Hari itu, langit mendung menggantung seolah ikut menyerap resah di hati Selena Atmadja. Di balik tabir putih yang menutupi ruang pelaminan, ia duduk dengan tangan gemetar. Gaun pengantin berwarna gading yang ia kenakan terasa seperti belenggu, menekan dada, membuat napasnya berat.
"Tenang, Na. Semua akan baik-baik saja," bisik Nadira, sahabat sekaligus pendamping pengantinnya, sambil menggenggam tangan Selena.
Selena hanya tersenyum hambar. Bagaimana mungkin semuanya baik-baik saja, jika hari ini ia menikah dengan pria yang hampir tak ia kenal?
Perjodohan itu datang terlalu tiba-tiba. Baru dua bulan lalu, ibunya menerima lamaran keluarga Hartanto. Keluarga terpandang, kaya raya, dan berpengaruh di dunia bisnis. Selena sempat menolak, tapi ibunya meyakinkan bahwa perjodohan ini adalah jalan terbaik. "Davin anak yang baik, Na. Ibu yakin kamu akan bahagia."
Bahagia. Kata itu kini terdengar seperti gurauan.
Suara penghulu yang mulai memimpin akad membuat jantung Selena berdetak tak karuan. Dari balik tabir, ia bisa melihat sosok tegap dengan setelan jas hitam duduk di seberang. Itulah calon suaminya-Davin Hartanto.
Pria itu tampak tenang. Wajah tampannya menunduk, bibirnya terkatup rapat. Sama sekali tak ada keraguan dalam sikapnya. Justru Selena yang terasa ingin pingsan.
"Aku terima nikahnya Selena Atmadja binti Surya Atmadja dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Kalimat ijab kabul meluncur lancar. Para saksi mengangguk, dan takbir kecil terdengar. Semua orang tersenyum. Acara berjalan sempurna.
Kecuali hati Selena.
Resepsi berlangsung meriah. Bunga mawar putih menghiasi setiap sudut, lampu kristal bergemerlap, dan musik lembut mengalun. Para tamu berdesakan memberikan selamat, memuji kecantikan Selena, memuji ketampanan Davin, seolah mereka pasangan sempurna.
Selena hanya mampu tersenyum tipis. Dari samping, ia memperhatikan sikap Davin. Ada yang aneh. Pria itu selalu menunduk, jarang menatapnya langsung. Bahkan saat mereka diminta berfoto, Davin hanya berdiri kaku, seakan tubuhnya jauh dari dirinya.
"Suamimu tipe pendiam, ya?" bisik Nadira sambil mengedipkan mata nakal.
Selena pura-pura tertawa. Padahal hatinya justru semakin tenggelam dalam keraguan.
Malam itu, setelah semua tamu pulang dan pesta usai, Selena dibawa ke kamar pengantin di lantai atas hotel mewah. Jantungnya berdebar. Ia tak tahu apa yang harus diharapkan.
Saat pintu tertutup, Davin melepas jas dan meletakkannya di kursi. Ia berdiri beberapa detik tanpa menoleh. Lalu, dengan suara dingin ia berkata, "Aku minta maaf, Selena."
Selena terkejut. "M-maaf? Untuk apa?"
Davin menghela napas berat, lalu menatapnya untuk pertama kali. Tatapan itu dingin, kosong, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.
"Pernikahan ini... tidak bisa aku lanjutkan."
Darah Selena seakan berhenti mengalir. "Apa maksudmu? Baru saja kita-"
"Aku sudah melakukan kesalahan besar." Suaranya bergetar, tapi tegas. "Aku menghamili seorang wanita, jauh sebelum akad ini berlangsung. Dia butuh aku. Aku harus bertanggung jawab padanya."
Selena terdiam. Suara di kepalanya riuh, tapi lidahnya kelu. Dunia yang baru saja ia injak sebagai seorang istri, runtuh seketika.
"Jadi... kau menceraikan aku?" bisiknya lirih.
Davin menunduk. "Ya. Aku minta maaf, Selena. Aku memang pengecut, tapi aku tidak bisa meninggalkan dia."
Air mata Selena menetes begitu saja. Semua orang, semua tamu, keluarganya, semua percaya hari ini adalah awal dari kebahagiaan. Siapa sangka, justru hari ini adalah akhir?
Keesokan paginya, kabar itu sudah sampai ke telinga Madame Ratih, ibu Davin. Wanita elegan berusia lima puluh tahun itu nyaris pingsan mendengarnya. Di ruang tamu rumah besar keluarga Hartanto, ia menatap Selena yang duduk pucat dengan mata sembab.
"Astagfirullah... Davin, anak itu benar-benar sudah membuat aib besar!" geram Ratih. "Bagaimana mungkin ia menceraikanmu setelah akad? Apa kata orang nanti?!"
Selena menggigit bibir. Ia ingin menjawab, tapi terlalu lelah.
Ratih menghela napas panjang, lalu menatap Selena penuh iba. "Nak, aku mohon. Jangan anggap keluarga ini mengkhianatimu. Davin memang keterlaluan. Tapi aku... aku masih ingin kau tetap menjadi bagian dari keluarga ini."
Selena terperangah. "Maksud Tante?"
Ratih menatapnya serius. "Menikahlah dengan Leonard."
Nama itu meluncur begitu saja, membuat dada Selena terhentak. Leonard. Adik kandung Davin. Pria yang nyaris tak pernah muncul di depan publik, yang katanya lebih suka mengurung diri di rumah, yang dikenal dingin dan misterius.
"Tidak mungkin, Tante," Selena buru-buru menolak. "Aku... aku tidak bisa. Bagaimana orang-orang melihatku nanti? Hari ini aku menikah dengan Davin, besok aku menikah dengan adiknya? Itu gila."
Ratih menggenggam tangan Selena erat. "Aku tahu ini berat. Tapi aku tidak ingin kehilanganmu, Nak. Kau menantu yang baik, yang layak untuk keluarga ini. Jangan biarkan aib Davin merusak semuanya."
Selena menunduk. Hatinya berteriak. Ia ingin lari, ingin kabur sejauh mungkin. Tapi genggaman Ratih seakan rantai yang mengikatnya.
Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan: Apakah ini garis takdir yang tak bisa ia hindari?
Hari-hari setelah itu berjalan seperti mimpi buruk. Selena tinggal di rumah orang tuanya, tapi gosip sudah menyebar ke mana-mana. Tetangga berbisik, teman-teman bertanya dengan nada heran, bahkan kerabat jauh pun menghakiminya.
"Kasihan sekali Selena, baru menikah sudah diceraikan."
"Pasti ada yang salah dengannya, kalau tidak mana mungkin Davin tega."
"Eh, katanya dia mau dinikahkan dengan adiknya Davin, ya? Astaga, kok bisa?"
Bisikan-bisikan itu seperti duri yang menusuk hati Selena.
Suatu sore, Ratih datang ke rumah keluarga Atmadja. Dengan segala wibawa dan kelembutannya, ia kembali membujuk.
"Selena, Leonard memang berbeda. Dia dingin, sulit didekati. Tapi aku percaya dia bisa jadi suami yang baik. Setidaknya, dia tidak akan memperlakukanmu seperti Davin."
Selena hanya diam. Kata-kata Ratih masuk, tapi hatinya masih menolak.
Namun, ibunya sendiri, Lestari, ikut menimpali. "Nak, mungkin ini jalan Tuhan. Mungkin Leonard memang jodohmu. Jangan menutup hati."
Selena merasa terpojok. Ia ingin berteriak, ingin berkata bahwa semua ini tidak adil. Tapi mata ibunya yang penuh harap membuatnya terdiam.
Hingga malam itu, saat ia menatap langit dari balkon kamar, Selena akhirnya sadar.
Mungkin benar, ia tak bisa melawan takdir.
Langkah kaki Selena terasa berat ketika ia memasuki rumah keluarga Hartanto untuk pertama kalinya setelah kegagalan pernikahannya dengan Davin. Aroma mawar putih yang dulu menghiasi resepsi pernikahannya masih samar tercium di ruang tamu besar itu, seolah mengejek luka yang baru saja ia tanggung.
Ratih menyambutnya dengan senyum hangat. Senyum yang mungkin tulus, atau mungkin hanya topeng untuk menutupi rasa malu yang telah diperbuat Davin.
"Selena, terima kasih sudah datang, Nak," ujar Ratih sambil menggandeng tangannya. "Aku tahu ini sulit, tapi aku harap kau memberi kesempatan untuk berbicara."
Selena mengangguk lemah. "Iya, Tante." Suaranya nyaris tak terdengar.
Dari dalam, terdengar langkah kaki pelan menuruni tangga. Selena mendongak, dan untuk pertama kalinya melihat sosok Leonard Hartanto dengan jelas.
Pria itu berjalan dengan tenang, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam. Wajahnya tegas, rahang kokoh, mata hitam pekat yang tajam namun entah kenapa tampak kosong. Selena merasakan hawa dingin langsung menyelimuti ruangan.
Leonard tidak tersenyum. Tidak juga menunduk atau memberi salam hangat seperti biasanya saat pertama kali bertemu dengan seorang wanita. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari mereka, menatap lurus ke arah Selena.
"Ini dia, Nak. Leonard." Ratih memperkenalkan dengan nada penuh harap. "Adik Davin."
Selena mencoba membuka suara. "Selamat sore."
Leonard hanya mengangguk kecil. Tidak ada ucapan balasan. Tidak ada sapaan. Hanya tatapan yang membuat dada Selena semakin sesak.
Obrolan sore itu berlangsung kaku. Ratih berusaha membuka percakapan, bercerita tentang bisnis keluarga, tentang harapannya untuk Selena, tentang betapa ia ingin luka ini segera sembuh dengan ikatan baru.
Namun, Leonard hanya menjawab singkat setiap kali ditanya. Seolah kehadirannya di ruangan itu hanyalah formalitas.
"Apa pendapatmu tentang Selena, Nak?" tanya Ratih akhirnya.
Selena langsung merona. Pertanyaan itu terdengar terlalu langsung. Ia menunduk, jemarinya menggenggam erat rok panjangnya.
Leonard diam beberapa detik sebelum menjawab, "Kalau Ibu sudah memilih, aku tidak menolak."
Kalimat yang terdengar lebih seperti kalimat pasrah daripada ungkapan niat untuk menikah.
Selena mendongak, menatapnya dengan mata melebar. Ia bisa menerima penolakan, bisa menerima sikap dingin. Tapi menerima pernikahan hanya karena "tidak menolak"? Itu sama saja dengan neraka baru.
Dalam perjalanan pulang, hati Selena diliputi kegelisahan. Ibunya, Lestari, yang ikut menemaninya, tampak begitu bahagia.
"Lihat sendiri, kan, Nak? Leonard mungkin dingin, tapi itu tandanya dia pria serius. Kau hanya perlu waktu untuk mengenalnya."
Selena menghela napas berat. "Bu, apa Ibu yakin ini jalan yang benar? Aku baru saja gagal di pelaminan. Sekarang harus menikah lagi dengan adik mantan suamiku? Orang-orang pasti akan semakin mencibir."
Lestari menepuk tangan anaknya. "Biarkan orang bicara. Yang penting kau punya rumah tangga yang baik. Ibu percaya Leonard bisa menjagamu."
Selena tidak menjawab lagi. Ia menatap ke luar jendela mobil, melihat bayangan dirinya di kaca. Wajah itu terlihat lelah, seakan seluruh tenaga sudah terkuras untuk sekadar bertahan.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan cepat. Tanpa banyak perdebatan, keluarga Hartanto mengurus semua proses pernikahan. Kali ini sederhana, tanpa pesta besar, tanpa undangan mewah. Hanya akad nikah di rumah keluarga Hartanto, dengan saksi keluarga dekat saja.
Selena merasa seolah ia tak punya kendali atas hidupnya sendiri. Semua keputusan diambil orang lain. Ia hanya menjalani, langkah demi langkah, dengan hati yang kosong.
Pagi itu, ia duduk bersimpuh di ruang keluarga besar yang dihiasi bunga sederhana. Saat penghulu memulai, Selena berusaha menahan gemetar di tangannya.
Leonard duduk di seberang, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ketika ijab kabul diucapkan, suara Leonard terdengar berat, jelas, tapi dingin.
"Aku terima nikahnya Selena Atmadja binti Surya Atmadja dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Para saksi mengangguk. Pernikahan sah.
Sekali lagi, hidup Selena berubah dalam sekejap.
Malam pertamanya di rumah keluarga Hartanto setelah resmi menjadi istri Leonard bukanlah malam penuh kebahagiaan seperti yang sering diceritakan orang.
Leonard membawanya ke kamar besar di lantai dua. Kamar itu luas, rapi, dengan nuansa abu-abu dan hitam. Sangat maskulin, namun dingin tanpa sentuhan kehangatan.
"Ini kamarmu," ucap Leonard singkat.
Selena menatapnya bingung. "Kamar...ku?"
Leonard mengangguk. "Aku tidur di kamar sebelah. Kalau butuh sesuatu, bilang saja ke asisten rumah tangga."
Selena terperangah. "Tunggu. Kau... kau tidak akan tidur di sini? Dengan... istrimu?"
Leonard menatapnya lurus. Mata itu begitu dingin, membuat bulu kuduknya berdiri. "Aku tidak pernah memaksa orang lain untuk dekat denganku. Jangan harap lebih. Aku menikah denganmu karena Ibu. Itu saja."
Hati Selena hancur berkeping. Ia sudah menebak Leonard bukan tipe pria hangat, tapi mendengarnya langsung dari bibirnya terasa seperti dihantam palu.
Ketika Leonard melangkah pergi, meninggalkan pintu tertutup di belakangnya, Selena jatuh terduduk di tepi ranjang. Air matanya menetes deras.
Inilah pernikahan keduanya. Pernikahan tanpa cinta, tanpa harapan, hanya sebuah kompromi atas nama keluarga.
Hari-hari setelah itu semakin membuktikan bahwa Leonard bukanlah suami yang mudah didekati. Ia jarang berada di rumah, lebih sering mengurung diri di ruang kerja pribadinya. Jika pun mereka bertemu saat makan malam, percakapan hanya terbatas pada basa-basi.
"Bagaimana harimu?" tanya Selena suatu kali, mencoba membuka obrolan.
"Biasa saja." Jawaban singkat itu diiringi tatapan kosong ke piringnya.
Selena menggigit bibir, menahan kecewa. "Kalau begitu... mungkin kita bisa jalan bersama akhir pekan ini? Supaya... lebih saling mengenal."
Leonard menoleh, tatapannya menusuk. "Tidak perlu. Aku tidak butuh itu."
Jawaban dingin itu menusuk jantung Selena.
Ia mulai bertanya-tanya, sampai kapan bisa bertahan? Apakah ia sanggup hidup dalam pernikahan seperti ini?
Namun, di balik semua kebekuan itu, Selena mulai memperhatikan sesuatu yang janggal.
Setiap kali mereka berjalan bersama di rumah, Leonard selalu melangkah dengan ragu, seolah menghitung jarak. Ia sering menabrak kursi, bahkan hampir terjatuh ketika melewati tangga.
Selena awalnya mengira suaminya hanya ceroboh. Tapi semakin lama, semakin ia curiga.
Hingga suatu malam, ia menyaksikan sendiri. Dari balik pintu kamar, Selena melihat Leonard berdiri di depan cermin. Matanya terbuka normal, menatap refleksinya dengan tatapan tajam. Namun ketika pintu berderit, Leonard buru-buru menutup mata dan berlagak seolah meraba-raba jalan seperti orang buta.
Selena tercekat. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Suaminya... berpura-pura buta.
Malam itu Selena hampir tak bisa tidur. Bayangan suaminya berdiri di depan cermin dengan mata terbuka lebar terus menghantui pikirannya. Ia berkali-kali memejamkan mata, berharap semua itu hanya mimpi atau ilusi yang ditimbulkan rasa lelah.
Namun, setiap kali matanya terpejam, ia kembali melihat Leonard menutup mata dengan terburu-buru, berpura-pura meraba jalan seperti orang buta.
Selena menarik napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar. "Kenapa dia harus berbohong?" bisiknya pada diri sendiri.
Bahkan setelah semua ini-pernikahan tanpa cinta, sikap dingin Leonard, jarak yang membekukan-ternyata masih ada satu rahasia besar yang ia sembunyikan.
Keesokan paginya, Selena sengaja menunggu di ruang makan lebih awal. Ia ingin memperhatikan Leonard dengan seksama.
Tak lama, langkah kaki terdengar. Leonard muncul dengan kemeja abu-abu dan celana hitam. Wajahnya tetap tenang, ekspresinya datar. Ia berjalan menuju kursi, tangan kirinya meraba punggung kursi seolah memastikan letaknya.
Namun Selena melihat jelas-pandangan mata Leonard sekilas melirik ke arah kursi sebelum tangannya menyentuhnya.
"Pagi," ucap Selena hati-hati.
Leonard hanya mengangguk singkat. Ia duduk, lalu mulai menyendok bubur ayam yang sudah disiapkan pembantu rumah tangga.
Selena memperhatikannya. Gerakannya terlalu rapi untuk seseorang yang buta. Ia tidak pernah salah mengambil sendok, tidak pernah menjatuhkan gelas, tidak pernah salah menuang air. Semuanya dilakukan dengan presisi, kecuali saat ada orang lain memperhatikannya.
"Bagaimana tidurmu?" tanya Selena, mencoba memulai percakapan.
"Biasa saja." Jawabannya singkat, dingin, sama seperti biasanya.
Selena menggigit bibir. Ia menunduk, jantungnya berdetak kencang. Haruskah ia bertanya langsung? Atau berpura-pura tidak tahu?
Hari-hari berikutnya, Selena sengaja menguji Leonard.
Suatu sore, ia menaruh vas bunga di tengah lorong yang biasanya dilalui Leonard menuju ruang kerja. Jika benar suaminya buta, seharusnya ia akan menabraknya. Namun apa yang terjadi? Leonard melangkah dengan mulus, memiringkan badan sedikit, lalu berjalan melewati vas tanpa menyentuhnya sama sekali.
Selena menahan napas di balik pintu kamar, menyaksikan semuanya. "Aku tidak salah lihat... dia benar-benar berpura-pura," gumamnya.
Keesokan harinya, Selena meletakkan sebuah buku terbuka di atas meja makan. Ketika Leonard datang, ia pura-pura menanyakan sesuatu.
"Leonard, bisa tolong bacakan ini untukku? Aku sedang bingung dengan kalimatnya."
Sekilas, mata Leonard melirik ke arah buku itu. Tapi ia segera mengernyit dan menepis halus. "Aku tidak bisa membacanya. Kau lupa siapa aku?"
Selena merasakan darahnya mendidih. "Aku tidak lupa," ujarnya pelan, nyaris menggertakkan gigi. "Aku hanya... mencoba memastikan sesuatu."
Tatapan Leonard menajam, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya bangkit dari kursinya, lalu berjalan pergi begitu saja.
Meninggalkan Selena dengan dada yang sesak dan kepala penuh pertanyaan.
Malam itu, Selena berdiri di balkon kamar, menatap langit penuh bintang. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyusup hingga ke tulangnya.
"Kenapa dia melakukan ini?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Apa tujuannya berpura-pura buta? Apa yang ingin dia sembunyikan?"
Ia tahu, jawabannya hanya bisa didapat dengan keberanian. Jika Leonard tidak mau jujur, maka ia harus mencari tahu sendiri.
Keesokan harinya, Selena memberanikan diri mendekati Ratih.
"Tante..." suaranya pelan ketika mereka duduk berdua di ruang tamu. "Aku ingin bertanya tentang Leonard."
Ratih menatapnya dengan penuh kasih. "Apa, Nak? Kau bisa bertanya apa saja."
Selena menggenggam tangannya gugup. "Sejak kapan... Leonard kehilangan penglihatannya?"
Pertanyaan itu membuat Ratih terdiam sesaat. Senyumnya perlahan meredup, berganti dengan tatapan kosong penuh kenangan.
"Sudah lama," jawabnya akhirnya. "Sejak kecelakaan lima tahun lalu. Sejak itu, Leonard menutup diri. Ia jarang keluar rumah, lebih suka berdiam di ruangannya."
Selena menelan ludah. Jadi keluarga percaya Leonard benar-benar buta? Atau Ratih juga tahu kebenarannya?
"Tapi... apakah tidak pernah diperiksa lagi ke dokter?" Selena mendesak pelan.
Ratih menghela napas. "Sudah. Tapi Leonard tidak suka bicara tentang itu. Ia menolak pengobatan lebih lanjut. Sejak itu, aku tidak pernah membicarakannya lagi. Mungkin ia trauma."
Selena semakin bingung. Kalau begitu... berarti hanya ia yang tahu rahasia ini.
Malamnya, Selena kembali melihat Leonard berdiri di balkon kamarnya sendiri. Mata pria itu menatap lurus ke arah taman, jelas-jelas melihat.
Selena mendekat perlahan. "Kenapa kau melakukan ini?" suaranya bergetar.
Leonard menoleh. Untuk sesaat, Selena melihat mata itu terbuka, tajam, seperti mata elang. Namun secepat itu pula, Leonard memejamkan mata dan meraba-raba pagar balkon.
"Apa maksudmu?" tanyanya datar.
"Jangan berpura-pura lagi!" suara Selena meninggi, untuk pertama kalinya ia berani melawan. "Aku tahu kau bisa melihat. Aku melihatmu berkali-kali! Kau hanya... berbohong!"
Leonard terdiam. Rahangnya mengeras, wajahnya menegang. Hening panjang menyelimuti mereka, hanya suara angin malam yang terdengar.
Lalu akhirnya ia berkata pelan, "Berhentilah mencampuri urusanku, Selena."
Setelah itu ia melangkah pergi, meninggalkan Selena berdiri kaku dengan air mata yang mulai jatuh.
Malam itu Selena sadar, hidupnya baru saja memasuki babak baru. Pernikahan yang awalnya dingin kini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia.
Suaminya bukan hanya pria dingin yang tak berperasaan. Ia juga pria penuh kebohongan.
Dan Selena bersumpah, ia akan mengungkap semuanya-apapun risikonya.
Hari-hari setelah pernikahan Selena dan Leonard terasa seperti hidup di dalam rumah kaca. Dari luar terlihat begitu tenang, rapih, bahkan sempurna. Tapi di dalamnya, hawa dingin kerap menusuk, seolah setiap sudut menyimpan rahasia yang tak tersentuh cahaya.
Selena duduk di ruang makan yang luas, meja kayu jati panjang dengan kursi berlapis kain beludru biru tua tampak begitu kontras dengan dirinya yang sendirian. Di hadapannya ada secangkir teh hangat yang mulai mendingin, uapnya perlahan menghilang.
Leonard belum turun sejak pagi. Pria itu selalu punya cara membuatnya menunggu. Entah dengan alasan pekerjaan, entah hanya untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali.
"Dia seperti bayangan," gumam Selena pelan sambil memainkan sendok kecil di cangkirnya. "Ada, tapi tak pernah bisa benar-benar kuraih."
Belum sempat ia larut lebih jauh dalam pikirannya, suara langkah sepatu terdengar menuruni tangga. Selena menegakkan tubuhnya, menatap ke arah Leonard yang baru muncul.
Seperti biasa, pria itu tampil sempurna: kemeja putih, celana hitam, jas tergantung di lengannya. Wajahnya tenang, dingin, tak terbaca. Namun ada satu hal yang membuat Selena terus-menerus merasa ragu-tatapan Leonard.
Pria itu seolah tak pernah menatap lurus ke arahnya. Selalu ada jarak, seakan matanya menerobos jauh tapi tak benar-benar melihat. Dan Selena masih teringat jelas satu malam ketika ia tak sengaja melihat Leonard berjalan tanpa bantuan, padahal ia selama ini mengaku buta.
"Selamat pagi," ucap Selena hati-hati.
Leonard berhenti di ujung meja. Senyum tipis tersungging di bibirnya, tapi dingin. "Pagi. Kau sudah sarapan?"
"Aku menunggu," jawab Selena.
Alis Leonard sedikit terangkat. "Tak perlu menunggu hanya untukku."
Selena menunduk. "Aku tahu. Tapi bukankah begitu seharusnya seorang istri?"
Ada jeda. Hening. Sampai akhirnya Leonard duduk di kursi berhadapan dengannya. Gerakannya elegan, terkendali, seperti seseorang yang terbiasa mengatur panggung. Selena tak bisa menahan rasa ingin tahu.
"Leonard," ia mencoba membuka percakapan, "aku masih ingin tahu... mengapa kau tak pernah benar-benar menatapku?"
Leonard tidak langsung menjawab. Ia menuang kopi dari teko ke cangkir, lalu meniupnya pelan. "Aku tidak terbiasa menatap," katanya akhirnya. "Aku sudah lama kehilangan kebiasaan itu."
Selena menggigit bibir. "Karena... matamu?"
Leonard menoleh sedikit, tetapi masih dengan sorot mata samar. "Ya. Karena itu."
Jawaban singkat, padat, tanpa ruang untuk ditanya lebih jauh. Tapi justru karena itulah Selena semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Siang itu, Selena berjalan di taman belakang rumah besar keluarga Leonard. Bunga mawar dan anggrek ditata dengan apik, air mancur kecil berdiri di tengah, menambah kesan elegan. Tapi bagi Selena, semua keindahan itu terasa hampa.
Ia duduk di bangku taman, memeluk tubuhnya sendiri. "Kenapa aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri?"
Suara langkah pelan terdengar dari arah pintu kaca. Selena mendongak dan melihat Leonard berdiri di sana, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Kau tak seharusnya duduk di luar terlalu lama. Udara dingin bisa membuatmu sakit," kata Leonard.
Selena menatapnya, berusaha mencari celah pada ekspresi yang selalu tenang itu. "Kenapa kau peduli? Bukankah selama ini kau bahkan jarang benar-benar memperhatikanku?"
Kali ini, Leonard maju mendekat. Ia berdiri di hadapan Selena, tubuh tinggi tegapnya memantulkan bayangan panjang. "Kau salah menilai, Selena."
"Salah menilai?" Selena mendesah getir. "Atau memang kau pandai menyembunyikan sesuatu? Kau tahu... aku mulai lelah dengan semua misteri yang kau buat."
Leonard menunduk sedikit, lalu berjongkok di depannya. Untuk pertama kalinya, jarak mereka begitu dekat. Dan mata itu-mata yang katanya buta-menatap lurus padanya.
Jantung Selena berdegup kencang. "Kau... melihatku," ucapnya nyaris berbisik.
Senyum tipis muncul di bibir Leonard, kali ini bukan dingin, melainkan samar-samar hangat tapi penuh teka-teki. "Kau terlalu pintar, Selena."
Selena terdiam. Tubuhnya gemetar. "Jadi benar. Kau tidak buta."
Leonard berdiri kembali, tatapannya kembali mengeras. "Tidak semua hal yang terlihat adalah kebenaran. Dan tidak semua kebenaran pantas diungkap."
Selena bangkit berdiri, menatapnya dengan mata berair. "Kenapa kau harus berbohong? Apa salahku sampai kau harus memainkan peran ini di hadapanku?"
Leonard tak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, lalu berkata pelan, "Karena ada hal-hal yang harus kulindungi, Selena. Dan kau... belum siap mengetahuinya."
Malamnya, Selena terbaring di kamar. Matanya tak bisa terpejam, pikirannya dipenuhi pertanyaan. Suaminya sendiri pura-pura buta. Untuk apa? Apa tujuannya?
Ketika ia hampir terlelap, pintu kamar terbuka. Leonard masuk, wajahnya bayangan samar di bawah lampu remang. Selena berpura-pura tidur, berharap mendengar sesuatu.
Leonard berhenti di sisi ranjang. Tangannya terulur, hampir menyentuh wajah Selena, tapi berhenti di udara. Ia hanya berdiri diam, seolah menahan sesuatu dalam dirinya.
"Seandainya kau tahu... mungkin kau akan membenciku selamanya," bisik Leonard nyaris tak terdengar.
Air mata Selena mengalir pelan. Ia tahu suaminya menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kebohongan tentang kebutaan.
Dan ia bersumpah dalam hati, ia akan menemukan jawabannya. Apa pun itu.
Hari-hari setelah percakapan di taman itu berubah menjadi labirin emosi bagi Selena. Ia merasa hidup dengan pria asing yang setiap gerak-geriknya adalah teka-teki. Leonard, suaminya, tak lagi sekadar dingin-ia kini menjadi sosok penuh rahasia yang menyesakkan.
Selena sering mengingat tatapan mata Leonard saat berjongkok di hadapannya. Tatapan itu terlalu nyata untuk dimiliki seorang pria buta. Dan sejak malam ketika ia berpura-pura tidur lalu mendengar bisikan lirih Leonard, hatinya semakin dipenuhi tanda tanya.
"Seandainya kau tahu... mungkin kau akan membenciku selamanya."
Kata-kata itu terngiang-ngiang, menusuk telinga Selena, membuatnya sulit bernapas setiap kali menatap wajah suaminya.
Pagi itu, Selena bangun lebih cepat dari biasanya. Ia turun ke dapur, membuatkan sarapan sederhana-roti panggang, telur rebus, dan teh hangat. Ia sengaja menatanya rapi di meja makan, berharap Leonard akan terkesan.
Tapi yang ia dapatkan justru sebaliknya. Leonard turun dengan ekspresi dingin, duduk tanpa bicara, lalu menyesap tehnya tanpa komentar.
"Kau tak suka sarapannya?" tanya Selena, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
Leonard menoleh sekilas. "Bukan begitu. Aku hanya tidak terbiasa dengan orang lain yang menyiapkan untukku."
"Kau... tidak terbiasa dilayani istri?"
Leonard menaruh cangkirnya perlahan. "Aku tidak terbiasa dengan pernikahan, Selena."
Jawaban itu membuat Selena terdiam. Ada sesuatu dalam nada suaranya-bukan sekadar dingin, melainkan getir. Seolah Leonard menyimpan masa lalu yang tak ingin ia bagi.
Selena ingin bertanya lebih jauh, tapi Leonard sudah bangkit berdiri. "Aku harus pergi. Ada urusan."
"Urusan apa? Boleh aku ikut?" Selena mencoba menahan.
"Tidak perlu." Leonard mengambil jasnya, lalu menambahkan dengan nada datar, "Beberapa hal sebaiknya tidak kau ketahui."
Dan ia pun pergi, meninggalkan Selena yang hanya bisa mematung di kursinya.
Siang itu, rasa penasaran Selena mencapai puncaknya. Ia mulai berpikir, kalau Leonard tidak akan memberitahunya apa pun, maka ia harus mencari tahu sendiri.
Dengan hati-hati, ia menyusuri ruangan-ruangan di rumah itu. Ia masuk ke perpustakaan, membuka laci-laci meja kerja Leonard, membaca setiap buku catatan yang ia temukan. Sebagian besar hanyalah tumpukan berkas keuangan, dokumen perusahaan, atau catatan singkat yang tak banyak menjelaskan apa pun.
Namun, di sebuah laci terkunci, Selena menemukan sebuah amplop cokelat. Ia berhasil membukanya dengan bantuan penjepit rambut. Di dalamnya ada beberapa foto lama.
Selena menahan napas. Foto itu menunjukkan Leonard berdiri tegak bersama seorang wanita muda yang sangat cantik. Mereka terlihat mesra, bahkan bahagia. Tapi yang mengejutkan, mata Leonard dalam foto itu jelas-jelas normal-terang, hidup, penuh cahaya.
"Jadi benar," bisik Selena. "Kau tidak pernah buta."
Jantungnya berdetak cepat. Ia menyelipkan foto itu kembali, lalu buru-buru menutup laci. Tapi ketika ia hendak keluar dari ruangan, pintu terbuka.
Leonard berdiri di sana.
Selena membeku, wajahnya pucat. "Aku... aku hanya sedang mencari buku."
Leonard menatapnya tajam, lalu melangkah masuk. Ia mendekat, membuat Selena mundur hingga punggungnya menyentuh rak buku.
"Apa yang kau lakukan di sini, Selena?" suaranya rendah, berat, nyaris mengancam.
Selena mencoba tegar. "Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya suamiku. Apa salah?"
Leonard berhenti tepat di hadapannya. Tatapannya menusuk, membuat Selena sulit bernapas. "Ada batas yang tidak boleh kau lewati."
Selena menggigit bibir, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana aku bisa jadi istrimu kalau kau bahkan menutup semua pintu untukku? Kau menyembunyikan semuanya, Leonard. Bahkan tentang matamu."
Wajah Leonard mengeras. Ia menunduk sedikit, menatap Selena dari jarak sangat dekat. "Kau terlalu penasaran. Itu bisa membahayakanmu."
"Bahayakan aku?" Selena hampir berteriak. "Aku istrimu! Apa yang lebih berbahaya daripada hidup bersama seseorang yang bahkan aku tidak tahu siapa dirinya?"
Untuk sesaat, Leonard tak berkata apa-apa. Hanya suara napasnya yang berat terdengar. Lalu ia berbalik, berjalan ke arah jendela, menatap ke luar.
"Ada hal-hal, Selena, yang jika kau tahu... kau tidak akan bisa kembali. Kau akan kehilangan rasa percayamu. Kau mungkin bahkan akan membenciku."
Selena menatap punggungnya, tubuhnya gemetar. "Mungkin aku sudah mulai membencimu sekarang," katanya lirih.
Kalimat itu membuat Leonard terdiam lama.
Malamnya, Selena tak bisa tidur. Ia mondar-mandir di kamar, pikirannya kalut. Ia merasa harus bicara terus terang, tapi setiap kali menatap Leonard, kata-kata itu hilang begitu saja.
Akhirnya, ia mendekati pria itu yang sedang duduk di kursi dekat jendela, membaca buku.
"Leonard," panggil Selena.
Pria itu mengangkat wajahnya sekilas. "Apa?"
"Aku tidak tahan lagi. Aku butuh jawaban. Kau harus jujur padaku."
Leonard meletakkan bukunya, menatap Selena lama. "Tentang apa?"
"Semua. Tentang matamu. Tentang alasanmu berpura-pura buta. Tentang wanita di foto itu."
Leonard terhenyak, meski wajahnya tetap tenang. "Jadi kau memang menggeledah ruanganku."
Selena mendongak dengan keberanian baru. "Ya. Karena aku berhak tahu."
Leonard berdiri perlahan. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Selena. Lalu, dengan nada dingin, ia berkata, "Wanita itu... adalah seseorang yang sudah mati."
Selena terbelalak. "Apa maksudmu?"
Leonard menunduk, suaranya bergetar samar. "Ia meninggal karena aku. Dan sejak hari itu... aku memilih untuk menjadi buta."
Kata-kata itu membuat Selena terdiam. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. "Leonard..."
Pria itu berbalik, berjalan menjauh, seolah menutup semua pintu lagi. "Kau sudah cukup tahu. Jangan cari lebih jauh."
Selena menatapnya dengan hati bergetar hebat. Ia tahu, ini baru permulaan. Masih banyak kebohongan yang belum terungkap.
Dan ia tak akan berhenti sampai menemukan kebenarannya.
Hujan turun deras malam itu. Suara derasnya menimpa kaca jendela kamar, mengisi keheningan yang selama ini selalu mendominasi hubungan Selena dan Leonard. Selena duduk di sisi ranjang, memeluk lututnya, sementara pandangannya terus mengarah ke punggung Leonard yang berdiri membelakangi, menatap keluar jendela.
"Wanita itu... meninggal karena aku."
Kata-kata Leonard dari malam sebelumnya masih terngiang di telinga Selena. Hatinya kalut, pikirannya bercampur antara rasa ingin tahu dan rasa takut. Apa sebenarnya yang terjadi dalam hidup pria itu? Apa arti semua kebohongan, semua kepura-puraan tentang kebutaan?
Selena menarik napas dalam, memberanikan diri. "Leonard," panggilnya pelan.
Pria itu tidak menoleh, tapi bahunya sedikit menegang. "Hm?"
"Aku tidak bisa tidur kalau terus memikirkan ucapanmu. Kau bilang... ada seorang wanita yang meninggal karena kau. Siapa dia sebenarnya?"
Leonard masih diam. Hanya suara hujan yang menjadi jawaban panjang. Selena menunggu, jantungnya berdetak kencang.
Akhirnya, Leonard berkata pelan, "Dia pernah menjadi segalanya bagiku."
Selena terperanjat. Ada getar emosi dalam suara Leonard-sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Biasanya, Leonard selalu datar, dingin, tanpa rasa. Tapi kali ini... ada luka. Luka yang dalam.
"Aku... istrinya sekarang," suara Selena nyaris bergetar. "Jika kau terus mengurung semua ceritamu, bagaimana aku bisa memahami siapa dirimu sebenarnya?"
Leonard memejamkan mata, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Kau tidak akan mengerti, Selena. Aku bahkan tidak pantas menjelaskan padamu."
"Biarkan aku yang menilai itu." Selena bangkit, mendekat, berdiri di sampingnya. "Kalau kau tidak jujur padaku, aku akan selalu merasa asing. Aku sudah muak hidup dengan kebohongan."
Leonard akhirnya menoleh, menatap wajah Selena dari jarak sangat dekat. Mata itu-mata yang katanya buta-bersinar tajam, namun penuh kesedihan. "Kau terlalu keras kepala."
"Aku hanya ingin tahu," desak Selena.
Leonard terdiam lama, lalu berjalan menuju kursi. Ia duduk, bersandar, dan menghela napas panjang seolah menyerah. "Namanya Celestine."
Selena menahan napas. Nama itu asing, tapi dari cara Leonard mengucapkannya, jelas sekali wanita itu pernah menjadi bagian penting dari hidupnya.
"Dia... tunanganku."
Selena merasa dadanya sesak mendengar pengakuan itu. Bukan cemburu yang dominan, melainkan rasa takut pada apa yang akan Leonard ceritakan selanjutnya.
"Kami bertunangan tiga tahun lalu," lanjut Leonard. Suaranya berat, seolah setiap kata adalah beban. "Dia adalah gadis yang penuh cahaya. Selalu tertawa, selalu percaya pada kebaikan orang lain. Aku... aku yang merusaknya."
Selena duduk perlahan di hadapannya, tak berani memotong. "Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.
Leonard menunduk, jari-jarinya menggenggam erat. "Celestine meninggal karena sebuah kecelakaan. Mobil yang kutumpangi bersamanya... ditabrak oleh orang yang selama ini menjadi musuh keluargaku. Mereka tidak berniat membunuhku saat itu, tapi aku yang menjadi target. Sayangnya... Celestine ada di sana. Dia tidak selamat."
Suara Leonard pecah di akhir kalimat, meski ia berusaha keras menahannya. Selena terpaku. Hatinya ikut terhimpit mendengar cerita itu.
"Aku... aku seharusnya yang mati malam itu," ucap Leonard getir. "Tapi justru dia yang pergi. Sejak saat itu, aku memilih untuk hidup sebagai orang buta. Aku tidak pantas melihat dunia, Selena. Dunia yang sudah kurenggut dari seseorang yang kucintai."
Selena menutup mulutnya, menahan air mata yang mulai mengalir. Ia tak menyangka di balik sikap dingin Leonard, ada luka sedalam ini.
"Lalu kenapa... kau mau menikah denganku?" tanya Selena akhirnya, suaranya bergetar. "Kalau kau masih terjebak dalam masa lalu, kenapa aku harus menjadi bagian dari hidupmu?"
Leonard menatapnya lama, sorot matanya tajam tapi penuh kebingungan. "Karena aku tidak bisa menolak permintaan ibuku. Dan karena aku... terlalu pengecut untuk hidup sendirian."
Selena tercekat. Kata-kata itu menghantamnya seperti badai. Ia merasa sekaligus kasihan dan marah. Kasihan karena Leonard terluka begitu dalam. Marah karena dirinya dijadikan sekadar pelengkap dalam hidup pria itu.
"Jadi aku hanya... obat sementara untuk lukamu?"
Leonard tidak menjawab. Diamnya justru semakin menyakitkan.
Hari-hari berikutnya, suasana di rumah itu semakin dingin. Selena berusaha keras menjaga sikapnya, tapi dalam hati ia mulai menyusun tekad. Ia tidak akan diam. Ia tidak akan membiarkan pernikahannya berjalan tanpa kepastian.
Suatu sore, Selena memutuskan untuk menemui Aya, ibu Leonard. Ia merasa hanya wanita itu yang bisa memberinya jawaban lebih banyak.
"Aya," ucap Selena setelah mereka duduk di ruang tamu. "Aku tahu Leonard tidak mudah didekati. Tapi aku juga tahu, kau pasti tahu lebih banyak tentang masa lalunya."
Aya menatapnya penuh perhatian, wajahnya lembut. "Kau sudah mulai tahu, ya?"
Selena menunduk. "Tentang Celestine."
Aya menarik napas panjang. "Itu luka terdalam dalam hidup Leonard. Sejak Celestine meninggal, dia berubah. Dia menutup dirinya, dan memutuskan berpura-pura buta. Katanya, itu caranya menebus rasa bersalah. Aku sudah mencoba segalanya, tapi dia tak pernah mau benar-benar membuka hati lagi."
Selena menggigit bibir. "Lalu kenapa aku yang harus masuk ke dalam hidupnya? Kenapa aku yang dipaksa menikah dengannya?"
Aya menggenggam tangan Selena lembut. "Karena aku percaya hanya kau yang bisa membawanya kembali ke cahaya. Kau punya sesuatu yang berbeda, Selena. Hatimu tulus, sabar, dan aku yakin, suatu hari Leonard akan menyadari itu."
Selena menahan air mata. Kata-kata Aya seperti beban sekaligus harapan. "Tapi bagaimana kalau dia tidak pernah melihatku? Bagaimana kalau aku hanya bayangan di sisinya?"
Aya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Kalau begitu, buat dia melihatmu. Tidak dengan matanya, tapi dengan hatinya."
Malam itu, Selena duduk sendirian di kamar. Kata-kata Aya terus terngiang. Ia menatap Leonard yang sudah berbaring di ranjang dengan mata terpejam, berpura-pura tidur.
Pelan, Selena mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah suaminya lama-lama, berusaha menembus dinding dingin yang selama ini mengelilingi pria itu.
"Aku tidak tahu apa aku bisa," bisiknya lirih. "Tapi aku akan mencoba, Leonard. Karena aku tidak mau hidup sebagai istri yang tak pernah kau lihat."
Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Dan meski Leonard tampak tertidur, matanya perlahan terbuka, menatap ke arah Selena dalam diam. Ada kilatan emosi di sana-takut, rindu, sekaligus rasa yang tak mau diakui.