Ketika terbangun Alana teringat dengan kejadian yang dialaminya di rumah Bu Rasmi. “Mengapa setiap ada kain putih di sekitar aku, energi aku terasa terserap habis, apa kaitannya kain warna putih sama diri aku?” ucap Alana dengan banyak pertanyaan di otaknya.

Alana berjalan menuju dapur, ibunya terlihat sedang memasak untuk makan malam. “Sudah salat asar Nak,” ucap ibunya.

“Belum Bu, Alana baru saja bangun,” jawabnya.

“Ya sudah lebih baik, kamu salat asar sekarang, nanti waktu asar keburu habis,” ucap ibunya sambil menggoreng lauk untuk makan malam.

”Ya, Bu,” jawab Alana yang sedang duduk di kursi makan, sambil memegang satu gelas air putih di tangannya.

Alana berjalan gontai menuju mushalla, mengambil air wudhu dan gegas menunaikan salat asar. Pandangannya tertuju menuju mukena berwarna putih yang tergantung di gantungan mukena, pikirannya masih tidak karuan, firasatnya sangat kuat bahwa penyebab kondisinya yang seperti itu, karena berada di antara kain jarik berwarna putih yang menutupi wajah jenazah, ucapnya dalam hati.

Alana membuka mukenanya kemudian berjalan menuju kamarnya. Beberapa jam lamanya berada di dalam kamar, Alana berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Dari luar matahari terlihat mulai tergelincir, burung-burung kembali ke sarangnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED