Rendi duduk di kursi kebesarannya. Ia sedang membaca laporan keuangan perusahaannya. Tiba-tiba intercom di atas meja kerjanya berbunyi. Rendi mengangkat intercom tersebut.
“Ada apa, Jen?” tanya Rendi.
“Di bawah ada tamu bernama Pak Bobby mau bertemu dengan Bapak,” kata Jeni.
Rendi kaget mendengarnya. Ada urusan apa Bobby datang ke kantornya? Padahal Bobby belum pernah datang ke kantornya. Biasanya mereka bertemu di lapangan golf. Namun, sekarang Bobby sering datang ke rumah Rendi. Jadi mereka sering bertemu di rumah Rendi.
“Suruh beliau masuk!” ujar Rendi.
“Baik, Pak,” jawab Jeni.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan Rendi terbuka. Jeni mempersilahkan Bobby masuk ke dalam ruang kerja Rendi. Rendi beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Bobby.
“Apa kabar, Bobby?” Rendi menyalami tangan Bobby.
“Alhamdulillah baik,” jawab Bobby.
“Silahkan duduk, Pak,” kata Rendi. Bobby duduk di sofa. Ia memperhatikan sekeliling ruang kerja Rendi. Pandangan Bobby tertuju pada satu foto yang menempel di dinding ruang kerja Rendi. Foto itu adalah foto seorang pria yang masih muda. Sepertinya itu adalah foto ayah Rendi karena foto itu terlihat seperti foto lama.
“Itu ayahmu?” Bobby menunjuk ke foto tersebut. Rendi menoleh ke arah foto yang ditunjuk Bobby.
“Iya, Om. Itu Papa saya. Beliau meninggal ketika saya berusia lima belas tahun,” jawab Rendi.
“Pak Bobby mau minum apa?” tanya Rendi.
“Hmm, Tidak ada kopi buatan mamamu, ya?” tanya Bobby.
“Tidak ada, Pak. Kalau mau minum kopi seperti itu datang saja ke rumah,” kata Rendi sambil tertawa.
“Kalau begitu minum teh manis saja,” ujar Bobby.
“Tidak mau minum kopi?” tanya Rendi.
“Tidak. Nanti saja minum kopi kalau ke rumahmu,” jawab Bobby.
“Saya pesankan dulu.” Rendi beranjak dari tempat duduk lalu berjalan menuju ke pintu ruang kerjanya. Ia membuka pintu ruang kerja.
“Jen. Tolong buatkan teh manis dua!” ujar Rendi kepada sekretarisnya. Lalu Rendi menutup pintu ruang kerja. Ia kembali duduk di sofa.
“Ada apa, nih? Sepertinya ada urusan penting,” tanya Rendi.
“Begini, Ren. Ada yang saya katakan kepadamu,” ujar Bobby.
“Tentang apa, Pak?” tanya Rendi.
“Tentang mamamu. Saya ingin melamar mamamu,” ujar Bobby.
“Loh, mau melamar Mama kenapa bicara ke saya? Kenapa tidak langsung bicara ke Mama?” tanya Rendi.
“Kamu kan anaknya. Saya minta ijin ke kamu untuk menikahi mamamu,” ujar Bobby. Rendi tersenyum mendengar perkataan Bobby. Bobby menghargainya sebagai anak dari Claudia.
“Pak. Sebagai anak saya setuju saja jika mama saya menikah lagi. Asalkan untuk dibahagiakan, bukan untuk disakiti, disia-siakan dan dibuat menangis setiap hari!” kata Rendi.
Mendengar perkataan Rendi, Bobby langsung bernapas lega. Rendi tidak menghalangi mamanya untuk menikah lagi.
“Kamu mengatakan demikian karena masa lalu saya yang buruk,” ujar Bobby dengan sedih.
“Pak, bukan maksud saya untuk menyinggung Pak Bobby. Saya hanya ingin mama saya kembali ceria seperti dulu saat papa saya masih hidup.” Tiba-tiba air mata Rendi mengalir mengenang masa kecilnya ketika papanya masih hidup.
“Saya akan sangat berterima kasih kalau Bobby bisa membahagiakan mama saya. Sebagai anak saya sangat ingin melihat mama saya hidup bahagia dengan orang yang mencintainya.” Rendi mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
“Tentu saja. Saya akan berusaha untuk membahagiakan mamamu. Akan saya buktikan kalau mamamu bisa lagi bahagia seperti dulu,” ujar Bobby.
***
Setelah mendapat ijin dari Rendi, Bobby lebih sering datang ke rumah Sultan walaupun Sultan tidak menyuruh Bobby datang ke rumah. Melihat Bobby yang lebih sering datang ke rumah, membuat Claudia menjadi bertambah kesal.
“Ayah.” Claudia menghampiri Sultan yang sedang berbicara dengan Rendi. Claudia duduk di kursi sofa dengan wajah cemberut.
“Kenapa?” tanya Sultan.
“Kenapa sih, Ayah sering menyuruh Pak Bobby ke rumah?” tanya Claudia dengan kesal.
“Ayah tidak sering menyuruh dia datang ke sini. Ayah menyuruh dia datang kalau Ayah butuh teman main catur. Kalau ada Rendi, Ayah tidak menyuruh dia datang ke sini,” jawab Sultan.
“Lalu kenapa dia sering sekali datang ke sini?” tanya Claudia.
“Ayah tidak tahu. Mungkin dia ingin bertemu sama kamu. Atau mungkin mau minum kopi buatan kamu,” jawab Sultan.
“Mau minum kopi kok harus ke sini. Memangnya tidak punya pembantu buat disuruh-suruh,” gerutu Claudia.
“Mungkin dia suka dengan kopi buatamu daripada kopi buatan pembantunya,” ujar Sultan.
“Memangnya Claudia pembantu Pak Bobby,” kata Claudia kesal.
Claudia tidak suka dengan pria hidung belang seperti Bobby. Claudia males beramah tamah dengan pria seperti Bobby. Namun, karena Bobby sudah menyelamatkan Rahma, terpaksa Claudia harus bersikap sopan dan ramah kepada Bobby.
‘Dasar playboy cap kampak,’ gerutu Claudia di dalam hati.
Rendi teringat dengan perkataan Bobby ketika datang ke kantornya beberapa hari yang lalu. Ia belum memberitahu Claudia tentang Bobby yang datang ke kantor untuk melamar Claudia.
“Oh, iya. Ada yang mau Rendi sampaikan kepada Mama,” kata Rendi.
Rahma datang dari dapur membawa sepiring singkong goreng. Lalu ia letakkan di atas meja sofa.
“Dafa sedang apa?” Rendi mengambil satu potong singkong goreng lalu memakan singkong goreng.
“Sedang tidur. Tadi mau dimandikan tapi Dafa masih tidur.” Rahma duduk di sebelah Claudia.
“Tadi kamu mau bicara apa ke Mama?” tanya Claudia.
“Nanti dulu. Rendi mau habiskan singkong goreng dulu.” Rendi mengunyah singkong goreng. Ia menikmati singkong goreng buatan istrinya. Claudia sudah tidak sabar mendengarkan cerita Rendi. Rendi menghabiskan singkong goreng lalu meneguk air putih yang sudah disediakan Rahma.
“Beberapa hari yang lalu Bobby datang ke kantor Rendi,” kata Rendi.
Claudia mengerutkan keningnya mendengar perkataan Rendi. “Mau apa dia datang ke kantor Rendi?” tanya Claudia.
Rendi menceritakan apa yang Bobby katakan. Sultan dan Rahma juga mendengarkan perkataan Rendi. Claudia bertambah marah ketika mendengar cerita Rendi.
“Rendi! Kenapa kamu bilang begitu kepada Bobby? Kamu seperti memberi ijin agar Bobby mendekati Mama!” seru Ibu Claudia dengan kesal.
“Claudia, apa yang Rendi katakan itu benar. Dia ingin melihat mamanya hidup bahagia.” Sultan mencoba memberi pengertian kepada Claudia.
“Apa Ayah sudah tidak ingin Claudia tinggal di sini?” tanya Claudia dengan sedih.
“Bukan begitu, Claud. Semenjak kamu menikah dengan Raja, kamu sudah menjadi anak Ayah. Bahkan setelah Raja meninggal, kamu tetap menjadi anak Ayah. Sudah menjadi kewajiban Ayah melindungi kamu dan Rendi,” ujar Sultan.
“Sekarang Rendi sudah besar, dia sudah punya keluarga kecil sendiri. Ayah juga ingin kamu juga hidup bahagia dengan orang yang mencintai kamu,” lanjut Sultan.
“Claud mengerti, Yah.Tapi bukan dengan Bobby,” kata Claudia.
“Lalu dengan siapa? Yanuar?” tanya Sultan.
Claudia diam tidak menjawab. Bagi Claudia Yanuar lebih baik dari Bobby. Namun, ia tidak tahu apakah Yanuar menaruh hati kepadanya? Selama ini Yanuar bersikap sopan kepada Claudia. Mungkin karena Claudia adalah menantu pemilik perusahaan tempat Yanuar bekerja.
“Yanuar memang orang yang baik. Dia juga seorang Ayah yang baik. Tapi Ayah tidak yakin kalau dia bisa membahagian kamu,” ujar Sultan.
“Apa karena Yanuar hanya seorang pegawai Rendi dan lebih miskin dari Pak Bobby?” tanya Claudia.
“Bukan hanya soal harta. Yanuar lebih muda darimu, Ayah tidak yakin dia bisa menghadapi kelakuanmu yang kadang-kadang ke kanak-kanakan,” ujar Sultan.
“Tapi Pak Bobby seperti teh celup. Tukang celup sana celup sini,” kata Claudia. Mendengar perkataan Claudia, Rahma langsung menutup mulutnya menahan tawa.
“Dia sudah bertobat. Allah SWT mau memaafkan kesalahan hambanya yang bertaubat. Masa kamu tidak mau memaafkan Pak Bobby,” ujar Sultan.
“Mulai sekarang kamu sholat istikharah biar kamu diberikan ketetapan hati!” ujar Sultan.
“Sudah Ayah,” jawab Claudia.
“Lalu jawabannya apa?” tanya Sultan.
Claudia diam. Ia tidak menjawab apapun. Jawaban sholat istikharah hanya Allah SWT dan ia yang tahu.
“Sudah, tidak perlu kamu kasih tahu. Ayah sudah tahu jawabannya,” ujar Sultan.
Claudia kaget mendengar perkataan Sultan. Tapi ia tetap tutup mulut tidak mau mengatakan apapun.
Tiba-tiba, “Assalamualaikum.” Ada yang mengucapkan salam di pintu menuju garasi.
Semua orang menoleh ke arah pintu. Bobby sedang berdiri di pintu menuju garasi. Entah sudah berapa lama ia berada di sana.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang sedang berada di ruangan tersebut.
“Masuk, Pak Bobby!” kata Rendi.
Bobby masuk ke dalam rumah lalu menuju ke ruang keluarga. Ia menyalami semua orang yang ada di ruangan itu. Tiba-tiba terdengar suara Dafa menangis dari walkie-talkie yang berada di saku daster Rahma.
“Dafa bangun. Rahma mau memandikan Dafa dulu.” Rahma beranjak dari sofa.
“Mama mau bantu Rahma memandikan Dafa.” Claudia juga beranjak dari sofa hendak menyusul Rahma.
“Claudia!” Sultan memanggil Claudia.
Claudia menoleh ke Sultan.
“Buatkan minuman untuk Pak Bobby!” ujar Sultan.
“Rendi, sana kamu bantu Rahma memandikan Dafa!” kata Sultan kepada Rendi.
“Iya, Kek.” Rendi beranjak dari sofa lalu menuju ke kamarnya.
Claudia menghela napas lalu menghampiri Sultan dan Bobby.
“Mau minum apa?” tanya Claudia kepada Bobby.
“Kopi,” jawab Bobby.
“Tidak takut kena serangan jantung minum kopi melulu?” tanya Claudia dengan ketus.
“Dari pagi saya belum minum kopi sama sekali,” ujar Bobby.
‘Masa bodo, memangnya aku pikirin,’ kata Claudia di dalam hati.
“Ayah mau minum apa?” tanya Claudia.
“Ayah mau air putih saja,” jawab Sultan.
Claudia pun menuju ke dapur bersih untuk membuatkan kopi. Setelah selesai membuat kopi, Claudia membawa secangkir kopi dan air putih ke ruang keluarga. Lalu ia menaruh cangkir dan gelas di atas meja sofa.
“Duduk!” Sultan menyuruh Claudia duduk. Claudia menghela napas lalu duduk di sofa.
“Pak Bobby, silahkan diminum kopinya!” ujar Sultan. Sultan meminum air putih dan Bobby meminum kopi.
Sultan meletakkan gelas di atas meja sofa. “Ayah mau mandi dan sholat ashar. Kamu selesaikan urusanmu dengan Pak Bobby!” ujar Sultan.
Bobby bingung mendengarkan perkataan Sultan. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sultan.
“Pak Bobby, saya mau mandi lalu sholat ashar. Kamu ajak Claudia jalan-jalan agar pikiran dia fresh. Kasihan dia kerjanya hanya mengurus ayah mertua, anak, menantu dan cucunya!” ujar Sultan.
Bobby langsung tersenyum gembira ketika mendengar perkataan Sultan.
“Baik, Pak Sultan,” jawab Bobby.
Sultan beranjak dari sofa lalu berjalan menuju ke kamarnya. Tinggallah Claudia dan Bobby berdua di ruang keluarga. Claudia menekukkan wajahnya agar tidak sedap dipandang mata Bobby.
“Ibu Claudia mau jalan-jalan kemana?” tanya Bobby dengan sabar.
Claudia bukan menjawab pertanyaan Bobby tetapi ia malah beranjak dari sofa. Ia berjalan menuju ke dapur bersih. Ia menyimpan nampan bekas membawa minuman di dapur bersih. Lalu ia berjalan menuju ke kamarnya.
“Eh, Ibu Claudia mau kemana?” tanya Bobby.
“Mau mandi terus sholat,” jawab Claudia tanpa menoleh ke belakang. Ia terus saja berjalan ke kamarnya.
Bobby menghela napas melihat perlakuan Claudia. Akhirnya ia memutuskan untuk sholat ashar di mushola. Bobby berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di dekat ruang tamu. Selesai berwudhu Bobby menuju ke mushola yang berada di dekat ruang keluarga.
Setelah selesai sholat Bobby kembali ke ruang keluarga, namun ruang keluarga nampak masih sepi. Sepertinya para pemilik rumah masih berada di dalam kamar. Sepuluh menit kemudian Rendi keluar dari kamar sambil menggendong Dafa. Bapak dan anak itu terlihat sudah mandi sore. Rendi menghampiri Bobby.
“Loh, kok sepi? Pada kemana?” tanya Rendi.
“Pak Sultan sedang mandi dan sholat. Ibu Claudia juga sedang mandi dan sholat,” jawab Bobby.
“Jadi Om sendirian?” tanya Rendi.
“Iya,” jawab Bobby.
Bobby mendekati Dafa lalu mencolek pipi Dafa dengan gemas.
“Tapi sekarang kan ada Dafa yang menemani kakek,” ujar Bobby.
“Iya, kan Daf?” Bobby bertanya kepada Dafa. Bayi dua bulan itu tertawa ketika ditanya oleh Bobby.
Sultan keluar dari kamar dan menghampiri Bobby dan Rendi. Ia tidak melihat Claudia.
“Loh, mama kamu kemana?” Sultan bertanya kepada Rendi.
“Kata Pak Bobby, mama sedang berada di kamar. Mandi terus sholat,” jawab Rendi.
“Oh. Ya, sudah kalau sedang mandi.” Sultan duduk di sofa.
“Pak Bobby, dimakan goreng singkongnya! Jangan cuma dilihatin aja!” Sultan mengambil sepotong singkong goreng.
“Iya, Pak.” Bobby juga mengambil sepotong singkong goreng lalu memakan singkong goreng tersebut. Rahma keluar dari kamar lalu bergabung dengan mereka.
“Ma, coba kamu lihat mama sedang apa di kamar? Kok lama sekali,” ujar Sultan.
“Baik, Kek.” Rahma beranjak dari sofa lalu berjalan menuju ke kamar Claudia.
Kamar Claudia berada di dekat ruang keluarga. Rahma mengetuk pintu kamar Claudia. Tidak lama kemudian Claudia membuka pintu kamar.
Claudia terlihat sudah rapih. Ia memakai baju untuk pergi keluar. Wajahnya memakai make up tipis seperti kalau hendak belanja ke supermarket bersama Rahma. Hanya saja kerudungnya belum dipakai dengan benar, baru dipakai hanya untuk menutupi rambut saja.
“Ada apa, Ma?” tanya Claudia.
“Kakek mencari Mama,” jawab Rahma.
“Tunggu sebentar. Mama mau pakai kerudung dulu,” ujar Claudia.
“Baik, Ma.” Rahma meninggalkan kamar Claudia. Ia kembali ke ruang keluarga.
“Mama sedang pakai kerudung dulu,” kata Rahma kepada Sultan. Rahma duduk di sebelah Rendi.
Tidak lama kemudian Claudia keluar dari kamar sudah berdandan rapih dan cantik. Ia juga membawa tas tangan. Namun, wajahnya tetap saja cemberut. Bobby menatap pujaan hatinya. Rendi menatap Claudia dengan bingung.
“Mama mau kemana?” tanya Rendi.
“Mamamu mau pergi jalan-jalan dengan Pak Bobby,” jawab Sultan.
“Hah?” Rendi dan Rahma terkejut mendengarnya.
“Sudah sana pergi! Nanti keburu malam,” ujar Sultan kepada Bobby dan Claudia.
Bobby beranjak dari sofa lalu menghampiri Sultan. “Kami pergi dulu, Pak.” Bobby menyalami tangan Sultan.
“Hem. Pulangnya jangan terlalu malam!” ujar Sultan.
“Baik, Pak,” jawab Bobby.
Claudia menghampiri Sultan.
“Yah. Claudia pergi dulu.” Claudia mencium tangan Sultan.
“Senyum, dong! Jangan cemberut saja!” ujar Sultan sambil memperhatikan wajah Claudia yang dari tadi cemberut terus. Claudia menarik bibirnya dengan dipaksa. Claudia menghampiri Dafa.
“Oma pergi dulu, ya.” Claudia mencium pipi Dafa yang menggemaskan. Bayi itu tertawa ketika dicium oleh omanya.
“Mama pergi dulu.” Claudia berpamitan kepada Rendi dan Rahma. Rendi dan Rahma mencium tangan Claudia.
“Kami pergi dulu.” Bobby pamit kepada Rendi dan Rahma.
“Dadah Dafa.” Bobby melambaikan tangannya ke Dafa.
“Dadah, Kakek.” Rahma mengangkat tangan Dafa lalu dilambaikan ke arah Bobby.
“Titip Mama, Pak!” kata Rendi.
“Iya, Ren. Saya akan jaga mamamu sebaik mungkin,” ujar Bobby.
Ibu Claudia mencibirkan bibirnya ketika mendengar perkataan Bobby.
“Assalamualaikum,” ucap Claudia dan Bobby.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.
“Dadah Dafa.” Claudia melambaikan tangannya ke Dafa. Bobby lebih dahulu berjalan menuju ke mobil. Claudia menyusul berjalan menuju mobil Bobby. Bobby membuka kunci pintu mobil dengan menggunakan remote.
Kemudian Bobby membukakan pintu untuk Claudia. Claudia masuk ke dalam mobil lalu Bobby menutupkan pintu mobil. Kemudian Bobby berjalan menuju ke pintu kemudi lalu masuk ke dalam mobil.
Bobby menyalakan mesin mobil lalu mobil pun melaju meninggalkan rumah Sultan. Bobby mengendarai mobilnya menembus kepadatan lalu lintas kota Bandung di hari Sabtu.
“Mau jalan-jalan kemana?” Bobby menoleh sebentar ke ClaudIa.
“Terserah,” jawab Claudia tanpa menoleh ke arah Bobby. Wajahnya terus saja memandang ke arah jendela tanpa memperdulikan Bobby yang sedang menyetir mobil.
“Bagaimana kalau kita ke Dago? Kita menikmati keindahan alam sambil ditemani secangkir kopi dan bala-bala?” tanya Bobby.
Ibu Claudia menoleh ke Bobby. “Bukannya tadi sudah minum kopi?” tanya Claudia.
“Iya, deh. Ganti sama teh saja,” ujar Bobby. Claudia tidak melanjutkan lagi percakapannya. Ia menoleh kembali ke jendela samping.
Bobby mengarahkan mobilnya menuju ke Dago. Jalan Dago sangat padat. Mobil Bobby jalan merayap menuju ke Dago atas. Setelah sampai di Dago, Bobby mengarahkan mobilnya menuju Warbu.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di Warbu sebuah tempat kedai kopi yang berada di pinggiran hutan lindung Ir Haji Djuanda. Bobby menghentikan mobilnya di tempat parkir.
Ibu Claudia memperhatikan di sekeliling Warbu yang ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati kopi sambil melihat pemandangan yang indah. Ketika Claudia masih memperhatikan suasana Warbu, Bobby lebih dulu turun dari mobil. Ia membukakan pintu untuk Claudia.
“Ayo kita turun,” ujar Bobby. Claudia turun dari mobil lalu Bobby menutup pintu mobil. Mereka berjalan menuju ke sebuah kedai kopi yang ada di sana. Kedai kopi itu penuh dengan anak muda yang sedang minum kopi dengan pasangannya.
Ada juga pasangan muda yang membawa anak mereka. Ada juga segerombolan anak remaja laki-laki yang sedang menikmati kopi sambil bersenda gurau dengan teman-teman mereka.
“Bu Claudia mau pesan apa?” tanya Bobby.
Claudia memperhatikan daftar menu yang ada di kedai tersebut. Kedai itu menyediakan bebagai macam makanan ringan. Bahkan mereka juga menyediakan mie instant dan kwetiau goreng.
“Saya mau pisang bakar dan teh manis panas,” Claudia.
Karyawan kedai mencatat pesanan Ibu Claudia.
“Saya juga mau pisang bakar dan teh manis panas,” ujar Bobby.
Bobby membayar pesanannya lalu mereka mencari tempat duduk yang kosong. Kebetulan ada tempat duduk yang kosong yang langsung menghadap ke pemandangan pepohonan pinus yang indah. Claudia asyik memandangi pemandangan yang indah tanpa mengindahkan Bobby yang duduk di depannya.
Bobby memperhatikan Claudia yang dari tadi terus saja mengacuhkannya. Mereka mirip seperti suami istri yang sedang marah. Tidak terucap satu patah katapun dari mulut mereka. Tidak lama kemudian karyawan kedai datang membawa pesanan mereka. Karyawan itu meletakkan pesanan mereka di atas meja.
“Terima kasih,” ucap Claudia kepada karyawan kedai.
Karyawan kedai pun pergi meninggalkan meja mereka. Claudia mencicipi pisang bakar. Rasanya biasa saja dibandingkan dengan pisang bakar buatannya. Namun, ia tetap melahap pisang bakar tersebut.
Bobby memperhatikan Claudia yang sedang memakan pisang bakar. Tidak ada nada protes dari mulut Claudia. Hingga Claudia menghabiskan pisang bakar.
“Mau pesan lagi?” tanya Bobby.
“Tidak usah! Sudah kenyang,” jawab Claudia. Claudia meminum teh manis panas. Teh itu sudah berubah menjadi dingin karena udara di sekitar mereka memang dingin.
“Saya dengar Pak Bobby datang ke kantor Rendi. Untuk apa Pak Bobby ke kantor Rendi?” tanya Claudia.
Namun, Bobby tidak menjawab pertanyaan Ibu Claudia. Mata Bobby tertuju ke atas pohon yang berada di belakang Claudia. Claudia kesal karena dia merasa didiamkan saja oleh Bobby.
“Pak Bobby!” seru Claudia. Suara Claudia tidak terlalu kencang, namun wajah Claudia terlihat marah.
Bobby menoleh ke Claudia, wajahnya terlihat tegang. Tiba-tiba Bobby mengambil telepon seluler dan tas Claudia yang tergeletak di atas meja. Ia memasukkan telepon seluler Claudia ke dalam tas.
“Ihhh! Kok diambil, sih?!” tanya Claudia dengan kesal. Ia berusaha untuk mengambil tas yang dipegang oleh Bobby. Namun, Bobby memegang tas Claudia dengan erat.
“Ayo, kita pergi dari sini!” Bobby memegang pergelangan tangan Claudia lalu menarik tangan Claudia tidak terlalu kencang. Ia tidak ingin menyakiti Claudia.
“Pak Bobby apa-apa, sih?” Claudia memberontak berusaha untuk melepaskan tangan yang dipegang oleh Bobby.
Tiba-tiba ada seorang anak berteriak sambil menunjuk ke pohon yang tidak jauh dari tempat duduk Bobby dan Claudia. “Ma, itu ada monyet di atas pohon.” Semua orang kaget mendengar teriakan anak itu.
Claudia berhenti berontak. Ia hendak menoleh ke belakang, namun Bobby berkata. “Ayo cepat pergi dari sini! Sebelum monyet-monyet itu turun dari pohon.”
Akhirnya Claudia mengikuti Bobby meninggalkan tempat tersebut. Pak Bobby berjalan ambil memegang tangan Claudia. Sedangkan tangan kirinya memegang tas Claudia.
Baru saja mereka berjalan beberapa langkah terdengar teriakan para pengunjung. Bobby dan Claudia menoleh ke belakang. Monyet-monyet loncat dari pohon menuju ke meja yang tadi di tempati oleh Bobby dan Claudia. Semua pengunjung kedai kopi berhamburan takut diganggu oleh kawanan monyet tersebut.
“Ayo!” Bobby menarik tangan Claudia. Mereka berjalan dengan cepat menuju ke tempat parkir.
Bobby melepas tangan Claudia. Ia membuka kunci mobil dengan menggunakan remote lalu membukakan pintu mobil untuk Claudia. Claudia masuk ke dalam mobil, Bobby memberikan tas kepada Claudia. Lalu Bobby menutup pintu mobil. Ia berjalan menuju ke pintu kemudi. Bobby membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil.
“Sebentar lagi adzan magrib. Kita cari masjid untuk sholat magrib,” ujar Bobby. Bobby memakai safety belt.
“Sholat di rumah saja,” kata Claudia.