"Baiklah, kita kembali ke kelas sekarang."
Fatima tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya, jadi ia hanya mengangguk dan mengikuti Hossein berjalan keluar dari gudang melewati lorong bangunan berdinding batu menuju ke kelas mereka.
Guru mereka, Ibn Sani sudah memulai pelajaran ketika keduanya masuk. Mengabaikan pandangan murid di dalam kelas, Hossein menghampiri ayahnya dan meraih tangan pria itu untuk dicium.
"Mawlawi, aku perlu meminta maaf padamu."
"Oh?" Ibn Sina menaikkan alisnya. "Bicaralah."
Dari tempat Fatima berdiri wajah pria itu terlihat dingin dan tegas. Fatima seketika kembali ketakutan.
"Aku sudah membuat Fatima terlambat."
Sang guru menoleh ke arah Fatima. "Ah, ya. Putri Saheer."
"Ya. Tapi bukan salahnya ia terlambat. Aku lupa memberitahumu bahwa aku meminta bantuannya untuk merapikan gudang."
Detak jantung Fatima berada di tenggorokan sekarang. Ia sedang menunggu kemarahan dari Sang Guru. Tapi pria itu hanya menatap wajah putranya dengan pandangan penasaran sebelum kemudian beralih kepada Fatima dan mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Lain kali beritahu aku jika kau hendak membuat seseorang terlambat, Hossein. Sekarang, duduk kalian berdua. Aku ingin melanjutkan pelajaran."
"Ya, Mawlawi."
Begitu Hossein dan Fatima mendudukkan diri di antara murid yang lain, Ibn Sani melanjutkan pelajarannya.
Entah berapa lama Fatima berada di dalam ruang kelas, ia tidak memperhatikan. Fatima bahkan tidak mendengarkan apa saja yang diajarkan oleh Ibn Sani hari itu, benaknya tidak bisa berhenti memikirkan tentang bocah yang duduk di sebelahnya, bertanya-tanya mengapa Hossein bersikap baik kepadanya.
Ketika jam istirahat tiba, Fatima berbaris bersama murid yang lain untuk mendapatkan makan siang.
Ruang makan di sekolah mereka berada di luar dan terbuka. Cukup besar untuk menampung puluhan murid yang ada di sana. Menu hari itu simpel tapi banyak. Kari kacang merah dan roti tebal yang dioles dengan keju berempah.
Murid-murid di sekolah Ibn Sani berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak saudagar kaya hingga anak pedagang pasar. Semua terlihat berbaur menjadi satu di tempat itu.
Fatima memilih meja paling ujung yang kosong dan meraih roti yang ada di piring. Remahannya yang terasa kasar melawan jemarinya membuat nafsu makannya lenyap.
Fatima mendorong piringnya menjauh dan menoleh ke meja sebelah. Ia melihat Hossein dan beberapa temannya bercakap-cakap tentang permainan dadu yang sering mereka mainkan ketika jam istirahat.
Di tengah percakapan, Hossein berdiri dan meraih mangkuk berisi buah ara yang ada di atas meja. Bocah itu meraih beberapa dan dengan lemparan tangannya, Hossein melambungkan buah itu satu persatu ke udara sebelum menangkapnya kembali.
Hossein menambahkan satu lagi, lalu satu lagi, hingga kini ada empat buah beterbangan membentuk lingkaran.
Anak-anak yang ada di meja Hossein bersorak dan bertepuk tangan. Lagi! Lagi!
Semakin banyak buah melayang, semakin cepat lingkaran berputar hingga terlihat seakan tidak menyentuh tangan terampil bocah itu. Semakin nyaring pula teriakan anak-anak yang ada di ruang makan.
Pandangan mata Hossein yang tadinya mengikuti pergerakan buah ara mendadak beralih ke arah Fatima. Gadis itu tidak sempat mengalihkan pandangannya sebelum Hossein berkata, "Tangkap."
Satu buah ara meluncur keluar dari pola lingkaran di tangan Hossein dan terlempar ke arah Fatima. Buah itu terjatuh tepat ke dalam telapak tangan Fatima dengan anggunnya dan suara teriakan kembali terdengar.
Satu persatu, Hossein menangkap buah ara yang dimainkannya dan mengembalikannya ke mangkuk kecuali yang terakhir, yang digigit dan di makannya.
Tanpa berpikir, Fatima melakukan hal yang sama dengan buah yang dilemparkan oleh Hossein kepadanya. Jusnya yang manis menyembur ke dalam mulut Fatima, memenuhi lidah gadis itu dengan dagingnya yang lembut. Seketika Fatima menyukai buah ara.
***
***
Pertemanan Fatima dan Hossein datang layaknya air bah setelah itu.
Sebelumnya, Fatima melihat Hossein sebagai anak yang serius dan kaku. Tapi Kini Fatima sadar bahwa dibalik penampilan Hossein yang tenang, ada wajah lain yang penuh dengan kekonyolan.
Hossein senang ketika bisa membuat orang lain tertawa. Entah berapa kali anak laki-laki itu berusaha menangkap benda dengan mata tertutup saat istirahat, atau bertaruh bisa melompati meja dan kursi dengan teman-temannya. Dan ketika melihat Hossein tertawa dengan matanya yang menyipit, mau tidak mau Fatima juga jadi ingin ikut tertawa.
Hossein layaknya sebuah api di padang pasir, memanggil semua ngengat untuk berkumpul ketika menyala.
Tapi di antara permainan Hossein dengan teman-temannya, ia selalu duduk bersama Fatima ketika jam makan. Hossein akan menceritakan kebiasaan-kebiasaannya di rumah. Kedua adik laki-lakinya yang nakal. Ayahnya yang tegas tapi selalu bersikap adil. Ibunya yang pandai memasak dan penuh kasih sayang.
Awalnya Fatima hanya mendengarkan, tapi lama kelamaan lidah gadis itu mulai mencair dan Fatima pun mulai membuka diri. Ia bercerita tentang ayahnya, bagaimana pemarahnya pria itu. Ia bercerita tentang kedua adiknya, Shahira yang sering iri dan Khallid yang mengikutinya ke mana-mana. Ia bercerita tentang ibu kandung dan ibu tirinya. Ia bahkan menceritakan tentang apa saja yang dibayangkannya ketika melamun di antara pelajaran kelas. Cerita-cerita yang dikarangnya dan petualangan yang dialaminya di dalam kepala.
Awalnya Fatima mengira Hossein akan mengejek dan menganggapnya aneh, seperti yang dilakukan ayahnya. Tapi Hossein tidak melakukannya. Hingga suatu kali, Fatima akhirnya menanyakan pertanyaan yang sejak lama ingin ditanyakannya.
"Mengapa kau memilih berteman denganku?"
"Maksudnya?" Hossein balik bertanya dengan kepala memiring.
"Ada banyak murid di sekolah ini yang bersedia menjadi temanmu. Mengapa kau memilih untuk duduk denganku setiap makan siang?"
"Entahlah." Hossein mengedikkan bahu. "Kau tidak seperti dugaanku. Kau menarik."
"Menarik?"
"Ya." Hossein tidak menjelaskan lebih jauh meskipun Fatima berharap.
Fatima mengerutkan bibirnya. Jika ada orang yang menganggap ia menarik, maka Hossein adalah satu-satunya.
Berada di sekolah itu selama beberapa bulan, Fatima selalu kesulitan mengikuti pelajaran. Ibn Sani bahkan berkali-kali harus memberinya pelajaran tambahan agar tidak tertinggal semakin jauh. Penampilannya tentunya juga tidak bisa dibilang menarik. Di antara teman sebayanya ia paling tinggi. Kadang ia membungkukkan punggungnya hanya agar tidak terlihat terlalu mencolok. Apa yang dilakukan Fatima tidak berhasil tentunya. Teman-temannya kini malah memanggilnya 'Gadis Bungkuk'.
"Aku hanyalah gadis jelek yang bodoh, Hossein. Berteman denganku hanya akan membuat reputasimu jelek."
"Kau tidak bodoh," Hossein menjawab. "Dan reputasiku tidak akan terpengaruh hanya karena aku berteman denganmu."
Cara Hossein mengatakannya tidak terdengar angkuh atau sombong. Hanya jujur. Perlahan, Fatima akhirnya berhenti bertanya-tanya dan mencari ekor scorpion dari apa yang dilakukan Hossein.
Hossein berkata apa yang ada dalam benaknya dan heran ketika orang lain melakukan kebalikannya. Orang kadang menyamakan kepolosan bocah itu dengan kenaifan, tapi justru itulah yang membuat Hossein berbeda dengan kebanyakan.
Kadang di hari libur, Hossein mengajak Fatima bermain ke luar rumah. Kadang mereka jalan-jalan ke pasar yang ramai, kadang mereka duduk-duduk di bawah pohon palem sambil mengamati orang yang berlalu lalang.
Fatima akan menciptakan permainan untuk dimainkan bersama.
"Tebak apa yang aku lihat," ia akan bertanya.
Burung elang yang sedang lewat di atas kepala.
Salah satu tetangga mereka yang bermata juling.
Pedagang makanan yang sedang lewat.
Tidak ada kata bosan ketika Fatima bersama dengan Hossein.
***
Fatima duduk di lorong rumahnya suatu hari. Di tangannya terdapat sebuah buku, sebuah hadiah ulang tahunnya yang ke sebelas. Bukan dari ayahnya, pria itu tidak pernah memberinya apa-apa. Bukan juga dari ibu tirinya, wanita itu tidak pernah menganggapnya ada.
Hossein yang memberikan buku itu kepada Fatima.
Benda itu sangat indah di mata Fatima, berjilid dari kulit yang di cat dengan warna ungu dan halus ketika dipegang. Di sampulnya tertulis: Dongeng 1001 Malam.
Baru saja Fatima membuka sampul buku itu, Shahira muncul.
Adik tirinya itu kini berusia enam tahun. Tinggi untuk anak seusianya dan cantik. Mata lebar Shahira membesar melihat buku di tangan Fatma. Gadis itu menjulurkan tangannya.
"Sini, aku mau lihat."
"Tidak boleh."
Fatima mendekap bukunya, tidak ingin Shahira merebut. Adik tirinya itu memang kerap iri dengan benda apapun yang dimiliki Fatima dan sering bersikap semena-mena. Shahira melakukannya karena ia tahu ayah mereka pasti akan membela.
"Aku ingin buku itu." Shahira bahkan tidak perlu mengancam Fatma.
"Tidak."
Shahira melangkah maju. "Berikan padaku."
"Buku ini milikku," Fatima membalas dengan gigi mengerat layaknya seekor kucing yang mempertahankan ikan asin.
Shahira ingin meraih buku itu, tapi Fatima berdiri dan mendorong. Shahira yang lebih pendek terhuyung ke belakang dan semakin marah.
"Hei! Berani-beraninya kau mendorongku," Shahira menjerit ke arah kakak tirinya dan menyerang maju dengan wajah merah.
Secara refleks, Fatima melompat mundur.
Shahira tersenyum mengejek melihatnya.
"Cih! Dasar penakut," bocah itu mendecih.
"Siapa bilang? Aku tidak takut kepadamu." Suara Fatima melengking tinggi sementara wajahnya memanas.
"Baba mengatakan bahwa kau adalah gadis bodoh." Kata-kata Shahira yang penuh ejekan diucapkan oleh gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.
"Tidak mungkin Baba berkata seperti itu," Fatima menyangkal meski ia tahu Saheer sering melakukannya.
Shahira mendekat dan mendelik.
"Apakah kau mengataiku pembohong, Fatima Bodoh Yang Bungkuk?"
Fatima tahu apa yang dilakukan Shahira. Gadis itu sengaja ingin ia menyerang duluan. Fatima sudah bisa membayangkan apa yang dikatakan oleh ayahnya jika ia memulai perkelahian dengan Shahira.
Gadis bodoh! Minta maaf pada Shahira atau aku akan melecutmu!
Fatima mengeratkan rahangnya menahan mulutnya untuk membalas, tapi ketika Shahira menyambar buku di tangannya, Fatima kehilangan kesabaran. Ia mendorong Shahira sekeras mungkin hingga gadis itu terjatuh. Dahi Shahira membentur dinding rumah yang terbuat dari batu.
Shahira meraba kepalanya dan membelalak ketika melihat sedikit darah mengalir keluar.
Sementara Fatima mengamati dengan tenggorokan tercekik, Shahira berdiri dan berlarian sambil menangis dan menjerit.
Matilah ia, Fatima berpikir.
Benar saja, tak lama terdengar suara teriakan Saheer yang memanggilnya.
Lemas dan pucat, dengan buku pemberian Hossein erat dalam pelukan, Fatima menatap wajah ayahnya yang marah. Bibir pria itu tertarik ke samping, menampakkan giginya yang kuning.
"Mengapa kau mendorong Shahira, Fatima?" Saheer bertanya dengan wajah merah padam sambil memeluk Shahira yang menangis.
"I-ia yang memulai, Baba. Shahira merebut buku yang diberikan oleh Hossein kepadaku."
"Bohong!" Shahira menyela. Wajah gadis itu penuh air mata. Dahinya yang terbentur masih sudah tidak lagi berdarah tapi masih terlihat memerah.
"Aku hanya ingin meminjam, Baba." Shahira kembali menangis, membuat suaranya menjadi terputus-putus. "T-tapi Fatima tidak mau me-membagi. Me-me-mengapa ia selalu jahat kepadaku, Baba."
Shahira kembali memeluk ayahnya dan menangis tersedu-sendu.
"Berikan buku itu kepada Shahira, Fatima!" Saheer membentak.
"Tapi, Baba—"
Saheer membelalakkan matanya penuh ancaman.
Fatima membeku, tertangkap antara kemarahannya kepada Shahira dan ketakutannya akan ayahnya. Rasa takut pada ayahnya menang.
Sambil menggigit bibirnya sendiri agar tidak menangis, Fatima menyerahkan buku pemberian Hossein kepada adiknya.
Tidak selesai sampai di sana, ayahnya melecut Fatima sepuluh kali karena sudah berani melukai Sang Putri kesayangan.
Keesokan paginya di sekolah, dengan pantat panas bekas lecutan dan wajah cemberut, Fatima menceritakan apa yang terjadi kepada Hossein.
"Maaf kau harus mengalami hal tidak adil seperti itu, Fatima," Hossein berkomentar ketika Fatima selesai bercerita.
Kini sama-sama sebelas tahun, meski masih lebih pendek dari Fatima, tapi wajah Hossein tidak lagi terlihat kekanak-kanakan, melainkan penuh dengan kebajikan seperti ayahnya.
"Apakah kau tidak apa-apa?" Hossein bertanya.
"Ya, hanya kesal."
Hossein mengangguk seakan mengerti. "Akupun juga akan kesal jika berada di posisimu."
Fatima ikut mengangguk. Kini keduanya terlihat layaknya dua anak burung yang menggerakkan kepala.
"Lupakan soal buku itu," Hossein berkata setelah beberapa saat kesunyian. "Bagaimana kalau kau membantuku bermain bola?"
"Aku tidak tahu caranya."
"Kau tidak perlu tahu. Aku akan menunjukkan padamu."
Fatima ingin menolak. Ia tidak ahli bermain bola seperti Hossein. Ia tidak ingin terlihat bodoh di depan temannya. Tapi wajah Hossein yang penuh harapan membuat Fatima akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
"Berapa yang bisa kau pegang?"
"Entahlah."
Hossein meraih tangan Fatima dan berkata, "Lebarkan telapak tanganmu."
Fatima melakukan permintaan Hossein. Temannya itu melekatkan telapak tangannya ke atas milik Fatima dan mendadak detak jantung Fatima terasa semakin cepat. Kulit Hossein terasa lembut dan berpasir. Jemarinya yang empuk melekat hangat di telapak Fatima.
"Hampir sama lebar. Mungkin akan lebih mudah jika kau mulai dengan dua bola." Hossein meraih ke dalam tasnya dan mengeluarkan enam bola berlapis kulit yang sering digunakannya untuk bermain dan menyerahkan dua kepada Fatima.
"Ketika aku suruh, lempar satu padaku," Hossein berkata. "Apakah kau mengerti?"
Biasanya, Fatima akan jengkel ketika seseorang memberinya perintah. Tapi ketika Hossein yang mengatakannya, kata-kata temannya itu tidak terdengar seperti perintah. Fatima pun mengangguk.
Hossein mulai memutar empat bola di tangannya seperti yang ia lakukan dengan buah ara di ruang makan ketika itu.
"Sekarang," Hossein berkata.
Fatima melemparkan satu bola dari tangannya menuju Hossein. Temannya itu menangkap dan dengan mulusnya dan menambahkannya ke dalam putaran bola-bola di tangan.
"Lagi, Fatima," Hossein berkata.
Fatima melemparkan lagi satu bola di tangannya dan seperti sebelumnya, bergabung dengan yang lain dengan mulusnya.
"Kau melakukannya dengan sangat baik, Fatima," Hossein memuji.
Fatima mengernyitkan dahinya bertanya-tanya apakah temannya itu mengejek. Tapi wajah Hossein yang tulus membuat Fatima tersipu malu.
"Tangkap."
Sebuah bola melayang kembali ke arah Fatima.
Fatima menangkap bola yang dilemparkan Hossein dengan mudahnya. Mereka berdua tertawa satu sama lain setiap Hossein meminta atau melemparkan bola ke arah Fatima. Setelah beberapa saat, Hossein berhenti dan mengumpulkan bola-bola itu kembali ke dalam tas.
"Pelajaran sudah mau dimulai, sebaiknya kita masuk sebelum ayah marah," Hossein berkata.
Dengan perasaan ringan, Fatima ikut berdiri dan berjalan mengikuti Hossein.
Bagi Fatima saat itu, tidak ada kata sedih ketika ia bersama Hossein.
***
***
bersambung