"Jeng, coba lihat, tadi malam aku di kasih kado cincin berlian loh sama suamiku," ucapku pada Ibu-ibu arisan yang biasa disebut Jeng. Seraya menunjukan cincin cantik nan berkilau yang tersemat di jari manisku.
"Wah, cantik banget ya, Jeng. Harganya berapa? Kepo dong kita-kita, iya nggak Jeng?" sahut Jeng Lina sambil mencolek lengan Ibu-ibu lainnya.
"Murah kok, Jeng. Suami aku bilang, cuman 400 jutaan harganya," jelasku dengan senyum merekah.
"Wah, emang suami idaman banget ya, eh Jeng Selin, kamu 'kan punya toko perhiasan tuh, paham dong mana yang asli dan mana yang bukan." kali ini Jeng Marisa yang menimpali. Dia memang agak sensi kalau punya barang-barang mahal. Orang bilang mah syirik istilahnya.
"Mana coba, lihat." Jeng Selin menelisik jemariku. Tentu aku tak keberatan. Dan dengan percaya diri menunjukkan cincin ini pada mereka. Biar bungkam mulutnya. Enak saja main nuduh asli atau bukan. Dasar mulut kompor. Iri? Bilang bos!
Jeng Selin tentu menatap lekat-lekat cincin ini. Tak segan. Aku pun melepas cincin ini dari jari manisku.
"Nih cek aja kalau nggak percaya," kuletakan benda cantik itu ke telapak tangan Jeng Selin. Ia langsung memperhatikan detail.
Beberapa saat kemudian ....
"Maaf ya, Jeng. Sebelumnya, keknya ini palsu deh, soalnya kilauannya agak beda gitu, kalau asli mah udah terpancar cetar gitu, meski nggak pake alat pendeteksi." jelas Jeng Selin lalu mengembalikan cincin itu padaku.
Jeng Lina dan Marisa terlihat berbisik dengan mulut mencibir ke arahku. Aku yakin mereka sedang mengejekku. Aku pun tak percaya dengan yang dibilang Jeng Selin. Nggak mungkin cincin ini palsu. Mas Ari nggak mungkin lah beliin aku barang KW. Secara, dia kan CEO di perusahaan sendiri.
"Jeng, nggak mungkin ya, ini palsu. Jangan asal ngomong ya, nggak mungkin suami saya beliin saya barang KW." tekanku sebal.
"Kalau Jeng Vina nggak percaya, coba cek aja di toko berlian. Semoga aja saya yang salah menilai ya, Jeng." Jeng Selin bicara lagi. Sedangkan si Marisa dan Lina, mereka berdua sesekali berdecih dan tertawa kecil.
Semakin muak aku berada di sini.
"Ya udah ya, Jeng. Aku pamit pulang dulu, gerah lama-lama di sini," alibiku.
"Iya, Jeng. Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi ya," ucap mereka serentak.
Aku menanggapinya dengan anggukan.
Gegas aku pergi meninggalkan rumah Marisa. Tujuanku hendak ke toko berlian. Untuk memastikan apa yang dibilang si Selin itu salah.
*
"Maaf, Bu. Ini cincinnya KW." ucap karyawan toko berlian yang cukup terkenal di kota ini. Seketika mataku melebar sempurna.
"Yakin, Mas? Itu palsu?" tanyaku memastikan.
"Iya, Bu. Ini ada suratnya tidak? Kalau ada 'kan bisa tahu harganya dan di mana belinya," tambah lelaki muda itu. Sambil mengembalikan cincinku.
Tak ingin menanggung malu yang semakin menjadi. Kuputuskan untuk beringsut pergi dari toko ini.
Benar-benar memalukan. Tega sekali Mas Ari membelikan aku barang palsu.
*
Aku pulang ke rumah untuk mencari surat cincin ini. Karena semalam ia tak memberikan surat itu padaku. Jikalaupun ada, pasti ini asli. Dan jika tak ada, memang dia minta di bejek-bejek. Jengkel sekali aku. Awas saja jika Mas Ari berani berbohong.
Kuraih jas yang tergelak di atas sofa. Siapa tahu suratnya ada di sini. Kebetulan juga Mas Ari sedang di kantor. Aku jadi lebih leluasa untuk mencari bukti tentang cincin memalukan itu.
Benar saja, setelah kuraba-raba seluruh saku di jas berwarna hitam pekat tersebut. Tepat di saku sebelah kiri. Ada sesuatu yang mengganjal. Cepat kurogoh dan mengeluarkannya dari dalam sana.
Kotak kecil berwarna merah membuat mataku melotot.
Saat kubuka, isinya semakin membuat mata ini hendak melompat dari pelupuknya.
Lantas kuambil benda itu dan memperhatikannya lama. Cincin berlian? Ini untuk siapa? Kenapa mirip sekali dengan punyaku yang barusan dibilang palsu sama orang-orang.
Astaga! Aku kian tercengang. Melihat nama yang diukir di ring cincin ini. "Marisa." Namanya Marisa? Marisa siapa? Jangan-jangan Mas Ari selingkuh sama Marisa lagi? Lagian tadi dia yang paling antusias mempermalukan aku. Ya Allah, kok aku jadi berprasangka buruk begini.
Argh! Tapi bukti sudah jelas. Mas Ari tega membohongiku.
Aku tak percaya, tapi ini kenyataannya.
Kututup kembali kotak cincin ini. Dan merogoh lagi saku jas yang membuatku dongkol.
Secarik kertas kecil kutemukan. Lantas aku membacanya. Dengan dada naik turun menahan emosi.
Tertera angka lima ratus lima puluh juta di sana. Lengkap dengan biaya ukirnya.
Tanganku mengepal keras. Ingin sekali membogem mulut Mas Ari. Tahan! Tahan!
Aku paling anti dengan yang namanya perselingkuhan. Bagiku lelaki tukang selingkuh itu adalah sampah. Dan pantas untuk dibuang.
Aku mengembalikan dua barang sial*n ini kembali ke tempatnya semula. Agar aku bisa menyelidik lebih dalam.
Sebenarnya niat hati ingin menukar cincin ini. Tapi sayang, di situ tertera namanya. Pasti Mas Ari curiga padaku, jika cincin itu sampai berbeda dari aslinya. Atau ... lebih baik aku ukir saja cincin KW milikku dan menukarnya. Enak saja! Aku dikasih barang palsu. Sedangkan gundiknya ... mendapat berlian berharga fantastis. Harusnya tuh perempuan yang jadi selingkuhannya Mas Ari dapet rongsongkan saja.
Kuulurkan lagi tanganku ke dalam saku. Tentu aku mengambil cincin tersebut beserta suratnya. Lagi pula, ini belum sore. Jadi, Mas Ari masih agak lama pulangnya. Cepat kusambar tas yang tergelak di atas meja rias. Dan memasukan cincin ini ke dalamnya. Aku harus buru-buru pergi ke tempat temanku. Kebetulan ia juga punya usaha tentang aksesoris. Lagian 'kan, cincin yang akan aku tukar 'kan palsu. Jadi, cari tempat pengukiran yang murah saja.
Aku jadi tidak sabar, jika benar Mas Ari selingkuh dengan Marisa. Akan aku buat mereka menyesal telah bermain api di belakangku. Dan juga, akan kupermalukan Marisa dengan cincin palsu yang nanti kutukar ini. Biar tahu rasa dia! Aku juga baru ingat, besok 'kan ada pesta ulang tahun anaknya temanku juga temannya Marisa. Pasti Marisa juga akan datang. Siap-siap besok membalas cibirannya tadi.
Tak ingin membuang-buang waktu. Lantas aku pergi ke tempat temanku. Yang jaraknya lumayan dekat dari sini. Bersiaplah mati kutu kau Marisa!
*
Seperkian menit dari rumahku. Akhirnya aku sampai di toko aksesoris, alias toko emas KW yang menjual berbagai macam rupa keperluan wanita.
"Eh, Nadif. Kamu bisa 'kan? Ukir cincin ini nggak?" tanyaku pada Nadifa, teman semasa kecil dan hingga sekarang kami masih berhubungan baik. Kuangsurkan cincin berlian yang diberikan Mas Ari padaku.
"Apa sih, Vin. Yang temen lu nggak bisa." kelakar Nadif. Jemarinya menggapai cincin yang sedari tadi menggambang di awang. Ia memperhatikan cincin itu sebentar. "ini mau diukir kayak apa, Vin?"
"Tolong ukirin cincin ini, sama seperti nama yang di sini. Terus tolong kasih surat palsu yang sama dengan surat ini." jelasku rinci. Nadif mengangguk paham. Dan lantas kuberikan surat beserta cincin asli yang terukir nama Marisa itu.
"Hah, Marisa?!" mata Nadif sontak membeliak melihat nama yang tertera di sana. Tepat di ring cincin.
"Iya, Dif. Plis tolong aku ya, kerjain tadi apa yang aku minta. Waktunya nggak banyak." kataku was-was. Ya, aku takut jika Mas Ari buru-buru pulang. Meski masih beberapa jam lagi. Namun, inikah rasanya mengambil barang diam-diam. Kalau dibilang maling sih, bukan. Tetapi, apa ya, namanya? Jika mengambil barang tanpa izin. Ah, biarlah, kurasa ini hakku. Enak saja, lelaki bergelar suami itu memberikan berlian mahal kepada orang lain. Sedangkan istrinya dibelikan KW. Sangat keterlaluan bukan! Ingin kupotong saja belalainya itu. Geram.
"Tapi, sebenarnya ada apa, Vin? Kenapa cincin ini namanya Marisa?" tanyanya lagi. Ampun deh, selain bawel, wanita yang usianya sama denganku itu tukang kepo juga.
"Udah deh, Dif. Nanti aku jelasin. Ini menyangkut masa depan rumah tanggaku."
"Iya-iya, tunggu ya, pasti aku buatin semirip mungkin." akhirnya, ia berhenti nyerocos dan mengerjakan keinginanku. "tunggu ya, aku ke belakang dulu." pamitnya kemudian. Yang kubalas dengan anggukan.
*
Kutatap lekat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah satu jam menunggu. Sedari tadi banyak pembeli yang berlalu lalang di depanku. Namun sama sekali tak mengurangi getir di dalam hati. Toko milik Nadif lumayan besar, ia punya lima karyawan. Tadi aku memang sengaja, menyuruh Nadif sendiri yang mengukir cincin itu. Aku percaya, tangannya mampu membuat apa yang aku inginkan.
"Nih udah jadi, bengong aja lu, kesambet demit baru tahu rasa!" lamunanku terbuyar mendengar suara Nadif yang agak cempreng. Gegas kuhampirinya yang sudah berposisi dengan tangan di atas etalase kaca.
"Mana?"
"Nih lihat, mirip banget 'kan? Nadif gitu loh." ia tertawa dengan pedenya.
Tak kuindahkan kata-katanya. Jemariku sibuk mengangkat cincin itu dan memperhatikannya lama.
"Sempurna!" ucapku. Lantas berganti memperhatikan surat yang juga palsu bikinan Nadif. Kuakui, semua memang mirip sekali. Rasain kamu Marisa, pake barang KW. Nggak bakal ikhlas aku, kalau kamu pake sepeserpun uang atau barang pemberian suamiku.
"Jangan lupa bayar!" decih Nadif setengah berteriak.
"Berisik! Ntar gue transfer. Sekarang aku harus buru-buru pulang nih," semua barang-barang penting ini kumasukan dalam tas. Dan lantas membawanya pergi.
"Hati-hati, Vin." terdengar teriakan Nadif sebelum aku masuk ke dalam mobil.
*
Kupercepat laju mobil ini membelah jalanan kota yang lumayan ramai.
Mataku terbelalak saat tiba di pekarangan rumah yang kutempati. Mobil Mas Ari sudah terparkir di sana. Itu artinya Mas Ari sudah pulang. Oh Tuhan, bagaimana ini?
Bersambung
Mataku terbelalak saat sampai di pekarangan rumah yang kutempati. Mobil Mas Ari sudah terparkir di sana. Itu artinya Mas Ari sudah pulang. Oh Tuhan, bagaimana ini?
Cepat kutepis semua kekhawatiran yang berkecamuk di dalam hati. Dan lantas memarkirkan mobil yang kutumpangi di sebelah mobil berwarna hitam pekat milik Mas Ari.
"Nyonya sudah pulang?" aku terperanjat mendengar suara itu. Baru saja pintu mobil setengah terbuka. Pak Slamet, supir mertuaku sudah berada di teras depan. Ia berdiri dan menyambutku dengan senyum hangatnya.
Namun, untuk apa beliau berada di sini? Bukankah dia supir pribadinya Mama mertuaku? Yang rumahnya lumayan agak jauh dari sini.
Belum kujawab pertanyaannya, mataku sibuk celingukan memandangi sekeliling. Siapa tahu Mas Ari di sekitar sini, bisa gawat kalau dia udah pulang, atau ... dia sedang mencari cincin itu. Duh, bisa gagal semua rencanaku.
Kuhampiri Pak Slamet yang masih melebarkan senyumannya ke arahku. Pria paruh baya yang sudah beruban itu memang sangat ramah.
"Eh, iya, Pak. Saya baru pulang. Pak Slamet kok tumben ke sini? Ada apa? Ini 'kan mobil Mas Ari, apa Mas Arinya udah pulang?" tanyaku beruntun seraya mendongak ke arah mobilnya Mas Ari. Tentu saja, sambil menenangkan debar di dada menanti jawaban darinya.
"Oh, Pak Arinya lagi lembur, Nya. Palingan nanti pulangnya malam. Saya tadi diminta buat jadi supir di sini." jelas Pak Slamet. 'ah, syukurlah Mas Ari belum pulang.' batinku lega.
Tapi, tumben sekali Mas Ari meminta supir untuk mengambil alih kemudi mobil kesayangannya. Biasanya 'kan dia suka nyetir sendiri. Begitu pula denganku. Meski aku sering bepergian, tapi aku lebih suka membawa mobil sendiri. Ketimbang harus ada supir. Sepertinya ada yang tidak beres dengan sikap Mas Ari yang tiba-tiba berubah begini. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan dariku.
"Oh ... lembur ya, tumben ya, Pak. Suami saya minta Pak Slamet buat nyupirin mobilnya, biasanya kan dia suka nyupir sendiri." lanjut kulontarkan pertanyaan berikutnya.
"Saya, tadi kebetulan nganterin Bu Mely ke kantornya Pak Ari. Terus, tiba-tiba Pak Ari nyuruh saya bawa mobilnya pulang. Karena katanya nanti ada lembur." dahiku mendadak mengeryit mendengar penuturan Pak Slamet. Pasalnya, tadi ia mengantarkan wanita yang disebutnya Bu Mely. Wanita yang tak lain adalah mertuaku itu untuk apa berada di kantor Mas Ari. Fix, semakin aneh saja kelakuan Mas Ari dan ibunya. Aku merasa ada yang janggal dan perlu diselidiki lebih dalam lagi.
"Bu Mely ada urusan apa, Pak? Tumben ke kantor Mas Ari?" tanyaku sedikit menekan. Semoga ada jawaban yang bisa menjabarkan semua kecurigaanku. Karena setahuku, Mama mertua paling malas bila ke kantor. Ah, semoga saja hanya ingin mengunjungi usaha anaknya. Tidak lebih dari itu.
"Kalau masalah itu, saya kurang tahu, Nya." jelasnya singkat. Kurasa, Pak Slamet memang tidak tahu apa-apa. Lagi pula, Pak Slamet juga biasa hanya berada di parkiran. Nggak pernah masuk ke dalam kantor kalau tidak ada hal yang mendesak.
"Ya, udah, Pak. Saya masuk dulu, Pak Slamet istirahat saja ya, kalau lapar ke dapur aja. Suruh Mbok Darmi bikin makanan atau kopi." tukasku sebelum melenggang masuk ke dalam rumah.
"Iya, Nya."
*
Selepas menutup pintu kamarku dan meletakan kembali surat beserta cincin berlian KW buatan Nadif ke dalam saku jas Mas Ari. Dengan malas kurebahkan tubuh ini di atas kasur. Ternyata, cukup melelahkan juga, menukar cincin palsu untuk wanita simpanan suamiku. Bisa dibilang aku cukup puas. Namun, jika dikatakan sepenuhnya puas. Tentu saja belum. Aku belum tahu siapa wanita yang menjadi tambatan hati suamiku.
Lelaki yang sudah empat tahun seatap denganku. Dengan mudahnya ia membagi perasaannya pada orang lain. Sungguh tak punya hati dia. Aku bukanlah wanita cengeng yang harus pasrah akan keadaan. Jika suamiku selingkuh, minimal ya, keruk semua hartanya. Enak saja, berjuang sama aku. Enaknya sama orang lain. Dasar! Buaya buntung!
Baru saja punggung ini relax dalam nyamannya spring bed empuk ini. Ada sesuatu yang memaksaku untuk bangkit lagi. Baru kuingat, jika gawaiku tertinggal di mobil. Tadi aku lupa memasukannya ke dalam tas. Dengan malas, terpaksa aku harus mengambil benda pipih itu.
Satu persatu undakan anak tangga selesai kuturuni. Dan kini aku sudah tiba di teras depan. Seusai mengambil handphone. Ekor mataku tak sengaja menangkap sesuatu yang menyala di atas meja kaca teras. Kuhentikan langkah sekejap lalu mendekat. Ponsel Pak Slamet menyala, nampaklah pesan dari seseorang bernama Pak Ari di aplikasi hijau. Sepintas kubaca notifikasinya, pesan itu berbunyi.
[Pak Slamet, nanti jemput saya di mall Plaza ya,] itulah isi pesan dari notifikasi tersebut. Aku yakin, itu jelas-jelas Mas Ari yang WA. Ngapain dia di mall. Bukankah dia bilang akan lembur?
Aku harus menyusulnya ke mall juga.
"Nyonya sedang apa?" aku tersentak mendengar suara itu. Ya, itu suara Pak Slamet dari arah garasi. Apa Pak Slamet tahu? Bahwa aku sedang melihat ponselnya?
"Saya hanya kebetulan lewat kok, Pak." tukasku cepat. Lelaki berbaju biru itu pun lantas mendekat dan menyambar ponselnya. Terlihat sekali gelagatnya yang aneh. Raut wajahnya seperti agak cemas.
Pak Slamet tak menjawab. Ia menundukan wajahnya dan enggan melihat ke arahku.
"Oya, Pak. Nanti saya mau ke luar, ada acara sama teman-teman arisan saya. Tolong Pak Slamet jaga rumah ya," tambahku. Tentu saja, aku akan ke luar untuk menyusul Mas Ari di tempat itu.
"Pak Ari bilang, kalau Nyonya Vina mau pergi harus saya yang antar. Tadi Pak Ari pesan seperti itu ke saya." Apa? Mas Ari benar-menjengkelkan. Keterlaluan sekali dia, menyuruh supir agar membatasi gerak-gerikku. Aku tidak bisa tinggal diam. Enak saja aku harus dikekang begini. Sedangkan dia, tengah asyik dengan wanita lain. Pikirku.
Aku harus memikirkan cara untuk membuat Pak Slamet tetap di sini dan tidak mengganggu rencanaku. Tapi, aku harus bagaimana?
Ah, iya. Aku baru ingat, mungkin Pak Slamet perlu diberi obat tidur. Agar ia tak mengacaukan semuanya.
Bagaimana jika obat tidur dalam secangkir kopi?
*
"Ya, udah, Pak. Saya masuk dulu," pamitku pada Pak Slamet dengan senyum simpul.
"Iya, Nya." jawabnya dengan anggukan pelan.
Aku pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur. Rencanaku membuat kopi yang akan kuberi obat tidur untuk Pak Slamet.
Kuraih cangkir berwarna putih porselen dari rak yang berada di dekat dispenser. Lantas menuang satu saset kopi bubuk yang sudah lengkap dengan gula di dalamnya.
Uap panas dari kopi yang baru saja kutuangi air panas mengepul menguarkan aroma harum yang khas. Namun, siapa sangka jika kopi harum ini nanti akan membuat mata menjadi merasa nyaman dan ingin terpejam beberapa saat.
Kuletakan cangkir tersebut. Lalu mengambil obat tidur yang berada di laci bufet. Gegas kutuang bubuk dalam kapsul obat tidur berwarna gelap yang seukuran ujung jari kelingking tersebut. Tara ... dan jadilah secangkir kopi yang akan menghanyutkan.
'Maaf, ya, Pak Slamet. Saya hanya ingin anda tidak menggagalkan rencana saya,' gumamku dalam hati.
"Mau ke mana, Mbok?!" kebetulan Mbok Darmi melintas ke arah belakang.
"Mau ambil cucian, Nya." balasnya seraya mendekat.
"Oh, Mbok tolong kasih kopi ini ke Pak Slamet ya,"
"Iya, Nya. Siap!" tanpa bertanya lebih rinci. Cangkir beserta nampan ini sudah pindah ke tangan Mbok Darmi. Sejurus kemudian, wanita berusia empat puluh tahun itu sudah melenggang ke arah garasi. Rumahku memang garasi dan teras terhubung pintu yang bisa langsung menuju ke arah luar. Jadi, Mbok Darmi tidak perlu lewat ruang tamu.
Tinggal menunggu Pak Slamet meminum kopi itu dan menyaksikannya tertidur pulas. Setelahnya aku akan pergi menyusul Mas Ari..
Entah dengan siapa dia di mall, apa jangan-jangan sama Mama mertua? Ataukah sama kekasih gelapnya. Ah, jika aku terus memikirkan itu. Lama-lama bisa emosi aku. Tahan, tahan. Lakukan semua dengan cara cantik Vina, jangan gegabah.
Kutarik napas panjang. Dan menghembuskannya ke udara. Menenangkan gejolak yang rasanya semakin merongrong di jiwa.
Kugelengkan kepala dengan mengerjap rapat. Menghalau segala pikiran buruk dalam kepala.
Mataku reflek menyipit. Tatkala melihat siapa yang datang. Mbok Darmi sudah kembali.
"Kopinya sudah saya kasihkan ke Pak Slamet, Non. Katanya enak." cecar Mbok Darmi yang baru saja tiba di depanku. Iyalah kopinya enak, itukan buatan pabrik. Sekalian juga kububuhkan sedikit obat tidur. Biar nggak merecoki urusanku. Tapi, nanti jika Mas Ari marah karena Pak Slamet nggak menjemputnya. Gimana ya? Kok aku jadi ngerasa bersalah gini.
Duh, perasaanku mendadak kalut. Ah udahlah, mendingan aku pikirin nanti saja. Semoga Pak Slamet nanti bangung tepat waktu. Tapi setelah aku selesai mengorek apa pun tentang Mas Ari.
Aku kembali ke kamar untuk mengambil masker dan jaket. Agar Mas Ari tak mengenaliku nanti jika aku menguntitinya.
*
Napas ini mengunus lega saat melihat Pak Slamet sudah terkulai di lantai. Seperti yang kuperkirakan, ia tertidur pulas setelah meminum kopi buatanku.
Kututup pintu rumah dan beringsut pergi ke mall Plaza. Tak lupa mengenakan masker juga jaket boomber yang sudah kupersiapkan tadi.
Kulirik jam tangan sekilas. Angka baru menunjukan pukul lima sore. Semoga Mas Ari masih di tempat itu.
Mobil yang kukendarai dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Beradu dengan bising suara kendaraan lain. Jalannya lumayan ramai, pasti sebentar lagi akan macet karena memasuki waktu pulang kerja.
*
Sekitar setengah jam. Aku sampai di parkiran mall plaza. Langkah ini kian terpacu cepat. Agar sampai pada tempat tujuanku. Yaitu mencari keberadaan Mas Ari.
Kusapu pandangan ke seluruh penjuru mall. Belum kutemukan sosoknya.
Lamat-lamat kaki ini melangkah. Menyusuri setiap toko yang menjual berbagai macam barang. Belum juga kudapati batang hidungnya.
Kemana sih dia? Agak susah juga nyari satu lelaki di tempat umum begini. Rutukku dalam hati.
Akhirnya kuputuskan untuk ke lantai atas. Setelah menaiki eskalator. Mataku tertuju pada jajaran toko yang menjual mukena di seberang sana. Lelaki yang kucari ada di sana. Ngapain Mas Ari di toko mukena?
Eh tunggu!
Itukan mamanya Mas Ari. Apa Mas Ari sengaja ngajak Mama buat beli mukena. Karena sebentar lagi akan memasuki bulan ramadhan.
Kalau begitu, syukurlah. Kecurigaanku tidak terbukti. Tapi soal cincin bernama Marisa itu bagaimana? Ah, rumit sekali masalah ini.
Kucoba untuk mendekat. Namun sasaranku toko di sebelahnya. Toko baju muslimah itu akan kujadikan tempat menguping dan berpura-pura membeli baju.
"Ma, kira-kira mukenanya pilih yang mana ya?" tanya Mas Ari pada mamanya. Dia tidak tahu kalau istrinya sedang di dekatnya.
"Pilih yang paling bagus dan mahal dong." kata Mama disela aktivitasnya membolak balik kain putih berenda itu.
"Mas ...." munculah wanita dari tempat ganti baju. Siapa dia? Kenapa memanggil suamiku dengan sebutan Mas.
Bersambung
Wanita itu mengenakan kebaya berwarna pink salmon dan jilbab yang menutupi bagian dadanya.
Hatiku mendadak nyeri melihat pemandangan ini. Apakah dia wanita selingkuh suamiku? Parasnya yang cantik dan terlihat kalem mana mungkin mau merebut suami orang. Ah, jaman sekarang. Apa saja bisa dilakukan, tak perduli penampilannya seperti apa.
Aku menghela napas panjang. Sebah di dada tak kunjung mereda. Lutut pun terasa melemas dan tak mampu menopang tubuhku. Kucengkram baju gamis yang tergantung di depanku. Tahan Vina, jangan menangis. Air matamu terlalu mahal untuk menangisi lelaki tak punya malu seperti Ari.
Mas Ari dan Mama kompak menoleh ke arah wanita itu.
"Nah itu, Marisa udah dateng." ucap Mama mertua sumringah. Oh, jadi itu yang namanya Marisa. Kukira Marisa teman arisanku. Ternyata tidak. Dugaanku salah, dia Marisa ... wanita yang penampilannya tertutup dan bahkan lebih baik dariku. kelihatannya sih begitu, namun entah bagaimana kelakuannya.
"Gimana kebayanya? Pas kan?" kali ini Mas Ari yang berucap. Wanita bernama Marisa itu berdiri di tengah-tengah Mama dan Mas Ari.
"Iya, Mas." jawab Marisa tersenyum malu. Aku yang sedari tadi memantau dari sini merasa muak dan ingin mencabik-cabik ketiganya. Apa salahku? Sehingga aku perlakukan begini. Empat tahun berumah tangga, haruskah terhenti karena wanita itu. Apa sepesialnya dia? Hingga Mas Ari mampu mencabangkan hatinya dan mengkhianati aku. Tak habis pikir aku dengan kelakuan Mas Ari dan mamanya. Bukankah harusnya sebagai orang tua melarang anaknya untuk tidak selingkuh. Namun tidak dengan Mama mertuaku, ia malah sepenuhnya mendukung Mas Ari. Tidakkah mereka memikirkan bagaimana hancurnya perasaanku.
"Cocok banget ya, kebayanya. Pas banget di badan kamu, pasti nanti pas ijab kabul makin cantik deh kamu," Mama memuji Marisa sambil membenarkan lipatan yang terselip di baju kebaya Marisa.
Percayalah, di sini aku hampir meledak mendengar perbincangan mereka. Mas Ari akan menikah dengan Marisa. Tanpa memberitahuku lebih dulu. Aku tidak terima, Mas! kamu perlakukan begini. Tunggu saja di hari bahagiamu. Akan aku hancurkan semuanya.
"Marisa, kamu pengen mukena yang mana? Buat seserahan." tanya Mas Ari sambil mengedarkan pandangan ke penjuru toko. Ia melihat-lihat mukena yang terpasang di patung manekin.
"Yang mana aja, Mas. Yang penting sederhana." balas Marisa.
"Bagaimana jika yang itu ...." telunjuk Mas Ari menunjuk ke arah mukena berwarna putih dengan renda cantik di setiap ujung kainnya.
"Iya, Mas. Ya udah, aku ganti baju dulu ya," pamit Marisa lalu melenggang ke ruang ganti.
Mas Ari dan Mama membalas dengan anggukan.
"Eh, Ari. Gimana soal si Vina? Kamu jadi 'kan ceraiin dia?" seloroh Mama bagai sembilu menusuk hati hingga tembus ke punggung.
Mas Ari mau menceraikan aku? Apa aku salah dengar?
Enggak! Ini nggak mungkin!
"Mbak mau ambil bajunya yang mana?" aku tersentak mendengar suara asing yang masuk ke gendang telingaku. Dan itu membuat Mama dan Mas Ari menoleh ke arah sini.
Gawat jika aku sampai ketahuan.
"Yang ini, Mbak." jawabku cepat seraya mengambil satu potong baju lengan panjang berwarna pink muda. Dan menyerahkannya pada pegawai toko yang barusan menanyaiku.
Sekilas kulirik ke arah Mas Ari dan Mama. Kedua orang itu sudah tak melihat ke arahku lagi. Untung aja aku pake masker dan jaket. Jadi mereka tidak mengenali aku.
Kuikuti langkah pegawai toko menuju meja kasir dan segera membayarnya. Kuhela napas gusar. Berbagai pertanyaan mengelilingi kepalaku. Apa alasan Mas Ari mau menceraikan aku? Tidakkah selama ini aku selalu memberikan yang terbaik untuknya. Bahkan soal anak ... dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia selalu bilang, bahwa belum memiliki anak tidak masalah. Karena Tuhan belum mempercayainya kepada kami. Tapi nyatanya, semua itu bulshit! Entah dia menikah dengan wanita berjilbab itu karena napsu atau karena ada hal lain. Dan Mama juga mendukungnya. Ah, benar-benar baik sekali permainan mereka.
Inginnya aku langsung menghampiri mereka dan membuat perhitungan. Namun, kupikir lagi lebih rinci. Terlalu biasa jika mempermalukan mereka di tempat ini. Kenapa tidak aku permalukan mereka di hari pernikahan Mas Ari dengan Marisa nanti. Mungkin akan lebih seru dan elegant. Tidak perlu membuang-buang tenaga dengan kekerasan. Lebih baik pakai cara cantik saja.
Pakaian yang kubeli selesai dibungkus. Kuayunkan langkah hendak ke luar dari toko. Lagi, pemandangan tak mengenakan mata kembali hadir. Marisa sudah berkumpul lagi bersama Mama dan Mas Ari. Terlihat Mas Ari yang amat antusias membayar beberapa potong gamis panjang dan mukena, tak lupa satu set kebaya yang tadi dicoba oleh Marisa.
Mungkin Mas Ari akan segera pulang. Jadi aku harus buru-buru pergi dari tempat ini. Ah iya, aku juga baru ingat soal Pak Slamet. Kira-kira dia sudah sadar belum ya? Atau masih tertidur pulas berkat obat yang kububuhkan dalam kopinya.
"Mas, apakah kau sudah membicarakan semua ini dengan Vina?" langkahku yang baru terayun di udara lantas berhenti mendengar ucapan Marisa. Kulipirkan tubuh dan bersembunyi di balik patung manekin agak jauh dari mereka bertiga.
"Belum, aku masih belum mendapatkan alasan yang pas untuk mengatakan hal ini pada Vina. Kamu sabar dulu ya, yang penting kita nikah dulu setelah itu aku akan menceraikan Vina." kata Mas Ari menatap wanita itu yakin. Dasar buaya! Cuma mau enaknya saja. Masa iya, punya istri dua. Jangan harap aku mau kau madu Mas, jangan harap hal itu terjadi pada hubungan kita. Prinsipku adalah, lebih baik melepaskan daripada harus menyakitkan.
"Sudahlah, Ari. Tinggal kasih surat itu pada Vina selesailah semua masalah kamu, dan jangan lupa satu hal. Ambil semua harta yang seharusnya jadi milik kamu, si Vina gampang, tinggal kasih dia uang buat pulang ke rumah orang tuannya. Mudahkan semua," celetuk Mama panjang lebar. Terpampang sekali wajahnya tersenyum miring. Bagiku ini adalah sebuah ejekan. Ternyata Mama juga ingin aku pergi dari rumah yang selama ini aku dan Mas Ari bangun berdua. Apa mereka lupa? Bahwa semua harta Mas Ari itu berawal dari modal yang orang tuaku berikan. Dengan enteng mereka mencemoohku sesuka hati. Ingat, aku tak akan tinggal diam dengan apa yang kalian lakukan padaku. Cepat atau lambat, apa yang kalian tanam, secepatnya akan kalian tuai.
"Ma, aku nggak mungkin kasih tahu surat itu sama Vina, gimana perasaan dia Ma? Kalau tahu kenyataan pahit itu." wajah Mas Ari berubah cemas. Surat apa yang mereka maksud? Apa itu menyangkut tentangku? Menjengkelkan sekali! Aku hampir mati penasaran di sini. Menguping pembicaraan mereka yang banyak ambigunya.
Kuatur napas berulang kali. Aku harus sabar menghadapi tikus-tikus itu.
"Memangnya surat apa, Mas?" Marisa menyahut. Mimik wajahnya menyiratkan keingintahuan yang kentara.
"Surat bahwa Vina, Man--"
"Stop, Ma!" sergah Mas Ari lantang. Ia menghentikan kalimat yang diucapkan Mama.
Air muka Mama mendadak keruh. Wajahnya yang kian mengekeriput karena usia pun terlihat masam. Sedangkan Marisa juga menunduk diam. Ketiga orang itu mendadak senyap. Tak ada lagi obrolan manis seperti tadi.
"Kalian mau langsung pulang apa makan dulu?" tanya Mas Ari pada kedua wanita di sisinya. Meski wajahnya masih nampak meredam emosi tapi ia tetap berkata datar.
"Mau makan dulu aja deh, Ar. Mama lapar dari tadi muter-muter mall." tanpa sepotong kata. Mas Ari meraih paper bag berisi belanjaannya tadi dan membawa barang-barang itu menjauh dari toko.
Tak ingin membuang waktu. Langkah kupercepat untuk segera pulang ke rumah. Aku jadi kepikiran soal surat yang dimaksud mereka. Sebegitu pentingnyakah surat itu? Hingga bisa membuatku hancur.
*
Langit sudah berubah gelap. Gugusan bintang bertaburan indah di atas sana. Setengah jam lebih aku berkendara. Kini mobil yang kutumpangi sudah sampai di pekarangan rumah.
Jariku memencet remote control agar pagar rumah segera terbuka. Mataku reflek melebar saat menatap ke arah teras. Pak Slamet sudah tidak ada di sana. Di tempat ia tadi tertidur. Ke mana dia?
Bersambung