Gerimis seharian ini membuat cuaca terasa begitu memanjakan rasa malasku, sangat berat tubuh ini untuk melakukan aktifitas, disaat gue sedang berteduh pada sebuah halte depan kampusku kumelihat seseorang yang sangat gue kenal, dengan cepat gue pun berlari mendekati seseorang yang sangat aku kenal itu, walau tanah sedikit agak becek gue tidak mempedulikannya dan terus berlari menghampirinya, lalu gue pun menepuk pundaknya untuk menegurnya.
"Hai.. kemana aja lu ?", tegurku dari belakang pada seorang teman.
"Ooiii... !", ucapnya terkaget.
"Asuuuu.. mbok'ne ancuk'an ancen arek iki !", ucapnya kesal kepadaku.
(Anjing... emaknya dancok emang nih anak).
"Wes toh.. jangan ngamuk terus !", sautku menenangkannya.
(udahlah..).
"Ehh... udah dapet kabar kapan nilai semester keluar ?", tanyaku padanya.
"Belum nath... serem gue kalau IP gue jeblok !", jawabnya dengan melas.
"Hahaha... seorang adrian takut nilainya jeblok, nih dah mau masuk semester 4.. kemarin-kemarin lu kemana aje mas, kok baru mikirnya sekarang !", ejekku pada adrian.
Dia adalah teman baikku di kampus namanya Adrian Matuhusein, dari namanya saja mungkin udah bisa di tebak asalnya, ayah dari indonesia timur sedangkan ibunya dari jawab barat yaitu tasikmalaya, cewek sunda. dia lebih tua dariku satu tahun dan dia satu fakultas denganku juga di fakultas hukum, saat ini kita akan memasuki semester empat dan masih butuh waktu 2,5 tahun lagi untuk lulus dari universitas Airlangga Surabaya.
Gue bukanlah nathael yang dulu kalian kenal karena nathael yang sekarang bukan lagi anak dari keluarga yang kaya raya dan terpandang di kota ini, aku yang sekarang adalah anak yang sedang berjuang untuk meraih impian dengan menggunakan tangannya sendiri, hidupku berubah total setelah peristiwa di jakarta, semuanya lenyap seketika bagai ditelan bumi, tak ada lagi gelimang harta atau anggota keluarga yang sudi membantu, mereka seperti orang yang tidak mengenalku lebih tepatnya tidak sudi lagi mengakuiku sebagai anggota keluarganya.
Gue hidup sendiri, cari makan sendiri, beli pakaian sendiri dan biaya kuliah juga sendiri. untuk saja Tuhan Yang Maha Esa memberiku sebuah otak yang sangat jenius sehingga gue bisa menggunakannya untuk mendapatkan uang, thanks God !.
Gue kuliah di hari senin sampai dengan jumat, pulang kuliah gue pun menghabiskan waktuku dengan bekerja di sebuah caffe sebagai barista atau peracik kopi, dalam satu minggu gue di beri kesempatan untuk libur satu hari, gue juga menyambi sebagai guru privat yang datang ke rumah-rumah untuk memberikan bimbingan kepada mereka yang membutuhkan bantuanku.
"Nath.. ke lapangan basket yuk, ada turnamen basket !", ucap adrian.
"Yuukk.. !", sautku.
Kita berdua segera menuju ke lapangan basket untuk melihat turnamen basket antar kampus di surabaya, ternyata peminat olahraga basket di kampus ini sangat banyak juga sampai-sampai penontonnya terlihat penuh mengelilingi lapangan basket tersebut. dengan berdesak-desakan gue pun menyelinap masuk di antara para penonton untuk bisa menyaksikan pertandingan basket ini, akhirnya aku berada di tengah-tengah para penonton dan gue bisa dengan leluasa menyaksikan pertandingan basket ini.
"Hei, nath... coba perhati'in nomor 6 !", berbisik lirih adrian di telingaku.
"Kenapa ?", tanyaku dengan memperhatikan seseorang bernomor punggung 6.
"Hehehe... susu'ne gedimbal-gedimbul cok, mentolo nguntal ae.. !", lagi-lagi adrian berbisik pelan pada telingaku.
(Hehehe... payudaranya membal-membal cok, pingin nelan aja).
"Raimu cok.. !", sautku pelan.
(Mukamu cok).
"Di emprut uenak tenan iku bro... !", ucapnya lagi dengan berbisik.
(Di entot/ewek enak banget itu bro..).
"Males banget gue ngeladenin lu.. gue ke kantin aja dah !", ucapku dengan acuh kepada adrian.
Belum ada 10 menit gue dah memutuskan untuk pergi dari kerumunan manusia yang sedang menyaksikan pertandingan basket tersebut, dan adrian pun mengikutiku dari belakang. kita berdua pun menuju ke kantin untuk membeli minuman ringan karena kehausan setelah capek berjalan, dan sesampainya di kantin.
"Porek koe.. !", ucap adrian padaku.
(Ngambek kamu..).
"Kagak... gue cuma males aja dengarin omongan mesum lu !, ucapku pada adrian yang duduk di depanku.
"Eehh.. tapi tuh cewek primadonanya kampus sini lho !", ujar adrian.
"Udah cantik, tinggi, putih, mulus, bokong ama teteknya gemesin, dan anak orang kaya lagi... rasa'ne pingin ngelon'i ae cok !", sambung adrian.
(Rasanya ingin berhubungan intim).
"Kebanyakan cewek-cewek kayak gitu otaknya gak kepakai !", ucapku
"Buset.. lu tau gak siapa yang menyandang IP tertinggi di kampus ini ?", tanya adrian padaku.
"Anggun Wijayanata !", jawabku singkat.
"Naaahh... Anggun Wijayanata tuh dia, cewek yang lu omongin otaknya gak kepakai !", ucap adrian.
"Heboh amat lu... !", ucapku acuh.
"Gue aku'in lu pinter tapi lu kalah ama dia, dia peringkat satu lah lu ada di peringkat dua !", papar lagi adrian dengan meyakinkanku.
"Biasa aja ahh... !", ucap sangat cuek.
"Pantes aja lu gak punya cewek, sikap lu aja kayak gini... jangankan cewek, temen aja cuma satu, gue doank !", ucapnya menyindirku.
"Berisik lu.. !", ucapku dengan meninggalkannya.
Uang lima ribu rupiah gue taruh di meja dan setelah itu gue pergi meninggalkan adrian di kantin sendiri, yaa... seperti itulah sikap adrian sangat maniak terhadap wanita cantik dan seksi, mulut sering kali mengucapkan hal-hal mesum yang membuatku sangat risih.
"Woi.. kemana lu nath ?", tanya adrian sesaat aku pergi.
"Toilet bentar !", jawabku.
"Ojok suweh-suweh, cok... !", teriak adrian.
(Jangan lama-lama, cok... ).
Kulambaikan tanganku kebelakang bertanda it's ok, langkah demi langkah menuju toilet yang berada di ujung kantin. suasana nampak lengang dan gue pun menelusuri dinding-dinding kantin yang sudah mulai usang, setibanya gue di toilet gue pun mencari ruangan yang kosong untuk ku masuki, tak ku sangka sampai di ujung pun tidak ada satu pun ruangan toilet yang terbuka alias kosong. kemudian aku pun menunggu di toilet paling ujung dan berada tepat di depan pintu toilet gue berdiri.
15 menit kemudian
"Kraaaaaaakkkkk... ", suara pintu toilet terbuka, pandanganku pun berpaling ke arah belakang tepat ke arah pintu tersebut terbuka, terlihat sosok wanita dengan paras cantiknya yang seperti amoy atau wajah-wajah chinesse, dengan menggunakan baju basket warna biru muda dan rambut hitam panjang terikat sempurna ke belakang, keringatnya pun nampak jelas mengalir di wajah cantiknya, turun membasahi leher putihnya dan kuperhatikan bahunya yang tak terbalut secuil kainpun, rongga-rongga kecil di antara ketiaknya juga terbanjir oleh keringatnya. bukannya jijik melihat hal ini tapi aku malah semakin bergairah, sepertinya penyakit lamaku sudah kambuh.
"udah selesai.. ?", tanyaku.
"udah !", ucapnya singkat.
Dan setelah satu kata yang terlantun dia pun pergi begitu saja, terkesan sangat angkuh dan sombong sekali cewek ini. gue pun berpikir bahwa hal tersebut lumrah terjadi pada seorang wanita yang memiliki paras cantik, pintar dan kaya, mereka pasti akan lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan seseorang. mungkin gue ini di anggap orang yang mencurigakan baginya karena seorang diri berdiri di depan toilet yang sedang dia masuki.
Memang benar perkataan adrian tentang dirinya, dia wanita yang sangat cantik nan rupawan, aroma tubuhnya sampai tercium meskipun jarak di antara kita cukup jauh. tubuhnya juga sangat terawat, pantatnya yang besar dan nampak sekel, dan lagi payudara miliknya nampak begitu bulat berisi.
"Ehmm... dia itu yaa wanita yang mendapat IP tertinggi sekampus ini !", gumamku.
"Cantik, kaya dan pintar.. dia seperti mutiara di kampus ini !", lanjut gumamku.
Bersambung
"Lama amat lu ke toilet, coli lu yee... ?", tanya adrian padaku.
"Kagak !", ucapku singkat.
"Eehh.. hari sabtu besok gue tidur di kontrakan lu yee... !", ucap adrian padaku.
"Mau ngapain lu ?", tanyaku.
"Hehehe... gue pingin ngintip tetangga kontrakan lu, si bu gina yang tembem itu !", ucap adrian dengan gaya slengekan.
"Endasmu iku isi'ne utek opo memek toh !", ucapku menyindir adrian.
(Kepalamu itu isinya otak apa memek/meki seh).
"Anjrit... sok alim lu di depan gue, padahal demen banget lu nonton bokep !", celetuk adrian.
"Coba dah lu perhati'in, bu gina kan chubby tuh rada endut... biasanya cewek kayak gitu pasif saat ngesex tapi pinginnya di entot mlulu, lalu waktu penetrasi pasti berisik deh.. entah itu mulutnya atau mekinya, hehehe... !", otak mesum adrian kembali bicara.
"Sotoy lu.. !", ucapku padanya yang banyak omong.
"Jiah... sabtu besok gue bukti'in deh ke lu, kita intip bareng-bareng.. kalau lu gak mau ngintip tar gue rekamin deh !", ucap adrian.
"Eehh.. sabtu besok lu liburkan !", tanya adrian.
"Iye.. gue libur tapi sore hari gue harus ngajarin anak tetangga gue !", ucapku.
"Ora opo-opo... seng penting iku bengi'ne, waya'e wong kentu, ahahahha... !", ucap adrian kegirangan.
(Tidak apa-apa.... yang penting tuh malamnya, waktunya orang ngentot).
"Wong edan.. !", sautku menanggapi kelakuan mesum adrian.
(Orang gila).
Mungkin sudah ratusan kali sampai gue tidak bisa menghitungnya lagi berapa jumlah pastinya, kelakuan adrian sering kali membuatku terlibat dalam sebuah masalah yang tak seharusnya terjadi, ulahnya benar-benar membuat orang disekitarnya secara tidak langsung ikut terlibat juga. kini dia merencanakan akan mengintip bu gina tetangga kontrakanku saat bu gina sedang ngesex dengan suaminya. jangan tanya kenapa, aku sendiri juga binggung kenapa gue selalu di berikan partner yang kurang waras oleh penulisku.
Inilah salah satu kebiasaanku dengan adrian saat di kantin, cuma beli dua minuman saja tapi nongkrongnya sampai berjam-jam di kantin, dan sekarang sudah hampir 1,5 jam gue dan adrian duduk disini, ku perhatikan gelas minumanku sudah tinggal setengah dan es batunya pun telah mencair larut menjadi satu dengan es jerukku.
"Heeh.. lihat belakang lu !", ucap adrian dengan menggerakan tanganku.
"Buruan cumi.. !", sautnya lagi memaksaku untuk melihat kebelakang.
Gue pun menoleh ke belakang mengikuti perintah dari adrian, saat ku perhatikan ke belakang ternyata tepat di belakangku duduk sang primadona kampus yaitu si anggun wijayanata. aroma parfumnya tercium semerbak wangi dan sangat khas sekali, bukan seperti parfum yang di jual di alfamart/indomart. anggun duduk bertiga dengan temannya, mereka nampak sedang bercanda gurau dengan sesama, obrolan cewek pada umumnya paling-paling ngerumpi ngomongin orang dan itu juga terdengar dari pembicaraan mereka bertiga. sesaat kemudian aku pun memalingkan wajahku lagi untuk menghadap ke arah adrian, mengacuhkan tiga wanita tersebut.
"Eheemmm... eheeemmm... !", batuk adrian terdengar keras yang sengaja dibuat-buat.
"Eheeeemmm.... !", kali lebih keras lagi.
"Ngapain lu ?", tanyaku pada adrian.
"Gue mau nyanyi, berisik aja lu... !", ucap adrian.
"Melayang jauh.. terbang tinggi.. bersama mimpi.. !", suara nyanyian adrian terdengar saat hancur namun keras sekali dia bernyanyi.
"Itu lagunya siapa... penasaran gue ?", tanya adrian padaku dengan tangannya mengoyang-goyang tanganku.
Gue juga tau kalau adrian sengaja memancingku untuk mau mengucapkan kata anggun, dia ingin mencari perhatian dari anggun melalui diriku. jika tidak di ladenin mungkin aksinya akan semakin menggila lagi oleh karena itu akhirinya aku pun menjawabnya dengan rada males.
"Anggun !", ucapku pelan.
"Siapa nath... gak denger gue ?", tanya ulang adrian.
"ANGGUN... !", ucap cukup keras.
"Oohh.. anggun yaa... memang anggun banget yaa tuh cewek !", ucap adrian dengan tatapan mata menuju ke arah anggun yang ada di belakangku.
"Pergi aja yuk !", ucapku lirih.
"Tunggu dulu, bentar lagi !", ucapan adrian lirih dan menahanku untuk tidak pergi.
"Yaaaa... cabut deh !", gumam adrian dengan sorot mata terarah ke gerombolan wanita yang ada di belakangku.
Gue mendengar suara gesekan bangku dengan lantai pertanda seseorang sedang mengatur bangku tersebut, lalu terdengar suara gumaman dari para wanita yang ada di belakangku, mereka pun melewati samping kiriku dan beranjak pergi meninggalkan kantin padahal baru sebentar saja mereka duduk di bangku itu, di saat mereka melewatiku mereka pun mengucapkan sindiran kepada kita berdua.
"Berisik banget !", ucap salah satu wanita dalam gerombolan itu.
"Maklum bocah kampung !", saut dari wanita yang lainnya.
Mendengar celoteh dari para wanita itu pasti adrian tidak akan terima begitu saja, adrian akan membalasnya dengan sindiran juga kepada mereka bertiga. dan benar saja dugaanku adrian pun melontarkan umpatannya kepada gerombolan wanita dengan nada keras.
"Modal cakep doank lu semua.. otak lu ga ada isinya !", umpatan adrian kepada gerombolan wanita itu.
Mendengar ucapan adrian yang sangat mengejek dan merendahkan mereka, maka mereka pun berhenti lalu kembali menghampiri kami yang sedang duduk di meja kantin. gue hanya bisa geleng-geleng doank melihat kelakukan adrian yang seperti bocah ini, ujung-ujungnya paling gue juga yang bakal dia libatkan dalam masalah ini.
"Hei.. lu bilang apa barusan ?", tanya salah satu wanita yang dalam kelompok tersebut.
"Udah bego.. tuli lagi.. kasian amat hidup lu !", sindir adrian kepada wanita yang menantangnya tersebut.
"Tuh mulut pernah di sekolahin gak seh.. !", ucap wanita itu dengan sangat kesal.
"Sudah.. gak ada gunanya ngeladenin manusia kayak gini, kita pergi saja !", ucap anggun pada temannya untuk menghentikan pertikaian.
"Lu tuh yang gak ada gunanya.. mending pergi jauh-jauh sono !", celetuk dari adrian.
Wajah anggun memang terlihat sangat ketus, judes dan cuek sekali namun saat mendengar ucapan dari adrian barusan membuat wajah cantiknya berubah menjadi sangat marah, gue lihat dia pun menatap adrian dengan tatapan yang galak dan tajam, dan telunjuknya dia arahkan ke wajah adrian.
"Heh.. gue dah coba sabar dan mengalah, kenapa lu masih nyolot !", ucap anggun pada adrian dengan kesal.
"Tunggu dulu.. bukan gue yang mulai tapi temen lu tuh ga punya etika !", ucap adrian pada anggun.
"Pakai ngatain kita berdua bocah kampung lagi !", sambung dari adrian.
"It's ok.. gue mewakili temen gue, gue minta maaf, dah kan !", ucap anggun pada adrian.
"Naahh.. gitu donk !", ucap adrian pada anggun.
"Tapi suruh juga teman lu itu minta maaf ama gue, karena tadi dia mengintip gue di toilet !", ucap anggun dengan menunjukku.
Anjrit... kenapa gue di bawa-bawa dalam masalah ini, sepertinya sudah waktunya diriku untuk masuk dalam permasalahan ini, dan yang membuatku heran adalah seorang anggunlah yang menyeretku kedalam perdebatan ini, bukannya teman baik si adrian.
"Weleh... sumpeh loe !", ucap adrian dengan alaynya.
"Lu tanya aja sama temen lu.. !", ujar anggun.
"Oohh, bedes... ngunu raimu gak ngejak aku, cok !", ucap adrian lirih kepadaku.
(Oohh monyet... gitu mukamu, gak ngajak aku, cok).
"Ada bukti ?", tanyaku pada anggun yang berdiri di hadapan adrian.
"Bukti... lu sendirian berdiri di depan pintu toilet, dan pura-pura menunggu giliran !", papar anggun.
"Itu baru dugaan.. !", ucapku memotong perkataan anggun.
"Semua orang yang tau hal ini pasti memiliki pemikiran yang sama denganku, yaitu lu pasti mengintipku !", jelas lagi anggun.
"Apa lu buta tentang hukum... dugaan tidak bisa menjadi bukti !", sangkalku atas pernyataan anggun.
"Gue tau tentang hal itu.. oleh karena itu kenapa waktu di toilet gue lebih meilih pergi dari pada berdebat dengan lu !", ucap anggun.
"Lalu kenapa sekarang lu berani menuduhku ?", tanyaku.
"Karena ini tempat rame, jika tadi gue menuduhmu mungkin bisa saja lu memperkosa gue karena tempat tadi begitu sepi !", jawab anggun.
"Secara gak langsung sudah dua tuduhan yang lu arahkan kepada gue, yang pertama mengintip dan yang kedua prasangka kalau gue bakal memperkosa lu.. jika kasus ini gue bawa ke ranah hukum, lu bakal kena jerat tentang pencemaran nama baik, mau !?", ucapku dengan nada mengancam.
"Sepertinya tittle IP tertinggi gak pantes buat lu.. !", sindirku lagi kepada anggun.
Kulihat wajah anggun begitu menahan amarahnya, dia sangat tersudut atas pernyataanku barusan, semoga itu bisa menjadi cambukan yang berarti buatnya agar bisa menjadi anak yang baik kedepannya. gue pun berdiri dari bangku yang aku duduki, lalu gue beranjak pergi dari kantin tersebut.
"Yuukk... kita cabut !", ucapku pada adrian.
"Wooww... gila lu, keren banget omongan lu bisa membuat diem mulut nih cewek !", pujian adrian padaku.
"Woi.. minggir gue mau lewat, perdebatan telah berakhir !", lagi-lagi adrian membuat ulah dengan sengaja memancing emosi ketiga cewek itu.
"Kayaknya IP tidak bisa menentukan kualitas otak seseorang deh !", sebuah sindiran kembali terlontar dari mulut adrian.
Gue dan adrian pun pergi meninggalkan ketiga wanita yang hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apa pun, raut muka yang penuh dengan emosi dan rasa ingin membalas semua perlakuanku dan adrian sangat tersirat jelas di wajahnya. setelah beberapa langkah gue pergi meninggalkan mereka, tiba-tiba anggun menghentikan langkah kita berdua.
"Tunggu.. !", ucap anggun.
"Siapa nama lu ?", tanya anggun.
Mendengar ucapan anggun kita berdua pun membalikan badan dan menghadap ke arahnya, dan dengan spontan saja adrian sangat keGRan dan langsung memperkenalkan dirinya kepada anggun.
"Oohh.. ok, kenalin nama gue Adrian Matuhusein, panggil aja ian !", ucap adrian dengan dengan sumringah dan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Bukan lu, bego.. !", ucap salah satu teman anggun.
Anggun nampak tak memperdulikan ucapan adrian dan tak merespon uluran tangan dari adrian, tatapan mata anggun mengarah tepat pada kedua bola mataku, sepertinya dia ingin mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, dan gue pun memperkenalkan diri.
"Nathael !", ucapku singkat.
"Urusan kita belum selesai, dan gue ingin menantangmu !?", ucapan anggun sangat serius.
"Apa ?", sautku.
"Di semester 4 ini jika kau bisa mengalahkan IP gue, maka gue bakal kabulin satu permintaan lu !", ucapnya.
"Tapi kalau kal... !", sambung anggun namun terpotong oleh ku.
"Cukup.. gue cuma minta lu untuk membayar uang semester gue di semester 4 ini !", ucapku dengan memotong pembicaraan dari anggun.
"Sombong banget lu.. !", ucap dari teman anggun.
"Kepinteran lu udah bisa di taker.. dan gue juga udah ngelihat kelemahan lu !", ucapku dengan menatap anggun.
"Kenapa lu bisa seyakin itu ?", tanya anggun.
"Nath.. lu yakin amat, udah sakit lu yee !", saut adrian padaku.
"Salah satu kesalahan terbesar lu adalah lu terlalu meremahkan siapa lawan yang lu hadapi !", jelasku pada mereka.
"Ohh yaa.. tapi lu juga punya satu kelemahan yang jelas terlihat di mata gue, yaitu lu terlalu percaya diri akan kemampuan lu itu dan bahkan kau terkesan sangat sombong !", ucap anggun padaku.
"Hahaha.. sombong akan sebuah kemenangan itu suatu hal yang wajar !", sangkalku.
"Memang sangat wajar bila sudah ditentukan pemenangnya, tapi pertaruhan kita baru dimulai dan semua bisa berubah seiring berjalannya waktu !", ucap anggun dengan sangat tajam.
"Lu ingin tau kenapa cowok gak pernah menang kalau berdebat dengan seorang cewek ?", tanyaku pada anggun.
"Kenapa ?", tanya balik anggun kepadaku.
"Karena cewek punya dua mulut yang sama berisiknya !", ucapku padanya dengan sinis.
"Kurang ajar.. !", saut anggun.
Setelah puas berdebat akhirnya gue pun pergi meninggalkan mereka bertiga, langkah kakiku dan adrian segera menuju ke ruang kelas kami untuk mengecek apakah dosen yang akan mengajar kami sudah datang atau belum.
"Cooookkk... sumpah keren abis lu tadi !", ucapan adrian sangat terkesima denganku.
"Gak percuma aku duwe konco koyok awakmu, joss !", saut adrian lagi dengan mengacungkan dua jempolnya padaku.
(Tidak percuma aku punya teman sepertimu, sip).
"Lu bisa gak seh.. gak cari masalah mlulu !", ucapku ketus pada adrian.
"Lhaa... napa jadi gue yang salah, kan tadi masalah elu yang di bahas !", bantah adrian.
"Tapi kalau lu ga cari masalah dulu kan gak bakal sejauh ini jadinya !", ucapku lagi dengan santai.
"Yaa elah.. tapi ada untungnya juga lho, lu gak usah binggung mikirin uang semesteran lagi kalau menang !", ucap adrian.
"Bodohlah.. itu urusan lu, yang penting sabtu besok gue bisa ngintip bu gina... ohh bu gina, nenen buuuu... !", ucapan adrian terdengar sangat menjijikan.
Ehmm... ohh God, gue butuh bantuanmu untuk menghadapi temanku ini si adrian, sesungguhnya dia lah masalah terbesarku !.
Bersambung
"Sabtu telah tiba.. sabtu telah tiba.. hore.. hore.. hore..... !", nyanyian dari adrian dengan cerianya.
Sepanjang perjalanan pulang dari tugu pahlawan sampai ke rumahnya, si adrian terus menerus menyanyikan lagu gak jelas itu. maklum saja dia sangat kegirangan saat gue izinkan menginap di kontrakanku hari ini, karena sebelum-sebelumnya dia selalu gue larang. gimana gak girang, wong si adrian ini udah menyiapkan rencana untuk mengintip tetangga kontrakanku si ibu gina yang chubby dan tembem, katanya adrian.
Kami baru saja jalan-jalan ke tugu pahlawan untuk olahraga, mumpung gue libur kuliah dan libur gawe jadi sengaja gue menyempatkan olahraga dengan berlari-lari di area tugu pahlawan dan tentu saja mengajak temanku yang paling setia menemaniku si adrian. setelah berolahraga gue melanjutkan perjalanan ke rumah adrian untuk beristirahat sebentar, karena rumah adrian terletak tidak jauh dari tugu pahlawan, tepatnya di daerah tembok dukuh atau belakang stasiun pasar turi.
Dan sesampainya di kediaman adrian.
"Yokap lu mane... belom pulang ?", tanyaku pada adrian.
"Tar dia pulangnya, jam 2 siang !", jawab dingkat adrian.
"Eehh.. di kontrakan lu ada makanan gak ?", tanya adrian padaku.
"Mie instant doank !", jawabku.
"Nih bawa sosis ama baso, lumayan buat campuran di mie instant !", ucap adrian dengan membongkar isi kulkasnya.
"Butuh beras gak... sirup, snack, kentang, saos, kecap, cabe.... !", bicara adrian dengan menyebutkan semua isi kulkasnya.
"Lu mau ngungsi !", ucapku menghentikan perkataan adrian.
"Kan tar malam kita bakal ngeronda, butuh bekal buat begadang !", ujar adrian.
"Bawa charge handphone, gue cuma punya satu doank di kontrakan !", saranku.
"Beress boss.. !", saut adrian.
Adrian nampak sibuk menyiapkan barang-barang untuk dibawa ke tempat tinggalku, kontrakan kecil yang berada di daerah kali asin surabaya, lebih tepatnya mungkin di belakang tunjungan plaza atau TP, salah satu mall terbesar di kawasan surabaya. beberapa barang dan makanan dia yang ada di dalam kulkas dia masukan kedalam tasnya sampai penuh, kulkas yang tadinya penuh dengan makanan kini nampak kosong melompong.
"Jangan di bawa semua, kasian yokap lu gak bisa masak tar !", ucapku menghentikan ulah adrian.
"Percuma ibu gue gak pernah masak, semua barang di kulkas emang sengaja di siapin untuk gue !", jawab adrian padaku.
"Oalah.. gitu toh !", sautku ringan.
"Nath... mansion, hahahha... !", ujar adrian dengan menunjukan sebotol minuman.
"Lu aja gue gak ikut minum !", sautku.
"Taek arek iki.. wes ta lah, enak... enak... !", ucap adrian memaksaku.
(Tai nih anak... udahlah, enak.. enak...).
"Nyesel gue ajak lu nginep di kontrakan gue !", celetukku.
"Djamput arek iki... wes seminggu iki tak belani ngempet ngeloco gara-gara pingin nginceng bu gina lhoo, tego ta koe karo aku !", ucapan adrian dengan nada memelas.
(Djamput/dancok nih anak... udah seminggu ini gue bela'in nahan gak coli demi kepingin ngintip bu gina, tega lu ama gue).
"Kampret... berarti lu mau ngocok di kontrakan gue !", ucapku.
"Gue siram.. bakal gue bersihin semua sebersih-bersihnya, najis amat lu ama gue !", ucapan adrian untuk menegaskan maksudnya.
"Yaa udah buruan.. gue juga belom nyuci pakaian !", ucapku pada adrian.
"Sek diluk.. !", sautnya dengan cepat.
(Tar Sebentar.. !).
Setelah semua telah siap, adrian pun membawa tasnya yang berisi seluruh bahan makanan untuk kepentingannya menginap di kontrakanku dan satu tas lagi yang berisi laptop, tas yang dibawa adrian sangat penuh dan bahkan hampir luber. dia nampak keberatan membawanya, gue hanya bisa tertawa saja melihat tingkah konyolnya dan kita berdua pun pergi meninggalkan rumah.
"numpak opo iki ?", tanya adrian.
(naik apa ini).
"motor muluk !", ucapku cengengesan.
(pesawat).
"Serius lah... berat ini, kampret !", saut adrian dengan ngos-ngosan.
"Udah ahh.. naek becak aja, kelamaan lu mikirnya !", ucap adrian yang nampak kesal karena kecapekan membawa barang-barangnya.
Dengan tidak sabaran adrian menghentikan langkahnya menuju ke pangkalan tukang becak dan menaiki becak tersebut, tentu saja setelah mencapai kesepakatan harga yang dealnya di angka 40ribu rupiah. akhirnya becak itu mengangkut kami menuju ke kontrakanku di daerah kali asin. sepanjang perjalanan pun adrian tak henti-hentinya mengoceh dan terus mengoceh, tanpa rasa malu kalau omongannya bakal di dengerin oleh tukang becak dia pun berbicara tentang hal-hal yang memalukan padaku.
"Sebenere lu dah pernah ngentot belum nath ?", tanya adrian padaku.
"Berisik lu.. !", cetusku.
"Masih perjaka lu yee... hahaha.. !", ucapan adrian mengejekku.
"Mampus lu.. hari gini masih perjaka, jangan harap lu bisa dapet perawan, wkwkwkwkw.. !", ketawanya makin keras.
"Saran gue yee... mending lu gak usah nyari cewek yang seumuran lu, karena lu bakal di manfaatin doank, mending lu nyari tante-tante aja dan kalau bisa jadi peliharaan mereka !", ucap lagi adrian.
"Tuh tante pasti bakal seneng banget kalau dapetin perjaka kayak lu gitu.. yaa sama aja kayak cowok dapet perawan gitu deh, girang banget karena masih peret dan berdarah... darah... !", ujarnya menggodaku.
"Lu 1,5 tahun jadi temen gue tapi masih belum dapet nyerep ilmu gue... murid gue paling bego lu nath, wkwkkwkw... !", ucapannya sangat mengjengkelkan.
"Nih dengerin gue... lu ga usah percaya ama istilah jinak-jinak merpati, tarik ulur, malu-malu mau atau apa lagi itu, masih banyak lagi... kalau lu pingin dapetin cewek intinya cuma satu, yaitu dapetin perhatian darinya !", sambung lagi perkataan adrian.
"Gak perduli gimana pun caranya pokoknya dapetin dulu perhatiannya, entah itu lu tabok dia, cium dia atau langsung lu cipok juga gak masalah yang penting dapet perhatian !", ucapnya lagi.
"Cangkemmu isok meneng gak !", ucapku tanpa melihat adrian.
(Mulutmu bisa diem gak !).
"Aku iki sebagai gurumu, isin duweh murid koyok awakmu !", sangkal adrian.
(Gue ini sebagai guru lu, malu punya murid kayak lu).
"Daah.. diem yee, lu dengerin aja amanat dari gue, ok kita lanjutin lagi.. !" ucap lagi adrian.
"Eehh... sampai mana tadi, lupa gue... nath, sampai mana yee tadi !", tanya adrian dengan kebinggungan mengingat.
Begitulah dia, terus menerus mengoceh gak jelas sepanjang perjalanan di atas becak. gue yang terlanjur malu oleh tingkahnya hanya bisa diam saja dengan memalingkan mukaku dari hadapannya, gue lirik tukang becaknya juga senyum-senyum sendiri mendengar ocehan dari adrian, bahkan dia pun sampai menggeleng-gelengkan kepala serasa tak percaya kenapa tuhan menciptakan manusia sebodoh ini di dunia.
Dan becak itu pun berhenti di jalan raya tepat di depan sebuah gang yang menuju ke arah kontrakanku atau di sebelah mall tunjungan plaza, saat adrian turun dari becak dan sedang membetulkan tas bawaannya tiba-tiba saja sebuah mobil memberikan klakson yang mengagetkannya, spontan saja adrian pun berteriak.
"Djancok... leren woi... tak tempeleng semburat endasmu !", teriak adrian untuk kepada sebuah mobil yang hampir menyerempetnya.
(Djancok... berhenti woi... gue tonjok acak-acakan kepala lu).
"Anjing, banget tuh orang... untung aja tuh mobil langsung masuk kedalam mall, coba berhenti dah gue ancurin tuh orang ama mobilnya !", ucapan adrian sangat kesal.
"L 3513 IAN... tuh plat nomornya !", ucapku santai pada adrian.
"Terus buat apaan ?", tanya adrian dengan rada binggung.
"Yaa.. lu masuk aja sono ke parkiran mall, cari tuh mobil terus baretin deh !", ucapku santai.
"Weleh... bener juga lu nath, yuukkk masuk !", ucap adrian dengan kegirangan.
"Lu aja sendiri sono.. gue mau pulang aja, capek !", celetuk rada males.
"Waaasssuuuu... aku melu awakmu ae lah, anggap aja lagi mujur tuh mobil !", ucap adrian.
(Anjiiiiinnngg.... gue ikut lu aja deh, anggap aja lagi mujur tuh mobil !).
"Halah... orang banyak omong biasanya gak punya nyali !", ledekku pada adrian.
"Sudahlah... gue capek ini !", sangkalnya
Bersambung