Bab 1

Yui melangkah masuk ke sebuah pub di sudut kota Tokyo. Riasan tebal dengan gincu menyala terang, menjelaskan apa yang tengah ia cari. Uang dan laki-laki.

Ini bukan kali pertama. Biasanya ia akan memakai setelan seragam anak SMA. Kepunyaan sendiri dan belum dicuci. Tapi, hari ini berbeda. Ia butuh uang banyak. Menuangkan minuman sambil membiarkan tubuhnya diraba-raba tidak akan cukup. Ibunya butuh lebih untuk kemoterapi.

"Bersihkan makeup mu!" teriak seorang wanita yang sepertinya mucikari. Ia menyeret lengan ketat Yui tepat ketika gadis itu berencana duduk, menemani laki-laki tua berperut buncit.

"Kenapa? Aku akan mengikuti aturannya. Berapa pembagiannya?" Yui mengeluh, sedikit geram, ia mengeluarkan isi tas. Seingatnya, ada dua lembar dollar terakhir.

"Dasar! Kau bodoh? Idiot? Bagaimana bisa kau datang dengan dandanan kacau? Kalau niat cari uang banyak, katakan dulu padaku!" Mae, si wanita mucikari menampar tangan Yui emosi. Di bagian belakang, para bartender pura-pura tidak mendengar. Di pub miliknya, ada aturan dari pihak kepolisian tentang prostitusi.

Menjual virginitas itu kejahatan. Sedang, yang lain tidak. Anak di bawah umur juga dipastikan mendapat perlindungan. Tapi itu hanya prosedur omong kosong. Buktinya selama sepuluh tahun terakhir, Mae menjalankan bisnisnya tanpa ada kendala apapun. Para remaja penggila barang bermerk, banyak yang secara sukarela menukar virginitasnya senilai gaji setahun ayah mereka. hal itu tentu saja menjadi ladang uang untuk Mae. Semakin banyak remaja putus asa, ia semakin kaya raya.

"Kau bisa menemukan pelanggan pertamamu besok minggu. Ini tentu saja akan menjadi penawaran terbaik dariku. Kau masih perawan, kan?" bisik Mae menekan pertanyaannya dengan tatapan serius dan mengancam.

Yui terdiam. Untuk sesaat ia ingat tidak pernah punya pacar sepanjang hidupnya. Bahkan membayangkan berciuman dengan orang asing sering berujung mual. Tapi itu adalah pekerjaan part time yang sudah ia pilih. Ibunya telah lama lumpuh karena stroke. Sedang ayah Yui sudah meninggal sepuluh tahun silam. Keadaannya cukup menyedihkan hingga ia tidak perlu alasan lain untuk bertahan hidup.

"Kalau ragu, aku siap dites." Yui menghela napasnya, kasar. Selama ini Mae cukup baik. Ia sering diberi kelonggaran hutang saat masih membutuhkan uang. Karena itu Yui tahu benar resiko apa yang harus Mae ambil kalau ia ketahuan berbohong.

Mae menatapnya cukup lama. Wanita paruh baya itu kemudian mengambil foto Yui dalam beberapa sudut lalu menyuruh pulang agar bisa beristirahat.

"Besok pagi, datanglah ke apartementku. Ada sesuatu yang harus aku berikan." Mae mengibaskan jemarinya yang dipenuhi kutek warna hitam. Mengarahkan pandangan Yui ke pintu ke luar.

Sebelum kalimat protes keluar dari mulutnya, sepuluh lembar dollar dikibaskan oleh Mae, tepat di depan wajah Yui. Ia tahu benar saat akhir bulan seperti sekarang, Yui pasti kehabisan uang untuk biaya rumah sakit dan tagihan rumah sewa.

"Pastikan juga, tamu pertamaku sehat. Aku tidak mau terkena AIDS di usia produktif," kata Yui menyambar uang itu sembari berlalu. Deretan hiasan pintu berbunyi saat ia menarik mereka dengan gerakan kasar.

Mae menghela napas pelan. Waktu ini akhirnya datang. Miura Yui gadis yang awalnya polos dan malu-malu kini mulai terbiasa memperlakukan tubuhnya dengan murahan. Mae berjalan tenang menuju ruangannya yang jauh dari hingar bingar. Di sebuah lorong menuju ruangan VIP, beberapa gadis menyapa, namun berakhir tidak peduli ketika ia menghilang dari pandangan mata mereka.

---

Yui pulang dengan sebungkus panekuk daging sapi. Ia masuk begitu saja dan mendapati ibunya tengah menyiram bunga mawar malam-malam.

Kursi roda yang dibelikan Yui sangat membantunya beraktivitas. Jika awalnya ny. Miura hanya duduk saja, sekarang ia bisa melakukan banyak hal.

Yui tidak menyesal menghabiskan banyak uang untuk operasi syaraf ibunya. Tapi, ceritanya akan lain kalau pekerjaannya sampai ketahuan. Walaupun sekarang mereka miskin, dulu ayah Yui, Sakamoto Miura pernah menjadi salah satu pimpinan Yakuza paling disegani. Di daerah Kanto, bahkan namanya masih dikenal meski sudah mati. Yui dan ibunya berakhir hidup sederhana karena lilitan hutang.

Tak lama, setelah memastikan ibunya makan, Yui menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Ia harus mencuci futon sebelum tidur. Kemarin, untuk sekian kalinya ny. Miura menumpahkan sesuatu. Memang, nodanya tidak bisa dihilangkan dengan mudah, tapi kesal di depan sang ibu, membuat suasana hatinya bertambah buruk. Ia harus bersyukur tak ada lagi piring pecah atau benda jatuh lainnya. Sistem syaraf ibunya memang harus secepatnya diterapi.

"Ibu, sekarang ibu tidur, ya? Sudah malam," kata Yui mendorong kursi roda ny. Miura ke arah ruangan di sebelah kamarnya. Di sana, ada sebuah ranjang untuk berbaring. Yui pernah memakai futon, tapi tidak berhasil. Mengangkat tubuh wanita dewasa yang bahkan tidak bisa bergerak, membuat tulangnya sakit.

Segera setelah mencuci dan membereskan beberapa perabot, Yui menyiapkan buku sekolah dan PR yang belum sempat ia kerjakan. Menjelang kelulusannya, Yui tidak mengharapkan apapun. Ia hanya ingin cepat-cepat mendapat KTP lalu menanggalkan label 'anak di bawah umur.'

--

Alarm ponsel Yui berbunyi tepat jam 7 pagi. Di luar masih gelap dan angin di penghujung musim gugur mampu membuat kebas kulit telanjang. Untung saja, syal milik gadis itu masih cukup layak untuk menutupi leher hingga dagu ke atas.

"Ibu, aku berangkat. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan sebelum pergi. Pemanas ruangan sudah kunyalakan. Hari ini ada acara tv menarik dan untuk makan siang, maaf aku hanya meninggalkan roti lapis." Yui membungkuk, mengecup pipi ny. Miura. Meski tak bicara, sorot matanya menyiratkan terima kasih sekaligus rasa bersalah.

Halte bus pertama berada cukup jauh dari kompleks sewaan. Yui berulang kali menatap jam di layar ponselnya. Memastikan ia punya cukup waktu untuk ke apartemen Mae.

"Yui san? Ada titipan untukmu." Seorang pengendara motor tiba-tiba saja berhenti tepat di persimpangan jalan. Sekilas dari balik jaketnya, ia adalah seorang pria tinggi dan berkulit pucat. Kakinya cukup panjang karena tidak kepayahan menyangga body motor yang lumayan besar.

"Aku?"

"Yui Miura, kan? Mae san memintaku untuk mengantarnya." Ia mematikan mesin motor, menepi lalu mengambil bungkusan kecil dari dalam tasnya.

"Baiklah, terima kasih. Aku berencana ke sana tapi sepertinya waktunya tidak akan cukup." Yui mengambil barang dari tangan pria itu sembari membungkuk.

Si pria terdiam, menggeser kaca helm full facenya ke atas. Matanya menelisik, mengamati wajah Yui dengan pandangan aneh.

"Lumayan juga, apa kau masih SMA?" gumamnya menurunkan tatapannya hingga ke ujung kaki. Seragam sekolah Yui memang tidak mencolok, bahkan terkesan kampungan. Tapi, kaki jenjang milik gadis seusianya, selalu menarik perhatian.

Yui langsung memasang wajah kesal, merasa dilecehkan secara verbal. Walaupun tanpa sentuhan, tatapan pria asing itu, mampu membuat hatinya panas. Ia membayangkan ada seringai mesum di balik maskernya.

"Sampai jumpa minggu depan. Pakai seluruh perawatan juga wewangian itu. Kau tahu, kan? Pelanggan pertama harus dibuat terkesan?" ucapnya memutar kunci lalu menghidupkan mesin.

Apa-apaan dia? Yui meremas ujung roknya gelisah. Suara motor pria itu mulai menghilang bersama kendaraan lain di jalur utama. Tapi, kesannya justru tertinggal dan sulit dihapuskan.

Bab 2

Sekolah Yui tidak jauh dari pusat kota. Dari jendela kelasnya, kadang saat tiba festival musim gugur, bianglala terbesar terlihat sangat jelas. Tapi, kali ini tidak. Entah karena sedang ada perbaikan atau di pindah ke tempat yang lebih baik. Yang jelas, kebahagiaan kecil itu, sudah lenyap.

"Ada perebutan lahan di sekitar Tokyo center. Taman hiburan pindah ke seberang stadion baseball," kata Kaede meletakkan bungkusan penuh roti ke atas bangku milik temannya itu. Tebakan itu memang tepat sasaran, seakan apa yang dipikirkan Yui tercetak jelas di wajah.

Yui tak menyahut. Persahabatannya dengan Kaede sudah lebih dari 5 tahun. Waktu SMP, Yui dikenal sebagai penjaga Kaede. Si gadis payah, jelek tapi kaya raya. Mungkin ada banyak celah untuk memanfaatkan kedekatan mereka. Tapi, Yui tidak melakukannya. Baginya, uang adalah hal kotor. Akan ada banyak kesalahpaman saat persahabatan diisi dengan hutang piutang.

"Minggu ini mau kemana? Kita bisa belajar lagi? Bagaimana kalau ke perpustakaan di luar kota Sekalian jalan-jalan."

Mendengar kalimat minggu depan, mood Yui berubah buruk. Roti anko kesukaannya mendadak pahit dan terasa keras di tenggorokan.

"Ibuku pasti tidak akan suka kalau aku meninggalkannya terus-terusan. Minggu ini aku akan menemaninya. Terapi di rumah sepertinya cukup menyenangkan," kata Yui tersenyum kecil. Sudut bibirnya yang sengaja ditarik, membuat kesan getir. Walau curiga, tak ada satupun kalimat keluar dari mulut Kaede.

Gadis bertubuh kecil itu hanya pura-pura mengangguk dan memilih untuk tidak bicara lagi. Sebenarnya ia tahu pekerjaan Yui. Tapi, keterbatasannya sebagai sahabat, membuat Kaede tidak bisa berbuat banyak. Ia pernah menegur dan berakhir dengan pertengkaran selama satu bulan.

Kehidupan seseorang adalah hak asasi pemiliknya, tapi teguran adalah bentuk kepedulian sesama perempuan. Ia yakin, setiap wanita yang menukar kehormatannya dengan uang, akan menyesal di kemudian hari.

Tidak. Tidak perlu selama itu untuk merasakan sebuah penyesalan. Wajah Yui menggambarkan sebuah kekhawatiran yang sangat dalam. Bibir tipisnya berulang kali digigiti, bernafas cepat lewat mulut lalu meminum jusnya hingga tandas.

"Yui san, apa kau baik-baik saja?" tanya Kaede menunjuk isi kaleng jus yang telah kosong. Wajah gadis itu mengernyit heran saat menyadari hal aneh.

"Ya, memangnya ada apa denganku?" balas Yui melempar pandangannya ke luar jendela. Lapangan basket di lantai satu memang selalu ramai, hanya saja meski tatapan matanya terarah ke sana, wajah Yui berbicara lain.

"Kau minum jus wortel."

"Apa? Jadi itu milikmu?" Yui mencecap ujung lidahnya yang kesat. Ia benci wortel. Bagaimana bisa salah ambil?

"Oh, ya ampun...,"gerutu Kaede terpaksa menghabiskan jus apel milik Yui.

"Maaf," gumam Yui menundukkan kepalanya sekilas. Sekarang percuma mengatakan ia baik-baik saja. Pandangan Kaede menyiratkan ketidak percayaan sekaligus geli.

---

Beberapa hari terakhir, adalah waktu paling berat. Seperangkat perawatan tubuh beraroma mawar, membuat Yui seperti barang dagangan yang tengah dipersiapkan. Kadang gadis berambut panjang itu menatap lekat-lekat wajahnya, berharap ia bisa melalui hari minggu seperti remaja lain. Bermain dengan pacar mereka dan menghabiskan uang kerja part time.

Namun hal itu mustahil. Tiap malam, suara rintihan ibunya seperti teror yang sudah dibebankan di pundak. Ia benci menjadi dewasa sebelum waktunya, tapi pergi menanggalkan kewajiban seorang anak adalah perbuatan tidak termaafkan.

"Moshi-moshi," kata Yui menyapa Mae yang menghubunginya malam-malam.

"Kau di rumah?" tanya Mae terdengar menghembuskan napas, seperti sedang merokok.

Yui tak segera menyahut. Ia berpaling pada pintu geser menuju ruang makan. Terlihat ibunya tengah duduk, mengamati acara tv. Walaupun syarafnya terganggu, indera pendengaran ny. Miura bekerja dengan baik.

"Kemarilah," ucap Mae. Setengah menekan. Suara hingar bingar khas diskotik menjadi background pembicaraan mereka. Yui merasakan firasat buruk.

"Pelanggan pertamamu...akan membayar tarif dua kali lipat. Jadi, berkemaslah. Kemari tanpa dandanan mencolok. Style kampunganmu membuat para pelanggan mengira sedang berkencan dengan wanita 30an."

Pip.

Tanpa membiarkan Yui bicara, sambungan telepon itu ditutup begitu saja. 

Apa yang dimaksud Mae san itu, si pria pengantar barang? batin Yui berdiri bingung sambil melirik ibunya.

Sudah terlalu larut untuk membuat alasan yang masuk akal. Jadwal keberangkatan bus pasti sudah berakhir sejak tadi. Beruntung, sepuluh menit kemudian, sang ibu sudah terkantuk-kantuk dan minta di antar ke kamar.

Malam itu, Yui berharap, Tuhan ikut terlelap agar dosa-dosanya tidak ketahuan.

----

Setengah jam kemudian, Yui yang datang dengan sebuah taksi orange, berhenti di depan pub milik Mae. Ia sudah ditunggu dan uang transportasinya bahkan diganti. Sikapnya terkesan aneh. Seakan Yui bukan hanya akan dijual virginitasnya, tapi juga hal lain.

"Lihat, kau seperti pelacur seharga 10.000 yen." Mae mencengkeram bahu Yui, menuntun calon ladang emasnya menuju ruang rias.

"Dengar, apa pelanggan pertamaku itu pria yang mengantar barang darimu?"

"Apa itu penting? Selama punya uang, siapapun bisa memilikimu."

Kalimat lugas dan menusuk itu, memang bukan kebohongan, tapi tetap saja Yui terluka.

"Diamlah. Aku akan meriasmu." Mae mendudukkan Yui ke atas bangku paling tinggi. Sederet alat make up berjajar di sana.

Pasti bukan barang baru. Membayangkan banyak wanita yang memakainya untuk merayu hidung belang, membuat Yui mual. Apalagi setelah riasannya selesai, Mae menyodorkan gaun tipis berdada rendah.

---

Kamar hotel itu sangat luas. Karpet dengan kualitas bagus terhampar menutupi setiap sisi kosong lantai marmer. Di kanan kiri ruangan, ada sofa, lemari pendingin besar dan sebuah mini bar. Segalanya terlihat mewah dan elegan

Pantas saja Mae bersikeras menyuruhnya cepat-cepat bekerja. Penawaran hingga dua kali lipat, sangat jarang terjadi.

"Kau datang? Wah, cepat sekali. Apa kalian benar-benar menginginkan uang?" suara sinis dengan nada bass dan sedikit berat, terdengar dari belakang punggungnya.

Saat Yui berbalik, ia melihat sosok pria berbalut jubah kamar mandi. Tengah berdiri sambil membawa sekaleng bir di tangannya. Umurnya mungkin 25 tahun lebih. Di leher juga bagian atas dadanya, terlihat tatto warna merah bercampur hitam. Sekilas, ada kesan mengerikan di antara wajah asianya yang rupawan. Entah bagaimana menjelaskannya, Yui benar-benar spechless.

"Apa kita pernah bertemu?" tanya Yui menatap langsung ke dalam mata si pria. Itu adalah tatapan yang sama dengan si pengantar barang.

Dengan mulut yang masih penuh minuman, ia mendekat dan sedikit bersendawa. Cara pria itu bertingkah, sama persis seperti seorang brengsek.

Yui seketika bad mood. Selain tidak di gublis, kesan tatapan pria itu, sedikit merendahkan. Seperti mata seorang pembeli yang tidak puas. Menusuk dan sinis di waktu bersamaan.

"Aku tidak memiliki gangguan impotensi. Tapi, wanita paling seksi sekalipun, tidak mampu membakar gairahku." Ia menuju ke arah ranjang, meletakkan minuman ke samping lampu meja.

Yui berdecak, mulai gelisah. Ia takut di minta melakukan hal ekstrim. Jika itu terjadi, mungkin pura-pura pingsan adalah yang terbaik.

"Kau hanya perlu menanggalkan bajumu di depanku. Lakukan apapun agar nominal pembayaranku setimpal." Mata pria itu menyipit, memberi isyarat agar keinginannya segera dilakukan.

Baiklah, semoga ia bukan psikopat gila.

Bab 3

Pria itu adalah Kazuo Ito. Penerus tunggal klan Ito generasi ke 10. Di tanah Osaka tempat kelahirannya, para Yakuza mengambil peran penting dalam organisasi ilegal para pejabat jepang.

Beberapa anggota juga tetua mereka terbunuh karena urusan yang disembunyikan. Di usianya yang relatif muda, Kazuo dituntut menjadi pemimpin kedua setelah sang paman.

Yasuo Ito, ayah Kazuo, terbunuh oleh seseorang. Sedang ibunya entah kemana. Para istri Yakuza banyak yang memilih pergi dan dianggap mati. Kehidupan penuh darah dan pertengkaran memang hal umum. Ya, hanya orang dengan kewarasan minim yang mampu bertahan di lingkungan seperti itu.

"Aku benci barang bekas, jadi memilih yang belum tersentuh oleh siapapun. Tapi, sepertinya kau bahkan tidak memiliki apapun untuk ditunjukkan padaku," Kazuo menyeringai remeh. Ia mengambil rokok juga pematik dari laci nakas. Tatapan pria tinggi itu tidak lepas dari wajah Yui, yang mematung tanpa melakukan apapun.

Sebenarnya mudah untuk telanjang di depan pria yang telah membelinya. Toh, ia sudah berpikir matang saat akan menjual diri. Tapi, tingkah Kazuo menarik. ia tidak sama dengan hidung belang lainnya. Caranya menatap seperti seseorang yang ingin memastikan sesuatu.

"Biar kutebak, apa kau juga belum pernah melakukannya?" Wajah Yui yang mulanya menunduk, perlahan mendongak. Tatapan itu, jelas tidak dimiliki oleh sembarang perempuan. Kazuo akhirnya yakin, pilihannya tidak salah.

"Apa kau sedang mengejekku?" Kazuo menghembuskan asap rokok itu ke udara. Auranya terlihat tenang dan tidak terpancing sedikitpun. "Aku sudah membelimu, jadi turuti saja, kalau tidak, Mae san akan memberi setengah harga bayar karena pelayananmu tidak memuaskan."

Yui tak lagi berkutik. Benar, ada yang janggal. Pelanggan pertamanya itu sangat mencurigakan. Selain masih muda dan kaya, sosoknya tidak sejelek itu hingga harus membayar perempuan. Tubuhnya bahkan kuat, seakan sengaja dibentuk untuk memukau para wanita.

"Cepat, sialan!" Kazuo akhirnya meledak. Ia berdiri, menghampiri Yui dengan tatapan marah. "Jadi, kau ingin aku memaksamu?"

"Aku akan melakukannya," potong Yui diam-diam menyembunyikan sikunya yang gemetar.

Saat pandangan mereka berbentur, ingatannya seakan terlempar pada kenangan masa kecilnya. Sang ayah sering berteriak dengan tatapan seperti itu.

Dia Yakuza? batin Yui ketakukan. Selama ini ia sudah bersembunyi dan menghindar. Bahkan 7 tahun terakhir, Yui sudah mampu mensugesti pola pikirnya.

Bahwa, ia bukan seorang putri dari mantan Yakuza.

"Kulitmu bagus juga. Kupikir sedikit gemuk, tapi saat dibuka, seperti hadiah kejutan bagiku." Kazuo mematikan bara rokoknya. Menyuruh Yui berputar dengan masih memakai potongan bra dan celana dalam.

Sebebal apapun perasaan Yui, ini adalah pertama kalinya ia melepas pakaiannya di depan seorang pria. Pipinya mendadak panas saat mata Kazuo menatap penuh hasrat.

"Kemari, duduk di pangkuanku," ucap Kazuo menepuk pahanya yang sedikit tersingkap karena belahan jubah handuk. Tenggorokan Yui terasa kering. Dalam sekejab, nyalinya menciut. Entah kemana sisa-sisa tekadnya untuk mengumpulkan biaya terapi sang ibu.

"Kau bilang, apa? Aku belum pernah tidur dengan wanita?" bisik Kazuo sesaat setelah Yui memposisikan pantatnya dengan canggung. Aroma tubuh gadis itu, persis seperti pucuk mawar yang belum sepenuhnya mekar. Membakar keinginan Kazuo untuk menyentuh dan menikmatinya.

"Berbalik." Kazuo memutar bahu Yui agar membelakanginya. Posisi seks yang tidak lazim itu, membuat Yui membeliak, terkejut sekaligus takut. Tapi, sebelum nada protes keluar dari mulutnya, jemari Kazuo berhenti, tepat di balik ikatan bra Yui yang terbuka.

Sebuah tatto kecil dengan inisial K.I tercetak jelas di punggung sebelah kiri. Kazuo menajamkan matanya, memastikan apa yang ia lihat itu benar-benar ada.

"Yui Miura...? Huh....?" tiba-tiba gumaman sumbang terdengar dari mulut Kazuo. Yui seketika berbalik, terkejut. Seharusnya, Mae san merahasiakan namanya. Tidak, bagaimana pria itu tahu namanya?

"Ba-bagaimana bisa?"

Mulut Yui langsung terbungkam begitu Kazuo mendorongnya ke atas ranjang. Mulut pria itu menyunggingkan seringai sedang tangannya dengan terampil melepas bra juga celana Yui.

"Aku heran, bagaimana bisa putri dari seorang Matsumoto Miura berubah jadi gadis tanpa harga diri?"

Yui tercekat, rasa malunya melebur, bercampur ketidak percayaan.

"Kau mengenal ayahku?" tanya Yui menatap Kazuo yang mengunci kakinya dengan paha.

"Tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak tahu ayah mertuaku? dia bahkan memberi inisial namaku di punggungmu." Kazuo tersenyum, meletakkan jemarinya pada pipi lalu turun, menyentuh leher gadis itu.

Tubuh telanjang Yui Miura seketika bergetar. Wajah yang semula tenang, berubah pucat. Ia tanpa sadar menangis, menyadari kenyataan bahwa keluar dari dunia Yakuza adalah hal mustahil.

Tatto kecil itu, dibuat saat ayahnya mendapatkan pinjaman dalam jumlah besar. Dengan kata lain, ia telah dijual.

"Jangan menangis. Aku dengar, wanita dengan darah Yakuza adalah yang terbaik. Mereka akan menggelora seperti api di atas ranjang saat musim dingin." Kazuo melepas jubahnya, memperlihatkan bagaimana tubuhnya telah berpengalaman memuaskan wanita.

Yui menutup matanya, berusaha menerka apa yang tengah terjadi. Kazuo? Mungkin bukan sebuah kebetulan ia ada di sini.

Hal yang kemudian terjadi adalah sebuah ciuman. Yui ingin berpaling, tapi lehernya seperti dikunci. Bibir pria itu mendorongnya, memaksa lidah mereka agar saling mengait. Entah itu sebuah paksaan atau pemerkosaan sekalipun, Yui sadar, tidak ada gunanya memberontak. Tubuhnya menyerah, berusaha menikmati bibir lembut pria itu.

"Arrrgggghhhh." Erangan kecil lolos begitu saja dari bibir Yui. Ia terkejut saat tangan Kazuo tiba-tiba saja menyentuh area sensitifnya. Sensasi itu sangat berbeda saat tubuhnya terhalang baju. Meski terangsang, di saat bersamaan harga dirinya terluka.

Yui terkejut saat melihat aura seram pria itu berubah seperti pucuk plum. Merona terang dan hangat. Jika dilihat dari dekat, wajahnya terbentuk lumayan bagus. Rahang, dada juga pahanya serasa kokoh.

"Argghh. Sial!" ucap Kazuo merasakan tangan Yui menyentuh leher dan dadanya.

Dia belum pernah? batin Yui tertarik. Reaksi itu terlihat lucu. Apalagi meski sudah melakukan foreplay cukup lama, Kazuo belum juga melakukan 'eksekusi'. Padahal, Yui jelas tahu, tubuh bagian bawah pria itu telah siap.

Sungguh, melihat perangai kasar Kazuo bagaimana bisa pria itu terlihat ragu-ragu? Tatto di leher juga dada pria sipit itu, terlihat mengkilat, terkena keringat. Yui diam-diam mengeluh karena permainan ranjang itu.

"Kau menginginkanku, huh?" tanya Kazuo menyeringai senang. Sepertinya ia sengaja membuat Yui tersiksa. Selama hidup, pria itu memang tidak suka menyentuh sembarang wanita. Pengendalian nafsunya terbilang cukup bagus.

"Aku menyukaimu."

"Apa?"

"Kau pria kuat. Apa yang salah dari ucapanku?"

Kazuo tergelak, menutupi bagian bawah tubuhnya dengan jubah. Kini pria itu sadar, dengan siapa ia berhadapan. Mata yang semula dipenuhi air mata, berubah tajam, seperti matanya. Memang, untuk sesaat Yui kesal karena dijadikan jaminan oleh sang ayah. Tapi kini ia malah tertarik.

Menjadi kuat atau cengeng adalah sebuah pilihan. Kazuo pasti punya alasan kenapa tiba-tiba mencarinya. Sudah sepuluh tahun berlalu. Yui memang bersembunyi, tapi bisa ditemukan dengan mudah.

"Kau ada urusan apa mencariku, Kazuo Ito?"

Mungkin, pertanyaan serius itu tidak dilontarkan saat tidak berpakaian.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED