Bab 2

Claudia diam tidak menjawab. Bagi Claudia Yanuar lebih baik dari Bobby. Namun, ia tidak tahu apakah Yanuar menaruh hati kepadanya? Selama ini Yanuar bersikap sopan kepada Claudia. Mungkin karena Claudia adalah menantu pemilik perusahaan tempat Yanuar bekerja.

“Yanuar memang orang yang baik. Dia juga seorang Ayah yang baik. Tapi Ayah tidak yakin kalau dia bisa membahagian kamu,” ujar Sultan.

“Apa karena Yanuar hanya seorang pegawai Rendi dan lebih miskin dari Pak Bobby?” tanya Claudia.

“Bukan hanya soal harta. Yanuar lebih muda darimu, Ayah tidak yakin dia bisa menghadapi kelakuanmu yang kadang-kadang ke kanak-kanakan,” ujar Sultan.

“Tapi Pak Bobby seperti teh celup. Tukang celup sana celup sini,” kata Claudia. Mendengar perkataan Claudia, Rahma langsung menutup mulutnya menahan tawa.

“Dia sudah bertobat. Allah SWT mau memaafkan kesalahan hambanya yang bertaubat. Masa kamu tidak mau memaafkan Pak Bobby,” ujar Sultan.

“Mulai sekarang kamu sholat istikharah biar kamu diberikan ketetapan hati!” ujar Sultan.

“Sudah Ayah,” jawab Claudia.

“Lalu jawabannya apa?” tanya Sultan.

Claudia diam. Ia tidak menjawab apapun. Jawaban sholat istikharah hanya Allah SWT dan ia yang tahu.

“Sudah, tidak perlu kamu kasih tahu. Ayah sudah tahu jawabannya,” ujar Sultan.

Claudia kaget mendengar perkataan Sultan. Tapi ia tetap tutup mulut tidak mau mengatakan apapun.

Tiba-tiba, “Assalamualaikum.” Ada yang mengucapkan salam di pintu menuju garasi.

Semua orang menoleh ke arah pintu. Bobby sedang berdiri di pintu menuju garasi. Entah sudah berapa lama ia berada di sana.

“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang sedang berada di ruangan tersebut.

“Masuk, Pak Bobby!” kata Rendi.

Bobby masuk ke dalam rumah lalu menuju ke ruang keluarga. Ia menyalami semua orang yang ada di ruangan itu. Tiba-tiba terdengar suara Dafa menangis dari walkie-talkie yang berada di saku daster Rahma.

“Dafa bangun. Rahma mau memandikan Dafa dulu.” Rahma beranjak dari sofa.

“Mama mau bantu Rahma memandikan Dafa.” Claudia juga beranjak dari sofa hendak menyusul Rahma.

“Claudia!” Sultan memanggil Claudia.

Claudia menoleh ke Sultan.

“Buatkan minuman untuk Pak Bobby!” ujar Sultan.

“Rendi, sana kamu bantu Rahma memandikan Dafa!” kata Sultan kepada Rendi.

“Iya, Kek.” Rendi beranjak dari sofa lalu menuju ke kamarnya.

Claudia menghela napas lalu menghampiri Sultan dan Bobby.

“Mau minum apa?” tanya Claudia kepada Bobby.

“Kopi,” jawab Bobby.

“Tidak takut kena serangan jantung minum kopi melulu?” tanya Claudia dengan ketus.

“Dari pagi saya belum minum kopi sama sekali,” ujar Bobby.

‘Masa bodo, memangnya aku pikirin,’ kata Claudia di dalam hati.

“Ayah mau minum apa?” tanya Claudia.

“Ayah mau air putih saja,” jawab Sultan.

Claudia pun menuju ke dapur bersih untuk membuatkan kopi. Setelah selesai membuat kopi, Claudia membawa secangkir kopi dan air putih ke ruang keluarga. Lalu ia menaruh cangkir dan gelas di atas meja sofa.

“Duduk!” Sultan menyuruh Claudia duduk. Claudia menghela napas lalu duduk di sofa.

“Pak Bobby, silahkan diminum kopinya!” ujar Sultan. Sultan meminum air putih dan Bobby meminum kopi.

Sultan meletakkan gelas di atas meja sofa. “Ayah mau mandi dan sholat ashar. Kamu selesaikan urusanmu dengan Pak Bobby!” ujar Sultan.

Bobby bingung mendengarkan perkataan Sultan. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sultan.

“Pak Bobby, saya mau mandi lalu sholat ashar. Kamu ajak Claudia jalan-jalan agar pikiran dia fresh. Kasihan dia kerjanya hanya mengurus ayah mertua, anak, menantu dan cucunya!” ujar Sultan.

Bobby langsung tersenyum gembira ketika mendengar perkataan Sultan.

“Baik, Pak Sultan,” jawab Bobby.

Sultan beranjak dari sofa lalu berjalan menuju ke kamarnya. Tinggallah Claudia dan Bobby berdua di ruang keluarga. Claudia menekukkan wajahnya agar tidak sedap dipandang mata Bobby.

“Ibu Claudia mau jalan-jalan kemana?” tanya Bobby dengan sabar.

Claudia bukan menjawab pertanyaan Bobby tetapi ia malah beranjak dari sofa. Ia berjalan menuju ke dapur bersih. Ia menyimpan nampan bekas membawa minuman di dapur bersih. Lalu ia berjalan menuju ke kamarnya.

“Eh, Ibu Claudia mau kemana?” tanya Bobby.

“Mau mandi terus sholat,” jawab Claudia tanpa menoleh ke belakang. Ia terus saja berjalan ke kamarnya.

Bobby menghela napas melihat perlakuan Claudia. Akhirnya ia memutuskan untuk sholat ashar di mushola. Bobby berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di dekat ruang tamu. Selesai berwudhu Bobby menuju ke mushola yang berada di dekat ruang keluarga.

Setelah selesai sholat Bobby kembali ke ruang keluarga, namun ruang keluarga nampak masih sepi. Sepertinya para pemilik rumah masih berada di dalam kamar. Sepuluh menit kemudian Rendi keluar dari kamar sambil menggendong Dafa. Bapak dan anak itu terlihat sudah mandi sore. Rendi menghampiri Bobby.

“Loh, kok sepi? Pada kemana?” tanya Rendi.

“Pak Sultan sedang mandi dan sholat. Ibu Claudia juga sedang mandi dan sholat,” jawab Bobby.

“Jadi Om sendirian?” tanya Rendi.

“Iya,” jawab Bobby.

Bobby mendekati Dafa lalu mencolek pipi Dafa dengan gemas.

“Tapi sekarang kan ada Dafa yang menemani kakek,” ujar Bobby.

“Iya, kan Daf?” Bobby bertanya kepada Dafa. Bayi dua bulan itu tertawa ketika ditanya oleh Bobby.

Sultan keluar dari kamar dan menghampiri Bobby dan Rendi. Ia tidak melihat Claudia.

“Loh, mama kamu kemana?” Sultan bertanya kepada Rendi.

“Kata Pak Bobby, mama sedang berada di kamar. Mandi terus sholat,” jawab Rendi.

“Oh. Ya, sudah kalau sedang mandi.” Sultan duduk di sofa.

“Pak Bobby, dimakan goreng singkongnya! Jangan cuma dilihatin aja!” Sultan mengambil sepotong singkong goreng.

“Iya, Pak.” Bobby juga mengambil sepotong singkong goreng lalu memakan singkong goreng tersebut. Rahma keluar dari kamar lalu bergabung dengan mereka.

“Ma, coba kamu lihat mama sedang apa di kamar? Kok lama sekali,” ujar Sultan.

“Baik, Kek.” Rahma beranjak dari sofa lalu berjalan menuju ke kamar Claudia.

Kamar Claudia berada di dekat ruang keluarga. Rahma mengetuk pintu kamar Claudia. Tidak lama kemudian Claudia membuka pintu kamar.

Claudia terlihat sudah rapih. Ia memakai baju untuk pergi keluar. Wajahnya memakai make up tipis seperti kalau hendak belanja ke supermarket bersama Rahma. Hanya saja kerudungnya belum dipakai dengan benar, baru dipakai hanya untuk menutupi rambut saja.

“Ada apa, Ma?” tanya Claudia.

“Kakek mencari Mama,” jawab Rahma.

“Tunggu sebentar. Mama mau pakai kerudung dulu,” ujar Claudia.

“Baik, Ma.” Rahma meninggalkan kamar Claudia. Ia kembali ke ruang keluarga.

“Mama sedang pakai kerudung dulu,” kata Rahma kepada Sultan. Rahma duduk di sebelah Rendi.

Tidak lama kemudian Claudia keluar dari kamar sudah berdandan rapih dan cantik. Ia juga membawa tas tangan. Namun, wajahnya tetap saja cemberut. Bobby menatap pujaan hatinya. Rendi menatap Claudia dengan bingung.

“Mama mau kemana?” tanya Rendi.

Bab 3

“Mamamu mau pergi jalan-jalan dengan Pak Bobby,” jawab Sultan.

“Hah?” Rendi dan Rahma terkejut mendengarnya.

“Sudah sana pergi! Nanti keburu malam,” ujar Sultan kepada Bobby dan Claudia.

Bobby beranjak dari sofa lalu menghampiri Sultan. “Kami pergi dulu, Pak.” Bobby menyalami tangan Sultan.

“Hem. Pulangnya jangan terlalu malam!” ujar Sultan.

“Baik, Pak,” jawab Bobby.

Claudia menghampiri Sultan.

“Yah. Claudia pergi dulu.” Claudia mencium tangan Sultan.

“Senyum, dong! Jangan cemberut saja!” ujar Sultan sambil memperhatikan wajah Claudia yang dari tadi cemberut terus. Claudia menarik bibirnya dengan dipaksa. Claudia menghampiri Dafa.

“Oma pergi dulu, ya.” Claudia mencium pipi Dafa yang menggemaskan. Bayi itu tertawa ketika dicium oleh omanya.

“Mama pergi dulu.” Claudia berpamitan kepada Rendi dan Rahma. Rendi dan Rahma mencium tangan Claudia.

“Kami pergi dulu.” Bobby pamit kepada Rendi dan Rahma.

“Dadah Dafa.” Bobby melambaikan tangannya ke Dafa.

“Dadah, Kakek.” Rahma mengangkat tangan Dafa lalu dilambaikan ke arah Bobby.

“Titip Mama, Pak!” kata Rendi.

“Iya, Ren. Saya akan jaga mamamu sebaik mungkin,” ujar Bobby.

Ibu Claudia mencibirkan bibirnya ketika mendengar perkataan Bobby.

“Assalamualaikum,” ucap Claudia dan Bobby.

“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.

“Dadah Dafa.” Claudia melambaikan tangannya ke Dafa. Bobby lebih dahulu berjalan menuju ke mobil. Claudia menyusul berjalan menuju mobil Bobby. Bobby membuka kunci pintu mobil dengan menggunakan remote.

Kemudian Bobby membukakan pintu untuk Claudia. Claudia masuk ke dalam mobil lalu Bobby menutupkan pintu mobil. Kemudian Bobby berjalan menuju ke pintu kemudi lalu masuk ke dalam mobil.

Bobby menyalakan mesin mobil lalu mobil pun melaju meninggalkan rumah Sultan. Bobby mengendarai mobilnya menembus kepadatan lalu lintas kota Bandung di hari Sabtu.

“Mau jalan-jalan kemana?” Bobby menoleh sebentar ke ClaudIa.

“Terserah,” jawab Claudia tanpa menoleh ke arah Bobby. Wajahnya terus saja memandang ke arah jendela tanpa memperdulikan Bobby yang sedang menyetir mobil.

“Bagaimana kalau kita ke Dago? Kita menikmati keindahan alam sambil ditemani secangkir kopi dan bala-bala?” tanya Bobby.

Ibu Claudia menoleh ke Bobby. “Bukannya tadi sudah minum kopi?” tanya Claudia.

“Iya, deh. Ganti sama teh saja,” ujar Bobby. Claudia tidak melanjutkan lagi percakapannya. Ia menoleh kembali ke jendela samping.

Bobby mengarahkan mobilnya menuju ke Dago. Jalan Dago sangat padat. Mobil Bobby jalan merayap menuju ke Dago atas. Setelah sampai di Dago, Bobby mengarahkan mobilnya menuju Warbu.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di Warbu sebuah tempat kedai kopi yang berada di pinggiran hutan lindung Ir Haji Djuanda. Bobby menghentikan mobilnya di tempat parkir.

Ibu Claudia memperhatikan di sekeliling Warbu yang ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati kopi sambil melihat pemandangan yang indah. Ketika Claudia masih memperhatikan suasana Warbu, Bobby lebih dulu turun dari mobil. Ia membukakan pintu untuk Claudia.

“Ayo kita turun,” ujar Bobby. Claudia turun dari mobil lalu Bobby menutup pintu mobil. Mereka berjalan menuju ke sebuah kedai kopi yang ada di sana. Kedai kopi itu penuh dengan anak muda yang sedang minum kopi dengan pasangannya.

Ada juga pasangan muda yang membawa anak mereka. Ada juga segerombolan anak remaja laki-laki yang sedang menikmati kopi sambil bersenda gurau dengan teman-teman mereka.

“Bu Claudia mau pesan apa?” tanya Bobby.

Claudia memperhatikan daftar menu yang ada di kedai tersebut. Kedai itu menyediakan bebagai macam makanan ringan. Bahkan mereka juga menyediakan mie instant dan kwetiau goreng.

“Saya mau pisang bakar dan teh manis panas,” Claudia.

Karyawan kedai mencatat pesanan Ibu Claudia.

“Saya juga mau pisang bakar dan teh manis panas,” ujar Bobby.

Bobby membayar pesanannya lalu mereka mencari tempat duduk yang kosong. Kebetulan ada tempat duduk yang kosong yang langsung menghadap ke pemandangan pepohonan pinus yang indah. Claudia asyik memandangi pemandangan yang indah tanpa mengindahkan Bobby yang duduk di depannya.

Bobby memperhatikan Claudia yang dari tadi terus saja mengacuhkannya. Mereka mirip seperti suami istri yang sedang marah. Tidak terucap satu patah katapun dari mulut mereka. Tidak lama kemudian karyawan kedai datang membawa pesanan mereka. Karyawan itu meletakkan pesanan mereka di atas meja.

“Terima kasih,” ucap Claudia kepada karyawan kedai.

Karyawan kedai pun pergi meninggalkan meja mereka. Claudia mencicipi pisang bakar. Rasanya biasa saja dibandingkan dengan pisang bakar buatannya. Namun, ia tetap melahap pisang bakar tersebut.

Bobby memperhatikan Claudia yang sedang memakan pisang bakar. Tidak ada nada protes dari mulut Claudia. Hingga Claudia menghabiskan pisang bakar.

“Mau pesan lagi?” tanya Bobby.

“Tidak usah! Sudah kenyang,” jawab Claudia. Claudia meminum teh manis panas. Teh itu sudah berubah menjadi dingin karena udara di sekitar mereka memang dingin.

“Saya dengar Pak Bobby datang ke kantor Rendi. Untuk apa Pak Bobby ke kantor Rendi?” tanya Claudia.

Namun, Bobby tidak menjawab pertanyaan Ibu Claudia. Mata Bobby tertuju ke atas pohon yang berada di belakang Claudia. Claudia kesal karena dia merasa didiamkan saja oleh Bobby.

“Pak Bobby!” seru Claudia. Suara Claudia tidak terlalu kencang, namun wajah Claudia terlihat marah.

Bobby menoleh ke Claudia, wajahnya terlihat tegang. Tiba-tiba Bobby mengambil telepon seluler dan tas Claudia yang tergeletak di atas meja. Ia memasukkan telepon seluler Claudia ke dalam tas.

“Ihhh! Kok diambil, sih?!” tanya Claudia dengan kesal. Ia berusaha untuk mengambil tas yang dipegang oleh Bobby. Namun, Bobby memegang tas Claudia dengan erat.

“Ayo, kita pergi dari sini!” Bobby memegang pergelangan tangan Claudia lalu menarik tangan Claudia tidak terlalu kencang. Ia tidak ingin menyakiti Claudia.

“Pak Bobby apa-apa, sih?” Claudia memberontak berusaha untuk melepaskan tangan yang dipegang oleh Bobby.

Tiba-tiba ada seorang anak berteriak sambil menunjuk ke pohon yang tidak jauh dari tempat duduk Bobby dan Claudia. “Ma, itu ada monyet di atas pohon.” Semua orang kaget mendengar teriakan anak itu.

Claudia berhenti berontak. Ia hendak menoleh ke belakang, namun Bobby berkata. “Ayo cepat pergi dari sini! Sebelum monyet-monyet itu turun dari pohon.”

Akhirnya Claudia mengikuti Bobby meninggalkan tempat tersebut. Pak Bobby berjalan ambil memegang tangan Claudia. Sedangkan tangan kirinya memegang tas Claudia.

Baru saja mereka berjalan beberapa langkah terdengar teriakan para pengunjung. Bobby dan Claudia menoleh ke belakang. Monyet-monyet loncat dari pohon menuju ke meja yang tadi di tempati oleh Bobby dan Claudia. Semua pengunjung kedai kopi berhamburan takut diganggu oleh kawanan monyet tersebut.

“Ayo!” Bobby menarik tangan Claudia. Mereka berjalan dengan cepat menuju ke tempat parkir.

Bobby melepas tangan Claudia. Ia membuka kunci mobil dengan menggunakan remote lalu membukakan pintu mobil untuk Claudia. Claudia masuk ke dalam mobil, Bobby memberikan tas kepada Claudia. Lalu Bobby menutup pintu mobil. Ia berjalan menuju ke pintu kemudi. Bobby membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil.

“Sebentar lagi adzan magrib. Kita cari masjid untuk sholat magrib,” ujar Bobby. Bobby memakai safety belt.

“Sholat di rumah saja,” kata Claudia.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED