Sampul Novel Kenangan Obsidian

Kenangan Obsidian

9.3 / 10.0
Setelah kabur dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien mengamankan diri di Pegunungan Broken. Di tempat ini, rahasia Penjaga kuno tersingkap selagi Asha berjuang mengendalikan memori kelam dan kekuatan abunya. Di sisi lain, fisik Kael kian membatu hingga mengancam kemanusiaannya. Konflik antarras yang terjadi pun terbukti cuma manipulasi. Di sela pengkhianatan dan pengorbanan, Asha dihadapkan pada pilihan sulit: menjadi senjata pemusnah atau pelindung dunia berbayar mahal.
Ringkasan Kenangan Obsidian
Setelah kabur dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien mengamankan diri di Pegunungan Broken. Di tempat ini, rahasia Penjaga kuno tersingkap selagi Asha berjuang mengendalikan memori kelam dan kekuatan abunya. Di sisi lain, fisik Kael kian membatu hingga mengancam kemanusiaannya. Konflik antarras yang terjadi pun terbukti cuma manipulasi. Di sela pengkhianatan dan pengorbanan, Asha dihadapkan pada pilihan sulit: menjadi senjata pemusnah atau pelindung dunia berbayar mahal.
Baca Selengkapnya

Kenangan Obsidian Bab 1

Asha, Kael, dan Lirien muncul dari kabut seperti bayangan yang lahir dari akhir dunia. Pendakian ke Broken Mountains memakan waktu tiga hari, melintasi jalan setapak yang terlupakan dan tebing yang ditandai dengan simbol-simbol yang hancur saat disentuh. Udara di sini lebih tipis, beraroma damar dan besi, dan dipenuhi dengan ketegangan mineral yang mengingatkan Asha pada saat-saat sebelum wahyu di dalam abu. Setiap langkah, setiap tarikan napas, terasa seperti doa yang tak terucapkan.

Langit adalah mangkuk buram, tanpa bintang. Dunia terasa menggantung, terkurung. Pegunungan bukanlah dataran tinggi yang sederhana: mereka adalah sisa-sisa tubuh yang lebih tua dari waktu. Asha merasakannya di tulang-tulangnya. Seolah-olah Aeolina membawanya ke sini bukan hanya untuk menyembunyikannya, tetapi untuk menunjukkan sesuatu padanya. Atau seseorang. Jaring api yang dia rasakan di bawah kulitnya, sejak pecahan Jantung Kuil berdenyut di dadanya, berdenyut lebih kuat sekarang. Seolah-olah pegunungan ini juga merupakan simpul. Detak jantung jaring yang tertidur.

Kael nyaris tidak berbicara selama perjalanan. Lengan kanannya, yang membeku hingga ke bahu, mulai kehilangan suhu. Asha mengamatinya dari sudut matanya, seolah-olah kulitnya akan retak jika menatap terlalu langsung. Setiap langkah tampaknya membuatnya semakin menderita, tetapi dia tidak mengeluh. Dia tidak pernah mengeluh. Namun, gemetar di tangan kirinya, dan napasnya yang lebih berat daripada yang lain, menunjukkan kemajuan batu itu. Kadang-kadang, ketika dia mengira Asha tidak melihat, dia menempelkan jari-jarinya ke jantungnya, seolah-olah mencoba merasakan apakah dia masih manusia.

Lirien memimpin jalan, membimbing mereka dengan keyakinan seseorang yang telah membaca jalan ini bukan di peta, tetapi dalam mimpi. Dia mengenakan tunik lusuh, tanpa lencana. Dia telah berubah sejak jatuhnya kuil. Lebih keras, lebih pendiam. Tetapi juga lebih berbahaya. Seperti obor yang tahu kapan tidak boleh menyala. Dia telah mengangkat pemberontakan dengan intensitas yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan atau duka. Setiap malam, dia mempelajari gulungan-gulungan dengan keganasan yang sama seperti orang lain mengasah pedang. Mereka mencapai tepian langkan yang ditutupi lumut merah. Di seberangnya, sebuah lembah menganga di antara formasi bengkok yang tampak seperti gigi batu. Di tengahnya, di tengah gumpalan asap tipis, menjulang reruntuhan benteng yang terkubur di batu. Itu bukan tempat berlindung. Itu adalah saksi. Angin membawa gumaman aneh, seolah-olah batu-batu itu ingat pernah menjadi sesuatu yang lain: tiang-tiang kuil yang terlupakan, atau tulang-tulang makhluk yang punah. Sosok berkerudung menunggu mereka di antara pilar-pilar yang patah. Tinggi, tegak, seolah-olah waktu berutang rasa hormat padanya. Asha memperhatikan simbol pada tongkatnya: spiral patah yang dikelilingi oleh api. Dia mengenali tanda itu. Itu dari para Penjaga... tetapi terbalik. Tongkat itu juga memiliki retakan gelap, seolah-olah energi tak terlihat telah membelahnya dari dalam. "Selamat datang, api yang mengingat," kata sosok itu, suaranya seperti guntur yang teredam. "Kami menunggumu." Asha melangkah maju. Dia merasakan pecahan Jantung Kuil berdenyut di balik pakaiannya, di kulitnya. Jantungnya berdenyut dengan kata-kata itu, seolah merespons. Panas adalah bahasa. Dan itu berbicara tentang pengenalan.

"Siapa mereka?" tanya Kael, suaranya serak.

"Anak-anak Api yang Patah," jawab Lirien, tanpa menoleh ke belakang. "Mereka yang selamat dari pengkhianatan terhadap jenis mereka sendiri."

Sosok itu mengangguk. Dia menurunkan tudungnya. Dia adalah seorang wanita dengan rambut seputih abu, kulit gelap yang ditandai dengan garis-garis berapi yang bukan tato, tetapi bekas luka mentah. Atau luka bakar yang tidak sakit. Matanya berwarna kuning tua, hampir padat. Dia tidak berkedip. Dia tampak seolah-olah melihat kata-kata di dalamnya.

"Kau telah membawa pecahan pertama," katanya. "Kalau begitu masih ada harapan."

Asha mengencangkan jari-jarinya di sekitar pecahan yang tersembunyi itu. Dia merasakan semua yang ada di dalam dirinya terbakar sedikit demi sedikit setiap hari, dan pada saat yang sama, ada sesuatu yang hancur berantakan. Bukan di tubuhnya, tetapi di ingatannya. Ada saat-saat ketika dia mengacaukan ingatan orang lain dengan ingatannya sendiri. Suara-suara wanita yang sudah meninggal berbicara melalui mulutnya dalam mimpinya. "Kekaisaran telah mulai memburu simpul-simpul," kata Lirien. "Mereka tahu ada lebih banyak hati. Lebih banyak kenangan."

"Dan kaulah satu-satunya yang dapat menyimpannya," wanita itu menambahkan. "Jika abunya dipercayakan kepada mereka yang tidak ingat... mereka akan menjadi reruntuhan."

Kael bersandar pada sebuah batu. Ia tidak berkata apa-apa. Napasnya lambat. Pembuluh darah di dekat bahunya yang membatu membengkak. Asha tidak dapat berhenti menatap lehernya, seolah-olah batu itu bisa merayap keluar kapan saja. Jantung obsidian, tak terlihat di bawah kulitnya, berdetak dengan frekuensi asing. Tidak seperti otot. Seperti sebuah peringatan.

"Aku perlu belajar," kata Asha. Untuk menahan kenangan. Agar tidak tersesat di dalamnya.

"Kalau begitu kau telah datang ke tempat yang tepat," kata wanita tua itu. "Tetapi harganya akan mahal."

Asha tidak mengalihkan pandangan. Pecahan batu itu menyala sedikit lebih terang di dadanya. Di belakangnya, Kael menggumamkan namanya. Dan suara kata itu sepertinya menyalakan sesuatu di reruntuhan itu. Beberapa obor tersembunyi, yang tidak menyala selama bertahun-tahun, berkedip-kedip seolah menjawab panggilan itu. Itu adalah jaringnya. Masih hidup.

Anak-anak Api yang Patah menuntun mereka melalui lorong cekung, di mana dinding-dindingnya ditutupi dengan lukisan dinding yang hampir tidak terlihat: pertempuran tanpa pahlawan, para penjaga yang tumbang di tangan manusia, api yang padam lalu menyala lagi. Asha merasakan gambar-gambar itu bergerak, hanya dengan melihatnya.

Mereka turun ke ruang melingkar tempat batu itu berdenting dengan energi bawah tanah. Di sana, yang lain menunggu mereka: pria dan wanita dari segala usia, dengan tanda-tanda yang mirip dengan wanita tua itu. Beberapa muda, yang lain begitu tua sehingga tampak dipahat oleh waktu. Semua mata tertuju padanya. Bukan dengan pengabdian, tetapi dengan harapan. Seolah-olah berharap untuk terbukti salah.

"Di sini kamu akan belajar untuk melawan kehancuran," kata wanita itu. "Untuk bertahan tanpa berpaling. Untuk mengingat tanpa menghilang. Namun, kau harus menyerahkan sesuatu terlebih dahulu." "Apa?" tanya Asha, meskipun ia sudah takut akan jawabannya. "Terlepas dari emosimu," kata wanita itu. "Abu merespons perasaan. Jika kau merasa terlalu banyak... mereka menyeretmu ke bawah. Jika kau tidak merasakan apa pun... mereka mengabaikanmu. Kau harus menemukan keseimbangan. Dan itu hanya terjadi ketika kehilangan sesuatu yang nyata." Asha menelan ludah. ​​Ia memikirkan ibunya. Tentang suara-suara dalam abu. Tentang saat pertama kali ia menyentuh Hati. Semua itu telah dipandu oleh emosi. Siapakah dirinya tanpa itu? "Kau harus memilih," lanjut wanita tua itu. "Kenangan untuk disegel. Emosi untuk dibungkam. Hanya dengan begitu kau dapat memulai." Kael mencoba untuk duduk, tetapi tubuhnya tidak merespons. Ia jatuh berlutut, dan Asha berlari untuk menopangnya. Kulitnya sudah dingin. Seperti batu. Seperti patung hidup. "Kael..." bisiknya. Ia mendongak. Ia merasa sulit untuk berbicara. "Jangan biarkan aku... menghilang... tanpamu."

Wanita tua itu memperhatikan mereka dalam diam. Kemudian dia mengangguk, seolah sesuatu telah menjadi jelas.

"Jantung obsidian juga memiliki harga. Namun masih ada waktu. Jika dia memilih dengan baik."

Asha memejamkan matanya. Dia merasakan denyut pecahan itu. Dia merasakan jaringnya. Dia merasa bahwa api itu tidak ingin menjadi senjata. Ia ingin menjadi bahasa. Dan dia... harus belajar untuk mengucapkannya.

"Aku siap," katanya.

Dan ruangan itu dipenuhi dengan kehangatan yang dalam, seolah-olah gunung-gunung itu sendiri bernapas untuk pertama kalinya selama berabad-abad. Revolusi tidak akan bangkit dengan teriakan. Ia akan dimulai dengan bisikan abu. Lagi.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kenangan Obsidian

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Dalam kisah romansa modern ini, David dan Arina memulai perjalanan emosional yang menuntun mereka pada kebahagiaan sejati. Berlatar keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan jiwa masing-masing. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka tumbuh dengan begitu indah. Momen singkat di musim ini berhasil menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan cinta yang tulus, kuat, dan sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam, Shila harus menahan rasa sakit saat Sam menyentuhnya dengan begitu intim. Di tengah situasi yang sangat berisiko ini, Sam berbisik setengah berbisik, meminta Shila agar tidak bersuara. Ia mengingatkan bahwa ayah dan ibu Shila bisa saja terbangun dan memergoki mereka. Ketegangan pun kian memuncak saat keduanya berusaha keras menyembunyikan hubungan rahasia ini dari jangkauan orang tua Shila yang berada di rumah yang sama.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil diam-diam dari Jeremy, walau tahu dia hanya dimanfaatkan. Demi lepas dari cengkeraman pria kejam itu, Angela sengaja memicu kemarahannya agar diusir. Namun, pelariannya gagal setelah Jeremy menemukan tempat persembunyiannya. Saat Angela pasrah memohon dibebaskan, situasi justru berbalik karena kehadiran anak mereka. Jeremy yang semula begitu dingin kini berubah drastis, bahkan menawarkan diri untuk melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Demi keselamatan buah hatinya, Neva rela bertahan melewati penderitaan batin dan tekanan konstan. Kisah perjuangan penuh pengorbanan ini memperlihatkan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi peliknya dinamika hubungan yang menjerat hidupnya.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita kontroversial yang kerap dicap perusak hubungan, bertekad mengubah hidupnya. Demi belajar dari desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menerjang musim dingin utara yang ekstrem. Sialnya, Amber dirampok hingga tersesat di tengah hutan beku. Harapan hidupnya kini bergantung pada Tuan Dingin, duda misterius pembenci wanita yang dirumorkan sebagai kanibal. Bisakah Amber menaklukkan hati pria tersebut, atau ia justru akan menjadi korban dari kebenciannya?
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Alena Adriani Quensyah harus menghadapi kenyataan pahit setelah orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada gembong mafia yang sangat kejam. Kini, hidupnya bagai di balik jeruji besi, ditambah dengan bayang-bayang trauma masa lalu yang terus menyiksa batinnya. Di tengah situasi pelik ini, Alena bertekad mencari tahu alasan keluarganya tega menelantarkannya. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan kembali orang tuanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED