***
Marina memarkirkan mobilnya dengan hati-hati di tempat parkir sebuah restoran. Setelah mematikan mesin dan melepas seatbelt, ia meraih tas branded-nya yang terletak di kursi kosong di samping, serta sebuah map berwarna kuning muda.
Dengan langkah hati-hati, Marina turun dari mobil dan menutup pintu dengan rapat sebelum mengunci kendaraannya dengan otomatis. Wanita berusia 27 tahun dengan paras cantik sempurna itu berdiri sejenak di samping mobil, menatap ke arah restoran.
Penampilannya terlihat formal dan khas kantoran, menunjukkan bahwa kunjungannya ke restoran ini adalah untuk pertemuan dengan salah satu kliennya.
Dengan langkah mantap, Marina melangkah menuju pintu restoran. Saat memasuki restoran, dia melihat suasana yang ramai oleh pengunjung. Tidak mengherankan, karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktu yang tepat bagi orang-orang untuk menyantap makan siang. Marina merasakan kehangatan dan kesibukan dari restoran yang dipenuhi dengan aroma makanan lezat dan tawa para pengunjung.
Saat Marina melangkah menuju ruang VIP tempat dia bertemu dengan kliennya, tiba-tiba dia tidak sengaja melihat dua orang yang sangat dikenal baginya.
Langkah kaki Marina refleks terhenti saat dia menatap fokus pada kedua sosok yang duduk semeja, saling melempar senyum satu sama lain.
Dengan perasaan berdebar, Marina memutuskan untuk berbelok arah menuju meja mereka. "Luke, Vamela?" Serunya, menyebut kedua nama orang itu.
Pria tampan bernama Luke Vaken segera menoleh dan menatap Marina dengan ekspresi terkejut. Begitu pula dengan wanita yang duduk bersamanya, Vamela, yang juga terlihat terkejut.
"Honey?" Luke terdengar gelagapan. Dia melirik ke arah Vamela, yang terlihat gugup sambil menggigit bibirnya. Luke bangkit dari duduknya, menelan saliva dengan kasar. Dadanya berdebar sangat kencang.
"Kalian ... sedang apa di sini?" Tanya Marina sambil menatap bergantian antara Luke tunangannya dan Vamela sahabatnya. "Makan siang bersama?" Lanjutnya bertanya, mencoba mencari penjelasan dari situasi yang sedang terjadi.
Vamela segera bangkit dari duduknya, hendak mengatakan sesuatu namun sudah keduluan oleh Luke. "Honey... tolong jangan salah paham dulu. Aku dan Vamela disini ... kami memiliki pertemuan seputar pekerjaan," jelaskan Luke dengan cemas.
Marina terdiam dengan ekspresi dingin. Menarik pandangannya dari Luke, dia melirik Vamela. "Benarkah seperti itu, Mel?" Tanyanya pada sahabatnya.
Dengan perasaan berdebar, Vamela mengangguk, gerakannya terlihat kaku. Dia memaksakan senyum, berusaha menutupi rasa gugup dan kaget yang sama-sama dirasakannya. "Benar, Marina. Aku dan Luke bertemu di sini untuk rapat. Atasanku berhalangan hadir, jadi aku diminta untuk mewakilkan pertemuannya dengan Luke. Tadinya aku tidak tahu bahwa klien bosku adalah Luke," terang Vamela, sejenak melirik cemas pada Luke.
Marina terdiam sejenak, memperhatikan Luke dan Vamela. 'Tidak mungkin. Mereka tidak mungkin menjalin hubungan di belakangku,' bisik Marina dalam hati, mencoba untuk memproses informasi yang baru saja dia dengar. Suasana di antara mereka terasa tegang, dengan ketegangan yang terasa di udara antara ketiga orang tersebut.
"Honey... apa yang dikatakan oleh Vamela adalah yang sebenarnya. Kami bertemu untuk rapat dan ... sama sekali tidak disengaja. Aku pun tidak tahu bahwa yang akan bertemu denganku adalah Vamela," ujar Luke, mencoba membantu Vamela meyakinkan Marina. Dia melirik sebentar pada Vamela, menemukan tatapan nanar wanita itu, namun dia memilih untuk mengabaikan dan fokus pada Marina.
Marina menarik napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Dia mengangguk pelan sambil mengulas senyum. "Baiklah. Aku percaya, kalian tidak mungkin menjalin hubungan diam-diam di belakangku," ucapnya, sambil menatap keduanya bergantian dengan senyum di wajah cantiknya.
Vamela menelan saliva dengan kasar, sembari mengangguk pelan dengan gerakan kaku. Senyumnya pun terlihat kaku. "Iya ... iya, mana mungkin kami melakukan itu di belakangmu. Mustahil, Marina," ucapnya dengan suara yang terputus-putus.
"Ya sudah kalau begitu, kalian lanjutkan saja," ujar Marina, mencoba mengakhiri ketegangan di antara mereka.
"Kamu sendiri ingin bertemu dengan siapa di sini?" Tanya Luke kepada Marina.
Marina menatap sang tunangannya dengan serius. "Aku ada pertemuan dengan klien," jawabnya dengan tegas.
"Mana orangnya? Apakah sudah datang?" tanya Luke, mengerutkan keningnya, lalu mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Mencari sosok yang akan bertemu dengan kekasihnya.
"Sepertinya sudah. Dia menunggu di ruang VIP," jawab Marina.
"Kalian bertemu di ruang VIP?" Luke menunjukkan ekspresi kebingungan.
"Aku tidak pernah melakukan meeting di tempat terbuka, Luke. Aku tidak terbiasa," terang Marina. Luke mengangguk paham.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kamu selesai meeting," ujar Luke.
"Tidak perlu, sepertinya agak lama. Dan setelah meeting, aku harus segera kembali ke kantor," jelas Marina, melirik sebentar pada Vamela yang tampak menghindari kontak mata dengan dirinya.
"Kamu lanjutkan saja dengan Vamela. Kalau sudah selesai, kamu bisa sekalian antar dia. Soalnya tadi aku tidak melihat mobilnya di tempat parkir," tambah Marina.
Deg!
Seketika tubuh Luke menegang kaku, tidak jauh berbeda dengan Vamela. Dada wanita itu semakin berdebar kencang. Suasana kembali tegang, dengan kegelisahan yang terpancar jelas dari ekspresi Luke dan Vamela.
"Aku pergi dulu, ya," pamit Marina pada mereka.
"Marina-," Vamela meraih tangan kanan Marina. Wanita itu berhenti dan menatap serius padanya. "Tolong jangan berpikir yang macam-macam tentang aku dan Luke. Kami ... tidak ada hubungan apa-apa. Pertemuan ini murni bisnis," jelaskan Vamela dengan raut wajah memelas.
Marina menghela napas. "Kamu tenang saja. Aku percaya kalian tidak mungkin sejahat itu padaku," ucapnya sambil tersenyum. Setelah melirik sebentar pada sang tunangannya, Marina melanjutkan, "Ya sudah, aku harus segera bertemu kliennya. Aku sudah terlambat beberapa menit. Kalian lanjutkan saja."
Setelah Vamela melepaskan cengkraman lembut pada lengannya, Marina melangkah menjauh dari mereka, menuju ruang VIP tempat pertemuannya dengan klien.
Luke memiringkan posisi tubuhnya untuk melihat punggung sempit Marina yang semakin menjauh. Kemudian, dia beralih menatap Vamela yang terduduk lemas di kursi.
Menghela napas, Luke turut mendudukkan tubuhnya. "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," ucapnya sambil menatap serius pada Vamela. Suasana yang tegang mulai mereda sedikit, namun kekhawatiran masih terpancar jelas dari wajah keduanya.
Vamela menggelengkan kepala sambil meraih tas di sisi meja, memasukkan ponsel ke dalam tas. Dia menatap Luke, "Aku mau pulang saja. Kamu tidak usah mengantarku," ujarnya lalu dengan segera bangkit dari duduknya dan menjauh dari meja.
"Vamela, tunggu!" Sentak Luke menahan tangan kanan Vamela, membuat wanita itu menghentikan langkah dan mendongak padanya dengan raut wajah cemas.
"Lepaskan aku, Luke! Jangan sampai Marina melihat kita!" ujarnya dengan suara tertahan, tidak ingin menarik perhatian para pengunjung lain di sana.
"Aku antar kamu. Kamu datang ke sini bersamaku, artinya kamu harus pulang bersamaku juga," tegas Luke, membuat Vamela terdiam pasrah. Mereka berdua kemudian keluar dari restoran menuju mobil Luke yang terparkir agak jauh dari posisi mobil Marina.
Luke dan Vamela pergi bersama-sama. Tujuan mereka adalah apartemen Vamela, sesuai keinginan wanita tersebut sebelumnya.
Selama satu tahun, Luke dan Vamela menjalin hubungan diam-diam di belakang Marina, tunangan Luke.
Luke adalah putra dari salah satu rekan bisnis Charles, ayah Marina. Sekitar dua tahun lalu, Charles memperkenalkan putrinya dengan Luke dan berharap mereka bisa menjalin hubungan serius.
Seiring berjalannya waktu, Marina dan Luke memutuskan untuk menjalin hubungan seperti yang diharapkan oleh orang tua mereka masing-masing.
Dulu, Marina sering mengajak Vamela ketika bertemu dengan Luke, sementara di sisi lain hubungan Marina dan Luke terkesan dingin. Tidak ada kehangatan di dalamnya, namun Luke tetap ingin melanjutkan hubungan dengan gadis itu karena perusahaannya menjalin kerjasama dengan perusahaan keluarga Marina.
Setiap kali Luke bertemu Marina, Vamela selalu berada di tengah-tengah mereka, membuat Luke berpaling dari Marina. Ia tertarik oleh pesona Vamela hingga keduanya pun menjalin hubungan di belakang Marina setelah wanita itu bertunangan dengan Luke setahun yang lalu.
***
***
Saat meeting bersama kliennya tadi, Marina sulit untuk fokus karena pikirannya terus bergelut tentang Luke dan Vamela. Ketidaksengajaannya bertemu dengan mereka di restoran yang sama membuat Marina curiga mengenai kedekatan mereka.
Apalagi ketika Marina melihat keduanya saling bertatapan dan melemparkan senyum, hati Marina semakin gelisah. 'Rasanya tidak mungkin mereka membahas pekerjaan dengan tawa lepas seperti itu,' bisik Marina dalam hatinya ketika mengingat kejadian tadi.
Pikiran Marina menjadi kacau karena prasangka buruknya terhadap Luke dan Vamela. Namun, untungnya Marina dapat bersikap profesional saat meeting dengan klien sehingga pertemuan berjalan lancar seperti yang diharapkan oleh kedua belah pihak.
Setelah selesai meeting, Marina langsung meninggalkan restoran. Dia tidak menemukan keberadaan Luke dan Vamela di sana, yakin bahwa mereka pasti sudah pergi.
Kembali ke kantor karena jarum jam baru menunjukkan pukul 2 siang saat Marina meninggalkan restoran. Meskipun sebenarnya Marina sudah tidak bersemangat lagi, dia memutuskan untuk melanjutkan sisa pekerjaannya dengan profesionalisme. Meski pikirannya melayang ke kecurigaan tentang Luke dan Vamela, Marina tetap fokus pada tugasnya serta tanggung jawabnya sebagai Manajer keuangan (Chief Financial Officer/CFO) di perusahaan keluarganya.
***
Beberapa saat kemudian, di Addison Corporation...
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Marina terlonjak kaget di kursi kerjanya. Sebelum mengizinkan masuk, Marina mengangkat pandangannya ke arah pintu.
"Masuk," ucapnya memberi perintah kepada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Pintu dengan segera terbuka lebar. Marina melihat sosok kakak keduanya, Axel, memasuki ruang kerjanya.
"Bagaimana hasil meeting tadi?" tanya Axel setelah duduk di salah satu kursi di depan meja kerja Marina.
Marina menatap sejenak kakaknya sebelum meraih map pertama di atas tumpukan map lain di samping laptop. Ia menyodorkan map tersebut pada Axel.
"Pertemuan berjalan lancar, hasilnya sesuai harapan kita. Semuanya sudah terdokumentasi di sini, kamu tinggal memeriksanya saja," jawab Marina dengan tegas.
Axel melirik Marina sebentar sebelum membuka map tersebut. Setelah membaca dengan seksama, ia melipat berkas tersebut dengan rapi. "Baiklah, akan aku periksa nanti," gumam Axel.
Marina diam, tidak memberikan respon apapun. Axel kemudian menatap fokus pada adiknya. "Aku dan Clarissa berangkat nanti malam. Kamu bagaimana? Tetap pada keputusanmu?" tanya Axel.
Marina menghela napas pendek, "Ya," jawabnya singkat.
"Nicolas dan Nicola pasti sangat kecewa," gumam Axel sambil bersiap untuk berdiri dari kursinya.
"Aku akan menghubungi mereka nanti. Aku akan kirim hadiah terbaik untuk mereka berdua," ujar Marina, membuat gerakan Axel terhenti dan menatap serius padanya.
"Mereka tidak pernah bahagia menerima itu semua. Mereka hanya ingin bibinya ikut merayakan ulang tahunnya, Marina," ungkap Axel.
"Maafkan aku... aku tidak bisa ikut, Xel" Marina bergumam pelan, membuat Axel mendesah kasar.
Pria beranak tiga itu langsung berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruang kerja Marina sambil membawa berkas yang diserahkan sebelumnya oleh wanita itu.
Marina menatap nanar pintu ruangan yang ditutup agak kasar oleh Axel tadi. Dia paham bahwa pria itu pasti kesal dan kecewa padanya karena, lagi-lagi, dia menolak untuk ikut merayakan pesta ulang tahun keponakannya yang dilangsungkan di Wellington.
Selama tiga tahun berturut-turut, keponakan kembar Marina merayakan ulang tahun mereka di Wellington, kota asal kakak iparnya, Clarissa. Namun, Marina tidak pernah ikut merayakan pesta tersebut karena alasan tertentu.
Marina menolak pergi ke sana karena dia tidak ingin bertemu dengan seseorang yang telah mematahkan hatinya dan menghancurkan harga dirinya. Pria itu adalah Willem Roberto, yang masih merupakan keluarga dekat dengan kakak iparnya.
Enam tahun yang lalu, Marina menjalin hubungan asmara pertamanya dengan Willem. Mereka saling mencintai hingga Marina memutuskan untuk menyerahkan segalanya kepada Willem.
Namun, Willem tiba-tiba meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh Axel, kakaknya.
Keputusan Marina untuk tidak bertemu dengan Willem di acara ulang tahun keponakannya merupakan langkah untuk melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit yang mungkin kembali muncul.
Kenangan buruk dari hubungan masa lalunya masih membekas dalam hati Marina, membuatnya enggan untuk menghadapi situasi yang membuatnya merasa tidak nyaman.
***
Flashback 6 tahun yang lalu...
"Akhhh! Sakit, Will..." rintih seorang wanita muda berusia 20 tahun. Tubuh polosnya diliputi oleh keringat, sementara di atasnya seorang lelaki berusia 23 tahun menatapnya dengan tatapan sayu penuh gairah.
"Tahan sebentar... sedikit lagi masuk," bisik sang lelaki. Dia adalah Willem Roberto, dan sang kekasih Marina.
Keduanya baru satu bulan ini resmi berpacaran setelah sekian lama saling memendam perasaan.
"Sakit... rasanya perih, Will. Aku tidak kuat," rintih Marina sambil mencengkram dengan kuat bahu kekar lelaki gagah itu.
Dengan napas terengah-engah, Willem menggeleng pelan sebelum membenamkan wajah di leher Marina. "Kau merintih seperti itu membuat aku tidak tahan, kau tahu?" bisiknya dengan suara serak.
"Batalkan saja ya, sakit sekali rasanya, Will. Sungguh, aku tidak berbohong," lirih Marina dengan suara bergetar. Selaput darah keperawanannya belum berhasil ditembus oleh Willem sejak tadi. Ditambah lagi, ukuran keperkasaan Willem yang sangat besar membuat Marina merasa tertekan.
Willem mengangkat wajah Marina dan menopang bobot tubuhnya menggunakan satu tangan. Tangan yang bebas diarahkan ke dada Marina, meraih payudara ranum sang gadis kemudian meremasnya dengan lembut.
"Uhhh..." desah Marina tidak tahan. Di tengah rasa perih pada area Miss V-nya, tubuhnya juga merinding oleh remasan lembut Willem di salah satu payudaranya.
Willem mengamati wajah sayu Marina dan menggoda gadis itu, memanfaatkan kesempatan ketika Marina terlena oleh sentuhan lembutnya. Willem mendorong pinggulnya lalu menghentak kuat hingga seluruh bagian keperkasaannya tertelan oleh inti tubuh Marina yang sempit dan hangat.
"Aahhhh..!" Desah Marina bergetar sambil refleks mencakar punggung mulus Willem dengan kuku panjangnya. Tidak peduli jika lelaki itu terluka oleh aksinya.
Wajah Marina mendongak ke langit-langit, kedua matanya tertutup rapat, ekspresinya jelas menunjukkan rasa sakit yang teramat sangat.
"Arggh, fvck!" Desah Willem sambil mengumpat merasakan tekanan yang kuat dari otot-otot intim Marina.
Willem merendahkan punggungnya dan kembali membenamkan wajah di leher Marina. Ia berbisik di sisi telinga gadis itu, "Terima kasih," kemudian mengecup lembut telinga Marina sebelum turun ke leher dan menghisap kulit putih mulus dengan kuat.
Sementara tangan lebarnya menangkup penuh payudara Marina, Willem meremas dengan lembut namun sedikit kasar, lalu memelintir putingnya.
"Ughh..." Marina melenguh sambil mencengkram pergelangan tangan Willem. "Sakit, Will."
"Kamu mendesah barusan," bisik Willem.
Marina menggigit bibirnya menahan senyum yang hendak terbit. Willem segera menegakkan punggungnya, menatap Marina dengan penuh cinta di bawah kendalinya.
"Tapi sakit, jangan terlalu keras... ahhh," ucap Marina. Belum selesai ia berucap, tiba-tiba ia mendesah saat Willem menghentakkan pinggul dengan lembut.
"Ahhh..."
"Sakit?" Tanya Willem sambil memperhatikan raut wajah Marina. Pinggulnya tetap bergoyang, sementara tangannya meremas lembut payudara Marina.
Marina mengangguk lemah. "Perih sedikit," jawabnya.
Willem menurunkan wajahnya lebih dekat, sementara tangan yang meninggalkan payudara Marina menyusup ke balik punggung mulus sang gadis. "Nanti sakitnya akan hilang, bersabarlah sebentar," bisik Willem di depan wajah Marina.
Wajah mereka sangat dekat, deru napas segar dan wangi Willem menerpa wajah mulus Marina.
"Kamu sudah pernah melakukannya?" Tanya Marina.
Willem menggeleng pelan. "Pertama kali sama kamu," jawabnya dengan jujur.
"Terus dari mana kamu tahu kalau sakitnya hanya sebentar?"
"Hanya mendengar dari orang-orang," jawab Willem.
Marina tersenyum di tengah wajah sayunya. "Aku sulit percaya," ucapnya dengan suara pelan. Tubuh polosnya tersentak lembut oleh gerakan pinggul Willem.
"Aku tidak berbohong. Hanya denganmu aku pernah berbuat sejauh ini," jelaskan Willem.
"Kamu pernah ... uhhh, pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain sebelum sama aku?" Tanya Marina.
"Tidak pernah, karena sejak dulu aku hanya tertarik padamu tapi... aku tidak berani mengungkapkannya," jawab Willem.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak berani?" Marina terus melayangkan pertanyaan. Selain dia penasaran dengan jawaban lelaki itu, dia juga suka mendengar suara serak dan berat Willem. Membuatnya berdebar dan ... kian berkedut. Basah dibawah sana.
"Takut kamu menolak. Arghh, fvck!" Desah Willem setelah menjawab, menghentak pinggul agak kasar, membuat Marina refleks mencengkram bahu kekar Willem.
"Uuhhh, Will ... pelan-pelan," pintanya.
"Maafkan aku ... Aahh, Marina! Tubuhmu sangat nikmat. Nikmat sekali. Fvck!" Willem menambah ritme gerakan pinggul.
"Hhmmppttt..." desah Marina saat bibirnya dikulum oleh Willem. Lelaki itu melumat bibirnya atas bawah bergantian.
"Buka paha mu, Baby," bisik Willem di tengah ciuman bibirnya dengan Marina.
Seolah terhipnotis, gadis itu menurut begitu saja dengan melebarkan kedua paha serta kakinya yang ditekuk. Pinggulnya terangkat, membuat Willem semakin mudah menghujam liang kenikmatannya.
"Aahh... aahhh... aahhh, Willem... akhhhh yes!" Tubuhnya bergetar lalu menggelinjang.
Willem mengerang nikmat setelah melepaskan bibir ranum Marina dari kulumannya. Ia merasakan batang keperkasaannya menghangat oleh cairan orgasme sang kekasih.
"Nikmat?" Tanya Willem di sela-sela deru napas memburu.
Marina mengangguk, "Hem... aahhh, aahhh, nikmat, Will."
"Mau lagi?"
Marina mengangguk malu-malu. Detik berikutnya, Willem menambah ritme gerakan pinggul lebih cepat dari sebelumnya, membuat Marina sontak memekik nikmat.
"Sshhh aahhh... Will, I love you..." bisik Marina sambil memandang penuh cinta wajah tampan sang kekasih.
Menelan ludah dengan kasar, Willem membalas dengan dada berdebar, "I love you more, Baby! Aarghh Marina!"
Desahan dan erangan penuh kenikmatan pasangan muda itu terus menggema di udara, memenuhi kamar utama apartemen pribadi milik Willem. Mereka bercinta dengan perasaan menggebu-gebu, saling memuaskan hingga Marina terkulai lemas.
***
Beberapa hari kemudian, setelah percintaan panas Willem dan Marina di apartemen kemarin, pasangan muda itu tidak pernah melakukannya lagi. Sebab setelah itu, tiba-tiba Willem mendapat kabar kurang mengenakan tentang sepupunya Clarissa.
Willem pergi ke Los Angeles karena Clarissa meminta bantuannya. Di sisi lain, Willem tidak memberitahu Marina mengenai kepergiannya.
Rumah tangga Clarissa bermasalah pada saat itu. Wanita itu dikhianati oleh suaminya, Axel, yang tidak lain adalah kakak kandung Marina. Clarissa meminta bantuan Willem untuk membawanya pergi dari rumah.
Setelah mengetahui pengkhianatan Axel terhadap sepupunya, Willem murka terhadap pria itu. Dengan tindakan gegabah, Willem memutuskan hubungan dengan Marina melalui telepon.
"Maaf, Marina, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," kata Willem pada Marina lewat sambungan telepon.
"Kenapa? Kenapa, Will? Apakah karena Axel menyakiti Clarissa, makanya kamu memutuskan hubungan denganku?"
"Aku yakin kamu akan menemukan pria yang lebih baik. Lupakan aku, lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita," ujar Willem dengan kejamnya.
"Setelah kamu mendapatkan semuanya? Kamu tega berkata seperti itu padaku setelah kamu mendapatkan semuanya dariku, Willem?"
"Maafkan aku, Marina."
"Kamu... kamu sungguh jahat. Kamu... adalah pria paling jahat yang pernah aku temui, Willem. Aku benci sama kamu!"
Tutt... tutt... tuttt...
"Will...? Willem?! WILLEM..!" seru Marina setelah panggilan berakhir. Willem memutuskan panggilan sepihak.
Gadis itu merunduk ke lantai, meratap dalam tangis pilu. Marina meremas dadanya, menepuk keras berharap dapat mengusir rasa sesak.
"Kamu jahat, Willem... kamu..." gadis itu sesenggukan. "Aku benci sama kamu. Aku benci..."
Hancur sudah semua mimpi indah Marina bersama lelaki itu. Harga dirinya diinjak habis-habisan oleh lelaki yang sangat ia cintai.
Setelah Willem mengambil sesuatu yang sangat berharga darinya, lelaki itu kini mencampakkan dirinya. Willem meninggalkan Marina hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh kakaknya, Axel.
"Aku tidak tahu apa-apa, Will... kenapa kamu melibatkan aku?" lirih Marina di sela-sela tangis pilu.
Flashback berakhir...
***
***
Marina menghela napas dalam-dalam. Dadanya tiba-tiba terasa sesak saat ingatan akan masa lalu yang kelam kembali menyergapnya, membuat hatinya remuk redam. Ia merasa hancur oleh pria yang pernah menjadi cinta pertama dalam hidupnya. Sampai saat ini, Marina masih belum mampu melupakan sosok lelaki itu.
Meskipun Willem telah mencoba berulang kali untuk menemui Marina, namun Marina tetap kukuh menolak dengan tegas. Dia menegaskan bahwa tidak ingin terlibat lagi dengan mantan kekasihnya tersebut.
Disaat yang sama, Marina juga merasa dilema karena masih terjebak dalam kenangan dan perasaan terhadap lelaki itu.
Penolakan Marina untuk bertemu dengan Willem telah menimbulkan rasa penasaran di kalangan keluarga. Mereka bertanya-tanya mengapa Marina begitu keras menolak hingga keluarga tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi antara Marina dan Willem.
Jika saja Axel dan Mario, kedua kakak laki-laki Marina, mengetahui perlakuan Willem terhadap adik mereka, mungkin keduanya sudah mengambil tindakan tegas terhadap Willem. Mereka mungkin sudah melampiaskan kemarahan mereka pada Willem.
Di sisi lain, alasan Marina menyembunyikan permasalahan tersebut dari keluarganya adalah karena rasa malu, ketakutan, dan keinginan untuk tidak menimbulkan masalah yang lebih rumit. Marina khawatir bahwa jika masalah ini terbongkar, akan berdampak pada rumah tangga kakaknya, Axel, dan Clarissa.
Marina akhirnya memutuskan untuk menutup babak hidupnya dengan Willem. Dia menolak untuk bertemu lagi dengan lelaki itu.
Sehingga, ketika sang Ayah menawarkan perjodohan dengan Luke, Marina dengan cepat menerimanya. Dia berharap bahwa dengan menjalin hubungan baru, dia bisa melupakan Willem.
Namun, harapan Marina tidak berjalan sesuai rencana. Meskipun dia mencoba untuk menerima Luke dan belajar mencintainya, Marina tetap tidak bisa melupakan Willem. Bayangan Willem selalu menghantuinya, membuatnya sulit untuk benar-benar membuka hati pada Luke.
Tak jarang, Marina menangis di malam hari tanpa alasan yang jelas, namun yang pasti air matanya bermuara pada Willem.
Selama ini, Marina menerima banyak surat dari Willem, yang isinya selalu singkat namun penuh makna, "Maafkan aku. Aku mencintaimu, Marina." Meskipun tulisannya singkat, namun kata-kata itu mampu mengguncang perasaan Marina dan membuatnya terus terbayang oleh Willem.
Dari ratusan lembar surat yang diterima Marina dari Willem, kalimat yang terus-menerus diulang adalah "Maafkan aku. Aku mencintaimu, Marina."
Meskipun begitu, makna kalimat tersebut sudah kehilangan arti baginya. Hati Marina telah hancur oleh Willem, seperti habis manis sepah dibuang. Harga dirinya diinjak-injak oleh Willem, menyisakan kekecewaan dan kebencian yang mendalam.
Tentu, Marina merasa sangat kecewa dan membenci Willem atas perlakuan dan pengkhianatannya. Meskipun begitu, apakah Marina benar-benar membenci Willem? Pertanyaan itu sulit dijawab dengan pasti.
Yang jelas, Marina tidak ingin bertemu lagi dengan Willem. Dia menolak untuk melihat wajah tampan lelaki itu, karena tak ingin terjebak lagi dalam pesonanya yang dapat mengulang kisah lama yang menyakitkan.
Marina berusaha keras untuk tidak terlena kembali. Itulah sebabnya dia tega menolak undangan untuk merayakan pesta ulang tahun keponakannya di Wellington, demi menjaga jarak dan melindungi dirinya dari kenangan yang menyakitkan itu.
"Hey!" seru seorang pria di ambang pintu yang terbuka.
Marina terlonjak kaget sambil menatap ke arah pintu, "Astaga, Rio, kamu membuat orang kaget saja!" kesal Marina dengan suara ketus pada kakak pertamanya, Mario.
Pria itu tertawa pelan sambil memasuki ruang kerja sang adik, "Habisnya kamu asyik melamun sejak tadi. Aku ketuk pintu tapi tidak direspon," ujar Mario sambil duduk di kursi depan meja kerja Marina. Wanita itu diam sambil memperhatikan kakaknya.
"Melamuni apa?" tanya Mario seraya menatap serius pada sang adik.
Marina menggeleng pelan, "Tidak ada," jawabnya dengan nada yang agak ragu.
Mario terdiam, mengamati wajah cantik adiknya dengan tatapan lekat. Kemudian dia bertanya, "Ada masalah kerjaan?" Marina kembali menggeleng pelan, "Masalah dengan Luke?" tanya Mario lagi.
"Tidak ada masalah apa-apa, Rio. Aku dan Luke baik-baik saja," jelas Marina.
"Mana mungkin ada orang asik melamun jika tidak ada masalah," ujar Mario sambil tersenyum.
Marina diam sambil menatap kakaknya.
"Kalian bertengkar?" tanya Mario.
Marina mendesah kasar, "Sudah kukatakan aku dan Luke baik-baik saja. Mengapa kamu sulit sekali percaya?" Ia terlihat frustrasi.
Mario mengulum senyum, "Tadi aku melihat Axel keluar dengan wajah masam dari ruang kerjamu. Ada apa dengannya?" tanya Mario.
Marina mengedikkan bahu acuh, "Mungkin dia dimarahi oleh Cla. Dia kan takut sama istrinya, sama seperti kamu takut pada Grace."
"Jangan sembarangan bicara. Kami tidak takut pada istri, hanya menghargai saja, makanya kami selalu mengalah," jelaskan Mario. Sungguh, dia tidak rela jika ada orang yang menganggap dia takut pada istrinya. Meskipun sebenarnya dugaan orang-orang itu tidak sepenuhnya salah. Dia dan Axel memang merasa takut jika istri mereka marah.
Marina mendengus sambil memutar mata dengan malas. Mario terkekeh pelan melihat ekspresi sang adik, "Ayo kita pulang," ajaknya kemudian.
"Aku bawa mobil," beritahu Marina.
"Nanti mobilnya diantar oleh sopir saja. Kita pulang bersama. Aku kesepian kalau sendirian," ujar Mario. Marina menghela napas lalu mengangguk pasrah. Setelah itu, ia segera bersiap-siap membereskan meja kerja dan memasukkan ponsel ke dalam tas. Kemudian, dia dan sang kakak keluar dari ruang kerja dan turun bersama menuju lantai dasar untuk pulang.
***
Beberapa hari kemudian...
Hari ini, Mansion sangat sepi, hanya ada Marina dan para pelayan. Orang tua Marina, kakak, dan kakak iparnya sudah berangkat ke Wellington kemarin karena dalam tiga hari akan merayakan ulang tahun Nicolas dan Nicola di sana.
Sementara Marina tetap pada keputusannya untuk tidak ikut, meskipun sudah dibujuk berulang kali oleh Ibunya, Ayahnya, kakaknya, dan kakak iparnya.
Pagi ini, Marina menikmati sarapan pagi sendirian di meja makan panjang yang biasanya selalu ramai oleh keponakan-keponakannya.
"Permisi, Nona," seorang pelayan menghampiri dan menyapa dengan sopan, "potongan buah segar Anda sudah siap. Saya minta maaf karena lupa menyiapkan sejak awal," tambah sang pelayan.
Marina melirik pada mangkuk potongan buah segar yang disodorkan oleh pelayan. Kemudian, ia beralih pada pelayan tersebut sambil mengulas senyum, "Tidak apa-apa. Terima kasih. Maaf sedikit merepotkanmu." Marina memang seperti Ibunya, Janeeta, sangat baik dan selalu bersikap lembut pada siapa saja, terutama pada para karyawan di kediamannya ini.
Sang pelayan membalas dengan sungkan sebelum segera meninggalkan meja makan, dan Marina pun melanjutkan sarapan paginya. Ia hanya mengkonsumsi potongan buah segar dan segelas air putih seperti biasanya, karena Marina tidak terbiasa sarapan dengan menu yang berat.
Setelah selesai sarapan, Marina segera bersiap pergi ke kantor dengan menggunakan jasa sopir. Entah kenapa, hari ini dia malas menyetir, padahal biasanya selalu melakukan hal itu.
Tak begitu lama setelah perjalanan, Marina tiba di kantor. Ia langsung naik menuju lantai tempat di mana ruang kerjanya berada.
Setelah Marina memulai aktivitasnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata, yang menelepon adalah Luke, sang tunangan.
Marina mengobrol sebentar dengan lelaki itu, sekadar berbasa-basi di pagi hari. Setelah Marina memergoki keberadaan Luke dan Vamela di restoran waktu lalu, hubungan mereka tetap baik-baik saja, karena Marina tidak pernah lagi bertanya kepada Luke mengenai kebersamaan lelaki itu dengan Vamela.
Setelah menghabiskan kurang lebih 10 menit mengobrol dengan tunangannya, Marina akhirnya menyudahi percakapan. Dia memberi alasan kepada Luke bahwa ada beberapa pekerjaan yang harus segera dia tangani karena sebentar lagi dia akan melakukan pertemuan dengan beberapa petinggi perusahaan.
Tentu saja, alasan yang dia sampaikan tersebut hanyalah untuk cepat-cepat menyudahi obrolannya dengan Luke. Marina tidak begitu bersemangat berbicara dengan Luke.
Entah apa alasannya, karena hal ini bukan hanya terjadi sekarang, tetapi sudah sejak dulu. Itulah mengapa hubungannya dengan Luke bisa dikatakan sangat dingin.
Ddrrttt...
Di tengah fokusnya menatap layar laptop yang menyala di depan wajahnya, tiba-tiba ponselnya berdering, membuatnya terlonjak kaget. Marina mengalihkan pandangannya dari layar komputer ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja.
Marina mengerutkan kening saat melihat nama kontak yang tertera pada layar perangkat canggih tersebut, sambil dengan cepat meraihnya dan membawanya ke depan wajah.
"Nicolas is calling..."
Ternyata yang menghubunginya adalah Nicolas, sang keponakan. Marina mendesah pelan. Dia dapat menebak apa tujuan anak laki-laki itu menghubunginya. Dengan gerakan yang kurang bersemangat, Marina menjawab panggilan dari sang keponakan.
"Ya halo, Nico..." sambut Marina sambil mengulas senyum di bibir.
"Aunty sangat tega kepadaku dan Nicola. Sudah tiga kali aku merayakan pesta ulang tahun, tetapi Aunty tidak pernah mau hadir. Apakah Aunty benci padaku? Atau mungkin aku pernah membuat kesalahan yang membuat Aunty sangat marah padaku?" keluh anak laki-laki itu.
Deg!
Marina tertegun mendengar ungkapan beruntun dari sang keponakan. Ia menelan ludah dengan kasar, sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Nicolas.
"Sayang, kamu jangan salah paham. Aunty tidak marah sama sekali dan kamu tidak pernah melakukan kesalahan apapun yang membuat Aunty marah padamu," ucap Marina dengan lembut.
"Lantas mengapa Aunty tidak mau ikut merayakan pesta ulang tahunku? Setidaknya Aunty bisa melihat aku dan Nicola tersenyum di hari lahir kami. Kalau Aunty tidak bisa menginap, tidak mengapa. Setelah aku selesai tiup lilin, tidak apa-apa jika Aunty langsung pergi, asalkan Aunty hadir dan melihat aku dengan Nicola meniup lilin."
Dada Marina tiba-tiba sesak mendengar ungkapan sang keponakan, membuat kedua matanya sontak berkaca-kaca. Marina membuka bibir hendak mengatakan sesuatu, namun urung karena dia kembali mendengar suara Nicolas.
"Aku dan Nicola tidak membutuhkan hadiah mahal dari Aunty. Kami hanya membutuhkan kehadiranmu di sini. Datanglah, Aunty. Aku mohon."
Marina kemudian menelan ludah, berupaya mengusir rasa sesak yang semakin menghimpit dadanya. "Iya... iya, nanti Aunty datang," suaranya terdengar tercekat di tenggorokannya, sangat sakit seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
"Jangan ingkari janji, Aunty. Aku dan Nicola menunggu kedatanganmu. Kalau kamu tidak datang, maka aku dan Nicola sangat kecewa padamu. Aku akan menganggap ketidakhadiranmu adalah tanda bahwa kamu benci kepada kami," ujar Nicolas, terdengar serius di ujung telepon.
"Ya Tuhan..." desah Marina dalam hati. Marina tidak berprasangka buruk pada keponakannya. Dia percaya bahwa semua ucapan yang dilontarkan oleh Nicolas barusan adalah isi hati anak itu yang sebenarnya.
"Hari ini Aunty akan terbang menuju Wellington. Tunggu Aunty di sana dan doakan Aunty semoga selamat sampai tujuan," janji Marina, yang pada akhirnya dia pun mengalah dan menyampingkan egonya demi kebahagiaan sang keponakan.
"Amen! Aku selalu mendoakanmu, Aunty. Sampai jumpa besok. Love you, I miss you."
"I love you more, boys," balas Marina sebelum menurunkan ponsel dari telinga dan panggilan dengan sang keponakan pun berakhir.
Ia menyimpan ponsel ke atas meja. Air mata mengalir di pipi, Marina mengusapnya dengan lembut. 'Aku sadari bahwa kapanpun waktunya, aku pasti kembali bertemu dengannya.' Bisiknya dalam hati.
***