Bab 1

"Devano hari ini ada les matematika! Kamu nggak boleh telat pulang sekolah!"

"Iya Pah, Devan ngerti," jawab Devan sambil makan roti selai kacang dengan lahap.

"Oh ya, sore juga jangan lupa ya ada sekolah model. Kamu harus berangkat Devan!" tegas sang mama yang sibuk dengan ponselnya.

"Papah pergi dulu ya Devan, belajar yang bener ya di sekolah!" kata papa lalu pergi dari ruang makan sambil membawa ponselnya.

Sementara sang mamah juga sudah selesai dengan makanannya dan bersiap untuk berangkat ke kantor.

"Ayo cepat selesaikan makanan kamu Devan. Jangan sampai terlambat sekolah!" kata mamah lalu mencium pipi Devan dengan singkat.

Devan kini sendirian di ruang makan. Seperti biasa pada pagi setiap hari. Ia mendengus kesal dan membawa tas miliknya sambil pamit kepada bi inem asisten rumah tangga.

Devan keluar dari rumah menggunakan mobil miliknya. Ia kelas tiga SMA, sudah memiliki mobil pribadi. segera saja Devan melaju dengan cepat agar tidak terlambat ke sekolah. Wajahnya terlihat datar. Ada rasa kebencian yang tak bisa di ungkapkan di dalam hatinya.

Sampai di sekolah pelajaran pertama adalah matematika. Sungguh Devan sama sekali tidak menyukai pelajaran ini. Ia hanya di tuntut orang tuanya saja untuk mendapatkan nilai yang bagus.

"Hari ini bapak mau ngumumin nilai matematika," kata seorang guru matematika dengan tegas.

"Duh, nilai gue berapa nih," ucap Riri cemas yang duduk di belakang Devan.

"Ah, Lo mah nggak usah khawatir. Pasti lo dapet nilai 90 atau nggak 80. Gue nih yang cemas. Gue pasti dapet nilai lima deh, duh bego banget sih gue," kata Zahra dengan wajah cemberut.

"Berisik banget sih di belakang," ucap Devan dengan kesal di dalam hatinya. Ia menyangga dagunya dengan telapak tangannya sambil memperhatikan guru matematika.

"Bapak mau ngumumin nilai terbaik di kelas kita," kata pak Suryo sambil mencari kertas lembaran di atas meja.

"Nilai terbaik ulangan kemarin adalah Riri Alisa Ningrum,Selamat ya Riri. Mana Riri?" tanya pak Suryo guru paling tua di antara semua guru sekolah.

"Hah? Kok bisa? Kenapa bukan gue?" tanya Devan dengan bingung di dalam hatinya. Wajahnya terlihat panik sekali. Beberapa siswa melihat Devan sambil berbisik bisik.

"Tumben banget ya, Devan nggak dapet nilai terbaik. Biasanya dia selalu dapet nilai terbaik ulangan matematika,"

"Iya nih aneh banget,"

"Liat aja tuh mukanya keliatan cemas banget. Kasihan banget ya,"

Devan mendengar itu. Ia sangat muak sekali. Ia tidak bisa terima jika harus menerima kekalahan seperti ini.

"Pak ini Riri pak. Duduk di pojokan!" Seru Zahra sahabat Riri.

"Duh, gue malu nih mau maju ke depan," kata gadis berkulit putih dengan bibir merah alami. Ia terlihat bahagia sekali sekaligus malu.

"Udah buruan sana. Tuh pak Suryo udah nungguin," bisik Zahra sambil mendorong lengan Riri.

"Ayo Riri! Maju ya, nih bapak ada hadiah untuk kamu," kata pak Suryo dengan ramah.

Riri berjalan ke depan dan saat itu tatapan Devan sangat menyeramkan sekali melihat punggung Riri yang ada di depan sana.

"Nih, seperti biasa. Bapak kasih pulpen untuk siswa yang bisa dapet nilai terbaik ulangan matematika," kata pak Suryo sambil menyerahkan pulpen dengan warna emas itu.

"Ya meskipun pulpen itu harganya nggak berapa. Tapi anggap saja itu pulpen emas beneran ya," kata pak Suryo tertawa membuat beberapa murid tertawa sambil menutup mulutnya.

"Terimakasih banyak pak Suryo," kata Riri menunduk sopan sambil menerima hadiah pulpen.

Saat istirahat pertama telah berlangsung. Riri dan Zahra sedang makan di kantin dengan lahap.

"Lucu banget ya pak Suryo. Ngasih hadiahnya kaya gini," kata Riri sambil melihat pulpen yang di pegangnya.

"Ya buat kenang kenangan deh, kalau kita udah nggak di sini lagi. Itu pulpen bagus tau sebenernya. Kaya kuno kuno gitu kan konsepnya," kata Zahra sok tau melihat warna gold pulpen itu.

"Iya keliatan simpel tapi warnanya bagus juga. Nanti gue pajang di kamar gue deh," kata Riri dengan bangga.

"Kok, tumben banget sih lo bisa ngalahin Devan. Baru kali ini loh! Lo belajar sistem kebut semalam ya?" Kata Zahra tertawa tapi sayangnaynia malah tersedak dan batuk batuk.

"Makannya jangan sok tahu jadi orang. Nih minum nih," gadis dengan kuncir kuda itu memberikan gelas berisi air putih kepada sahabatnya.

"Iya soalnya aku pengin lebih bagus aja nilainya di banding Devan. Masa Devan terus sih yang nilainya bagus. Bosen dong. Gue juga bisa kali," kata Riri dengan sombongnya tersenyum di depan Zahra.

Sementara itu Devan yang berada di pojokan meja kantin itu tahu bahwa Riri dan Zahra pasti sedang bergosio tentang dirinya.

"Sial, gue nggak bisa ngebiarin Riri mendapatkan nilai yang lebih baik dari gue. Gue harus kasih pelajaran ke dia," kata Devan dengan tegas. Ia berdiri dengan cepat meninggalkan bakso di atas meja. Berjalan menuju ke meja Riri dan Zahra.

"Kayaknya ada yang seneng banget nih dapet nilai paling bagus di kelas. Sukses banget yah nyonteknya. Itu contekan pasti di selipin di bagian yang orang nggak bisa liat, heh dasar cewe emang Pinter banget nyonteknya," kata Devan cowo dengan hidung mancung dengan kulit sawo Mateng itu.

"Eh, lo apaan sih? Lo nuduh gue nyontek heh?" tanya Riri dengan geram mendongak sambil mendelik ke wajah Devan.

"Ya nggak mungkin lah Lo bisa ngalahin due. Sejak kapan ada yang bisa ngalahin nilai seorang Devano. Kalau Lo bisa ngalahin gue. Itu udah pasti lo nyontek pas ulangan matematika!" ucap devan dengan geram sambil menatap dengan sinis kepada Riri. Ia tidak peduli bahwa yang di depannya itu seorang perempuan.

"Weh, kurang ajar banget sih lo! Nuduh sembarangan aja!" kata Zahra mendorong lengan atas Devan dengan keras.

"Gue yang duduk di samping Riri dan dia itu nggak nyontek sama sekali! Kalau emang Lo kalah dari Riri ya udah terima aja! Nggak usah nuduh Riri sembarangan. Dasar cowo aneh! Kenapa tiba tiba Lo bisa ngomong heh! Biasanya lo juga diem aja di sekolah kaya orang bisu! " ucap Zahra dengan berani. Hal itu membuat Riri takut jika Devan akan marah dan memukul Zahra.

"Udah udah Zah, kita pergi aja dari sini," ucap Riri sambil menarik tangan Zahra dengan cepat. Mereka berdua meninggalkan Devano yang mematung sambil menatap kosong. Hatinya begitu sesak sekali. Ia ingat betul kalimat yang di ucapkan oleh Zahra. Bisu? Siapa yang bisu selama ini? Jadi selama ini Devano seperti cowo Bisu di mata Zahra? Sependiam itukah Devano di sekolah?

Bab 2

"Gue takut pulang ke rumah. Gue tau pasti gue bakalan di marahin sama papah mamah. Sialan! hari ini bener bener menyebalkan. Awas aja si Riri. Gue nggak akan biarin Lo bisa berada di posisi gue " ucap Devan yang ada di depan stir mobil.

Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena perasaanya sedang tidak enak hati. Mungkin jika boleh ia ingin makan manusia hari ini juga. Rasanya berkecamuk di dalam dada Devan. Ia malas untuk pulang ke rumah. Tapi ia terlalu takut untuk pergi dari rumah. Nyalinya benar benar kecil sekali.

"Devan, kamu terlambat sepuluh menit. Udah sana buruan les matematika!" Ucap sang mama dengan cerewet. Mama melihat Devan dari mobil. Belum juga bersih bersih badan atau makan siang. Sang mama langsung saja nyerocos untuk les matematika.

"Habis les langsung ke sekolah model aja ya pak," perintah mama Sofi dengan tegas kepada pak Burhan. Kini pria dengan badan kekar itu segera saja masuk ke dalam mobil Devan.

Pak Burhan selalu mengantar Devan ke tempat les. Sengaja di lakukan oleh orang tua Devan. Agar Devan bisa terpantau oleh pak Burhan.

"Kenapa tuan muda Devano? Kok mukanya kusut gitu?" tanya pak Burhan dengan ramah.

Devan hanya diam saja.

"Saya tahu, tuan muda Devano pasti cape kan, karena habis pulang sekolah di suruh les matematika. kan susah susah dahulu senang kemudian," ucapnya sambil tersenyum.

"Jadi tuan muda Devano nggak usah sedih lagi ya. Harus tetap semangat. Ini kan demi kebaikan tuan muda Devano," ucap pak Burhan sambil tersenyum manis menghibur sang majikan.

"Sial, kenapa gue harus cengeng banget sih," ucap Devano di dalam hatinya sambil menyeka pojok mata yang hampir saja akan keluar air mata.

"Gue nggak suka semua yang orang tua gue suka. Gue nggak suka matematika gue juga nggak suka jadi model!" teriak Devano di dalam hatinya dengan keras.

Sampai di depan gedung les matematika. Ia keluar begitu saja tanpa pamit kepada pak Burhan sang sopir pribadi.

"Kasihan juga tuan muda Devano," ucap pak Burhan sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan hati yang sedih.

Pukul sembilan malam Devano telah selesai untuk semua kegiatan. Ingin rasanya ia merebahkan diri di kasur begitu saja.

"Eh eh, Devano! Sini kamu!" papah dengan wajah penuh kemarahan memanggil Devano yang ada di depan pintu kamar.

Baru saja ingin merebahkan diri. Tapi tidak bisa.

"Ada apa Pah?" tanya Devano dengan malas. Wajahnya kusut lelah sekali.

Ia berjalan mendekat ke papah yang beridiri di amping sofa ruang tengah.

"Ini kamu serius cuma dapet nilai matematika sembilan lima?" tanya papah yang melihat grup WhatsApp sekolah.

"Iya pah, kenapa sih? Itu kan udah bagus pah," kata Devano dengan santai. Meski hatinya sangat berdebar karena sebentar lagi pasti ia akan di pukul oleh sang papah.

"Kamu bercanda Devano? Kamu itu dapet nilai tertinggi kedua? Bukan pertama! Siapa yang pertama ?" tanya papah sambil melihat ponselnya dan membaca nama itu.

"Riri Alisa Ningrum? Siapa dia? Kenapa kamu bisa di kalahkan sama seorang perempuan Devano!" papah terlihat geram sekali.

"Ya maaf Pah, Devan juga nggak tau kenapa dia tiba tiba bisa ngalahin Devan," kata Devan dengan menundukkan kepalanya. Perasaannya begitu takut sekali.

"Kamu tahu kan akibatnya kalau kamu di kalahkan? Kami harus menerima hukuman dari papah," kata sang papah yang membuka sabuk celananya. Ia mulai bersiap untuk memukul Devan.

"Pah, jangan pah! Devan janji bakalan kalahin si Riri. Tapi tolong jangan pukul Devan Pah!" pinta Devan dengan nada memelas.

"Nggak bisa! Ini sebagai pelajaran untuk kamu Devan!" kata sang papah dengan tegas.

"Hadap sana kamu!" perintah sang papah dan anak laki laki itu tak bisa berbuat banyak. Devan hanya bisa berbalik sambil menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya.

Plak plak plak

Rasa sakit itu begitu terasa sekali pada punggung Devan. Meski masih menggunakan baju tapi itu terasa sangat menyakitkan bagi Devan.

Sang mama yang berada di dapur merasa sangat kaget mendengar suara itu. Ia segera berlari dengan cepat dan melihat anak kesayangannya di pukuli begitu saja.

"Pah! Papah! udah pah!"mama memegang lengan papah dengan cepat dan membuat pria yang penuh kemarahan itu berhenti memukul Devan.

"Mama! selalu aja belain Devan! Devan itu harus menerima hukuman karena tidak mendapatkan nilai tertinggi di kelas ma!" Bentak laki laki dengan rahang mengeras itu. Tangannya akan memukul lagi. Tapi segera di pegang oleh sang istri.

"Cukup pah! Kalau Devan sakit gimana? Dia jadi nggak bisa sekolah model! Papah selalu aja egois!" Wanita Dengan mata tajam itu segera menarik pergelangan tangan anaknya dengan cepat. Pergi meninggalkan lelaki yang merupakan pemimpin keluarga itu.

"Dasar! Anak cowo kok selalu di manja! Heh mau jadi apa nanti," ucapnya dengan geram.

Sementara itu sang mama segera membuka punggung sang anak di dapur.

"Ya ampun, tuh kan jadi merah merah banget! Dasar gila papah kamu itu Devan! Udah sini kamu duduk! Mama obatin," kata mama dengan cepat membuka kotak obat.

Devan menangis di dalam hati. Ia sudah tidak bisa menangis mengeluarkan air mata. Karena i i terlalu sakit baginya. Ia benci jika harus mengeluarkan mata. Ia benci sekali.

"Sabar ya sayang, kamu harus sabar sama sikap papah. Nanti kalau mama udah punya banyak uang. Pasti mama minta cerai sama papa kamu. Karena papa kamu selalu aja bikin kamu sakit . Mama tau kamu sebenarnya nggak suka matematika kan? Tapi papa kamu benar benar terobsesi menjadikan kamu juara olimpiade internasional matematika seperti dirinya dulu," ucap mama dengan geram.

"Jangan ma, jangan ngomong cerai cerai. Devan nggak suka," kata Devan dengan tegas.

"Iya sayang, iya maaf ya sayang. Mama kesel banget sama papa kamu soalnya," kata mama sambil terus mengobati punggung sang anak semata wayangnya.

"Gimana sayang tadi sekolah modelnya? Enak kan? Seru kan? Mama tadi liat foto foto kamu di grup wa. Bagus hasilnya. Kamu pertahankan itu Devan. Pasti kamu bisa jadi model terkenal. Mama selalu dukung kamu sayang," kata sang mama berusaha menghibur sang anak yang sedang kesakitan.

"Iya ma, enak kok. Ya semoga aja Devan bisa jadi model internasional," jawab Devan sambil tersenyum penuh kebohongan. Ia terpaksa berbohong agar membuat sang mama merasa senang.

"Kalau kamu bisa jadi model terkenal kan nanti bisa keliling dunia. Hem, nanti mama bisa sekalian ikut. Pasti seru banget. Ketemu sama model model terkenal di dunia!" cerita sang mama dengan penuh antusias.

Sementara Devan hanya diam saja sambil menelan ludah. Ia sungguh tak bisa berkata apa apa. Ada rasa ingin memberontak di dalam hatinya. Tapi entah kenapa rasanya begitu sulit sekali.

Di dalam kamar Devan duduk di atas meja belajar. Ia harus belajar matematika lagi untuk mengalahkan Riri. Meski ia tidak suka dengan matematika. Tapi ia harus melakukan perintah sang papa agar ia tidak di pukuli lagi.

Devan melihat pulpen berwarna gold yang ada di laci miliknya. Pulpen hadiah dari sang guru matematika yang selalu memujinya jika mendapatkan nilai bagus. Banyak pulpen di laci itu tapi ia tak pernah memakainya sama sekali.

***

"Ini semua gara gara Riri! Gue jadi di pukulin sama papah gue!" kata Devan di dalam mobil dengan rasa kesal di dada. Ia mengendari mobil menuju ke sekolah dengan kecepatan tinggi.

"Kenapa mendung segala sih!" ucapnya dengan wajah cemberut sambil melihat langit gelap di pagi hari.

Jalanan yang ramai dan langit luas terlihat begitu gelap sekali. Seperti menjelang malam hari. Tiba tiba saja hujan turun dengan deras sekali. Devan yang ada di dalam mobile dengus dengan kesal.

Jalan mulai licin dan tak di sangka ia menabrak gadis yang memakai sepeda.

"Sial! Bukannya itu Riri!" kata Devan dengan kaget. Ia segera saja keluar dari mobil dan membantu Riri yang terjatuh. Kakinya kesakitan dengan sepeda yang menindihnya.

Hujan membuat baju seragam keduanya benar benar basah kuyup.

"Kamu tuh nyusahin banget sih RI. Udah cepetan masuk ke mobil!" ucap Devan dengan nada tinggi karena suara hujan begitu keras.

Riri hanya diam saja dan berusaha berdiri. Memang ia yang salah karena tidak fokus saat mengendarai sepeda.

Riri duduk di mobil dan Devan masih berusaha menaruh sepeda Riri di belakanng mobil. Akhirnya selesai juga. Tapai sayangnya baju yang di kenakan Devan basah kuyup semuanya.

"Sial! Jadi basah semuanya!" ucap Devan sambil duduk di jok mobil dan menutup pintu mobilnya dengan cepat. Sementara Riri memperhatikan Devna dari jok belakang. Ia takut sekali dengan kemarahan Devan.

"Ammbilin baju gue di belakang," kata Devan menyuruh Riri dan Riri mulai mencari baju Devan yang ada di belakangnya. Tercantol hanger dengan rapi. Hoodie yang sengaja di bawa untuk nanti sekolah model.

Tangan Riri segera meraihnya dan memberikannya kepada Devan. Tangan Devan meraihnya dengan cepat dan menaruhnya di kursi pas di sampingnya. Devan segera saja tanpa malu membuka baju atasan seragam miliknya.

Riri tak menyangka. Ia melihat luka di punggung Devan. Merah dengan garis garis yang besar.

"Devan? Kenapa sama punggungnya?" tanya Riri di dalam hatinya.

"Sebenarnya gue nggak mau nolong Lo. Karena ini kesalahan Lo. Tapi nanti gue di keroyok sama warga. Jadi gue bantu Lo, " kata Devan yang kini sudah memakai Hoodie warna putih. Wajahnya terlihat datar.

"Devan? Lo nggak ikut ekskul silat kan? Punggung ko kenapa?" tanya Riri dengan nada ragu.

Wajah Devan terlihat cemas sekali.

"Enggak kok, nggak papa. Gue habis jatuh," ucap Devan dengan cepat melajukan mobilnya. Ia berharap Riri tidak akan tahu kenyataan yang terjadi dengan Devan.

Tak ada percakapan apapun setelah itu. Devan tetap fokus dengan jalanan yang ada di depan. Sementara Riri terus saja bertanya tanya dalam hati apa yang terjadi dengan Devan.

Hanya dua menit mobil sudah sampai di depan sekolah. Sampai sekolah sudah tidak hujan lagi. Segera Devan turun dan membantu menurunkan sepeda milik Riri.

"Makasih ya Devan," kata Riri dengan tersenyum ramah

Devan hanya diam saja berjalan begitu cepat. Ia tidak ingin dekat lebih jauh dari Riri. Ia tidak suka dekat dengan siapapun di sekolah ini. Kesendirian adalah paling nyaman baginya.

"Aneh banget sih tuh anak," kata Riri melihat punggung Devan yang semakin menjauh.

Devan tetaplah Devan yang selalu menyendiri di sekolah. Tak ada yang berani mendekati Devan. Ia terlalu aneh untuk di dekati.

"Halo mah?" Panggil Devan yang baru saja mengangkat ponsel dari sang mama.

"Kamu buruan kesini! Mama ada berita baik untuk kamu!" seru mama dengan bersemangat sekali.

"Maksud mama apa? Devan di suruh pulang ke rumah? Ada apa sih ma?" tanya Devan dengan bingung.

"Liat deh, Instagram kamu banyak banget followers nya. Foto kamu viral Devan! Banyak banget nih DM endorsan. Ayo kamu pulang aja," kata mama dengan antusias.

"Devan nggak mungkin pulang ma. Hari ini ada pelajaran matematika. Devan nggak mungkin bolos. Nanti di marahin sama papah" mata Devan dengan tegas.

"Ya udah deh, kamu pulang sekolah langsung ke rumah ya. Cepet pokoknya jangan lama lama!" kata mama dengan tegas.

"Tapi kan pulang sekolah Devan ada les matematika mah,"

"Kamu takut di marahin papah? Udah nggak usah takut. Mama nanti yang bakalan ngadepin papah," kata mama dengan tegas.

"Ya udah terserah mama aja," kata Devan dengan nada datar . Ia segera saja menutup sambungan panggilannya. Dan berjalan menuju.

Kini Devan dengan cepat menuju ke kelasnya.

"Wih, ada calon selebgram nih," kata Zahra melihat ponsel dengan akun Instagram milik Devan.

Devan hanya melirik saja lalu duduk dengan santai menyender ke belakang.

"Kayaknya bakalan ada artis baru nih, di kelas kita!" seru Zahra dengan nada mengejek. Mendengar itu Riri mempercepat langkahnya menuju ke Zahra yang sedang duduk.

"Emangnya kenapa Zah?" tanya Riri penasaran.

"Lih liat aja nih, banyak banget followers nya!" seru Zahra memperlihatkan akun Instagram milik Devan.

"Wah banyak banget! Keren ya!" Kata Riri melirik ke Devano. Ada rasa sedih ketika mengingat luka yang ada di punggung Devano.

"Emang bisa ya cowo pendiem kaya Devano mendadak jadi selebgram?" ucap Zahra dengan sengaja. Membuat telinga Devano benar benar panas. Ia akhirnya berdiri dan pergi dari kelas itu.

"Sial! Ini semua gara gara mamah? Gue di ejek kaya gitu sama Zahra! Siapa juga sih yang mau jadi selebgram dan di lihat banyak orang!" ucap Devan sambil menendang botol minuman kosong di lapangan yang luas itu.

Bab 3

"Ini adalah cara supaya gue bisa Deket sama Lo Devan! Gue berusaha mati Matian ngalahin nilai matematika Lo! Supaya lo bisa nyapa gue!" ucap Riri di dalam hatinya sambil melihat ponsel yang berisikan foto foto Devan.

"Jadi secret admirer emang susah ya. Rasanya nyesek banget!" kata Riri yang sedang berada di dalam kamarnya sambil rebahan.

"Andai aja Lo tau isi hati gue. Kenapa sih lu jadi orang pendiem banget Devan. Padahal lo kan ganteng Pinter lagi. Heh, harusnya Lo tuh bisa tebar pesona!" kata Riri sambil terus melihat foto foto Devan di Instagram.

Sementara itu Devan yang telah sampai di depan rumahnya segera di sambut oleh sang mama. mama Sofi terlihat berwajah bahagia sekali menyambut sang anak.

"Sayang, kamu pasti cape ya. Sini kamu ikut mama yuk!" kata mama sambil membawakan tas Devan.

"Nggak biasanya mamah ramah dan baik kaya gini, pasti ada apa apanya nih," kata Devan dengan curiga.

Sampai di ruang tamu sudah ada produk skincare serta banyak jajanan di atas meja.

"Mah? Itu punya siapa?" tanya Devan penasaran.

"Itu punya kamu sayang. Semuanya di kasih. Karena sekarang kamu itu Nerima endorsan . Mama yang akan jadi asisten kamu. Oke sayang, sekarang kamu ganti baju dulu. Oake baju yang bagus!" Kata mamah dengan mendorong Devan masuk ke dalam kamar.

Mama Sofi segera duduk dan menata jajan dengan baik di atas meja. Ada cemilan pedas bermacam macam rasa.

"Wah enak banget ya kalau kaya gini nggak usah beli jajanan. Banyak endorsan enak juga nih," kata mama Sofi sambil membuka keripik rasa balado. Ia memakannya dengan lahap.

Tak menunggu waktu lama. Devan segera keluar dari kamarnya dengan kaos warna putih polos.

"Duh anak mama pake baju kaya gitu aja udah ganteng!" Puji mama sambil tersenyum.

"Sini duduk sayang," kata mama dengan ramah.

Devan duduk dengan malas.

"Ini semua produk Yang ada di meja ini adalah endorsan. Jadi kamu nanti mamah foto ya, kamu harus bergaya yang bagus nih pertama jajan aja dulu deh yang gampang!" Kata mamah dengan antusias sekali.

Semuanya di foto dengan baik oleh sang mama. Devan juga bergaya dengan bagus di depan kamera. Dengan wajah hitam manis dan postur tubuh yang tinggi serta hidung mancungnya membuat netizen terpesona hingga banyak sekali komentar positif.

Sampai satu jam akhirnya mereka selesai juga dan telfon berdering. Ada tulisan papa di layar ponsel Devan.

"Biar mama aja yang angkat!" kata mama dengan cepat menyambar ponsel milik Devan yang ada di meja ruang tengah.

"Halo Devan? Kenapa kamu nggak berbakat les matematika?" Tanya sang papah dengan nada marah.

"Pah, udah jangan marah marah pah, Devan itu lagi sakit. Panas banget badannya pah. Nggak bernagkay les matematiak dulu sehari nggak papa kan lah," kata mama dengan suara cemas yang di buat buat.

Devan hanya bisa menggelar nafas dengan berat.

"Ya ampun, bisa bisanya mama bilang aku lagi sakit," ucapnya di dalam hati.

"Mama mau bohong sama papah? Orang tadi pagi Devan baik baik aja nggak sakit. Kenapa tiba tiba jadi sakit? Papah pulang sekarang juga!" Kata laki laki yang temperamental itu dan segera saja memutuskan sambungan panggilan.

"Papah mau ke rumah mah?"

"Iya udah gampang biar mama yang ngadepin. Pokoknya kamu fokus aja jadi selebgram. Nggak usah jadi juara matematika internasional seperti papa kamu," kata mama dengan geram.

Sementara itu Devan pergi masuk ke dalam kamarnya. Karena ia t lah selesai dengan produk endorsan.

"Nah sekarang pasang ini," kata mama dengan menempelkan kompres di dahi devan.

Ia juga menaruh obat obatan di atas meja kecil kamar Devan. Lalu juga pura pura ada bubur di atas meja. Supaya papah mengira bahwa Devan sakit.

"Kamu harus bisa akting ya Devan. Kamu harus bisa bohongin papa. Kamu jangan mau di Perintah les matematika sama papah," kata mama dengan tegas. Devan hanya diam saja menurut apa kata sang mama.

Suara mobil terdengar. Itu adalah suara mobil Papah.

"Nah, itu papah. Kamu pura pura sakit. Mending kamu diem aja deh. Biar keliatan lemes," kata mama dan segera pergi dari kamar Devan.

"Harusnya papa nggak usah pulang pah, papah kan lagi kerja," kata mama dengan membukakan jas milik sang suami.

"Mana Devan?" Tanya laki laki garang itu.

"Ada di kamarnya pah, udah pah jangan marahin Devan..dia lagi sakit lah, lagi istirahat juga," kata mama sambil memegang lengan papah.

"Papah mau liat kondisi Devan," kata papah dengan cepat berjalan masuk ke dalam kamar Devan.

"Kamu mau bohong Devan?" tanya papah memegang lengan Devan yang sama sekali tidak panas.

Devan hanya diam saja menurut apa kata sang mama.

"Pah, ngapain Devan bohong sih pah? Devan emang sakit pah," kata mama dengan wajah memohon.

"Papah udah liat semuanya di Instagram! Mamah pikir papah nggak tau! Mana barang barang endorsan itu? Mau papah buang! Ngapain jadi selebgram! Nggak ada guna!" Kata papah dengan wajah marah.

Papah mencari-cari di semua sudut kamar Devan. Sang mama dengan meminta agar papah tidak perlu marah marah.

"Pah udah dong pan, kamar Devan jadi berantakan semua nih," kata mama dengan memegang lengan papah yang sedang sibuk membuka semua lemari.

"Ini semua gara gara mamah juga! Devan jadi nggak bisa dapet nilai matematika yang bagus! Mama itu selaluuu aja manjain Devan!" Kata papa dengan nada marah.

"Papah itu harusnya tahu diri. Jangan memaksa Devan untuk jadi apa yang papah inginkan? Devan itu nggak suka matematika pah?!" Kata mama dengan nada tinggi dan menantang wajah di depan papah.

Mendengar pertengkaran itu akhirnya dengan kemarahan di dada. Devan segera pergi dari kamar dengan cepat. Ia berlari dan kabur dari rumahnya.

Sampai malam tiba Devan belum juga pulang ke rumah.

Papah dan mamah berjalan bolak balik seperti setrika. Mereka berdua sangat cemas sekali dengan keadaan anaknya.

"Ini semua gara gara Papah. Kalau Devan sampai nggak pulang gimana coba?" tanya mama dengan wajah kesal.

"Udah jangan mulai ribut lagi deh ma. Ini papah lagi usaha nelpon semua temen kelas Devan!" kata papah dengan nada tegas.

"Duh, ngapain sih pah, mereka nggak akan tahu pah. Orang Devan di sekolah nggak punya temen," kata mama dengan yakin.

Sementara itu di taman kota. Devan hanya duduk begitu saja menikmati malam yang dingin. Ia juga bingung harus pergi kemana. Ia tak mempunyai keberanian lebih. Akhirnya dengan segera Devan pergi dari taman itu dan pulang ke rumah.

Esok harinya papah marah besar. Devan tentu saja di pukuli lagi. Kali ini di bagian telapak tangannya.

"Udah pah! Udah! Devan kan udah janji nggak akan kabur lagi dari rumah," kata mama dengan nada memohon sambil memegang tangan papah.

Devan hanya diam aja menahan rasa sakitnya. Ia memendam kemarahan yang tak bisa di ungkapkan.

Akhirnya papah menghentikan pukulan. Ia menaruh sabuk celanany di atas meja dengan geram.

"Pokoknya kalau kamu kabur lagi dari rumah. Papah nggak akan segan segan mencoret nama kamu dari kartu keluarga! Pulang sekolah harus berangkat les matematika! Kamu ngerti devan?"

"Iya pah," jawba Devan lirih sambil.terus menunduk menahan telapak tangannya yang sakit.

Sampai di sekolahpun. Rasa perih di kedua telapak tangannya masih saja terasa. Ia bingung bagaimana nanti ia menulis. Rasanya memegang pulpen saja sakit.

"Hari ini ada siswi pindahan. Kalian harus bersikap baik ya," kata ibu wali kelas.

"Wah ada murid baru Bu? Siapa Bu?" tanya cowo dengan rambut ke atas. Model rambut seperti landak.

"Sebentar ya ibu panggil dulu," kata guru itu dan dengan cepat berjalan keluar.

"Bea? Kamu udah siap kan? Kenalin diri kamu ke semua temen kelas?" Kata Bu Risma dengan ramah.

"Iya Bu, saya udah siap. Kalau itu aja gampang buat saya Bu," Kata bea dengan yakin.

"Yaudah kamu masuk sekarang juga ya,"

Kini Bea masuk bersama dengan Bu Risma di depannya. Semua kelas tertuju pada wajah Bea yang begitu cantik sekali. Karena blasteran Indonesia dan Jerman. Rambut pirang terurai pendek hanya sebahu tanpa poni. Hidung mancung sempurna dengan kalung hitam di lehernya yang hampir saja mencekik lehernya.

"Widih... Ada bule guys!" seru hendro dengan medok Jawa.

Semuanya tertawa kecil sambil terus memperhatikan wajah gadis cantik di depannya. Sementara yang lain terpesona dengan kecantikan bea. Baik laki laki maupun perempuan. Tapi berbeda dengan Devano. Ia sama sekali tidak tertarik dengan kecantikan Bea. Devan hanya melihat sekilas saja lalu fokus mengerjakan tugas matematika di atas meja.

"Jangan pada liatin gue gitu dong woy! Santai aja!" seru Bea dengan akrab. Semuanya tertawa karena mendengar logat bea yang ternyata bahasa gaul nya sangat enak di dengar. Seperti sudah lama tinggal di Jakarta Selatan.

"Sekarang kenali diri kamu ya" kata Bu Risma tersenyum manis yang duduk di meja guru.

"Oke, terimakasih Bu," kata bea dengan sopan melihat ke Bu Risma dan wajahnya kini menghadap ke semua siswa kelas.

"Halo perkenalkan nama gue Bea Miller . Panggil aja Bea. Gue pindahan dari sekolah Bandung," kata nya dengan ramah.

"Wih, kok pindah ke sini sih? Di Bandung nggak ada cowo ganteng ya?" tanya Hendro membuat semua teman temannya tertawa.

"Sudah sudah, kalau mau tanya tanya sama bea kalau sudah waktunya istirahat. Silahkan bea kamu duduk di kursi kosong di sana ya," kata Bu Risma dengan ramah.

"Iya makasih Bu," kata Bea dengan ramah dan kini ia berjalan menuju ke tempat duduk di sebelah Devan. Devan hanya diam saja tak mengucapkan kalimat apapun. Tersenyum pun bahkan tidak.

Melihat Bea dan Devan duduk bersama rasanya membuat Riri sangat kesal sekali.

"Ya ampun, rajin amat ngerjain matematika," mata bea sambil duduk dan melihat kertas di atas meja milik Devan. Tak sengaja lengan atasnya menempel ke lengan Devan. Membuat Devan kaget dan segera menggeser kursinya sedikit agar jauh dari Bea.

"Ya ampun, cuma liat sebentar aja langsung sensi," ucap Bea dengan kesal.

"Pasti ni cowo paling pinter di kelas. Heh, kenapa ya gue paling jijik liat cowo Pinter. Rasanya tuh kaya sok banget gitu loh," kata Bea dengan melirik ke Devan yang berwajah serius.

"Oke sekarang buka halaman lima belas ya. Disitu sudah ada beberapa judul puisi dan isinya. Nanti tugas kalian semua itu membacakan puisi di depan kelas!" Seru Bu Risma dengan tegas sambil berdiri.

"Oh, bahasa Indonesia ya sekarang pelajarannya. Tapi kenapa anak di samping gue malah ngerjain matematika?" tanya Bea dengan heran menggaruk kepalanya.

Ia mulai mendekat menggeser duduknya ke Devan. Mulutnya berbisik ke Devan.

"Weh, ini kan pelajaran bahasa Indonesia. Kenapa lu ngerjain matematika?" tanya Bea penasaran

"Lo berisik banget sih. Kalau Lo mau duduk di samping gue. Lo nggak boleh berisik," kata Devan dengan nada berbisik.

Bea langsung saja menyender ke belakang dengan kesal.

"Sialan nih anak belum tau aja siapa gue," kata Bea dengan kesal di hatinya.

Ia segera saja mengangkat telapak tangannya ke atas dengan cepat.

"Bu ini pelajaran bahasa Indonesia kan Bu? Kok, cowo di samping saya ngerjain tugas matematika sih," kata Bea dengan berani dan membuat Devan membelalak kaget. Bisa bisanya Bea berbicara seperti itu.

"Devan! Masukkan pelajaran matematika kamu ke dalam tas!" perintah Bu Risma dengan tegas.

Devan hanya diam saja dan mengikuti perintah Bu Risma. Meski di dalam hatinya sangat emosi sekali dengan sikap Bea.

"Sialan, awas aja ya Lo," kata Devan dengan lirih.

"Hahaha bisa marah juga ya Lo Devan. Btw nama Lo bagus juga," kata Bea dengan berbisik.

Pelajaran bahasa Indonesia berlangsung sangat membosankan sekali bagi Bea. Akhirnya Bea mendengarkan lagu lewat headset bluetooth miliknya. Guru tentu saja tak akan tahu jika bea memakai headseat. Karena rambutnya menutupi telinganya.

Bea mendengarkan musik rock yang begitu enak di dengar. Bahkan sepatunya sampai menari di atas lantai meski hanya ketukan ketukan kecil. Matanya sampai terpejam dan kepalanya mengangguk angguk cepat meskipun tidak terlalu terlihat. Tapi tentu saja Bu Risma tahu. Karena ia adalah guru paling fokus ketika mengajar di kelas.

"Sekarang saya mau tanya ke Bea. Bea? Bea?" panggil Bu Risma dengan nada cukup tinggi tapi bea sama sekali tidak mendengarnya. Akhirnya Bu Risma memerintahkan Devan dengan isyarat gerakan tangannya untuk mencopot headset yang ada di telinga Bea.

Devan dengan malas mentobakkan rambut bea yang mengenai telinga dan mencibir headset Bea.

"Heh, apaan sih lu!" Seru Bea dengan keras melihat marah wajah Devan. Membuat semuanya tertawa kecil.

"Bea!" panggil bu Risma dengan nada tinggi.

Beapun melihat ke arah Bu Risma dengan senyum ragu.

"Iya Bu ada apa ya Bu?" tanya Bea seolah polos.

"Ini saatnya belajar! Bukan mainan hape sambil denger musik!" Kata Bu Risma dengan nada marah.

"Tapi kan Bu, dari tadi ibu jelasin tentang puisi itu ngebosenin banget Bu. Jadi saya dengerin musik aja deh," kata Bea dengan santai.

"Heh! Kamu itu kurang ajar sekali ya kalau bicara? Maksud kamu ibu ngajarkan nggak enak? Murid baru aja belagu banget kamu ya. Ibu kasih kamu nilai lima! Udah sekarang kamu keluar aja dari kelas saya!" Perintah Bu Risma yang sudah muak sekali dengan sikap murid baru itu.

"Beneran Bu? saya di suruh keluar nih? Ya udah saya keluar nih ya," kata Bea dengan senang hati berdiri sambil berjalan keluar.

Devan yang melihat Bea hanya bisa geleng geleng kepala begitu saja.

"Dasar cewe gila! Dia berani banget sama Bu Risma," ucap Devan di dalam hatinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED