Di sebuah Mansion mewah terlihat begitu ramai dan meriah. Seluruh kerabat, sahabat serta keluarga hadir di hari bahagia Keluarga Austin dan Bella untuk merayakan acara spesial anak kembar mereka.
“Mommy, daddy… Kak Arion kenapa belum datang juga sih?” protes Iris kepada kedua orang tuanya yang saat ini sedang sibuk menyapa keluarga dan kerabat.
“Tunggu sayang, mungkin Kakak kamu sudah di jalan,” jawab Bella menenangkan putrinya itu.
“Iya, mungkin Kakak tadi ada kerjaan.” tambah Irina menenangkan saudara kembarnya.
Iris menarik napas dalam, “Tapi ‘kan semua tamu sudah hadir, sedangkan kakak belum datang juga!”
Austin yang sedari tadi hanya diam kini mendekat dan merangkul kedua putrinya. “Hey princess, mau Daddy yang menarik Kakak kalian biar segera tiba?”
Iris dengan segera mengacungkan jempolnya sedangkan Irina segera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban mereka berdua yang tentunya—berbeda. Dan lagi-lagi hal tersebut membuat masalah semakin runyam.
Tujuh belas tahun yang lalu, semua keluarga di gemparkan dengan kelahiran anak kedua dan ketiga dari Bella dan Austin. Selama pemeriksaan yang diketahui kalau Bella hamil kembar fraternal, tanpa diduga wanita cantik itu melahirkan dua putri cantik yang begitu identik, bahkan sangat sulit dibedakan.
Tentu saja Bella dan Austin merasa begitu bahagia, begitu juga dengan keluarga serta kerabat. Berbeda dengan Arion yang saat itu langsung kecewa karena tidak jadi memiliki adik laki-laki. Bahkan putra tertua dari pasangan Bella dan Austin itu sempat melakukan mogok senyum kepada kedua orang tuanya dan tidak ingin melihat kedua adik perempuannya.
Semua keluarga menjadi kesulitan membujuk Arion yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Namun hal itu semua berubah saat Arion melihat kedua adik perempuannya yang begitu cantik seperti peri. “Mom! Apakah mereka berdua peri?” itulah pertanyaan yang terlontar dari mulut Arion saat pertama kali melihat kedua adik perempuannya.
Dan yang perlu digaris bawahi ialah, meskipun Iris dan Irina kembar identik dari segi hal fisik. Berbeda dengan karakter kedua putri mereka—Austin dan Bella. Iris seperti namanya yang memiliki arti dewi pelangi—dan terbentuklah karakter Iris yang begitu sulit ditebak seperti karakter sang Daddy. Sedangkan nama Irina memiliki arti wanita yang damai—memiliki hati yang lembut seperti sang Mommy.
Yang dapat membedakan kedua gadis itu hanyalah Bella dan Arion. Sedangkan Austin sering sekali kebingungan membedakan kedua putrinya itu. Sampai-sampai dia membawa kedua putri kesayangannya itu ke salon untuk mewarnai rambut mereka. Iris diberikan warna gold yang begitu indah, sedangkan Irina memilih warna coklat tua.
“Sudah… sudah! Biar mommy yang telpon Arion,” Bella melerai perdebatan kecil yang terjadi antara Austin dan kedua putrinya.
“Ok mom!” sahut mereka bertiga—sangat kompak.
“Iris sayang… Irina sayang… kembali ke teman-teman kalian dulu ya sayang, acara akan kita mulai 20 menit lagi.” Ucap Bella lembut kepada kedua putri kesayangannya itu. Dan diangguki oleh kedua putri kembarnya itu.
Austin segera menghampiri istrinya dan mengecup lembut kening wanita pujaan hatinya itu. “Huft, terimakasih sayang, aku selalu terjebak diantara perdebatan kecil Iris dan Irina,”
Bella tertawa pelan dan mengecup pipi suami tercintanya, pria yang begitu ia cintai dan pria yang begitu mencintainya. “Aku telpon Arion dulu, love.” Austin yang sudah berkepala 50 pun pergi bergabung bersama sahabat dan asistent nya yang masih setia mendampingi dirinya.
Wanita cantik itu segera menghubungi putra pertamanya, beberapa kali ia coba hubungi tapi tetap saja tidak diangkat oleh Arion, dan ini bukanlah seperti putranya. Arion tidak pernah sekalipun tidak menjawab telponnya meski ia sesibuk apapun.
Perasaan Bella mulai khawatir, ia segera berjalan cepat menuju suaminya. “Hubby,” panggilnya dengan raut wajah cemas.
Austin mengerutkan keningnya, “Ada apa sayang?” tanyanya seraya memegang pipi Bella dengan lembut. Dilihatnetra silver yang begitu indah kini sedang menampakkan kerisauan.
“Arion…”lirih Bella.
“Ada apa dengan Arion, sayang?” tanya Austin lembut, Max, Finley, dan Kenan ikut mendengar pembicaraan Austin dan Bella.
“Arion tidak mengangkat telponku, kamu tahu ‘kan dia seperti apa?” Bella menatap sendu sang suami.
Austin mengangguk paham, “Iya sayang, biar aku yang mencari keberadaan Arrion—”
“Tuan Austin, biar aku menghubungi Felix terlebih dahulu,” potong Finley dan diberi anggukan oleh Austin.
Finley menjauh dan menghubungi putranya, tidak lama kemudian terlihat Finley berbicara serius dan mengakhiri pangilan tersebut.
“Ada apa Fin?” tanya Max.
“Felix mengatakan kalau dia dan Rey saat ini sedang mencari keberadaan Arion, sudah sejak sore Arion tidak bersama mereka berdua.” Jelas Finley.
Max segera merasa dan mendatangi Austin, “Tuan,” ucapnya singkat. Austin dan Bella yang sangat paham max lagsung paham kalau ada sesuatu yang tidak beres.
“Bereskan secepatnya Max,” hanya itu titah Austin—singkat.
“Baik Tuan,” jawab Max cepat sembari memberi perintah kepada Finley dan Kenan. Mereka bertiga akhirnya keluar dari Mansion mewah tersebut tanpa menarik perhatian orang di sekitar.
“Hubby…” lirih Bella memeluk erat pinggang suaminya.
Austin mengusap lembut surai indah keemasan Bella, “Kamu tidak perlu khawatir sayang, Arion bukanlah anak yang lemah.”
“Iya aku tahu sayang,”
Sedangkan di pusat kota, Felix yang merupakan anak dari pasangan Finley dan Rose bersama Reynard anak dari pasangan Kenan dan Siska kini sedang bingung mencari Bos mereka—Arion.
Sudah sejak sore mereka tidak bisa menghubungi Arion, bahkan ponsel Arion pun tidak dapat dihubungi. “Hey Felix! Pakai skillmu!” seru Reynard asal.
“Skill apa?”
“Skill mata dewamu seperti Uncle Fin!”
Bugh!
Satu tendangan mutlak mendarat ke bokong Reynard, “Sialan kau! Aku dari tadi sudah berusaha!” tukas Felix.
“Makanya upgrade pakai skin, jangan noob seperti itu!” seloroh Reynard yang begitu maniak dengan mobilegame.
Felix menatap tajam kepada Reynard yang kembali mengganggu konsentrasinya. “Lebih baik kau suruh anak buahmu untuk periksa semua cctv Rey dari pada kau mengangguku disini!”
“Hahh!! Semua sudah diperiksa dan sejak kapan Arion main petak umpet seperti ini! Aku tidak bisa bayangkan wajah kesal twins yang menunggu kedatangannya di sweet seventeen mereka.”
“Huft! Kau juga lebih baik siapkan kadomu! Sebelum kena amukan Iris!”
Bip bip bip
Notifikasi ponsel Felix berbunyi, terlihat ada pesan masuk dari sang Daddy yang berisikan titik gps lokasi Arion serta tambahan pesan susulan berupa, ‘Ini lokasi Arion, segera tarik bocah itu sebelum Daddy menarik kalian bertiga!’
“Pfffttt!!! Uncle Fin memang DEWA!” seloroh Reynard menggoda Felix.
Dan tidak lama kemudian ponsel Reynard juga berbunyi. Pria itu segera memeriksa isi pesan yang di kirimkan oleh Kenan. Felix yang berada di samping dapat melihat isi pesan tersebut yang merupaka foto dan video rekaman cctv yang memperlihat Arion bersama seorang wanita dan seorang pria. Felix langsung tertawa puas ketika membaca pesan tambahan dari Kenan. “Hahahahha….!”dan membaca pesan tersebut dengan suara keras.
“Makanya jangan skin game yang terus di upgrade! Mwahahahha!” Felix benar-benar tertawa puas.
Dan kembali ponsel mereka berdua berbunyi secara bersamaan dengan isi yang sama dari Kenan dan Finley.
‘Apa kalian masih tertawa di situ?! Dalam sepuluh menit kalian bertiga tidak datang ke acara twins, kami akan mengirim kalian ikut pelatihan keluarga Harold!’
Deg!
Felix dan Reynard seketika mengatupkan bibir mereka, saling menatap, lalu melihat ke sudut cctv ruangan.
“Let’s go, Fel! Aku tidak mau dikirim ke neraka dunia!” bisik Reynard, bergidik ngeri.
Felix tidak lagi menyahut, pria itu langsung angkat kaki dan berlari menuju parkiran mobil, Reynard dengan cepat menyusul.
Felix dengan kecepatan penuh melajukan kendaraannya menuju klub yang terlihat di foto Arion masuk ke dalam bersama dua orang. “Tunggu! Bukannya ini Tasha dan Raul?” Reynard memperbesar foto yang ia dapatkan.
Felix mengerutkan keningnya, “Sejak kapan Arion hangout dengan mereka berdua? Dan bukannya ini terlalu mencurigakan?”
Reynard menoleh kepada Felix, “Jangan bilang?! Perempuan gila itu?”
Felix segera menyalip mobil-mobil yang ada di depannya. Dan begitu mereka tiba di depan klub, tanpa perlu menunjukkan kartu identitas para penjaga sudah mengenal mereka berdua, karena wajah mereka adalah identitas mereka. Tidak ada satupun klub yang tidak mengenal Felix dan Reynard—duo biang kerok.
Kedua pria tampan itu berlari dengan cepat menuju vip room yang ada di foto dan brak!
“Sorry!!” Reynard segera menutup balik pintu tersebut karena terkejut mendapati Arion sedang bercinta dengan panas bersama seorang wanita.
“Sialan si Arion! Biasanya dia bilang kalau mau One Night Stand dengan wanita,” geram Reynard menghela napas.
“Kau juga kenapa langsung main brak bruk brak pintu!” seloroh Felix yang tadi juga ikut melihat adegan yang diinginkan itu.
“Ck! Mataku sudah ternodai!” decak Reynard dan bersandar di pintu.
“Memangnya dengan siapa si Arion malam ini?” tanya Felix penasaran.
“…”
Reynard dan Felix seketika terdiam dan saling menatap. “Tasha?!” teriak mereka bersamaan.
“Argghhh! Sialan!” panik Reynard.
“Cepat hentikan Arion! Kalau tidak kita merasakan neraka setiap hari!” seru Felix ikutin panik.
Reynard kembali membuka pintu dengan kasar dan masuk.
“Felix! Reynard! Apa yang kalian lakukan disini!?” teriak Tasha tanpa menutup tubuhnya di depan kedua pria itu. Bahkan wanita itu tidak turun dari tubuh Arion yang saat ini berbaring di atas sofa.
“Ah sialan mataku!” umpat Felix.
“Tentu saja menjemput Arion!” sahut Reynard—ketus.
“Hey! Apa kalian tidak punya sopan santun? Aku dan Arion sedang sibuk—bercinta,” tukas Tasha. Dia tidak ingin moment yang ia tunggu-tunggu ini dikacaukan oleh Felix dan Reynard. “Sialan! Kenapa dua dedemit ini bisa tahu kalau Arion ada disini?!” pikir Tasha.
Felix tertawa keras, “Hahahha, bukannya disini terlihat hanya kau yang sibuk?” sarkas Felix, “Rey, bantu Arion bangun.”
“Hey! Hentikan!” teriak Tasha yang saat ini dipaksa menjauh dengan tubuh Arion.
Felix dan Reynard mengabaikan teriakan histeris dari Tasha—salah satu model di perusahaan mereka yang begitu terobsesi dengan Arion.
Tiba-tiba dari arah pintu terlihat lima orang pria bertubuh kekar menhadang mereka. “Ck! Rey, waktu kita hanya tersisa lima menit!”
“Kalau begitu selesaikan dalam satu menit!” sahut Reynard enteng.
Kedua pria itu langsung menghajar kelima pria besar yang menghadang mereka dengan satu kali pukulan yang melumpuhkan.
Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!
“Nice!!”
“GG!” dan melihat jam tangannya, “lima puluh enam detik!” dan mereka kembali kepada Arion.
Kedua pria itu sambil meringin memakaikan Arion pakaian dengan cepat. Arion benar-benar tidak sadarkan diri.
“Sialan kau Tasha! Apa yang sudah kau berikan pada Arion?!” murka Felix.
“Anggap karirmu berakhir malam ini juga!” ketus Reynard kepada Tasha yang sudah tertunduk ketakutan.
“Hei berengsek! Sampai kapan kalian berdua mau disini? Aku tidak ingin diomeli oleh twins!” suara berat Arion menegur kedua sahabatnya.
(Noob : Newbie dalam game atau pemain pemula, GG : GoodGame istilah yang sering dipakai di dalam game saat pertandingan antar tim)
***
“Kau sudah bangun?” tanya Reynard dan tepat saat itu mendapatkan tatapan tajam dari Arion. Membuat Reynard meneguk kasar salivanya.
Bukan karena apa, sebelum Arion benar-benar berada di bawah pengaruh obat yang ia minum. Arion sempat menghubungi Reynard. Tetapi sahabat sekaligus asistentnya itu mengabaikan panggilannya.
Reynard segera mengalihkan pandangannya, menatap Felix meminta bantuan, “Hah… Bantu aku, waktu kita tinggal tiga menit!” seru Felix kemudian kepada Reynard.
Arion yang masih dalam keadaan setengah sadar menjadi penasaran, kenapa bisa sampai ada limited time. “Apa maksudmu, Fel?”
“Dalam waktu tiga menit kalau kita tidak tiba di birthday party twins, kita bertiga akan dikirim ke pelatihan keluarga Harold dan menyusul ke keluarga Vladislav,” tentu saja benar dengan keluarga Harold, tetapi dia dengan sengaja menambahkan pelatihan dari keluarga Vladislav.
Reynard yang mendengar itupun langsung terkejut, “Eh bukannya—” namun ucapannya langsung berhenti saat Felix menatapnya tajam.
Sedangkan Arion yang masih setengah sadar langsung berdiri, “Sialan! Kenapa tidak kalian bilang dari tadi!” serya berjalan menuju pintu keluar, berhasil membuat Reynard dan Felix terbelalak terkejut melihat dampak kata pelatihan kepada Arion.
Tepat sebelum keluar, Arion berbalik dan menatap Tasha, “Aku akan membuat perhitungan denganmu!”
Ketiga pria tampan dan rupawan itu pun akhirnya keluar. Semua mata teruju kepada mereka. Dimana Arion berjalan di depan, sedangkan Reynard dan Felix berjalan dibelakangnya.
“Waktu kita sisa berapa menit?”
“Dua menit!” sahut Felix tenang.
“Shit! Karena perempuan sialan itu! Awas saja kalau aku sampai ikut dikirim ke Afrika!”
“Yon, Fel, aku punya ide….” Gumam Reynard pelan dan berhasil menghentikan langkah Arion dan Felix. Dengan kompak mereka berdua menoleh ke arah Reynard.
“Ayo ikut saja!” seru Reynard dan berjalan mendahului Arion dan Felix. Bahkan kini ketiga pria dewasa itu berlari tanpa memedulikan pandangan dari pengunjung disana.
Reynard dengan cepat masuk ke dalam kursi pengemudi, “Masuk!” Arion duduk di bagian belakang, sedangkan Felix masuk di bagian depan, disamping Reynard.
Tanpa aba-aba, Reynard segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tetapi bukan menuju mansion utama keluarga Harold. “Kita mau kemana, Rey?” tanya Arion yang saat ini duduk di bagian tengah kursi dan ikut memandangi jalan.
“Tadi saat kesini, aku melihat butik tas.” Sahut Reynard.
“Hey ini bukan waktunya untuk—” protes Felix tapi langsung di tahan oleh Arion.
“Good idea! ” potong Arion. Paham akan tujuan Reynard.
Felix menekuk keningnya, “Why?”
“Ayo turun!” seru Reynard begitu memarkirkan mobilnya.
Felix yang masih kebingungan hanya mengikuti perbuatan kedua sahabtnya itu. “Hey, ada apa?!” tanyanya yang masih tidak paham.
Ketiga pria itu tidak memedulikan sapaan dari para staff yang menyambut mereka dengan ramah.
“Keluarkan ponselmu, Yon.” Pinta Reynard kepada Arion.
Arion segera merogoh saku jas dan celananya tapi nihil, “Ponselku di mana?”
“Ah sial! Aku lupa! Fel, ponselmu…!” Reynard beralih ke Felix, “buruan!”
Reynard segera mencari nomor ponsel Emily—putri pertama dari Ethan dan Della, baru nada dering ke tiga, panggilan tersebut terhubung, “Kalian dimana?” terdengar suara Emily dengan sangat pelan.
“Nanti baru aku jelaskan, sekarang panggilkan twins, aku akan melakukan panggilan video,” ujar Reynard kepada Emily.
“Tapi—”
Arion langsung meraih ponsel tersebut dari tangan Reynard, dan berbicara kepada Emily, “Panggilkan twins!” ucapnya singkat dan dingin.
Emily yang diseberang sana cukup terkejut mendengar suara Arion, “Arion? Hmm, baiklah.” Dan tidak lama kemudian terdengar suara heboh di seberang sana.
“Mereka disini,” ucap Emily.
“Ok siap-siap!” Panggilan telpon pun berganti menjadi panggilan video.
“Kaaaaaakkkkkk!!!!” teriakan kencang dari twins—Iris dan Irina.
“Hai princess, sorry for late—maaf terlambat. Kakak lagi di butik, apa yang kalian mau?” Arion dengan wajah ceria berbicara kepada dua adik perempuannya yang sudah beranjak dewasa.
“We want you big brother—kami menginginkanmu kak!” sahut Iris dan Irina manja. Arion merasa bersalah kepada kedua adik perempuannya. “Damn you Tasha!” umpatnya dalam hati.
Arion tersenyum lembut kepada Iris dan Irina, “Artinya kalian mau semuanya, right?”
“Tidak perlu Kak!” sahut Irina namun dengan cepat Iris mengambil alih ponsel Emily, “Ok kak! Kami menunggumu! Jadi cepatlah datang!”
Pria berhazel biru gelap itu tertawa renyah, “Ok! Wait me there,” dan telepon pun beralih kepada Emily.
“Arion, kamu sebenarnya ada di—”
“Sudah ya, Em.” Potong Arion dan mematikan ponselnya.
Felix dan Reynard menunggu dengan sabar sambil menyuruh para penjaga butik untuk membungkus semua tas dan pakaian koleksi terbaru mereka.
“Bagaimana?” tanya Reynard.
“Atleast—setidaknya, kita aman sampai sepuluh menit kedepan,” sahut Arion yang akhirnya bisa bernapas lega. Kemudian melihat semua paper bag yang sudah siap mereka bawa pulang.
“Sudah cukup?” tanya Felix sambil melihat sekitar 20 paperbag besar yang saat ini tersusun rapi.
“Hmm, aku rasa sudah.” Kemudian Arion pergi menuju kasir dan membayar semua tagihan belanjaan untuk kedua adik perempuannya.
Ketiga pria itu keluar dari butik dengan menenteng begitu banyak belanjaan di kedua tangan mereka.
“Ok beres!”
“Yah berdoalah, seteidaknya pikiran orang tua untuk mengirim kita untuk pelatihan terlupakan,” sahut Felix seraya memasukkan semua paperbag tersebut kedalam bagasi.
Sedangkan Reynard sudah masuk kebagian kemudi, disusul Arion yang duduk ditempatnya—kursi belakang. Felix menyusul masuk kemobil setelah memastikan tidak ada yang di lupa.
“Ok! Let’s go!”
“Lalu dimana Raul?” Reynard bertanya kepada Arion, “bukannya kalian bertiga pergi bersama ke klub?”
Arion menghela napas kasar, “Aku tidak tahu, tadi sebenarnya hanya aku dan Raul yang ingin pergi, tapi ternyata wanita jalang itu ada di klub itu juga dan memaksa untuk ikut bergabung!”
“Aku tidak sangka kau sampai lengah seperti itu, Yon!”
“Ck! Kepalaku masih sangat berat!” Arion bersandar di kursi. Kepalanya sangat sakit saat ini, tapi sejujurnya tubuhnya terasa begitu aneh. Tapi dia tidak ingin mengatakan hal itu kepada kedua sahabatnya. “Sialan, obat apa yang dia berikan?” gumam Arion dalam hati sambil melonggarkan kancing kemejanya. Tubuhnya terasa begitu panas.
Ingin sekali rasanya dia mandi air dingin untuk mengguyur kepalanya, tapi melihat waktu, rasanya sudah tidak sempat. Setidaknya dia datang ke acara twins dan dia beristirahat di paviliun miliknya.
Felix dan Reynard hanya saling melirik. Mereka sudah memiliki rencana lain, yaitu mencari tahu dalang di balik kejadian ini. Bagi mereka, tidak mungkin Tasha berani bertindak seperti itu sendirian.
Dari jauh terlihat suasana kemewahan dan taman yang indah di mansion keluarga Harold begitu mengagumkan. Saat Reynard melaju masuk ke dalam gerbang megah, pemandangan yang luar biasa mulai terlihat. Tepat di sepanjang jalan masuk, rerumputan yang hijau dan rapi membentang dengan indah, dihiasi dengan bunga-bunga warna-warni yang menghiasi sepanjang sisi jalan.
Sedangkan sepanjang jalanan, deretan pohon-pohon tinggi menjulang, menciptakan lorong yang teduh dan menawarkan rasa sejuk yang menyegarkan. Sinar gemerlap lampu pun bermain-main, menembus celah-celah daun pohon dan menciptakan pola cahaya yang menawan di atas permukaan tanah.
Begitu Reynard semakin mendekat di pintu utama mansion, pemandangan mewah semakin menyapu pandangan mata. Mansion ini, dengan arsitektur klasik dan sentuhan modern, menjulang megah dengan atap tinggi dan kubah-kubah elegan yang menggambarkan kekayaan dan kemegahan keluarga Harold. Terlihat pula patung-patung marmer yang indah di pinggir taman, memberikan sentuhan seni yang luar biasa di area sekitarnya.
Mansion yang di desain khusus oleh Austin untuk istri tercintanya Bella. Sampai mansion ini mendapatkan julukan yang begitu indah yaitu ‘The Belle Mansion’. Taman yang menyelimuti mansion ini sungguh luar biasa. Rimbunnya berbagai tanaman hias memberikan warna-warni yang menakjubkan, dari bunga-bunga mawar yang harum hingga taman berpadu dengan pepohonan eksotis yang langka. Kolam renang besar terhampar luas di tengah taman, airnya tampak begitu jernih dan menyegarkan. Terdapat air mancur indah yang menghiasi kolam renang, menari-nari dengan gemerlap sinar lampu yang mencerminkan kilauan warna-warni yang menawan.
Di sekitar taman, terdapat jalur setapak yang terbuat dari batu alam yang dipadu dengan berbagai tanaman dan patung-patung kecil. Jalur setapak itu mengajak kita untuk menjelajahi keindahan alam yang diciptakan manusia dengan begitu apik. Seluruh taman ini dirawat dengan teliti, menjadikannya tempat yang nyaman untuk bersantai dan menikmati suasana yang damai dan menenangkan. Para tamu terlihat sedang menikmati acara yang diselenggarakan sangat meraih ini.
Begitu banyak mobil mewah yang terparkir di area taman mansion ini, menunjukkan bahwa keluarga Harold memiliki banyak rekanan yang luar biasa dalam lingkungan mereka. Lampu-lampu taman mulai menyala keseluruhan, menciptakan aura romantis yang menakjubkan. Cahaya gemerlap melintasi taman, memberikan sentuhan magis pada seluruh area mansion keluarga Harold ini.
Semua tamu begitu terpesona saat air mancur yang berada di taman memantulkan cahaya aurora yang begitu indah. Dalam gemerlap kemewahan dan keindahan taman, terdengar suara riuh tawa penuh canda dan kegembiaraan. Semua keluarga merasa begitu bahagia di hari special ini.
Putri kembar Austin dan Bella sudah menginjak usia yang lebih matang yaitu 17 tahun, dimana Arion sendirilah yang akan menjaga kedua adik perempuannya dari pria hidung belang. Pesona kedua adiknya begitu mirip dengan kecantikan Mommynya.
Reynard segera mematikan mesin mobilnya begitu tiba di depan pintu utama mansion, Arion pun segera hendak turun namun tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit membuat dirinya kesulitan berdiri. “Hey are you ak?” tanya Felix yang tepat berada disampingnya. Felix dengan sigap menahan tubuh Arion yang hampir saja terjatuh.
Arion berusaha menstabilkan dirinya kembali, “Hem, it’s ok!” jawabnya tenang.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mansion, Iris dan Irina menyambut Arion penuh dengan suka cita. Begitu juga Bella ayng senang melihat putranya baik-baik saja.
Acara pun berlangsung dengan meraih, wajah bahagia Iris dan Irina adalah sebuah kebahagian besar untuk Arion. Iris dan irina menyambut dengan bahagia hadiah kecil yang ia belikan, karena sesungguhnya Arion sudah membelikan hadiah yang jauh lebih besar untuk kedua adik perempuannya itu.
Sekitar satu jam Arion bertahan mengikuti acara bahagia Iris dan Irina, namun seseorang sadar akan hal itu. Dia tahu kalau kondisi fisik Arion saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Begitu pun Bella yang memperhatikan raut wajah Airon yang sedang berusaha menahan sakit, dengan lembut dia mendekati putranya itu. “Hey sayang,”
“Hai mom,” balas Arion lembut penuh senyuman bahagia, dia mengecup pipi kiri dan kanan Bella penuh kasih sayang.
“Kamu dari mana sih? Dari tadi Mommy telpon tidak kamu jawab…” tanya Bella lembut seraya mengusap dada Arion. Menatap putranya mencari kejujuran.
Arion tersenyum, “Tadi ada sedikit kerjaan mom, dan ponselku low baterai. Sorry…” Jawab Arion penuh penyesalan.
“It’s ok, lain kali ingat istirahat, hem?”
“Of course mom, love you.” Sahut Arion merangkul Bella.
“Lebih baik kamu istirahat, kamu tidak perlu disini sampai acara selesai,”
“Tapi—” Arion tidak ingin mengecewakan kedua adiknya.
“It’s ok, twins akan mengerti kalau kakak kesayanga mereka sedang kelelahan,” jawab Bella penuh senyuman, menenangkan Arion.
Arion bernapas lega, “Thank you mom, kalau begitu aku langsung istirahat di paviliunku saja,”
“Hmm, night sayang.”
Setelah memberikan kecupan selamat malam kepada sang mommy, Arion berjalan masuk melewati pintu samping mansion yang tembus dengan pavilion miliknya yang di bangun terpisah. Paviliun tersebut sengaja dia minta kepada Austin saat dirinya berada di bangku kuliah.
Tentu saja Austin dan Bella setuju akan hal itu, lagi pula tanah kosong masih sangat luas di mansion ini, bahkan untuk membangun beberapa rumah tipe 120 pun masih sangat bisa. Jadi untuk membangun satu pavilion mewah bukanlah hal besar. Dan lagi pula saat itu Arion memang sudah dewasa dan membutuhkan privasi.
Dimana sahabat-sahabatnya sering berkunjung, sedangkan dia memiliki adik perempuan. Dia tidak ingin kecantikan adik perempuannya menjadi Konsumsi public bahkan bahan candaan dari teman-temannya saat itu.
Arion berjalan melewati taman yang kosong dan lampu-lampu taman berkerlap-kerlip begitu indah. Namun, saat ini dia hanya butuh isitrahat. Dan tiba-tiba saja saat berjalan kepalanya tersa sakit, pandangannya pun semakin memudar.
“Arion!” suara wanita yang langsung memapah tubuh tegap Arion, seandainya wanita itu tidak menahan tubuh Arion. Sudah dipastikan, pria tampan itu terjerembat di tanah yang basah.
“Are you okay?” tanyanya lagi begitu khawatir melihat kondisi Arion saat ini.
Namun sayangnya pandangan Arion sedikit kabur, kepalanya pun semakin perih, “Kamar!” pinta serak. Dia ingin segera di bawa ke kamarnya.
“Ok ok! Aku akan membawamu, ke paviulun ‘kan?”
“Hem!” sahut Arion singkat.
Dengan sedikit kesusahan wanita itu memapah Arion ke pavilion. “Huft, kamu kenapa bisa seperti ini?” gumamnya pelan dengan nada khawatir. Dia berusaha memeluk Arion dengan kuat agar mereka berdua sama-sama tidak terjatuh.
Namun tanpa wanita itu ketahui, Arion saat ini berusaha menahan gejolak gairah yang sedang membakarnya. “Damn! Aku harap aku bisa bertahan!”
“Tubuhnya sangat wangi,”
Apakah Arion bisa bertahan? Dan siapa ya wanita yang selamatin Arion?"
Yuk ramaikan kolom komentar….