Bab 1

Anda berdiri gugup di depan meja kerja sang bos besar, wajahnya sesekali memerhatikan wajah tegang di depannya itu. Pagi ini Anda hendak melaporkan satu hal penting dari Nyonya yang harus segera disampaikan kepada Jicko—bosnya yang merupakan kepala perusahaan Linux Inc.

“Pak, pesan dari Nyonya!” Anda menyodorkan telepon genggamnya ke atas meja.

Jicko menatap melotot, tak senang dengan berita yang datang pagi itu. Masalahnya, pesan yang disampaikan oleh Anda si orang penting dalam pekerjaannya itu sama seperti pesan-pesan yang kemarin. Tak ada bedanya.

“Apalagi kali ini?” tanya Jicko. Nada bicaranya sedikit agak ketus. Seperti biasa, Anda takkan kesal kalau dijawab dengan nada bicara seperti itu. Sebab Jicko memang terbiasa bicara agak dingin dan sedikit kasar.

“Nyonya minta Bapak datang ke acara makan malam di hotel four season bersama Bu Ameera.”

“Cuma itu?” Jicko bertanya lagi. Sang lawan bicara mengangguk.

“Semuanya sudah disiapkan oleh Nyonya. Bapak cuma tinggal datang saja.” Anda menambahkan ucapannya. Sekali Anda menelan ludah tak sedap. Jauh sebelum membicarakan masalah ini, degup jantung sang sekretaris sudah bergetar tergugu resah sejak tadi.

Jicko mengalihkan pandangannya, meninggalkan sejenak pekerjaan menumpuk di atas meja. Mata pria itu menatap Anda, punggungnya bersandar di sandaran kursi kerja. Satu tangannya merenggangkan dasi hitam yang melilit di leher. Pagi itu pukul sepuluh. Cuaca amat cerah. Awan tersingkap. Langit biru berpendar elok di cakrawala kota.

“Katakan pada Mama aku tak akan datang ke sana. Perusahaan sedang sibuk. Jadi tidak ada waktu untuk meladeni pertemuan makan malam yang tidak penting!” Jicko menegaskan. Sekali lagi dia memberitahu Anda untuk melaporkan alasannya itu. Alasan yang serupa yang pernah dikatakannya ketika menolak makan siang bersama anak gadis teman arisan ibunya.

Siapa itu namanya. Jicko lupa. Pekan lalu kalau tidak salah rencana itu dibuat Maria, ibunya. Beliau menyiapkan rencana makan siang bersama gadis anak dari teman arisannya. Dia cantik, kata Anda. Sekretaris nomor duanya ini pernah melihat sekali. Dia tampil di teve. Jadi kontestan Miss Indonesia. Dia lulusan cumlaude di universitas terbaik di Australia.

Peduli amat dengan semua itu. Jicko tidak mau berurusan dengan masalah percintaan. Baginya hal itu hanya membuat kepala pusing saja. Dia juga tidak punya waktu untuk bagian tersebut. Tak ada yang menarik.

“Baik, Pak. Akan segera aku laporkan kepada Nyonya.” Anda mengangguk, sedikit badannya membungkuk, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan kerja sang bos besar. Anak eksekutif, petinggi perusahaan.

Pintu ruangan besar Jicko tertutup kembali, kini hanya menyisakan dia sendiri. Seperti biasa, Jicko suka pada keheningan tanpa adanya gangguan dari orang lain. Menyoal apa yang disampaikan oleh Anda barusan, ini bukanlah yang pertama baginya. Tetapi sudah kesekian kalinya.

Maria selalu memaksa Jicko untuk segera memiliki pacar atau calon istri, paling tidaknya begitu. Karena usia Jicko yang sekarang suda dua puluh sembilan tahun, sudah sepatutnya memiliki istri, membangun rumah tangga dan tentu saja memberikan Maria seorang cucu. Namun apa yang Jicko lakukan selama hidup menjadi orang dewasa saat ini? Tidak ada!

Maria, ibunya itu bisa membuat pernyataan rinci, sumbangsih apa yang telah Jicko berikan kepada sang ibu selama ini. Selama Jicko sudah bisa berpikir rasional dan secara luas. Belum ada! Yang bisa Jicko lakukan adalah memberikan kebahagiaan sementara saja. Seperti menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua dengan berani ambil tanggung jawab mengelola bisnis keluarga.

Atau mentok-mentok, Jicko hanya bisa memberikan kebahagiaan berbentuk perhatian kecil. Patuh dan berbakti kepada orang tua. Itu saja. Tak ada yang lain. Untuk memenuhi keinginan Maria supaya anak itu segera menikah, mohon maaf saja, Jicko tidak akan mempertimbangkannya sama sekali. Menikah baginya hanyalah sebuah jebakan semata. Tidak ada spesialnya sama sekali.

Telepon genggam yang Jicko letakan di atas meja berdering. Jicko meraihnya. Sesaat sebelum menjawab panggilan telepon itu dia sempat terdiam. Ibunya menelpon lagi. Rupanya perintah untuk melaporkan keputusan untuk tidak datang dalam acara yang dibuatnya telah disampaikan oleh Anda.

Baiklah, baiklah. Jicko tak bisa mengelak lagi kali ini. Percuma membuat seribu alasan, karena ujung dari acara menghindari desakan sang ibu malah menjadi debat semata. Jicko paham betul akhir dari drama Maria selama ini.

“Halo, Ma. Ada apa?”

“Alasan apalagi yang kamu buat kali ini, Jicko! Kenapa kamu selalu begitu!” Suara Maria meninggi.

Jicko tersenyum getir. Dia merasakan apa yang hendak diluapkan oleh ibunya. Perasaan kecewa.

“Ma, Maaf!”

“Maaf tidak akan bisa mengobati luka hati seorang ibu, Jicko!” Percakapan terjeda sejenak, “Mama nggak minta muluk-muluk sama kamu. Mama cuma minta kamu cepat menikah, itu saja. Usia kamu sudah 29. Kamu sudah lebih dari dewasa. Di saat teman-teman Mama yang anak-anaknya sudah memberikan mereka cucu, Mama sendiri cuma bisa gigit jari. Nyuruh kamu cepat menikah rasanya susah betul. Demi Tuhan, kamu itu maunya apa, Jicko? Semua perempuan yang Mama kenalin ke kamu, semuanya ditolak.”

“Mama kasih A, kamu tolak. Mama kasih B, kamu tolak juga. Kamu sebenarnya masih normal, kan? Kamu masih bisa kan jadi harapan Mama buat kasih Mama seorang cucu. Kamu bisa melakukan semuanya itu kan, Jicko? Atau kamu sebenarnya mau melihat Mama mati tanpa melihat kamu menikah dan punya anak dulu. Begitu kan yang kamu mau?”

“Ma!” Jicko memotong percakapan panjang ibunya, “Tolong jangan bicara begitu!”

“Terus Mama harus bicara bagaimana? Apa Mama harus bilang, ‘OH ANAKKU, KAMU TAK PERLU TERBURU-BURU MENIKAH. MAMA NGGAK BUTUH CUCU. MAMA CUMA MAU LIHAT KAMU SEHAT SAJA ITU SUDAH CUKUP BUAT MAMA.’ Apa itu yang kamu inginkan keluar dari mulut Mama?”

“Memangnya penting sekali kah cucu bagi Mama?” Jicko merespon, tetapi ucapannya mengalihkan topik pembicaraan.

“Usia Mama sudah 54 tahun, Jicko. Usia seperti ini, Mama sudah lebih dari tua. Umur Mama sudah setengah Abad. Bagi Mama punya cucu itu bukan cuma penting, tapi juga bermakna. Mama cuma mau itu. Mama cuma mau lihat kamu menikah. Membangun rumah tangga. Terus masa tua Mama ada bahagianya dengan melihat kamu menggendong anak kamu, Jicko. Tidak banyak permintaan Mama.”

“Kalau alasan Mama seperti itu, Mama tinggal bilang mau cucu berapa. Aku akan memberikannya untuk Mama!” Nada bicara Jicko mulai santai. Dia tidak akan marah-marah atau meninggikan suaranya kali ini. Dia ingin tahu, sejauh mana ibunya ini punya kemauan.

“Kamu beneran mau mengabulkan permintaan Mama?”

“Selagi aku mampu!” Jicko mengangguk takzim.

“Mama mau dua cucu.” Suara Maria di balik layar gawai terdengar agak riang. Nampaknya Jicko berhasil membuat perempuan itu menurunkan tensi amarahnya yang menggebu-gebu nan membara.

“Cuma segitu?” tanya Jicko. Maria cepat-cepat menyahut.

“Kalau bisa, semampu kamu saja, Nak.”

“Aku akan kabulkan permintaan Mama yang satu ini. Tapi tidak dengan menikah!”

“Apa?!”

TUT!

Jicko menutup panggilan telepon secara sepihak. Maka saat itu, percakapan keduanya berakhir dengan Jicko yang memutuskan bahwa dia akan mengabulkan permohonan Maria untuk memiliki cucu.

Bab 2

“Bos, ini biodata gadis itu.” Anda menyerahkan tablet di tangannya ke atas meja. Jicko segera melihat layar menyala itu.

Waktu itu pukul setengah empat sore. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sinarnya terbelah oleh gedung-gedung pencakar langit ibukota. Sunset yang indah. Warna jingga yang mempesona.

Ruang kerja Jicko ada di pucuk gedung Polux 12. Gedung dengan ketinggian 150 meter. Itu markas besar Linux Inc. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang elektronik dan otomotif. Salah satunya produk mereka yang paling terkenal adalah telepon genggam dengan sistem i-wos dan kendaraan listrik autopilot.

Selain telepon genggam, Linux Inc.— juga memproduksi alat elektronik seperti laptop, komputer, alat elektronik rumah tangga, termasuk setrika, alat penanak nasi, mesin pencuci pakaian dan apapun itu yang dijalankan secara otomatis. Soal betapa mutakhirnya produk-produk perusahaan Linux, itu tidak perlu diragukan lagi. Mereka juga punya pasar global yang luas. Sampai di luar benua.

“Ameera Anastasia. Nama yang bagus.” Jicko mengangguk tipis, tangannya mengurut dagu yang bersih tanpa bulu di sana. “Apa yang paling menarik dari dia?”

“Tidak ada, Pak. Dia perempuan yang introver, mungkin. Di kampus, dia tidak memiliki teman sama sekali. Dan ..., dia hanya hidup dengan kakaknya. Itupun, kakaknya sakit-sakitan. Sekarang ada di rumah sakit, menunggu operasi besar.”

Jicko menghela napas tipis, “Orang tuanya?”

“Ibunya meninggal saat dia dilahirkan, lalu ayahnya meninggal setahun yang lalu.”

“Pendidikannya?”

“Saat ini dia sedang menempuh ilmu kedokteran spesialis. Tetapi karena tidak ada biaya untuk membayar semua uang kuliah, terpaksa dia harus mengambil cuti. Orang yang membiayai pendidikannya adalah kakaknya.”

“Rupanya dia sudah jadi beban.” Jicko bergumam pelan.

“Ehm ..., ada lagi, Pak. Beliau ini yang menolong Nyonya. Dia perempuan yang ramah dan baik, itu yang membuat Nyonya menyukainya.” Anda menambahkan penjelasannya.

“Oh, itu yang membuatnya spesial di mata Mama.”

“Jadi, bagaimana, Pak? Apakah Bapak akan menemuinya?” Anda bertanya pelan. Takut dan ragu saat melontarkan kalimat itu. Seperti biasa, dia berdiri gugup di depan meja kerja sang bos besar.

“Tentu aku akan menemuinya. Katakan kepada perempuan itu untuk menungguku lima belas menit sebelum pertemuan nanti malam.”

“Baik, Pak!” Anda mengangguk takzim.

Kemudian pria itu meninggalkan ruangan sang atasan. Pintu ruang kerja itu tertutup rapat lagi. Jicko menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Tangan kanan melonggarkan dasi yang mencekik di leher. Sekali dia mengembuskan napas sengal. Pandangan matanya menatap langit-langit ruangan.

Sebenarnya Jicko adalah seorang metroseksual sekaligus seorang aseksual. Dia tidak tertarik pada lawan jenis sama sekali bahkan terhadap yang sejenis. Hidupnya hanya didedikasikan untuk pekerjaan dan penampilan.

Dulu sekali dia memang pernah berhubungan intim dengan perempuan. Sekitar 11 atau 12 tahun yang lalu. Saat itu dia masih remaja SMA. Itu adalah pengalaman pertamanya. Kemudian ketika dia melanjutkan pendidikannya di Inggris, Jicko mulai merubah sifatnya. Salah satunya adalah tidak mau menikah. Ingin hidup bebas. Bahkan jika dia ingin memiliki anak sebagai penerusnya, dia bisa menyewa rahim perempuan manapun untuk melahirkan bayi untuknya.

Itu yang sejak setahun lalu Jicko tegaskan kepada Maria. Demi Tuhan, menikah itu bukan keharusan. Dia benci terikat dalam sebuah tali pernikahan. Orang-orang barat di luar sana terbiasa dengan hal ini, bahkan tidak mempermasalahkannya sama sekali. Contohnya pemain bola terkenal itu. Dia telah memiliki anak dari sang kekasih, tetapi sampai detik ini belum menikah sama sekali. Itu artinya bagi mereka menikah bukanlah satu-satunya cara untuk bisa menjalin sebuah hubungan. Bantah Jicko jika dia salah.

Jicko melamun sesaat. Pikirannya terbawa jauh kembali ke tempat di mana pertama kali bagi dirinya mengenal dunia bebas. Namun sesaat berikutnya, lamunan itu buyar ketika panggilan masuk berdering keras di layar telepon. Mama. Dia yang menelpon.

“Ada apa, Ma?” tanya Jicko langsung ke intinya. Enggan pemuda itu bertele-tele saat berbicara.

“Jadi kan nemuin Ameera?”

“Iya, aku usahain.”

“Kapan?”

“Malam ini, kalau tidak ada halangan.”

“Ahhh, akhirnya. Makasih sayangnya Mama.” Maria terkekeh dari balik layar telepon. Jicko masih mendengar suara itu.

“Mama kayaknya happy banget aku nemuin dia?” Jicko mengalihkan percakapan berikutnya. Panggilan telepon itu masih berlangsung.

“Kamu bisa rasain apa yang Mama rasain, Nak. Mama itu berharap ini langkah awal kamu buat deket sama dia. Ameera itu selain anaknya baik, dia cantik, juga ramah. Mama bakal happy dunia akhirat kalau kamu nikah sama dia.”

“Ya, semoga aja sesuai harapan Mama.” Jicko mendelik tak senang. Terlalu berlebihan. Memangnya sehebat dan sebaik apa gadis itu, sampai-sampai Mamanya terlalu kepincut dengan yang namanya Ameera.

Jicko menatap layar tablet di atas meja. Layar gawai itu masih menampilkan gambar biodata Ameera, lengkap dengan fotonya dan di mana dia studi. Kalau dilihat-lihat, gadis itu memang cantik. Dia cocok juga dengan pendidikan kedokteran yang ditempuhnya. Usianya masih ideal, 24 tahun. Termasuk usia produktif.

“Mama tunggu kabar baiknya, ya. Jangan lupa, bikin first impression yang baik ke dia. Biar kalian nyambung. Jangan kaku-kaku amat pas ngomong. Dibawa santai aja.” Maria menambahkan ucapannya.

Jicko mengangguk pelan. Detik berikutnya, panggilan telepon itu terputus. Mama yang mengakhirinya. Jicko meletakkan telepon di atas meja dengan posisi terbalik.

••••

“Aku Jicko.” Pria itu menarik kursi tempatnya duduk. Di depannya sudah ada perempuan yang dimaksud Mamanya. Dia Ameera.

Sesuai perintah Jicko, mereka akan bertemu di ruang privat restoran hotel. Selain karena dia terbiasa bicara di tempat tertutup dengan lawan bicara, Jicko juga paling tidak suka diusik atau terganggu oleh orang-orang di tempat umum.

Ameera menyampingkan anak rambut di telinga kanan. Senyum kecil terukir. Lima belas menit lalu dia telah tiba di sini, sesuai perintah Anda. Pukul 7;45 malam. Mau bagaimanapun, yang ditemuinya kali ini adalah pembesar perusahaan. Sejujurnya, Ameera tidak mau menemui Jicko. Namun karena desakan Maria, mau tidak mau dia harus melakukannya. Ameera perlu balas budi. Dia harus ingat itu.

“Aku Ameera.” Giliran gadis itu yang memperkenalkan dirinya kepada lawan bicara. Jicko telah sempurna duduk di kursinya. Sedangkan hidangan pembuka atau appetizers telah tersedia di atas meja.

“Kita langsung saja ke percakapan utamanya,” Jicko menatap Ameera lekat-lekat, “Aku tahu kalau Mamaku meminta kamu untuk menikah denganku. Aku mengiakan permintaan Mama, tetapi aku benci pada pernikahan. Kedatanganku sekarang ke sini ingin meminta pendapatmu, apa yang seharusnya aku lakukan supaya kita tidak menikah?”

Ameera terdiam. Sekali dia meneguk ludah tercekat di tenggorokan. Ucapan Jicko tadi sedikit banyak membuat Ameera terkejut bukan main. Dia tidak mau menikah, katanya. Lantas, kenapa dia harus datang ke sini?

“Aku tidak tahu harus menjawab apa.”

“Jawab saja sesuai apa yang ada dipikiran kamu!” Jicko menyahut cepat.

Pria itu memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak. Tangannya merapikan setelan jas hitam yang dipakai malam itu. Sepulangnya dari kantor, dia langsung ke restoran hotel. Ameera memalingkan wajahnya. Muka gadis itu merah dan tegang. Dia menghela napas pelan sesaat.

“Aku perlu persetujuan Mama untuk urusan ini.”

Bab 3

Dering telepon Ameera bergetar beberapa kali. Panggilan telepon itu masuk sesaat setelah dia keluar dari mobil hitam Jicko. Orang itu mengantarnya pulang, dengan rasa sopan.

Ameera masih berdiri di depan pagar rumah. Matanya memerhatikan pantat mobil autopilot milik Jicko sampai lenyap di persimpangan jalan rumah. Ameera mengembuskan napas panjang kali ini. Membuang rasa gugup yang menyelimuti badan.

“Halo, Nak. Bagaimana acaranya? Jicko bilang apa ke kamu?” Maria memberondong pertanyaan ketika panggilan masuk itu telah terhubung.

Ameera tersenyum getir. Entah jawaban apa yang harus dikatakannya saat ini kepada Mama, orang yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung sendiri. Tapi seyogianya, Ameera tidak boleh mengatakan bahwa Jicko menolak untuk menikahi Ameera. Karena gadis itu tahu betul, nanti Mama akan merasa terluka.

Pikiran Ameera kemudian melanglang buana, kembali ke tempat tadi. Saat percakapan mereka berlangsung amat serius di restoran hotel. Jicko dengan raut wajah yang menakutkan menatap Ameera seperti tidak ingin membiarkan lawan bicara berkutik. Itu salah satu ketakutan Ameera. Dia tidak bisa berbuat banyak ketika berada dalam situasi terintimidasi.

“Aku sudah tahu profil kamu,” kata Jicko beberapa saat lalu. “Kamu termasuk orang yang low profile. Yah, termasuk bagus buat perempuan seperti kamu.”

Jicko menarik napas panjang sesaat. Punggungnya tenggelam di sandaran kursi. Tangan melipat di dada. Mata sipitnya menatap lamat-lamat wajah Ameera. Penampilannya oke, cukup cantik. Dia menawan dengan setelan dress sebatas tulang kering kaki. Kecuali bahunya yang terbuka. Itu membuat Jicko menelan ludah. Entah kenapa, itu mengingatkan pada kejadian saat SMA.

“Aku seorang aseksual. Aku tidak tertarik dengan lawan jenis atau atau yang sejenis. Aku hanya tertarik dengan pekerjaan dan karirku saja. Artinya, aku tidak butuh pasangan hidup sama sekali. Aku tidak butuh pernikahan. Jadi, rencana Mama itu sebaiknya tidak kamu iyakan.” Jicko melanjutkan percakapan, “Aku hidup belasan tahun di negara liberal yang suka pada kebebasan. Menikah bukanlah keharusan. Poin utama di sini, Mama menginginkan seorang cucu. Aku berjanji akan memberikannya.”

“Mengingat aku juga sudah cukup dewasa, usiaku terbilang masuk usia kepala tiga, tidak salah kalau aku juga butuh seorang anak, walau aku tidak cocok berperan sebagai seorang Papa. Tetapi melihat prospek di masa depan, aku butuh anak sebagai penerusku kelak.”

“Percakapan kita tidak akan membahas soal pernikahan, melainkan seorang anak. Aku menawarkan beberapa hal, mungkin ini bisa kamu pertimbangkan. Aku ingin kamu mengandung anak untukku, dengan catatan kita tidak menikah. Anggaplah pekerjaan ini sebagai joki atau rahim sewaan.”

“Jika kamu berhasil memberikan aku bayi laki-laki, maka aku akan memberikan kamu banyak fasilitas mewah yang menguntungkan. Di antaranya, rumah mewah di kota modern, Tangerang. Fasilitas VVIP untuk semua akses, kartu kredit tanpa limit, kalau kamu minta jet, aku akan memberikannya. Itu kesepakatan yang aku tawarkan.”

“Aku juga akan membiayai pendidikan kamu sampai menjadi dokter, biaya operasi kakak kamu yang bernilai milyaran bisa aku tanggung, segalanya bisa aku penuhi. Tetapi ingat, aku hanya perlu bayi laki-laki. Aku tidak mau bayi perempuan. Bagaimana?”

Ameera menelan ludahnya sekali lagi. Entah respon apa yang harus diungkapkannya kala itu. Ini di luar ekspektasi. Kata Mama, Jicko orangnya ramah dan pengertian. Dia tidak seperti orang yang ada di depannya ini. Pertemuan mereka malam ini membahas pernikahan, bukan hal yang lain. Kalau tahu seperti ini pembahasannya, mungkin Ameera tidak akan ke sini. Demi Tuhan. Dia menyesalinya.

Ameera yang terdiam tanpa sepatah kata membuat Jicko menyeringai tipis. Dia tahu gadis ini bimbang. Penawaran yang Jicko berikan adalah hal sebanding dengan apa yang dimintanya. Sebaliknya, Ameera harus memenuhi persyaratan yang Jicko ajukan.

“Oke, dengar baik-baik. Jangan terlalu ragu untuk mengambil kesimpulan. Di Korea, para perempuan mengandung bayi akan diberikan tunjangan oleh pemerintah. Mereka didukung penuh dalam program ini. Apa yang aku tawarkan, rasanya hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang di Korea.”

“..., dan, di Korea pasangan tanpa status pernikahan bisa tinggal bersama. Permasalahan di sini bukan soal status. Tapi kenyamanan. Jika kamu suka dengan penawaran ini, maka kamu adalah pilihan yang terbaik.”

“Aku perlu memikirkannya dulu.” Ameera menjawab pendek. Respon dan raut wajahnya amat datar. Ingatan Ameera soal yang tadi lenyap, saat suara Mama menginterupsinya lagi.

“Meera, kok diem?”

“Eh, iya, Ma. Apa tadi?” Ameera menjawab cepat.

“Itu, gimana yang tadi dengan Jicko. Lancar nggak?”

“Ehm ..., lancar, Ma.”

“Dia bilang apa?”

“Dia bilang ..., kami perlu perkenalan lebih baik lagi dari hari ini.”

“Tuh kan, apa Mama bilang. Jicko itu kalau sudah lihat kamu, dia pasti bakal langsung suka. Cantik begini. Anak itu harus dipaksa dulu, baru mau dianya.”

“Iya, Ma.” Ameera mengulum senyum getir. Sesaat berikutnya, panggilan telepon itu terputus. Ameera memejamkan matanya beberapa detik. Skenario kebohongan ini belum pernah dirancangnya sama sekali. Nanti kalau Mama tahu dia berbohong, akankah Mama tidak marah sama sekali? Meski di sini yang jadi permasalahan adalah Jicko.

Tangan Ameera memainkan kartu nama hitam bertuliskan nama Jicko dengan guratan tinta emas di permukaannya. Tertulis jelas nama Jicko Aditama di sana dan tempatnya bekerja. Pria itu yang memberikan tadi, saat Ameera keluar dari mobil canggihnya.

••••

“Gimana, cantik kan anaknya?”

“Iya.”

“Anaknya penurut itu.”

“Iya, dia penurut. Ada lagi yang mau Mama puji tentang dia?” Jicko mendelik sebal. Mamanya terlalu cerewet. Sumpah, Jicko kesal mendengar celoteh beliau.

Beberapa menit lalu, seusai Jicko pulang dari mengantar Ameera, selepas mandi, Mama menelponnya. Dia bertanya tentang pertemuan mereka beberapa jam lalu. Jicko berdiri di depan dinding kaca tebal dan transparan di rumahnya. Tempat itu langsung terhubung dengan taman sepetak, seluas kamar kost-kostan. Jicko dan sang ibu tidak berada di satu rumah.

Sudah lama sekali Jicko meninggalkan kediaman sang ibu. Kira-kira tiga atau empat tahun lalu. Karena kediamannya lebih dekat dengan kantor dibandingkan dengan rumah utama keluarga. Saat itu dia bertelanjang dada, hanya mengenakan handuk putih menutup bagian bawah, sisa membasuh badan tadi.

“Pokoknya Mama mau kamu segera nikahin dia. Soalnya Ameera itu pilihan terbaik buat Mama.” Maria melanjutkan ucapannya. Nada suara terdengar antusias nan bahagia.

Jicko mengerutkan dahinya. Masih saja itu yang dikatakan olehnya. Jicko mendecak pelan, tangan kirinya memijit kening.

“Ma, jangan bahas itu lagi, oke. Keputusanku tadi siang masih sama. Aku menuruti permintaan Mama, tapi tidak dengan menikahi dia.”

“Jicko! Lancang kamu ya!” Suara Maria berseru meninggi, “Kamu kira Ameera itu pelacur, hah? Yang seenaknya mau kamu pakai sesuka hati. Kamu kalau ngomong nggak pernah disaring.”

“Itu keputusanku. Suka nggak suka, Mama harus terima.”

“Oh, oke. Itu keputusan kamu. Mama kira dengan mempertemukan kamu dengan Ameera, mungkin kamu akan suka sama dia atau tertarik paling tidaknya. Ternyata hasilnya sama aja. Mama rupanya yang terlalu berekspektasi lebih di sini.” Maria men-jeda sejenak percakapan keduanya.

Terdengar helaan napas berat dari balik gawai pintar Jicko. Pria itu memahami keadaan ini. Mama pasti lagi menahan kesal dan kecewa. Jicko tahu sifat sang Mama yang satu ini.

“Ma ...?” Jicko menginterupsi. Takut-takut Mama meninggalkan percakapan daring mereka begitu saja.

“Mama terima keputusan kamu, Nak. Mama ikhlas. Tapi Mama minta, nanti kalau Mama mati, kamu nggak usah datang ke pemakaman Mama, ya. Itu permintaan terakhir Mama.”

“Ma! Kok ngomong gitu, sih?” Jicko berseru lantang. Dia tidak suka dengan percakapan ini. Namun sayangnya, panggilan itu langsung terputus. Mama mengakhirinya. Jicko mengembuskan napas sengal. Telepon genggam dilempar ke atas sofa abu-abu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED