Bab 1

Mereka baru saja selesai makan hidangan lezat yang di masak oleh Desy, dan setelah duduk bersama di ruang tamu sambil membaca, menonton TV, dan mendengarkan musik, Rey dan keempat adik angkatnya perlahan pergi untuk tidur.

Keluarga Fahri memiliki lima anak angkat yang tampan dan cantik. Anak angkat yang pertamana bernama Rey yang berusia dua puluh tahun, lalu ada si kembar Wanda dan Windi yang hampir berusia sembilan belas tahun, Indah baru berusia delapan belas tahun dan yang terakhir Risma yang berusia tujuh belas tahun.

Kelima anak tersebut semuanya adalah anak angkat, dan mereka berdua telah memberitahunya pada kelima anaknya bahawa mereka bukan anak kandung Fahri dan Desy. Karena Desy dan Fahri tidak bisa memiliki anak, sehingga mereka berdua terpaksa untuk mengadopsi kelima anak tersebut di panti aduhan.

Mereka berlima dididik di rumah oleh Fahri dan Desy dengan penuh kasih dan mereka berdua memastikan untuk memberikan mereka berlima pendidikan yang terbaik sepanjang hidupnya. Selain itu, masing-masing dari mereka bekerja dan membantu kedua orang tua angkat di sekitar rumah dan perkebunan.

Setelah semua telah kembali ke kamarnya masing-masing, Desy langsung menahan tubuh Fahri yang hampir tertidur di ruang tamu, dengan penuh kasih sayang ia menarik suaminya untuk pindah ke kamar tidur. Kini Desy dan Fahri sedang bersiap-siap untuk tidur dan masuk ke dalam selimut.

"Sayang," kata Desy tak lama setelah Fahri naik ke tempat tidur, "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu malam ini."

Terlihat Fahri begitu lelah untuk mendengarkan suara dari istrinya. Karena dirinya sudah seharian bekerja di kebun.

"Ada apa, Sayang?" tanya Fahri sambil menatap istrinya.

Lampu samping tempat tidur memancarkan cahaya temaram di wajah cantik istrinya dan rambut hitamnya yang panjang terurai.

"Aku ingin bicara denganmu tentang Rey dan Wanda, Windi." kata Desy kepada suaminya dengan suara lembut.

"Oh," kata Fahri, "Ada apa dengan mereka bertiga, Sayang?" Fahri terkejut.

"Ulang tahun mereka bertiga sebentar lagi, Rey akan berusia dua puluh tahun, sedangkan si kembar sembilan belas tahun," kata Desy. "Kita belum tau apakah Rey akan menjadi pejantan tangguh untuk para gadis atau enggak. Kalau Rey gak bisa akan berakibat fatal."

"Tapi Des," kata Fahri sambil mendesah, "Aku udah membicarakan hal ini padamu, Rey pasti akan menjadi pejantan tangguh di kota ini. Percayalah."

"Aku tau itu," kata Desy sedikit frustrasi, "Bukan itu yang aku maksud. Aku hanya ingin memastikan, kalau mereka bertiga harus sudah siap untuk kita beri pelajaran orang dewasa."

"Sayang," kata Fahri kepada istrinya dengan penuh kasih sayang, "Rey dan Winda, Windi sama-sama cerdas. Menurutku kita gak usah khawatir tentang hal itu."

"Bagaimana jika mereka gagal dan gak bisa mempelajari dari kita, tentang keintimannya?" Desy bertanya, "Itulah yang selalu aku khawatirkan, terutama Wanda dan Windi. Mereka gak pernah punya teman seusia mereka selain saudara angkatnya. Aku tau mereka bertiga ramah, cerdas, dan baik. Tapi, mereka harus punya teman saat dewasa nanti, pacar dan kekasih. Mereka bertiga bahkan belum pernah merasakan yang namanya ciuman pertama, apalagi masalah seks."

"Jadi itu yang kamu khawatirkan Des." Fahri berkata dengan penuh pengertian. "Aku mengerti, memang benar ucapanmu itu. Kita perlu bicara dengan mereka sebelum mereka bertiga pergi dari rumah ini. Kita berdua harus jelaskan kepada mereka secara lebih rinci tentang cara melakukan seks yang baik dan benar, dan kita juga harus memastikan mereka tetap aman, tanpa hamil atau menghamili seseorang."

"Fahri," kata Desy kepada suaminya sambil menatap tajam ke mata hitamnya. "Aku rasa itu gak bakal cukup untuk membuat mereka bertiga mengerti dan memahami maksud kita, kita harus praktek langsung."

"Baiklah, jadi apa saranmu?" Fahri bertanya kepada istrinya.

"Kita perlu melakukan pendekatan langsung pada mereka bertiga secepatnya."

"Apa maksudnya?" tanya Fahri heran dan langsung sadar. Ia menatap tajam ke arah istrinya.

"Maksudnya, mereka harus benar-benar melihat bagaimana cara hubungan seks dan bagaimana cara melakukannya yang baik dan benar agar tidak hamil atau menghamili." kata Desy, sedikit takut dengan tanggapan suaminya.

"Apa kamu serius?" tanya Fahri hampir melompat dari tempat tidur. "Jadi, kamu ingin memanggil mereka kesini malam ini sambil berkata, 'Hai kalian bertiga, silakan duduk dan tonton aku dan Desy yang sedang bercinta agar kalian siap melakukannya?"

"Itu salah satu pilihan terbaik Fahri, mereka harus tau caranya." Kata Desy berusaha tetap tenang, tetapi bisa merasakan wajahnya mulai memerah.

"Hanya itu caranya?" kata Fahri tidak percaya. "Apa gak ada cara yang lain lagi?" tanyanya hampir takut mendengar jawabannya.

"Sayang, aku tau itu sulit bagimu untuk mendengar, dan percayalah padaku, sulit bagiku untuk membicarakannya. Tapi! Tolong dengarkan aku sampai tuntas." Desy berkata sambil mencoba menenangkan suaminya. "Pilihan lain, yang menurutku akan lebih baik bagi mereka adalah, agar mereka bertiga benar-benar merasakan seks secara langsung. Hanya itu pilihan terbaik bagi mereka. Kamu gak mau kan jika suatu saat Rey menghamili gadis lain, atau Wanda, Windi hamil gara-gara lelaki yang lain."

"Dengan siapa mereka bertiga akan berhubungan itu?" Fahri bertanya sambil berusaha terdengar tenang seperti yang di tanyakan istrinya. "Kamu ingin Rey berhubungan seks dengan Wanda, Windi?" Fahri bertanya untuk memastikan

"Aku udah memikirkannya matang-matang." Desy mengakui. "Tapi kurasa itu mungkin terlalu traumatis untuk pertama kalinya bagi mereka bertiga." Desy berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku sebenarnya sedang memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa merasakan, dan tentu saja kita yang akan mengajarkannya langsung kepada mereka." Desy berkata dan menunggu tanggapan dari suaminya.

"Kita?" Fahri terkejut. "Sayang, aku mencintaimu lebih dari apa pun," kata Fahri dengan nada lembut dan memeluk erat istrinya, "Kamu serius tentang ini Des. Tentang berhubungan seks dengan anak angkat kita sendiri!"

"Fahri," kata Desy dengan suara penuh pengertian, "Aku tau ini terdengar aneh dan salah dan mungkin bahkan kamu gak suka, tetapi aku ingin kamu memikirkan apa yang terbaik bagi mereka bertiga. Bayangkan jika mereka pergi ke kota. Bayangkan hubungan seksual pertama si kembar dengan lelaki lain. Dia mungkin akan mulai berkencan dengan lelaki pertama yang mendekatinya dan kita berdua tau itu bukan lelaki yang baik untuknya. Pikirkan lagi Fahri, ini demi mereka bertiga."

Desy berkata lagi. "Si kembar gak akan tau apa yang sedang mereka lakukan, dan aku yakin, lelaki itu akan memanfaatkannya. Dia akan melakukan apa pun yang dia inginkan dengan si kembar. Dia bahkan mungkin membujuknya untuk tidak menggunakan kondom, karena si kembar gak tau perbedaan antara berhubungan seks dengan kondom atau tanpa kondom. Itu akan menyebabkan si kembar yang cantik hamil dan hidup mereka akan hancur berantakan."

Saat Fahri mendengarkan istrinya bicara, dia mulai memahami apa yang sedang dibicarakan olehnya. Gambaran dari istrinya sudah terlihat jelas, yang sudah di ucapkan oleh istrinya sama sekali tidak mengada-ada dan tidak mungkin dia akan membiarkan hal semacam itu terjadi pada salah satu anak angkatnya. Walaupun anak angkat, mereka berdua begitu sayang terhadap lima anak angkatnya.

"Aku setuju denganmu. Des." Fahri berkata kepada istrinya sambil merenungkan kata-katanya sejenak dalam diam. "Apa yang kamu sarankan, aku setuju."

"Aku belum memikirkannya dengan matang," kata Desy kepada suaminya. "Tapi pada dasarnya, aku pikir saat mereka berusia dua puluh dan sembilan belas tahun, kita akan mengajak Rey dan si kembar kedalam kamar di malam hari, membicarakan tentang seks dengan mereka bertiga, lalu melakukannya bersama-sama." Desy sudah selesai bicara dan ia memperhatikan suaminya yang sedang mempertimbangkan masalah ini dalam diam.

"Kurasa kalau kita benar-benar melakukan ini, aku gak tega Des dengan si kembar, kamu aja yang bimbing Rey, lalu ajarkan Rey untuk berhubungan intim dengan si kembar." Kata Fahri kepada Desy. Ia tidak percaya bahwa ia benar-benar memikirkannya dengan serius. "Kamu dan Rey di satu kamar dan setelah itu ajak Rey di kamar lain dengan si kembar. Kamu yang harus mengawasi hubungan mereka. Kurasa Rey akan cepat mengerti masalah sek dan itu gak akan sulit bagi Rey untuk berhubungan seks dengan si Kembar."

"Kamu benar Sayang, itu saran yang sangat bagus." Desy berkata dengan riang gembira kepada suaminya. "Jadi, kamu setuju denganku dalam hal ini?"

"Des," kata Fahri sambil menatapnya dengan serius. "Apa kamu benar-benar berpikir kamu sanggup berhubungan seks dengan Rey?"

"Itu gak mudah bagiku, namun aku harus membimbingnya," kata Desy. "Tetapi, akan aku coba untu melakukan pendekatan selama seminggu dan aku akan memandang mereka hanyalah anak angkat kita, bukan anak kandung. Aku akan mencoba memandang dan menganggap Rey sebagai lelaki lain."

Desy teringat kembali pada Rey, rambutnya yang pendek dan hitam, bahunya yang lebar, lengannya yang kuat, dan wajahnya yang tampan.

"Setelah bercinta denganku, akan aku sarankan Rey mencoba melakukan hal yang sama dengan si kembar. Dan aku akan bicara pada Rey untuk menganggap si kembar sebagai seorang wanita yang lain, bukan sebagai saudara kandung."

"Baiklah," kata Fahri setelah mendengarkan istrinya. "Aku akan menunggu hasilnya."

Fahri dan Desy terus mendiskusikan topik itu setiap malam sebelum tidur. Mereka merencanakan bagaimana cara mereka akan melakukannya dan saling memberi saran tentang apa yang harus dilakukan saat mereka sendirian dengan anak angkat mereka.

Rey mendengarkan nasihat dari Desy, dan setiap kali Rey bertemu si kembar, ia mencoba memandangnya sebagai seorang wanita lain. Ia memperhatikan si kembar di rumah, memandangi wajahnya yang cantik dan rambut hitamnya yang pendek. Ia terus memandangi tubuhnya yang masih muda, pantatnya yang kecil dan kencang, serta bukit kembar yang kecil dan kencang, bukit kembar si kembar jauh lebih kecil daripada bukit kembar Desy yang sangat besar dan bulat.

Setelah beberapa hari. Rey baru menyadari bahwa cara itu berhasil ia terapkam pada si kembar. Setiap kali ia melihat si kembar, ia akan melihat seorang wanita muda yang menarik, padahal minggu yang lalu ia melihat seorang adik kembar.

Seminggu sebelum ulang tahun si kembar, keluarga itu bangun pada sabtu pagi yang hangat dan cerah. Cuacanya ternyata hangat untuk pertengahan Juni, dan mereka semua gembira dengan cuaca itu, kelima anak angkat berlarian ke kolam yang dimiliki keluarga itu di tanah milik mereka yang luas.

Ketika Desy dan Fahri menyusul mereka berlima, mereka berlima telah selesai menyiapkan kursi pantai yang mereka bawa dan mulai menanggalkan pakaian mereka hingga hanya tersisa pakaian renang.

Mereka berdua duduk di dekat anak-anak dan memperhatikan mereka saat mereka melompat ke air yang terasa dingin sambil berteriak kegirangan.

Desy menatap Rey saat ia berjalan ke air yang begitu dingin yang hanya mengenakan celana renangnya. Tingginya sekarang setara dengan suaminya, tingginya Rey sekitar seratus tujuh puluh centimeter dan sebagian besar tubuhnya mirip dengan Fahri.

Rey adalah seorang pemuda tampan dengan bahu lebar, lengan kuat, dada berotot, dan kaki besar. Rey selalu bekerja di sekitar kebun sepanjang hidupnya membuat tubuhnya tetap bugar.

Di sebelah Desy, Fahri duduk dan menatap tajam ke arah si kembar saat dia menanggalkan pakaiannya hingga tinggal bikini dan berjalan ke dalam air.

Fahri tidak pernah melihatnya seperti ini sejak musim panas dan ia kagum melihat betapa si kembar telah tumbuh dewasa. Ia memandangi kulitnya yang halus dan lembut serta lekuk tubuhnya yang feminin. Ia terus memperhatikannya saat si kembar perlahan berjalan ke dalam air, matanya terus mengamati pantat si kembar yang ketat berbalut bikini dan saat si kembar berbalik, dia melihat bukit kembar remajanya yang sangat cantik.

Saat melihat si kembar, Fahri sudah membayangkan dirinya menanggalkan pakaian si kembar dan kemudian menjilati setiap bagian tubuhnya yang telanjang. Dia segera menggelengkan kepalanya, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran yang mengganggu dari benaknya.

"Aku akan segera bergabung dengan mereka di dalam air," kata Desy kepada Fahri, "Kamu mau ikut?" tanyanya.

"Sebentar lagi," jawab Fahri, dan Desy mengangguk.

Desy memerhatikan Fahri yang sedang menatap si kembar dan ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan olehnya. Itu adalah hal yang sama yang dipikirkan Desy saat menatap Rey.

"Apakah Fahri akan tertarik dan ingin melakukannya dengan si kembar? Aku rasa Fahri gak bakak mau untuk melakukan hal itu dengan si kembar," pikir Desy.

Desy bangkit dan perlahan-lahan melepaskan baju dan roknya sebelum masuk ke dalam air. Fahri menatap istrinya dan mengagumi kecantikannya. Di usianya yang ke tiga puluh lima tahun, dia masih dalam kondisi prima dan memiliki tubuh yang menakjubkan. Fahri memperhatikan pantat istrinya yang indah saat bergoyang dari sisi ke sisi. Sedangkan usia Fahri sendiri kini hampir lima puluh tahun.

"Fahri, kamu datang?" sebuah suara memanggilnya dari samping yang membuatnya mengalihkan pandangan. Suara itu adalah suara dari Indah dan dia sedang berjalan keluar dari dalam air untuk mengajak Fahri bergabung dengan mereka.

"Ya, aku datang Sayang." Kata Fahri sambil melihat Indah yang berusia delapan belas tahun telah berdiri di depannya dengan tubuh yang sudah basah kuyup dalam balutan bikini.

Indah tampak jauh berbeda dari kakak perempuannya si kembar. Dia lebih pendek beberapa centi darinya, dan jika si kembar memiliki rambut yang lembut dan pendek, Indah memiliki rambut panjang. Ia juga memiliki bentuk tubuh yang jauh lebih sehat daripada kakaknya, dengan bokong bulat dan berisi serta bukit kembar besar yang meskipun usianya baru delapan belas tahun, bukit kembar Indah sudah menyamai ukuran milik Desy.

Fahri masih mengamati tubuh Indah, ia menyadari bahwa bikini yang dikenakannya terlalu kecil untuknya. Hal itu menunjukkan betapa besar perkembangannya selama beberapa bulan terakhir dan Fahri tidak dapat menahan diri untuk tidak melihat bukit kembar yang menyembul dari atasan bikininya.

"Fahri?" tanya Indah saat dia melihat Fahri sedang melotot padanya dan mengira dia sedang melamun.

"Maaf, Sayang," kata Fahri sambil menggelengkan kepala. Ia kemudian segera berdiri, melepas bajunya, berlari ke kolam dan langsung menceburkan diri ke dalam air dingin.

***

Malam sebelum perayaan ulang tahun, Desy dan Fahri sama-sama gugup, saat mereka berdua naik ke tempat tidur bersama. Mereka berbicara lebih dari satu jam tentang rencana mereka untuk mereka bertiga belajar tentang seks.

Mereka berdua merasa sedikit bersalah tentang hal itu dan jelas tidak nyaman dengan apa yang akan mereka lakukan.

Pada satu alasan, Fahri bahkan sempat berpikir untuk menyerah akan usulan istrinya, tetapi setelah berbicara lagi dengan istrinya, ia meyakinkannya, bahwa itu demi anak angkat mereka, mereka berdua tetap menjalankan rencananya dan berhasil tidur dengan pulas.

Ulang tahun si kembar dan Rey akhirnya tiba, dan seluruh rumah menjadi ramai dengan kegembiraan. Ulang tahun selalu menjadi acara istimewa di sekitar rumah, dan ulang tahun itu bebarengan dengan Rey, bahkan lebih istimewa lagi. Hari itu dimulai dengan sarapan keluarga besar yang disiapkan oleh Desy.

Setelah makan, masing-masing anggota keluarga pergi belajar atau bekerja di sekitar perkebunan, sementara si kembar dan Rey hanya bersantai.

Rey sedang bermain game sementara si kembar sedang membaca buku ringan dan membuat sketsa. Pada siang hari si kembar membuat keranjang piknik kecil dan berjalan ke kolam tempat mereka makan, berenang, dan bersantai hingga udara menjadi dingin.

Saat malam tiba, seluruh keluarga kembali ke rumah dan membersihkan diri untuk makan malam ulang tahun yang lezat yang telah disiapkan oleh Desy, dengan bantuan Indah dan Risma.

Seluruh keluarga berpakaian rapi sebelum duduk mengelilingi meja makan. Obrolan dan tawa riang memenuhi ruang makan saat keluarga itu sedang makan malam.

Mereka semua segera menyantap makanan lezat, setelah itu mengobrol di antara mereka, dan seseorang membuka sebotol anggur, bahkan menuangkan segelas untuk masing-masing si kembar dan Rey.

Setelah makan malam, mereka kembali ke ruang tamu untuk menikmati hidangan penutup dan hadiah dari anggota keluarga.

Wanda dan Windi yang gemar melukis, menerima perlengkapan menggambar. Sementara Rey, yang gemar memancing, mendapat perlengkapan baru.

Malam terus berlanjut hingga larut malam. Indah, dan Risma pergi tidur duluan meninggalkan Rey dan si kembar yang masih bersama kedua orang tua angkat mereka.

Tak satu pun dari mereka itu menyadari kecemasan orang tua mereka saat Fahri dan Desy menenggak gelas anggur ketiga mereka. Mereka terus duduk di sekitar meja ruang tamu sambil mengobrol, Desy dan Fahri mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengangkat topik yang sensitif itu.

"Rey, Wanda, Windi," Desy mulai bicara, setelah mendapat anggukan dari suaminya, "Ada satu hal lagi yang telah kita rencanakan untuk kalian bertiga."

Ketiga orang itu menatap Fahri dan Desy dengan rasa ingin tahu dan gembira.

"Rencana ini adalah sesuatu yang  telah kita berdua sepakati dan sangat penting untuk kalian ketahui," lanjut Fahri, "Aku ingin memastikan kalian mendapatkan pengalaman terbaik." Kata Fahri sangat jelas dan terlihat sangat gugup.

"Terima kasih, Desy, terima kasih, Fahri." si kembar berkata, "Kalian berdua gak usah melakukan hal itu,"

"Ya," Rey setuju dengan saudara angkat perempuannya, "Tapi apa itu?" tanya Rey yang membuat orang tuanya tertawa gugup.

"Rey, Sayang, kenapa kamu gak ikut denganku aja sekarang dan aku akan menunjukkannya padamu sesuatu yang pasti akan membuatmu sangar tertarik?" kata Desy sambil berdiri. Ia mengenakan sweter berwarna merah tua dan celana jeans ketat.

"Untuk Wanda dan Windi tunggu giliran dari Desy ya," kata Fahri kepada si kembar sambil melihat ke atas dan ke bawah tubuh mereka berdua.

"Baik." Jawab si kembar.

Rey mengikuti Desy yang sedang berjalan di belakangnya dan mereka berdua memasuki kamar spesial, sedangkan si kembar mengikuti Fahri ke ruang tamu untuk menunggu kejutan dari Desy. Desy segera menutup pintu kamar dan memastikan untuk menguncinya.

Bersambung...

Bab 2

"Des, apa yang akan kita lakukan di sini?" Rey bertanya kepadanya karena ia terkejut melihat Desy telah mengunci pintu kamar. Kini hanya tinggal mereka berdua yang berada di dalam kamar.

"Jangan khawatir Rey," kata Desy lembut kepada Rey dengan senyum yang menenangkan.

Rey duduk di tepi tempat tidur berukuran sedang dan Desy duduk di sebelahnya. Ia menatap Rey yang duduk di sana dengan kemeja lengan pendek putih dan celana jeans hitam panjang.

Desy mencoba berkonsentrasi pada tubuh berotot Rey dan menatapnya seperti seorang pria jantan, tetapi itu tidak berhasil baginya dan tidak seperti minggu-minggu sebelumnya. Rasa ragu muncul dalam dirinya.

"Desy?" kata Rey sambil masih menatapnya dengan heran.

"Ya, maaf, Sayang," kata Desy sambil menggelengkan kepalanya sebentar. "Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku ada di sini ya?" Ucap Desy. "Fahri dan aku udah membicarakan keadaanmu dan adik kembarmu. Kalian bertiga memang sangat cerdas dan begitu berbakat, aku yakin kalian akan baik-baik aja jika tinggal di kota besar." Desy memastikan untuk menyatakannya, "Tapi ada sesuatu yang Fahri dan aku rasa perlu haru di bicarakan langsung denganmu malam ini juga."

"Apa itu ? Ada apa, Des?" tanya Rey sambil memperhatikannya sedang menarik napas dalam-dalam dan sebentar memejamkan mata sebelum melanjutkan bicaranya.

"Seks." Desy berkata pada Rey dengan singkat. "Aku ingin mengajarimu cara berhubungan seks, sebelum kamu pergi ke kota besar." Desy berkata pada Rey dan merasakan jantungnya berdebar kencang dan wajahnya memerah saat mengatakan hal itu.

"Apa maksudmu dengan mengajariku seks, bagaimana caranya? Aku belum pernah melakukan hal itu." Rey bertanya padanya dan merasakan jantungnya mulai berdebar kencang saat dia melihat ekspresi di wajah Desy begitu menggoda. "Maksudmu, kamu dan aku?" Rey merasakan tenggorokannya kering. Dia yakin jika Desy salah paham akan kata-katanya itu.

"Betul sekali Rey, aku ingin kamu dan aku berhubungan seks malam ini, di kamar ini." Kata Desy membuat Rey tidak percaya. "Hanya dengan begitu aku bisa memastikan kamu akan siap untuk menjadi pejantan tangguh dan menaklukan setiap wanita yang kamu sukai dan cintai."

"Kamu yakin Des? Kamu sendiri yang akan mengajariku melakukan seks?" Rey bertanya setelah dirinya terdiam begitu lama dan wajahnya mulai memerah.

Rey masih belum yakin dan memahami kata-kata dari Desy, namun dia bisa merasakan darahnya mulai mengalir deras ke palkonnya dan membuat palkon itu mengeras di balik celana.

"Ya." Desy berkata pada Rey, "Bagaimana denganmu, apakah kamu setuju dengan rencanaku malam ini?" tanya Desy.

"Jika menurutmu itu akan bisa membantuku, maka, aku akan setuju dengan rencanamu." jawab Rey malu-malu, tanpa menatap mata Desy.

Mereka berdua duduk di sana dalam diam sejenak sebelum Desy berdiri. Ia segera melepas sepatunya, melangkah di depan Rey dan mulai membuka pakaian. Ia mulai melepaskan sweternya dan dirinya tidak mengenakan kemeja di baliknya dan setelah melepaskannya, ia melemparkannya ke tempat tidur.

Desy hanya tersenyum kecil kepada Rey, lalu membuka resleting sebelum menurunkan celana panjang. Kakinya yang jenjang membuat Rey berdegup kencang.

Rey terus menatap tubuh Desy dengan kagum dan tak berkedip, Desy hanya mengenakan bra renda merah dan celana dalam merah yang sama. Ia tersenyum lagi kepada Rey dan kedua matanya melihat tonjolan yang semakin besar di balik celana Rey, di saat Rey sedang mengamati belahan bukit kembar milik Desy yang besar, perut yang rata, dan kaki yang mulus.

"Apakah kamu ingin aku terus melepas semuanya Rey?" Desy bertanya kepada Rey setelah memberinya waktu untuk mencerna ucapan darinya. Ia merasa tidak nyaman berdiri di sana dengan bra dan celana dalam di hadapan Rey.

"Lepas semua, aku ingin melihat tubuh indahmu," kata Rey sambil mengangguk dan terus menatap Desy yang terus membuka pakaiannya.

Desy menarik napas dalam-dalam dan mengabaikan ketidaknyamanan yang dirasakannya saat membuka bra dan perlahan melepaskannya, kini ia telah memperlihatkan bukit kembar yang besar kepada Rey.

Mata Rey langsung terbelalak saat melihat dada telanjang Desy. Desy memiliki bukit kembar besar dan bulat dengan puting yang berwarna merah muda kecil dan puting kecil itu mulai keras. Itu adalah bukit kembar pertama yang pernah di lihat Rey secara langsung, dan menurutnya bukit kembar itu lebih indah daripada bukit kembar mana pun yang di lihatnya secara langsung.

Rey terus memandangi bukit kembar Desy dengan penuh rasa kagum, kedua mata terus memperhatikan bukit kembar itu sedikit bergoyang saat Desy melipat bra dan meletakkannya dengan rapi di meja sebelum ia berdiri kembali di hadapan Rey.

Desy sangat menyadari Rey sedang mengamati lekuk tubuhnya. Rey tampak terpesona pada bukit kembar dan tonjolan di celana Rey semakin besar, Desy dapat melihat bahwa Rey sedang tegang berat. Ia mencoba berkonsentrasi, mengalihkan pandangannya dari celana Rey. Kemudian, ia meletakkan kedua tangan di pinggangnya dan menarik celana dalamnya ke bawah, hingga terlihat jelas kememnya yang putih mulus tanpa bulu.

Pandangan Rey langsung beralih saat Desy menarik celana dalamnya. Ia menunduk dan di sambut oleh kemem Desy yang sudah dicukur habis hingga licin. Rey harus bisa menahan diri untuk tidak menarik palkonnya keluar dari celana.

"Bagaimana menurutmu Rey? Kamu tertarik?" Desy bertanya kepada Rey saat ia menelanjangi dirinya di hadapan Rey. Ia telah mencukur bulu kememnya khusus untuk Rey, dan saat ia melihatnya, Rey memasang ekspresi hasrat liar yang tinggi di wajahnya yang membuatnya senang sekaligus takut.

"Wah, kamu cantik sekali, kapan kita akan memulainya," kata Rey sambil memandangi tubuh telanjang Desy.

Desy langsung tersipu malu mendengar kata-kata dari Rey, lalu berbalik perlahan, memastikan Rey melihat setiap lekuk tubuh telanjangnya sebelum duduk di sebelah Rey.

"Giliranmu," kata Desy dengan santai dan menatap Rey.

"Aku malu Des,"

"Gak usah malu, ayo sekarang lepas semuanya." Pinta Desy.

Rey bangkit berdiri dengan canggung di depan Desy. Wajahnya terlihat memerah dan masih menatap tubuh telanjang Desy sebelum mulai membuka pakaiannya.

Rey mulai dengan melepas bajunya dan melemparkannya ke tempat tidur, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang bugar kepada Desy, lalu dengan cepat melepaskan celananya dan terlihat palkon itu sudah berdiri di sana hanya dengan celana dalam hitamnya, palkonnya terlihat jelas menekan kain ketat celana dalam tersebut.

Desy bisa merasakan dirinya sudah basah saat melihat Rey membuka pakaian. Dia memeriksa dada dan perut Rey yang berotot, di saat Rey melepas bajunya, terlihat kakinya yang kuat saat Rey sedang menurunkan celananya dan melihat palkon Rey saat mendorong celana dalamnya ke bawah sebelum Rey membalikan tubuhnya.

Desy sedikit terkejut, karena Rey langsung berbalik setelah melepas celana dalamnya, tetapi Rey tidak mengatakan apa-apa padanya. Ia tersenyum sendiri melihat rasa malu Rey. Hal itu membuatnya semakin yakin dengan keputusannya untuk melakukan ini dengan Rey.

Rey menatap bokong Desy yang kencang saat dia selesai melepaskan celana dalamnya dan melemparkannya ke lantai. Ia berdiri di sana dengan punggung menghadap Desy. Dia sedang mengumpulkan keberanian untuk berbalik ke arah Desy sebelum akhirnya melakukannya dan menatap Desy dengan kagum.

Palkonnya sudah berdiri tegak dan keras, dia melihat reaksi Desy saat mengamati kejantanannya.

"Bagaimana menurutmu Des?" Rey bertanya kepada Desy dengan gugup saat dia terus mengamati tubuh telanjang milik Desy.

"Kamu terlihat sangat tampan Rey," kata Desy kepadanya, ia merasakan kehadiran Rey telah merasukinya.

"Bagaimana dengan cara melakukannya?" Rey mulai bergumam dan wajahnya memerah.

"Palkonmu sangat bagus, besar dan panjang, aku pasti puas jika bermain sana kamu," kata Desy kepada Rey dengan jujur dan ia tersipu malu saat mengatakannya.

Palkon Rey begitu besar dan panjang, hingga besarnya mengalahkan milik Fahri. Desy terus menatap palkon Rey sebelum ia mengajaknya ke tempat tidur, ia memberi isyarat kepada Rey untuk segera melakukannya.

"Bagaimana kalau kita mulai sekarang Rey," kata Desy setelah dia duduk dan bergerak mendekati Rey. Ia sudah tak sabar ingin merasakan palkon milik Rey.

Desy mendekatkan jarak di antara mereka, hingga kulit paha mereka berdua yang telanjang saling bersentuhan. Ia kemudian melingkarkan tangan di leher Rey dan memberinya ciuman di bibir Rey dengan lembut.

Rey terkejut dengan ciuman dari Desy, tetapi dia dengan cepat menyesuaikan diri dan membalas menciumnya. Bibir Desy yang lembut dan hangat, terasa luar biasa olehnya, dan dia terus membalas menciumnya dengan penuh hasrat liar.

Mereka berdua terus berciuman, seketika Rey merasakan lidah Desy masuk ke dalam mulutnya dan bergerak-gerak dengan liar dan nakal, hingga Rey mengerang dalam kenikmatan merasakan sensasi bermain lidah.

Mereka berdua terus berciuman, lidah dan bibir mereka saling pagut dengan kuat, hingga Desy melepaskannya. Mereka berdua kini terengah-engah dan saling menatap.

"Apakah kamu menyukai permainan ini?" Desy bertanya kepadanya setelah ia memergoki Rey sedang memandangi bukit kembar untuk kesekian kalinya.

"Apa?" tanya Rey sambil cepat-cepat mengalihkan pandangan dari bukit kembar Desy dan tersipu malu.

"Payudaraku, kamu mau ini kan," kata Desy sambil tersenyum sendiri, "Apakah kamu menyukainya?" tanya Desy sekali lagi kepada Rey dan tangannya mulai memainkan bukit kembar dengan hasrat liarnya.

Desy langsung mengusap-usap bukit kembar yang besar dengan sangat bergairah, lalu mulai mencubit putingnya dengan lembut, sementara Rey hanya menyaksikannya dengan takjub.

"Ya," kata Rey dengan suara yang lemah dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh palkonnya yang sudah keras.

"Kamu bisa menyentuhnya Rey," kata Desy kepadanya.

Desy memberikan dadanya agar Rey memegangnya, tetapi saat ia melihat keengganan di wajah Rey, ia meraih tangan kanan Rey dan meletakkannya di bukit kembar sebelah kirinya. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Rey dan mulai menggerakkannya.

"Lakukanlah Rey..."

Rey dengan perlahan mendekatkan tangannya yang lain ke bukit kembar Desy dan ia mulai meremas bukit kembar yang indah itu. Ia tidak percaya bahwa ia sedang menyentuh bukit kembar Desy yang bulat dan kenyal.

Rey sering membayangkan tentang tubuh Desy setiap malam sambil mengocok palkonnya, tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa ia akan benar-benar melihat tubuh Desy telanjang, apalagi untuk menyentuhnya. 

Sensasi bukit kembar Desy sungguh menakjubkan, dan ia memainkannya, meremas dan membelainya sampai ia tidak dapat menahan diri. Mulut Rey berada di sekitar puting kiri Desy, dan ia mulai mengisapnya seperti bayi kecil yang rakus dan sesekali menggigit putingnya pelan.

Desy terus mengerang saat Rey menempelkan mulutnya ke putingnya dan mulai mengisapnya dengan rakus. Dia menatap Rey dengan penuh gairah, saat Rey terus melakukannya dan berputar di antara kedua bukit kembar, Rey memegang bukit kembar itu sambil menggunakan tangan untuk mengusap dan memainkan bukit kembar yang tidak di hisap olehnya. Ia benar-benar telah tenggelam dalam bukit kembar Desy dan akan terus melakukannya selama satu jam ke depan jika saja Desy tidak memberi isyarat kepada Rey untuk berhenti.

Desy dengan lembut menarik mulut Rey dari bukit kembarnya untuk menjauh dan menyudahinya

Palkon Rey masih keras seperti batu, setelah menjauh dari bukit kembar Desy. Desy melingkarkan tangan di sekitar palkonnya dan mulai menggenggamnya dengan kuat.

"Oh, Des," kata Rey sambil terkesiap saat Desy meraih palkonnya.

Desy kemudian berlutut di depan Rey dan ia mulai membelai palkon keras itu dengan perlahan. Rey terus menatap Desy yang telanjang dan mulut Rey mengerang lembut saat dia menggerakkan tangannya yang hangat di sepanjang batangnya. Ia terus membelainya, membuat Rey terus-terusan mengerang dalam kenikmatan sebelum menundukkan kepalanya dan ia mulai memasukkan palkon Rey ke dalam mulutnya.

"Oh, sialan Des," seru Rey saat Desy memasukan kejantanan Rey ke dalam mulutnya, "Rasanya sangat nikmat. Terus des... ooouh..." kata Rey sambil mengerang dan menatap Desy dengan takjub saat mengisap palkonnya dengan penuh semangat.

Desy mulai bermain dengan ujung palkonnya, lalu menjilati dan mengisapnya hingga Rey mengerang, lalu terus memasukkan lebih dalam ke dalam mulutnya. Dia menggoyangkan kepalanya ke atas dan ke bawah sambil mengeluarkan suara hisapan yang keras dan nikmat saat dia memberikan sepongan pertama untuk Rey.

Desy begitu terkejut melihat Rey begitu menikmati, saat dirinya sedang mengisap palkon milik Rey. Rey sangat menyukai rasa hisapan dari Desy yang begitu lembut dan halus.

Palkon Rey di lumat dan kedua bibir Desy segera membungkus palkonnya dan menggerakkan lidah ke seluruh palkon itu. Desy sangat menyukai betapa panjang dan besar palkon milik Rey dibandingkan dengan palkon suaminya yang sangat kecil. Namun, yang paling dia sukai dari Rey adalah, betapa banyak kenikmatan yang dia berikan kepada Rey saat dia terus mengisapnya.

Tidak butuh waktu lama bagi Rey untuk menyelesaikannya. Desy terus mengisapnya, membelai pangkal palkonnya dan menggerakkan mulutnya di sepanjang batang besar palkon Rey, ketika dia mendengar erangan Rey semakin keras dan napasnya semakin tajam.

"Ya terus, oh sial, Desy. Enaakkk!" seru Rey dan mulai menyemprotkan cairannya ke mulut Desy begitu banyak hingga blepotan kemana-mana.

Rey merasakan gelombang kenikmatan sedang menguasai tubuhnya dan sedikit menggigil dan mengejang saat cairan yang hangat keluar dari palkonnya masih berada di dalam mulut Desy.

Desy menutup mulutnya di sekitar palkon Rey dan ia terus mengisapnya saat mulutnya terisi cairan lengket yang hangat. Awalnya dia sedikit terkejut melihat seberapa cepat Rey berejakulasi dan sedikit kesal karena Rey tidak memperingatkannya sebelumnya. Dia tidak bermaksud membiarkan Rey ejakulasi di mulutnya, tetapi begitu dia mulai, dia tidak ingin merusaknya.

Desy menunggu Rey selesai mengeluarkan cairan hangat, lalu ia membuka mulutnya dan membiarkan cairan itu mengalir ke palkon. Dia menelan sisa cairan yang masih ada di mulutnya, lalu berdiri.

"Itu luar biasa, Des, aku menyukainya," kata Rey kepada Desy dengan napas yang sudah terengah-engah.

"Aku senang kalau kamu suka Rey," kata Desy sambil tersenyum kecil padanya. Ia mengambil handuk kecil dari lemari dan menyeka wajahnya, lalu ia melemparkannya ke arah Rey.

"Rey, Sayang," kata Desy dengan nada keibuan, "Ketika seorang gadis memberimu sepongan seperti tadi, kamu harus memberitaunya sebelum kamu mengeluarkan cairan itu. Kebanyakan gadis, atau setidaknya beberapa gadis, gak suka saat kamu ejakulasi di mulut mereka. Kamu harus ingat itu." Desy memberikan pelajaran pertama  yang paling berharga tentang seks.

"Oh begitu ya, maaf Des," kata Rey sedikit malu.

"Gak apa-apa, Sayang, itu sebabnya aku melakukan ini, jadi kamu akan belajar banyak." Kata Desy kepada Rey dan ia memperhatikannya saat ia menyeka palkon Rey yang mulai mengecil.

Bayangan palkon Rey yang masih berlumuran cairan benar-benar membuat Desy memiliki hasrat liar dan ia memperhatikannya dengan saksama hingga ia selesai.

Bersambung...

Bab 3

"Sekarang, aku ingin kamu berlutut," kata Desy kepada Rey setelah ia membersihkan diri dan ia duduk di tepi tempat tidur lagi.

"Baiklah, Des," kata Rey begitu patuh dan berlutut di depan Desy seperti yang ia lakukan beberapa menit yang lalu.

"Bagus, sayang," kata Desy kepada Rey dan merentangkan kedua kaki untuknya. "Kamu bisa lebih dekat," kata Desy kepadanya saat dia menatap dengan kagum ke arah kemem yang merah mudanya dan sudah basah. "Seperti inilah bentuk kemem wanita," kata Desy kepada Rey dan mengusap celah kemem dengan jempol.

Desy kemudian menunjukkan dan menjelaskan tentang berbagai bagian kemem. Sambil melakukannya, Rey merentangkan bibir kemem untuknya dan menunjukkan di mana klitorisnya berada.

"Kamu bisa menyentuhnya Rey," kata Desy kepada Rey setelah dia selesai menjelaskan.

Rey mendekatkan telapak tangan kanannya ke lipatan tubuh Desy dan ia menyentuhnya dengan lembut. Dia mengusap jempol perlahan ke celah klitorisnya dan Desy hanya memejamkan mata saat Rey sudah melakukannya. Desy mengeluarkan erangan kecil saat Rey membelai daerah intimnya dengan lembut.

"Kamu gak apa-apa Des?" Rey bertanya kepada Desy saat mengusap kemem yang indah.

"Ya, Sayang, itu hebat." kata Desy kepada Rey sambil menahan erangan. Dia semakin panas dan basah setiap detik saat Rey terus menyentuhnya. "Sekarang Sayang, aku ingin kamu mulai menjilati kememku," pinta Desy kepada Rey dan ia segera memperhatikan Rey dari atas.

"Tentu saja, Des, aku akan membuatmu puas," kata Rey dengan nada menantang.

Rey melepaskan tangannya dari kemem Desy dan tubuhnya segera membungkuk. Desy bisa merasakan napas hangat Rey di vulvanya saat dia berhenti untuk menghirup aroma memabukkannya lalu menempelkan lidahnya di kememnya dan menjilatnya.

"Sayang, tunggu sebentar," kata Desy kepada Rey setelah dia menjilatinya dua kali dengan cara yang tidak berpengalaman dan tidak menyenangkan.

"Ada apa, Des?" tanya Rey menghentikannya, lalu menatap Desy.

"Saat kamu menjilati kemem wanita, kamu harus lebih lembut. Kamu bukan sedang menjilati permen lolipop." Kata Desy kepada Rey yang sedikit tersipu. "Gak apa-apa, aku akan menjelaskan dengan tepat bagaimana kamu harus melakukannya," tambahnya. "Aku ingin kamu mulai dengan menjilatnya pelan-pelan, lalu lakukan persis seperti yang aku perintahkan, oke?"

"Ya, oke, Des," kata Rey malu dan mulai menjilat pelan-pelan kemem milik Desy.

"Ya, seperti itu." kata Desy menyemangati Rey. "Sekarang, aku ingin kamu mulai mencium kememku di sana, ciuman lembut di seluruh kemem," kata Desy dan memperhatikan Rey saat ia melakukan apa yang diperintahkannya.

Rey mencium di celah kemem, di lipatan luar kememnya, di sekitar dan di atas klitorisnya dan bahkan mencium gundukan kememnya yang baru dicukur.

"Kamu melakukannya dengan hebat, Sayang," kata Desy di sela-sela erangannya, "Sekarang aku ingin kamu mulai menjilatiku, tetapi gunakan hanya ujung lidahmu. Aku ingin kamu menelusurinya di sepanjang celah kememku dan di sekitar bibir kememku."

Rey mendengarkan Desy dan ia mengikuti instruksinya, saat ia mulai menjilatinya. Ia mulai dari bawah dan menelusuri ujung lidahnya di celah kemem, mengusapnya ke atas dan ke bawah sebelum menggerakkan lidahnya dan menelusurinya di sekitar bibir kemem, lalu kembali ke celah kememnya. Ia memperhatikan celah kememnya menjadi lebih licin saat ia terus melakukannya dan merasakan sedikit rasa asam saat cairan Desy berkilauan di bibirnya yang basah.

"Ouuhh, kamu hebat sekali, Rey," ucap Desy kepada Rey saat dia melakukan apa yang diperintahkan. "Sekarang aku ingin kamu menggunakan lidahmu untuk melingkari klitorisku dan setiap menjilatinya, kamu harus terlihat menggoda," kata Desy kepada Rey dan memperhatikan lidahnya saat dia melakukan hal yang sama, ia menjilati dan menggoda klitorisnya. "Sialan, Sayang, ya seperti itu, ooh no....!" seru Desy sambil mengerang, di saat Rey membuatn tubuhnya menggila dengan lidahnya. "Sekarang masukkan lidahmu ke dalam kememku sedalam mungkin dan melengkung ke atas."

Rey menatap Desy yang mengerang dengan puas. Dia melihat kenikmatan di wajahnya saat dia terus menjilati kememnya dan merasakan darah mengalir kembali ke palkon. Dia benar-benar menikmati menjilati Desy dan melakukan apa yang diperintahkan Desy. Dia menjilati ujung kecil sensitif Desy sebentar lalu atas permintaan Desy, dia mendorong lidahnya sedalam mungkin ke dalam dirinya. Dia merasakan rasa kewanitaannya yang luar biasa dan menyukainya.

"Hebat, Rey!" kata Desy saat Rey mendorong lidahnya ke dalam kemem. Dia kesulitan berbicara di antara erangan dan gerutuannya yang semakin kuat, ketegangan di dalam dirinya meningkat. "Sekarang, Sayang," kata Desy sambil terkesiap, "Aku ingin kau... oh mantap... Aku ingin kamu... menutup mulutmu di sekitar klitorisku... dan mengisapnya sekuat tenaga," Desy nyaris tak bisa berkata lagi. Dia memperhatikan Rey saat dia menarik lidahnya keluar dari kemem, Rey bermain di klitorisnya dan dia merasakan sensasi luar biasa saat mengisap klitoris hingga berdenyut-denyut hingga mencapai orgasme.

"Ya, ya, YA!" Desy menjerit dan mendongakkan kepalanya, menutup matanya saat tubuhnya mengejang hebat.

Desy merasakan hal yang sangat luar biasa dan itu mengalir melalui tubuhnya saat dia menjerit karena kenikmatan, menghentakkan pinggulnya ke arah Rey dan mengejang saat dia terus menempelkan mulutnya ke klitorisnya dan mengisapnya sampai orgasmenya. Ketika kenikmatan terakhir berlalu, Desy jatuh terlentang. Baru setelah itu Rey melepaskan klitorisnya dan berdiri.

"Kamu gak apa-apa, Des?" tanya Rey setelah berdiri.

"Sayang, kamu luar biasa sekali. Aku gak nyangka kamu akan membuatku cepat keluar, tapi kamu berhasil menaklukan aku Rey." Ucap Desy bangga kepada Rey yang masih terengah-engah.

"Terima kasih, Des," kata Rey dengan rasa bangga dan malu sambil menatap Desy yang telanjang dengan penuh nafsu.

Desy kembali menatap Rey yang masih muda dan seksi, dia masih sedikit terkejut karena Rey telah berhasil membuat Desy keluar untuk pertama kalinya, bahkan dengan bimbingannya.

"Beri aku waktu untuk mengatur napas," kata Desy kepada Rey saat dia menyadari palkon Rey sudah kembali mengeras dan menegang. "Kita akan melanjutkannya." Kata Desy sambil menunjuk ketegangan palkon Rey. "Kurasa sudah waktunya untuk hal yang nyata Rey." Ucap Desy dan melihat palkon Rey sudah berkedut karena kegembiraan.

Kata-kata dari Desy begitu bergema di kepalanya saat Rey berdiri di sana. Sejak Rey mulai tertarik pada wanita, dia menganggap Desy sangat menarik perhatiannya. Dia akan terus menatapnya saat Desy berjalan di sekitar rumah dengan pakaian pendek, dan dia akan meliriknya ketika mereka pergi berenang, melihat tubuh seksinya yang hanya ditutupi bikini kecil, tetapi tidak pernah dalam mimpinya yang mempunyai hasrat liar, dia berpikir akan kehilangan keperjakaannya padanya.

Palkon itu terus berdenyut saat melihat tubuh cantiknya yang beristirahat di tempat tidur dan menunggunya untuk menjadikannya seorang pejantan tangguh bagi para wanita. Desy akhirnya duduk di sisi tempat tidur. Dia membuka laci di meja samping tempat tidur dan mengeluarkan bungkus plastik kecil.

"Duduklah di sebelahku, Rey," kata Desy kepada Rey yang segera melakukannya. "Kamu tau apa itu kondom, kan?" tanya Desy, dan Rey mengangguk. "Bagus." kata Desy dan ia merobek bungkusnya. "Sekarang kamu gak perlu ini denganku karena aku menggunakan alat kontrasepsi, tetapi kamu harus memakainya jika dengan gadis-gadis yang ingin berhubungan seks denganmu, jadi aku ingin menunjukkan kepadamu cara memakainya." Desy menjelaskan sambil menarik karetnya.

Desy memegang palkon Rey yang besar dan panjang, ia mengusapnya sekali, lalu menunjukkan cara memasang kondom di ujung palkonnya dan perlahan membuka gulungannya di sepanjang batang.

"Apakah kamu sudah siap untuk melakukannya Rey?" tanya Desy setelah ia melepaskan kondom. Ia ingin pengalaman pertama Rey senyaman mungkin tanpa menggunakan kondom. Selain itu, ia membayangkan palkon Rey segera meluncur ke dalam dirinya begitu menggairahkan.

"Uuuh... ooouh," kata Rey dan mengusap palkonnya beberapa kali.

"Oke, sabar Rey," kata Desy sambil naik ke tempat tidur dan menyingkirkan pakaiannya. Ia mengambil bantal besar dan meletakkannya di bawah punggung bawahnya. "Aku ingin kamu mulai dari atas." Kata Desy sambil meletakkan bantal besar di bawah kepalanya juga dan setelah berbaring telentang, merentangkan kedua kakinya. "Setelah kamu bisa, kita bisa bertukar posisi, dan aku akan berada di atas," kata Desy, meskipun ia tidak yakin apakah Rey akan bertahan cukup lama untuk bertukar posisi.

Rey tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya saat Desy membuat dirinya nyaman di tempat tidur, menawarkan dirinya kepadanya dengan cara yang tidak seharusnya dilakukan. Tetap saja, Rey tidak peduli, yang di lihatnya hanyalah seorang wanita cantik telanjang, yang bersedia membiarkannya masuk ke dalam dirinya dan membuatnya menjadi seorang pejantan tangguh. Dia mulai naik ke tempat tidur dan berjalan di antara kedua kaki Desy yang sudah terbuka lebar. Ia menatap kemem Desy yang terus menggoda dan menempatkan palkonnya yang sudah berada di pintu masuk.

Desy hanya memperhatikan Rey dengan teliti. Dia melihat hasrat liar di wajah Rey saat dia mempersiapkan diri untuk kehilangan kepolosannya. Dia tetap diam di saat Rey sudah menempelkan palkon di sela kemem miliknya.

"Oouuuhh..."

Getaran mengalir melalui tubuhnya saat ujung kejantanan Rey sudah bertemu dengan lipatan intimnya dan sedetik kemudian, kenikmatan itu telah menguasainya saat Rey sudah bisa menembus lubang sucinya lebih dalam.

"Oh, Des nikmat. Ouuhh... yaa..." Rey menjerit dan mengeluarkan gerutuan saat ia menerobos kemem Desy dengan penuh gairah.

Rey tak percaya betapa nikmat rasanya saat batangnya dengan mudah meluncur masuk ke dalam kemem Desy. Ia mengeluarkan erangan lagi dan melihat bagaimana Desy telah menerima seluruh batang besar dan panjang masuk ke dalam kememnya yang hangat. Ia mengerang karena sensasi kenikmatan yang tak terlukiskan saat palkon itu menghilang di dalam. Ia bisa merasakan dan mencoba untuk bergerak perlahan

"Oh, ya, Sayang!" Desy mengerang saat Rey mendorong palkon ke dalam kemem untuk yang kedua kalinya.

Desy melihat tubuh Rey yang kuat dan mengamatinya saat Rey mulai memegang pahanya yang terbuka lebar dan mulai mendorong dirinya dengan gerakan lambat.

Plok plok plok plok...

Plok plok plok plok...

"Rey, aku suka... terus Rey yang kuat..."

Rey terus mendengarkan erangan Desy yang semakin keras. Ia mulai dengan sangat pelan, khawatir ia akan selesai terlalu cepat, tetapi setelah melakukannya dengan pelan, ia menyadari bahwa ia sama sekali tidak akan ejakulasi dan mempercepat gerakannya.

"Oh, ya, Sayang!" panggil Desy penuh hasrat liar saat Rey mulai memompa kememnya yang basah dengan irama begitu cepat, hingga terdengar benturan kedua tubuh.

Desy terkejut karena Rey masih terus melakukannya dan mulai mengerang lebih keras saat Rey menghentak kemem dengan keras. "Ya sayang, teruskan aja, jangan malu-malu!" teriak Desy dan mengeluarkan erangan keras lainnya, sementara suara buah zakar Rey yang menghantam pantatnya mencapai telinganya dengan setiap dorongan pinggulnya yang kuat.

"Ya ampun Des, ini terasa sangat nikmat," kata Rey sambil terus mendorong palkonnya ke dalam kemem dengan penuh semangat.

Rey mendengarkan erangan dan panggilan kenikmatan Desy dan menyaksikan dengan terpesona saat bukit kembar memantul ke mana-mana, bergoyang ke segala arah saat Rey mendorong palkon ke dalam kemem dengan kuat.

"Sayang, kamu ingin berganti posisi?" Desy bertanya ketika menyadari bahwa Rey mulai lelah dan mulai memperlambat dorongannya. Dia berharap Rey tidak memperlambatnya karena dia akan segera mencapai klimaks.

Desy sangat ingin naik ke atasnya dan menunggangi Rey, ia ingin Rey menjadi pejantan tangguh hingga mencapai klimaks.

"Ya," kata Rey dan melepaskan palkon dari kemem Desy. Dia terengah-engah dan memperhatikan Desy saat duduk dan menggeser bantal tempat dia duduk.

"Berbaringlah," kata Desy dan Rey segera menggantikannya.

Desy membungkuk, meraih palkonnya dan menjilatnya dengan cepat. Dia menikmati rasa cairannya di palkon dan terhibur oleh ekspresi di wajahnya. Dia kemudian naik ke atas tubuh Rey dan duduk di pinggangnya. Ia meraih palkon Rey, menekannya ke vulvanya sambil menatapnya, lalu mengangkat pinggangnya sedikit.

Desy menggunakan tangannya untuk menuntun palkon Rey ke arah lubangnya dan sambil menatap lurus kedua matanya, tangan menuntun palkon masuk ke dalam kemem dengan erangan yang saling keluar dari bibir mereka.

"Enak Des!" Rey merengek saat kejantanannya mulai masuk ke dalam kemem.

Rey mendongak ke atas ke arah wajah Desy yang luar biasa bermain di atasnya, palkon yang keras dan ia mengerang kala Desy sudah mulai menungganginya.

"Sial, rasanya luar biasa," Rey berteriak dengan gembira "tolong jangan berhenti," pintanya dan meraih pinggang Desy, kedua tangannya ikut naik turun seiring gerakan tubuh Desy.

Rey menunduk ke palkon, ia melihatnya sudah menghilang di dalam surga milik Desy, lalu menatap bukit kembar yang besar dan cara payudaranya yang menggoda saat ia menungganginya, dan akhirnya menatap wajah Desy, ia mencuri pandangan dengannya dan melihatnya mengerang dengan senang.

Bukit kembar ikut bergoyang-goyang dan Desy menatap wajah Rey di saat ia menghantamkan kemem ke palkon sekeras dan secepat yang ia bisa.

"Des, aku gak bisa bertahan lebih lama lagi." Kata Rey tergesa-gesa saat Desy memompa palkon Rey lebih keras dari yang pernah ia kira.

Rey menutup matanya agar tidak melihatnya dan mencoba memikirkan apa pun selain Desy yang telanjang menunggangi, semua ini dilakukannya dalam upaya yang sia-sia untuk menunda klimaksnya.

"Des, aku akan keluar," kata Rey dengan suara gugup beberapa detik kemudian tubuh Rey mulai mengerang liar.

"Silakan sayang, keluarkan untuk aku! Keluarkan aja di dalam kememku," kata Desy yang terus menungganginya dengan penuh gairah dan terus memompanya.

Desy merenungkan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya dan menyaksikan Rey yang sudah orgasme.

"Des, aku keluaaarr.....!" Rey berteriak dan mulai menyemprotkan mayones dalam kemem Desy.

Desy bisa merasakan palkon Rey menyemprotkan cairan ke dalam dirinya dan menunduk melihat wajah Rey yang berubah karena kenikmatan. Ia menatap Rey dengan takjub saat dia mulai menangis sambil menyemprotkan cairan hangat yang banyak sekali ke dalam kemem yang basah. Dia mendengar kabar bahwa ada beberapa pria menangis saat mereka mengeluarkannya di dalam, tetapi dia tidak yakin itu nyata, sampai dia melihat sendiri jika Rey menangis tersedu-sedu saat dia memenuhi kemem yang sudah penuh cairan hangat.

"Des, bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Rey.

"Aku kan tadi udah bilang, kamu tenang aja. Nikmati aja permainan ini."

Desy masih terus menungganginya sepanjang klimaksnya, menyaksikan air kenikmatan yang mengalir di kememnya sampai orgasmenya mereda dan palkon Rey mulai lemas. Dia begitu dekat dengan orgasmenya sendiri sehingga tanpa memikirkannya, Desy mulai menggosok klitorisnya dengan hasrat liar sampai tubuhnya mengejang hebat.

"Gila banget Rey!" Desy menjerit saat dia sudah mencapai puncaknya.

Kedua kaki Desy bergetar tak terkendali, di ikuti oleh pinggang dan tangannya saat tubuhnya melonjak karena kenikmatan. Dia merasa seperti tersengat listrik, tetapi alih-alih rasa sakit, yang ada adalah rasa kenikmatan yang luar biasa.

Desy mendengar erangan seperti binatang keluar dari mulutnya dan berusaha sekuat tenaga untuk terus mengusap klitorisnya. Itu adalah salah satu orgasme terlama dan terkuat yang pernah di alaminya. Rasanya seperti berlangsung selama satu jam lebih mereka bermain sebelum akhirnya dia merasakan keluar untuk yang ketiga kalinya.

Rey kagum pada Desy, saat dia mencapai puncaknya, Desy saat itu masih berada di atasnya. Dia malu dan menerima kenyataan, bahwa dia menangis seperti bayi kecil ketika mengeluarkan mayones di dalam. Itu adalah hal pertama kali bagi Rey dan hal itu terjadi padanya, dia melupakan semuanya ketika Desy mulai mengejang di atasnya.

Rey melihat beberapa video wanita yang mencapai puncaknya, tetapi tidak ada yang seekstrem yang baru saja di alami oleh Desy. Begitu selesai, ia menangkap tubuh Desy dengan kedua tangan dan menurunkan ke dadanya, beberapa getaran terakhir mengalir melalui tubuh Desy saat ia berbaring di atasnya.

Desy merasakan palkon milik Rey sudah menciut dan keluar dari kememnya, saat ia merasakan cairan mereka mengalir keluar darinya dan jatuh ke seprai. Dia sangat lelah karena kenikmatan itu, ia hanya berbaring di pelukan Rey, kepalanya bersandar di dada Rey, sementara bukit kembar yang besar bersandar di perut bagian bawah.

"Rey, kamu gak kenapa-napa kan?" Desy bertanya setelah mereka berbaring tak bergerak selama lebih dari setengah jam, memikirkan apa yang baru saja mereka lakukan.

"Aku baik-baik aja." Rey berkata dengan suara lelah. "Bagaimana denganmu?" tanyanya.

"Aku pun baik-baik aja, Sayang," kata Desy mengangkat kepalanya untuk menatapnya. "Bagaimana perasaanmu tentang apa yang baru aja kita lakukan?" Desy bertanya kepada sambil masih menatapnya.

"Aku gak yakin," kata Rey sambil memikirkannya. "Aku sama sekali gak menyesalinya," katanya yang membuat Desy lega.

"Permainan kamu benar-benar panas dan luar biasa yang pernah aku rasakan selama ini, dan itu benar-benar membuatku ingin terus melakukannya denganmu." Kata Desy. "Aku senang, Rey," Desy mencium dada Rey sebelum duduk.

Desy berjalan ke lemari, mengambil handuk yang lain dan menggunakannya untuk membersihkan kemem, ia menyeka sisa-sisa cairan Rey yang masih menempel di kememnya sebelum menyerahkan handuk itu kepadanya. Dia masih memperhatikan Rey, tangan masih menyeka palkon saat dia mengenakan kembali bra dan celana dalamnya, di ikuti oleh celana dan sweternya.

Saat Rey berpakaian, Desy membuka jendela dan membiarkan udara dingin mengalir ke dalam ruangan, mengeluarkan bau mayones yang kuat.

"Siap?" Desy bertanya setelah ia selesai berpakaian dan mengulurkan tangannya.

"Siap untuk apa Des," kata Rey dengan percaya diri dan meraih tangannya. Ia menariknya ke pintu dan membukanya dengan pelan.

"Sekarang mari kita lihat bagaimana kamu akan melakukannya dengan si kembar." Kata Desy sambil membuka pintu dan melangkah keluar dengan Rey di belakangnya.

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED