Bab 1

Seorang gadis yang tahun ini genap berusia dua puluh tahun itu berjalan dengan cepat menuju rumahnya sambil tersenyum riang. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah dan menunjukkan nilai yang ia dapatkan pada ibu serta adiknya, ia berhasil mendapatkan nilai yang tinggi dari semua mahasiswa di kelasnya. Hal itu jelas sangat membanggakan baginya karena ia hanyalah seorang gadis yang berasal dari kalangan bawah, sedangkan kebanyakan dari teman-temannya berasal dari kalangan atas dan sering mengikuti les pelajaran. Senyumnya meluruh saat melihat sekelompok orang-orang yang berdiri di depan rumahnya sambil mengetuk pintu rumahnya. Orang-orang itu nampak menyeramkan dengan tubuh berotot dan juga tatto yang menghiasi sepanjang lengan mereka. Ia memberanikan dirinya menghampiri orang-orang itu.

"Siapa kalian?" tanyanya.

"Apa kau pemilik rumah ini?" tanya balik salah seorang pria yang memakai kacamata hitam.

"Iya, apa ada yang bisa kubantu?" Sebisa mungkin ia menghalau ketakutan yang dirasakan.

"Kami ke sini ingin menagih utang ayahmu yang sudah jatuh tempo," ujar pria itu.

"Utang? Tetapi selama ini ayahku tidak pernah mengatakan kalau ia dulu pernah meminjam uang," balas gadis itu kebingungan.

"Kau bisa lihat sendiri kertas ini." Pria itu memberikan sebuah kertas berisi jumlah pinjaman yang sempat mending ayahnya pinjam.

Dengan ragu-ragu, gadis itu mengambil kertas itu kemudian membacanya dengan teliti. Wanita itu menutup mulutnya saat melihat nominal yang sangat besar tertera di tulisan paling bawah kertas yang ia bawa.

"Tidak mungkin ayahku meminjam uang sebanyak ini 'kan? Untuk apa dia meminjam uang sebanyak ini?" tanyanya, lebih tepatnya pada dirinya sendiri.

"Kau harus membayar uang itu segera, Nona, karena kalau tidak. Rumah ini akan kami sita, bukan hanya itu saja. Kalian bisa kami laporkan ke pihak berwajib karena tak mampu melunasi utang ayahmu itu," ujar pria itu membuat tubuh gadis itu menegang.

"Bisa beri aku waktu untuk mencari uang? Untuk saat ini, aku sama sekali tidak memiliki uang. Aku mohon, tolong beri aku waktu. Jangan sita rumah kami dan jangan laporkan kami ke polisi." Wajah gadis itu nampak memelas, tangannya bahkan saling menyatu dengan tatapan permohonannya.

Semua yang ada di sana saling pandang, seakan tengah berkompromi dengan permohonan gadis di hadapan mereka.

"Baiklah, tapi kau harus membayarnya secepatnya. Kami hanya akan memberi kau waktu hingga bulan depan, kami akan katakan pada bos kami kalau kau membutuhkan waktu. Tapi sebagai syarat, kau harus bisa membayar bunganya satu persen dari utang itu. Kami beri kau waktu tiga hari untuk mencari satu persen bunga itu," ujar pria yang merupakan tangan kanan seorang rentenir.

"Terima kasih karena kalian sudah memberiku waktu." Meskipun waktu yang diberikan orang-orang itu tidak banyak, tetapi ia merasa beruntung karena setidaknya pria-pria itu tidak mendesaknya segera membayar utang itu hari ini.

Tanpa kata, orang-orang itu pergi dari hadapannya. Meninggalkan dirinya yang terdidik di sebuah kursi panjang rumahnya, ia melirik sekilas ke arah pintu rumah. Ia menghela napas lega saat melihat pintu rumahnya yang tertutup, itu berarti tidak ada orang di rumah. Setidaknya ibu ataupun adiknya tidak tahu mengenai hal ini dan ia pun tidak akan pernah memberitahu hal ini sampai kapanpun.

"Kak Evely sudah pulang?" Gadis itu langsung mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara sang adik.

"Iya, kau dan Ibu dari mana?" tanya gadis bernama lengkap Evely Candrica Grusell itu.

"Ibu bilang, tadi dia ingin pergi ke taman. Jadi aku membawanya ke sana, Kak," jawab sang adik.

"Kamu dari tadi sudah ada di sini?" tanya sang ibu pada Evely.

"Baru aja kok, Bu. Ayo kita masuk," ajak Evely.

"Mana kunci rumah?" tanya Evely pada adiknya yang bernama Glory Candrica Grusell.

"Ini, Kak." Glory menyerahkan kunci rumah pada sang kakak.

Evely bergegas membuka pintu rumahnya, kemudian ia membantu mendorong kursi roda sang ibu bersamaan dengan Glory yang mengikuti dari arah belakang.

"Bagaimana hasil ulanganmu?" tanya sang ibu. Nampaknya Bu Candrica begitu tak sabar mendengar perkataan putri sulungnya itu.

Evely langsung gugup saat ditanya begitu, gadis itu bergegas menyembunyikan kertas yang hendak ia berikan kepada ibunya di dalam sakunya, sedikit meremasnya hingga sepertinya kertas itu pasti akan lusuh.

"Nilaiku sangat jelek," ujar Evely sambil tersenyum sedih. Ia sengaja berbohong karena ia sudah memutuskan suatu keputusan yang besar, ia akan mengorbankan impiannya karena saat ini hanya dirinyalah tulang punggung keluarga.

"Tidak apa-apa, setidaknya kau sudah berusaha keras. Ibu yakin kalau semester depan kau pasti akan dapat nilai yang tinggi," ucap Bu Candrica tersenyum menenangkan putrinya sambil menyentuh lengan Evely.

"Tapi aku tak yakin itu, aku rasa ... kalau sebaiknya aku berhenti saja dari kampus." Evely menghela napas dalam-dalam setelah mengatakan ini.

"Mengapa kau berkata begitu? Apa ada yang mengganggumu di kampus?" tanya Bu Candrica.

"Tidak ada yang menggangguku, Bu, hanya saja saat ini aku merasa sangat menyesal melanjutkan pendidikanku. Tak seharusnya aku tetap lanjut sementara nilaiku terus turun, aku takut kalau nantinya apa yang aku lakukan hanya sia-sia. Lebih baik aku bekerja keras saja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan biaya sekolah Glory," jawab Evely.

"Kau tak boleh berkata seperti itu, Ibu sangat yakin kalau kau pasti akan menjadi orang sukses. Jangan pantang menyerah menggapai impianmu, Ev." Meskipun ibunya mengatakan itu, tetapi keputusan Evely tidak bisa diubah lagi. Ia sudah sangat yakin kalau ia akan mengorbankan pendidikannya karena hanya dirinya lah yang bisa berusaha membayar utang itu. Kalau ia tidak segera membayarnya, maka akan sangat menyakitkan bagi keluarganya.

"Aku sudah memikirkan ini matang-matang, Bu, aku harap Ibu bisa menghargai keputusanku. Semua ini demi kebaikan kita," ucap Evely sambil menyentuh punggung tangan ibunya.

"Kak, aku tak akan lanjutkan sekolahku. Lebih baik Kakak tetap kuliah," ujar Glory yang sedari tadi diam.

"Tidak, kau harus tetap sekolah, Glo. Pendidikan itu sangat penting, jangan pernah berniat putus sekolah."

"Kalau Kakak menganggap pendidikan itu penting, mengapa Kakak malah ingin berhenti?" Evely terdiam mendengar pertanyaan Glory.

'Sebenarnya aku pun tak ingin berhenti, hanya saja keadaan yang memaksaku. Ini semua demi kebahagiaan kita, maka aku yang harus mengalah.' Evely membatin dalam hati.

"Penting bagimu, tetapi bagi Kakak tak terlalu penting. Kau harus rajin belajar supaya bisa sukses, jangan seperti Kakak." Evely tersenyum sambil mengusap rambut Glory dengan sayang.

"Kau benar-benar yakin dengan keputusanmu, Ev?" Bu Candrica kembali bertanya.

"Aku yakin, Bu." Evely menjawab dengan mantap, ia akan berusaha untuk mengumpulkan uang yang banyak kali ini. Agar kehidupan mereka kembali tenang setelah semua utang itu lunas, fokusnya saat itu hanya ini. Walau ada sedikit perasaan sedih ketika ia harus mengorbankan pendidikannya.

Bab 2

Seorang pria yang memakai setelan jas lengkap berwarna hitam memasuki sebuah perusahaan besar yang sudah berdiri sejak lama. Wajah tegas, alis tebal, bibir tipis dan juga wajah yang tampan dengan bulu-bulu halus yang menghiasi rahangnya membuat ia terlihat sangat tampan. Banyak karyawan wanita yang melihat ke arahnya dengan tatapan penuh kekaguman, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa ataupun mencari perhatian pria itu karena dia sudah memiliki seorang istri. Istrinya bahkan sangat cantik dan mereka sadar diri karena mereka bukan apa-apa dibandingkan istri pria itu yang merupakan seorang model terkenal. Tubuh tinggi tegapnya yang bak seorang model memasuki lift khusus pada petinggi perusahaan, wajahnya nampak arogan tanpa senyum yang menghiasi meskipun tadi ada beberapa karyawan yang menyapa. Tak ada satupun yang ia balas sapaannya karena dirinya memang terkenal seperti itu.

"Selamat pagi, Pak." Sekretarisnya yang melihat keberadaannya langsung berdiri kemudian menyapa sang bos dengan senyum ramah.

Pria itu hanya mengangguk membalas sapaan itu, seperti biasanya. Ia langsung memasuki ruangannya disusul dengan sang sekretaris.

"Pak, tadi Pak Rei menghubungi saya, beliau ingin bertemu dengan Anda hari ini," ujar sekretarisnya yang bernama Mutia.

"Katakan padanya kalau tidak ada yang perlu saya bahas dengan dia," balas pria itu.

"Tapi, Pak, beliau sudah berpesan kalau Bapak tidak mau menemuinya. Maka dia akan pergi ke sini menemui Bapak," ujar Mutia.

"Saya tidak peduli dengan hal itu, kamu katakan saja apa yang saya katakan tadi."

"Baik, Pak." Mutia menganggukkan kepala, kemudian pamit undur diri dari ruangan bosnya.

Sudah tahu tabiat dari bosnya memberikan Mutia tidak banyak membantah, semua ini demi keselamatan pekerjaannya. Meskipun bosnya menyebalkan dengan sikapnya yang arogan itu, tetapi Mutia masih membutuhkan pekerjaan ini.

Pria itu duduk di kursi kebesarannya kemudian membuka laptopnya, mengetikkan sesuatu di sana. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena suatu hal, ia berdecak kesal karena hari ini ia pasti akan sangat sibuk sekali sebab beberapa hari ini pekerjaannya sempat tertunda karena ulah sang istri yang memaksanya untuk menemaninya.

"Kalau saja aku tidak ikut dengan Tiffany, mungkin semua pekerjaanku akan cepat selesai," ujar pria itu sedikit menyesali keputusannya.

Pria yang bernama lengkap Megantara Draco Aloysius itu kini fokus pada pekerjaannya, ia merupakan seorang pengusaha yang berhasil mendirikannya perusahaan ini sejak beberapa tahun lalu. Aloy Corporation, siapa yang tidak mengenal perusahaan itu? Perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan itu sukses besar dengan berbagai macam produknya yang selalu diekspor berbagai negara. Semua produknya tidak ada yang gagal, selalu laris manis di pasaran. Semua orang mengenalnya dan tak jarang banyak dari mereka yang menginginkan perusahaan pria yang biasa dipanggil Megantara itu untuk bergabung dengan perusahaan mereka.

Seharian ini Megantara sibuk dengan pekerjaannya, hingga tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka. Megantara langsung menoleh, ia pikir itu adalah Mutia dan ia berniat menegur Mutia yang tidak sopan mengganggunya yang tengah sibuk. Ternyata itu adalah Tiffany Watson, istri yang sudah lima tahun ini menjadi istrinya. Wanita cantik yang berprofesi sebagaimana model itu menghampiri suaminya dengan senyum ceria, tanpa aba-aba ia langsung duduk di pangkuan suaminya membuat Megantara sigap langsung merangkul pinggang rampingnya.

"Kenapa kamu tiba-tiba datang tak memberitahuku dulu, hmm?" tanya Megantara sambil tersenyum hangat.

"Aku ingin mengajakmu makan siang," jawab Tiffany sambil bergelayut manja di leher Megantara.

"Memangnya saat ini sudah waktunya makan siang?" Megantara bertanya dengan kernyitan di dahinya.

"Tentu saja sudah, kau ini terlalu sibuk saat bekerja sehingga tidak sadar kalau saat ini adalah waktunya untuk mengisi perutmu," ujar Tiffany.

"Pekerjaanku saat ini menumpuk karena beberapa hari yang lalu aku menemani berlibur, Sayang." Tiffany mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Megantara.

"Jadi kau menyalahkanku?" tanya Tiffany tersinggung.

"Bukan begitu, Sayang, hanya saja saat ini pekerjaanku sedang banyak. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu, aku senang menemani berlibur beberapa hari kemarin." Megantara langsung meralat ucapannya sebelum Tiffany merajuk karena itu akan sangat gawat baginya.

"Aku pikir kau tak suka berlibur denganku."

"Tentu aku sangat senang bisa berlibur dengan istriku tersayang ini," ujar

Megantara sambil mengecup pipi Tiffany hingga membuat wanita itu tersenyum senang.

"Baiklah, hentikan dulu pekerjaanmu karena kau tidak akan bisa konsentrasi bekerja saat perutmu kosong." Tiffany turun dari pangkuan Megantara.

"Ayo kita cari makan siang, Sayang, aku sudah sangat lapar."

"Memangnya tidak ada pemotretan hari ini?" tanya Megantara yang dibalas gelengan kepala oleh Tiffany.

"Jadwal pemotretanku nanti setelah jam makan siang, jadi kita masih memiliki banyak waktu untuk makan siang bersama," jawab Tiffany.

"Baiklah, aku akan merasa sangat senang mendengar itu karena tidak akan ada lagi managermu yang mengganggu waktu makan siang kita," ujar Megantara membuat Tiffany tertawa.

"Kau masih mengingat kejadian itu?" tanya Tiffany tergelak.

"Tentu saja, mana mungkin aku lupa dengan kejadian waktu itu. Di mana kita makan seperti dikejar hantu karena ulah managermu itu," ucap Megantara mendengkus kasar saat mengingat kembali kejadian lampau itu.

"Seharusnya kau cari manager yang baru saja."

"Jangan begitu, Sayang, biar bagaimanapun juga dia itu sudah lama menjadi managerku. Aku suka kinerjanya," ujar Tiffany sambil menyentuh lengan Megantara.

"Karena kau yang meminta begitu, maka pekerjaan managermu itu aman." Tiffany terkekeh pelan.

Keduanya berjalan bersisian keluar dari ruangan Megantara dengan Tiffany yang menggandeng lengan Megantara. Keduanya nampak serasi satu sama lain, banyak pasang mata yang berdecak kagum dengan pasangan itu. Namun, ada bisik-bisik tak mengenakkan yang terdengar, di mana mereka begitu heran mengapa di lima tahun pernikahan Megantara dan Tiffany, tak kunjung hadir seorang keluarga baru.

"Mungkin saja Bu Tiffany mandul," ujar salah seorang pegawai pada yang lainnya.

"Jangan bicara begitu!"

"Lalu apalagi alasan mereka menunda anak?"

"Mungkin saja Bu Tiffany tidak mau kariernya kacau kalau ia memiliki anak," balas lainnya.

Baik Megantara maupun Tiffany mendengar bisik-bisik itu, Tiffany merasa panas karena ia dituduh mandul. Wanita itu berniat menghampiri pegawai wanita itu, tetapi lengannya ditahan oleh Megantara. Megantara meminta Tiffany berdiri di belakang tubuhnya sementara ia menghampiri pegawai wanita yang tengah bergosip itu.

"Kantor ini tempat bekerja, bukan tempat untuk orang-orang yang suka bergosip seperti kalian!" Megantara langsung membentak hingga membuat mereka terdiam kaku karena mendengar bentakan itu.

"Sembarangan kalian menuduh istri saya seperti itu, tidak akan saya maafkan siapapun yang sudah menyinggungnya. Segera angkat kaki kalian dari sini karena mulai hari ini kalian saya pecat!" Mendengar kata pecat membuat mereka mendongak.

"Jangan pecat kami, Pak, kami mohon maafkan kami," ujar salah satu pegawai bahkan sampai berlutut.

"Itu akibat bagi para pegawai yang suka bergosip! Kalian semua yang di sini akan merasakan hal sama seperti dia kalau melakukan hal semacam ini!" Megantara melangkah melewati lengan wanita itu tanpa belas kasihan, mengajak istrinya untuk berjalan menuju lift. Tiffany yang melihat itu tersenyum sinis, seakan merasa puas dengan apa yang Megantara lakukan pada pegawai-pegawai itu.

Bab 3

Evely kebingungan mencari ke mana lagi uang yang akan mencukupi untuk membayar bunga satu persen utang ayahnya, pasalnya gajinya sama sekali tidak cukup untuk itu. Ia harus mencari pekerjaan lain, tetapi ia bingung pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Di kota besar seperti ini sangat sulit sekali mencari pekerjaan, apalagi dirinya yang hanya merupakan lulusan SMA karena tidak selesai dalam menjalani studi kuliahnya. Sebenarnya ada seorang teman kuliahnya yang menawarkan bantuan, tetapi Evely memilih menolak karena ia tidak mau merepotkan temannya itu. Ia tahu kalau temannya merupakan orang berada, tetapi percuma saja ia membayar utang itu dengan cara berutang juga. Akan sangat bagus jika ia benar-benar membayarnya dengan kerja kerasnya.

"Kau yakin tidak butuh bantuanku, Ev?" tanya Marker Aldridge—teman dekat Evely. Mereka bertemu saat acara OSPEK di kampus.

"Tidak, aku bercerita padamu bukan untuk meminta bantuanmu, Mark. Aku tidak ingin merepotkanmu," jawab Evely.

"Aku sungguh tak keberatan membantumu, Ev, aku tidak tega jika membiarkanmu harus banting tulang untuk melunasi utang mendiang ayahmu," ujar Mark.

"Aku tidak apa-apa, Mark, kau tidak perlu khawatir. Aku masih kuat untuk mencari pekerjaan agar aku bisa mendapatkan uang itu." Evely benar-benar tidak mau merepotkan Mark.

"Ya sudah, aku harap semoga kau bisa mendapat pekerjaan yang layak, Ev. Kalau kau nanti putus asa dan butuh bantuanku, maka jangan segan menghubungiku," ujar Mark.

"Terima kasih telah mendengarkanku, Mark, kau sungguh teman yang sangat baik." Mark tersenyum sekilas mendengar ucapan terima kasih temannya itu.

"Tidak perlu sungkan, Ev, aku akan selalu ada untukmu. Kau ini seperti dengan siapa saja? Bukankah kita ini teman?" Mark menepuk bahu Evely.

"Kau sungguh baik, siapapun gadis yang akan menjadi kekasihmu pasti akan sangat beruntung," ujar Evely membuat Mark terdiam.

"Andai kau tahu kalau sedari dulu aku menyukaimu, Ev," gumam Mark.

"Kau bilang apa, Mark?" tanya Evely yang tidak mendengar dengan jelas gumaman Mark.

"Bukan apa-apa. Ah, sepertinya aku harus pergi, sebentar lagi ada kelas Pak Albert," ujar Mark berdiri dari duduknya.

"Hati-hati, Mark." Evely ikut duduk.

"Jaga dirimu baik-baik, Ev, nanti kita bertemu lagi." Evely mengangguk, ia melambaikan tangannya ke arah Mark yang perlahan menjauhi area taman sekitarnya.

"Fyuhh." Evely mengembuskan napasnya, begitu berat rasanya hari ini.

Wanita itu berjalan meninggalkan taman tempat pertemuannya dengan Mark, ia memang meminta Mark menemuinya di taman karena laki-laki itu selalu menghubunginya dan menanyakan alasan kenapa ia berhenti dari kampus. Tidak ada yang harus Evely tutupi dari Mark karena pria itu banyak tahu mengenai dirinya dan ia memang tidak berniat menyembunyikan masalahnya. Ia butuh teman yang bisa diajak berbagi masalahnya, ia hanya ingin bercerita tetapi tidak untuk mendapat belas kasihan orang lain. Ia ingin Mark mendengarkan ceritanya agar hatinya setidaknya sedikit lega karena tidak mungkin ia menceritakan ini semua pada keluarganya di saat ia memang sengaja ingin menyembunyikannya dan diam-diam menyelesaikannya semua masalah ini sendirian.

"Hei!" Tiba-tiba saja seseorang memanggilnya membuat dirinya yang tengah berjalan sambil menunduk pun mendongak, ia memicingkan matanya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dari kejauhan ia tidak begitu jelas melihatnya, tetapi saat melihat orang itu senyumnya tak bisa ditahan.

"Elsa!?" teriak Evely sambil melambaikan tangannya ke arah seorang gadis yang ia panggil Elsa.

"Akhirnya aku bisa bertemu juga denganmu, Ev," ujar Elsa saat ia sudah berdiri di hadapan Evely.

"Kau apa kabar, El? Sudah lama aku tak bertemu denganmu." Evely nampaknya begitu senang bisa bertemu dengan teman lamanya, ia dan Elsa sudah berteman sejak kelas satu SMP.

"Aku baik, kau sendiri apa kabar, Ev?" tanya balik Elsa.

"Aku juga baik."

"Sepertinya kita harus mencari tempat duduk agar obrolan kita bisa terasa nyaman," ujar Elsa saat sadar kalau sedari tadi mereka berdiri.

"Kau benar, El, tapi kita harus pergi ke mana?"

"Ah, bagaimana kalau sebuah kafe di sana?" Elsa menunjuk sebuah kafe millenial yang tak jauh dari mereka.

"Aku sedang tak punya uang untuk pergi ke sana, El, bisakah kita cari tempat lain?" tanya Evely sambil meringis membuat Elsa tertawa.

"Kau tak perlu khawatir, Ev, aku akan meneraktirmu. Kau tenang saja," ujar Evely.

"Tapi—"

"Tidak perlu sungkan denganku, lagipula kita sudah lama tidak bertemu. Aku sanggup rindu mengobrol denganmu, Ev." Tanpa menunggu penolakan dari Evely, Elsa menarik tangan teman lamanya itu dan mengajaknya pergi menuju kafe yang ada di dekat mereka.

Ragu-ragu Evely memasuki kafe itu saat Elsa terus memaksanya untuk masuk, hingga akhirnya mereka duduk saling berhadap-hadapan di salah satu bangku kafe itu. Elsa memesan minuman dan makanan ringan untuk mereka, sembari menunggu minuman dan cemilan itu disiapkan, mereka berbincang-bincang.

"Kau dari mana saja? Mengapa baru muncul sekarang?" tanya Evely.

"Kau tahu kalau aku saat ini sudah bekerja, Ev, pekerjaanku sangat sibuk sekali. Aku bahkan tak punya waktu istirahat, tapi demi mendapatkan uang yang banyak aku rela menghabiskan waktuku untuk bekerja," jawab Elsa.

"Kau beruntung sekali bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat bahkan saat kau lulus SMA, Ev. Kau tahu sendiri? Bagiku sangat sulit mencari pekerjaan, bahkan sampai aku berhenti dari kampus pun saat ini tak ada tempat yang menerimaku menjadi pegawainya," ujar Evely mulai bercerita tentang kesusahan yang ia alami.

"Kau keluar dari kampus, Ev? Benarkah itu? Bukankah masuk kampus itu adalah impianmu?" Elsa terkejut mendengar kabar kalau temannya berhenti kuliah.

"Aku terpaksa mengorbankan impianku itu, El, karena saat ini aku harus melunasi utang mendiang ayahku yang jumlahnya sangat besar." Evely bercerita dengan wajah sedihnya.

"Aku hanya diberi waktu sampai besok, jika besok aku tak membayar bunga satu persen dari utang ayahku maka rumah kami akan disita."

"Saat ini aku sangat bingung sekali harus mencari di mana lagi uang itu, semua sudah aku coba tetapi tidak ada yang menerimaku menjadi pegawai mereka. Aku sungguh sangat putus asa," sambung Evely.

"Kau mau suatu pekerjaan, Ev?" Tiba-tiba saja Elsa menawarkan sesuatu yang menarik bagi Evely.

"Apa itu, Ev? Apapun pekerjaan itu akan aku lakukan asal aku bisa mendapatkan uang dengan cepat."

"Kau mau bekerja di club malam tempatku juga bekerja?"

"Maksudmu menjadi ... tidak! Aku tidak mau, El, aku tidak mau mengorbankan harga diriku hanya demi uang." Dengan tegas Evely menolak sebelum mendengar perkataan Elsa selanjutnya.

"Dengar dulu apa yang aku katakan, Ev, ini bukan pekerjaan seperti yang kau pikirkan," ujar Elsa.

"Lantas, pekerjaan apa itu?"

"Kau hanya perlu menjadi pelayan di club malam, Ev, mengantar minuman untuk pengunjung yang datang. Bayarannya sangat besar karena pemilik club malam itu sudah sangat sukses, di sana ada banyak pengunjung yang berasal dari kalangan atas. Aku yakin dia pasti akan membantumu karena kebetulan sekali saat ini club malam itu sedang mencari pelayan baru," ujar Elsa.

"Tapi aku tak yakin, El."

"Kau coba dulu, Ev." Evely terdiam, ia kembali berpikir hingga kemudian akhirnya mengangguk. Semoga saja pekerjaan ini bisa menjadi ladang mencari uang baginya untuk melunasi utang yang begitu banyak itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED