"Dasar anak tidak tahu diri, berani sekali kau tidur dengan pria lain besok adalah hari pernikahanmu! Sungguh memalukan!" ucap wanita paruh baya dengan luapan emosinya.
Gadis itu hanya diam membisu ia paham betul bagaimana adegan tadi malam yang begitu menjijikan, jika ia mengingatnya kembali tak lama datanglah seorang gadis yang seumuran dengannya lalu menghampirinya.
"Oh adik, ada apa denganmu? Lihatlah ada begitu banyak tanda di lehermu, kau tidur dimana semalam," ucapnya dengan menyibakkan rambut yang menutup lehernya.
Tentu saja wanita paruh baya itu murka lalu ia pun menamparnya dan menyuruhnya untuk pergi, karena dialah penyebab semua dari masalah ini.
"Ayah, kau percaya padaku 'kan jika aku di jebak oleh wanita tua itu dan juga rubah licik itu ayah, aku mohon percayalah!" memohon kepada sang ayah.
Tetapi bukan mendapatkan perlindungan ia justru mendapatkan perlakuan yang sama seperti di lakukan oleh ibu tirinya. Rasa panas di kedua pipinya begitu cepat menyebar, ia memegangi pipinya dengan menggeleng kecil karena sang ayah tidak mempercayainya.
"Enyah kau dari hadapanku, aku tidak sudi mempunyai anak sepertimu,"
"Ayah, percayalah padaku jika mereka menjebakku,"
Lalu sang kakak tiri menghampirinya dengan tersenyum tipis, karena satu langkah ia sudah dapatkan demi menyakiti anak kandungnya ia rela melakukan apapun.
"Adik sudahlah, bukti sudah di depan mata jadi kau jangan mengelak lagi,"
Dia pun mendorong kakak tirinya dan penuh emosi, ia memarahi sang kakak yang tidak bertanggung jawab atas kejadian semalam.
"Hentikan sandiwaramu, kau yang sudah menjebakku dengan mengajakku ke bar. Kau penyebabnya!" menujuk ke arah kakak tirinya.
Wanita paruh baya itu pun membela sang anaknya, ia mengatakan jika anaknya ada di kamarnya dan ia tidak pergi kemanpun. Sang ayah langsung percaya begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan dari anaknya.
"Cukup Valen, kau yang berbohong! Kakakmu semalam ada di kamarnya ia bahkan menangis karena kau akan menikah," ucap pria paruh baya itu.
Valen menggelengkan kepalanya karena otak sang ayah sudah di cuci oleh kedua orang itu, jadi apa yang di katakan Valen pun tidak akan di percaya. Dengan senyum tipisnya ibu dan anak itu merasa puas karena bisa mengusirnya, tanpa harus mengotori tangannya.
Saat sedang berdebat lalu ada keluarga dari calon pria, karena ia akan membatalkan pernikahan mereka. Lalu akan di nikahkan dengan sang kakak.
"Valen, pernikahan ini di batalkan karena kau tidak bisa menjaga kesucianmu. Aku kecewa padaku Valen," ucap dengan santai tanpa ada rasa sedih di hatinya.
"Dipa, tolong jangan batalkan pernikahan ini, besok kita akan menikah," memegang lengan Dipa.
Dipa langsung menghempaskan tangan Valen hingga ia tersukur ke lantai, semua orang hanya menontonnya saja tidak ada yang mau membantu Valen bahkan mereka tidak memiliki rasa iba sedikitpun untuknya.
Mata Valen hanya bisa mengeluarkan bulir bening karena tidak ada satupun yang percaya kepadanya, bahkan calon tunangannya begitu tidak perduli dengan keadaannya saat ini.
Lalu kedua wanita paruh baya itu pun menceritakan tentang Valen dan membatalkan pernikahannya dan di gantikan oleh sang kakak, mendengar hal itu membuat Valen kesal dan geram lalu ia pun bangun dan ingin menampar Carla. Tetapi tangannya di tahan oleh calon tunangannya lalu di hempaskan lagi tangan Valen,
"Berani kau menyentuhnya, dia adalah calon istriku lebih baik kau segera menjauh," ucapnya dengan dingin.
"Bajingan seperti kau memang pantas bersama rubah licik ini, baiklah jika itu maumu. Aku akan memberikannya kepadamu rubah licik," dengan tersenyum miring.
Dipa pun menjambak rambut Valen dan membuatnya kesakitan, tetapi Valen tidak akan menyerah begitu saja karena terlalu sakit mendengarnya.
"Kau bilang aku bajingan hah! Lalu kau apa, kau bahkan tega mengkhianatiku,"
Wanita paruh baya itu segera melerainya, karena tidak akan ada habisnya jika terus membahas masalah itu. Lalu Valen di bawa keluar bersamaan dengan barang miliknya, lalu ia segera mengambil koper miliknya dan membukanya karena ada barang berharga baginya.
"Dimana foto ibuku, Carla!" ucap Valen dengan membongkar isi kopernya.
"Oh ini yang kau cari?" ucapnya dengan membawa bingkai foto itu."Baiklah, aku akan memberikannya kepadamu,"ucapnya dengan sengaja ia menjatuhkan bingkai foto itu.
Pecahan dari bingkai foto itu sukses membuat Valen semakin emosi, lalu ia pun bangun dari jatuhnya dan menjambak rambut Carla.
"Wanita licik, beraninya kau menjatuhkan bingkai foto ibuku, aku tidak akan memaafkanmu," ucapnya dengan menjambak rambut Carla.
"Lepaskan Valen, kau memang pantas mendapatkannya. Karena kau wanita tidak tahu diri,"
Saat Valen akan mencoba menampar Carla tetapi tangannya sudah di cekal oleh Dipa. Lagi dan lagi Dipa mendorong Valen hingga terjatuh, hanya tetesan air mata yang bisa ia lakukan dan menatap sinis ke arah Carla dan Dipa.
"Segera pergi dari hadapanku, jangan sampai kau merusak acara ku besok," ujar Dipa, lalu ia pun segera merangkul Carla.
Setelah masuk dan menutup pintu untuk Valen, mereka semua pun membahas acara pernikahan Dipa dan Carla. Berbeda dengan Valen, ia di luar rumah masih membereskan barang-barang miliknya dan juga foto sang ibu. Lalu Valen menyimpannya ke dalam koper dan pecahan bingkai itu ia tinggalkan begitu saja.
Valen tidak tahu harus kemana ia pergi, semua temannya menjauhinya karena ulah kedua ibu dan kakak tirinya. Menyusuri gelapnya malam, di tambah susana dingin yang membuatnya semakin bergegas untuk mencari tempat berteduh.
Di pinggir jalan ada ruko kecil, lalu Valen menghampirinya serta menyeret koper miliknya. Baru saja ia akan duduk, sudah ada beberapa orang yang menghampirinya dengan wajah yang begitu menakutkan baginya.
"Cantik sendirian nih, bagaimana jika kami menghangkatmu," ujarnya dengan senyum nakalnya.
"Tidak, kalian pergilah jangan mendekat," ucap Valen yang mulai panik.
Valen memundurkan langkah kakinya ia meninggalkan kopernya begitu saja, dan beberapa orang itu pun mengejarnya. Valen ketakutan lalu ia pun meminta tolong, tetapi percuma saja karena tidak akan ada yang menolongnya.
Para preman itu tertawa puas karena tidak ada orang yang akan mengganggu kesenangan mereka, Valen mencoba untuk lari tetapi tangannya di tahan oleh salah satu temannya, dan membawa Valen ke tempat ia berteduh lagi.
"Jangan lakukan ini aku mohon, lepaskan aku," ucapnya dengan isak tangis.
"Jangan menangis cantik, kita akan bermain sebentar saja jadi nikmatilah," ujarnya lalu ia pun menarik paksa pakaian Valen.
Valen mencoba untuk memohon tetapi tidak di perdulikan oleh preman itu, mereka tetap melakukan aksinya. Namun, belum sempat menariknya ada seseorang yang menarik kerah bajunya sehingga preman itu terkejut.
Sedangkan Valen segera menutupi bagian tubuhnya yang sedikit terbuka, seseorang itupun membuka jasnya lalu melemparkan ke arah Valen. Ia pun terkejut, lalu Valen pun segera memakainya.
Adu tenaga pun terjadi, lalu para preman itu pun melarikan diri karena mereka tidak mau menjadi sasaran empuk seseorang itu. Lalu seseorang itu menggulung kemeja putihnya, dan menghampiri Valen.
"Kau baik-baik saja?" ucapnya dengan berjongkok di hadapan Valen.
"Iya Terima kasih,"
Valen masih menundukkan kepalanya ia begitu malu untuk menatap seseorang itu, seseorang itu pun di bantu sang asistennya untuk mengumpulkan barang- barang milik Valen.
Lima tahun kemudian, di bandara seorang gadis cantik menyeret koper miliknya dan tak lupa juga ada pangeran kecil yang sangat tampan, mereka berdua keluar dari bandara dan ia menunggu seseorang akan menjemputnya.
Dia menatap sekelilingnya karena sudah lama ia tidak pulang ke kampung halamannya, dan sudah banyak berubah semenjak ia memutuskan pergi dari kota yang begitu banyak kenangannya. Menarik napas dalam, kali ini ia datang ke kota ini untuk membuka toko kue.
Tetapi tujuannya bukan itu saja, ia datang kembali karena ada sesuatu yang harus ia rebut kembali. Karena ibu dan dan saudara tirinya telah merebut semua darinya.
"Bu, apa kita akan tinggal di rumah Paman Yosua,?" ucap anak kecil itu.
"Tidak sayang, ibu akan menyewa rumah karena ibu harus bekerja,"
Tak lama mobil mewah pun sampai di bandara lalu para pengawal pun keluar dan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada majikannya.
Seorang pria tampan dengan stelan jas mahal keluar dari mobil mewah, lalu anak kecil itupun menujuk ke arah seseorang itu dan membuat dia menoleh dan tersenyum.
"Ibu, itu Paman Yosua,"
"Iya sayang,"
Yosua pun menghampiri mereka berdua lalu ia pun berjongkok menghampiri anak kecil itu lalu mencubit hidungnya. Membuatnya mendengus kesal lalu melipat tangan di dadanya, Yosua hanya tersenyum melihat tingkah lucunya.
"Hai tampan, apa kabarmu?" mencubit hidungnya.
"Paman hentikan, aku bukan bayi," mendengus kesal.
Yosua menganggukkan kepalanya lalu ia pun menatap gadis yang ada di hadapannya, gadis yang berhasil mencuri hatinya tetapi gadis itu tidak terlalu perduli dengan perasaannya. Karena saat itu yang ia pikirkan bagaimana caranya merebut kembali apa yang menjadi milikinya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil, di dalam mobil gadis itu sempat memijat pelipisnya mungkin kepalanya terasa pusing sedangkan anak kecil itu menatap sang ibu dan menyentuh lengannya.
"Ibu apa kau pusing, aku akan memijatmu," ujarnya lalu berdiri untuk memijat pelipisnya.
"Sayang, ibu tidak apa- apa lebih baik kau duduk saja,"
Tidak terasa mobil mewah itu sudah sampai di kediaman Yosua, rumahnya begitu besar sampai mulut Jonathan pun mengangga.
Mereka keluar dari dalam mobil lalu kepala pelayan pun datang menghampiri mereka, dan wanita paruh baya itu segera keluar dengan tatapan sinisnya ia menatap ibu dan anak itu.
"Untuk apa kau membawa wanita yang tidak jelas seperti itu, di tambah lagi anak yang tidak tahu dimana ayah kandungnya. Membuatku muak saja," melipat tangan di dada.
"Mama, dia gadis baik- baik jadi jangan berpikir seperti itu,"
Wanita paruh baya itu menyuruh pelayan untuk mengusirnya, tetapi pelayan itu bingung ibu atu anak yang harus ia turuti. Melihat pelayan diam saja wanita paruh baya itu segera menarik paksa koper itu dan melemparnya.
Membuat sang anak melotot melihat sikap sang ibu yang paling ia hormati, sedangkan gadis dan anak itu segera mengambil koper miliknya. Ia sadar diri jika dirinya mempunyai anak sebelum menikah, karena itu semua perbuatan saudara tirinya bahkan calon suaminya pun di rebut olehnya.
"Cukup Bibi, aku dan anakku tidak akan tinggal disini." ujarnya, lalu menarik tangan anaknya."Dan untukmu Yosua, terima kasih selama ini kau telah membantuku tetapi maafkan aku sepertinya aku dan anakku akan pergi,"
Dia pun melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Yosua, lalu Yosua memanggilnya tetapi ia tidak perduli karena tujuan ia bukan itu. Dia pun menaiki taksi entah kemana tujuannya saat ini.
"Valen tunggu,"
Kini Valen dan Jonathan sudah sampai di pertigaan, ia tidak tahu harus kemana saat ini lalu Valen pun mencari kontrakan rumah. Saat ia melangkahkan kakinya ponsel pintar miliknya berdering lalu dengan tersenyum ia segera menjawab panggilan itu.
Beberapa menit kemudian, Valen sudah selesai dan ia mengajak Jonathan pergi ke rumah temannya. Tak lama berjalan, Valen pun bertemu dengan sahabat lamanya lalu mengajaknya untuk tinggal bersama.
"Astaga Valen, kini kau jauh berbeda dengan yang dulu,"
"Sudahlah kau jangan mengingat yang dulu, Valen yang dulu telah lama mati,"
Karin adalah sahabat valen dari kecil, sampai saat ini pertemanan mereka pun masih terjalin. Lalu Jonathan menatap ke arah Karin, baru saja Karin ingin mencubit pipinya dengan cepat Jonathan menepisnya.
Membuat Karin terkejut melihat anak Valen seperti itu, Valen mencoba menasehatinya tetapi anak itu malah bersikap dingin membuat Valen pun berpikir siapa ayah kandungnya.
"Nathan, kau tidak boleh seperti itu kepada Bibi Karin,"
"Aku tidak suka, ada orang lain menyentuh wajahku," ucapnya dingin.
Karin pun tersenyum melihat sikap Jonathan seperti orang dewasa saja, lalu Valen menyuruh Jonathan untuk ke kamarnya. Setelah menaruh barang miliknya di kamar sebelah Karin, dan Karin pun mulai penasaran siapa ayah dari anak itu.
Valen tidak tahu siapa orang itu karena saat itu Valen tidak sadar karena pengaruh obat dan membuatnya tidak begitu jelas wajah dari pria itu.
Sore pun tiba kini Valen dan Karin sedang berbelanja untuk kebutuhan Valen dan juga Jonathan. Awalnya Valen menolak karena ia belum bekerja, tetapi Karin memaksanya karena kebutuhan Jonathan lebih besar di bandingkan dirinya dan juga Valen.
Setelah selesai mereka bertiga pun segera kembali ke rumahnya, lalu Valen dan juga Karin menyusun barang yang sudah di belinya sedangkan Jonathan duduk manis sambil memakan eskrimnya.
Hingga malam pun tiba mereka pun makan malam bersama selesai dengan acara makan malam lalu Valen mengajak Jonathan dan Valen pun menceritakannts sekarang saja.
"Nathan, Ibu besok akan pergi bekerja, jadi kau bersama Bibi Karin ya!!"
Sejenak Jonathan berpikir mendengar ucapan Valen, lalu Jonathan pun menganggukkan kepalanya dan membuat Valen tersenyum mendengarnya. Mereka pun segera masuk ke dalam kamar masing-masing lalu Jonathan pun mulai bertanya lagi dimana ayah kandungnya dan membuat Valen terdiam.
Bukannya Valen tidak mau memberi tahu dimana keberadaan ayahnya, dia sendiri tidak tahu wajah dari pria itu. Jadi Valen hanya mengatakan jika ayahnya sudah meninggal saja.
"Bu sebenarnya ayah itu seperti apa? Aku bahkan tidak tahu wajah ayah, bahkan foto pun tidak ada," ucapnya menatap Valen.
"Sayang, hari sudah malam dan besok kau harus bangun pagi," mengalihkan pembicaraan.
Jonathan mendengus kesal mendengar ucapan Valen lalu ia pun membalikkan badannya karena kesal, Valen menarik napasnya dalam ia bahkan tidak tega melihat Jonathan seperti itu.
"Ayahmu sangat baik, tetapi sayangnya dia sudah meninggal," ucap Valen asal.
Mendengar hal itu Jonathan langsung membalikkan lagi badannya menghadap Valen, dan menggenggam tangan Valen agar ia merasa lebih baik lagi.
"Maafkan aku Bu, karena selalu menanyakan dimana keberadaan ayah. Mulai sekarang aku tidak akan bertanya tentang ayah lagi, bu."
"Iya sayang, ibu mengerti lebih baik sekarang kau tidur saja ya,"
Jonathan pun menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua pun mulai memejakan matanya bersiap menuju mimpi indah, tetapi tidak dengan Jonathan ia justru membuka kembali matanya menatap wajah sang ibu.
'Bu, aku berjanji jika suatu saat nanti aku bertemu dengan ayah, maka akan ku buat ia berlutut dan memohon kepadamu. Percayalah bu, kau pasti bahagia' batin Jonathan.
Setelah menatap wajah sang ibu lalu ia pun memejakan kembali matanya menuju mimpi indah.
Pagi hari mata hari telah bersinar, kini Valen telah rapi dengan pakaiannya sebelum pergi bekerja bersama dengan Karin mereka menaiki motor matic milik Karin. Valen sempat mendaftarkan Jonathan untuk sekolah karena usinya cukup untuk masuk sekolah.
Mereka berdua mengantar Jonathan ke sekolah tetapi Jonathan tidak ingin di tinggalkan oleh sang ibu, Valen berusaha membujuknya agar Jonathan mau ke sekolah.
"Sayang dengarkan ibu, kau harus sekolah nanti ibu akan menjemputmu," ucap Valen mengusap lembut kepala Jonathan.
"Aku ingin bersama ibu dan bisa melindungi ibu, jika ada orang jahat bagaiman nanti ibu akan melindungi diri sendiri," ucap Jonathan dengan melipat tangan di dada.
Valen sempat terkejut dengan ucapan Jonathan, anak sekecil ini sudah bisa berpikir dewasa tetapi Valen memakluminya karena memang Jonathan adalah anak yang pintar sewaktu ia masih tinggal di luar negeri. Kepintaran Jonathan sudah terlihat, Valen pun senang bisa memiliki Jonathan karena ia anak yang pintar dan juga bisa berpikir dewasa.
"Baiklah waktunya sudah masuk, kau harus belajar dengan giat agar kau bisa melindungi ibumu ini," ucapnya dengan mencubit hidungnya.
"Hentikan bu, baiklah aku akan belajar lalu menjadi orang sukses," mengusap hidungnya.
Lalu Valen dan Karin pun segera pergi ke ruko karena Valen akan menyewa ruko itu untuk menjual kue nanti, Valen sudah membayara sewa ruko, kini Valen dan Karin pun sedang membersihkan ruko itu karena sudah lama tidak di pakai
Lupakan menghabiskan waktu berjam-jam hingga jam pulang sekolah Jonathan pun tiba, lalu Karin yang akan menjemput Jonathan sedangkan Valen masih harus membersihkan ruko itu.
Karin pun sudah sampai di sekolah Jonathan lalu ia melihat Jonathan sudah keluar dari kelasnya, tetapi wajah Jonathan tidak seceria pagi tadi entah apa yang ia perbuat.
Karin tidak bertanya kepada Jonathan karena anak itu pasti akan menjawab seadanya saja, belum sempat menaiki motor lalu wali kelas Jonathan menghampirinya dan memberi tahu tenang Jonathan.
"Ibu Karin, ibu Valen dimana? Ada hal yang ingin saya katakan," ucap wali kelas, ia menoleh ke arah kanan dan kiri.
"Ibu Valen sedang membersihkan rumah bu, karena baru pindahan, hal apa yang ingin ibu katakan?"
Wali kelas Jonathan sepertinya ragu jadi ia meminta Karin agar Valen bisa datang ke sekolah besok pagi, Karin pun setuju lalu mereka segera pergi. Beberapa menit kemudian, motor Karin telah sampai di ruko lalu Jonathan turun dan berlari kecil menghampiri sang ibu yang sedang membersihkan roku itu.
"Valen, besok kau harus ke sekolah Nathan, wali kelas menitipkan pesan itu padaku," ucap Karin duduk, lalu menuangkan segelas air ke dalam gelas.
"Ke sekolah? Apa ada hal yang penting?" menatap bingung ke arah Karin, lalu Karin menggelengkan kepalanya."Nathan, apa kau melakukan sesuatu nak?"menatap Nathan.
Jonathan menggelengkan kepalanya pertanda ia pun tidak tahu, tidak terasa hari sudah semakin siang dan sudah waktunya untuk makan siang. Valen dan Karin beristirahat sejenak, lalu Karin akan membeli makan siang untuk mereka bertiga.
Di ruko Jonathan begitu jenuh menunggu pekerjaan ibunya yang tidak selesai sedaei tadi, lalu ia pun memutuskan untuk membeli eskrim karena di depan ruko ada toko eskrim yang begitu menggoda lidahnya.
"Bu, aku ingin eskrim itu," ucap Jonathan menujuk ke sebrang jalan.
"Sayang, Bibi Karin sedang membeli makan siang, apa kau bisa menunggu!" ucap Valen lembut.
Jonathan mendengus kesal karena Valen tidak membelikan eskrim itu, saat Valen lengah barulah Jonathan diam-diam keluar dari ruko itu dan berlari ke sebarang.
Begitu sampai di depan toko eskrim Jonathan menelan ludahnya kasar karena ada eskrim yang paling ia sukai, tetapi bagaimana caranya agar ia bisa membeli eskrim itu.
Di tempat berbeda, seorang pria tampan serta berkulit putih, rambut berpomade juga stelan jas mahal. Ia sedang menunggu klien, tetapi sampai sekarang belum juga datang dan membuatnya mendengus kesal.
"Ajo, sampai kapan kita akan disini hah! Merepotkan! Sudahlah aku akan keluar sebentar," ucapnya lalu melangkah keluar.
"Lukas, tunggu kau tidak bisa pergi begitu saja" ucap Ajo yang mengejar Lukas.
Lukas tidak perduli dengan ucapan Ajo lalu Lukas keluar dan ia melihat ada toko eskrim, dengan tersenyum manis di wajahnya ia menghampiri toko eskrim. Ajo yang melihat Lukas menuju toko eskrim pun segera menghampirinya, dan tidak sengaja Ajo menabrak anak kecil yang sedang berdiri itu.
"Aduh, sakit sekali," ucap anak kecil itu.
"Ah maafkan aku Dek, kau tidak terluka 'kan?"
Anak kecil itu mengangkat kepalanya dan menatap orang yang ada di hadapannya, Ajo begitu terkejut saat melihat wajah anak kecil itu.
'Kenapa mirip bos' batinnya.
"Apa yang kau lakukan Paman? Apa kau tidak mempunyai mata untuk melihat, aku ini anak kecil yang tidak bersalah," ucapnya datar.
"Yampun Dek, maafkan Paman ya, Paman tidak sengaja karena Paman sedang mengejar bos Paman," ucap Ajo dengan sedikit membungkukkan badanya.
Ajo sama sekali tidak pernah berpikir jika anak kecil yang ada di hadapannya saat ini akan pintar berbicara.
'Kenapa anak kecil ini pandai sekali bicaranya' batinya lagi.
Lalu Ajo pun mengikuti Lukas yang sudah lebih dulu masuk ke dalam toko eskrim, anak kecil itu pun masuk ia mengedarkan pandangannya karena banyak sekali pembeli yang berdatangan.
Lalu salah satu karyawan melihat anak kecil yang sedang melihat ke arah kiri dan kanannya, lalu ia pun menghampirinya dengan tatapan sinisnya.
"Jika kau tidak punya uang maka keluar saja, jangan sampai membuat malu orang tuamu," ucapnya sinis.
"Kau tenang saja Bibi, ibuku punya uang bahkan dia membuka toko di sebrang sana," tunjuknya.
Karyawan wanita itupun melipat tangan di dada dengan tatapan sinisnya ia menarik paksa anak itu, bukan Jonathan jika ia tidak cerdas ia pun berterima memanggil ayahnya.
Semua karyawan yang ada di sana pun menoleh ke arah anak kecil itu, lalu dia pemuda tampan itu menoleh lalu mereka berdua saling pandang.
"Ayah, Bibi ini sangat jahat kepadaku," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah? Ajo yang di maksud anak kecil itu siapa?" menatap dengan rasa takut.
Ajo pun heran kenapa anak kecil itu memanggil Lukas atau siapapun itu dengan sebutan Ayah, bukankah ia bersama ibunya? Lalu dimana ibunya, atau dia... Ah sudahlah, tidak perlu di pikirkan lagi.
Anak kecil itu masih saja memanggil ayah kepada kedua pria tampan itu, Lukas tidak tega melihat karyawan wanita yang mencekam kuat tangan anak kecil itu. Dia pun melangkahkan kakinya menghampiri anak kecil itu.
Anak kecil itu tersenyum bahagia lalu ia pun memeluknya dengan erat seolah ia anak kandungnya, karyawan wanita itu terkejut lalu raut wajahnya pucat serta keringat dingin di pelipisnya mulai bercucuran.
"Ayah tolong aku, Bibi ini sangat menakutkan sekali. Bahkan pergelangan tanganku sampai merah," ucapnya lalu melihat pergelangan tangannya.
Pria itu pun menatap tajam ke arah karyawan wanita itu, karyawan wanita itu tidak berani menatapnya dan menundukkan kepalanya. Pria itu pun meminta Manager untuk memecatnya, mendengar hal itupun karyawan wanita itu memohon ampun dan bertekuk lutut kepada anak kecil itu.
"Adik, maafkan Bibi tolong maafkan kesalahan Bibi. Ini salah Bibi yang tidak berhati-hati,"