Suara nyaring sepatu heels warna hitam model strapy shoes dari seorang wanita yang mengenakan sheath dress menggemparkan Aline Publishing, sebuah perusahaan penerbitan terbesar di Kota Dansk dan satu dari lima penerbitan yang memiliki saham paling stabil di bursa efek. Wanita berambut coklat gelap, dengan alis tebal dan meruncing tersebut adalah pemimpin, pemilik, sekaligus CEO Aline Publishing, Aline von Otto Geischt Haimen. Wanita dengan tipe yang tak akan membuang waktu hanya untuk urusan sepele dan tak penting, sehingga dirinya jarang sekali berada di kantor dan menghabiskan waktu di sana. Namun kali ini isu kedatangannya yang tiba-tiba membuat geger dan gempar seisi perusahaan.
"Sayang, sarapan sudah siap. Kapan kau akan bangun?" tanya Aline teriak sembari menyiapkan dua buah piring khas Belanda di atas meja makan yang tak terlalu besar.
Tak ada jawaban. Aline terus menyiapkan segala sesuatu untuk melengkapi sarapan pagi nan mewah keluarga kecilnya. Semenit-dua menit tak ada jawaban, Aline segera bergegas naik ke lantai dua kamarnya dan menghampiri sang suami, Jeffrey Anderson yang masih memeluk selimut tebal nan hangat.
"Apa kau memanggilku, Sayang?" tanya Jeffrey tiba-tiba membuka matanya.
Aline yang terkejut langsung berdiri dan membelakangi sang suami. Dengan degup jantung berdetak kencang, sang suami hanya tertawa kecil dan memeluk mesra sang istri sambil berkata, "Selamat pagi, istriku."
"Jam berapa kau akan berangkat kerja?" tanya Aline kini memutar badannya menghadap wajah Jeffrey.
"Sebentar lagi. Bagaimana denganmu? Apa kau akan menyambangi kantormu, Sayang?" tanya Jeffrey memeluk sang istri.
"Hmmm, kurasa ti …,"
Sebuah deringan ponsel mengejutkan pagi nan mesra antara Aline dan Jeffrey. Sang suami berusaha menahan Aline yang ingin mengambil gawainya di atas meja dekat lampu tidur mereka. "Sayang …," ucap Aline mendelikkan matanya sembari tersenyum.
"Rosaline? Ada apa?" ucap Aline melihat nama seseorang yang disebut Rosaline di layar gawainya.
"Ada apa?"
[Selamat pagi, Nona Aline.]
"Pagi, ada apa? Jangan buang waktuku
Katakan langsung saja. Apa ada masalah di perusahaan?"
[Itu …,]
"Itu apa?"
Jeffrey yang berdiri tak jauh dari Aline segera menghampiri sang istri, namun Aline justru mendorong tubuh Jeffrey pelan dan menghindarinya. "Ada apa dengan Aline?" tanya Jeffrey heran.
"Katakan, Rosaline. Ada apa?"
[Nona, perusahaan sedikit mengalami masalah.]
"Apa? Masalah? Masalah apa?"
[Departemen yang dipimpin oleh Georgio baru saja menerima sebuah e-mail dari salah satu penulis yang menjadi tumpuan Aline Publishing, Penulis Bertopeng. Dia mengatakan akan berhenti menulis novelnya yang berjudul 'Eindeloze Liefde (Cinta Tiada Akhir)' dan berencana akan menarik naskahnya dari perusahaan kita, Nona.]
"Apa!! Bagaimana mungkin!?" Aline tersulut emosi.
Jeffrey yang masih berada di dalam kamar hanya duduk di sebuah kursi putih yang ada di dekat jendela kamar mereka sambil memperhatikan sang istri menelepon.
[Saya--saya juga tidak tahu, Nona. Georgio baru saja menerimanya.]
"Baru saja menerimanya? Seberapa lama?"
[Sekitar 20 menit yang lalu, Nona.]
Aline memperhatikan jam yang terpaku di dinding putih kamarnya. '07.20,' gumamnya.
[Lalu, bagaimana Nona? Apa yang harus kita lakukan?]
"Di mana Melda? Apa dia sudah tahu?"
[Nona Melda belum datang, Nona dan saya rasa beliau belum tahu.]
"Aku tak butuh 'rasamu!' Aku menggajimu bukan untuk menggunakan rasamu, tapi logikamu! Paham!!" sentak Aline. "Aku akan ke sana. Pastikan saja tak ada yang tahu kedatanganku!" perintah Aline dan langsung menutup gawainya kasar.
"Ada apa, Sayang? Kau terlihat sangat kesal." Jeffrey kemudian berdiri dan menghampiri sang istri yang terlihat sangat emosi dan napas tersengal.
"Tak ada apa-apa. Maaf, Sayang. Tapi sepertinya kau harus sarapan sendiri." Aline menatap wajah Jeffrey dan meletakkan tangannya di wajah sang suami.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Jeffrey penasaran.
"Itu …," netra Aline menyelasar ke lantai marmer mansion mewah mereka.
"Itu apa, Sayang? Apa ada masalah di kantor?" tanya Jeffrey lagi.
"Aku harus segera bersiap. Tolong lepaskan tanganmu dari pundakku." Aline melirik sang suami tajam.
Kali ini suara Aline berubah sedikit dalam dan tegas. Mendengar sang suara sang istri seperti itu, Jeff langsung melepaskan tangannya dan mengangkat kedua tangannya. Ia tahu jika Aline adalah wanita yang menjunjung tinggi pride-nya dan tak ada seorang pun yang boleh menginjak-injak harga dirinya.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Apa mau aku jemput?" tawar Jeff.
"Tidak!" Tegas Aline berdiri, menuju meja rias warna pastel dan merias dirinya secantik mungkin.
"Aku keluar dulu kalau begitu, Sayang. Kutunggu di bawah, ya." Dengan mengunggah senyum manisnya, Jeff meninggalkan kamar mereka dan turun ke lantai satu menunggu sang istri di meja makan.
Sementara itu, Aline yang sedang sibuk merias dirinya tampak menyiratkan tatapan tajam nan menyeramkan, seakan emosinya yang tak lagi dapat ditahan.
"Penulis Bertopeng? Setelah kupikir-pikir, cukup lama juga perusahaanku meng-hire jasanya. Tapi sampai sekarang aku belum tahu identitas aslinya. Dan sekarang, dia malah membuat ulah? Bedebah jahanam! Tak tahu diuntung!" kesal Aline tak sadar mematahkan pensil alisnya.
****
Kantor Aline Publishing
"Baik, saya mengerti, Tuan. Jangan khawatir. Baik, terima kasih."
Bariton dalam milik seorang pria bermata coklat almond, rambut dengan potongan brush on-top, hidung bak gunung Everest dan kulit yang putih agak kemerahan tampak tergambar dari seorang laki-laki bernama Georgio Robert. Pria berusia 28 tahun itu adalah seorang kepala editor in-chief dari departemen redaksi Aline Publishing.
"Sarah, aku akan keluar sebentar. Kau handle dulu sementara aku tak ada. Jika memang ada yang penting, segera hubungi aku, paham?"
"Baik, Pak. Saya mengerti." Sahut Sarah, wakil editor in-chief memberikan senyuman pada pria tampan itu.
Dengan langkah pasti, Georgy, begitu lelaki Asia-Eropa ini disapa keluar dari ruangannya dan sudah pasti bisa ditebak bila seorang pria tampan berjalan dengan gaya yang santai namun cool akan memancing para duyung berenang ke tepian.
"Pagi, Pak." Sapa salah seorang karyawan wanita di departemen yang dipimpinnya.
"Pagi." Balasnya sambil tersenyum dan terus melangkah hingga ke lift yang tak jauh dari ruangannya.
"Oh, my God. Georgy memang sangat tampan! Tak ada yang bisa mengalahkan ketampanannya di perusahaan ini." Ujar salah satu dari mereka sembari menatap lurus siluet Georgy yang telah menghilang.
"Kenapa kalian berdiri di sana! Apa kalian seorang petugas security terus-menerus berdiri di sana, hah!?" Teriak Sarah melihat dua anak buahnya berdiri melihat kepergian Georgio.
"Ssstt … sstt, ayo … ayo, kerja." Ucap mereka langsung kembali ke meja masing-masing.
'Sepertinya aku perlu menerapkan disiplin yang tinggi di departemen ini,' gumam Sarah.
****
Selang beberapa jam kemudian, sekitar pukul 09.00, sebuah mobil Maybach warna hitam mengkilat tampak berhenti tepat di depan pintu masuk Aline Publishing. Sepasang kaki jenjang tanpa bulu dengan heels 10 cm warna hitam turun dari mobil mewah tersebut. Petugas keamanan yang melihat kedatangan wanita tersebut langsung bereaksi dengan menutup pintu mobil miliknya sambil berkata, "Selamat pagi, Nona Aline."
Aline, wanita yang baru saja turun dari mobil itu datang ke kantornya tepat di saat para pegawainya sedang sibuk-sibuknya. Kacamata hitam yang hampir menutupi setengah wajahnya, riasan yang flawless, tas Channel hijau kulit buaya, pakaian kerja warna hitam bergaya sheath dress serta blazer dengan warna senada dengan pakaian yang dikenakannya membuat penampilan Aline sangat paripurna.
"Pagi? Kukira sudah siang." Seloroh Aline menurunkan kacamata hitamnya dan dengan mantap melangkah ke dalam perusahaannya.
"Ssstt … sstt, siapa wanita cantik itu?" Salah seorang karyawan tampak berbisik melihat penampilan Aline dari kejauhan.
"Oh, myyyyy …," ujar temannya menanggapi.
"Ada apa?"
"Itu kan …," temannya hanya menelan saliva dan langsung menarik masuk temannya ke dalam lift.
"Selamat pagi," sapa Aline ke meja resepsionis.
"Pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas resepsionis itu ramah dan tersenyum.
"Apa Nona Melda ada di ruangannya?" tanya Aline ramah.
"Nona Melda belum datang, beliau sedang ada urusan. Maaf, Anda siapa? Dan ada perlu apa dengan beliau?" tanya petugas resepsionis itu lagi.
Aline sedikit tersentak. Dia hanya menaikkan salah satu alisnya sambil menatap petugas resepsionis itu dan melihat name tag miliknya.
"Lisa? Apa kau baru di sini?"
"Ah, iya, Nona. Saya baru di sini dan baru saja lulus training sebagai resepsionis." Balas wanita mungil itu sambil tersenyum.
"Hmm, pantas saja kau tak tahu," seloroh Aline menyunggingkan senyumnya.
"Maaf, Nona? Apa Anda mengatakan sesuatu?" tanya Lisa, sang petugas resepsionis.
"Hubungi Rosaline. Katakan Aline telah tiba!" perintah Aline.
Lisa terdiam dan hanya memandang Aline heran. "Kenapa diam? Aku menyuruhmu untuk menghubungi Rosaline! Kenapa tidak segera kau lakukan?!" Aline mulai kesal.
"Maaf, tapi Anda siapa, ya? Kenapa sikap Anda seolah Anda adalah seorang bos?"
Aline tersenyum menahan amarah juga emosi. "Kau!!"
"Nona Aline, maaf saya datang terlambat."
Dari arah lift, tampak seorang wanita muda berusia sekitar 25 tahun tengah berlari menghampiri Aline.
"Nona Rosaline." Lisa menundukkan kepalanya di hadapan Rosaline.
"Nona, apa Anda menunggu lama?" tanya Rosaline sedikit membungkukkan badannya.
"Tidak. Aku baru saja datang." Jawab Aline dingin sambil menatap Lisa.
"Lisa, apa kau tak tahu siapa beliau, hah? Beliau adalah CEO di perusahaan ini! Apa kau bisa baca 'Aline Publishing' diambil dari nama Nona Aline?" emosi Rosaline menunjuk tepat ke wajah Lisa.
Lisa yang tersentak dan terkejut segera keluar dari meja resepsionis miliknya dan membungkukkan badannya di hadapan Aline.
"Maafkan saya, Nona Aline. Saya--saya tak mengenali Anda, tolong jangan pecat saya, saya mohon…," Ucap Lisa membungkukkan badannya berkali-kali.
"K--," Aline mengangkat tangan kanannya memberi tanda agar Rosaline menghentikan kata-katanya.
"Sudah, Nona Lisa. Tak apa, saya mengerti dan saya maklumi, Anda masih baru dan saya pun jarang datang ke kantor. Jadi, wajar saja jika Anda tak mengenali saya. Sudah … sudah, bangunlah. Tak apa." Aline memegang kedua bahu Lisa dan menyuruhnya berdiri tegak.
"T-terima kasih, Nona Aline. Terima kasih banyak." Ucap Lisa menahan tangis.
"Baiklah, kalau begitu semangat, kerja yang rajin dan cakap, ya. Aku ingin melihat performa Nona Lisa." Senyum Aline tak lama membalikkan badannya dan berjalan menuju lift bersama Rosaline.
"Pecat resepsionis baru itu! Resepsionis macam apa yang tak mengenal atasannya!? Hanya orang bodoh yang mau mengangkat resepsionis macam itu! Dan juga, pecat segera orang yang meloloskan dan men-training dirinya. Aku mau besok resepsionis itu sudah tak ada lagi di kantorku!" Ucap Aline dingin.
"Baik, Nona. Akan saya laksanakan perintah Nona."
"Tekan lantai 8!" perintah Aline menatap lurus ke depan pintu lift yang merangkak naik menuju lantai yang dituju.
'Lantai 8? Bukannya itu …,' gumam Rosaline membatin sambil menekan tombol angka 8.
Tak lama, pintu lift yang dinaiki oleh Aline dan Rosaline berhenti di lantai 8. Lantai di mana ruangan Melda Johansen, wakil direktur Aline Publishing berada. Lantai yang terkenal dengan sebutan 'Lantai Panas' oleh para karyawan di sana karena kerap kali terjadi perseteruan antara wakil direktur dan editor in-chief.
Bunyi sepatu yang nyaring dengan heels yang tinggi cukup menarik perhatian para karyawan yang ada di lantai tersebut. Beberapa dari mereka bahkan berhenti ketika melihat Aline dan Rosaline berjalan dengan kepala tegak dan langkah tegas.
"S--selamat pagi, No--Nona Rosaline," sapa salah satu dari mereka.
Rosaline menatap dua orang karyawan yang menyapanya dan melihat ke arah Aline dengan tatapan takut. "P-pagi," sahut Rosaline gugup.
Aline berhenti. "Pagi? Rosaline, jam berapa sekarang?" tanya Aline menatap dua orang karyawan yang tepat berpapasan dengannya angkuh.
"Jam 10.30, Nona." Jawab Rosaline sambil menatap dua orang karyawan tersebut dengan tatapan datar dan menggelengkan kepalanya.
"Sekarang jam 10.30 dan kalian bilang PAGI!!! Di mana otak kalian, hah!" sentak Aline hingga membuat kaget keduanya terkejut.
"Siapa Anda? kenapa membentak kami?" tanya satu di antara mereka
Rosaline mengernyitkan dahinya dan mendelikkan matanya ke arah mereka.
"Siapa aku? SIAPA AKU? KALIAN INI BODOH, TOLOL, ATAU APA, HAH!! MANA KEPALA EDITOR KALIAN!?" sentak Aline sambil menunjuk keduanya.
"Habislah kalian!" ucap Rosaline menatap tajam.
"M-memangnya An-Anda …,"
"Biar kuberitahu, beliau ini adalah …,"
"Cukup Rosaline! Aku tak butuh asisten tak becus macam dirimu, tapi aku lebih tak butuh lagi karyawan bodoh seperti kalian! Kalian pikir siapa yang menggaji kalian selama ini, hah!?"
Keringat dingin, kedua karyawan itu barulah tersadar siapa yang ada di hadapan mereka.
"N-Nona Aline!" seru keduanya kencang hingga menimbulkan kegaduhan di lantai tersebut.
"Mana kepala editor kalian?" tanya Aline menatap angkuh.
"K-kami tak tahu, Nona." Tertunduk keduanya.
"APA!!"
"Ada apa ini ribut-ribut?" Sarah, wakil editor keluar dan menghampiri.
"Ah, Nona Rosaline. Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sarah melirik Aline.
"Selamat pagi, Nona Sarah." Sahut Rosaline membalas.
"Siapa kamu?" tanya Aline dingin.
"Anda sendiri, siapa?"
Aline sempat terkejut ketika dia dihadapkan kembali oleh pertanyaan dari seseorang yang posisinya jauh di bawahnya.
"An-da bertanya pada saya? Apa saya tak salah dengar?" tanya Aline menyunggingkan senyumnya dan melipat kedua tangannya angkuh
"Ah, Nona Sarah. Nona ini sebenarnya adalah …,"
"Rosaline!" panggil Aline maju menghadapi Sarah. "jadi, namamu Sarah, ya? Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" tanya Aline lagi melihat name tag milik Sarah
"Empat bulan."
"Apa? Empat bulan? Apa jabatanmu?"
"Tak bisakah Anda membacanya sendiri?" sahut Sarah mulai kehilangan kesabaran.
Rosaline hanya mengepalkan tangannya sementara Aline tersenyum mendengar pertanyaan Sarah.
"Lalu, di mana orang yang duduk di ruangan ini?" Aline menunjuk ruangan wakil direktur.
"Nona Melda belum datang. Beliau biasanya datang jam 9."
Aline berusaha menahan emosinya. "Lalu, di mana kepala editor kalian?"
"Apa Anda sudah membuat janji terlebih dahulu dengan beliau?" tanya Sarah percaya diri.
"Oh, jadi aku harus membuat janji dulu, ya jika ingin bertemu dengannya? ROSALINE!" panggil Aline lantang.
"Iya, Nona."
"Hubungi Tuan Georgio SEKARANG JUGA! KATAKAN PADANYA, ALINE INGIN BERTEMU DENGANNYA!" ucap Aline seraya tegas menatap Sarah.
"Baik, Nona."
Tak lama, Rosaline segera melakukan apa yang diperintahkan Aline, sementara Sarah dan kedua karyawan itu terdiam mematung dan masih tak menyadari identitas asli Aline.
"Apa aku harus menunggu di sini?" tanya Aline mendongakkan kepalanya.
Sarah mulai menyipitkan matanya, "silakan ikut saya."
Kedua wanita kuat itu memasuki departemen redaksi. Berbagai pandangan dan bisikan sesekali Aline dengar dari mulut para karyawan yang ada di lantai itu.
"Aku mau kau perhatikan baik-baik, Rosaline, siapa saja yang membuat ulah denganku, maka mereka harus tahu konsekuensinya!"
"B-baik, Nona."
"Silakan duduk," Sarah menunjuk sebuah sofa berbentuk letter L dan meminta Aline duduk di sana.
"Maaf, kepala editor kami sedang keluar. Jika Anda bersedia menunggunya, silakan menunggu. Permisi!" Tanpa banyak kata, Sarah langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Rosaline yang sejak awal bertemu dengan Sarah merasa panas tak lagi bisa menyembunyikan kekesalannya pada wanita berkuncir kuda itu.
"Nona, apa Anda akan diam saja melihat perlakuan mereka pada Anda? Kenapa Anda melarang saya untuk mengungkap identitas Anda?" tanya Rosaline sedikit kesal.
"Untuk apa? Jika kau ingin menang dalam suatu peperangan, maka dekatilah dan jadilah seperti mereka. Ketika mereka lengah dan percaya padamu … bunuh mereka!" jelas Aline.
"M-aksud Nona?"
"Aku tak pernah berada di kantor selama beberapa waktu, jadi wajar mereka tak tahu keberadaanku jadi ini bukan sepenuhnya salah mereka. Hanya saja, aku tetap tak bisa mentolerir jika ada seseorang yang berani menusukku dari belakang apalagi sampai menghancurkan perusahaanku!" tegas Aline melirik tajam Rosaline.
"Tapi, tetap saja, Nona. Sikap mereka tadi …,"
"Sudahlah! Aku tak ada waktu untuk mendengarkan ocehanmu! Sudah kau hubungi Georgio?"
"B-baik, akan segera saya hubungi."
'Hmmm, kira-kira apa yang akan terjadi ya jika mereka tahu identitasku yang sebenarnya? Apakah mereka akan berubah menjadi penjilat atau …,'
"Nona, saya sudah menghubungi Tuan Georgio. Beliau sedang dalam perjalanan menuju kantor."
"Oke, mari kita nikmati dan mainkan drama ini, Rosaline." Senyum bak iblis disematkan Aline di bibirnya.
"Sebelum aku lupa, kau hubungi juga Melda Johansen. Katakan padanya jika Tuan Georgio ingin bertemu dengannya."
"Baik, Nona."
'Hah, aku suka drama bodoh ini!' gumam Aline tersenyum puas.
"Nona, saya sudah menghubungi Nona Melda dan beliau berkata akan segera ke kantor."
"Baiklah, kalau begitu. Let's the show begin."
Aline kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan menuju lift yang tak jauh berada di pojok lantai itu.
****
Sementara itu, di lobby Aline Publishing, tampak Georgio yang jalan terburu-buru dan Melda yang datang dari sisi selatan pintu masuk Aline Publishing.
Bruk!!!
"Ouh!" rintih Melda yang terjatuh dan mengenai bagian belakang tubuhnya.
"Oh, ma--maaf. Apa Anda tak apa-apa?" tanya Georgio dan beberapa orang yang ada di depan lift segera membantu Melda berdiri.
"Tidak. Tak apa-apa." Sahut Melda melihat wajah si penabrak.
"Pak Georgy!?" wanita 28 tahun itu terkejut ketika mengetahui siapa yang telah menabraknya.
"Bu Melda!?" Georgio pun tak kalah terkejutnya.
Keduanya pun segera memasuki lift yang telah terbuka, namun tiada berkata dan dipenuhi kebingungan.
"Apa ada yang ingin Anda bicarakan, Pak Georgy? Kenapa Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Melda penasaran.
"Bukannya Ibu yang mencari saya?" tanya Georgy juga dengan ekspresi bingung.
Rasa bingung dan heran kini menyeruak di antara mereka berdua. Pintu lift yang telah terbuka mau tak mau menghantarkan mereka untuk segera keluar dari dalam sana. Hingga tiba-tiba, Georgio dan Melda dikejutkan dengan seorang wanita yang berdiri tepat di depan lift dan tersenyum ke arah keduanya.
"A--Anda???!! Nona Aline …."
"Anda?? Nona Aline??" Melda langsung terperanjat ketika melihat Aline berdiri tepat di hadapan mereka.
"Selamat pagi, Bu Melda, Pak Georgio." Sapa Aline dengan senyum mengembang.
"Selamat siang, Nona Aline." Balas Georgio dengan senyuman santai.
"S--selamat siang, No--Nona Aline." Melda membalas sapaan Aline sambil tertunduk.
"Siang? Kupikir ini pagi. Ternyata sudah siang, ya?" seloroh Aline bernada menyindir.
"Ada perlu apa Nona datang ke lantai 8? Bukankah Anda bisa memanggil kami untuk datang ke tempat Anda? Tak perlu repot-repot Anda yang harus datang, Nona." Melda berucap.
"Hahahhahaa, Bu Melda ini lucu sekali, ya. Memangnya kenapa jika saya sekali-sekali mengunjungi lantai panas di perusahaan ini? Apa salah jika saya ke lantai ini?" tanya Aline lagi-lagi terkesan menyindir.
"Ti--tidak, Nona. Maaf." Melda menundukkan kepalanya.
"Pak Georgio, Anda … apa Anda tahu jam berapa harus masuk kantor?"
"Saya tahu, Nona. Hanya saja saya ada beberapa urusan yang harus segera diselesaikan, tapi saya sudah meminta Bu Sarah untuk meng-handle selama saya tak ada di tempat."
"Oh, maksud Anda wakil Anda yang baru bekerja empat bulan itu?" Aline menyunggingkan senyumnya.
"Jadi Anda sudah bertemu dengan wakil saya, Nona Aline?"
"Bukan hanya bertemu, tapi saya juga sudah mengenalnya dengan 'baik'."
"Apa ada yang bisa saya bantu, Nona Aline?" tanya Georgio santai.
"Apa di lantai ini tak ada tempat nyaman untuk mengobrol?" sindir Aline.
"Oh, m-maafkan saya, Nona Aline. S-silakan masuk ke ruangan saya." Melda membukakan pintu ruangannya dan hal itu memancing perhatian para karyawan lain di tempat itu.
"Bu Melda sampai membukakan pintu untuk wanita itu? Gila! Siapa sebenarnya dia? Apa dia orang yang sangat berpengaruh?" celetuk salah satu karyawan sembari melihat ke arah mereka bertiga.
"Ruanganmu, Nona Melda? Untuk seseorang dengan posisi penting seperti Anda, harusnya Anda tahu dan LEBIH PAHAM mana yang baik dan mana yang salah!" pekik Aline tepat di depan wajah Melda.
Sang wakil hanya tertunduk menahan malu dan bersalah. "M-maafkan saya, Nona. Saya janji ini terakhir kalinya saya seperti ini." Ucap Melda lirih.
"Saya orang yang perhitungan, Nona Melda! Saya tak mau perusahaan ini mengeluarkan uang percuma hanya untuk menggaji atasan yang tak becus dan pandai mengurus karyawannya! APA KALIAN SEMUA DENGAR ITU! AKU, ALINE ANDERSON, PEMILIK SEKALIGUS PEMIMPIN ALINE PUBLISHING AKAN SEGERA MEROMBAK SEMUA KEPALA DEPARTEMEN YANG ADA DI PERUSAHAAN INI!"
Sontak, semua karyawan yang ada di lantai itu tercengang dan terkesiap!
"Ja-jadi wanita itu adalah CEO Aline Publishing!?" kejut salah satu karyawan yang tadi berhadapan dengan Aline.
Sarah langsung keringat dingin. Tangannya gemetar dan tak berani menoleh ke arah Aline berdiri.
"Bagaimana, Nona Melda. Apa yang mau Anda katakan sekarang?" Aline merendahkan volume suaranya.
"T-tidak ada, Nona." Sahutnya tertunduk.
"Bagaimana dengan Anda, Tuan Georgio?"
"Saya percaya apa yang Anda lakukan adalah demi kebaikan perusahaan ini. Jadi, saya ikut saja," balasnya santai.
"Rosaline! Kapan jadwalku akan kosong?"
"Minggu ini Anda memiliki dua hari jadwal kosong, Nona. Rabu dan Jumat."
"Hmm, aku mengerti. Segera adakan rapat untuk seluruh kepala divisi depertemen yang ada di perusahaan ini! Aku tak ingin ada satu pun orang yang tak hadir di rapat tersebut!" perintah Aline tegas.
"Baik, Nona."
"Dan Anda, Tuan Georgio, apa tak ada yang ingin Anda sampaikan padaku? Misalnya, progress buku si Penulis Bertopeng itu dan berapa keuntungan yang kita peroleh." Jelas Aline menatap tajam Georgy dan melirik Melda.
"S--sejauh ini bagus, Nona. Progress yang dihasilkan oleh Penulis Bertopeng mampu menutup biaya produksi dan operasional kita. Saya telah membuat laporannya," Melda menjelaskan.
"Benarkah? Ternyata isi kepala Anda juga bisa dipakai untuk hal berguna, ya." Sindir Aline langsung menuju ruang Georgio.
Georgio hanya menggelengkan kepalanya melihat sang wakil direktur yang biasanya garang dan buas layaknya singa betina yang sedang hamil kini berubah menjadi kura-kura dalam tempurung.
"Nona Aline, bolehkah saya bicara sebentar?" tanya Georgio di sela-sela langkah Aline yang cepat.
"Silakan."
"Menurut saya, Nona Melda tak sepenuhnya salah. Dengan jabatan dan posisi yang diembannya sekarang serta lingkup kerja beliau yang mengharuskan bertemu banyak klien, tak seharusnya Anda bersikap demikian."
Seketika Aline menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Georgio.
"Bisa Anda jelaskan padaku apa maksud ucapan Anda, Tuan Georgio?" Tatap mata Aline tajam.
"Nona Melda, mengambil alih peran Anda sebagai Ketua di perusahaan ini. Sedangkan Anda, kehadiran Anda yang jarang di tempat ini membuat para calon investor menjadi ragu. Jika bukan karena Nona Melda, mungkin Aline Publishing hanya tinggal nama."
"Tuan Georgio!" seru Melda berusaha menghentikan ucapan Georgio.
Aline terdiam. "Nona Melda, bisakah kembali ke ruangan Anda? Tuan Georgio, bisa kita bicara empat mata?"
"Baik, Nona--,"
Langkah Aline terhenti di sebuah ruangan yang tak terlalu lebar namun juga tak terlalu sempit di mana di dalam ruangan itu banyak terdapat tumpukan buku, kertas juga beberapa naskah dari calon penulis yang ingin bergabung dengan Aline Publishing.
"Ini ruangan Anda, bukan?" tanya Aline sambil melihat-lihat isi dalamnya.
"Benar, Nona."
"Tinggalkan kami berdua, Rosaline. Ada hal penting yang ingin aku bahas dengan Tuan Georgio." Perintah Aline mengangkat salah satu tangannya memberi tanda.
"Baik, Nona. Saya mengerti."
Tak lama, hanya ada Aline dan Georgio di ruangan itu. Aline yang duduk duduk di sofa bergaya letter sofa itu kemudian membuka pembicaraan untuk menghilangkan kekakuan di antara mereka.
"Apa Anda tahu kenapa saya tiba-tiba datang ke perusahaan?" tanya Aline mengatupkan kedua tangannya, menatap Georgio tajam.
"Tidak, saya tak tahu," sahut Georgio dengan santai.
Aline kemudian mengalihkan pandangannya di sudut lain ruangan Georgio. "Koleksi buku Anda banyak juga, ya. Apakah salah satunya adalah koleksi novel Penulis Bertopeng?" Aline mulai memancing.
"Ada. Dan saya suka dengan gaya dia bercerita dan menumpahkan seluruh emosinya di dalam suatu tulisan. Apa Anda belum membacanya, Nona Aline?"
Netra Aline kembali fokus pada Georgio. Dengan senyum khasnya, Aline berkata, "Tuan Georgio, bagaimana hasil penjualan novel 'Eindeloze Liefde' yang ditulis oleh Penulis Bertopeng kesayangan kita? Apakah ada kendala di lapangan atau justru sebaliknya?"
"Seperti yang dikatakan oleh Bu Melda, semua baik-baik saja, Nona Aline. Tidak ada kendala, hanya ada beberapa saja, tapi itu pun bukan sesuatu yang patut dirisaukan."
"Seperti apa?" tanya Aline.
"Maaf?"
"Seperti apa kendala 'kecil' yang tak perlu dirisaukan?" pancing Aline.
"Itu---hanya hal kecil saja, Nona. Tak perlu Anda--"
"Makanya aku tanya, hal kecil apa yang tak perlu dirisaukan? Karena menurutku sekecil hal apa pun itu jika dianggap remeh, akan menjadi sesuatu yang besar. Atau … selama ini Anda selalu menganggap hal kecil sama sekali tak penting?" tanya Aline bernada menyindir.
Georgio terdiam, "Maaf, Nona Aline. Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan pada saya?"
Menyeringai, Aline kemudian berujar, "Menurut Anda apa yang akan terjadi jika sebuah perusahaan kehilangan salah satu penulis andalan mereka?" pancing Aline melirik sambil tersenyum ke arah Georgio.
"Hanya ada dua kemungkinan, bertahan atau bangkrut. Jika perusahaan tersebut adalah perusahaan yang telah settle, mereka pasti memiliki banyak penulis di bawahnya. Tapi jika perusahaan itu adalah perusahaan minor, saya bisa pastikan mereka akan bangkrut."
"Banyak bintang di langit, tapi hanya satu dari milyaran bintang yang paling bersinar terang, Tuan Georgio. Apa Anda paham maksud saya?"
Georgio yang duduk berhadapan dengan Aline menyandarkan tubuhnya dan melihat wanita itu sembari memegang dagunya pelan seakan berpikir dan ragu menjawab pertanyaan Aline. "Nona Aline, tolong langsung saja ke intinya, ada perlu apa Anda sampai repot-repot mau datang ke lantai panas ini?"
"Baiklah jika Anda memaksa, saya juga bukan tipe yang senang membuang waktu." Aline yang kini menyandarkan tubuhnya pada sofa kulit mewah itu. "Tuan Georgio, saya mendapat kabar jika salah satu penulis yang berada di bawah bendera Aline Publishing akan menghentikan penulisan novelnya. Apa itu benar?" Mode serius Aline kini benar-benar ditunjukkan.
"Benar. Salah satunya ada yang berbuat demikian. Apa Anda ingin tahu siapa, Nona Aline?" tanya Georgio seakan menantang Aline.
"Menurut Anda? Sebagai seorang CEO apa saya tak boleh tahu tentang operasional perusahaan? Apa Anda kira selama saya tak berada di kantor, saya tak tahu apa yang telah atau sedang terjadi? Tuan Georgio, perlu Anda ketahui, saya paling tidak suka dengan orang yang memberikan saya pertanyaan jika saya sedang mengajukan pertanyaan. Biasanya saya akan langsung memecat orang itu!"
"Lalu bagaimana dengan saya? Bukankah saya mengajukan pertanyaan pada Anda ketika Anda sedang bertanya, Nona Aline?" tanya Georgio tersenyum.
Aline hanya mengumbar senyum. "Penulis Bertopeng, pertemukan aku dengannya!" Perintah Aline mengalihkan pertanyaan Georgio.
"Kenapa Anda tiba-tiba ingin bertemu dengan Penulis Bertopeng, Nona Aline? Boleh saya tahu alasannya?" tanya Georgio penasaran.
"Apa Anda punya hak untuk bertanya seperti itu padaku?"
Georgio terdiam. "Saya mengerti, Nona. Maaf."
"Aku minta malam ini kau sudah memiliki kabar bagus mengenai Penulis Bertopeng. Jika tidak, bersiaplah, Tuan Georgio. Kemasi barangmu dan pergi dari negara ini!" lirik Aline tajam.
"Akan segera saya usahakan, Nona." Sahut Georgio menundukkan kepala.
"Aku tak terima kata 'usahakan' Tuan Georgio. Aku hanya terima kata 'kepastian'! Selain itu, jangan coba-coba menginjakkan kaki di perusahaan ini jika kau belum berhasil menyelesaikan perintahku!" tegas Aline langsung berdiri dan mengulurkan tangannya tiba-tiba.
"Senang bertemu dan bicara dengan Anda, Tuan Georgio." Tukas Aline mengunggah senyumnya.
"Sayalah yang justru merasa terhormat dan tersanjung atas kedatangan Anda, Nona Aline." Sahut Georgio membalas jabatan tangan Aline.
"Baiklah, saya akan menunggu kabar baik Anda, Tuan Georgio. Semoga Anda tak mengecewakan saya."
"Akan saya usa--pasti, Nona Aline. Saya akan memberi kabar pada Anda."
Georgio segera mengantar Aline keluar ruangannya bersama dengan Rosaline. Para karyawan yang melihat sang CEO hanya bisa tertunduk dan terdiam, tak satu pun dari mereka yang berani menegakkan kepala, walau hanya satu inci sekali pun.
"Tuan, sepertinya Nona Aline akan segera beraksi. Apa yang harus kita lakukan?"
[Oh, ya? Jadi dia sudah mulai 'panas'? Bagus … sangat bagus! Biarkan Aline dengan kemarahan dan rasa penasarannya. Permainan ini akan semakin menarik.]
"Maaf, Tuan? Maksud Anda?"
[Apa yang dia katakan?]
"Nona meminta bertemu dengan Penulis Bertopeng. Apa--"
[Baiklah, akan kukirimkan alamat hotelnya padamu]
"Anda akan menemui Nona Aline?"
[Bukankah dia sangat penasaran dengan Penulis Bertopeng? Kenapa kita tak mengabulkan permintaannya?]
"Baik, Tuan. Saya mengerti."