Sekarang aku sudah tak berdaya. Duduk di kursi roda dengan tangan yang aku tumpangkan di kedua lututku. Jalan aku tak bisa, berdiri pun aku kesusahan karena badanku yang sudah bongkok.
Usiaku kini sudah menginjak di angka tujuh puluh tahun. Usia yang yang sudah rentan dengan berbagai penyakit. Sedangkan suamiku, ia sudah meninggal beberapa tahun lalu tepat setelah menyaksikan acara wisudanya Hilda anak sulung kami.
Seandainya aku ingin makan, maka akan kupanggil anakku Hida, ia akan berjalan gesit mengambil sebuah piring berisi nasi lembek. Dengan telaten, ia akan menyuapiku sesendok demi sesendok.
Hilda adalah anak sulungku. Ia berbeda sendiri dari kedua adiknya, Risa dan Angga. Kalau sekarang kedua adiknya itu sudah berumah tangga dan di karuniai buah hati, justru Hilda hanya hidup berdua saja denganku. Dengan seorang Ibu yang sudah renta, yang mandi saja harus di mandikan, buang air besar pun tak bisa sendiri, semua yang aku lakukan harus dengan bantuan anakku Hilda.
Saat ini, Hilda genap berusia empat puluh lima tahun. Usia yang sudah pantas mempunyai tiga atau empat anak. Namun itu tak terjadi, dan semua karena aku, Ibunya yang tak berguna ini.
Di antara ketiga anakku, Hildalah yang paling pintar. Saat ia masih duduk di bangku sekolah, ia selalu mendapat juara kelas dan sudah beberapa kali menjuarai olimpiade matematika tingkat propinsi. Rasa bangga ini menyeruak begitu saja dalam hatiku. Hildaku mendapatkan beasiswa sampai ia lulus S2 di salah satu universitas negri ternama di ibu kota. Dan kini, ia sekarang telah menjadi dosen, tentunya, di salah satu universitas yang paling berkelas.
Beberapa tahun lalu.
"Mak, usiaku sudah dua puluh enam tahun sekarang, mungkin saat ini aku sudah pantas untuk menikah," ujar Hilda pada suatu siang, di saat kami sedang menikmati makan siang bersama.
"Memangnya, siapa yang akan melamarmu?" tanyaku penasaran.
"Mas Arif, Mak, ia berasal dari Madiun," jawab Hilda.
"Apa pekerjaannya?"
"Ia seorang pegawai di tokonya Pak Hasan," jawab Hilda sambil menunduk, seperti sedang menghitung lantai rumah kami.
"Apa? Jadi kamu akan dilamar oleh seorang pegawai toko? Kamu mau mempermalukan Ibumu heh? Apa kata orang jika mereka tahu kalau seorang dosen pintar seperti kamu menikah dengan gembel?" Ketus Ku pedas.
Hilda menangis pilu disaksikan oleh kedua adiknya. Acara makan siang pun terasa hambar.
"Tapi ia orang baik, Mak."
"Terserah kamu! Di bilangin orangtua kok ngeyel, pokoknya Emak tak setuju kalau kamu menikah dengan Arif!" Tekan ku. Aku berdiri dan langsung berjalan menuju kamarku. Aku tak jadi melanjutkan makan siangku, sudah tak berselera lagi.
"Maunya Emak ini gimana, Mak? Waktu aku mau dilamar Mas Rido Emak nggak setuju juga." Hilda membuntutiku dari belakang, duduk di pinggir ranjang kamarku.
"Masa kamu nggak ngerti kemauan, Emak? Emak hanya ingin kamu menikah dengan orang terpandang dan berpendidikan tinggi, minimal ia punya gelar S2 dan satu kerjaan dengan kamu, bukan gembel kayak si Arif dan si Rido!" Aku mendengus kesal.
Mata Hilda berkaca-kaca, ia tak mampu menyembunyikan air matanya di hadapanku. Untuk kedua kalinya, ia putus dengan kekasihnya akibat tak mendapat restu dariku, dari Ibu yang tak berguna.
Di usia Hilda yang ke tiga puluh tahun, seorang laki-laki datang melamar ke rumahku. Kutanya pekerjaannya dan ia hanya seorang buruh di perusahaan industri rumahan. Sama saja, ia tak masuk pada kriteria lelaki yang boleh menikahi Hilda anakku.
Di usia Hilda yang ke tiga puluh lima tahun, Risa adiknya Hilda menikah dengan seorang lelaki yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Tapi tak mengapa, karena memang mereka sepadan, Risa hanya lulusan SMU dan sekarang bekerja menjadi tukang cuci piring di rumah makan. Bukannya aku tak mau menyekolahkan Risa sampai ke bangku kuliah, namun otak Risa tak sepintar kakaknya, jadi kupikir buat apa kuliah kalau hanya membenaniku dengan biaya perkuliahan.
Setelah Risa menikah, dua tahun kemudian si bungsu Angga menyusul. Sama seperti Risa, ia hanya tamat SMU dan sekarang ia menikah dengan seorang gadis yang berprofesi sebagai tukang jahit. Tak mengapa, toh mereka sepadan.
Hilda sudah dilangkahi oleh kedua adiknya, dan usianya sudah hampir empat puluh tahun. Ia semakin susah mendapatkan jodoh hingga pada akhirnya ia di jodohkan oleh seorang sahabat lamanya, ketika masih duduk di bangku SMP. Namun, aku terperanjat kaget, hampir saja jantungku lepas dari tempatnya ketika kutahu kalau pekerjaan lelaki itu hanyalah penjual es mambo keliling.
"Rita, kalau menjodohkan teman itu mbok yok yang pantes gitu, masa seorang dosen menikah dengan penjual es mambo?" Bentakku muak.
Untuk kesekian kalinya, Hilda gagal menikah karena tak di restui oleh aku, Ibunya. Padahal menurut Rita, Hilda dan lelaki itu sudah dekat dan sering bertemu hingga mereka merasa cocok satu sama lain.
Tok tok tok. Suara pintu diketuk orang beberapa kali, aku tersadar dari lamunanku. Hilda berlari untuk membukakan pintu. Risa datang bersama suami dan jagoan kecilnya, Dafa. Ia berjanji untuk datang menjengukku hari ini. Mereka kupersilahkan duduk di ruang tamu dan kusuruh Hilda membuatkan minuman dingin untuk mereka.
Sore hari, Risa dan suami serta anaknya berkumpul di teras rumahku sambil menikmati sepiring pisang goreng buatan Hilda. Mereka asyik bercanda, menyimak celutukkan Dafa yang menggemaskan. Namun tiba-tiba, Hilda berlari kedalam tanpa sepengetahuan Risa. Kulihat dengan jelas Hilda menangis di balik pintu ruang tamu. Aku tahu, ia sangat sakit melihat adiknya yang sudah mempunyai keluarga sendiri dan hidup bahagia. Sedangkan ia, di usianya yang ke empat puluh lima tahun, ia masih sendiri. Aku melengos, pura-pura tak melihatnya menangis, karena aku pun tak tega melihat ia tersiksa batin seperti ini.
***
Hilda berlari sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya. Air mata itu terus menetes dari pipinya. Terburu ia masuk ke dapur dan meletakkan sekantung sayuran begitu saja di meja dapur. Ia baru saja membeli sayuran dari seorang tukang sayur keliling yang sedang dikerubuti Ibu-Ibu di depan rumahku.
"Kenapa kamu menangis, Hilda?" Tanyaku yang sedang duduk tak berdaya di atas kursi roda.
Hilda menoleh, tersenyum padaku sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, Mak, aku tidak menangis, mataku tadi kelilipan," ia menghadiahkan senyumnya untukku. Tentunya, senyum yang dipaksakan.
"Kamu jangan bohong, apa mereka mengata-ngatai kamu lagi hah?" Bentakku emosi. Hilda menangis tersedu, berjongkok dan menempatkan kepalanya di pangkuanku. Aku mengusap kepalanya perlahan.
"Mereka bilang, aku perawan tua, Mak, aku jomblo, aku tak akan laku lagi karena aku sudah tua. Tangisan Hilda semakin kencang, air matanya membasahi rok batik yang aku pakai.
"Maafkan Emak, Nak, ini semua gara-gara Emak."
Hilda menengadah, menatap wajahku lekat. Air mata itu, entah berapa kali ia kuras hingga membentuk butiran-butiran bening yang tak ada habisnya.
"Tidak, bukan gara-gara Emak, ini sudah takdirku," ia menunduk lesu.
Aku menyingkirkan Hilda yang sedang menangis di hadapanku, lalu kukayuh kursi roda ini dengan cepat menuju keluar rumah. Entah mengapa, tiba-tiba tenagaku menjadi kuat, bahkan dua kali lipat dari sebelumnya.
"Hai, Ibu-Ibu tukang gosip! Kudo'akan agar anak kalian menjadi perawan tua, dan tidak menikah seumur hidup!" Teriakku pada Ibu-Ibu yang sedang sibuk memilih sayuran sambil bergosip. Mereka menoleh, lalu menatapku sinis.
"Ibu, sudah, ayo kita masuk." Hilda mendorong kursi rodaku memasuki rumah.
Tolong maafkan Emak, Nak.
Aku duduk berpangku tangan di atas kursi roda, kulihat anakku Hilda segera memotong sayuran dan meracik bumbu-bumbu. Tangannya begitu cekatan melakukan semua pekerjaan dapur.
Aku masih mengamatinya dari belakang, kesabarannya selama ini membuatku merasa sangat iba dengan nasibnya.
"Hilda," panggilku lirih. Ia menoleh padaku. Tampak kedua bola matanya masih berkaca-kaca, aku semakin tak kuasa melihatnya.
"Kenapa, Mak? Apa Emak ingin buang air besar?" Ia bertanya dengan lembut.
"Tidak, Hilda. Emak hanya kasihan padamu." aku menggigit bibir bawahku, berusaha untuk menahan kucuran air mata yang sudah menggantung pada kelopak mataku. Hilda mengernyit, menggeleng pelan sambil menatapku.
"Kenapa Emak kasihan padaku? Aku percaya, jodohku ada di tangan Tuhan, jadi Emak jangan khawatir," senyum Hilda merekah. Aku tahu itu hanya senyuman palsu untuk tidak membuatku semakin sedih dan di hantui perasaan bersalah. Oh Tuhan, sebening itukah hatimu, Hilda.
Aku menemaninya di dapur hingga ia selesai melakukan pekerjaannya. Ia segera mengatur hidangan di atas meja, lalu menyuapiku dengan telaten, setelah itu, ia membawaku ke kamar mandi dan memandikanku seperti biasanya.
"Mak, aku ke kampus dulu ya, kalau Emak mau makan, semuanya sudah aku siapkan di atas meja kecil." Ujar Hilda sambil memasangkan pampers dewasa di tubuhku. Ya, bila Hilda sedang di luar rumah, aku selalu memakai pampers dewasa karena Hilda tak ingin aku ke kamar mandi sendirian, ia sangat takut aku jatuh di kamar mandi apalagi di rumah tak ada siapapun selain diriku.
"Kalau Emak kenapa-napa, Emak boleh menghubungiku, ini gawainya aku taruh di meja ya, Mak." Lanjut Hilda sambil menaruh gawaiku di atas meja kecil.
Aku mengangguk, menatap Hilda yang berjalan keluar rumah sambil menenteng sebuah tas berwarna silver kesukaannya.
POV Hilda Pramusti Kusuma
Langkah ini begitu berat, tak tega rasanya meninggalkan Emak seorang diri di rumah, namun apa hendak di kata, hanya akulah yang bisa menjaga Emak karena Angga dan Risa sudah berkeluarga dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
Aku berjalan di lorong-lorong kampus melewati beberapa mahasiswa yang sedang berkerumun. Mereka mengangguk hormat, ada pula yang acuh tak acuh. Segerombolan mahasiswa tertawa terbahak-bahak, bisik-bisik yang tak bisa kudengar jelas. Entah mengapa tiba-tiba hatiku seperti teriris.
"Bu, bolehkah saya bantu Ibu membawa buku-buku paket itu?" Rafael, seorang mahasiswa semester lima menghampiriku untuk menawarkan bantuan walaupun sebenarnya aku tidak begitu repot dengan buku-buku paket yang sedang aku bawa.
"Yuuuhuy, pacaran nih," celutuk seorang mahasiswa teman Rafael lalu disambut dengan tawa dari teman-temannya. Untuk kesekian kalinya, hatiku terasa sakit.
"Tak usah, Ibu bisa bisa sendiri. Makasih, Rafael." Aku pergi meninggalkan Rafael yang melihatku dengan lesu. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa tingkah anak itu semakin aneh.
Aku menghela nafas berat, masuk ke salah satu ruangan dan duduk di kursi kerjaku. Membuka laptop dan mengecek email sambil menunggu jam mengajar tiba. Kebetulan sekali pagi ini baru ada aku dan seorang dosen lainnya.
"Pagi, Bu Hilda," sapa Pak Edi, seorang dosen hukum yang selama ini selalu mendekatiku. Ia berdiri di depan meja kerjaku.
"Pagi juga, Pak Edi." Aku melirik sekilas dan kembali membaca beberapa email yang masuk hari ini.
"Bu Hilda, habis mengajar nanti, apa Bu Hilda ada waktu? Bisa enggak kalau Ibu menemani saya makan siang?" Pak Edi menatapku penuh harap.
Aku menghentikan jariku yang sedang menari-nari di atas laptop.
"Aku sepertinya enggak bisa menemani Bapak, Emak menungguku di rumah." Aku mengangguk sekilas sambil tersenyum padanya.
"Bu Hilda selalu menolak saya, apa Bu Hilda tidak tahu kalau saya mencintai Ibu? Ibu ini sudah dewasa bahkan sudah pantas mempunyai anak, tapi mengapa Ibu selalu menutup hati buat saya?" Pak Edi menahan nafas kesal, berjalan hendak menuju meja kerjanya.
"Pak! Bapak tidak pantas berbicara seperti itu!" Hatiku sedikit kesal mendengar ucapannya. Pak Edi menoleh ke arahku, ia menghentikan langkahnya.
"Bu Hilda ini memang egois! Seharusnya Ibu tidak menolak saya."
"Tapi Bapak sudah beristri?"
"Itu bukan masalah besar. Aku serius mencintaimu. Aku bisa menikahimu," ujar Pak Edi tanpa tedeng aling-aling.
Aku menggigit bibir bawahku, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar paru-paruku tidak terasa sesak.
Kulihat para dosen yang lainnya telah datang satu persatu. Aku tak ingin keributan ini menjadi gosip terhangat di kampus.
"Jam pelajaran sudah tiba, aku mau masuk dulu ke kelas." Aku berjalan melewatinya, membiarkannya yang sedang menatapku tanpa berkedip.
Oh Emak, bagaimana dengan perkataan Pak Edi tadi? Apakah aku harus menerima atau menolaknya? Ia memang sudah mempunyai isteri, tapi...sekarang usiaku sudah sangat mapan, kepalaku berdenyut-denyut, memasuki kelas dengan membawa segudang masalah pribadiku yang kerap mengganggu pikiranku.
"Baiklah, aku akan meminta petunjuk padanya di sepertiga malam ku. Ya Allah, berikanlah petunjuk mu," batinku gusar.
Baru saja aku selesai memberikan pelajaran sesuai dengan jadwal mata kuliah hari ini, aku merasakan gawaiku bergetar. Cepat aku mengambil gawaiku di dalam tas dan menekan tombol bergambar telpon itu. Aku berbicara di telpon sambil melangkah keluar kelas.
(Saya menunggu Ibu di parkiran, kita akan makan siang di restoran langgananku.) Suara Pak Edi terdengar jelas di telingaku.
(Tapi, Pak, aku enggak bisa, maaf)
(Jangan begitu, Bu, jangan menolak, saya janji, setelah ini saya tidak akan mengajak Bu Hilda makan siang bersama lagi. Please, hanya kali ini saja)
Aku terbengong-bengong di tempat. Berpikir apa yang seharusnya aku lakukan. Beberapa saat gawaiku menempel di telingaku tanpa ada suara apa pun dari mulutku.
(Bu, apa Ibu masih di situ?)
(Oh, i...iya, Pak, saya masih di sini)
(Ibu menerima ajakan saya kan?)
(Iya, Pak)
Aku segera menutup telpon ku dengan hati yang gundah. Apakah aku tidak salah menerima ajakan makan siangnya? Hanya makan siang biasa, aku akan selalu ingat bahwa ia pria yang sudah mempunyai keluarga.
Emak, aku ingat Emak, aku harus meminta izinnya terlebih dahulu, batinku.
Sambil berjalan menuju parkiran kampus, aku menekan tombol gawaiku mencari nama Emak.
(Mak, hari ini aku pulang agak Sorean ya) kataku setelah sebelumnya mengucapkan salam pada Emak.
(Lho, hari ini kamu kan hanya mengajar di dua kelas saja? Memangnya mau kemana dulu?)
(Aku di ajakin makan siang sama Pak Edi, Mak)
(Oh, Pak Edi yang dosen itu ya? Yang pernah kamu ceritakan pada Emakmu? Ya sudah, kamu terima saja ajakan makan siangnya, tak baik lho nolak rezeki hehehe)
Suara Emak terdengar sangat bersemangat. Aku tahu, dari dulu Emak menginginkan aku berjodoh dengan seseorang yang menurut Emak sepadan denganku dan pantas menikahiku. Mungkin Pak Edi ia anggap sebagai orang yang masuk kriterianya.
(Iya, Mak) aku menjawab singkat.
(Ingat ya, jangan mengecewakannya. Kalau ia melamarmu, jangan kamu tolak, ingat dengan usiamu yang tak lagi muda)
(Tapi, Mak, ia sudah...)
Tut Tut Tut. Tiba-tiba Emak menutup telpon tanpa mengucapkan salam. Aku menghela nafas berat, hatiku masih sangat gusar.
Setelah aku sampai di parkiran kampus, kulihat Pa Edi sedang berdiri menungguku.
"Hari ini Bu Hilda enggak bawa kendaraan sendiri kan? Ibu naik mobil saya saja biar nanti saya antarkan pulang sekalian." Dengan sigap, Pak Edi membukakan pintu mobilnya. Aku menaiki mobilnya dan duduk di samping Pak Edi.
"Terima kasih, Bu Hilda," ujar Pak Edi, melirik padaku sekilas sambil tersenyum lalu kembali fokus pada jalanan di depan.
"Buat apa Bapak bilang terima kasih pada saya?"
"Buat waktunya menemani saya makan siang walaupun ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya." Pak Edi terkekeh di balik kemudi.
"Iya sama-sama, Pak."
"Andai saja Bu Hilda mau jadi isteri saya..." Pak Edi menggantungkan kalimatnya di udara. Ia tersenyum-senyum sendirian.
Aku hanya terdiam menatap jalanan, entah mengapa hatiku saat ini sangat berkecamuk. Kubiarkan lelaki di sampingku ini meracau tak jelas.
Di sebuah restoran khas Jepang, aku duduk di sebuah kursi berhadap-hadapan dengan Pak Edi menunggu makanan yang telah di pesan.
"Ibu cantik sekali, sayangnya ibu masih belum punya pendamping. Padahal ada kok laki-laki yang selalu menunggu ibu," ujar Pak Edi, tersenyum menatapku. Aku tahu arah pembicaraan Pak Edi, namun aku tak bereaksi sedikitpun. Saat ini aku tak tahu harus berbuat apa, yang jelas, aku sangat khawatir dengan usiaku yang terus beranjak menuju tua apalagi bila melihat Emak yang menginginkan aku segera menikah, hatiku begitu terenyuh. Namun aku pun tak akan menerima seorang pria tanpa persetujuan dari Emak, aku sangat sayang pada Emak dan aku tahu surgaku ada pada telapak kakinya.
Apakah Pak Edi sosok yang tepat untuk menjadi pendampingku? Ia pria yang di inginkan Emak untuk jadi menantunya. Tidak Hilda, ia sudah beristri. Hatiku ikut mengingatkanku di saat aku sedang bimbang.
"Bu, apakah Bu Hilda bersedia menjadi isteriku?" Seperti tahu kegundahan hatiku, Pak Edi bertanya, sebuah senyum hangat tersungging di bibirnya. Memang pria ini tak pernah bisa berbasa basi, ia selalu langsung mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Gawai di saku celanaku tiba-tiba berdering, kembali Emak meneleponku.
(Iya, Mak, ada apa?)
(Hilda, adikmu Risa dan anaknya baru saja datang. Katanya ia akan tinggal bersama kita untuk sementara waktu.)
(Lho, kenapa, Mak?)
(Risa sudah tak punya uang, suaminya sudah tak bekerja, ia telah di PHK dua bulan yang lalu dari tempatnya ia bekerja)
Aku terhenyak. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Suami Risa di PHK? Mereka kini tak punya lagi penghasilan. Dan sekarang Risa sudah tak bekerja lagi di rumah makan karena kelahiran Dafa membuatnya sedikit repot. Aku tercenung sesaat, tak menyadari kalau seorang pelayan telah datang mengantarkan pesanan ku.
"Bu Hilda? Ibu baik-baik saja kan?"
Pertanyaan Pak Edi membuatku tersadar dari lamunanku. Cepat aku mematikan telpon dari Emak.
(Ya sudah, Mak, nanti kita bicarakan di rumah saja) aku menyimpan kembali gawaiku ke dalam tas ku.
"Eh, enggak apa-apa Pak, saya baik-baik saja." Tersenyum ke arah Pak Edi walau hati sudah tak menentu.
Beberapa saat kami terdiam, asyik dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya Pak Edi membuka percakapan.
"Bagaimana tentang pertanyaan saya tadi, Bu Hilda? Maukah Ibu menjadi isteri saya?"
"Ehem, nanti saya pikirkan ya, Pak."
Aku mengambil segelas jus mangga dan menyedot isinya hingga ludes.
"Berapa lama saya harus menunggu jawaban dari Ibu?" Pak Edi mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya, tak sabar menunggu jawaban yang akan terlontar dari mulutku.
"Saya tidak tahu pasti, Pak. Saya harus berpikir matang-matang karena ini tentang hidup saya."
Pak Edi mencebik ke arahku. "Usia Bu Hilda sudah matang, jangan terlalu..."
"Saya tahu, Pak." Aku tersenyum ke arahnya, segera berdiri dan mengambil tas di atas meja. Hatiku teringat Emak dan Risa yang sedang menungguku di rumah.
Aku menolak untuk di antarkan Pak Edi sampai ke rumah, bukan apa-apa, namun aku kuatir Emak semakin berharap agar Pak Edi menjadi menantunya.
Sesampainya di rumah, kulihat Risa dan Arka suaminya sedang duduk bersantai di ruang tengah. Saat melihatku datang, mereka segera berdiri dan menyalamiku.
"Maaf, Mbak Hilda, aku dan suamiku mau numpang sementara di rumah Emak. Suamiku sudah di PHK dari perusahaannya, jadi aku tak tahu harus kemana lagi selain pulang ke rumah ini," ujar Risa dengan raut muka sedih.
"Enggak apa-apa, Risa, rumah Emak kan rumahmu juga, lagipula aku senang kalian tinggal di sini, biar aku bisa dekat sama keponakanku. Oya, dimana Dafa?" Aku menautkan kedua alisnya, baru teringat pada anak lucu itu.
"Ia baru saja tertidur, Mbak, mungkin kecapaian," jawab Arka.
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu ya, sudah bau keringet." Aku tertawa kecil, lalu berjalan dan masuk ke kamar.
"Hilda! Siapkan makan untuk adikmu ya, mereka belum makan dari tadi," suara Emak terdengar lirih, namun mampu membangunkan ku yang baru saja tertidur beberapa menit. Aku membuka mata, menggeliat untuk melenturkan otot-otot ku. Kepalaku sedikit pusing karena belum cukup beristirahat setelah tadi mengajar dan menemani Pak Edi makan siang.
"Iya, Mak." Aku bangkit dari ranjang dan menuju dapur. Semenjak Risa menikah, Emak tak pernah lagi menyuruh Risa melakukan pekerjaan dapur, semua pekerjaan dapur selalu aku yang melakukannya, aku tak tahu apa alasannya, mungkin saja Emak merasa canggung karena Risa sudah menikah, atau mungkin Emak tak enak dengan suami Risa. Entahlah, aku hanya menebak-nebak. Aku harap, aku selalu sehat dan bisa menuruti semua kemauan Emak agar beliau merasa senang.
Setelah beberapa saat berkecimpung dengan alat-alat masak di dapur, akhirnya aku bisa menghidangkan berbagai macam makanan di meja.
Arka segera menyendok nasi dan lauk ke atas piringnya, sementara Risa sibuk menyuapi Dafa yang berlarian kesana kemari.
Cacing di perutku menjerit-jerit minta di isi, namun aku teringat Emak, aku belum menyuapi Emak. Baiklah, aku akan menyuapi Emak dulu. Tangan kanan dan kaki Emak terkena stroke, jadi beliau susah untuk makan sendiri.
Kudorong kursi roda Emak ke dekat meja makan dan aku mulai menyuapinya. Beruntung, Emak tak pernah protes dengan semua rasa masakan ku.
Setelah selesai menyuapi Emak, gantian aku yang makan. Setelah makan aku segera membersihkan meja makan dan kuangkat piring-piring kotor ke dapur untuk segera dicuci.
"Maaf, ya, Mbak, aku enggak bisa bantu cuci piring, Dafa agak rewel." Ujar Risa sambil mengambil satu buah gelas pelastik di dapur untuk minum Dafa.
"Enggak apa-apa, Risa, aku bisa sendiri kok." Jawabku sambil tersenyum.
"Oya, Mbak, boleh aku minta sedikit uang buat Dafa? Aku sudah tak punya uang, tapi Dafa minta jajan." Risa menunduk sedih.
Aku menghentikan sejenak aktivitasku yang sedang mencuci piring.
"Ya sudah, nanti aku kirim ke rekeningmu."
"Makasih, Mbak." Risa berjalan menghampiri Dafa dengan senang.
Jam sembilan malam, kami sekeluarga berkumpul di depan televisi sambil sesekali tertawa karena mendengar ocehan Dafa yang tak jelas. Anak berumur dua setengah tahun itu memang sangat lucu, dan ah, seandainya saja aku sudah berkeluarga, mungkin aku pun akan di karuniai anak selucu itu. Namun sayangnya, aku masih juga belum di pertemukan dengan jodohku. Kembali rasa sakit itu mengiris perih dalam hatiku, apalagi jika melihat keluarga kecil Risa yang selalu terlihat bahagia.
"Hilda, bagaimana makan siangmu tadi dengan Pak Edi?" Tanya Emak membuyarkan lamunanku.
"Biasa-biasa aja, Mak, enggak ada yang istimewa." Jawabku sambil mencubit pipi Dafa gemas.
"Kamu sudah menerima lamarannya?"
"Dia sudah punya isteri, Mak." Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, seakan sudah beberapa hari tak merasakan segarnya udara.
"Lah, kalau ia mampu kenapa tidak? Ia itu dosen, pendidikannya tinggi, karirnya bagus dan uangnya banyak, menurut Emak, kamu pantas berdampingan dengannya," celutuk Emak yang membuatku semakin sesak.
"Iya, Mbak, terima saja, ingat lho, perempuan itu semakin tua semakin susah laku, Mbak, apa lagi Mbak ini seorang dosen, laki-laki yang ingin mendekati Mbak pasti takut sama perempuan yang mempunyai karir tinggi. Maksudnya, takut ia tersaingi gitu lho Mbak, laki-laki kan selalu ingin di hargai, mereka mengutamakan harga dirinya, jadi menurutku, kalau Mbak menikah dengan Pak Edi, setelah berumah tangga nanti, takkan ada yang merasa tersaingi karena kalian sama-sama dosen dan berpendidikan tinggi." cetus Risa panjang lebar.
Kini hatiku semakin cemas mendengar ucapannya. Hatiku risau, tak tahu harus melakukan apa. Usiaku sudah sangat mapan, dan mungkin sebentar lagi aku akan menopouse. Ya, aku harus segera menikah. Tapi, aku tak mau menyakiti hati perempuan lain.
"Aku seorang perempuan, aku tak mau menyakiti hati perempuan lain." Aku berujar cepat, menatap Emak dan Risa secara bergantian.
Seandainya aku ada di posisi isterinya Pak Edi, mungkin aku pun tak akan terima jika suaminya menikah lagi. Perempuan mana yang rela di madu? Kurasa tak ada.
"Emak tahu, Hilda, tapi kamu itu sudah berumur, sudah sepantasnya kamu punya anak, maka terima saja lamaran Pak Edi sebelum kamu menyesal," Emak berkata lembut, namun bagiku itu sangat menusuk hatiku.
"Aku akan meminta petunjuk darinya, Mak, bukankan hanya Allah yang tahu segalanya tentang jodohku?" Aku berdiri meninggalkan Emak dan Risa. Sementara Arka dari tadi hanya duduk mendengarkan obrolan kami.
Tak terasa air mataku menetes dari kudua belah pipiku, aku tak tahan dengan semua ini, ingin rasanya aku bersimpuh di hadapan Tuhan saat ini juga untuk mengeluarkan sesak di dada.
Jam dua malam aku terbangun dari tidur yang baru saja mengantarku pada sebuah mimpi. Bergegas aku mengambil wudhu, menghadap pada sang maha segalanya, mengadukan segala keluh kesahku dan memohon agar jodohku di dekatkan.
Setelah shalat malam, hatiku sedikit tenang, ku rebahkan tubuhku di atas ranjang dan beberapa saat kemudian aku telah tertidur pulas.
Dalam kegundahan hatiku, kulihat matahari itu terbit begitu terang di ufuk timur. Cahayanya membuat mataku menjadi silau. Matahari itu menyinari hampir seluruh bagian bumi. Di antara terangnya cahaya matahari, semburat wajah tampan menyembul dari situ, menghampiriku yang sedang dilanda gulana. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat, sesak, dan aku terbangun dengan tetesan keringat yang membasahi dahiku. Ya Tuhan, rupanya aku bermimpi.
Aku terduduk di pinggir ranjang, kulihat jam dinding yang menunjukkan angka setengah empat, ternyata masih pagi. Aku tercenung sendiri, berusaha menafsirkan mimpi yang datang dalam sekejap waktu tersebut. Kata orang tua, bila seorang perempuan bermimpi melihat matahari berarti jodohnya sudah dekat, apalagi di dalam mimpi tersebut kulihat wajah seorang lelaki tampan walaupun tak begitu jelas.
"Ya Allah, apakah mimpi itu mempunyai arti? Atau itu hanyalah bunga tidur saja karena aku terlalu memikirkan tentang jodoh?" Aku bergumam sendiri. Sejenak aku menenangkan pikiranku, lalu berniat untuk tidur lagi karena hari masih sangat pagi.
***
"Bu Hilda, apakah Ibu sudah mempunyai jawaban tentang pertanyaanku waktu itu?" Pak Edi menghampiriku di kantor pagi ini.
"Bapak sudah mempunyai isteri."
"Itu bukan alasan yang tepat, Bu, seandainya saya berpoligami, saya bisa cukup adil membagi waktu untuk kedua isteri saya," Pak Edi kekeh dengan niatnya untuk menikahiku.
"Saya tahu, Pak, tapi sebagai sesama perempuan, saya tidak mau menyakiti perasaan perempuan mana pun."
"Bu Hilda jangan khawatir, isteri saya pasti setuju dengan keputusan saya untuk menikah lagi." Pak Edi menatapku penuh keyakinan.
Aku terperanjat kaget. Semudah itukah? Rasanya tak mungkin ada perempuan yang rela di madu sekalipun suaminya kaya raya dan mapan.
"Kalau Ibu tak percaya, baiklah, nanti akan saya pertemukan Ibu dengan isteri saya."
Aku menggeleng-gelengkan kepala, terkejut dengan apa yang tengah aku hadapi sekarang. Sepintas, aku teringat mimpiku semalam, apa ini sebuah jawaban dari sang maha pemegang takdir?
"Kapan Bapak akan mempertemukan saya dengan isteri Bapak?" Cetusku, ingin segera tahu apakah pria di sampingku ini pandai berbohong atau tidak.
"Kapan Bu Hilda punya waktu? Saya akan pertemukan kalian berdua," jawab Pak Edi enteng.
Aku terbengong-bengong masih tak percaya dengan jawaban Pak Edi barusan.
Beberapa saat kemudian, terlihat Rafael masuk ke kantor membawa kertas-kertas ujian dan di taruhnya di atas meja kerja seorang dosen. Ia menoleh padaku dan Pak Edi sambil tersenyum, lalu ia tergesa berjalan ke luar kantor.
Tiba-tiba gawaiku bergetar, tertera nama seorang mahasiswaku di sana. Ku tekan tombol bergambar telpon itu dengan hati yang tak menentu.
(Rafael? Kenapa?)
(Bu, bolehkah saya ke rumah Ibu nanti sore?)
(Memangnya ada perlu apa?)
(Ada yang ingin saya bicarakan dengan Ibu