Hana Cartlington seorang gadis muda berumur dua puluh tahun menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi anggota keluarganya.
Gadis yang harus putus sekolah di usianya yang masih terbilang belia menanggung seluruh beban keluarga, bekerja paruh waktu di kota kecil dengan gaji yang hanya cukup untuk makan adik serta ibunya.
Ayahnya sendiri tidak bisa memberikan tanggung jawab hanya bisa meminta pada ibu dan dirinya hanya untuk kepuasan semata. Takdir yang begitu kejam sehingga Hana harus merantau ke kota besar demi tanggung jawabnya sebagai seorang anak dan kakak.
Dan kini Hana mendapat pekerjaan dengan gaji yang besar di sebuah mansion milik seorang triliuner muda bernama James Arthur Anderson, pria muda berusia dua puluh tujuh tahun sukses dalam karirnya di bidang properti dan otomotif.
Siapa sangka Hana yang bekerja sebagai pembantu dari James menggoda Tuannya yang terkenal dingin. Bahkan setiap harinya Hana selalu menggunakan pakaian minim dan memperlihatkan lekuk tubuh indah dan sempurna.
Seperti pagi ini Hana menyiapkan sarapan untuk Tuan mudanya, ia sudah berdandan cantik untuk menggoda sang Tuan, agar Tuan muda tergoda dengannya.
"Good morning Tuan, seperti biasa sarapan Anda sudah saya siapkan di meja beserta kopi hitam," tutur Hana, tersenyum pada James.
"Thanks Hana," balas James sambil tersenyum, matanya pun tak luput dari tubuh indah Hana melihat dua buah dada Hana nyaris keluar.
Siapa yang tidak bergairah di pagi hari mendapatkan pemandangan indah dari sang pembantu cantiknya, James lelaki normal pastinya butuh penyaluran untuk gairahnya.
Bayangkan saja, pakaian seragam yang menjadi pakaian khusus maid, dibuat seksi oleh Hana hingga kedua dadanya menyembul keluar nyaris tumpah. Hingga James meminta Hana untuk duduk di sebelah bangkunya menemani James sarapan.
"Hana temani aku sarapan," perintah James tanpa adanya penolakan.
"Ta- tapi tuan saya masih ada pekerjaan lain di dapur.
"Kau ingin menuruti perintahku atau dipecat dari pekerjaan ini!" ujar James, membuat Hana duduk di kursi sebelah James.
Niat awal ingin sarapan bersama Hana, Tapi yang ada James bukanlah sarapan yang telah tersaji melainkan sarapan lain, tangan besar milik James mengelus paha putih, mulus milik Hana, menaik turunkan tangannya hingga berada dekat di bagian atas pangkal paha Hana.
Jarinya pun masuk ke dalam celah celana yang menutupi aset berharga milik Hana.
Hana sendiri pun hanya bisa memejamkan matanya, baru kali ini ia merasakan sentuhan dari James- majikannya, biasanya Hana hanya bisa berimajinasi, membayangkan sang majikan menjamah tubuhnya, tapi hari ini Tuannya sendiri menyentuh tubuhnya walaupun hanya menggunakan tangan dan jarinya saja.
"Ah...!" satu desahan seksi lolos keluar dari mulut Hana. Hanya gara- gara jari James menekan asetnya dan bermain- main disana.
Hana bergelinjat tidak tenang, saat jari James semakin liar di luar asetnya. Tangannya James yang satunya pun mengangkat kaki jenjang Hana ke pundak James sehingga Hana duduk berhadapan dengan sang Tuan muda.
"Kau tahu kesalahan terbesarmu Hana?" tanya James, masih bermain liar dengan jarinya di pusat kenikmatan Hana.
Hana hanya menggeleng sebagai jawabannya, sesekali desahan milik Hana pun keluar.
"Kau selalu menggodaku Hana, selalu memperlihatkan lekuk tubuhmu di depanku, dan kau salah besar jika aku tidak terangsang. Aku pria normal, dan kau sudah membangkitkan gairah terpendamku!" James memasukkan jarinya ke dalam gua lembab milik Hana.
Sedangkan Hana tak kuasa menahan gejolak gairah yang menggebu dalam dirinya, hanya dengan jari sang Tuan muda.
Desahan Hana pun semakin melolong keluar terdengar seksi mengikuti irama jari James keluar masuk ke dalam pusat intinya.
"Ah... Tuan! Jangan membuatku tersiksa!" ucap Hana, tidak kuat dengan permainan jari nakal James.
"Nikmatilah sayang! Kau yang menggodaku maka kau yang harus menanggung semuanya." James semakin liar bermain dengan jarinya di bawah pusat kenikmatan Hana.
Rok yang menjadi bawahan seragam Hana pun terangkat ke atas perut sehingga pusat inti Hana terpampang jelas di depan wajah James.
James mengangkat kedua kaki Hana, membawanya ke pundak. Lalu ia pun berjongkok menyamakan posisinya tepat di bagian pusat Hana. Wajahnya mulai dekat hanya tersisa satu inci
James mulai menghirup aroma kewanitaan Hana, sesekali lidahnya bermain di klitoris Hana, menjilat bahkan menyesap, penuh ke dalam mulutnya.
"Tuan.... Mmmphhhh... Apa yang Anda lakukan!" Hana bergelinjat tubuhnya sedikit terangkat ke atas tak kuasa menahan serangan dari lidah James.
James mampu membuat gairah liar Hana membara, seakan imajinasi tentang Tuannya terbayar dengan sentuhan kecil namun berarti untuknya.
Lihatlah sekarang bagaimana James menguasai tubuh Hana, walau hanya sentuhan kecil yang James berikan padanya. Namun semua itu tidaklah lama. Saat Hana mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Hana apa kau di dalam?" kata seseorang itu, membuat Hana tersadar dari imajinasinya.
Ya, seperti inilah Hana setiap harinya berimajinasi pada sang majikan yang tampan, kaya, serta bersikap dingin. Membuat gairah liar Hana bergejolak ingin rasanya bergelud bersama sang Tuan di satu ranjang yang sama.
Hana pun terbangun dari imajinasinya, vibrator yang menjadi tumpuan untuk imajinasi liarnya pun disembunyikan di tempat asal.
Lalu, Hana pun keluar dari dalam kamar dan melihat orang yang memanggilnya.
"Kenapa?" tanya Hana pada seseorang yang berada di depan pintu kamarnya.
"Tuan memanggilmu."
"Memanggilku? Untuk apa?"
"Temui saja, Tuan tidak suka menunggu lama." teman Hana bernama Yuna pun pergi setelah memberitahu Hana.
Hana pun tersenyum senang saat mendengar sang Tuan muda memanggilnya, lalu ia pun segera mengganti bajunya dengan baju yang baru saja dibelinya tadi.
Dress tipis bermotif hampir mirip lingerie lah yang dipakai Hana saat ini, ia sengaja memakai dress itu agar Tuannya tergoda pada dirinya.
Lekuk tubuh Hana yang sempurna pun hampir terlihat jelas, di tambah nipple pink miliknya menyembul keluar, memang Hana tidak memakai bra karena ia ingin tahu reaksi Tuannya, masa iya Tuan mudanya tidak tergoda dengan pakaian yang digunakan oleh Hana.
Setelah semuanya siap dan rapi, Hana keluar dari dalam kamarnya menuju tempat sang Tuan muda berada.
Hana tahu dimana Tuan mudanya sekarang, tempat yang tidak lain adalah ruang kerjanya. Tidak jauh dari kamarnya yang berada di belakang ruang kerja James.
Sampai Hana tiba di depan pintu ruang kerja James, Hana mengetuk pintu meminta izin untuk masuk. Dan terdengarlah suara bariton nan seksi dari Tuannya menyuruh Hana masuk.
"Masuklah," kata James dari dalam ruang kerjanya.
Hana membuka pintu ruang kerja James, pertama kali yang dilihatnya adalah James yang sedang berkutat di depan macbooknya dengan pakaian yang sedikit berantakan.
Hanya melihat begitu saja membuat Hana meneguk saliva kasar, imajinasi liarnya semakin bertambah, hanya dengan melihat pakaian James berantakan, seksi. Itulah yang ada di dalam otak cantik Hana.
"Kenapa kau masih diam disana? Kemarilah dan tolong pijat pundakku yang terasa pegal." James menyadarkan Hana dari alam liarnya, yang tengah membayangkan James sedang menjamah tubuhnya.
Hana pun terlihat gugup, malu, takut ketahuan jika ia sedang membayangkan Tuannya.
Akhirnya dengan perasaan campur aduk Hana mendekat, dan berdiri di samping James.
"Tuan memanggil saya?" tanya Hana.
James menoleh ke arah sampingnya, sama seperti Hana James pun meneguk saliva kasarnya melihat nipple pink Hana menyembul keluar.
"Oh ya, aku memintamu untuk memijat pundakku. Apa kau bisa?" tanya James sekali lagi, matanya beralih memandang yang lain. Tidak ingin berlama- lama menatap nipple pink milik Hana.
Hana tahu Tuan mudanya terpancing gairah, dan ditambah lagi Tuan mudanya meminta Hana untuk memijat pundaknya, kesempatan yang tidak datang dua kali, tidak akan Hana sia- siakan. Hana ingin tahu apa yang akan dilakukan James saat ia memijat sambil menggoda James.
Hana berada di belakang tubuh James– Tuan mudanya, jari lentiknya nan lembutnya mulai memijat bahu lebar milik sang majikan.
Hana bukannya memijat tapi mengelus pundak James hingga ke tengkuk belakang milik Tuannya, yang sudah memejamkan mata menikmati setiap sentuhan jari milik Hana. Hana terus menggoda hingga jarinya berada naik di daun telinga James. Tubuhnya pun sengaja di bungkukan agar dada indah milik Hana menempel di pundak Tuannya.
Sedikit menggesek dan menekan dua buah benda kenyal itu di pundak James. Sampai James berdesis saat dua benda kenyal membuat otaknya hampir kehilangan akal.
"Sstt…! Ah…!" desis James, dengan erangan kecil tapi mampu membuat Hana semakin menggoda tuannya.
Hana kembali memijat pundak James setelah puas memberi sedikit godaan pada Tuan muda, lalu ia pun mencoba untuk sedikit memijat bagian depan James dengan tangannya meraba dan mengelus dari belakang.
Tangan nakal Hana bekerja secara aktif bergerak lincah, kesana kemarin, hanya untuk melihat gairah James yang duduk tidak nyaman.
Akhirnya Hana membuka suara hanya untuk memastikan tuannya. "Tuan apa saya perlu mengambilkan minyak panas untuk mengolesi pundak Anda, sepertinya pundak Anda terasa kaku."
"Apa memang seperti itu?" tanya James.
"Ya tuan karena saya merasakan pundak Anda kaku, dan itu tidak baik untuk tulang dan syaraf Anda," Hana sedikit berbohong pada James agar misi menggoda tuannya dapat segera selesai dan Tuannya terbakar gairah karena perbuatannya.
"Kalau begitu ambillah, dan segera kembali," titah James menyuruh Hana mengambil minyak panas untuknya.
Dengan seulas senyum manis dan menggoda hanya berlalu pergi mengambil minyak panas di dalam kamarnya, Hana yakin dengan adanya minyak itu akan membuat semuanya berjalan lancar tanpa ada gangguan dari siapapun.
James melihat Hana berjalan keluar ruang kerjanya, pandangannya tak luput dari tubuh indah Hana yang hanya memakai baju tipis, dengan belahan dress sampai tepat berada di bagian belakang Hana.
G-string merah senada dengan dressnya terlihat sempurna di lekuk tubuh Hana sehingga James meneguk saliva kasarnya, tangannya pun mengusap kasar wajahnya, gairah yang selalu dipendamnya bangkit hanya karena bokong Hana terpampang jelas di matanya.
James pun mengumpat kesal, tidak menyangka pembantunya yang baru bekerja satu minggu berani menggodanya dengan pakai- pakaian terbuka, tidak tahukah James selalu menahan gairahnya selama ini. Dan pada akhirnya ia pun sudah tidak tahan dengan godaan dari pembantunya.
••••
Lima belas menit kemudian.
Senyum cerah terbit di wajah cantiknya, ia senang pada akhirnya sang majikan tergoda padanya, hanya dengan sentuhan kecil namun memabuk membuat imajinasi liar tentang tuannya semakin menggebu, ditambah lagi erangan kecil yang keluar dari mulut pria yang sudah memenuhi pikiran nakalnya. Mendengar itu saja membuat pusat milik Hana basah, apalagi jika benda pusaka milik tuannya memenuhi tubuhnya.
"Ah… tuan kau benar- benar membuatku menginginkanmu!" ujar Hana pada dirinya sendiri, yang tidak akan didengar oleh tuannya.
Hana pun keluar dari dalam kamarnya tidak mau terlalu lama disana, cairan licin yang dicarinya sudah ditemukan. Selanjutnya Hana kembali ke ruang kerja majikannya.
Malam ini Hana harus mendapatkan apa yang diinginkan, walaupun ia harus bekerja keras menggoda James– majikannya.
Lorong mansion yang sudah gelap tidak membuat Hana takut, tekadnya sudah bulat, untuk mendapatkan James. Ia turus berjalan sampai Hana bertemu pintu ruang kerja sang tuan.
Sebelum masuk Hana merapikan dressnya, rambutnya di kuncir asal sehingga leher jenjang Hana terekspos sempurna, setelah merapikan penampilannya barulah Hana masuk ke dalam.
Jalan Hana pun sengaja di lenggak lenggokan bagaikan seorang model berjalan di catwalk.
Hana mendekatkan dirinya pada sang Tuan tersenyum semanis mungkin di depan tuannya.
"Tuan maaf menunggu lama, aku harus mencari minyaknya terlebih dulu," kata Hana, suara nan seksi membuat lamunan James buyar.
James melihat Hana sudah berada di depannya, tersenyum manis. Dan menatapnya intens
"Langsung saja pijat! Pundakku terasa kaku semua." James menyuruh Hana langsung memijat pundaknya.
Hana hanya tersenyum menimpali ucapan James, ia pun berjalan ke belakang tubuh James.
Tangan James yang berada di sisi meja kerjanya sengaja disenggol oleh Hana sehingga tangannya James tak sengaja memegang pusat inti kenikmatan Hana.
James sendiri terkejut saat Hana menyenggol tangannya, dan apa yang tadi sedikit di sentuhnya? Pusat kenikmatan Hana yang terasa lembut walaupun masih tertutup dengan kain tipis.
"Sial!" umpat James. Bertambah frustasi. Gairah semakin membara seperti api yang tersiram bensin.
Tapi James harus menahan gairah itu, ia tidak ingin sisi lain dari dirinya keluar dan menerkam Hana begitu saja.
Akan tetapi siapa sangka, tangan nakal Hana justru membuat gairahnya tidak dapat dikendalikan. Tangan James mengepal, matanya tertutup. Menikmati pijatan Hana.
Tak sampai disitu, Hana sengaja menjatuhkan botol minyak di kursi James. Tepat diantara pusaka ajaib.
"Tuan maaf saya tidak sengaja menjatuhkan botolnya."
Dengan kesabaran ekstra James hanya pasrah tidak menimpali perkataan Hana.
Hana pun mengambil botol itu, sedikit membungkukkan badannya dari belakang kursi James.
Dua benda kenyalnya menempel di pundak kanan James, tangan Hana mengambil tapi dengan sedikit menyentuh dan mengelus pusaka milik James.
James yang mendapat perlakuan seperti itu pun akhirnya gelap mata. Ia menarik Hana sehingga Hana duduk di pangkuannya.
"Apa yang kau lakukan Hana? Kau telah membangunkan singa tidur?" kata James dengan suara deep voice nya.
"Tu– tuan kenapa? Apa tuan sakit?" balas Hana, pura- pura tidak tahu.
"Ck…! Kau bilang aku sakit! Tentu saja tidak! Tapi kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"
"Ma– maksud Tu–!" belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya, James sudah terlebih dulu menyumpal bibir Hana dengan bibirnya.
Mencium gadis itu kasar, menuntut, tak ada kelembutan. Lidahnya ikut bermain di bibir Hana sebelum masuk ke dalam rongga mulut Hana.
Tangan James yang diam mulai bergerak aktif mengelus paha mulus Hana, menaik turunkan di sekitar paha Hana, sebelum tangan nakal James naik ke pangkal paha Hana.
Dan tangan sebelah James menarik tengkuk Hana, agar memperdalam ciumannya.
James pun menyesap dan menggigit bibir mungil Hana, agar mempermudah lidahnya masuk ke dalam dan mengeksplor rongga dalam mulut Hana.
Sementara Hana merasa senang Tuannya terpancing gairahnya, suatu keuntungan bagi Hana untuk bisa bermain dan merasakan sentuhan dari tuannya.
Hana pun tak tinggal diam, ia pun membalas ciuman James, liar. Walaupun ia tidak bisa mengimbangi ciuman James.
Tangan Hana yang tadi berada di tengah- tengah pangkal paha James bergerak bebas, mengelus, dan sedikit meremas pusaka James. Sesekali tangannya memegang pusaka James agar tahu bentuk milik dari sang majikannya.
James pun membawa Hana ke atas meja kerjanya, tanpa melepas ciuman mereka, kaki Hana pun di buka lebar oleh James, untuk mempermudah jarinya bermain klitoris Hana.
Ciuman James berpindah dari bibir ke kuping, menjilat kuping Hana, hingga sang empu bergeliat, mendesah.
"Ah… tuan!" desah Hana, terdengar merdu di kuping James.
Mendengar desahan seksi Hana membuat James semakin gila, jarinya yang berada di pusat kenikmatan Hana pun mulai bermain. Mengusap klitoris Hana hingga sang pemilik mengerang penuh kenikmatan.
"Tuan! Kau membuatku gila!" kata Hana, menikmati jari James mengusap titik pusatnya.
"Ini belum seberapa nikmatilah Hana kalau belum berada di atas kenikmatan."
"Apa tuan sedang menyiksaku?" tanya Hana lagi pada James.
"Menyiksa bukanlah bagianku! Tapi jika kau menyukai, aku tidak akan segan- segan menyiksamu!"
James pun beralih mencium leher jenjang Hana, turun hingga berada di dua benda kenyal milik Hana.
Baju tipis milik Hana pun dirobek oleh James dengan tangannya yang kosong. Dan benar saja Hana tidak memakai bra.
Bentuk dua buah dada Hana pun terpampang jelas dengan nipple pink yang siap untuk dihisap.
Lidah James pun mulai bermain di nipple pink Hana, menyesap, menjilati bahkan menggigit nipple pink itu secara bergantian.
Tangan James berada di bawah mulai masuk ke dalam gua lembab milik Hana, mengoyak pusat kenikmatan Hana.
Hana sendiri pun di buat pasrah tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa menikmati setiap sentuhan nakal dan liar dari majikannya. Mendesah, mengerang sampai menggema seisi ruangan.
"Ah… Tuan… Mmpphh!" kata Hana, bibir bawah Hana ia gigit. Matanya terpejam menikmati jari dan lidah James menjamah tubuhnya.
Lalu, ciuman itu turun ke bawah sampai berada di pusat kenikmatan Hana.
James menundukan kepalanya tepat berada di depan pusat Hana, tubuhnya James pun di bongkokan agar ia bisa mensejajarkan kepalanya di depan kenikmatan Hana.
Kaki Hana di taruh ke pundak James, kiri dan kanan, tangan kedua James sudah berada di dua benda kenyal Hana.
Kemudian James menarik G-string Hana dengan mulutnya, walaupun sedikit kesusahan tapi Hana membantunya. Hingga tubuh polos Hana sudah tidak memakai satu helai benang pun.
Dan barulah James memulai kembali permainannya yang sempat tertunda, dan kini James bermain di pusat kenikmatan Hana dengan lidah dan jarinya.
"Tu– tuan! Ah… please!" mohon Hana, bergelinjat nikmat sampai tubuhnya sedikit naik ke atas.
"Nikmati saja sayang, aku masih belum puas bermain!"
Jari dan lidah James berlomba- lomba saling memimpin, memberikan siksaan pada Hana yang tengah mendesah hebat saat klitorisnya dijilat dengan lidah James.
Tangannya James pun seirama dengan jilatannya. Sampai cairan hangat milik Hana keluar, orgasme pertama Hana membanjiri jari tangan milik James.
Seakan belum puas dengan permainannya, James kembali menjamah tubuh Hana, dan kali ini Hana ikut andil dalam permainan ini, ia tidak ingin kalah dari James.
Hana mulai mencari pengait kain yang menutupi aset pusaka milik James, sampai ia menemukan apa yang dicarinya. Hana membuka pengait itu.
Pertama kali yang sentuhnya setelah pengait itu terbuka yaitu benda pusaka James yang keras, siap untuk memporak- porandakan inti pusat tubuhnya.
Tangan Hana menerobos masuk ke dalam celana James yang sudah dibuka olehnya, menggenggam pusaka ajaib milik tuannya. Besar, bahkan sudah mengeras.
Sesekali Hana mengelus ujung pusaka James dengan jari lentiknya, bermain, sambil menggoda ular ajaib milik James.
"Sial! Jarimu sangat nakal, tapi aku menyukainya," ujar James, merasakan jari milik Hana berputar- putar bermain di bagian tumpul pusaka miliknya.
"Aku tidak menyangka milik tuan begitu besar dan kokoh, dan ditambah sudah mengeras siap untuk dimasukan!"
"Apa kau ingin merasakannya?" tanya James kembali, seolah ia membaca pikiran Hana.
"Jika Tuan menginginkan kenapa tidak! Dan tidak mungkin aku melakukan sendiri, jika ada partner untuk bertukar keringat."
"Kau benar- benar nakal Hana. Tapi jangan salahkan aku jika aku bermain kasar."
Hana tersenyum sebagai tanda dari jawabannya, ia tidak takut jika tuannya bermain kasar, ia siap menerima resikonya, karena ini yang Hana mau, bergulat dengan sang tuan demi sebuah kenikmatan.
James pun menurunkan celana panjangnya memperlihatkan betapa besar dan kokoh miliknya, lantas mendekatkan benda tumpulnya ke wajah Hana.
Hana menerima dengan senang hati saat benda tumpul itu berada tepat di mukanya, bahkan James mendekatkan benda tumpulnya ke bibir Hana.
Hana memegang, mengusap, mencium, menjilat ujung benda pusaka milik James, mulutnya pun terbuka lebar siap memasukan benda itu ke dalam mulutnya.
Seperti lolipop yang sedang dimakan oleh Hana, benda pusaka James sepenuhnya masuk ke dalam rongga mulut Hana, penuh. Sampai tungkai benda James tak terlihat.
Hana memaju mundurkan benda itu dari dalam mulutnya, sesekali keluar hanya untuk menjilati ujung benda tumpul James. Tangannya menggenggam erat, agar benda yang menjadi kenikmatannya bisa dirasakan.
Tak hanya dimulut Hana aja, terkadang benda pusaka James dihimpit dua benda kenyal milik Hana. Memaju mundurkan di dadanya.
Hana mengerang penuh kenikmatan saat benda milik James menggesek nipple pinknya. Lalu kembali berada di tengah kedua benda kenyal milik Hana.
Tangan James pun bergerak liar, atas dan bawah, meremas dua benda kenyal itu, dan satunya bermain di klitoris Hana.
"Ah… Tuan! Please harder!" pinta Hana pada James.
Seakan tidak ingin permainan cepat berlalu, James membalikan tubuh Hana, mendekatkan pusakanya pada gua lembab Hana.
Kaki Hana yang satu diangkat dan di pegang oleh James. Permainan yang sesungguhnya siap di mulai.
"Tidak semudah itu kau mengeluarkan cairanmu baby girl, karena aku masih ingin bermain- main dengan tubuh indahmu!" James pun mengarahkan bendanya agar masuk ke dalam gua, tapi Jamea harus berusaha lebih keras. Karena titik pusat kenikmatan Hana susah untuk dimasuki.
Beragam cara James lakukan hingga ia mengolesi gel pada bagian ujung pusaka miliknya, barulah benda tumpul milik James masuk.
James merasakan gua sempit menghimpit pusakanya, berdenyut memijat naga saktinya. Tapi disini James sadar Hana sudah tidak perawan lagi tetapi tidak masalah untuknya, yang terpenting memberikan kepuasan pada sang naga sakti miliknya.
"Kau sudah tidak perawan?" tanya James membuka suara.
Hana terdiam, bingung untuk mengatakan yang sebenarnya. Bahwa yang mengambil darah perawannya adalah benda yang sering dipakainya untuk fantasi liat tentang bosnya.
"Kenapa diam! Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" kata James lagi.
"Tuan bisakah anda tidak bertanya seperti itu!"
"Baiklah, aku tidak akan menanyakannya lagi." James mulai memaju mundurkan naga saktinya, tangannya menggelitik klitoria Hana sambil mendengar erangan, desahan dari Hana.
Sementara Hana tidak kuasa menahan erangan yang lolos dari mulutnya, desahan Hana menggema ke isi ruang kerja majikannya.
Kenikmatan yang dulu tidak pernah tercapai, kini menjadi nyata. James– majikannya menjamah tubuhnya, memasuki tubuhnya dengan dalam memporak- porandakan Hana hingga bergelinjat penuh kenikmatan.
"Ah… Ah… Ah… Tuan… Mphh!" seperti itulah desahan Hana saat naga sakiti James menikam gua lembabnya.
"Kau sangat nikmat baby girl, dan aku tidak akan pernah puas dengan satu kali permainan, bahkan tubuhmu sendiri tidak akan puas untuk aku berhenti." James semakin mendorong masuk, menghantam gua lembab Hana, tanpa ampun.
Tangannya pun ikut bermain di antara kedua benda kenya Hana, dan klitoris Hana.
Setelah puas dengan posisi belakang James membalikan tubuh Hana, berhadapan. Dan memasukan kembali benda itu pada sarungnya.
Permain yang diciptakan mereka berdua berjalan cukup lama, setiap sisi ruang kerja James menjadi saksi percintaan mereka.
Hingga terakhir kali mereka melakukan di sofa kecil yang berada di tengah ruang kerja James. Dan kali ini Hana lah yang memimpin.
Hana duduk di pangkuan tuannya, berhadapan dengan benda tumpul yang sudah menancap di titik pusat kenikmatannya.
Hana mulai menggoyangkan pinggulnya, memaju mundurkan. Terkadang ia pun sedikit berloncat, di atas paha James. Hingga suara erangan deep voice James terdengar begitu seksi.
"Ah… Hana! Kau pandai sekali memuaskanku!"
"Karena aku ingin tuan tidak melupakanku, dan menjadikan aku satu- satunya wanita yang memuaskan tuan muda," jawab Hana, masih dengan goyangan pinggulnya.
"Apa kau sedang menawarkan dirimu!"
"Bukankah tuan menyukainya?" tanya Hana lagi. Kali ini Hana mulai menjilati puting James, menyesap puting itu bergantian. Sambil mendengar James berkata sesuatu padanya.
"Kau yang mengantar dirimu padaku Hana, jadi jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kau ketahui."
"Lakukan sesuka hati tuan, jika itu bisa membuatmu menikmatinya. Dan aku siap untuk merasakannya." Hana pun menantang sang majikan, tidak takut untuk kedepannya. Yang dipikirkan Hana James sudah berada dalam genggamannya dan memberikan kenikmatan yang selama ini hanya berada dalam fantasi liarnya.
Tak ingin melanjutkan percakapan dengan tuannya lagi, Hana semakin bergerak liar, menekan benda tumpul lebih dalam, memenuhi dirinya.
Kemudian cairan kesekian kali milik Hana keluar, tapi tidak bagi James. Justru James bagun dari duduknya membalikan posisis Hana agar menghadap belakang lagi, kaki Hana kali ini berada di sofa, bertumpu di sofa supaya mempermudah James masuk ke dalam tubuh Hana.
Hanya sekali dorongan benda milik James masuk ke dalam pusat kenikmatan Hana, dorongan yang keras tanpa ada kelembutan.
James memaju mundurkan bendanya, seperti asahan pisau agar benda itu tajam, tak ada kehalusan yang tercipta. Hanya ke kasaran yang diciptakan.
Rambut Hana pun dijambak oleh James, hingga Hana mendongak menatap mata gelap, berkabut penuh gairah.
"Aku tidak pernah bermain lembut pada seorang wanita manapun, dan sekarang kau harus siap jika aku menginginkan tubuhmu untukku nikmati, dan satu lagi jangan berharap aku lembut padamu, apa kau mengerti!"
Hana mengangguk setuju atas permintaan James, tidak bisa mundur, ia sudah berada di tahap ini. Di tahap yang selalu diinginkannya sejak dulu. Dimana Hana selalu mendambakan sang tuan muda untuk mengisi inti tubuhnya.
Tak lama James mengerang hebat cairan putih miliknya hampir keluar, James semakin mempercepat temponya, sampai cairan putih itu keluar hangat di dalam pusat kenikmatan Hana.
••••
Seperti hari- hari sebelumnya, Hana bekerja seperti biasa melayani sang tuan muda, tapi kali ini berbeda Hana bukan hanya menjadi pembantu James, melainkan pemuas nafsu James yang kapan saja tuannya itu membutuhkan tubuhnya.