"Ella, nanti pulang bareng aku lagi, ya?" teriak William dari koridor kantor sambil melambaikan tangan pada sahabatnya, Ella. Sontak pandangan orang-orang di sekitar koridor itu langsung tertuju ke arah Ella, sambil berbisik-bisik ria.
"Ih, itu si FWB nya Pak William ya?"
"Gatel banget tuh cewek, sayang banget Pak Williamnya."
"Kasihan dong calon pacar Pak William?"
Begitulah kira-kira gunjingan demi gunjingan yang sayup-sayup tertangkap telinga Ella. Perempuan itu menghela nafas kasar, lantas berbalik menuju ruangannya dengan menunduk lesu.
Padahal baru dua bulan ia pindah ke kantor baru milik ayah William, sahabatnya sejak kecil. Tapi rumor-rumor menyedihkan itu sudah berkali-kali mencercanya.
Sejak kecil mereka memang selalu bersama, tumbuh bersama berdua, hingga pada akhirnya mereka kesulitan mendeskripsikan status masing-masing untuk satu sama lain.
Mereka memang hanya sahabat, tapi sepertinya juga lebih dari itu. Tapi bukan pacar juga, karena baik William maupun Ella sering berganti pacar sejak remaja.
Bahkan sekarang pun William juga sedang PDKT dengan salah satu rekan kantor. Sedangkan nasib percintaan Ella sedang menggantung karena pacar brengseknya tak bisa ia hubungi berhari-hari.
"Eh kamu mau pulang bareng aku nggak, Ella?" tawar Kinan, salah satu rekan kerja satu divisi yang nampaknya menaruh perhatian lebih untuk Ella.
"Eh sorry Kin, hari ini aku bareng William."
"Lagi?" Tak sengaja Kinan berkomentar, kalimatnya langsung menarik atensi Ella yang sebelumnya merapikan berkas-berkas di meja.
"Apa maksud kamu 'lagi'? Kamu teman baruku yang paling baik disini sejauh ini, Kinan. Aku harap kamu nggak kaya mereka-meraka itu," ucap Ella agak sensitif. Entahlah, moodnya sedang hancur usai bertemu dengan pegawai-pegawai sialan yang menggunjingnya barusan.
"I'm sorry, aku kelepasan bilang gitu. Maaf, Ella," sesal Kinan. Perempuan yang diajak bicara hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya, sedikit merasa bersalah juga pada Kinan. Padahal laki-laki itu adalah satu-satunya rekan kantor yang mau mengajaknya bicara tanpa peduli dengan gosip tentangnya.
"Ya sudah, aku duluan ya? Kamu pasti masih nunggu Pak William. Dia ada rapat, kayanya pulang sejam lagi, kan?" tanya Kinan ragu.
"Iya, hati-hati," senyum pun mengembang di wajah cantik Ella, membuat Kinan sedikit lega.
'William rapat lagi? Hmm kenapa nggak bilang?'
---
"Hei, marah?" William mengencangkan sabuk pengaman milik Ella yang diam saja begitu masuk mobil dengan raut muka cemberut. Perempuan itu hanya menggeleng kemudian melihat keluar jendela sambil menyangga dagunya dengan tangan kiri.
"Kamu kenapa? ada yang salah? aku salah?" Lelaki itu bolak balik melihat ke jalanan dan ke arah Ella.
"Enggak, Will. Fokus nyetir aja deh."
"Lagi datang bulan ya? Eh enggak mungkin, jadwal kamu kan tanggal lima belas bulan ini."
Kalimat itu berhasil membuat Ella menoleh kearah William sambil mengerutkan dahinya.
"Kamu bahkan hafal tanggal datang bulanku?"
"Iya dong, kamu kan selalu pengen cuddle tiap tamunya lagi dateng. Kenapa emangnya?"
Ella menggeleng lagi, pikirannya kembali berkecamuk. Benar-benar tak ada hal yang tak diketahui lelaki disampingnya itu tentangnya. William memang sesayang itu pada Ella. Ia akan selalu memprioritaskan Ella diatas segalanya, bahkan dibanding dirinya sendiri sekalipun.
"William, semakin hari semakin ribet aja status kita ini. Kamu mau apa sih, Will?" batin Ella.
Lagi-lagi kalimat itu tertahan di tenggorokannya saja, tak pernah terlontar. Pernah sekali Ella jujur pada William tentang hal-hal yang mengusiknya itu, saat itu mereka masih duduk di bangku SMA dan Ella menjadi bahan bully teman-teman pacar William.
Tapi diskusi itu berakhir sedikit menggantung dengan perjanjian yang mereka simpulkan, bahwa tidak boleh ada diantara keduanya yang saling meninggalkan satu sama lain.
William pun hanya menghujani Ella dengan kata-kata manis penyejuk ragunya saat itu. Mereka berjanji, tidak akan terbawa perasaan dihubungan persahabatan mereka. Tapi kesimpulan itu agaknya tidak membantu sama sekali. Karena Ella sekarang dibuat pusing lagi karena hubungan mereka
"Hei? Ella??"
"Hah? Iya? Kenapa, Will?" Ella gelagapan, terkejut dengan teriakan William.
"Aku dari tadi ngoceh nggak kamu dengerin? Ngelamunin apa sih?" gerutu lelaki berlesung pipi cantik itu.
"Hehe lagi butuh istirahat aja kok. Tadi bilang apa?" Sejujurnya Ella memang butuh istirahat, bukan hanya tubuhnya tapi juga otak dan hatinya tentu saja. Dua bulan sudah ia kerja rodi dibawah perintah atasannya.
"Ini, aku mau mampir ke tempat Camelia dulu. Dia tadi pesen suruh beliin smoked beef di resto dekat kantor, dia bolos kerja hari ini karna sakit katanya."
"Kamu beneran PDKT sama dia?"
"Iyalah, katanya sih dia suka sama aku sejak lama hahaha."
"Hmm" Ella hanya mengangguk, matanya melirik kearah rear vision mirror yang merefleksikan bayangan dari kursi tengah mobil. Dilihatnya satu kotak besar yang ia tebak adalah smoked beef pesanan Camelia, lengkap dengan satu bucket bunga cantik disampingnya.
"Kenapa? cemburu?"
"Nggak," jawab Ella singkat, menimbulkan kerutan di dahi William.
"Kamu beneran nggak marah kan? Aku cium nih kalo marah" enteng William.
"William!! jangan bercanda. Udah, fokus sana!" Tanpa Ella sadari, pipinya merah tersipu. Perempuan itu mengutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Orang udah sampai kok." Lelaki itu menjulurkan lidahnya meledek.
Memang bukan sekali dua kali William tiba-tiba mencium Ella. Bukan di bibir, hanya kecupan singkat di pipi. Sejak kecil, William dan Ella memang sangat touchy satu sama lain, terlebih William.
Tapi tetap saja, naluri Ella berkata itu tidak benar. Setidaknya jika status mereka masih sebatas sahabat semata.
Begitu sampai di rumah gebetan William, lelaki itu turun dan mengambil hadiah untuk sang gebetan.
"Hmm, mau bunga juga," batin Ella.
Lelaki itu menghambur memeluk Camelia yang ternyata sudah menunggunya di depan rumah.
"Harus banget ya nunggu dipinggir jalan kaya gitu? Alay," batin Ella lagi.
Dua sejoli itu mengobrol selama beberapa saat, sesekali menengok kearah Ella. Mata Ella melebar saat melihat keduanya tiba-tiba... berciuman. Ya, Camelia mencium bibir William tiba-tiba. Tapi lelaki itu tak menolak, justru semakin memperdalam ciuman itu.
Hati Ella entah kenapa perih rasanya, ludahnya bahkan tak tertelan, serasa tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa memalingkan wajah sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Maaf, lama," ucap William yang langsung kembali kedalam mobil.
"Kamu lihat? sorry ya" Tangan William mengacak rambut Ella tanpa permisi.
"Apa sih, biasa aja kali. Aku juga sering ciuman sama pacarku. Tapi nggak di pinggir jalan siang-siang juga kali, Will."
"Hehe, maaf. Dia kangen aku katanya." Mendengar itu, Ella hanya merotasikan bola matanya.
"Katanya belum pacaran? Kok udah cium-cium? Apalagi nanti kalo udah pacaran? Bakal ngapain aja kamu?"
"Heh, enggak akan. Kita kan udah janji nggak akan pernah skinship lebih dari ciuman sama pacar kita. Aku akan jaga diri, kamu juga akan aku jaga. Banyak cowok brengsek diluar sana."
"Kamu juga brengsek, Will,"
"Ya tapi kamu kan cowok juga, Will. Sama aja," sinis Ella, tangannya kemudian diraih William yang segera ditepisnya.
"Ih, Ella..."
CUP
Kecupan singkat mendarat di pipi kanan wanita itu. Matanya terbelalak, siap-siap memukul William tapi ditahannya.
"Ih, William... Kan aku udah bilang jangan cium-cium aku lagi"
"Kenapa sih? Sumpah kamu berubah sejak pindah kerja deket sama aku malah nggak mau disayang-sayang" William memanyunkan bibirnya, Ella luluh juga.
"Binggo, that's it."
"Apa? "
"Hah? enggak, lupakan," pungkas Ella.
"Aku capek, Will. Capek jadi bayang-bayang kamu terus," lirihnya dalam hati.
----
Ella masih berbaring malas-malasan di kasurnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit. Hari Minggu, satu-satunya hari yang bisa membebaskannya dari kerja rodi suruhan senior-senior laknat di kantor.
Sebetulnya hari Sabtu pun libur, tapi hari itu akan ia gunakan untuk menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan kantor yang menumpuk. Jadi ia tak akan merasa bersalah jika bangun siang di Minggunya.
Pagi itu ia ada janji dengan William, bukan untuk pergi kemana-mana, hanya sekedar menghabiskan waktu bersama bersantai dirumah Ella. Sarapan bersama, menonton film, olahraga pagi bersama, atau sekedar rebahan dikasur Ella sambil sibuk dengan ponsel masing-masing.
Hari Minggu Ella hanya untuk William. Vice Versa.
Biasanya lelaki itu sudah mendusel Ella yang masih tertidur, atau tiba-tiba sudah ikutan tidur lagi di kasur Ella. Tapi meskipun matahari sudah beranjak naik, William tak muncul juga.
Ella akhirnya beranjak, segera memesan beberapa makanan yang sudah William request beberapa hari lalu.
Dua porsi tonkatsu dan tiga porsi mie udon favorit William dari restoran Jepang dekat rumahnya, serta satu bucket besar chicken drumsticks saus keju dari restoran ayam goreng favorit Ella. Persetan dengan dietnya, ia hanya ingin makan puas bersama William dan melupakan keluh kesahnya belakangan ini.
Namun bahkan hingga semua orderan sudah datang pun, William belum juga menampakkan batang hidungnya.
Dihubunginya nomor William, tak dijawab. Dikiriminya pesan berkali-kali, tak dibalas. Ella kesal, waktu sudah mulai masuk tengah hari, mie udon yang ia pesan bahkan sudah sangat mengembang.
"William, kamu kemana sih?"
---
"Will, nanti kalo pulang aku mau boneka yang itu," kata perempuan berperawakan tinggi dengan nada suara dibuat-buat supaya terdengar imut, Camelia.
Ia menunjuk ke arah boneka super besar berukuran satu meter yang didisplay di salah satu toko.
"Oke. Oiya, kamu mau makan apa, sayang?"
Ya, William dan Camelia akhirnya resmi berpacaran. Untuk merayakannya, Camelia pun mengajak William menonton film di bioskop sekaligus berbelanja.
Lelaki bodoh itu tak keberatan menghabiskan uangnya untuk Camelia, padahal jelas-jelas perempuan itu tengah memanfaatkannya terang-terangan.
"Pengen makan di restoran Jepang nih, nanti abis nonton kita ke Maragame yuk? Aku pengen banget udon, Will."
"Oke kalo gitu nanti ki-" Ucapan William terhenti saat otaknya me-recall sesuatu yang nampaknya familiar-Udon. Ya, janjinya dengan Ella.
"Oh Shit"
Lelaki itu terdiam selama lima detik, kemudian mencari-cari ponselnya dengan tergesa.
"Sayang, kamu bawa ponselku ya?" tanya William pada Camelia yang langsung disambut raut muka masam.
"Kenapa memangnya?"
"Aku lupa ngabarin Ella kalo kita mau jalan hari ini, padahal kemarin aku terlanjur janji sama Ella mau ketemuan." William panik, sedangkan Camelia dibuat cemburu oleh kalimat William barusan. Ia lantas memberikan ponsel William yang penuh dengan notifikasi panggilan dan chat dari Ella.
"Oh shit." William mengutuk dirinya sendiri lagi saat melihat riwayat pesan dari Ella. Ia langsung menelepon Ella berkali-kali, tak ada jawaban.
Wanita itu mungkin sudah murka sekarang, apalagi dia belum bercerita kalau akhirnya resmi berpacaran dengan Camelia.
"Kita bisa pulang sekarang? Nontonnya lain kali aja gimana? Hm?" tawar William pada Camelia yang jelas-jelas sedang merajuk.
"Pacar kamu itu dia atau aku?"
"Ya kamu, tapi aku lupa ngabarin Ella, sayang. Aku nggak mau dia nunggu."
William memohon pada pacar satu harinya itu, perempuan itu lantas menatap William dengan raut muka menyedihkan. Tangannya meraih lengan William dan mengusapnya lembut, tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar.
"Tapi ini date pertama kita, William sayang."
Ah sial, pertahanan William runtuh juga. Lelaki itu akhirnya mengiyakan tawaran Camelia dengan syarat untuk langsung pulang begitu film selesai, perempuan itu pun setuju.
William tak sadar jika sejak awal Camelia memang sengaja membawa ponselnya, sengaja tak memberitahu William bahwa Ella berkali-kali menghubunginya.
Bahkan Camelia sengaja memilih hari Minggu untuk mengajak William berkencan, karena ia tahu hari Minggu ini William ada janji dengan Ella.
Melihat cara William memperlakukan Ella, membuat Camelia semakin yakin untuk menghancurkan hubungan keduanya.
William pun kalah, ia mengecup lembut bibir wanita itu, Camelia pun tersenyum puas.
"Maafin aku ya, sayang," ucap William.
---
"Ella...?" teriak William yang sudah menyelonong masuk begitu saja ke rumah Ella usai pulang dari berkencan.
Tapi tak dijumpainya sosok perempuan itu, padahal jelas-jelas mobilnya masih terparkir di garasi, tanda si empunya memang berada di rumah.
Meja ruang tamu penuh dengan makanan pesanan Ella yang sudah terlihat berantakan. Dua mangkok kosong bekas wadah mie udon, dua kaleng americano canned yang sudah diremukkan, satu gelas besar pepsi yang tinggal separuh, dan lain-lain.
William pun segera berlari ke kamar mandi di dalam kamar Ella, seakan tahu apa yang tengah terjadi.
Dilihatnya perempuan itu terduduk lemas di lantai yang basah, bersandar pada kloset duduk dan menengadahkan kepalanya.
"Ella, oh God... Ella..." William langsung berlutut mengguncang Ella yang matanya terpejam, paniknya tak tertahan. Dilihatnya wajah dan urat leher Ella yang memerah, tanda perempuan itu baru saja memuntahkan isi perutnya.
Ella membuka mata, senyum mengembang di bibirnya, miris sekali.
"Oh, William. Sorry, nggak denger," ucapnya pelan.
"Aku bersih-bersih dulu, boleh minta tolong ambilin baju ganti?" lanjutnya, disambut tatapan tak tega dari William yang geming untuk meninggalkannya.
"Aku nggak papa, beneran." William pun mengangguk dan segera keluar dari kamar mandi, membiarkan perempuan itu membersihkan diri selagi ia duduk di ujung kasur milik Ella.
Sepuluh menit berselang, pintu kamar mandi akhirnya sedikit terbuka. Ella menyodorkan tangan kanannya keluar, bermaksud meminta baju ganti yang diambilkan William.
"Ganti di sini aja nggak papa," ucap William, bodoh.
"We're not child anymore, Will. Just pass it to me." William akhirnya bangun dan menyodorkan baju yang ia pilih, satu set kaos santai lengan pendek lengkap dengan shortnya berwarna hitam.
"Wait, where's the underwear?" teriak Ella dari dalam kamar mandi.
"Huh? I... I can't, Ella, aku kan malu." William membalas teriakan Ella yang mempertanyakan underwearnya.
"Ngambil undies aku aja malu, kenapa sosoan nyuruh aku ganti baju di depan dia?" batin perempuan itu.
Senyum Ella melebar, gemas dengan ucapan William barusan.
Lelaki itu langsung menghambur memeluk Ella yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rasa bersalah benar-benar menyeruak di dadanya.
"Maafin aku..." ucap William yang ketiga kali.
Ella melepaskan pelukan itu dengan pelan, dan melewati lelaki itu begitu saja. Ia merebahkan diri di kasur, perutnya rasanya lega meskipun masih sedikit terasa perih. Tapi energinya benar-benar terkuras habis usai memuntahkan dua porsi udon dari lambungnya.
"Siapa suruh kamu makan udon dua mangkok, Ella? Kamu bahkan nggak suka mie." Kini lelaki itu mengomel, sambil memposisikan diri duduk di pinggir ranjang.
"Jangan bilang dua kaleng kopi itu kamu juga yang habisin!?"
"Terus kalau bukan aku siapa? hantu?"
"Beneran? Astaga, perut kamu kan nggak kuat, Ella. Udah tau harus jaga makan, kenapa malah minum kopi sembarangan gini sih? Pesen pepsi juga kan? Kalo ka-"
"William, peluk" Ucapan Ella sontak membungkam mulut William. Lelaki itu seketika sadar bahwa apa yang terjadi tak lepas dari kesalahannya.
William menghela nafas kasar, ia rebahkan dirinya di sandaran kasur Ella, yang langsung disambut pelukan hangat perempuan itu.
Untuk sesaat Ella sadar bahwa ini salah, tak seharusnya ia nyaman di sisi lelaki itu. Tapi ia sudah terlanjur memberikan ruang terbesar di hatinya untuk William.
Ella ingin sekali menjelaskan perasaan anehnya pada William, tapi ia bahkan masih berstatus sebagai pacar Jian. Ella ingin sekali memberanikan diri satu kali saja, sebelum semuanya semakin rumit.
"Maafin aku, ya. Kamu nggak nanya aku kemana aja?" tanya William sambil mengusap rambut Ella pelan, Ella pun hanya menggeleng dalam peluknya.
"Aku, mmm.. jalan sama Camelia." Hati Ella mencelos mendengar kalimat William.
"Are you two already official?" tanya Ella dengan sedikit tercekat.
"Iya, kemarin."
"Fuck" Ella memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia bersumpah, ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Lidahnya kelu, tapi tak mau mengakui kalau ia tengah cemburu. Tak tahu pula sampai kapan ia bisa memendam perasaan anehnya itu.
Peluknya merenggang, sampai akhirnya ia lepaskan, Ella berpaling dan tidur membelakangi William.
"Ah, so sleepy. Aku mau tidur siang, Will. Don't disturb me," dustanya.
----
Suasana kantor sangat sunyi, tapi diruangan besar divisi promosi agaknya lebih mencekat. Ella duduk menunduk di kursi cubiclenya, sambil memainkan jemarinya ketakutan.
Salah seorang senior pun mendekatinya dengan langkah penuh amarah.
"Kamu itu betul-betul nggak tahu diri ya? Kamu udah bikin malu satu divisi. Senin pagi kita kacau gara-gara kamu, ngerti?" bentak senior jangkung bernama Lucy sambil menunjuk-nunjuk Ella yang semakin menunduk. Air mata mulai menggebang di pelupuk matanya, tak tertahan lagi.
Semua pandangan orang-orang tertuju padanya, mereka semua memaki dengan tatapan sinis. Ella bersumpah, ia ingin pergi dari ruangan itu saat itu juga.
"Kamu, kalau nggak becus itu nggak usah sok pinter! Lihat kan gimana jadinya?" teriak seniornya yang lain. Kali ini sambil menoyor kepalanya berkali-kali.
Pagi itu semua orang dikejutkan dengan batalnya perjanjian dengan salah satu stasiun TV untuk acara iklan berskala besar karena adanya miss komunikasi.
Proposal kerjasama yang sudah dibuat ternyata tak sampai ke tangan partner. Semua tangan menunjuk ke arah Ella yang memang bertugas menyelesaikan PR itu.
Tapi demi Tuhan, Ella sudah menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Ia juga dibuat keheranan dengan kabar pagi itu.
"Kak, udah. Ella butuh istirahat, dia juga kaget," ucap Kinan, rekan kerja Ella satu-satunya yang mau membelanya, namun lagi-lagi segera ditampik oleh senior Lucy.
"Mau ditaruh mana muka kita nanti siang waktu meeting sama direktur? Harusnya hari ini kita udah clear, bisa bawa bahan ke atasan. Tapi apa? cewek nggak becus ini malah cari masalah."
"Kak, maaf. Tapi aku udah selesaikan proposal itu, aku pun udah konfirmasi ke bidang eksternal, partner harusnya sudah terima, Kak. Masalah nanti siang, aku akan bilang ke ayah Will-maksudku Pak Sandy." Ella masih berusaha membela diri.
Ia beranikan menatap seniornya satu-satu meskipun tangannya masih bergetar. Ia bersumpah dalam hati, pasti ada yang menusuknya dari belakang, entah siapa dan bagaimana.
"Nggak usah ngeles deh. Sekarang iklan kita batal total disana, slot tayang udah keduluan orang lain. Bego itu jangan dipelihara dong."
"Dan berani-beraninya kamu pamerin kedekatan kamu sama Pak Sandy disini, hah?" Kali ini tangan Lucy mendarat tepat di pipi kiri Ella.
Perempuan itu terkejut bukan main. Rasanya benar-benar menyesakkan, seakan tak bisa bernafas ia disana.
"Kak Lucy, please stop!" Kinan melerai, menarik lengan Ella hingga ia terduduk lagi di bangkunya.
"Jangan ikutan bela dia, Kinan. Susah kalau kamu nanti ikutan digoda juga sama cewek gatel ini," lanjut Lucy pada Kinan.
Mendengar kalimat keji itu, Ella tak lagi dapat membendung air matanya. Pipinya masih sedikit panas, dan kini gantian hatinya yang merasakan perih tak tertahan. Ia mulai menangis, tak peduli lagi dengan tatapan sinis senior-seniornya.
Ella berlari keluar ruangan, satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya hanyalah rooftop. Dan satu-satunya manusia yang terlintas di benaknya hanyalah William. Ia ingin berkeluh kesah pada sahabatnya itu.
Tapi tepat sebelum pintu lift terbuka, suara tawa dari koridor di sebelah kanan menarik atensinya. William dan Camelia tengah berjalan menjauh menyusuri koridor dengan penuh canda tawa.
Tangan William merangkul hangat pundak perempuan itu, tangan Camelia pun juga melingkar mesra di pinggang kekasihnya.
Mereka benar-benar seperti pasangan kekasih yang tengah dimabuk cinta. Bagaimana bisa Ella mengusik itu? Pikir Ella kalut.
Ia akhirnya hanya duduk terdiam di rooftop kantor yang sepi sambil menyelesaikan tangisnya. Ada beberapa pot tanaman bougenville kering karena kekurangan air yang menemani.
Otaknya memutar kembali raut wajah bahagia William dan kekasihnya.
"Ah, kamu benar-benar bahagia ya, Will," gumam Ella pada angin yang berlalu.
Ella tak tahu kenapa disaat seperti ini ia justru merindukan kehadiran William disisinya? Jian yang masih berstatus sebagai pacarnya justru tak ia rindu sama sekali, bahkan sekedar numpang lewat di fikirannya pun jarang.
Ella merebahkan dirinya di lantai semen yang kotor, masa bodoh dengan jas kerjanya. Ia pusing memikirkan kelanjutan hidupnya di kantor. Ia tentu tak akan betah jika setiap hari menerima perlakuan keji dari rekan-rekannya, bisa-bisa mati muda jika dilanjutkan. Begitu pikir Ella.
Tapi ia tidak bisa resign semaunya, karena ayah William sudah berjasa besar sekali untuknya. Ayah William lah yang menggantikan sosok kedua orang tuanya semenjak mereka menetap di luar negeri.
Tak mungkin ia merengek minta pindah kantor dengan alasan konyol seperti itu.
"Oke, bertahan ya, Ella. Semangat bertahan hidup, Aku. I can do it. C-can't I?" tanya Ella pada dirinya sendiri.
"Of course you can do it," celetuk sebuah suara dari arah pintu, mengejutkan Ella yang langsung menengok.
William, lengkap dengan senyum lesung pipi manisnya.
"Kamu ngapain sih sampai sini, Ell? Aku cari ke ruangan nggak ada, tapi feelingku bener kan kamu ada disini," ucap William yang langsung ikut duduk disamping Ella.
"Wait kamu abis nangis? Kok ingusan?" tanya lelaki itu sambil mengusap sisa air mata di pipi kiri Ella yang sedikit memar.
Sentuhan tangan William benar-benar menenangkan, ia hanya bisa memejamkan mata menikmatinya.
"Enggak, abis nguap aja tadi" dustanya.
"Kamu beneran dari ruangan aku?" tanya Ella yang seketika penasaran.
Apa William benar-benar tidak tahu dengan apa yang baru saja terjadi, atau ia hanya pura-pura saja didepannya?.
"Iya, denger-denger tadi ada yang bikin masalah ya? Kamu kenapa malah menyendiri ngga jelas di sini, sih?" jawab William polos.
Ternyata benar, lelaki itu memang tak tahu apa-apa. Calon pewaris tahta direktur utama di perusahaan ayahnya itu benar-benar terlalu polos.
"Hmm" Niat Ella untuk bercerita tiba-tiba saja lenyap. Ia tak ingin menambah beban sahabatnya itu, apalagi nampaknya William sedang bahagia karena kisah asmaranya dengan Camelia. Ella tak tega mengusik bahagia itu.
"Hm doang nih? Oh iya by the way besok malem aku mau adain party kecil-kecilan di pub sebelah," ujar William sambil tersenyum lebar, menampakkan lesung pipinya.
"Dalam rangka?"
"Camelia yang minta, dia mau ngumpul sama temen-temen kantor sekalian announcing hubungan kita, hehe."
Ella tak yakin dengan Camelia, tapi saat ia melihat William tersenyum dan tertawa bersama perempuan itu, Ella rela. Ia sadar bahwa Camelia memang pantas mendapatkan William disisinya. Meskipun menurutnya sangat berlebihan untuk mengumumkan hubungan Camelia dengan William secara terang-terangan saat pesta.
Mereka hanya berpacaran, kenapa harus melakukan perayaan yang tak perlu? Kekanak-kanakan sekali. Begitu kira-kira isi hati Ella.
"Congrats ya, seingetku kemarin aku belum bilang selamat," ucap Ella dengan senyum di wajahnya. William hanya mengangguk sambil menatap perempuan didepannya itu.
"Iya, Thanks. Kamu cantik banget kalau hidungnya lagi pengar gini."
DEG
Jantung Ella berdegup kencang. Pujian William tak pernah membuatnya berdebar sebelumnya. Tapi kali ini kenapa ia benar-benar terusik dengan ucapan manis itu? Entahlah, Ella tak mau berspekulasi apa-apa.
"Ini bukan pengar. Kan udah dibilang, aku abis nguap."
"Yaa, sama aja. Intinya hidungnya merah, lucu."
CUP
Lelaki itu mencium pipi Ella tanpa permisi. Bukan sekali, dua kali di pipi kanan dan kirinya.
"William ih... ini di kantor, astaga William...!" gerutu Ella, disambut tawa manis William dan cubitan di pipinya.
"Iya iya... kamu gemes kalau marah."
"William, stop. My heart keep fluttering hearing that," protes Ella dalam hati tentunya.
Kalimat-kalimat itu sering William lontarkan sejak dulu, tapi entah kenapa semuanya kini terasa berbeda. Seakan sudah berbumbu manis ditelinga Ella.
"Oh iya, Jian gimana? Udah ada kabar?" Tanya William tiba-tiba.
"Hehe"
"Hehe? Kamu gimana sih, Ella? Putusin gih cepet," tuntut William, disambut pandangan masam perempuan itu. Ella pun langsung terdiam, pikirannya masih amburadul dengan hidupnya sendiri sampai agak lupa dengan hubungannya dengan Jian.
"Oke" entengnya kemudian, membuat William mengerutkan keningnya.
----