Bab 1

Yulia Pujiono sedang duduk di kamar hotel mengenakan gaun pengantin putih dan riasan wajah tipis. Hari ini merupakan hari pernikahannya, tetapi si pengantin pria tidak bisa ditemukan di mana pun.

Di tangannya ada dua buah dokumen. Salah satunya adalah formulir persetujuan untuk melakukan inseminasi buatan, dan yang lainnya adalah surat perjanjian kerahasiaan. Dokumen pertama menunjukkan bahwa proses inseminasi akan dilakukan besok.

Pengacara Keluarga Jayendra sedang menunggu Yulia untuk menandatangani dokumen setelah menyerahkannya beberapa saat yang lalu.

Sperma yang akan digunakan untuk menginseminasi Yulia milik Billy Jayendra, pengantin pria dan putra tertua dari Keluarga Jayendra.

Pernikahan mereka akan menjadi pernikahan termegah pada abad ini. Namun, tiga bulan lalu sang mempelai pria terlibat dalam kecelakaan mobil yang mengerikan. Dari kabar yang beredar, dia tidak memiliki banyak waktu tersisa untuk hidup.

"Nona Pujiono, tolong, Anda harus segera menandatangani surat-suratnya," desak si pengacara pada Yulia, jejak ketidaksabaran terlihat di wajahnya.

Keluarga Jayendra adalah salah satu keluarga terkuat di kota ini. Keluarga tersebut sangat menganggap penting kelanjutan garis keturunan mereka, sama seperti kekayaan mereka. Billy adalah seorang bujangan sebelum kecelakaan itu, jadi ayahnya, Sigit, memutuskan untuk mencarikan putranya seorang istri. Sigit-lah yang telah merencanakan semuanya. Sperma milik Billy yang telah dibekukan bertahun-tahun lalu akan dibuahi ke dalam rahim pengantin baru sebelum putranya meninggal.

Alis Yulia berkerut saat dia melihat dokumen-dokumen itu. Kilatan kepanikan yang tak bisa diungkapkan kata-kata muncul di matanya.

"Aku minta maaf. Aku perlu membaca semua klausul yang ada secara menyeluruh. Apa kamu bisa keluar dulu sebentar?"

Pengacara itu sedikit mengernyitkan keningnya sebelum dia mengangguk dan pergi.

Begitu pintu ditutup, Yulia meletakkan surat-surat tersebut dan menghubungi pacarnya.

Ya, dia memiliki seorang kekasih. Akan tetapi, itu merupakan sebuah rahasia besar.

Pacarnya kebetulan adalah Krisna Jayendra, putra kedua dari Sigit yang juga merupakan adik tiri Billy.

Krisna turut serta dalam semuanya. Nyatanya, konspirasi ini adalah idenya!

Sebulan yang lalu, ayah Yulia meninggal setelah tiba-tiba jatuh sakit. Ibu tirinya, Triana Martiono, mengambil alih semua properti dan mengusirnya dari rumah. Dia meninggalkan Yulia tanpa uang sepeser pun dan bahkan mengambil semua barang milik mendiang ibunya.

Karena itulah, Yulia benar-benar kehilangan segalanya dan dalam keadaan terpuruk. Pada saat itulah pacarnya, Krisna, membuat sebuah rencana. Dia memintanya untuk menikahi Billy dan menyabotase rencana inseminasi buatan ketika waktunya tiba. Krisna ingin menjadi satu-satunya pewaris kekayaan keluarganya begitu kakak tirinya meninggal.

Dia berjanji akan menikahi Yulia. Untuk memperlancar kesepakatan itu, dia juga bersumpah untuk membantunya mengambil kembali barang-barang milik ibunya dari Triana yang jahat.

Krisna berusaha membujuk berkali-kali hanya untuk membuat Yulia setuju dengan tawarannya. Namun, sekarang, Yulia mulai berubah pikiran. Rasa bersalah sudah merasuki hati nuraninya. Dia tidak berpikir dia bisa melanjutkan rencana Krisna.

Krisna tidak mengangkat panggilannya bahkan setelah dihubungi berkali-kali. Ini semakin membuat Yulia panik. Dia berjalan mondar-mandir di kamar. Karena putus asa, dia menyelinap keluar untuk mencari keberadaan Krisna.

Hati Yulia rasanya melompat di mulutnya saat dia berjalan menyusuri lorong. Dia takut dia akan menemui seseorang yang mengenalnya di lift, jadi dia melepas sepatu hak tingginya dan menuju ke tangga.

Tepat ketika dia tiba di depan kamar besar terakhir yang ada di ujung koridor, dia menghentikan langkahnya.

Pintu kamar ini sedikit terbuka. Suara tawa manja yang terdengar tidak asing datang dari dalam ruangan tersebut.

"Oh, jangan berhenti, Krisna. Tetaplah bersamaku sedikit lebih lama lagi. Lagi pula, Yulia sudah tidak punya waktu untukmu sekarang."

Hati Yulia seketika dipenuhi kekecewaan. Kakinya seberat besi saat ini. Namun, dia perlahan berjalan mendekat dan mengintip melalui celah pintu yang terbuka.

Seorang pria dan wanita muda berbaring setengah telanjang di atas sofa. Wanita yang melilitkan tubuhnya pada pria itu tidak lain adalah saudara tiri Yulia, Vina. Dan pria yang bersamanya adalah Krisna sendiri!

"Sayang, kamu tahu aku ingin tetap bersamamu, tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang. Aku khawatir Yulia tidak akan melanjutkan rencanaku dan melarikan diri. Aku harus mengawasinya," ucap Krisna sambil mendengus, berusaha mendorong Vina menjauh.

Vina tidak menerima jawaban tidak. Dia menundukkan kepalanya dan memberi Krisna ciuman penuh gairah. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Wanita jalang itu tidak akan melarikan diri. Dia selalu menurut padamu. Ingatlah bahwa kita masih memiliki barang-barang milik ibunya. Dia bersedia melakukan apa saja untuk kembali mendapatkannya."

"Hmm. Apa yang kamu katakan ada benarnya." Mendengar kata-kata ini, Krisna kembali berbaring di sofa. Dia melingkarkan satu tangan di pinggang Vina dan menyelipkan tangan lainnya di bawah gaunnya. "Hahaha! Dia tidak memiliki siapa pun yang bisa diandalkan sejak ayahnya meninggal. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintahku."

"Semuanya tidak akan berjalan semulus ini jika kamu tidak mengotak-atik obat ayahnya," ucap Vina sambil tertawa kecil. Begitu tangan Krisna bergerak di atas tubuhnya, dia mengerang. Tubuhnya gemetar dan meleleh di dalam pelukan pria itu. "Kakakku yang konyol itu mengira kamu akan menikahinya setelah melakukan semua yang kamu minta. Dia tidak tahu bahwa kamulah yang sudah membunuh ayahnya. Kamu pria yang jahat, Krisna."

"Bukankah karena itu kamu mencintaiku?" Tiba-tiba Krisna berbalik dan menekan Vina di bawah tubuhnya sambil menciumnya. "Tidak perlu khawatir, kamu akan menjadi pengantinku ketika semuanya sudah berakhir. Mataku hanya tertuju padamu seorang. Untuk saat ini, izinkan aku menunjukkan betapa jahatnya aku sebenarnya ...."

Detik berikutnya, suara mereka melemah dan digantikan dengan erangan panas.

Kaki Yulia menjadi lemas. Dia terhuyung ke belakang dan memegang dinding untuk mendapatkan dukungan.

Pria kesayangannya, Krisna, ternyata adalah seorang pengkhianat! Yulia sadar bahwa semua cinta dan janji pria itu hanya kebohongan belaka! Pria itu bahkan sudah membunuh ayahnya!

Air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya. Seakan ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya, membuatnya kesulitan untuk bernapas.

Yulia mencengkeram gaun pengantinnya erat-erat. Dia menggertakkan giginya penuh dengan kebencian saat dia mendengarkan erangan yang datang dari kamar itu.

Ternyata kedua orang itu menggunakan dirinya sebagai pion untuk menjalankan rencana mereka yang sebenarnya. Sekarang setelah dia mengetahui kebenarannya, dia memutuskan untuk menghancurkan semua rencana mereka.

Yulia menyeka air matanya dan memakai sepatu hak tingginya lagi. Dengan kepala terangkat tinggi, dia berjalan kembali menuju ke kamarnya. Dia mengambil dokumen-dokumen itu dan tanpa ragu-ragu segera menandatanganinya.

Dia memutuskan untuk benar-benar menikahi Billy dan secara diam-diam berusaha menjatuhkan Krisna dan Vina. Keduanya hanya akan menerima kekecewaan sekarang karena dia selangkah lebih maju dari apa yang mereka rencanakan.

...

Di malam hari, kediaman Keluarga Jayendra terang benderang.

Yulia diantarkan kepala pelayan ke kamar milik Billy, segera setelah pernikahan selesai.

Ini pertama kalinya dia bertemu dengan siapa yang disebut suaminya.

Menurut Krisna, Billy sangat pemarah dan jahat. Krisna menggambarkan kakak tirinya menggunakan semua kata-kata buruk yang bisa dia pikirkan. Dia juga mengatakan bahwa Billy sama jeleknya dengan raksasa.

Sebagai hasilnya, Yulia mengirakan melihat pria dengan wajah buruk rupa terbaring di tempat tidur. Akan tetapi, rahangnya jatuh ketika dia melihat wajah suaminya. Kenyataannya, Billy adalah pria yang tampan. Meskipun dia kini tengah koma, aura berkelas dan berkuasa melekat padanya.

Mata Yulia terbelalak kagum saat dia mengamati wajah Billy yang terpahat sempurna.

Krisna benar-benar pembohong! Dia menyesal mempercayai kata-kata yang keluar dari mulut pengkhianat menjijikkan itu.

Sementara dia melamun, pintu kamar ditendang terbuka dari luar. Krisna berjalan angkuh dengan botol di tangannya. Dia bersendawa dan berkata dengan keras, "Hei, Yuli! Maaf sebelumnya aku melewatkan panggilan teleponmu. Tadi aku sangat sibuk."

Yulia tahu bahwa dia harus memainkan sandiwaranya dengan benar jika dia ingin keluar sebagai pemenang. Jadi, dia menyembunyikan apa yang sebenarnya dia rasakan. "Tidak masalah. Aku mengerti."

Krisna menenggak habis isi botol anggur itu dan kemudian tersenyum percaya diri. "Aku tahu kamu akan mengerti. Lagi pula, kamu sangat mencintaiku."

Percikan amarah bersinar di mata Yulia selama sepersekian detik. Sambil mengepalkan tangannya erat-erat, dia berkata, "Sudah larut. Kamu harus pergi sekarang. Kita bisa bicara besok."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Krisna mengunci pintu lalu perlahan berjalan ke arah Yulia.

Dengan hati-hati, Yulia melangkah mundur. "Krisna, apa yang kamu lakukan?"

"Malam pernikahan seharusnya tidak terbuang sia-sia. Ayo kita bercinta."

Dengan senyum nakal di wajahnya, Krisna menerjang ke depan.

Yulia terkejut karena Krisna ternyata begitu tidak tahu malu dan berani sehingga dia ingin berhubungan intim dengannya di hadapan kakak tirinya yang tidak sadarkan diri. Pria ini sudah gila!

Ketika Krisna mendekat lagi, dia mendorongnya menjauh dan bergumam, "Sadarlah, Krisna. Jangan lupakan rencananya."

Ini tidak membuat Krisna berhenti. "Aku telah berubah pikiran. Kamu perlu mengandung anakku sebelum melakukan inseminasi. Dengan begitu, anakku akan menjadi ahli waris Keluarga Jayendra dan kita bisa mewarisi segalanya."

Yulia merasa jijik padanya. Dia hendak bergerak untuk memukul pria itu.

Saat dia mengangkat tangannya untuk memukul Krisna, dia melihat bahwa perhatian Krisna tertuju pada hal lain. Dia melihat ke belakangnya dengan mata melebar, seolah-olah dia baru saja melihat hantu.

"Bil ... Billy ...."

Bab 2

Krisna segera kabur terbirit-birit dari sana.

Yulia bingung. Ada apa gerangan dengan pria itu? Apakah Billy sadarkan diri?

Dia dengan cepat berbalik, tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Billy masih berbaring di tempat tidur, dan napasnya masih stabil dan setenang sebelumnya.

Satu-satunya perbedaan yang dia lihat adalah salah satu tangannya keluar dari selimut.

Yulia memiringkan kepalanya dan mengamatinya sebentar. Tangan itu terlihat lemas, jadi dia merasa tangannya mungkin jatuh saat dia menabrak rangka tempat tidur saat mencoba menghindari serangan Krisna.

"Billy?" Yulia memanggil nama pria itu dengan ragu.

Tidak ada tanggapan apa-apa.

Dia mencondongkan tubuh ke depan dan memanggil dengan lebih keras, "Hei, Billy!"

Tetap saja, yang dia dapatkan hanyalah kesunyian.

Yulia menelan ludah dan perlahan berjalan ke samping tempat tidur. Dia dengan hati-hati memegang tangan milik pria itu dan meletakkannya kembali di bawah selimut. Billy masih tidak bergerak sedikit pun selama dia melakukannya. Ini membuatnya tenang. Ternyata pria itu masih dalam keadaan koma.

Mungkin karena Krisna sedang mabuk, dia sempat berhalusinasi.

Yulia menepuk dadanya saat dia menghela napas lega.

Ruangan itu kembali ke keheningan yang biasa. Jantung Yulia masih berdetak kencang. Entah kenapa, dia takut Billy tiba-tiba membuka matanya. Dia duduk di tepi tempat tidur dan menatapnya lekat-lekat. Beberapa saat kemudian, dia tertidur lelap karena kelelahan.

Keesokan harinya, Yulia terbangun dan mendapati dirinya terbaring di tepi tempat tidur. Dengan cepat, dia menoleh ke arah Billy. Yang membuatnya lega, sepertinya selama sepanjang malam pria itu tidak bergerak satu senti pun dari posisi sebelumnya. Yulia merasakan beban ketidakpastian terlepas dari pundaknya sekarang.

Akhirnya dia sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa Krisna benar-benar melihat Billy bergerak tadi malam. Tampaknya pria mabuk itu hanya sedang berhalusinasi.

Yulia pergi ke kamar mandi untuk mandi. Saat dia menyikat giginya, matanya tertuju pada tanda merah yang tertinggal di lehernya. Sebelumnya tidak ada apa-apa di sana. Itu terlihat seperti ada seseorang yang baru saja telah mencekiknya di sana.

Ketika Yulia mengingat pertengkarannya dengan Krisna tadi malam, dia mengaitkan munculnya tanda merah itu sebagai perbuatan pria itu.

Rasa jijik muncul dalam dirinya saat memikirkan pengkhianat itu.

Yulia meletakkan sikat giginya dan kembali ke kamar tidur. Dia mengenakan atasan turtleneck untuk menutupi tanda merah tersebut.

Ketika dia sudah berpakaian rapi, dia turun ke bawah.

Dia baru saja sampai di tangga terbawah ketika Krisna secara mendadak muncul entah dari mana dan menariknya ke bilik dekat sana.

"Apakah tadi malam Billy sadarkan diri?" bisiknya ke telinga Yulia, takut seseorang akan mendengarnya.

Yulia merasa mual saat mendaratkan mata pada Krisna. Dia mengambil dua langkah mundur dan menjawab tanpa ekspresi, "Tidak, dia masih seperti biasa."

"Baguslah kalau begitu. Aku terlalu banyak minum tadi malam. Mataku sudah menipuku. Untuk beberapa detik, aku melihat Billy membuka matanya dan melemparkan tatapan tajam ke arahku. Syukurlah itu hanya ilusi belaka." Krisna menarik napas dalam-dalam, merasa lega. Dia memamerkan senyum cerahnya yang biasa dia tunjukkan.

Di masa lalu, senyum ini biasanya akan mengirimkan kegembiraan ke seluruh tubuh Yulia. Namun sekarang, dia membencinya. Dia menurunkan matanya sehingga Krisna tidak akan melihat kebencian di matanya.

Tidak sadar akan alasan sebenarnya, Krisna berasumsi Yulia tidak bahagia karena kejadian tadi malam. Dia dengan lembut meminta maaf. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi, Yuli. Anggur itu membuatku kehilangan kendali diri. Aku tidak bermaksud memperlakukanmu dengan kasar."

Yulia memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Tidak apa-apa."

Lalu, dia membuat alasan agar dia bisa segera meninggalkan bilik itu.

Ketika dia sampai di ruang makan, dia melihat Sigit sudah duduk di meja. Sigit merupakan seorang pria tegas yang jarang tersenyum. Setelah Yulia menyapanya, dia hanya mengangguk sedikit. Dia memancarkan aura dingin dan ketidakpedulian.

Di sisi lain, Lestari, ibu tiri Billy, terlihat antusias. Dia adalah ibu kandung Krisna, jadi dia mungkin tahu tentang rencana putranya. Itu satu-satunya penjelasan logis atas kehangatan dan keramahan berlebihan yang wanita paruh baya itu tunjukkan padanya.

Yulia merasa tidak nyaman selama memakan sarapan.

Setelah selesai makan, Sigit membawanya ke rumah sakit swasta milik Keluarga Jayendra.

Krisna ikut bersama mereka. Ketika Yulia diantar ke ruang operasi, dia memberinya tatapan penuh arti.

Yulia memahami isyarat itu.

Dia tersenyum untuk meyakinkannya bahwa dia tidak melupakan rencana mereka. Akan tetapi, saat dia berbalik, senyumnya seketika menghilang. Dia berjalan menuju ke ruang operasi dengan wajah dingin.

Saat ini, rasa takut perlahan merayap ke dalam hatinya. Akan tetapi, ketika dia mengingat bagaimana Krisna bercinta dengan adik tirinya dan bagaimana kejinya pria itu membunuh ayahnya, dia mengertakkan gigi dan mengepalkan tinjunya. Dia sangat ingin membalaskan dendamnya dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Prosedur inseminasi memakan waktu sekitar satu jam. Yulia dengan wajahnya yang pucat, didorong keluar sementara dia duduk di kursi roda. Dokter melepas maskernya dan berkata kepada Sigit, "Semuanya berjalan lancar, Tuan Jayendra. Sekarang, kita harus menunggu sekitar satu bulan untuk memastikan berhasil atau tidaknya proses ini."

Wajah Krisna menjadi gelap begitu dia mendengar ini.

Sebaliknya, wajah milik Sigit yang biasanya dingin kini bersinar dengan senyuman. Bahkan orang yang buta pun dapat melihat bahwa dia senang mendengar berita itu. Dia memandang Yulia dengan ekspresi puas. Setelah itu, dia memerintahkan salah satu sopirnya untuk mengantar Yulia dan Krisna pulang.

Di perjalanan, wajah Krisna memerah karena marah. Dia terlihat jelas tidak senang, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Yulia tidak repot-repot mengajaknya berbicara. Dia melihat ke luar jendela, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Begitu mereka keluar dari mobil, Krisna tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia meraih lengannya dan menariknya menuju ke taman untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam benaknya.

"Yulia, apa-apaan! Aku pikir kamu setuju untuk merusak prosedur inseminasi. Kenapa kamu tidak melakukannya?" Krisna menggeram marah.

Sejauh yang Yulia pikirkan, dia tidak berutang penjelasan kepada pengkhianat ini. Krisna membuatnya jijik. Dia mengibaskan tangannya dan berkata dengan dingin, "Perhatikan bagaimana caramu berbicara kepadaku, Krisna. Sekarang aku adalah kakak iparmu!"

Krisna melotot dan tertawa marah. Dia menendang pohon yang ada di dekatnya. "Apa yang baru saja kamu katakan? Apa kamu sedang bercanda denganku?"

Jantung Yulia mulai berdetak kencang ketika dia melihat matanya yang merah. Dia berputar untuk pergi dari sana, tapi Krisna menariknya kembali.

"Apakah aku menyuruhmu pergi? Jangan berpikir kamu boleh meninggalkanku begitu saja, Yulia! Aku belum selesai berbicara denganmu!" Percikan amarah Krisna menyala di matanya.

Yulia merasa takut sekaligus kesal. Dia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu sambil memelototinya. "Lepaskan aku!"

"Wanita jalang!" Krisna meraihnya dengan kedua tangan dan membungkuk. "Ini tidak seperti apa yang sudah kita sepakati. Apakah kamu mencoba membuangku setelah kamu menikahi Billy? Asal kamu tahu, kamu tidak akan bisa menyingkirkanku. Kamu belum tentu hamil. Bahkan jika kamu hamil, Billy tidak akan bisa melindungimu dan bajingan kecil itu."

"Bah! Bagaimana kamu bisa begitu yakin mengenai itu? Bukannya Billy masih hidup?" Yulia mencibir. "Apa pun yang terjadi, aku tetaplah kakak iparmu. Lebih baik kamu mulai mengingatnya sekarang!"

Komentar ini membuat Krisna semakin menggila. Dia mengangkat tangannya untuk menampar Yulia.

Namun, sebelum itu terjadi, seorang pelayan bergegas keluar rumah dan berteriak, "Nyonya! Tuan Billy baru saja sadarkan diri. Dia ingin bertemu dengan Anda!"

Bab 3

Apa! Billy telah sadarkan diri!

Yulia dan Krisna yang tidak siap mendengar kabar ini pun terkejut.

Begitu Krisna pulih dari keterkejutannya, wajahnya menjadi suram. Dia mengencangkan cengkeramannya di lengan Yulia dan memarahinya, "Kamu berbohong padaku, 'kan? Apa yang sempat aku lihat semalam bukanlah ilusi. Billy benar-benar sadar dari komanya semalam, 'kan? Oh, aku mengerti situasinya sekarang. Itulah mengapa kamu tiba-tiba menentangku!"

Karena Krisna sudah mengambil kesimpulan, Yulia tidak mau repot-repot menjelaskan. Dia melepaskan cengkeraman Krisna dan berjalan pergi bersama dengan pelayan itu.

Krisna benar-benar marah. Dia ingin memukul Yulia, tetapi dia tidak berani melakukannya. Terus berdiri di taman, dia memperhatikan sosok Yulia yang semakin menjauh sampai sepenuhnya menghilang dari pandangan. Lalu dia berbalik dan menendang pot bunga dengan marah.

Kediaman Keluarga Jayendra adalah sebuah manor yang memiliki beberapa bangunan berbeda yang dikelilingi oleh taman bunga dan pepohonan. Billy tinggal di sebuah rumah kecil terpisah dari rumah utama yang terletak di belakang taman. Tidak hanya udaranya yang segar di sini, tetapi area itu juga terang benderang dan sunyi. Ada banyak pohon bambu yang ditanam di sekitar rumah. Tempat sempurna bagi orang yang sakit untuk memulihkan diri.

Namun, Yulia tidak punya niat untuk mengagumi keindahan lingkungan sekarang. Pikirannya sedang dalam keadaan kacau.

Dia bertanya-tanya apakah Billy sudah sadarkan diri mulai tadi malam. Apakah pria itu telah mendengar percakapan antara dirinya dan Krisna?

Apa yang akan terjadi jika dia mendengarnya?

Jantung Yulia mulai berdebar kencang. Wajahnya berubah menjadi pucat saat beberapa macam pikiran melintas di benaknya.

Sepengetahuannya, Billy bukanlah malaikat. Dia telah diberi tahu bahwa Billy adalah pria kejam yang bahkan memiliki hubungan kuat dengan orang-orang dari dunia kriminal. Rumor yang beredar berkata bahwa orang yang menyinggung dia di masa lalu akan mendapat balasan yang cukup kejam. Apakah Billy akan melakukan hal yang sama padanya?

"Kita sudah sampai!" Suara pelayan membawa Yulia kembali ke dunia nyata.

Setelah mengambil napas dalam-dalam, dia mendorong pintu terbuka dan berjalan masuk. Dia baru saja masuk ke rumah ketika Sigit masuk dengan napas terengah-engah.

Yulia menganggukkan kepalanya dan menyapanya. Sigit memberinya anggukan singkat dan kemudian mereka bersama-sama memasuki kamar Billy.

Sekelompok dokter berdiri di samping tempat tidur. Mereka sedang memeriksa Billy.

Kini Billy sedang duduk dengan punggung menyandar pada kepala tempat tidur, matanya tanpa emosi dan wajahnya yang tampan sedingin salju musim dingin.

Ketika dia mendengar langkah kaki di pintu, dia menoleh untuk melihat siapa yang datang. Matanya yang tajam menyapu Yulia sekilas dan mendarat pada Sigit. "Siapa wanita ini?"

Itu merupakan sebuah pertanyaan sederhana. Akan tetapi, Yulia mendapati dirinya dalam keadaan terpojok.

Bagaimanapun, dia tidak tahu bagaimana berhadapan dengan pria itu sekarang, apalagi untuk memperkenalkan dirinya.

Billy bisa mengakhiri pernikahan mereka kapan saja.

Jika itu terjadi, rencananya untuk balas dendam akan hancur.

"Dia istrimu," ucap Sigit sebelum Yulia sempat memikirkan bagaimana memberi respons.

"Istriku? Kenapa aku tidak ingat pernah menikah dengan wanita mana pun?"

"Yah, aku sudah mengaturkan pernikahan untukmu. Acara pernikahan diselenggarakan kemarin. Semua orang sudah mengetahuinya."

Sigit terlihat cukup tenang seolah-olah dia sudah menebak bahwa putranya akan bangun.

Dokter utama sudah selesai memeriksa Billy saat ini. Namun karena situasi sekarang, dia berdiri canggung di sana bersama dengan para asistennya.

Sigit berdeham untuk membersihkan tenggorokannya, wajahnya tidak bisa ditebak. "Bagaimana keadaan putraku?"

Dokter utama menjawab, "Meskipun dia sadarkan diri, dia belum pulih sepenuhnya. Kedua kakinya masih dalam kondisi yang buruk. Maaf, tapi dia mungkin tidak akan pernah bisa berdiri atau berjalan lagi."

"Apakah kamu mencoba mengatakan bahwa Billy sekarang lumpuh?" tanya Sigit dengan tidak percaya.

Yulia mengerutkan kening saat melihat sedikit kelegaan di wajah Sigit.

"Sayangnya, ya, Tuan Jayendra." Dokter utama menghela napas dengan prihatin. "Tapi, serangkaian fisioterapi dapat membantu keadaannya."

"Jadi, begitu. Terima kasih atas bantuanmu. Kalian sudah bisa pergi sekarang."

Sigit melambaikan tangannya untuk menyuruh para dokter pergi dari sana. Begitu mereka pergi, dia menoleh ke Billy dan melontarkan senyum ramah yang jarang terlihat. "Nak, syukurlah kamu sudah sadar. Kamu sekarang perlu beristirahat dengan baik. Tidak perlu terlalu memikirkan apa yang dikatakan dokter. Aku akan mendapatkan fisioterapis terbaik untuk merawatmu. Serahkan saja itu semua padaku."

Setelah itu, dia memberi isyarat kepada Yulia untuk datang ke samping tempat tidur. "Ini istrimu, Yulia. Dia adalah putri dari Keluarga Pujiono. Mulai sekarang, dialah yang akan merawat dan menjagamu. Kamu berada di tangan yang baik."

"Aku tidak punya istri! Karena aku tidak pernah menyetujui pernikahan ini, jadi ini bukanlah pernikahan yang sah. Aku akan meminta pengacaraku untuk segera memulai prosedur perceraian sekarang juga!" Billy mengumumkan ini, suaranya yang dalam dipenuhi dengan penghinaan.

Wajah Sigit berkedut seolah sedang menahan amarahnya. "Kamu tidak boleh melakukan itu, Billy! Kamu tidak boleh bercerai."

Billy mencibir dengan jijik. "Apa yang membuat Ayah berpikir bahwa Ayah berhak mengambil keputusan untukku?"

Suasana di ruangan itu tiba-tiba menjadi tegang.

Saat itulah, Yulia sadar bahwa keduanya tidak berpandangan sama. Dia dengan canggung memainkan jari-jarinya, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Sigit sangat marah hingga tubuhnya bergetar. Dia berteriak, "Kamu sudah menikah. Dan keputusan itu tidak akan bisa diubah! Spermamu sudah diinseminasi ke dalam rahim Yulia. Sekarang, dia pasti sudah mengandung anakmu. Aku tidak akan pernah menyetujui perceraianmu!"

"Apa! Ayah memasukkan spermaku ke wanita ini?" Untuk pertama kalinya, Billy mengamati Yulia dengan jeli. Matanya yang tajam mengamati wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sudut bibirnya tiba-tiba terangkat karena rasa jijik yang dia rasakan.

Sambil menggertakkan giginya, dia bertanya dengan lugas, "Nona Pujiono, mana yang lebih kamu sukai untuk melakukan aborsi, operasi atau menggunakan obat?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED