Seorang gadis muda sedang berbaring tertelungkup di atas ranjang sambil memainkan ponsel. Gadis itu adalah Mayzura, putri tunggal dari keluarga Nugraha. Tak hanya cantik dan hidup serba berkecukupan, Mayzura juga memiliki popularitas sebagai seorang penulis novel online. Terkadang, ia juga memposting kemampuannya dalam bermain piano di media sosial.
Mayzura sedang membaca pesan dari sang kekasih, Enzio. Dua hari lagi adalah tepat enam bulan mereka menjadi sepasang kekasih. Karena itu, Mayzura berencana untuk merayakannya dengan cara yang spesial.
Tatkala gadis cantik itu sedang asyik berbalas pesan, terdengar suara ketukan dari luar.
"May, Papa ingin bicara denganmu. Papa tunggu di meja makan," panggil sang ayah dari balik pintu.
"Iya, Pa, tunggu sebentar."
Buru-buru, Mayzura menyembunyikan ponselnya, lalu beranjak dari tempat tidur. Dia merasa heran karena sang ayah sudah pulang sebelum jam lima sore. Padahal, Tuan Agam biasanya baru menginjakkan kaki di rumah menjelang makan malam.
"Tumben Papa pulang lebih cepat dari kantor. Aku kira Papa ada meeting seperti kemarin," sapa Mayzura lantas duduk berhadapan dengan sang ayah.
Tuan Agam memandang sekilas paras cantik putrinya. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, hingga membuatnya sulit untuk bicara.
"Papa pulang lebih cepat karena ingin menyampaikan kabar yang sangat penting untukmu, May," ujar Tuan Agam dengan suara parau.
Melihat wajah Tuan Agam yang sedikit pucat, Mayzura menaikkan setengah alisnya.
"Kabar apa, Pa? Apa ada masalah di kantor?"
Tuan Agam membasahi bibirnya berulang kali, sebelum mengatakan keputusan yang telah dibuatnya secara sepihak.
"May, tadi siang kamu dilamar oleh Tuan Bramantya dan Papa sudah menerimanya. Kalian akan menikah dua bulan lagi."
Bak tersambar petir, tubuh Mayzura membeku seketika. Bahkan, jantungnya seakan berhenti berdetak dalam beberapa detik. Bermimpi pun tidak pernah jika dia akan dinikahkan dengan Bramantya Maheswara, pengusaha tua yang hampir sebaya dengan ayahnya.
"Papa serius ingin menikahkan aku dengan Tuan Bramantya? Umurnya sudah lebih dari setengah abad dan dia memiliki dua istri. Papa ingin aku menjadi istri ketiga? Apa Papa tidak memikirkan perasaanku?" cecar Mayzura. Hatinya serasa diremas-remas oleh sebuah tangan yang tak kasat mata.
Dengan kepala tertunduk, Tuan Agam menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Maafkan Papa, May. Papa terpaksa melakukan ini karena Papa terjerat hutang milyaran rupiah. Proyek Papa yang terakhir mengalami kerugian besar, sehingga Papa harus meminjam uang kepada Tuan Bramantya," lirih Tuan Agam.
"Lalu apa hubungannya denganku, Pa?" tanya Mayzura dengan mata memerah. Cairan bening sudah berdesakan di kedua sudut matanya. Menuntut untuk segera ditumpahkan keluar.
"Kemarin adalah batas waktu terakhir bagi Papa untuk melunasi utang. Karena Papa tidak punya uang, sebagai gantinya kamu...."
Suara Tuan Agam terputus begitu saja, karena tidak mampu melanjutkan ucapannya sendiri.
"Jadi Papa menjadikan aku sebagai gadis penebus hutang? Papa menjual aku kepada Tuan Bramantya?" potong Mayzura. Serasa ada sebuah palu besar yang menghantam rongga dadanya hingga terasa nyeri.
"Papa tidak punya pilihan lain, May. Jika Papa tidak menyetujui keinginannya, Tuan Bramantya akan mencelakakan kita sekeluarga. Kamu tahu Tuan Bramantya adalah orang yang sangat berbahaya. Sebaliknya, bila kamu bersedia menjadi istrinya, Tuan Bramantya akan membantu keuangan keluarga kita," jelas Tuan Agam coba memberikan pengertian.
Air mata Mayzura sudah menganak sungai, sementara lututnya kini bergetar hebat. Ternyata sang ayah lebih rela mengorbankan dirinya demi mendapatkan kehidupan yang nyaman. Dengan mudahnya, harga dirinya dijual untuk sejumlah uang yang entah berapa nilainya.
"Kalau itu sudah menjadi keputusan Papa, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bukankah aku ini anak yang harus selalu patuh terhadap orang tua? Aku hanya tidak menyangka, Papa tega melakukan ini kepadaku."
Meski kedua kakinya kehilangan tenaga, Mayzura memaksakan diri untuk berlari ke kamar. Entah mengapa dunianya yang semula begitu sempurna, kini berubah menjadi porak-poranda. Dalam sekejap, sang ayah telah menjungkir balikkan kehidupannya hingga berada di titik terendah.
Dengan perasaan hancur, Mayzura menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Satu-satunya harapannya kali ini hanyalah lelaki yang dicintainya, Enzio. Tanpa pikir panjang, Mayzura pun mengambil ponselnya untuk menghubungi sang kekasih.
"Halo, Baby, ada apa? Apa kamu merindukan aku? Bersabarlah, besok malam kita akan bertemu di kafe Icon seperti biasa," ucap Enzio.
"Zio, tolong temui aku malam ini juga. Aku harus kabur secepatnya dari rumah," lirih Mayzura.
Enzio terdiam sejenak, mencoba untuk mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan oleh kekasihnya.
"Kabur? Pasti kamu sedang bercanda, kan, Baby?"
"Tidak, aku serius, Zio. Aku akan dijodohkan dengan seorang pria tua yang lebih pantas menjadi ayahku. Dia akan menjadikan aku sebagai istri ketiga. Aku mohon bawa aku pergi, Zio. Lebih baik kita kawin lari daripada aku harus dinikahi orang lain," jelas Mayzura tanpa jeda.
"Tunggu dulu, May, kawin lari tidak semudah yang kamu bayangkan. Kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang, termasuk uang dan tempat tinggal. Aku baru saja lulus kuliah dan belum mendapat pekerjaan. Bagaimana aku bisa menjamin kehidupanmu? Kita harus berpikir jernih sebelum bertindak," tolak Enzio.
Jujur, lelaki itu merasa belum siap bila harus melangkah ke jenjang yang lebih serius. Apalagi bila ia harus menikahi Mayzura di usia muda.
Untuk kedua kalinya, hati Mayzura seperti tertusuk belati tajam. Ternyata dalam keadaan terdesak, tidak ada satu pun orang yang benar-benar peduli kepadanya. Sang ayah telah menjualnya sebagai istri penebus hutang, sedangkan sang kekasih tidak peduli dengan nasibnya.
"Kamu tidak mencintaiku, Zio? Atau perasaanmu kepadaku selama ini hanya sebuah kepalsuan?" tanya Mayzura dengan suara bergetar.
"Bukan begitu, May. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, tetapi aku tidak ingin kita berdua menjadi gelandangan atau pengemis di jalan," ucap Enzio beralibi.
"Itu cuma alasanmu saja. Kalau kamu memang mencintaiku, buktikanlah hari ini. Temui aku jam sembilan malam di tepi danau Selayar. Jika kamu tidak datang, artinya hubungan kita berakhir," tandas Mayzura.
"May, dengarkan dulu penjelasanku!"
Enggan mendengarkan suara Enzio, Mayzura langsung mematikan sambungan telepon. Hatinya sudah terlampau perih setelah dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Yang ingin dilakukan Mayzura saat ini hanyalah mengemasi semua barangnya, lalu meninggalkan rumah sejauh mungkin untuk memulai hidup yang baru.
'Aku menunggu pembuktian cintamu, Zio,' gumam Mayzura sembari menyeka air matanya.
***
Tepat pukul sembilan malam, Mayzura memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Kemudian, dia berjalan seorang diri menuju kawasan danau Selayar. Dengan bantuan lampu senter dan cahaya bulan yang menggantung di langit malam, Mayzura meneliti keadaan sekitarnya. Danau Selayar memang terlihat sepi dan lumayan gelap di malam hari. Oleh karena itu, dia memilih tempat ini sebagai lokasi pelariannya dengan Enzio.
Air danau yang berwarna keperakan, seolah memandu Mayzura untuk terus mendekat. Hatinya yang semula gundah langsung merasa lega tatkala melihat sosok pria yang berdiri menghadap ke danau.
Tanpa pikir panjang, Mayzura melingkarkan lengannya untuk memeluk pinggang kekar Enzio dari belakang. Awalnya pria itu hanya diam mematung, tetapi sesaat kemudian dia menyentuh tangan Mayzura.
"Aku tahu kamu akan datang menyelamatkan aku, Zio. Aku mencintaimu, Sayang," lirih Mayzura.
"Zio? Siapa yang kamu maksud, Nona?"
Vibrasi suara yang berat dan sedikit serak membuat Mayzura berjengit kaget. Ya, jelas-jelas ini bukan suara Enzio, melainkan suara orang lain.
"K-kamu bukan Enzio? Si-siapa kamu? Kurang ajar, dasar pria mesum!" pekik Mayzura langsung melepaskan pelukannya.
Secara refleks, pria itu pun membalikkan badannya. Dalam keremangan cahaya, Mayzura melihat sosok lelaki dewasa yang tengah menatapnya dengan tajam. Iris mata abu-abu gelap yang dibingkai dengan sepasang alis tebal, hidung mancung, dan bibir tebal. Tampan, itulah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan pria di hadapannya ini.
"Pria mesum? Bukankah sebutan itu terbalik? Seingatku kamu yang baru saja memelukku tanpa bertanya dulu," sanggah pria itu memicingkan mata.
Semburat merah tercetak jelas di pipi Mayzura. Untung saja suasana di sekitarnya tidak terlalu terang. Bila tidak, ia pasti akan malu setengah mati dan memilih untuk menenggelamkan diri di dasar bumi. Meski begitu, Mayzura tetap berusaha menutupi rasa malunya dengan mengalihkan pembicaaan.
"Itu karena aku salah orang! Di mana Enzio, apa kamu menculik atau mencelakai dia?" sentak Mayzura memasang wajah galak.
Pria dewasa itu mengerutkan dahi dalam-dalam, seolah tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Mayzura.
"Maaf, Nona, aku tidak mengenal siapa itu Enzio. Lebih baik Nona pergi dari sini. Tidak baik jika seorang wanita muda berkeliaran sendirian di malam hari," ujar pria itu hendak beranjak pergi.
Merasa sudah kepalang tanggung, Mayzura mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menggertak pria tersebut.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab pertanyaanku! Kamu apakan Enzio? Aku akan melaporkanmu ke polisi sekarang jika kamu menyakitinya," ancam Mayzura.
"Dengar, aku tidak mengenal kekasihmu itu. Berhenti menuduhku, karena aku sedang punya urusan penting!"
Tanpa menghiraukan ocehan dari Mayzura, pria itu berjalan cepat menyurusi tepian danau. Karena takut ditinggal sendirian di tengah kegelapan, Mayzura terpaksa membuntuti pria tersebut.
"Hey, jangan kabur, Pria Mesum! Katakan di mana Enzio!"
"Namaku Sadewa, dan aku bukan pria mesum. Aku tidak punya waktu untuk meladeni gadis manja sepertimu! Lebih baik tinggalkan danau ini!" balas pria itu dengan nada sinis.
Dalam suasana yang senyap itu, mendadak terdengar suara desingan peluru di udara.
Dorrr!
Dorrr!
Sontak, kedua mata Mayzura terbelalak lebar. Dia hampir saja menjerit histeris, jika saja Sadewa tidak segera membekap mulutnya. Tak hanya itu, Sadewa juga merengkuh pinggang ramping Mayzura agar tubuh gadis itu tidak gemetaran.
"Lepas, jangan sentuh aku!" ucap Mayzura berusaha memberontak.
"Ssshhh, diamlah! Ikut aku sekarang jika kamu masih sayang kepada nyawamu."
Sambil merangkul Mayzura, Sadewa membawa lari gadis itu menuju sekumpulan pohon besar untuk bersembunyi. Namun, gerakan Sadewa terbaca oleh dua orang pria berjaket hitam yang sedang mengejar mereka.
"Berhenti, jangan kabur!" teriak salah satu pria yang memegang pinsol di tangannya.
Tanpa aba-aba, pria itu mengarahkan pistolnya kepada Mayzura. Melihat Mayzura dalam bahaya, dengan gerakan secepat kilat Sadewa membalikkan tubuhnya untuk melindungi gadis itu. Dan dalam hitungan detik, lengan kiri Sadewa pun tertembus oleh peluru.
"Aaaarghh! Lenganmu berdarah. Kamu tertembak oleh mereka," pekik Mayzura ketakutan. Lututnya terasa lemas saat melihat cairan berwarna merah pekat yang membasahi kemeja Sadewa.
"Tidak usah pedulikan, aku! Kita harus lari sekarang. Apa kamu membawa mobil?" tanya Sadewa meringis menahan sakit.
"I-iya, mobilku ada di sebelah sana!"
Sadewa dan Mayzura berlari menuju ke mobil, sementara suara desingan peluru masih terdengar di belakang mereka.
"Masuk dan kemudikan mobilmu sekarang!" perintah Sadewa sembari memegangi lengannya.
"Kita akan ke mana?" tanya Mayzura kalut. Pikirannya saat ini benar-benar sangat kacau, hingga dia bingung harus berbuat apa.
"Ke mana saja, yang penting para penjahat itu tidak akan menemukan kita," jawab Sadewa.
Mayzura bergegas masuk ke kursi kemudi, sedangkan Sadewa duduk di sebelahnya. Sambil menggigit bibir bawahnya, Mayzura menyalakan mesin mobil. Masih ada sedikit keraguan di hatinya untuk pergi berdua bersama Sadewa. Pasalnya, mereka baru bertemu dalam hitungan menit.
"Tetapi, aku belum mengenal siapa kamu. Aku tidak biasa pergi dengan orang asing," ucap Mayzura secara jujur.
"Jangan banyak bicara, cepat injak pedal gasnya! Percayalah, aku tidak akan melukaimu."
Dari kaca spion, Mayzura melihat dua penjahat tadi berlari ke mobilnya sambil menembakkan peluru. Merasa tak punya pilihan, Mayzura akhirnya mengikuti perintah Sadewa. Gadis itu menginjak pedal gas sekuat mungkin, lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sambil menyetir mobil, Mayzura mendengar desisan kecil dari bibir Sadewa. Dia pun melirik ke bagian lengan kemeja pria itu yang ternyata bersimbah darah.
"Ambil tissue di dashboard untuk mengelap darahmu, aku tidak mau mobilku dikotori oleh noda darah. Apa kamu ini seorang pencuri, perampok, atau psikopat? Kenapa mereka mengejarmu?" cecar Mayzura.
"Bisa-bisanya kamu bicara begitu, setelah aku menyelamatkanmu! Mungkin di sini kamulah yang sedang dikejar oleh mereka, Nona," dengus Sadewa merasa kesal.
"Enak saja, aku ini seorang penulis novel, mana mungkin aku dikejar penjahat," kata Mayzura membela diri.
Merasa Mayzura sudah memojokkan dirinya, Sadewa pun menunjuk ke arah belakang.
"Alibimu itu sama sekali tidak kuat. Siapapun yang masuk ke mobil ini bisa melihat kalau kamu membawa koper besar. Jangan-jangan kamu sedang berusaha kabur dari seseorang, sehingga mereka mengejarmu," tuduh Sadewa.
Mendengar kata-kata Sadewa yang menohok, Mayzura pun bungkam. Bisa jadi para penjahat tadi memang orang suruhan Tuan Bramantya, karena pria tua itu terkenal dengan kekejamannya.
"Kenapa diam? Apa yang aku katakan benar? Kamu sedang berusaha kabur dengan pacarmu yang bernama Enzio?" tanya Sadewa.
"Ck, jangan cerewet, itu bukan urusanmu. Aku yakin kamu yang bermasalah di sini," balas Mayzura sinis.
"Aku harus cerewet karena terlanjur terlibat dengan masalahmu. Katakan siapa namamu dan di mana rumahmu?"
Mayzura mengerutkan alisnya, karena curiga dengan pertanyaan yang diajukan Sadewa.
"Untuk apa kamu meminta nama dan alamat rumahku? Pasti kamu ingin menculikku lalu minta tebusan, kan?
"Hufff, bicara denganmu memang selalu menguji tingkat kesabaranku. Jika kamu tidak mau menyebutkan nama tidak masalah bagiku. Aku akan memanggilmu Gadis Bucin," tukas Sadewa merasa geram. Entah apa dosanya di masa lalu, hingga ia harus berurusan dengan gadis yang masih labil.
Kelopak mata Mayzura langsung membola saat mendengar julukan yang disematkan Sadewa kepadanya.
"Bucin? Jangan bicara sembarangan kalau kamu tidak tahu masalahku. Mayzura Nugraha tidak pernah bucin dengan lelaki mana pun. Camkan itu!"
"Buktinya kamu rela melakukan apa saja demi cinta, bahkan berniat kawin lari," timpal Sadewa dengan ekspresi datar.
Perdebatan mereka terhenti karena Mayzura melihat sebuah mobil jeep yang berusaha menyalipnya dari belakang. Dia yakin seratus persen bahwa itu adalah mobil milik para penjahat tadi.
"Oh, God, mereka masih terus mengejar kita," seru Mayzura panik.
"Belok ke kanan sekarang, lalu tancap gas! Lewati truk barang itu!" titah Sadewa memberikan petunjuk.
Mendapat perintah yang tidak masuk akal, Mayzura pun melotot tajam kepada Sadewa.
"Hah, apa kamu sudah tidak waras? Kamu ingin kita mati bersama? Sadarlah, ini adegan nyata bukan di dalam film," tolak Mayzura.
Bukannya memahami ketakutan Mayzura, Sadewa malah memberikan jawaban yang mengejutkan.
"Jika kita memang ditakdirkan untuk mati hari ini, mau bagaimana lagi? Setidaknya aku tidak akan mati sendirian, karena ada kamu yang menemani aku," jawab Sadewa dengan santai.
"Dasar, pria gila!
Meskipun jantungnya berdentum seperti genderang perang, Mayzura tidak punya pilihan selain mengikuti arahan dari Sadewa. Dengan mengerahkan segenap kemampuan, Mayzura berhasil melewati truk barang di depannya. Kemudian, ia membanting setir ke kanan dan melewati sebuah tikungan tajam.
Setelah melakukan aksi kebut-kebutan yang mendebarkan di jalan, mobil mereka akhirnya lolos dari kejaran para penjahat itu.
"Wow, aku sangat hebat!" pekik Mayzura memuji dirinya sendiri.
Seumur hidup baru sekali ini dia melakukan sesuatu yang di luar nalar dan berpotensi mengancam keselamatan nyawanya. Anehnya, dia justru menikmati adegan berbahaya tersebut.
Melihat kelakuan Mayzura yang kekanak-kanakan, Sadewa hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kamu memang gadis labil. Tadi mengatakan aku gila, sekarang malah berbahagia," celetuk Sadewa. Dia sampai lupa jika lengannya masih mengeluarkan darah hingga saat ini.
Mayzura langsung menoleh dan melayangkan tatapan sinis kepada Sadewa.
"Bisa tidak kamu diam sebentar saja? Kita harus ke mana sekarang?" tanya Mayzura. Dia terus mengemudikan mobil tak tentu arah, karena bingung harus ke mana.
"Kita akan pulang ke rumahmu supaya lukaku bisa diobati."
"Tidak, aku tidak mau pulang," tolak Mayzura mentah-mentah.
Mana mungkin dia kembali setelah bersusah payah kabur dari rumah. Jika dia menuruti kemauan Sadewa, sudah pasti dia akan dinikahkan dengan pria tua bernama Bramantya.
"Lalu kamu mau ke mana? Berkeliaran di jalan sepanjang malam dan mencari kekasihmu itu? Aku rasa dia tidak akan pernah muncul, kecuali ada malaikat yang membawanya ke hadapanmu," cibir Sadewa.
"Kamu tidak berhak menjelek-jelekkan kekasihku," bela Mayzura. Meski jengkel kepada Enzio, dia tidak rela bila kekasihnya dihina oleh orang lain.
"Ck, sudah terbukti sekarang bahwa kamu adalah budak cinta."
Mayzura kembali meradang karena Sadewa terus mengejek dirinya. Namun, melihat kondisi pria ini yang masih terluka, Mayzura pun merasa kasihan.
"Berhenti memanggilku budak cinta. Kamu ini seorang pria dewasa tetapi mulutmu lebih pedas dari wanita. Lebih baik aku membawamu ke rumah sakit sekarang. Kepalaku hampir pecah karena mendengar ocehanmu."
Tanpa meminta persetujuan dari Sadewa, Mayzura membawa pria itu ke rumah sakit terdekat. Dengan bantuan dari petugas rumah sakit, Sadewa segera dibawa ke bagian IGD untuk ditangani oleh dokter. Biarpun kesal, Mayzura menunggu di luar ruangan, hingga luka di lengan Sadewa selesai dijahit.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Mayzura setelah diizinkan masuk oleh perawat.
"Pendarahannya sudah berhenti, Nona. Sebenarnya Pak Sadewa masih harus beristirahat di rumah sakit, tetapi dia bersikeras ingin pulang. Untuk sementara, saya memberikan resep obat minum dan obat luka selama lima hari. Setelah obatnya habis, Pak Sadewa harus kontrol ke rumah sakit," jelas sang dokter panjang lebar.
"Baik, Dok, saya mengerti."
Setelah dokter itu pergi, Mayzura menegur Sadewa yang masih berbaring di brankar rumah sakit.
"Kenapa kamu ngotot ingin pulang? Memangnya di mana rumahmu?"
"Aku hanya tinggal di kos yang sederhana, tidak punya rumah. Aku meminta pulang, karena aku yakin gadis kecil sepertimu tidak punya banyak uang untuk membayar biaya rumah sakit," jawab Sadewa.
"Hah, jadi kamu menghina aku sekarang? Perlu kamu tahu aku masih punya tabungan dari hasil menulis, dan aku yakin bahwa saldo rekeningku masih lebih besar daripada milikmu. Sekarang tunggu di sini, aku akan mengurus administrasi," ujar Mayzura lantas meninggalkan Sadewa.
Setelah selesai membayar biaya pengobatan Sadewa, Mayzura mengajak pria itu meninggalkan rumah sakit. Namun saat tiba di lobi, Sadewa melihat dua orang pria yang berpakaian mirip dengan penjahat yang mengejar mereka. Sontak, ia pun menarik Mayzura agar bersembunyi di lorong rumah sakit.
"Jangan keluar dulu, aku melihat ada dua orang yang mencurigakan di lobi," bisik Sadewa.
"Astaga, sampai kapan aku harus dikejar-kejar seperti ini," keluh Mayzura putus asa. Dia merasa tak sanggup lagi bila harus bersembunyi dari para penjahat.
"Tidak ada jalan keluar lain, kita harus kembali ke rumahmu karena itu tempat yang paling aman."
Mayzura membelalakkan mata karena terkejut dengan perkataan Sadewa.
"Apa kamu bilang, kita? Seandainya aku pulang ke rumah, aku tidak akan pernah mengajakmu."
"Tidak masalah jika kamu meninggalkan aku, tetapi jangan menangis di tengah jalan kalau kamu tertangkap oleh mereka. Minta tolong saja pada pacar tercintamu itu," ledek Sadewa sengaja menakut-nakuti Mayzura.
"Haish, kamu benar-benar menyebalkan! Baiklah, aku akan mengajakmu sekali ini saja. Setelah keadaan aman, kamu harus segera keluar dari rumahku," balas Mayzura kesal.
Mereka berdua terpaksa menunggu cukup lama di lorong rumah sakit sampai dua orang tadi pergi. Setelah situasi dirasa aman, keduanya bergegas menuju ke tempat parkir. Jujur, Mayzura merasa enggan untuk pulang ke rumah. Namun, apa yang dikatakan Sadewa memang ada benarnya. Jika ia terus berada di jalanan, maka ia akan diburu oleh anak buah Tuan Bramantya.
Ketika mereka hampir sampai di rumah, Mayzura pun memberikan peringatan kepada Sadewa.
"Nanti jangan berbuat macam-macam di rumahku! Katakan saja kepada Papa bahwa kamu adalah temanku," pungkas Mayzura.
Mendapat peringatan dari Mayzura, Sadewa hanya memasang tampang datar.
"Kenapa aku harus bilang begitu? Aku tidak pernah berteman dengan gadis ingusan sepertimu."
Dari kaca spion, Mayzura memicingkan matanya sembari memandang wajah Sadewa yang tampan tetapi sangat menyebalkan.
"Kamu menganggapku sebagai gadis ingusan, artinya usiamu sudah tua. Mungkin kamu lebih cocok menjadi pamanku atau dosen di kampusku."
"Kamu pikir aku setua itu? Bulan depan usiaku baru tiga puluh tahun," balas Sadewa.
"Nah, tebakanku benar, kita terpaut usia sembilan tahun. Mulai detik ini, aku akan memanggilmu Om Sadewa," ejek Mayzura.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Gadis Kecil Bucin. Ah, aku hampir lupa kalau kamu seorang penulis novel. Seharusnya kamu membuat novel baru dengan judul Kebucinan Membawa Petaka," seloroh Sadewa.
"Berhenti mengejekku, atau aku akan menurunkanmu di pinggir jalan!" ancam Mayzura.
Lagi-lagi telinganya memerah karena ejekan dari pria ini. Sungguh berada di dekat Sadewa membuatnya selalu naik darah. Daripada mengalami hipertensi, Mayzura memutuskan untuk diam saja sampai mereka tiba di rumah.
Begitu sampai di kediaman keluarga Nugraha, Mayzura melihat sang ayah sedang mondar-mandir dengan raut wajah gelisah. Meski sedikit ragu, Mayzura akhirnya memberanikan diri turun dari mobilnya.
"Ke mana saja kamu, May? Jantung Papa hampir berhenti karena mencarimu. Apa kamu berniat meninggalkan rumah dan menghindari pernikahan dengan Tuan Bramantya?" cecar Tuan Agam langsung menghampiri Mayzura.
"A-aku hanya jalan-jalan sebentar, Pa. Aku butuh udara segar," kilah Mayzura. Dia tidak mau sang ayah sampai tahu bahwa ia berniat kawin lari bersama Enzio.
"Kamu pikir Papa anak kecil yang mudah dibohongi? Dengan membawa koper sebesar itu, sudah pasti kamu akan melarikan diri. Apa kamu ingin seluruh keluarga kita mati konyol? Tuan Bramantya pasti mengerahkan anak buahnya untuk menghabisi kita semua," sembur Tuan Agam.
Melihat perdebatan antara ayah dan anak itu, Sadewa merasa perlu angkat bicara. Pasalnya, sedari tadi ia sudah menahan rasa ngilu di lengannya dan ingin lekas beristirahat.
"Anda benar, Tuan. Nona Mayzura memang berniat kawin lari dengan pacarnya," potong Sadewa seenaknya.
"Pa, jangan dengarkan orang ini, dia bohong," ucap Mayzura mendelik sebal. Rasanya dia ingin menutup mulut Sadewa, lalu menendang pria itu keluar dari pekarangan rumahnya.
Untuk sejenak, Tuan Agam memandang Sadewa dengan tatapan penuh selidik. Dia merasa heran kenapa Mayzura membawa seorang pria asing ke dalam rumah mereka. Apalagi lengan pria itu dibalut dengan perban seperti orang yang baru saja terluka berat.
"Tunggu, May, siapa pria ini? Kenapa kamu mengajaknya ke rumah kita?" tanya Tuan Agam penuh selidik.
Sebelum Mayzura menjawab, Sadewa sudah memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Saya Sadewa, Tuan. Saya baru bertemu dengan putri Anda malam ini, karena Nona Mayzura mengira saya adalah pacarnya. Tetapi kemudian ada dua orang penjahat yang mengejar kami. Saya terpaksa lari bersama Nona Mayzura."
"Lalu kenapa dengan lenganmu?" Tuan Agam memandangi lengan Sadewa dengan seksama.
Sambil melayangkan tatapan setajam pedang kepada Sadewa, Mayzura terlebih dulu menjawab pertanyaan ayahnya.
"Lengannya tertembak karena melindungi aku, Pa. Puas kamu sekarang? Aku sudah memujimu di depan Papa, padahal kamu baru saja menjelek-jelekkan aku," sentak Mayzura kepada Sadewa.
"Cukup, May! Seharusnya kamu malu karena menyusahkan Sadewa. Papa tidak menyangka bila kamu diam-diam sudah memiliki kekasih. Papa yakin dia bukan laki-laki yang baik, makanya dia takut berkenalan dengan Papa."
"Nama laki-laki itu Enzio, Tuan," sahut Sadewa kembali.
Detik ini juga, Mayzura ingin membungkam mulut Sadewa agar pria itu tidak bicara sembarangan. Gara-gara Sadewa, kini sang ayah mengetahui identitas kekasihnya.
"Pa, Enzio itu pria yang baik dan sopan. Hanya saja dia belum memiliki pekerjaan tetap, sehingga dia malu untuk bertemu Papa," terang Mayzura berusaha membela Enzio.
"Papa tidak mau mendengar alasanmu! Selama ini Papa mengajarimu untuk menjadi wanita yang bermartabat, ternyata kamu malah berani kabur dengan seorang pria. Masuk ke kamarmu sekarang juga! Apa pun yang terjadi, kamu harus menikah dengan Tuan Bramantya," bentak Tuan Agam tersulut emosi.
Melihat ayahnya marah besar, kedua pelupuk mata Mayzura berkaca-kaca. Untuk kesekian kalinya, sang ayah tidak menunjukkan belas kasihan kepada dirinya yang sedang menderita.
"Kenapa Papa kejam sekali padaku? Aku tidak sudi menjadi istri dari pria tua itu," ucap Mayzura dengan suara parau.
"Papa tidak peduli. Mulai sekarang Papa akan memastikan kamu tidak bisa kabur dari rumah. Papa akan menugaskan seorang bodyguard untuk mengawasimu 24 jam. Dan Papa sudah menemukan orang yang tepat untuk melakukan tugas itu," tegas Tuan Agam.
Jantung Mayzura serasa berhenti saat mendengar keputusan sang ayah. Jelas sudah bahwa dia akan menjadi tahanan rumah setelah peristiwa ini. Mayzura pun menyesali kebodohannya yang sudah mengikuti saran dari Sadewa.
"Papa akan menyewa bodyguard? Siapa dia?" tanya Mayzura dengan bibir memucat.
"Sadewa. Dia akan menjadi penjagamu mulai sekarang," tunjuk Tuan Agam kepada Sadewa.