Bab 1

"Jadi, apa pekerjaan kamu?"

"Saya sekretaris di Hardana Grup, Bu."

"Jangan panggil saya, Bu. Panggil saya, Nyonya Adibrata."

"Mi!" seru Bisma anak semata wayangnya.

"Jangan ikut campur, Bisma!"

Malam ini, Bisma memperkenalkan Hayu dengan keluarganya, keluarga Adibrata. Hayu, yang dulu tidak tahu bahwa Bisma termasuk keluarga ningrat, sekarang mulai mengerti. Kenapa selama mereka menjalin hubungan, Bisma tidak pernah membawa Hayu menemui keluarganya. Jarak antara mereka terlalu jauh. Status sosial mereka sungguh berbeda.

Hayu mulai sadar ke mana arah pembicaraan orang tua Bisma. Dia berusaha menguatkan hatinya demi lelaki yang dicintainya itu. Dia harus memasang wajah semanis mungkin, meskipun dia tahu, hatinya akan semakin sakit mendengar kalimat demi kalimat yang akan dilontarkan Nyonya Adibrata.

Bisma terdiam menerima teguran dari maminya. Nyonya Ayu Adibrata memandangi Hayu dari atas sampai ke bawah.

"Orang tua kamu bekerja di mana?"

"Saya hanya punya Ibu saja, Ayah saya sudah meninggal semenjak saya SMA."

"Lalu ibumu, dia bekerja sebagai apa?" cecar nyonya Adibrata, tentu saja dengan sikapnya yang angkuh dan dingin. Tatapan matanya bahkan mampu menggetarkan bumi seisinya.

"Ibu saya hanya penjual kue-kue rumahan." Hayu semakin tidak enak dengan pertanyaan kali ini. Apalagi sudah membawa-bawa orang tuanya, Hayu ingin pergi dari rumah Bisma secepat mungkin. Tapi dia masih menjunjung tinggi sopan santunnya, dia tidak mau mempermalukan orang tuanya, karena sikapnya itu.

"Hanya itu? Kalian tinggal di mana?" tanya Nyonya Adibrata lagi, sembari mendorong punggungnya bersandar di sofa, tak lupa menyilangkan kakinya. Menampakkan kesan meremehkan terhadap Hayu.

"Kami tinggal di Perumahan Melati."

Bisma yang kasihan dengan Hayu, berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. Untungnya papa Bisma, Jaya Adibrata tidak ada di rumah. Seandainya ada, hati Hayu bisa saja ambyar, seperti nasi kucing yang hilang staplesnya.

"Mi, bukankah kita akan makan malam, Bisma sudah lapar, Mi. Sampai kapan Mami mewawancarai Hayu? Ini bukan lamaran pekerjaan, Mi. Ini tentang makan malam keluarga. Mami mau, melihat Bisma kelaparan dan akhirnya pingsan di sini?"

Nyonya Adibrata mendengus sebal, namun tak urung, dia bangkit dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu menuju meja makan. Bisma membimbing Hayu mengekori maminya di belakang, mereka duduk dan mulai menikmati makan malam.

Hayu sudah tidak merasakan rasa lapar sejak kedatangannya kemari, nafsu makannya menghilang. Nyonya Ayu Adibrata yang melihatnya seketika berdeham.

"Ehem, apa makanan yang kami sajikan kurang enak? Tidak menggugah seleramu? Sehingga kamu enggan memakan makanan yang mahal ini? Atau jangan-jangan, orang tuamu tidak pernah memasak menu-menu ini di rumah?"

"Mami! Cukup! Mami jangan keterlaluan dengan Hayu!" Bisma mulai berani menjawab maminya, dia merasa sakit hati mendengar perkataan maminya. Bisma tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Hayu saat ini, pasti lebih sakit dari yang Bisma rasakan.

"Jadi karena kekasihmu ini, kamu berani membentak Mami?"

Hayu yang merasa tidak enak, melihat mereka bertengkar karena dirinya, mulai membuka suara.

"Saya memang tidak terbiasa makan makanan seperti ini, Nyonya. Karena ibu saya hanya menyediakan makanan yang sederhana, sehat dan murah, namun mengandung banyak gizi tinggi. Jadi saya mohon maaf, kalau saya terlihat tidak tertarik untuk memakan hidangan ini, saya merasa tidak terbiasa."

Sebagai seorang sekretaris, sejujurnya dia tahu segala makanan enak, apalagi ketika menemani bosnya makan siang dengan klien, atau sekedar membelikan bosnya makan siang. Namun mendengar perkataan nyonya Ayu, membuat Hayu berpura-pura tidak tahu menahu soal makanan yang tersaji di hadapannya.

Susah payah Hayu menguatkan hatinya agar tidak sedih dan meneteskan air mata. Dia terima kalau dia di remehkan, tapi dia tak terima, jika sudah menyangkut orang tuanya. Orang tuanya yang tidak tahu menahu tentang kesalahannya.

"Bagus, kalau begitu, sekarang makanlah, ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali, nikmati semua makanan yang tersaji di sini, dan kamu Bisma, cepatlah makan. Bukankah kamu bilang, kamu lapar. Kamu juga tahu aturan kita ketika sedang makan, bukan? Tidak ada percakapan apa pun di meja makan!"

Bisma terdiam, selama ini dia tidak pernah melanggar aturan yang sudah ditetapkan di rumah. Peraturan makan dengan mode silent, begitu Bisma menyebutnya. Seperti makan dengan robot, tidak ada interaksi dan suasana yang hangat seperti di keluarga Hayu. Di mana mereka makan dengan saling melempar candaan atau sekedar membahas hal yang tidak penting.

Bisma dibesarkan dengan segala aturan-aturan yang kadang membuat Bisma muak, jika dia protes dengan maminya, maka, dia akan di ingatkan bahwa dia termasuk keluarga ningrat yang wajib menaati aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh mereka. Tidak boleh satu pun yang boleh dilanggarnya.

Mereka makan dengan diam. Selesai makan, nyonya Ayu Adibrata melangkah menuju ruang keluarga, mengabaikan anak dan juga kekasihnya yang tak dianggap olehnya.

"Aku mau pulang, biar aku pulang sendiri, tak perlu kamu mengantarku."

"Tidak, aku akan mengantarmu, aku yang menjemput dan mengajak kamu ke sini, aku harus bertanggung jawab. Lagi pula aku yang meminta ijin pada Ibu," ucap Bisma menolak permintaan Hayu.

Hayu melangkah mendekati Nyonya Ayu, "Maaf, Nyonya, sudah malam, saya harus pulang, terima kasih atas makan malamnya," pamit Hayu mengulurkan tangannya pada nyonya Ayu, sayangnya dia malah bersikap, seolah-olah tak melihat tangan Hayu yang terjulur padanya.

Hati Hayu sakit, seperti di tusuk ribuan jarum. Bisma ingin memeluknya, tapi dia takut, maminya akan semakin murka dengan kelakuannya. Bisma sungguh bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

Hayu menarik tangannya yang terulur dan mengepalkannya di sisi tubuhnya.

"Saya permisi, Nyonya." Nyonya Ayu menanggapi dengan anggukan, melihat putranya yang mengekori Hayu, segera dia menghardiknya.

"Mau ke mana kamu!"

"Mi, Bisma mau mengantarkan Hayu pulang, tadi Bisma yang menjemputnya, Mi. Bukankah Mami yang selalu bilang dan mengajarkan Bisma untuk bertanggung jawab?"

"Antarkan dia sampai di gerbang, kamu bisa mencarikan taksi untuknya!"

"Tapi, Mi."

"Sudahlah, aku bisa pulang sendiri, tidak usah mengantarku, aku akan mencari taksi sendiri." Hayu mencegah Bisma mengantarkannya, dia tidak mau semakin ada pertengkaran antara ibu dan anak.

"Tapi, Hayu. Aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri, apa kata Ibu nanti."

"Aku akan menjelaskan pada Ibu, bahwa kamu sedang tidak bisa mengantarku, aku yakin Ibu akan mengerti, ku mohon. Biarkan aku pulang sendiri. Iam fine, Bisma."

Bisma mengalah, dia menatap punggung kekasihnya sampai menghilang di balik gerbang rumahnya.

Hayu berjalan keluar dari rumah yang pantas di sebut neraka itu. Air mata yang dia tahan sejak tadi, akhirnya menetes juga. Semakin lama semakin deras, ingin rasanya dia berteriak untuk melegakan semua beban yang ada di hatinya, namun itu tidak mungkin dilakukannya. Dia sedang berada di jalan raya yang ramai, bisa-bisa nanti dia viral gara-gara teriakan-teriakannya, atau malah orang-orang menyangka dia sudah gila. Gila karena mami Bisma.

"Apa salahku, apa salah, aku dilahirkan dari keluarga yang biasa saja? Apa aku salah, karena menjadi anak yatim? Apa salah, kalau ibuku hanya penjual kue?" gumamnya terisak.

"Kenapa takdir begitu kejam padaku?"

"Kenapa menyalahkan takdir? Bukankah takdir itu, tetangga kamu yang bekerja sebagai sopir saya?"

"Bapak?"

-bersambung-

Bab 2

Hayu melongo, kenapa mendadak bosnya ada di sini.

"Bapak, jelangkung? Datang tak diundang? Kenapa bisa ada di sini?"

"Ini jalan raya, yang siapa saja boleh melewatinya, Hayu. Saya sedang lewat dan melihatmu seperti orang gila. Makanya, saya menghampiri kamu. Lagi ada masalah? Bisma ke mana? Kalian lagi berantem?"

Hayu yang tadinya sedih, mendadak menjadi kesal karena bosnya, Candra Hardana. Kalau di novel-novel sosok CEO cenderung dingin, tidak bagi sosok Candra, dia selalu mengganggu sekretarisnya itu. Memiliki jiwa kepo akut dan juga komentator yang luar biasa cerewet.

"Bapak, kepo! Mending Bapak antar saya pulang, sekarang."

"Berani ya, kamu menyuruh saya, mau saya potong gaji kamu bulan ini!"

"Maaf, Pak. Bagaimana saya hidup, kalau gaji saya dipotong. Kasihani saya, Pak."

"Masuk!" perintah Candra pada sekretarisnya itu.

Hayu masuk ke dalam mobil Candra. Malam ini, malam minggu, bisa saja bosnya itu pulang dari kencan buta yang sering dijadwalkan oleh ibunya.

Candra masuk ke dalam mobil, menyusuri jalanan malam yang lumayan ramai malam ini. Mungkin karena malam minggu banyak orang menikmati weekend setelah enam hari bekerja keras.

"Bapak habis kencan buta lagi?"

"Sok tahu kamu, kamu kenapa menangis di jalanan? Memang kamu dari mana? Bisma ke mana? Sudah dua kali lho, saya menanyakan ini. Kamu harusnya bersyukur punya atasan yang baik dan perhatian seperti saya. Apalagi harus repot mengantarkan kamu pulang, saya jadi berpikir, yang bos itu saya atau kamu."

"Saya dari rumah Bisma, Pak. Kenapa bapak tidak pernah cerita ke saya, kalau bawahan bapak, sekaligus sahabat bapak itu, adalah putra dari keluarga Adibrata. Bapak tega sama saya. Bapak sungguh terlalu."

Candra melirik ke arah Hayu, dia sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan Hayu.

"Apa yang mereka lakukan padamu?"

"Tidak ada, saya hanya terkejut dengan kenyataan yang harus saya hadapi karena kebodohan saya."

Hayu tak ingin menceritakan kejadian di rumah Bisma. Dia tak ingin Candra tahu apa yang terjadi di sana, di mana ibu Bisma menunjukkan bahwa status mereka berbeda.

Candra tahu seperti apa keluarga Bisma, dia yakin orang tua Bisma pasti merendahkan sekretarisnya itu. Candra diam, tak lagi berkomentar. Bagaimanapun itu urusan mereka sendiri.

Beberapa kali mengantar sekretarisnya pulang, membuat dia hafal di mana rumah Hayu. Mereka tiba di rumah Hayu. Tampak ibu Hayu duduk di teras rumah, sepertinya menunggu Hayu pulang. Hayu turun dari mobil Candra, dia mengira Candra akan langsung pergi. Nyatanya dia ikut turun dan menghampiri ibu Hayu.

"Selamat malam, Bu," ucap Candra menyalami ibu Hayu.

"Malam, Pak Candra. Terima kasih sudah mengantar Hayu pulang. Ibu cemas sekali."

Kening Hayu berkerut, "Ada apa, Bu. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Tidak ada, hanya tadi Bisma menelepon ibu, katanya kamu pulang sendirian, jadi ibu khawatir, apa terjadi sesuatu dengan_?"

Candra yang merasa mereka ingin membicarakan sesuatu, buru-buru pamit pada mereka berdua. "Maaf, sudah malam, saya permisi dulu."

Bu Tuti, ibu Hayu pun mengangguk, "Hati-hati, Pak."

Candra membalasnya dengan senyuman dan segera masuk ke dalam mobil. Hayu baru sadar, kalau dia belum mengucapkan terima kasih pada atasannya, segera Hayu menghampiri mobil Candra. "Terima kasih, Pak Bos."

Candra mengangguk dan menutup kaca mobilnya, melajukan kendaraannya di jalan, berbaur dengan kendaraan lainnya.

Sementara tak jauh dari mereka ada Bisma yang sejak tadi mengamati interaksi mereka bertiga. Setelah Hayu pulang, Bisma yang tidak tenang, segera keluar menyusul Hayu, sayangnya Hayu sudah tak terlihat di sekitar rumahnya. Karena itu dia memutuskan untuk menelepon ibu Hayu. Memastikan Hayu sudah sampai di rumah atau belum. Ketika bu Tuti mengatakan bahwa putrinya belum sampai di rumah, dengan segera Bisma menyusulnya. Tapi saat sampai di rumah Hayu. Dia di suguhkan dengan pemandangan yang membuatnya sesak. Dia bukanya tak tahu, kalau sahabatnya itu juga menyukai Hayu. Meskipun Candra sering menutupinya, tapi sebagai lelaki, dia sangat tahu bagaimana perasaan Candra pada Hayu.

Memutar mobilnya kembali pulang ke rumahnya. Bu Ayu yang menunggu Bisma pulang kesal melihat putranya. "Ada yang ingin Mami bicarakan denganmu, Bisma. Duduk!"

Bisma yang sedang kesal tak menjawab ucapan maminya, dia mendudukkan tubuhnya dengan kasar, "Ada apa lagi, Mi. Bisma tahu apa yang akan Mami bicarakan. Bukankah Mami sendiri yang bilang akan menerima menantu seperti yang Bisma inginkan, tapi kenapa Mami bersikap, seolah-olah menolak Hayu."

"Mami memang pernah bilang begitu, Bisma. Tapi bukan berarti kamu bisa memilih istri semaumu sendiri, kita harus tahu, bibit, bebet dan bobotnya. Mami nggak mau punya cucu yang tidak jelas keturunannya."

"Jadi Mami pikir, Hayu berasal dari keluarga yang tidak jelas bibitnya, seperti itu? Bukankah Mami sudah menanyakan padanya, dia punya orang tua, Mami. Lagi pula ini zaman modern ,Mi. Kenapa harus melihat orang lain dari status sosialnya. Kita tidak hidup di zaman kerajaan Mami, yang semuanya berada di tingkatan kasta masing-masing. Mi, Bisma serius dengan Hayu. Bisma mohon, Mi. Bukankah Mami selalu bilang, semua manusia sama di mata Tuhan."

Kali ini nyonya Ayu tak sanggup menjawab perkataan putranya, dia diam, namun sejurus kemudian dia berkata, "Kamu benar, setiap manusia sama di mata Tuhan. Tapi Mami bukan Tuhan. Jadi, semua orang berbeda di mata Mami! Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, Bisma. Apalagi kamu satu-satunya anak Mami, pewaris tunggal kerjaan bisnis Adibrata. Jadi sudah seharusnya, Mami memilih-milih calon menantu Mami. Kita juga masih ada keturunan ningrat, kamu harus ingat itu!"

Bisma tak mau kalah dari maminya, dia masih berusaha memberikan argumennya, "Mi, Mami baru sekali bertemu Hayu, kenapa sudah berpikiran bahwa Hayu tidak pantas untuk Bisma, Mi. Cobalah lebih dekat dengan Hayu, Mi. Mami pasti akan jatuh cinta dengan segala hal tentangnya, dia kriteria perempuan yang baik dan pantas dijadikan istri, Mi."

"Kamu yakin, kok Mami nggak yakin, ya. Dia bisa mendekati kamu karena uang, jangan bodoh, Bisma." Bu Ayu tak mau kalah dengan putranya, kamus mutlak, anak harus menurut orang tua sudah terpatri di dalam otaknya.

Bisma pusing dengan perkataan maminya, satu sisi dia tidak mau menjadi durhaka, satu sisi yang lain, dia sangat mencintai Hayu, perempuan berparas cantik dan juga baik.

"Mi, Hayu bukan perempuan seperti itu, dia tidak tahu kalau Bisma anak dari keluarga Adibrata. Dia hanya tahu, kalau Bisma hanya seorang manajer biasa yang bekerja satu kantor dengannya, baru hari ini dia tahu, kalau Bisma, anak dari Nyonya Ayu Adibrata!"

Bisma mulai lelah menjelaskan pada maminya, dia mendengus kesal, mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. "Mi, tolonglah, beri Hayu kesempatan untuk lebih dekat dengan Mami."

"Baiklah!"

-bersambung-

Bab 3

"Nduk, ada apa dengan kamu dan Bisma? Apa kalian ada masalah, kalian sedang bertengkar? Kenapa kamu pulangnya diantar Pak Candra. Nduk, di dalam sebuah hubungan, wajar jika ada masalah, kalian harus menyelesaikannya biar tidak berlarut-larut."

"Bu, Hayu tidak bertengkar dan juga tidak ada masalah apapun antara kami berdua, Bu."

Seandainya ibu Hayu tahu, apa yang terjadi dengan anaknya di rumah Bisma, Hayu yakin, ibunya pasti akan sangat bersedih. Hayu tidak mau itu terjadi, Hayu tidak ingin melihat ibunya sedih dan merasa bersalah.

"Apa kamu yakin? Nduk, ingat, kamu bisa menceritakan semua hal pada Ibu. Kamu satu-satunya yang Ibu miliki di dunia ini. Jangan berbohong pada ibu, Nduk. Perasaan seorang ibu itu peka sekali, Hayu. Ibu hanya menunggu waktu saja, kapan kamu akan menceritakan semua pada Ibu. Ibu mungkin tidak bisa membantumu mengatasi masalah kalian. Tapi setidaknya, hati kamu akan merasa lega, setelah menceritakan semuanya pada Ibu."

Hayu mengangguk mengerti, "Mungkin tidak sekarang, Bu. Hayu belum siap menceritakannya pada Ibu. Tunggu sampai Hayu bisa mengatasinya terlebih dahulu, jika memang Hayu sudah tidak sanggup, maka Hayu akan berbagi dengan Ibu."

Bu Tuti mengangguk mengerti, sebaiknya memang dia tidak bertanya terlalu banyak dengan putrinya itu, meskipun dia merasa ada yang di sembunyikan Hayu darinya.

"Bu, Hayu ke kamar dulu. Hayu lelah."

"Istirahatlah, Nduk. Jangan banyak pikiran dan jaga kesehatan kamu."

Hayu berjalan memasuki kamarnya, menutup pintu rapat-rapat dan menangis tersedu, dia tidak mau ibunya mendengar dirinya menangis.

Ponselnya bergetar, Bisma meneleponnya. Segera Hayu menjawabnya.

"Halo," sapa Bisma di seberang sana.

"Halo, Bis malam. Kenapa malam-malam menelepon, apa kamu ingin memastikan aku pulang ke rumah?" canda Hayu, berusaha menutupi kesedihannya.

"Iya, aku tadi menyusulmu, tapi ternyata kamu sudah pergi terlebih dahulu." Sengaja Bisma memancing Hayu agar menceritakan bahwa dia pulang dengan candra. Sayangnya Hayu tak mengatakannya.

"Hem, benarkah. Aku sudah pulang, Bis."

"Hayu, maafkan Mami, ya, aku sudah menjelaskan banyak hal pada Mami dan Mami bilang dia akan berusaha mengenal dan menerimamu lagi."

"Apa harus, aku ke rumah kamu lagi? Aku merasa tak pantas berada di sana, Bisma. Secara tidak nyata Mami menunjukkan jurang yang dalam di antara kita, kita memang berbeda, aku hanya orang biasa Bisma. Kamu bukannya tak tahu ke mana arah pembicaraan Mami, bukan? Kenapa selama ini kamu tidak pernah berterus terang padaku, kalau kamu adalah putra dari pemilik Ardinata L.td. Betapa bodohnya aku, kenapa aku ini, hanya karena mencintaimu, aku tak peduli dengan siapa aku menjalani hubungan."

"Hayu, please. Aku tidak melihatmu, dari mana kamu berasal, aku hanya mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihan kamu. Apa salahnya? Kalau selama ini, aku tak pernah jujur dan membuka jati diriku yang sebenarnya, karena aku ingin memiliki pasangan yang tidak melihatku dari harta kekayaanku, melainkan aku ingin memiliki pasangan yang benar-benar tulus mencintaiku tanpa embel-embel apapun. Apa kamu mengerti maksudku?"

"Aku mengerti maksud kamu, tapi semenjak kejadian tadi, hati dan pikiranku mulai terbuka, aku yang hanya rakyat jelata ini, mana mungkin bermimpi menjadi cinderella dalam semalam. Ini bukan cerita dongeng yang biasa aku baca ketika aku kecil, Bisma. Ini real life, yang nyatanya cinderella itu, tidak ada di dunia. Itu hanya kamuflase semata. Hanya ada di film-film Korea, dan cerita cinta kita bukan drama. Apa aku sanggup menghapus garis yang sejak pertama aku bertemu dengan keluargamu, sudah terlihat jelas dan tak mungkin ku hapus?"

"Apa kamu masih mencintaiku? Maukah kamu berjuang denganku? Aku tidak ingin kehilangan dirimu Hayu, setahun kita menjalani hubungan ini dan seperti yang kita inginkan, aku akan membawa kamu ke jenjang yang serius, menikah."

Hayu diam, mulai berpikir apa dia sanggup menghadapi Bu Ayu Ardinata, rasa cintanya memang besar dengan Bisma, tapi dia tidak mau melakukan hal konyol yang akan semakin menyakiti hatinya.

"Hayu, jawab aku. Apa kamu tidak mau berjuang denganku? Apa kamu ingin mencari penggantiku?"

Hayu berdecak kesal, saat ini yang dia butuhkan adalah seseorang yang mampu menenangkannya, memberinya tempat bersandar, tapi kenyataannya, selama setahun hubungannya dengan Bisma, dia lebih banyak mengalah dan selalu menjadi tempat bersandar Bisma. Kini dia merasa lelah. Dia baru menyadari bahwa batas kesabarannya sedang diambang batas.

Sebagai seorang perempuan dan dibesarkan tanpa ayah, terkadang dia ingin merasakan kasih sayang Bisma, bersandar pada Bisma ketika dia lelah dan jenuh, namun semuanya tak pernah dia dapatkan. Dia yang terbiasa mandiri mampu mengatasi apapun sendiri, sedang Bisma kekasihnya, sering menyandarkan diri pada Hayu, mungkin karena Bisma dibesarkan dengan kehidupan yang tidak pernah kekurangan dan hidup tanpa masalah. Dia juga anak satu-satunya, mungkin karena itu, dia lebih manja ketimbang Hayu. Lelaki yang seharusnya memanjakannya, bukannya terbalik.

"Baiklah, aku akan berjuang demi hubungan kita. Tapi, jika aku merasa tak mampu, mungkin, aku bisa saja menyerah pada hubungan kita. Jangan berpikiran yang macam-macam dan jangan memulai pertengkaran denganku, jangan kekanak-kanakan, aku tidak mencari pengganti kamu, Bisma. Aku lelah, sebaiknya akhiri saja panggilan ini. Atau ada hal lain yang ingin kamu sampaikan padaku lagi?"

"Apa kamu menyerah pada keadaan, Hayu? Aku tak ingin kamu menyerah, karena semuanya tergantung padamu, bagaimana kamu bisa masuk ke dalam kehidupan kami."

Hayu agak emosi dengan perkataan Bisma, "Jadi aku yang berjuang sendiri atau denganmu. Kalau hanya aku saja, untuk apa? Kamu juga harus membantuku meyakinkan orang tuamu, Bisma."

Kesal dengan Bisma, Hayu langsung mematikan ponselnya. "Begini rasanya menjadi rakyat jelata, aku pikir kasta itu hanya ada di zaman dulu, nyatanya di zaman modern ini masih ada pemikiran di mana orang kaya harus mendapatkan orang yang kaya juga, harus sederajat, kasihan sekali aku."

Hayu masuk ke kamar mandi, mengganti pakaiannya dan segera merebahkan tubuhnya. Lelah jiwa dan raganya. Perjuangan baru di mulai, entah esok apalagi yang akan mereka lakukan pada Hayu. Agar Hayu sadar siapa dirinya dan Bisma.

Hayu pasrah, dia hanya berdoa untuk mendapatkan jodoh yang terbaik versi Tuhan. Mulai saat ini dia akan berjaga-jaga dari segala kemungkinan kandasnya hubungan dengan Bisma, meski itu menyakitkan untuknya, tapi dia bisa apa.

Bisma Adibrata, lelaki yang bekerja satu kantor dengan Hayu, bekerja sebagai manajer keuangan di Hardana Grup. Lelaki tampan penuh kharisma yang mampu menggetarkan hati para kaum hawa. Sayangnya pilihannya terjatuh pada Hayu Ayunda, perempuan baik hati nan cantik dan manis, yang ramah, juga lembut. Perempuan yang memiliki kedewasaan yang Bisma butuhkan, mampu membuat Bisma merasa disayangi dan diperhatikan.

"Lelah!"

-bersambung-

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Hayu

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED