Pria tampan dengan tinggi 188 centimeter sedang berjalan mendekati seorang perempuan cantik yang tengah berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan penuh amarah. Tangannya yang begitu mungil terkepal erat, seperti tengah menahan emosi yang ingin ia lampiaskan. Pria tersebut menghentikan langkahnya dengan ragu.
Perempuan yang masih menahan amarah mendekatkan diri kepada pria tidak punya hati yang sedang berdiri di hadapannya. Jarak diantara keduanya semakin terkikis. Perempuan itu akhirnya membuka suara, “Lalu, kali ini kau datang dengan semua jawaban yang aku nantikan?”
“Hm.”
Hanya deham dan anggukan yang menjadi jawaban dari pertanyaan perempuan cantik di hadapannya.
Bibir tipis berwarna pink seketika bertaut, menahan emosi yang akan keluar dari mulutnya. Perempuan tersebut perlahan menggenggam ujung pakaiannya.
“Jawaban yang akan mengakhiri semuanya?”
Teriakan pedih diiringi dengan rintik hujan, jeritan hatinya kini tersampaikan. Deras hujan menyapu dedaunan kering, begitu pula dengan air mata perempuan terkasihnya.
“Hm.”
Lagi-lagi hanya dehaman yang terucap darinya. Tangan perempuan di hadapannya terangkat, siap untuk menampar dia yang hanya berdeham tanpa mau memberikan alasan.
Dia tahu kekasihnya itu akan menampar dirinya. Namun, dia terdiam. Menerima tamparan yang tidak berbekas di pipi, melaikan perasaannya.
“Bukankah kau tahu jelas bahwa aku sangat mencintaimu, Nam Jun? Lalu, untuk apa kau kembali dan menyadarkanku bahwa semua ini salah? Bahwa semua ini tidak seharusnya terjadi!” teriaknya.
Dengan tubuh yang begitu menggigil kedinginan, perempuan tersebut menarik kemeja Nam Jun dan memukul dadanya berkali-kali. Berharap semua yang terlihat di depannya itu hanya ilusi semata. Berharap semua kenangan itu hanyalah bagian dari mimpi buruknya. Juga berharap kalau memang semua ini mimpi, maka ia ingin segera terbangun sekarang juga.
Nam Jun masih terdiam, tidak mengatakan sepatah kata apapun. Ekspresi wajahnya begitu menyedihkan hingga perempuannya saja tidak ingin menatap wajahnya.
“Kenapa kau harus kembali saat semua yang aku lewati sudah berlalu begitu saja? Kenapa kau datang denggan jawaban yang tidak ingin aku dengar? Kenapa kau mendekat sementara aku ingin kau pergi?!” teriaknya penuh kekecewaan.
Perempuan itu melanjutkan ucapannya, “Lalu... mengapa sekarang kau hadir dengan jawaban yang begitu pedih? Pergilah... PERGI!”
Tangannya melemah, tidak lagi memukul Nam Jun dengan sekuat tenaga. Dirinya lebih mendekatkan diri, mengikis jarak yang tersisa dan bersandar pada dada Nam Jun. Air matanya lagi-lagi tersapu oleh derasnya hujan.
Perlahan wajah perempuan itu menengadah, melihat Nam Jun yang sudah sangat pucat. Dia tahu betul kalau Nam Jun tidak suka hujan karena kondisi fisiknya yang kurang bisa beradaptasi dengan suhu dingin.
Namun, perempuan itu begitu egois. Untuk dirinya dan perasaannya yang kini tak terbendung.
“Kau hanya masa lalu. Kau tidak seharusnya berada di sini,” ucapnya lemah sebelum kedua parunya mendapat pasokan oksigen untuk berteriak melebihi bisingnya rintikan hujan.
“KARNA KAU SUDAH MATI, NAM—”
Kedua kelopak mata perempuan tersebut terbelalak, debaran jantungnya terdengar keras memenuhi telinganya. Lalu, bibir mereka saling bertaut. Kini perasaannya lega. Jawaban yang dulu sangat dia nanti agar Nam Jun pergi dari hidupnya kini berubah. Berubah menjadi lebih dari yang dia inginkan.
Curah hujan yang terus turun seperti hujaman jarum kini menjadi lembut seperti kelopak bunga sakura. Langit yang begitu kelam sekarang seperti sedang tersenyum kecut dengan fakta yang saling mereka sangkal.
Keberadaan yang ‘tak sepantasnya ada, juga perasaan yang seharusnya sudah lenyap bersama dengan angan yang kini kembali hidup.
“CUT! Kerja bagus, semuanya!”
Suara lantang Produser membuat para crew berlarian, meneduh juga membawa kedua pemeran utama yang sudah membuat dramanya semakin melejit di dunia perfilman.
***
“Kali ini bangkit dari kubur, Minho? Peran selanjutnya tentang Zombie, ya? Bukannya terlalu mirip dengan Drama tadi?” tanya Kim Dae Ssik, Manajer sekaligus seniornya saat debut dulu.
“Bebeda, Hyung. Drama kali ini hanya Drama Laga. Bukan kisah cinta seperti tadi,” balas Minho seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Sama saja mati, Minho!” Dae Ssik berseru.
Kerutan dahi Minho terlihat jelas, dia melirik tajam ke arah Dae Ssik yang sibuk sekali membolak-balikkan kertas naskah miliknya. Seperti sedang membaca dengan rinci isi percakapan dan aksi yang akan Minho lakukan.
“Beda, Hyung. Drama Cinta penuh tragedi dengan Drama Laga penuh darah adalah dua hal yang bersinggungan. Enggak bisa di samakan.”
“Tetap saja sama-sama mati dan hidup kembali. Yang satu berakhir bahagia dan yang satu berakhir dengan buruk. Dan lagi, kenapa belakangan ini banyak sekali Drama yang kau bintangi? Yerin! Kemari!” teriak Dae Ssik memanggil Asistennya, sedangkan tangannya sibuk dengan naskah milik Minho. Memantau hal apa saja yang akan membuat Minho kesusahan kedepannya.
“Noona izin hari ini. Bukannya Hyung sendiri yang bilang kalau Noona sakit?” gumam Minho tidak ingin mengganggu celotehan Dae Ssik yang terus memanggil nama Yerin.
Dengan langkah lebar, dia keluar dari ruangannya dan menyapa beberapa crew yang sudah menemaninya selama setahu penuh. Suka dan duka sudah saling terbagi dalam menyelesaikan Drama Romansa ini. Bagai asing yang menjadi keluarga. Semuanya begitu ramah kepada Minho, bahkan menganggap Minho sendiri sebagai anak, kakak, serta adik.
“Terima kasih atas kerja samanya,” ucap Minho tiba-tiba seraya membungkukkan badan.
Para crew, penata rias, aktor, dan aktris semuanya berdiri dan menjawab ucapan Minho bersamaan. Senyum lebar terpampang jelas pada wajahnya.
Lalu, seorang penata rias mendatangi Min Ho dengan buket bunga mawar ditangannya beserta amplop surat yang diselipkan di dalam buket bunga tersebut. Dengan senang hati Min Ho menerima bunga tersebut dan berterima kasih. Dibawanya bunga itu menuju ruangannya lalu membaca surat dari penggemarnya.
To my future husband, Min Ho.
From your future wife, Mrs. Kang.
I’m really enjoy your concert, I’m so happy to meet you in the backstage, last year. Maybe you don’t remember me but I’m really excited to meet you. I hope you’ll be my husband and always be happy no matter what happens to you.
Surat yang sedang Min Ho baca tiba-tiba melayang akibat kecerobohannya yang tersandung kaki Dae Ssik. Dengan cepat dia berusaha mengambil suratnya tetapi Dae Ssik lebih cepat dari tangannya.
“Like what we said, we love you, Min Ho. Ha-ha, ya ampun. Fans-mu masih setia padamu? Sudah lama sekali sejak konser terakhirmu dan mereka masih sering mengirimu hadiah. Bikin iri saja!” ejek Dae Ssik lalu melemparkan surat yang dia rebut kepada Min Ho.
Pipinya merona karena Dae Ssik membacakan point terakhir dari surat tersebut, sudah sering kali dia mendengar ucapan itu, tetapi mendengar kata-kata romantis keluar dari mulut orang terdekatnya membuat dia malu setengah mati.
“Jangan sembarang membaca surat-suratku, Hyung. Tidak sopan!” seru Min Ho dengan wajah merona.
Dae Ssik hanya tertawa menanggapi ucapan juniornya dulu.
“Sudah berapa kali kubilang, bawa anak itu pergi dari sini. Membuat susah saja. Menghidupi kita sendiri saja sudah sangat sulit dan kau malah membawa masalah lebih besar lagi ke rumah ini!”
Suara nyaring wanita paruh baya terdengar sampai ruang tengah, posisi mereka yang sedang berada di meja makan tidak menyadari sama sekali kehadiran gadis muda yang baru saja pulang dari sekolahnya. Dengan perlahan dia berjalan tanpa memperdulikan omongan mereka yang sangat melukai perasaannya.
“Lalu siapa lagi kalau bukan kita? Dia masih sekolah, setidaknya tunggu hingga dia lulus!” teriak seorang pria yang sangat Raelyn kenal, adik dari ibunya.
“Itu urusanmu, jika sampai minggu depan dia masih ada di sini, maka aku saja yang pergi!”
Istri Pamannya itu berjalan mendekatinya, langkahnya sempat terhenti karena menyadari kehadiran Raelyn. Dia menatapnya dingin dan berlalu begitu saja, Pamannya melihat Raelyn dengan kaget lalu menghampirinya.
“Raelyn? Kemarilah, maafkan Tantemu, ya. Kita tidak bermaksud—”
“Hm, tidak apa, Paman. Rael paham.” Raelyn berjalan begitu saja setelah memotong ucapan Pamannya.
Dengan posisi yang sangat canggung, Pamannya membiarkan Raelyn pergi. Dia mengerti bahwa Raelyn butuh waktu, baru saja minggu ketiga sejak dia datang ke mari. Pasti melelahkan terus berpindah dari saudara satu menuju saudara lainnya.
“Hah...,” desah Raelyn penuh dengan penekanan.
“Delapan belas,” lirihnya tanpa tenaga.
Dilepasnya baju yang sudah mulai lusuh, dia berdiam sesaat setelah mengganti pakaiannya. Menatap sendu jendela yang sudah tertutup tirai lalu merebahkan badannya dengan perlahan. Kedua tangannya menutup seluruh bagian wajahnya dengan erat, lalu matanya terbuka, hanya cahaya-cahaya kecil yang keluar dari celah tangannya.
Perlahan tangannya menyingkir, membuat pandangannya terfokus pada langit kamar. Dia mengusap matanya perlahan, pandangannya memburam, dia kembali mengusap matanya lagi. Hal seperti itu terus terulang hingga ia mulai lelah untuk menyeka air mata yang terus menggenangi penglihatannya.
***
Min Ho melangkah dengan perlahan menuju Dae Ssik, pria yang hanya berbeda empat tahun darinya itu sedang sibuk mengatur jadwal Min Ho yang mulai padat kembali. Dengan amat hati-hati Min Ho terdiam di belakang Dae Ssik tanpa mengeluarkan suara apapun, hingga ia menahan napas agar Dae Ssik tidak menyadari kehadirannya.
“Sedang apa kau di sana, Minho? Segera hapus make up mengerikanmu,” ujar Dae Ssik datar.
Min Ho hanya bisa menatap Dae Ssik dengan datar, begitu bodohnya dia. Terlihat dengan jelas pantulan dirinya dan Dae Ssik di depan cermin. Saking semangatnya ingin menjahili Dae Ssik, Min Ho sampai lupa kalau ruangannya memiliki kaca yang sangat besar hingga seluruh sudut ruangan bisa terlihat dengan jelas.
“Hm.”
Min Ho berbalik dan berlalu menghampiri penata riasnya untuk segera menghapus make up Zombie diwajahnya.
Dae Ssik hanya melirik kepergian Min Ho dari kaca di depannya, dia kembali membuka artikel yang sempat menggemparkan nama baik Min Ho beberapa tahun ke belakang. Di saat dirinya mulai melejit, di saat dirinya mulai mengenal banyak orang. Dan di saat dia mulai mengerti bagaimana cara kerja dunia ini.
“Menyusahkan sekali.”
***
Ruangan 7x7 menyambut kedatangan Raelyn, dia melihat banyak sekali orang dengan jas lab sedang meneliti sesuatu di ruangan yang terbilang kecil untuk sebuah penelitian besar-besaran terhadap virus yang masih belum diketahui penanganannya. Seorang pria mulai menyadari kedatangan Raelyn dan melepaskan jasnya lalu mendatani Raelyn dengan wajah cerianya.
“Duduklah, ingin minum apa? Biar kubelikan. Kopi? Jus? Atau teh? Jus saja, ya? Perjalan dari rumahmu ke mari sangatlah jauh, pasti melelahkan. Jangan menolak dan minumlah.”
Pria itu terus menyeloteh tanpa henti, Raelyn hanya menatap datar dia yang terus bercerita banyak hal. Di mulai dari penelitiannya sampai masalah pribadinya.
“Dan aku baru sadar kalau semua itu hanya mimpi, kaget sekali saat aku terbangun di kamarku sendiri. Hal mengerikan itu masih membuatku ngeri. Ah, aku lupa menanyakan hal ini. Bagaimana sekolahmu? Lalu kenapa kamu jauh-jauh datang ke mari? Kamu sudah izin kepada Ibumu, bukan?”
Ceritanya yang sangat panjang lebar itu akhirnya selesai dengan sebuah pertanyaan yang enggan untuk Raelyn jawab. Pertanyaan sensitif yang tidak pernah pria itu sadari jika pertanyaan itu begitu menyakiti perasaan Raelyn.
Pria itu mengulurkan tangannya, dia mengecek suhu tubuh Raelyn lalu bertanya kembali, “Wajahmu pucat, kamu sakit? Ada apa, Rael? Tumben sekali kamu datang secepat ini. Ada masalah dengan keluargamu lagi?”
“Lucien.”
Tangan Lucien yang masih menempel didahi Raelyn ditepis dengan kasar. Lucien sendiri dibuat kaget lalu menyadari betapa salahnya dia menanyakan perihal keluarganya. Raelyn berdiri tepat di samping Lucien dengan tatapan sendu.
“Kapan terakhir kali aku ke mari?” tanyanya dengan datar.
Lucien menatap gadis itu dengan bingung, dia ikut berdiri dan menghadap kearah Raelyn. Tangannya memegang kedua pundak Raelyn dengan perlahan, dia menatap wajah Raelyn yang sangat muram dibanding dengan terakhir kali dia bertemu.
“Lima bulan yang lalu, ada apa?” tanya Lucien.
Dia menunggu jawaban dari Raelyn. Namun, gadis itu sama sekali tidak berbicara. Tak sengaja ia menatap jam tangannya, jam sudah menujukkan pukul delapan malam, dia kaget karena tidak menyadari waktu.
“Aku antar pulang, perjalanan menuju rumahmu akan memakan waktu yang sangat lama. Akan aku pesankan tiket yang paling pagi, kamu bisa tidur di rumahku selama menunggu jam penerbanganmu, akan kubangunkan nanti. Aku akan mampir ke toko kue kesukaan Ibumu, dia pasti akan menyu— ”
Raelyn tiba-tiba menyentuh lengan Lucien. “Ada apa? Kamu tidak ingin pulang?” tanyanya dengan khawatir.
Raelyn menghentikan langkahnya saat Lucien membahas perihal Ibunya. Pria itu tidak pernah mengerti, mulutnya selalu menyakiti perasaan Raelyn. “Enam tahun.”
“Hah?” tanya Lucien sedikit kebingungan. Lucien mencoba mencerna ucapan Raelyn.
“Sudah enam tahun berlalu sejak aku kemari,” ucapnya, datar. Raelyn menarik napas dengan perlahan, sulit sekali untuk melanjutkan apa yang terjadi selama enam tahun itu.
“Ha-ha, sudah enam tahun, ya? Pantas saja kamu berbeda sekali, semakin dewasa. Kalau begitu menginap saja di rumahku, tak terasa aku sudah menghabiskan banyak waktu di ruangan tertutup ini. Aku akan mengambil cuti dan mengajakmu menikmati pemandangan di sini. Akan kuhubungi Ibumu, tunggulah di sini. Sebentar lagi waktu kerjaku selesai.”
“Lucien....”
“Kenapa, Rael? Tunggulah sebenta—”
Langkahnya terhenti, kemejanya menyakut pada sesuatu. Dia memegang tangan Raelyn yang berusaha menahan kepergian Lucien, tangannya begitu gemetar, wajahnya juga semakin sendu.
“Jangan hubungi dia.”
Lucien tersenyum lebar, dia mengusap kepala Raelyn dengan lembut dan berlalu menuju ruangannya kembali. Raelyn menundukkan kepalanya dan menyeka air mata yang akan keluar dari matanya. Dia harap, Lucien tidak melihat wajahnya sekarang.
“Tidak baik, lho, terlalu sering merokok seperti itu,” ucap seorang wanita dari belakang Min Ho.
Min Ho tersedak dengan asap rokok yang dia hisap, kedatangan Yerin begitu tiba-tiba hingga membuatnya kaget.
“Noona! Sedang apa di sini? Bukannya Noona masih sakit?” tanya Min Ho.
“Aku cuman sakit flu, Min Ho. Bukan patah tulang, lagipula sedang apa kau sendiri di sini? Aku yakin alasannya bukan karna tidak ingin Oppa tahu kalau kau masih sering merokok, bukan?” goda Yerin.
Min Ho membuang rokok dan menginjaknya dengan sepatu, dia berbalik, menyandarkan punggungnya kepada tembok pembatas lalu menatap langit. Angin yang terkadang kencang itu menerbangkan beberapa lembar daun kering hingga berserakan ke mana-mana. Yerin masih menunggu Min Ho mengatakan sesuatu.
“Hanya ingin menghirup udara segar, di dalam terlalu banyak orang, terlalu banyak pertanyaan, jadi lebih baik aku diam di sini. Lalu, kenapa Noona ke mari? Sudah aku duga, kalau Noona memang mempunyai perasaan kepadaku. Hati-hati, lho. Hyung bisa saja membunuhku,” Min Ho membalas godaan dari Yerin tadi.
Yerin tersenyum mendengar ucapan dari Min Ho, dia merangkul bahu Min Ho dan berbisik ditelinganya. “Wah, aku memang benar menyukaimu, Min Ho. Kalau saja kau lebih tampan dan dewasa dari Oppa, mungkin aku sudah mengencanimu.”
Wajah Min Ho memerah, dia tahu jika dia tertolak, tapi ucapan Yerin membuat jantungnya berdebar. “Kalau memang Hyung lebih tampan dariku, kenapa tidak dia saja yang debut? Tandanya aku memang lebih tampan dan berbakat dari dia, bukan?”
Min Ho terkekeh setelah berucap. Yerin yang sedang menikmati pemandangan mobil dijalanan tiba-tiba terdiam tanpa kata. Tak lama kemudian dia meninggalkan Min Ho dengan alasan Dae Ssik yang membutuhkan Yerin.
Matanya menatap datar kepergian Yerin lalu bergumam, “Menjijikan sekali.” Setelah itu Min Ho menyusul Yerin dengan senyuman cerianya.
***
“Kamu ingat toko buku yang sering kita kunjungi saat kamu ke mari? Sekarang toko itu sudah berubah menjadi cafe, ingin mampir?” tanya Lucien dengan sangat ceria.
Raelyn hanya mengangguk seraya tersenyum tipis. Dengan segera Lucien menancapkan gasnya menuju toko buku yang sudah berubah menjadi cafe beberapa tahun lalu. Dan Raelyn sudah tahu. Karena cafe baru itu adalah tempat favoritnya ketika dia sedang sedih.
Dalam perjalanan, Lucien terus bercerita ini-itu tanpa henti, Raelyn hanya membalas ceritanya dengan dehaman saja. Ia tidak ingin tahu semua hal yang terjadi pada Lucien. Karena jika sekali dia bertanya maka akan ada banyak pertanyaan yang dilontarkan kembali oleh Lucien.
“Turun lah lalu pesan sesuatu, aku akan segera kembali. Jangan pergi sampai aku kembali, pesankan sesuatu juga untukku.”
Setelah mengatakan hal itu, dia langsung pergi entah ke mana. Raelyn masuk ke dalam cafe dan memesan minuman untuknya dan Lucien. Salah satu pelayan di sana menyapa Raelyn dengan lembut, dia hanya membalas dengan senyuman tipis lalu berlalu menuju meja kesukaannya.
Tak lama kemudian Lucien datang dengan coklat kesukaannya, Raelyn tahu bahwa coklat yang Lucien bawa adalah coklat yang sama sekali tidak ingin Lucien bagikan kepada siapapun termasuk Raelyn sendiri. Tapi bukan Raelyn namanya kalau tidak bisa mencuri dua atau tiga buah coklat favorit Lucien.
“Makanlah, tumben sekali kamu tidak mencuri coklatku. Jangan sungkan seperti itu, kita sudah kenal dari kecil,” cibir Lucien.
Raelyn tetap menatap datar Lucien, “Berlagak seperti orang dewasa kau, Lucien.”
Mata Lucien terbelalak mendengar ucapan tajam dari mulut Raelyn, sangat tidak disangka gadis kecil yang begitu menggemaskan kini memiliki ucapan yang sangat menohok. Raelyn hanya tersenyum simpul seraya memakan coklat milik Lucien.
“Kamu lebih muda tiga tahun dariku, wajar saja aku berlagak dewasa. Dan akhirnya tetap kamu makan juga coklatnya. Jadi, sekarang siapa pria yang sedang mengencanimu?”
Pertanyaan itu membuat Raelyn tersedak, pemikiran apa yang terlintas diotaknya hingga menanyakan hal seperti itu. “Kamu sedang patah hati, kan, Rael? Karena itu kamu datang jauh-jauh ke mari untuk melupakan pria itu. Benar, kan? Hah... kamu pasti tidak meminta izin dari Ibumu lagi kan? Lagi-lagi aku akan terkena—”
Brak!
“Rael?”
Seluruh pengunjung dan para pelayan terkejut dengan suara keras dari pojok ruangan. Raelyn baru saja memukul meja dengan kencang. Lucien terkejut dan segera meminta maaf kepada semuanya lalu menghampiri Raelyn.
Tangan Lucien ditepis dengan keras saat dia berusaha memegang bahu Raelyn, semuanya menatap ke arah meja mereka. Banyak sekali bisikan juga kamera yang mengabadikan aksi mereka berdua. Lucien kembali mencoba mendekati Raelyn, tetapi Raelyn mendorongnya dan segera berlari keluar cafe.
Lucien mencoba memanggilnya, tetapi Raelyn tidak berbalik dan terus berlari. Dia segera membayar dan menyusul Raelyn, Lucien takut gadis itu tersesat karena lingkungan yang tidak begitu Raelyn kenal.
***
Min Ho terduduk lemas dengan keringat yang sudah membasahi pakaiannya, sudah lama sekali dia tidak melatih gerakannya, banyak sekali koreo yang dia lewatkan hingga membuat pelatihnya berkali-kali membenarkan gerakan Min Ho. Karena situasi dunia yang sedang tidak baik ini membuat Min Ho harus menunda banyak konser, dia merasa sedikit bebas, tapi tidak dengan Dae Ssik.
Dia selalu berdebat dengan Min Ho karena banyak sekali tawaran drama yang memintanya untuk menjadi pemeran utama. Min Ho tidak mempermasalahkan hal itu, hanya saja Dae Ssik tidak terlalu suka dengan hal-hal seperti itu. Akan banyak sekali isu yang akan timbul setelah mereka menyelesaikan tawaran tersebut dan Dae Ssik mulai lelah mengkonfirmasi semuanya kepada para jurnalis bahwa isu-isu tersebut tidaklah benar.
“Hyung!”
Min Ho menjerit karena pipinya terkena botol berisi air dingin, “Minumlah.”
Dengan cepat Min Ho meminum air mineral itu dan berterimakasih kepada Dae Ssik. Pria yang tak kalah tampan dari Min Ho itu tersenyum memperhatikan Min Ho yang sedang minum dengan sekali tegukan.
“Ada apa, Hyung?”
Pertanyaan itu membuat senyuman Dae Ssik memudar, ternyata Min Ho menyadari sesuatu yang salah dari Dae Ssik.
“Aku ingin membahas jadwal pemotretanmu, sebelum itu besok sore akan ada konfrensi pers dari salah satu member Juicy Girls yang menjadi kekasihmu di drama kemarin.”
“Yoon Ra, ya? Benar-benar menyusahkan, aku harap dia tidak memanipulasi pernyataannya.”
Min Ho berdiri, membuka kausnya lalu berlalu begitu saja. Dae Ssik mengerti perasaan yang dialami Min Ho, tidak pernah ada yang tahu kalau mereka berdua sempat berpacaran, kejadian itu sudah sangat lama, bahkan saat mereka belum mengenal dunia entertaiment.
Tapi informasi yang sulit dikonfirmasi itu malah bocor saat Min Ho mulai mendunia, sudah bertahun-tahun isu yang tidak jelas itu tak terselesaikan. Min Ho maupun Yoon Ra tidak pernah turun tangan untuk mengonfirmasi apapun, hingga berita konferensi pers yang dilakukan Yoon Ra mendapat banyak sorotan dari publik.