Bab 1

“Kau tak lebih dari wanita mandul dan sakit-sakitan!” 

“Kau hanya memanfaatkan kekayaan kami dan uang Kaito untuk memperkaya diri!” 

“Tapi kau sendiri tidak berguna!” 

“Dasar wanita sial!"

Ayu menutup telinganya, sambil memejamkan mata. Berharap bisa memblokir ucapan keji yang diserukan ibu mertuanya. Tapi perbuatan itu percuma. Ucapan itu bukan sedang terjadi saat ini. Seruan jahat itu hanya ada dalam kepala Ayu. Meneror meski dirinya sedang tidak berada di rumah.

Saat sedang diam, memori Ayu dengan otomatis mengulang raut wajah murka dan juga kata-kata keji itu. Seperti rekaman drama buruk yang dengan terpaksa harus terus dilihat.

“Apa Anda baik-baik saja?” Supir taksi yang melihat Ayu menekuk tubuhnya dan menutup telinganya tentu khawatir. Takut jika tiba-tiba Ayu pingsan.

“Ya. Saya baik-baik saja.” Ayu menjawab dengan sopan, lalu memaksakan diri untuk tersenyum dan menegakkan tubuh, agar terlihat lebih normal.

“Tolong turunkan saya di rumah yang itu.” Ayu menunjuk rumah berpagar abu-abu dengan gerbang kayu dengan ornamen shinto yang antik.

Sekian lama melamun, ternyata taksi yang ditumpangi Ayu sudah sampai di rumah yang menjadi tujuannya.

“Di sini?” tanya supir taksi itu. Setelah berhenti tepat di depan gerbang.

“Benar. Arigatou gozaimasu” (Terima kasih)

Setelah menyerahkan ongkos taksi, Ayu turun dan merapatkan mantel. Angin larut malam saat musim gugur di Tokyo cukup menggigit. 

Ayu menatap gerbang rumah yang sudah hampir dua tahun ini tidak pernah dilihatnya, dengan penuh nostalgia. Itu adalah rumah tempatnya tumbuh. Ayu menekan bel yang terletak di samping plat nama bertuliskan Tanaka.  Nama itu juga menjadi nama belakang Ayu. Tapi sekarang tidak lagi, karena Ayu telah menikah. 

“Ya!” Terdengar sahutan, dan pintu gebang itu terbuka.

“Ayu!” Sambutan ceria membahana.

Seorang wanita yang berusia enam tahun lebih tua dari Ayu, memeluknya dengan hangat. Wajah wanita itu mengingatkan Ayu pada wajah ibunya. Karena memang wanita itu adalah adik bungsu dari ibunya, bibi Karin. 

Jarak umur Karin dan ibu Ayu memang cukup jauh. Jadi usia Karin lebih mendekati Ayu.

“Masuklah… Aku sudah menunggumu sejak tadi. Aku sudah khawatir kau tidak jadi datang.”

Karin mendahului, lalu menggeser pintu depan yang terbuat dari shoji ke samping. Rumah itu memang memiliki gaya tradisional Jepang, jadi hampir seluruh dinding rumahnya terbuat dari shoji, rangka kayu berlapis kertas transparan.

Ayu mengikutinya sambil tersenyum samar. Mendengar Karin berbicara memakai bahasa Indonesia membuat Ayu merasa hangat oleh rindu. Sudah sangat lama Ayu tidak mengobrol memakai bahasa ibunya itu.

Karin membawanya ke ruang tamu, memintanya duduk pada salah satu bantal yang tersedia. Ruang tamu itu juga bergaya tradisional, jadi Ayu duduk bersimpuh di samping meja kayu rendah yang mulus terpoles.

“Kau seharusnya meninggalkan rumah itu sejak lama, Ayu. Kau terlalu baik. Aku geram setiap kali mendengar kisahmu,” kata Karin, sambil mengelus bahu Ayu. Mengawali obrolan tanpa basa-basi.

Sudah beberapa lama ini Karin membujuk Ayu untuk meninggalkan Kaito—suaminya, tentu dengan alasan ibu mertuanya yang kejam itu. Tapi Ayu tidak sanggup mengambil keputusan seberani itu. Kini rasa sakit hati yang sejak tadi sebenarnya sudah tertahan, kembali muncul karena sentuhan simpati itu. Penghiburan dan kasihan itu, memancing air mata Ayu.

“Aku masih mencintainya,” bisik Ayu di antara isakan.

“Ck, aku tidak yakin pria itu masih mencintaimu.” Karin terdengar kesal, tapi Ayu tidak memiliki pembelaan kali ini, karena bisa jadi hal itu benar.

Ayu selalu menimbang dan menunda karena tidak ingin pernikahannya berakhir begitu saja, tidak ingin cintanya kandas.

Tapi hari ini Ayu tidak tahan lagi. Ibu mertuanya kembali menghina dan terus mencaci ketika mengetahui Ayu tidak juga hamil untuk kesekian kali.

Ayu masih mencoba bertahan dan mendengar dalam diam seperti biasanya. Namun, keinginan Ayu untuk bertahan goyah, saat melihat bagaimana Kaito—yang saat itu ada di rumah—hanya bisa memandang saja saat ibunya dengan keji terus memuntahkan cacian.

Ayu sudah tidak pernah berharap ibu mertuanya akan berhenti untuk menghina, tapi Ayu masih berharap Kaito akan membela. Harapan semu yang berakhir mengenaskan. Kaito sama sekali tidak membelanya.

Sikap diam Kaito lebih menyakitkan daripada hinaan yang diterimanya. Ayu selama ini merasa sudah lebih banyak diam, dan tidak pernah menyakiti hati Kaito. 

Luka itu yang membuat Ayu menerima penawaran Karin, yang menyuruhnya untuk sementara kembali ke rumah ini. Untuk sementara menenangkan diri dan berpikir langkah apa yang harus diambil. Selain karena permintaan Karin, Ayu memang merasa aman di rumah ini. Ini adalah rumah tempatnya tumbuh—rumah milik pamannya, Hideki.

Karin adalah adik dari ibu kandungnya, yang berasal dari Indonesia, sedang Paman yang membesarkan Ayu adalah adik dari ayahnya, yang berasal dari negara ini---Jepang. Ayu menikah dua tahun lalu, lalu Karin menikah dengan pamannya setahun lalu dan pindah ke sini.

Karena itu, meski jarang berkunjung, Ayu masih menganggap tempat ini rumah yang menampung dua orang keluarganya yang tersisa.

“Ini. Minumlah,” kata Karin, sambil meletakkan segelas susu hangat di hadapan.

Air mata Ayu sudah berhenti, dan Karin kembali mengelus lengannya. “Kita lebih baik bicara lagi besok. Kau minum susu ini, dan istirahatlah. Aku sudah menyiapkan kamar.”

Ayu mengangguk, dan meminum susu yang disediakan oleh Karin. Susu itu hangat, Ayu merasa nyaman. Dan setelahnya Ayu merasa lelah dan mengantuk. Ayu tidak menyadari jika tubuhnya sangat lelah. Keputusan besar untuk meninggalkan Kaito—meski hanya untuk sementara, rupanya menguras tenaga.

“Terima kasih, karena sudah menerimaku,” kata Ayu, saat membantu Karin menyiapkan tempat tidur untuknya.

Karin menggelar futon (kasur lipat) di salah satu kamar di rumah itu, dan Ayu sudah tidak peduli. Mata Ayu sudah mulai berat, tubuhnya terasa limbung.

“Tidak perlu sampai seperti itu. Kau adalah keponakanku yang manis.” Karin tersenyum, sambil menyerahkan gaun tidur untuk Ayu.

Karena tidak ingin mengundang kecurigaan mertuanya, saat keluar rumah tadi Ayu memang hanya membawa tas kecil. Tidak membawa baju apa pun. Karin meyakinkan Ayu agar tidak memikirkan itu, dan berjanji akan menyediakan semua keperluannya, asalkan datang ke sini.

Ayu melepaskan bajunya, tapi nyaris sudah tidak mampu. Tubuhnya benar-benar lemas oleh kantuk, dan anehnya Ayu merasa gerah, padahal suhu malam ini dingin. Ayu tidak ingat bagaimana, yang jelas dia akhirnya berbaring dan tertidur atas futon itu.

***

Hide membuka pintu kamarnya dan mengerutkan kening, karena hidungnya mencium aroma wangi yang tidak biasa. Menyengat dan kepalanya menjadi lebih ringan dengan tiba-tiba. Tapi Hide tidak bisa melihat dari mana asal aroma itu karena kamarnya gelap.

Hide tidak berpikir panjang, hanya menganggap jika aroma itu adalah pewangi ruangan yang dibeli oleh Karin. Dia membuka jas dan juga kemeja seperti biasa sambil melirik tubuh yang tertidur di atas futon. Setelah membersihkan diri, Hide menggelar futon yang lain dan berbaring di samping tubuh yang tertutup selimut itu.

Ini rutinitas biasa. Yang tidak biasa adalah aroma wangi itu, Hide merasa kepala dan tubuhnya semakin mengambang. Hide mencoba memejamkan mata, tapi tiba-tiba ada tubuh bergerak merapat.

“Kau mau apa?” Hide bertanya dengan suara serak karena mengantuk dan pusing. Tidak ada jawaban tapi terdengar suara desahan dan tubuh yang ada di sampingnya kini mengulurkan tangan dari balik selimut dan memeluk tubuhnya.

“Lepaskan!” Hide membentak, sambil menurunkan tangan yang ada di perutnya. Tapi satu detik kemudian, tangan itu kembali dan memeluknya semakin erat. Hide biasanya akan menolak dengan lebih tegas, tapi kepalanya yang seolah berkabut, membuat Hide melakukan hal yang tidak biasa.

Dia membalik wanita yang memeluknya, dan bergerak naik ke atas tubuhnya. Hide mengelus wajah wanita yang ada di bawahnya,

"Karin, ada apa denganmu?" gumam Hide. Berpikir jika wanita itu adalah Karin.

Desahan terdengar saat Hide mengelus leher dan juga merabanya, dan saat itu Hide menyadari jika sosok yang dia sentuh bukanlah Karin. Melawan pusing, Hide bangkit menghidupkan lampu. Mata Hide yang berwarna gelap melebar saat melihat tubuh yang kini terbaring pasrah—dengan baju berantakan, yang ternyata bukan istrinya.

“Ayumi?” Hideki mendesiskan nama lengkap Ayu, dengan nada tidak percaya.

“Bagaimana kau bisa ada di sini?” Hide bergumam, dengan mata nanar. Memandang Ayu yang kini menggeliat dan mencoba membuka gaun tidur yang sudah berantakan itu.

Bab 2

Hide menahan tangan Ayu. “Apa yang kau lakukan?!”

Tapi Ayu justru menepis tangan Hide dan kembali membuka gaunnya. Hide mencoba mencegah, tapi hanya sekali itu dan sisanya hanya memandang Ayu melepaskan gaun tidurnya satu per satu, sampai tak ada lagi yang tersisa.

“Gerah.” Ayu bergumam dalam desahan, lalu kembali berbaring. Hide semakin terpana, menatap tubuh Ayu yang tidak berhenti menggeliat.

Mata Ayu terpejam, tapi tangannya yang aktif terus mengusap tubuhnya, mengusir gerah. Gerakan itu membuat Hide berjarak semakin jauh dengan akal sehat dan kewarasan. Pemandangan yang saat ini tersaji di depannya—Ayu yang yang terus bergerak gelisah, membuat tubuh Hide semakin terasa panas.

Ayu bergeser, meraih tangan Hide yang terduduk di sampingnya, membawa tangan itu untuk menyentuh tubuhnya. “Bergeraklah.” Ayu kembali berbisik dengan suara serak.

“HENTIKAN!” Hide mencoba untuk menegur dirinya sendiri—sekaligus Ayu, agar mereka tidak melewati batas waras itu. Tapi Ayu sudah tidak bisa mendengar maupun berkomunikasi. Tubuhnya yang panas hanya menginginkan pelampiasan.

Ayu menatap Hide dengan mata sayu. “Kaito… Anata…” (Kaito... Suamiku…)

Ayu mendesiskan nama yang muncul dalam benaknya. Tidak menyadari jika pria yang saat ini dirayunya bukanlah Kaito.

Hide yang mendengar nama pria lain tersebut dari mulut Ayu, tersulut. Sejak tadi, Hide mengira Ayu melakukan apa yang dilakukannya saat ini untuk menggodanya. Penyebutan nama laki-laki lain seolah menginjak harga diri Hide. Ia menunduk dan mencengkeram wajah Ayu, untuk membuat Ayu melihatnya lebih jelas.

“Aku bukan Kaito! Lihat baik-baik! Aku Hideki!” bentak Hide.

Tapi Ayu sedang tidak dalam keadaan sadar untuk bisa diajak bicara, sedangkan Hide juga semakin lama semakin tidak bisa menahan nafsunya. Mendekat pada Ayu adalah keputusan buruk, karena sekarang Hide bisa dan mencium aroma tubuhnya. Tubuh Ayu beraroma menyengat, dan membuat kepala Hide terasa semakin ringan. Terutama saat tangan Ayu tanpa ragu merengkuhnya.

“Kai… Hmm…” Ayu kembali menggumamkan nama yang salah, dan itu adalah pemantik.

Hide melumat bibir Ayu yang membuka, melampiaskan amarah sekaligus nafsunya yang tumpang tindih.

Dan Ayu membalasnya. Dia tidak tahu siapa pria yang saat ini berada di atas tubuhnya, dan hanya membalasnya sesuai nafsu keinginan dalam tubuhnya.

“Sebut namaku!” Hide berseru dengan suara serak, menuntut. Sementara tangannya mulai membuka seluruh pakaiannya. Pikirannya sudah benar-benar berkabut, tak lagi jernih dalam menilai. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Ayu.

“Sebut namaku!” Hide mendesis, lalu kembali melumat bibir Ayu, dan mencium leher serta tubuh Ayu.

“Hide… Hide Oji-san.” (Hide… Paman Hide)

Ayu bergumam dan mendengus puas, saat akhirnya panas dalam tubuhnya mendapatkan pelampiasan. Sentuhan dan juga cumbuan dari Hide, seolah memadamkan bara yang sejak tadi membuatnya resah dan gelisah.

Hide juga sudah tidak teringat lagi dengan usahanya untuk menjaga pikiran sehat dan nafsu. Dia mengempaskan tubuh Ayu, dan terus bergerak sampai gairahnya terpuaskan. Ayu membalas semua itu dengan lenguhan nikmat, sambil mencengkeram tubuh Hide dan memeluknya. Keduanya akhirnya terempas dan tertidur di atas futon yang sama.

***

“AGHHH!”

Teriakan melengking membuat Ayu tersentak dan terbangun. Tapi Ayu belum bisa membuka mata. Ayu mengeluh, karena kepalanya terasa berdenyut dan sakit. Ayu mencoba untuk duduk, meski tubuhnya juga terasa aneh.

“APA YANG KAU LAKUKAN? APA SEDANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!”

Jeritan lain membuat Ayu terpaksa membuka mata. Dan Ayu kebingungan saat melihat Karin berada di depan pintu menatapnya dengan wajah berkaca-kaca. Sementara tangannya menuding ke arah dirinya.

“Bibi? Ada apa?” Ayu menegakkan tubuh dan selimut yang menutupinya turun. Ayu langsung menyadari keanehan karena kulitnya bisa merasakan gerakan selimut itu. Ayu menunduk memeriksa tubuhnya.

“Aghh!” Ayu memekik kecil, kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Kantuknya menghilang, berganti kebingungan.

“Aku menerimamu disini karena kau terlihat mengenaskan! Dan ini balasanmu untukku?!” Jeritan Karin itu membuat Ayu mengernyit, lalu memandang sekitar.

“AGGH!” Jeritan lebih keras terlontar dari mulut Ayu, saat melihat pria yang tidur dan terbaring di sampingnya. Pria itu juga telanjang, hanya tertutup selimut mulai dari pinggang ke bawah.

“Oji-san… Hide Oji-san…” Ayu menggumamkan nama itu dengan pikiran horor memenuhi kepalanya.

Ayu tidak bisa mencerna kemungkinan apa yang terjadi.

“Tidak… Mungkin…” Ayu terbata, dan kembali menolak bayangan yang terbentuk dalam otaknya.Meski situasi ini sudah sangat jelas, Ayu tetap tidak ingin menerima. Tidak mungkin dia baru saja melakukan hal yang tidak terbayang dengan pamannya.

“Kau ternyata memang wanita tidak tahu terima kasih!” Karin kini terlihat sangat marah, sementara tangannya terus menuding ke arah Ayu.

“Tidak heran jika Kaede terus menyebutmu sebagai wanita sial! Sepertinya kau memang pembawa sial! Dasar jalang tidak tahu diuntung!”

Ayu yang tadi masih mencoba untuk menerima kenyataan, merasakan luka dalam hatinya kembali menganga. Kemarin dia pergi ke rumah ini untuk mencari perlindungan dari Kaede---ibu mertuanya. Merasa gembira karena paling tidak ada satu orang di muka bumi ini yang berpihak kepadanya, tapi sekarang Karin menghinanya sama seperti Kaede.

Air mata Ayu kembali mengalir turun. Pikirannya sangat kacau. Bukan hanya memikirkan masalah yang sudah ada kemarin, kini masalah yang lebih mengerikan menunggu di hadapannya. Dengan air mata menggenang, Ayu merapatkan selimutnya, bergeser menjauh dari tubuh Hide, menghampiri Karin.

“Aku… Aku tidak tahu… Sungguh. Aku mohon percayalah. Bibi... Aku… tidak…”

"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengar pembelaan dari mulut wanita sampah semacam dirimu!” Karin memaki sekeras mungkin. Sambil mendorong tubuh Ayu, membuatnya terempas di lantai tatami.

Isakan Ayu semakin keras. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menyakinkan Karin jika semua ini bukan perbuatan yang disengaja. Ayu bahkan tidak ingat bagaimana hal itu terjadi.

“BERHENTI!”

Suara serak dan berat membuat mereka berdua menoleh bersamaan. Terlihat Hide terbangun dan duduk. Keadaan yang sama seperti Ayu, kepalanya terasa berat dan sakit.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?!” Karin kini menangis sambil menuding ke arah suaminya, tapi Hide tidak terpengaruh dengan tangisan dan amarah itu. Hide membalas dengan tatapan dingin.

“Diam, dan pergilah dari sini!” bentak Hide.

“Kau…” Karin yang tampak semakin terluka, berlari keluar dari kamar itu.

Hide berpaling pada Ayu yang menelungkup pada tempatnya jatuh, masih sambil terisak. “Yumi…”

Hide memanggil  bagian lain dari nama Ayu---Ayumi, dan hanya Hide yang memanggil Ayu dengan nama itu.  Hide bergeser mendekati Ayu, mencoba untuk menyentuh pundaknya, tapi Ayu menjauh dan menepis tangan itu.

“Jangan sentuh aku!” Ayu sama sekali tidak ingat apa yang terjadi, tapi apa pun itu, dia tidak ingin kembali disentuh oleh Hide.

Hide mendengus jengkel, karena niat baiknya terhalang. Pria berbadan tegap itu perlahan memijat pangkal hidungnya karena kepalanya semakin nyeri. Gagal menjernihkan pikiran, Hide berdiri, berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polos. Berharap air akan menyegarkan, dan otaknya kembali berfungsi dengan lebih normal.

Ayu yang merasakan mendengar langkah Hide menjauh, menegakkan tubuh dan menyambar baju yang kemarin dia pakai. Secepat kilat, Ayu merapikan diri dan berlari keluar dari kamar itu sambil terus mengusap air matanya. Ayu berlari keluar menuju pintu depan, tapi tangan Karin menghadang.

“Kau kabur begitu saja setelah membuat keributan di rumahku? Setelah kau melakukan perbuatan memalukan seperti itu?!” bentak Karin.

Bab 3

Ayu menggelengkan kepala, kembali menunduk dan terisak. “Sungguh, Bibi. Aku tidak ingat apa yang terjadi. Aku hanya tidur biasa!”

Sejak tadi, Ayu mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi malam kemarin, tapi ingatannya seolah berkabut tebal. Ayu hanya bisa mengingat sampai saat dia tertidur setelah meminum susu pemberian Karin.

“Hah! Terus saja menangis dan mencoba untuk menjadi terlihat menyedihkan! Air mata buaya!” Karin membalas tangisan itu dengan ucapan sinis.

“Apa sekarang kau sedang berpura-pura menjadi korban dan mencoba terlihat memelas? Itu lucu sekali, padahal sudah jelas aku yang menderita di sini!” Karin membentak sambil menarik tangan Ayu dari wajahnya.

Ayu mendongak dan menggelengkan kepalanya, menghapus air mata yang terus turun. “Aku tidak bermaksud begitu! Aku memang tidak ingat apa…”

“Aku tidak peduli kau ingat atau tidak! Aku akan mempercayai apa yang aku lihat tadi! Kau jelas adalah jalang karena sudah tidur dengan pamanmu sendiri!”

“Tidak!” Ayu memekik sambil menutup telinganya. Apa yang disebut Karin, adalah kenyataan yang sejak tadi tidak ingin didengar olehnya. Sejak tadi Ayu mencoba untuk mengalihkan pikiran dari hal itu. Mencoba untuk berpikir jika kejadian ini tidak mungkin seburuk itu.

Tapi apa yang dikatakan Karin bukan juga suatu kebohongan. Keadaannya saat terbangun tadi adalah bukti nyata. Kini Ayu mulai merasa jijik dengan dirinya sendiri, mual dan muak.

“Kau ingin menepis kenyataan itu? Jangan konyol, sudah jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kalian berdua telanjang!”

Bentakan yang sekali lagi menambah rasa bersalah dalam diri Ayu. Dia hanya bisa menggeleng dan terus menutup telinga, tidak ingin mendengar aib yang mengerikan itu.

“Apa sekarang kau menyuruhku percaya jika tidak ada yang terjadi di antara kalian? Kalian berdua manusia dewasa, berada dalam satu kamar semalaman, dalam keadaan telanjang dan bangun dalam keadaan letih! Apa ada penjelasan lain dari bukti yang aku sebutkan tadi?” Karin berkacak pinggang dan mendorong kepala Ayu dengan telunjuknya.

“Kau tunggu saja, aku akan mengatakan kepada Kaito jika memang istrinya menjijikkan dan ternyata wanita murahan.”

“Jangan! Aku mohon jangan!” pekik Ayu, sambil meraih lengan Karin. Jika seperti itu, maka hancurlah sudah nama baiknya yang saat ini sudah tidak lagi tersisa di mata keluarga Kaito.

“Aku juga akan mengatakan pada Kaede, selama ini tuduhannya benar jika menantunya adalah wanita sial!” Karin memberi ancaman lain sementara bibirnya menyeringai.

Ayu tentu saja semakin terlihat pucat. Dia terus menggeleng dan menarik tangan Karin. Memohon padanya untuk tidak melakukan hal itu. “Jangan mengatakan ini semua kepada mereka. Aku mohon, Bibi.”

“Kenapa tidak boleh? Aku ingin Kaede tahu jika memang menantunya tidak lebih dari wanita murahan penggoda pria!” Karin kembali menyeringai.

"Aku tidak menggoda. Aku tidak ingat apa yang terjadi!” Sekuat tenaga Ayu ingin meyakinkan bibinya jika ini semua bukanlah kesengajaan.

“Kau seharusnya malu masih mencoba untuk membantah! Kau sadar atau tidak, kau bukan hanya wanita murahan penggoda suami orang, tapi kau sudah melawan hukum alam sampai-sampai kau menggoda pamanmu sendiri!”

Tubuh Ayu terasa lemah dan lunglai saat mendengar itu. Tuduhan menggoda pamannya sendiri itu semakin menghancurkan hatinya. Ayu meraba tembok yang ada di sampingnya, mencari bantuan agar tubuhnya tetap bisa berdiri tegak.

"Aku tidak menggodanya." Ayu kali ini hanya mampu untuk bergumam, tidak tersisa lagi tenaga dalam tubuhnya.

“Kemarin kau mengatakan tidak ingin bercerai dari Kaito? Sekarang buka matamu, kau tidak lagi pantas untuk menjadi istrinya! Tinggalkan keluarga Nakamura! Kau hanya akan menjadi aib bagi mereka!”

Karin mengusulkan hal yang membuat tubuh Ayu terasa semakin berat dan limbung. Tanpa bantuan tembok, mungkin Ayu saat ini akan terpuruk di lantai.

“Aku tidak…”

“Kau tidak perlu berlebihan seperti itu!” Sahutan dengan nada tegas dan berat terdengar dari arah dalam. Terlihat Hide berjalan mendekati mereka. Keadaan tubuhnya sudah lebih rapi, rambutnya terlihat basah dengan air menetes.

“Berlebihan? Kau bilang aku bereaksi berlebihan? Aku baru saja melihat suamiku tidur bersama dengan keponakannya sendiri! Dan kau mengatakan berlebihan?!” Karin berteriak marah dengan suara terpecah kepada suaminya.

“Apa kau tidak punya hati sampai tega menegurku?” bentak Karin lagi.

Tapi Hide tidak menanggapi teriakan Karin. Matanya menyipit hampir menyerupai garis saat menatap Karin.

“Ceraikan aku sekarang juga! Dan beri aku uang untuk kompensasinya! Kau sudah menghancurkan rumah tangga kita!” Karin menuntut sambil melipat tangannya di depan tubuh.

Hide kembali menanggapi dingin, dan malah Ayu yang tersentak dan panik. Rasa bersalah baru menggelayut dalam hatinya. Dirinya yang menyebabkan rumah tangga antara Karin dan Hide diambang kehancuran.

“Untuk apa aku menuruti permintaanmu? Jangan bermimpi!” Hide mengernyit, merasa konyol mendengar permintaan Karin.

“Karena jika kau menolak, maka aku akan mengatakan apa yang kalian berdua lakukan kepada semua orang! Aku ingin melihat bagaimana reaksi orang, saat mendengar kalian berdua—keponakan dan paman tidur bersama! Terutama keluarga suaminya!” Karin menunjuk Ayu yang terlihat gemetar.

Ayu yang tadinya berharap Karin dan Hide tidak akan berpisah karena dirinya, kini menutup wajahnya. Panik.

Ayu sudah bisa membayangkan hinaan Kaede yang sangat pedas. Dan akibatnya bukan hanya itu. Jika Karin membuka mulut, maka rumah tangganya tidak akan terselamatkan.

Ini yang menakutkan bagi Ayu. Meskipun Kaede adalah ibu mertua yang berasal dari neraka, Ayu mencintai Kaito. Dan saat ini, Kaito adalah satu-satunya tempatnya bersandar.

"Aku mohon, jangan…” Ayu bergumam sambil meremas tangannya, tidak tahu harus melakukan apa.

Di satu sisi, Ayu tidak ingin pernikahan Karin dan pamannya berakhir, tapi di sisi lain, Ayu tidak ingin pernikahannya sendiri tamat.

Hide melirik sekilas ke arah Ayu, lalu maju mendekati Karin, dan membungkuk di samping telinganya.

“Sandiwaramu bagus sekali. Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan? Kau lupa menyingkirkan bukti dari kamar.” Hide berbisik sangat lirih. Dan hanya Karin yang mendengar itu.

Wajah Karin seketika pucat. Ternyata dia melakukan kecerobohan. Karin kini sedang mengutuk dalam hati karena kurang berhati-hati, padahal dia tahu Hide sangat cermat. Setelah Ayu dan Karin keluar dari kamar, Hide memeriksa sekitar ruangan itu, dan menemukan dupa yang menjadi asal aroma harum menyengat yang membuat otaknya berkabut tadi malam.

Hide tidak tahu persis dupa itu terbuat dari apa, tapi yang jelas dupa itu yang mempengaruhinya. Hide yakin jika Karin pasti melakukan sesuatu kepada Ayu. Dia sudah mengenal Ayu selama bertahun-tahun, dan tahu jika Ayu tidak akan mungkin membuka bajunya dalam keadaan sadar.

“Aku tidak akan menceraikanmu!” Hide kali ini mengucapkannya dengan keras, dan isakan Ayu kembali.

"Jika kamu tidak menceraikanku, maka aku akan memberi tahu semua orang bahwa keponakanmu itu tidur denganmu. Kalian pasti akan hancur!" seru Karin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED