Nama panjangnya adalah Rinduwati Suliandara. Mba Rien, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru tari di Sanggar Tari Pelangi. Kino tak pernah tahu usia wanita itu yang sesungguhnya, tetapi pokoknya ia tak tampak terlalu tua, walau jelas bukan pula remaja.
Wajahnya -jika memakai ukuran normal- tidaklah terlalu cantik. Tidak pula terlalu jelek. Biasa-biasa saja Tetapi Mba Rien memiliki mata yang sangat indah, bening dihiasi bulu mata lentik. Juga memiliki bibir yang -menurut Kino- sangat menarik, karena selalu kelihatan basah.
Waktu itu Kino duduk di bangku SMA, kelas dua A. Untuk usianya, waktu itu Kino tergolong “terlambat” dalam soal pacaran. Ia tidak punya teman wanita istimewa, karena baginya semua teman wanitanya sama saja.
Konon ada yang naksir, namanya Alma, gadis dari kelas dua B. Tetapi Kino tidak tertarik, walau kata teman-temannya gadis itu tergolong ratu. Bagi Kino, ia memang ratu, tetapi entah kenapa ia tidak tertarik. Berenang di sungai lebih menarik bagi Kino, katimbang jalan-jalan dengan Alma.
Tetapi Mba Rien menarik hatinya sejak awal mereka berjumpa. Waktu itu, Kino mengantar adik perempuannya, Susi, ke sanggar untuk latihan menari. Kino sangat sayang kepada adik satu-satunya yang baru berusia 7 tahun itu (jarak dua kakak-beradik ini memang terlalu jauh).
Dengan sepeda, diboncengnya Susi ke sanggar, dan diantarnya sampai ke ruang latihan di tengah kompleks sanggar. Saat itulah ia melihat Mba Rien, sedang mengikatkan setagen ke sekeliling pinggangnya.
“Selamat sore Susi…,” ucap Mba Rien menyapa Susi, lalu sekejap melirik Kino. Suara wanita itu lembut tetapi bernada wibawa, pikir Kino sambil melepas gandengan tangan adiknya.
“Mba Rien, ini kakak saya…,” Susi menunjuk ke Kino yang masih berdiri di pintu ruang latihan. Mba Rien mengangkat muka, dan tersenyum kepada Kino. Agak canggung, Kino membalas tersenyum dan berucap serak, “Selamat sore, mbak…”.
Mba Rien hanya mengangguk tanpa berhenti tersenyum, lalu menerima salam Susi, dan berbalik menuju tempat segerombolan anak-anak yang sedang bersiap belajar menari. Kino masih berdiri, memandang tubuh Mba Rien dari belakang, dan entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih keras.
Tubuh Mba Rien menyita perhatiannya, terbungkus kain dan baju ketat, menampakkan lika-liku yang menawan. Astaga, pikir Kino, wanita ternyata bisa menarik juga!
Untuk beberapa jenak, Kino masih berdiri di depan pintu, menelan ludah berkali-kali dan merasa wajahnya merah karena malu. Kepada siapa? Entahlah. Tetapi perjumpaan pertama dengan Mba Rien berbekas keras di kalbunya. Sambil mengayuh sepedanya pulang, Kino tiba-tiba memiliki pikiran-pikiran seronok.
Gila kamu! tukasnya dalam hati, menyalahkan diri sendiri. Mana mungkin kamu bisa meremas-remas tubuh itu! ucap suara lain di kepalanya. Meremas….? Dari mana datangnya ide gila itu? pikir Kino gelisah.
Berkali-kali Kino merasa sadel sepedanya terasa lebih kecil dari biasanya, dan selakangannya sering terasa geli. Sial! sergahnya dalam hati.
Ketika ayah memintanya menjemput Susi, dengan bersemangat Kino mengatakan ya. Lalu, ia pun tiba di sanggar 15 menit sebelum waktu latihan selesai. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tidak jauh dari ruang latihan.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Mba Rien melenggak-lenggok mengajarkan gerakan yang diikuti oleh belasan anak-anak kecil. Pandangan Kino tak lekang dari gerakan-gerakan Mba Rien, dan entah kenapa ia kini mengerti apa artinya sebuah tari yang indah! Selama ini, bagi Kino menari adalah kegiatan perempuan yang tak menarik.
Menjemukan, bahkan. Tetapi ketika melihat Mba Rien mengangkat tangan, melenggok ke kiri, menggerakkan pinggulnya …., Kino menelan ludah lagi. Bajingan kamu! ucap sebuah suara di dalam kepalanya.
Kino membuang muka, mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput. Tetapi, seperti ditarik magnit, muka Kino sesekali kembali lagi memandang ke ruang latihan.
Dari ruang tari, Rien juga bisa melihat keluar, walau perbedaan terang menyebabkan matanya agak silau jika harus memandang ke arah tempat Kino duduk.
Sambil terus menggerakkan tubuhnya, Rien melirik dan mengernyit heran melihat remaja itu betah duduk sendirian. Biasanya, para penjemput murid-muridnya datang terlambat, dan tidak pernah berlama-lama di sanggar tari.
Apalagi yang laki-laki, entah itu kakak atau ayah atau paman. Pada umumnya, di kota kecil ini, menari bukanlah sesuatu yang menarik untuk pria. Makanya, tingkah Kino bagi Rien agak tidak biasa.
Ketika akhirnya latihan selesai, Kino bangkit dan mendekat ke arah ruang latihan, tetapi tetap dalam keteduhan pohon kamboja. Entah kenapa, ia tak berani lebih dekat. Sebetulnya ia ingin mendekat, tetapi dadanya berdegup kencang setiap kali ia melangkah.
Semakin dekat ke ruang latihan, semakin kencang degupnya. Sebab itu, ia berhenti setelah dua langkah saja. Ia akan menunggu saja sampai Susi keluar dan menghampirinya.
Rien, dengan sedikit peluh di lehernya, mengucap salam perpisahan kepada murid-muridnya. Lalu, sambil melepas stagen, ia berjalan ke pintu. Dilihatnya Susi berlari ke arah penjemputnya, remaja yang betah berlama-lama di bawah pohon kamboja menonton latihannya itu.
Sambil melepas ikat rambutnya, sehingga rambutnya yang sebahu kini tergerai, Rien berdiri di pintu dan berucap lembut, tetapi juga cukup keras untuk didengar Kino.
“Kenapa tadi tidak tunggu di dalam saja, Dik…,” ujarnya. Kino cuma bisa menyeringai seperti kera sedang makan kacang.
Rien tersenyum melihat seringai remaja yang tampak kikuk itu. Kino menelan ludah melihat senyum itu. Entah kenapa, senyum itu tampak menarik sekali. Rasanya, Kino seperti disiram air sejuk. Gila kamu! ucap suara di dalam kepalanya lagi.
Dan Kino pun cepat-cepat membungkuk berpamitan, lalu menggandeng tangan Susi menuju sepeda. Rien kembali tersenyum memandang kedua kakak-beradik yang akur itu meninggalkan sanggarnya.
Sejak pertemuan itu, Kino sering melamunkan Mba Rien. Lebih gila lagi, saat mandi dan menyabuni tubuhnya, Kino merasakan darahnya berdesir membayangkan Mba Rien. Percuma ia mengguyurkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya, tetap saja kelaki-lakiannya perlahan menegang. Aduh celaka! jeritnya dalam hati, ketika melihat ke bawah.
Cepat-cepat ia menyabuni dirinya, lalu membilasnya, membungkus tubuhnya dengan handuk dan lari ke luar kamar mandi menuju kamarnya. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat tonjolan di bawah pinggangnya yang terbungkus handuk itu!
Malam hari, ketika ia gelisah bergulang-guling di ranjangnya, Kino kembali membayangkan Mba Rien. Lagi-lagi terbayang pinggulnya yang padat berisi, pinggangnya yang ramping, dan dadanya yang membusung walau tidak terlalu besar.
Kino juga terkenang lehernya yang agak basah oleh keringat. Juga bibirnya. Ya, bibirnya itu yang paling menawan. Selalu basah, dan tampaknya lembut sekali. Apalagi kalau ia tersenyum, menampakkan sedikit gigi-giginya yang putih. Bagaimana rasanya menggigit bibir itu?
Kino makin gelisah, sebab kini kelaki-lakiannya menengang lagi seperti ketika ia sedang mandi. Malam sudah agak larut, dan rumah sudah sepi. Tak ada suara-suara, selain jangkerik. Kino menelungkupkan tubuhnya. Celaka, justru gerakan itu menyebabkan kelaki-lakiannya terjepit di antara tubuhnya dan kasur yang empuk.
Tanpa sadar, Kino menggerak-gerakkan badannya, menggesekkan kelaki-lakiannya ke kasur. Matanya terpejam, dan terbayang ia berada di atas tubuh Mba Rien. Terbayang ia mengulum bibir Mba Rien yang basah.
Terbayang dadanya yang ceking menempel di dada Mba Rien yang kenyal. Gila! Kino terlonjak ketika merasakan cairan hangat mengalir cepat membasahi celana dalamnya. Untung ia sigap, sehingga seprai tidak ikut basah.
Hanya saja, di pagi hari ia harus mencari alasan untuk bisa mencuci sendiri celana dalamnya, tanpa harus mencuci pakaian anggota keluarga yang lain!
Beberapa hari setelah perjumpaan pertamanya dengan Kino, kembali Rien terheran melihat remaja itu sudah ada setengah jam sebelum latihan usai. Setengah jam! Betapa lamanya ia akan menanti di situ sendirian, ucap Rien dalam hati sambil terus menggerakkan badannya di depan para penari cilik.
Berkali-kali Rien melirik ke arah pohon kamboja, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa gerangan remaja itu begitu betah menunggu adiknya. Terlebih-lebih lagi, remaja itu selalu memandang ke dalam dengan seksama.
Sialan, mungkin ia tertarik melihat tubuhku, umpat Rien dalam hati. Tetapi, mungkin juga ia tertarik pada tarianku. Siapa tahu? Atau mungkin tertarik pada dua-duanya, ucap Rien dalam hati. Ia tersenyum sendiri ketika mengambil kesimpulan terakhir ini.
“Satu … dua…tiga …. empat, putar……,” Rien memutar tubuh memberi contoh, diikuti oleh bidadari-bidadari kecil yang tertatih-tatih mencoba meniru sesempurna mungkin.
“Satu .. dua … tiga … empat, putar….,” suaranya lembut, tetapi tegas dan cukup nyaring.
Kino menyenderkan tubuhnya di batang pohon kamboja. Sayup-sayup suara Mba Rien sampai di telinganya. Terdengar merdu. Gila! semua yang berhubungan dengan wanita itu selalu bagus.
Apa-apaan ini? sebuah suara menghardik di kepala Kino, membuatnya tertunduk sendiri. Dicabutnya sebatang rumput, dimain-mainkannya di antara jari-jarinya. Kino merenung, bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dalam dirinya.
Mengapa Mba Rien jadi begitu menarik, padahal ia jauh lebih tua dariku? Mengapa Alma yang seusia dengannya itu tidak semenarik Mba Rien, padahal Alma juga cantik. Kino menarik nafas dalam-dalam, lalu kepalanya terangkat lagi, memandang lagi ke dalam ruang latihan.
Cuma kali ini ia tidak melihat Mba Rien di sana. Dipanjang-panjangkannya lehernya, mencari-cari, kemana gerangan wanita itu. Kino bahkan memiringkan tubuhnya, sampai hampir rebah ke kiri, untuk melihat sudut terjauh yang masih terjangkau pandangan.
Mba Rien tidak ada, sementara murid-muridnya masih bergerak sesuai irama musik dari tape-recorder. Kemana dia?
Hampir copot rasanya jantung Kino, ketika tiba-tiba Mba Rien muncul dari balik tembok rumah di sebelah ruang latihan. Rupanya, ada gang yang menghubungkan rumah itu dengan ruang latihan, yang tidak terlihat dari tempat Kino duduk.
Rupanya Mba Rien meninggalkan murid-muridnya untuk masuk ke rumah itu. Dan kini ia berjalan kembali ke ruang latihan, tetapi tidak melalui gang, melainkan lewat pintu depan. Lewat di depan Kino, melenggang santai dengan kainnya yang ketat membungkus tubuhnya yang indah.
“Hayo.., tunggu di dalam, Dik!” ucap Mba Rien menghentikan langkah sebelum masuk. Senyum yang memikat Kino terhias di bibirnya. Kino menelan ludah, tak bisa menyahut, dan cuma bisa meringis lagi. Betul-betul seperti kera yang sedang kepedasan.
“Hayo …,” ajak Mba Rien lagi, lembut tetapi tegas.
Kino bangkit, dan dengan ragu-ragu melangkah mendekat. Mba Rien tertawa kecil, lalu melanjutkan langkah mendahului masuk. Pelan-pelan Kino menyusulnya. Ketika ia tiba di ruang latihan, Mba Rien sudah berputar-putar lagi memberi contoh gerakan tarinya.
Kino mencari-cari bangku untuk duduk, tetapi tak ada satu pun di sana. Ia lalu berdiri saja, menyender di sebuah tiang yang cukup besar.
Rien melirik, melihat remaja itu berdiri kikuk. Kasihan, pikirnya. Tetapi biarlah begitu, kalau ia memang tertarik pada tarianku -atau tubuhku!- biar saja ia berdiri sampai pegal. Tersenyum Rien mendengar kata hatinya yang terakhir ini. Ya, biar dia berdiri sampai pegal!
Selama 20 menit, Kino berdiri saja melihat adiknya latihan menari. Susi terlihat senang melihat kakaknya sudah hadir. Berkali-kali Susi kelihatan ketinggalan langkah, karena ia tersenyum-senyum kepada kakaknya.
Kino mengernyitkan dahinya, meletakkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Susi agar tetap serius. Rien tersenyum melihat tingkah keduanya.
Ketika akhirnya latihan selesai, Kino bernafas lega. Bukan saja karena ia sudah pegal berdiri, tetapi juga karena sebenarnya ia agak tersiksa. Betapa tidak? Sejak tadi ia terpesona oleh gerak Mba Rien, tetapi ia harus menyembunyikan perasaan itu. Betapa sulit!
Rien berjalan mendekati Kino sambil melepas stagen. Kino berdiri kikuk ketika akhirnya Rien berdiri di hadapannya, cukup dekat untuk mencium bau keringatnya yang ternyata tidak mengganggu Kino.
“Suka menari?” tanya Rien. Matanya memandang lekat remaja di hadapannya. Senyumnya mengembang halus. Kino menelan ludah lagi.
Kino menggeleng kuat. Rien tertawa kecil, “Saya pikir kamu suka. Sebab, kamu betah menunggu adikmu latihan.”
“Saya …., sebetulnya saya suka ..,” ucap Kino tergagap.
“Oh, ya???” Rien membelalakan matanya yang indah, senyumnya mengembang lagi. Kino menelan ludah lagi. “Seberapa suka, sebetulnya …,” tanya Rien lagi, ringan.
“Mmmm … saya suka menonton saja.” jawab Kino sekenanya.
“Menonton anak-anak kecil menari?” tanya Rien. Wah! Kino tertunduk, mukanya tiba-tiba terasa panas. Sial!
Rien tergelak melihat Kino tertunduk malu. Kini ia tahu apa yang sesungguhnya ditonton laki-laki belia ini! Ia ke sini untuk menontonku, melihat tubuhku! Dan kesimpulan ini membuat dirinya senang. Bagi Rien, menyenangkan penonton adalah tujuan utamanya menari, bukan?
“Siapa nama kamu?” tanya Rien lembut sambil melepas ikat rambutnya. Kino mengangkat muka, melihat kedua tangan Rien terangkat, dan samar-sama kedua ketiaknya yang mulus terlihat dari lengan bajunya yang agak tersingsing.
“Kino..,” terdengar jawaban pelan. Rien tersenyum lagi, sengaja berlama-lama membuka ikat rambutnya, membiarkan remaja itu melihat apa yang ingin dilihatnya. Nakal sekali kamu, Rien! sebuah suara terdengar di kalbunya.
Siksaan bagi Kino baru berhenti ketika Susi menarik tangannya pulang. Sambil menggumamkan selamat sore, ia berbalik dan menggandeng adiknya ke tempat sepeda.
“Datang lagi, yaaa!” seru Rien ketika Kino sedang bersiap mengayuh. Duh! Kino jadi serba salah. Apakah ia harus menjawab seruan itu? Ah, sudahlah! sergahnya dalam hati dan cepat-cepat mendayung. Dari kejauhan Rien memandang kakak-beradik itu menghilang di balik tikungan. Senyum manis masih di bibirnya.
Demikianlah seterusnya, Kino semakin terpikat oleh wanita yang pandai menari dan pandai menggoda itu. Sekali waktu ia mencoba menghindar, meminta kepada ayah untuk tidak usah menjemput Susi dengan alasan harus latihan bola kaki.
Selama empat kali latihan, ia tidak mampir ke sanggar, dan tidak berjumpa Mba Rien. Dan itu artinya, sudah sebulan ia tidak melihat tubuh molek itu melenggak-lenggok. Lama juga, ya?
Sampai suatu hari, ada pertunjukkan dari di balai kota, diselingi permainan band sebuah kelompok amatir yang cukup populer di kota kecil ini. Kino datang bersama teman-temannya, tentu hanya untuk menonton band. Acara tari-tarian di sore hari dilewatkan saja. Rombongan Kino baru tiba di atas pukul 8, saat band mulai naik panggung.
Di situlah Kino berjumpa lagi dengan Mba Rien. Saat band memainkan lagu ketiga, Kino pergi ke belakang panggung untuk buang air kecil, karena di sana lah terdapat toilet untuk umum.
Saat kembali ke tempat duduknya, sewaktu meliwati pintu yang menuju tempat pemain berganti pakaian, Kino melihat Mba Rien duduk di sebuah bangku. Langkahnya terhenti, lalu ia menyelinap ke balik tembok yang agak gelap. Dari situ, ia bisa melihat Mba Rien, tetapi wanita itu tidak bisa melihatnya.
Rien memakai jeans ketat dan sebuah kaos agak longgar berwarna putih. Rambutnya digelung ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan agak basah oleh keringat. Ia tampak letih, dan sedang menikmati sebotol minuman dingin. Bibirnya menjepit sebuah sedotan, dan matanya tampak melamun.
Bagi Kino, Mba Rien tampak menawan malam itu. Ia kemudian melihat wanita itu bangkit menuju ke sebuah kamar di belakang panggung. Kino mengikuti gerak-geriknya dengan seksama, aman dalam lindungan bayang-bayang yang gelap.
Tak lama kemudian, tampak Mba Rien membuka sebuah pintu, dan di dalam terlihat terang berderang tetapi sepi. Berjingkat, Kino berpindah tempat sehingga bisa memandang lebih bebas ke dalam ruangan itu.
Rien menutup pintu ruang, tetapi rupanya kurang begitu kuat mendorong, sehingga masih tersisa celah untuk melihat ke dalam. Dengan jantung berdegup kencang, Kino melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa.
Semua orang berada di depan panggung asyik menonton band. Pelan-pelan ia melangkah mendekati ruang yang ternyata adalah ruang ganti pakaian bagi para artis. Ia tiba di depan pintu ruang itu, dan dari celah yang tersisa, ia bisa melihat ke dalam. Kino menelan ludah, dan menahan kagetnya.
Di dalam, Mba Rien tampak sedang membuka kaosnya, membelakangi Kino. Tubuhnya yang putih dan padat terlihat jelas, apalagi kemudian ia berputar menghadap sebuah cermin yang pantulannya terlihat dari tempat Kino berdiri. Ia bisa melihat dua payudara yang indah, terbungkus beha yang tampak terlalu kecil. Lutut Kino terasa bergetar.
Kemudian tampak Mba Rien melepas celana jeansnya. Kino merasa kakinya terpaku di tanah. Dengan kuatir ia melihat ke sekeliling, takut kepergok. Tetapi suasana di sekitar ruang ganti itu tetap sepi. Maka ia tetap mengintip ke dalam.
Jeans sudah dibuka dan tergeletak di lantai. Mba Rien hanya bercelana dalam dan berbeha, dan tubuhnya indah bukan main. Putih mulus, padat berisi. Kino berkali-kali menelan ludah.
Pemandangan indah itu berlangsung tak lebih dari 10 menit, karena kini Mba Rien sudah berganti rok panjang dan baju hem coklat. Tetapi bagi Kino, rasanya lama sekali. Cepat-cepat ia berbalik dan tergopoh kembali ke depan panggung.
Rien mendengar suara langkah orang. Terkejut, ia segera lari ke pintu dan melihat pintu belum tertutup sepenuhnya. Celaka, pikirnya, seseorang tadi mengintipku berganti pakaian. Cepat-cepat dikuaknya pintu, dilongokkannya kepala, bersiap berteriak jika memergoki si pengintip. Tetapi di luar sepi, tidak ada siapa-siapa. Ah, mungkin cuma perasaanku saja, pikir Rien.
Sementara itu, di depan panggung Kino gelisah mengenang pengalamannya. Lagu-lagu yang dibawakan band di depannya terasa hambar. Teman-temannya terlihat girang, tetapi ia sendiri kurang bergairah. Dengan alasan mengantuk, ia pulang lebih dulu dari teman-temannya yang keheranan.
“Ada apa denganmu, Kino?” tanya sobatnya, Dodi. Ia tidak menjawab, dan hanya menggumam sambil melangkah meninggalkan arena pertunjukkan.
“Dasar kutu buku …,” gerutu Iwan, temannya yang lain.
Kino tak peduli, dan terus melangkah menembus malam.
Dan malam itu, Kino menikmati hayalnya di atas ranjang, meremas-remas kelaki-lakiannya yang menegang sambil membayangkan tubuh mulus Mba Rien.
Tak berapa lama, ia mengerang tertahan, merasakan cairan hangat memenuhi telapak tangannya.
Dengan tissue yang sudah disiapkannya, ia melap tangannnya, lalu tidur nyenyak sambil berharap bertemu Mba Rien di alam mimpi. Namun mimpinya ternyata kosong belaka, tentu karena ia sebetulnya sudah sangat mengantuk malam itu.
Bersambung...
Seminggu setelah peristiwa di belakang panggung itu, Kino mengantar Susi ke sanggar Mba Rien. Sebelum berangkat, ia sudah bersumpah untuk tidak berlama-lama. Begitu sampai, ia akan segera melepas Susi dan kembali kerumah secepatnya.
Kepada Susi ia telah pual berpesan agar tidak perlu diantar sampai pintu ruang latihan. Susi mencibir manja, tetapi tidak membantah ucapan kakaknya.
Namun semua rencana buyar ketika ternyata Kino berjumpa Mba Rien di gerbang halaman sanggar. Turun dari sepedanya, Kino tergagap menyampaikan salam kepada wanita yang tubuhnya memenuhi hayal Kino seminggu ini.
“Hai, Kino … lama sekali kamu tidak kelihatan. Kemana saja?” sambut Mba Rien riang.
“Sibuk, mbak..,” jawab Kino menunduk. Adiknya sudah turun dan berlari masuk.
“Wah… begitu sibuknya, sampai tidak sempat menonton Mba Rien lagi, ya!?” sergah Mba Rien sambil tersenyum manis. Kino menyahut dengan gumam tak jelas, dan menunduk seperti seorang pesakitan di hadapan polisi.
“Eh .. tidakkah kamu ingin melihat adikmu menari lengkap?” ucap Mba Rien lagi, dan tiba-tiba tangannya telah menyentuh tangan Kino. Tergagap, Kino menjawab sekenanya, tetapi entah apa isi jawaban itu, ia sendiri tak ingat!
“Hayo masuk, sekali ini kamu bisa melihat anak-anak menari sampai selesai!” kata Mba Rien yang kini sudah memegang erat satu tangan Kino dan menariknya masuk ke halaman sanggar. Kino tak kuasa menolak, dan dengan kikuk ia mengikuti langkah Mba Rien sambil menyeret sepedanya.
Mba Rien tidak memakai kain sore ini. Tubuhnya dibungkus rok span hitam dan hem kuning muda dengan leher V yang agak rendah. Ia juga tidak berdiri memberi contoh di depan anak-anak, melainkan duduk bersimpuh di lantai, di sebelah Kino yang bersila.
Dari tempat mereka duduk, Kino bisa melihat anak-anak menari lengkap tanpa instruksi Mba Rien. Bagi Kino, anak-anak itu kelihatan seperti daun-daun kering yang berterbangan di tiup angin. Jauh sekali bedanya dibandingkan dengan jika yang menari adalah Mba Rien.
Kino melirik ke sebelah kanannya, tempat Mba Rien bersimpuh. Darahnya berdesir cepat melihat rok span wanita itu terangkat sampai setengah pahanya. Aduhai, pahanya mulus sekali, dihiasi bulu-bulu halus yang hampir tak tampak.
Betisnya juga indah sekali, tidak terlalu besar, tetapi juga tampak kokoh karena sering berdiri lama ketika menari. Mba Rien sendiri sedang serius memperhatikan anak-anak menari, sehingga tidak menyadari bahwa remaja di sampingnya sedang sibuk menelan ludah!
Ketika suatu saat Mba Rien harus berganti posisi bersimpuhnya, Kino mencuri pandang lagi. Sekejap, ia bisa melihat seluruh pangkal paha Mba Rien. Celana dalam berwarna putih, tipis menerawangkan warna kehitaman di selangkangan, membuat Kino terkesiap. Cepat-cepat dialihkannya pandangan kembali ke tempat anak-anak menari.
Rien menoleh untuk menanyakan sesuatu, tetapi seketika ia melihat wajah Kino seperti kepiting rebus. Ah, ia tiba-tiba sadar akan posisi duduknya. Remaja yang sekarang sedang pura-pura memperhatikan tarian itu pasti tadi melihat rok ku tersingkap, pikir Rien menahan tawa. Minta ampun, remaja sekarang begitu cepat matang!
Rien membatalkan keinginannya untuk menanyakan komentar Kino. Sebaliknya, ia malah bangkit membuat Kino memalingkan muka dengan wajah bersalah. Pikir Kino, jangan-jangan ia tahu aku tadi melihat pahanya.
“Kamu mau minum, Kino?” tanya Mba Rien setelah berdiri, dan tanpa menunggu jawab ia berkata lagi, “Yuk, ikut saya ambil minum di ruang sebelah.”
Kino bangkit dan mengikuti wanita pujaannya seperti kerbau dicucuk hidungnya. Entah kenapa, wanita ini tidak bisa kubantah! ucapnya dalam hati.
Ruangan itu terletak di sebelah ruangan latihan, berupa sebuah dapur lengkap dengan meja makannya. Ada sebuah lemari es besar, dan Mba Rien tampak sedang membukanya dan mengambil beberapa minuman botol. Kino berdiri tidak jauh di belakangnya, melihat dengan takjub tubuh yang agak membungkuk di depannya.
Kepala Mba Rien tersembunyi di balik pintu lemari es, tetapi bagian belakang tubuhnya yang seksi terlihat nyata di mata Kino. Gila! Segalanya terlihat indah! umpat Kino dalam hati.
Kemudian mereka minum sambil duduk di kursi makan. Mba Rien menawarkan kue, tetapi Kino menolak halus. Mereka berbincang-bincang, atau lebih tepatnya Mba Rien bercerita tentang segala macam. Kino lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Entah kenapa, Rien sendiri merasa semakin dekat dengan remaja di hadapannya. Rien merasa bahwa Kino adalah adik lelaki yang tak pernah dimilikinya. Saudara kandungnya semua perempuan, dan tinggal di lain kota. Di sini ia hidup sendirian, di sebuah kamar indekos tak jauh dari sanggar.
Untuk Rien, Kino adalah remaja yang menyenangkan. Tidak berulah seperti kebanyakan remaja seusianya. Kino juga sopan, walaupun matanya sering nakal. Ah, seusia itu pastilah sedang mengalami kebangkitan gairah seksual.
Ia ingat, pada usia seusia Kino dulu, ia juga mengalami “revolusi” yang sama. Saat itu, pikirannya tak lekang dari gairah seks dan lawan jenis. Kino pastilah tak berbeda, cuma ia sangat sopan dan pemalu.
Sore itu mereka berpisah karena latihan menari telah usai. Kino mengucapkan terimakasih atas suguhan Mba Rien, dan Rien melambai di gerbang sambil mengucap, “Jangan bosan kemari, ya, Kino!”
Ah, bagaimana aku bisa bosan? ujar Kino dalam hati.
Hubungan Rien dan Kino berkembang cepat bagai api membakar ilalang kering. Susi sudah tidak lagi latihan menari, karena kini ayah dan ibu menyuruh Susi lebih berkonsentrasi ke pelajaran sekolah. Ujian akan berlangsung tiga bulan lagi. Kino tidak lagi mengantar Susi, tetapi justru kunjungannya ke sanggar semakin sering!
Ada satu hal yang membuat mereka semakin dekat. Keduanya suka berenang, dan Rien dengan senang hati mengajak Kino ke pantai jika waktu senggang. Seperti kali ini, Kino pulang lebih cepat karena guru-gurunya harus berseminar di luar kota.
Dari sekolah, Kino menuju sanggar untuk melihat kalau-kalau Mba Rien ingin berenang. Dan ternyata Rien memang sedang tidak berkegiatan, sedang sendirian membaca-baca majalah di sanggar.
“Berenang, yuk, Mba Rien..,” ajak Kino. Kini ia sudah berani mengajak duluan, setelah berkali-kali mereka berenang bersama di sungai, di kolam renang, maupun di pantai. Selama itu, mereka berenang bersama-sama dengan beberapa orang lainnya.
Kadang-kadang bersama Dodi dan Iwan, sahabat Kino. Kadang-kadang bersama Niken, salah seorang penari di sanggar. Teman-teman Kino pun kini tahu, bahwa di antara Mba Rien dan Kino “ada apa-apa”. Tetapi mereka cuma bungkam, karena Kino pasti akan berang setiap kali topik itu diangkat dalam pembicaraan.
Siang itu mereka berenang berdua saja. Teman-teman Kino memilih memancing di danau di luar kota. Niken tidak ada di sanggar karena harus belanja ke pasar. Rien dengan senang hati menerima ajakan Kino, dan segera mengambil pakaian renang dan sepedanya.
Di pantai tidak banyak orang, karena ini memang bukan hari libur. Rien mengajak Kino ke sebuah bukit pasir yang dipenuhi semak, karena tempat itu jauh lebih sejuk di bandingkan tempat di mana orang-orang biasa berenang atau bermain pasir. Kino menurut saja.
Mereka pun lalu berenang, bermain-main air dan saling berlomba mencapai batu karang di tengah laut. Mba Rien bukanlah perenang yang dapat diremehkan, begitu selalu kata Kino kepada teman-temannya. Tubuhnya gesit seperti ikan, dan tahan berenang berjam-jam.
Setelah puas berenang, mereka kembali berteduh di bawah semak-semak. Kino menggelar dua handuk lebar yang selalu dibawanya jika berenang ke pantai. Rien merebahkan tubuhnya yang penat di sebelah Kino yang juga sudah tergeletak kecapaian. Mereka terdiam mendengarkan debur ombak memecah pantai. Kino memejamkan mata dan merasakan otot-otot tubuhnya pegal dan sedikit linu.
“Kino..,” tiba-tiba Rien berucap, hampir tak terdengar.
“Hah?…” Kino kaget dan setengah bangkit. Mba Rien masih tergeletak dengan mata tertutup, tetapi bibirnya tersenyum.
“Ada apa, Mba?” tanya Kino.
“Aku mau tanya, tetapi kamu musti jawab yang jujur ya!” kata Mba Rien, masih memejamkan mata dan tersenyum. Kino cuma diam.
“Kino .., kamu senang melihat saya, bukan?” tanya Mba Rien pelan. Kino cuma diam, tak tahu harus menjawab apa. Di hadapannya tergeletak seorang wanita dewasa, dengan tubuh sempurna, basah oleh air laut, dan bertanya seperti itu! Apa jawabannya?
“Lho, kenapa diam?” sergah Mba Rien, kini membuka matanya, memandang Kino dengan sinar mata yang menembus kalbu. Kino menelan ludah, lalu menunduk.
Rien lalu bangkit, duduk bersila menghadap Kino yang kini juga sudah duduk dengan kepala agak menunduk. Lalu Rien melakukan sesuatu yang selama ini tak pernah terduga oleh Kino. Ia membuka pakaian renangnya, menanggalkan bagian atasnya, memperlihatkan buah dadanya yang ranum, putih mulus dan basah berkilauan!
Aduhai indahnya dua bukit kenyal yang turun naik seirama nafas pemiliknya, dengan puncak yang dihiasi dua puting coklat kehitaman, berdiri tegak bagai menantang!
Kino mengangkat muka, pandangannya terpaku di kedua payudara indah di hadapannya. Mulutnya terkunci rapat. Rien tersenyum melihatnya, lalu dengan lembut digenggamnya kedua tangan Kino.
“Jangan malu, Kino. Katakan kamu memang suka melihat tubuh saya, bukan?” ucapnya setengah berbisik. Kino menangguk pelan.
“Ingin menyentuhnya?” bisik Mba Rien lagi. Kino tergagap, mengangkat mukanya dan memandang wajah wanita di depannya tak percaya.
Tetapi di wajah itu ada sepasang mata yang sangat sejuk, bagai danau di kaki bukit tempat teman-temannya biasa memancing. Sebuah hamparan air yang tampak tenang meneduhkan hatinya yang bergejolak.
“Apa maksud, Mba Rien?” ucap Kino tersekat.
“Tidak inginkah kamu menyentuh dadaku?” jawab Mba Rien, genggaman tangannya semakin kuat, dan kini perlahan-lahan mengangkat tangan Kino. Tersenyum lagi, Rien merasa betapa kedua tangan itu bergetar.
Cepat-cepat kemudian ia meletakkan kedua tangan Kino di dadanya, di puncak-puncak payudaranya yang membusung. Kino segera menarik kembali tangannya, bagai menyentuh benda bertegangan listrik. Rien tertawa kecil.
“Hayo, pegang lagi…,” ucapnya ringan. Diraihnya lagi kedua tangan Kino dan diletakkannya kembali di atas payudaranya. Kali ini Kino tak menarik tangannya, dan membiarkan kedua telapak tangannya menerima sebuah kelembutan, kehangatan, kekenyalan, dan entah apa lagi …. semuanya serba menakjubkan.
Pelan-pelan, Kino mulai memegang lebih erat, menempelkan seluruh telapaknya di puncak-puncak payudara Mba Rien. Baru kali ini, setelah lepas dari susu ibunya 13 tahun yang lalu, Kino memegang kembali payudara seorang wanita!
“Senang?” tanya Mba Rien, masih dengan suaranya yang setengah berbisik, setengah menuntut. Kino hanya bisa mengangguk dan menatap lekat mata Mba Rien, seakan-akan hanya dari kedua mata itulah ia bisa memiliki kekuatan untuk hidup saat ini.
Lalu Mba Rien menurunkan tangan Kino, mengenakan kembali pakaian renangnya, dan mengusap lembut wajah Kino. “Kamu sekarang sudah dewasa, Kino!” ucapnya riang, sambil bangkit dan menarik tangan Kino untuk ikut berdiri.
Lalu ia berlari, menyeret Kino kembali ke laut, terjun sambil berteriak riang, dan melesat meninggalkan Kino menuju batu karang di tengah.
Kino merasa tubuhnya yang panas bagai bara dicelupkan ke dalam air dingin, segera memadamkan api yang tadinya sudah hampir membesar. Kino menyelam sedalam-dalamnya, seakan-akan hendak bersembunyi dari rasa malu yang tiba-tiba mengukungnya.
Tapi kemudian ia segera timbul kembali, segera bersemangat lagi mengejar wanita yang baru saja memberinya pelajaran sangat berharga dalam hidup ini. Aku telah dewasa! jeritnya dalam hati.
Pengalaman di pantai segera disusul pengalaman-pengalaman berikutnya. Kino kini sangat dekat dengan Mba Rien-nya, tetapi hubungan mereka menampakkan dimensi yang aneh.
Jika ada orang bertemu mereka berdua, niscaya orang-orang itu akan berkata, ‘Akur sekali kakak-beradik itu!’. Bahkan kedua orang tua Kino memandang seperti itu, dan karenanya tidak pernah tahu apa yang terjadi antara Rien dan anak mereka.
Sebaliknya, bagi Rien dan Kino, hubungan mereka telah memasuki babak yang sangat menentukan. Bagi Rien, kini Kino adalah seorang lelaki sempurna, lengkap dengan segala atributnya, termasuk birahinya terhadap wanita.
Kino adalah sebuah kepompong yang sedang berubah menjadi kupu-kupu. Dan Rien adalah seorang peri yang membantu kupu-kupu itu terbang.
Minggu sore itu, Rien mengajak Kino mencari kenari di hutan kecil dekat danau. Mereka berangkat setelah pukul 3, saat matahari memulai perjalanan turunnya.
Tadinya Niken hendak ikut, demikian pula Dodi teman Kino. Tetapi lalu Niken sakit perut karena datang bulan, dan Dodi harus mengantar ibunya ke dokter gigi. Jadilah akhirnya mereka hanya berdua ke hutan.
Rien hanya bercelana pendek, dan memakai t-shirt yang ditutupi jaket parasut. Kino bercelana khaki militer, lengkap dengan sepatu bot, dan t-shirt hijau tua. Berdua mereka menyusuri jalan setapak, masuk semakin jauh ke dalam hutan yang konon dulu menjadi salah satu tempat pertahanan bala tentara Nippon.
Di hutan ini banyak pohon kenari, dan dalam waktu kurang dari setengah jam, keranjang mereka berdua sudah dipenuhi kenari. Dengan gesit, Rien berlarian menemukan kenari-kenari yang masih utuh di tanah. Kino selalu kalah gesit, terutama karena ia selalu lebih banyak memandang Mba Rien yang tampak seksi sore itu.
Lalu, tiba-tiba saja hujan turun. Pertama cuma rintik-rintik, tetapi lalu berubah sangat lebat. Mereka pun berlarian mencari tempat berteduh, dan beruntung karena tidak jauh dari situ ada sebuah gua kecil bekas persembunyian tentara Jepang. Kino menyeret Mba Rien berlari ke gua itu, dan tiba di sana sedetik sebelum hujan yang sangat deras jatuh ke bumi.
“Wah, untung ada gua ini!” tukas Mba Rien sambil gemetar menahan dingin yang tiba-tiba menyerbu. Gua kecil ini tidaklah terlalu dalam, tetapi sangat lembab, sehingga dindingnya dipenuhi lumut dan udaranya lebih dingin dari di luar. Apalagi sekarang turun hujan. Kino pun ikut gemetar kedinginan.
Mereka berdiri berdekatan, dan entah bagaimana, Rien akhirnya memeluk tubuh Kino dari belakang. Kino tak menolak, dan bahkan merentangkan tangannya ke belakang, balas memeluk kedua lengan Mba Rien. Perlahan-lahan, gemetaran tubuh mereka mereda, sejalan dengan tersebarnya kehangatan dari dua tubuh yang menempel itu.
Kino perlahan-lahan mulai merasakan kekenyalan di punggungnya, tempat kedua payudara Mba Rien menempel erat. Rien merebahkan kepalanya di punggung pemuda belia yang harum sabun mandi ini. Sebentuk perasaan sayang tiba-tiba saja menghambur keluar dari dadanya, menyebabkan Rien memejamkan mata.
Setelah lebih dari sepuluh menit, hujan tampaknya makin membesar saja. Sementara langit mulai gelap menjelang sore. Rien sedang berpikir-pikir bagaimana caranya pulang, ketika ia mendengar Kino memanggil namanya.
“Kenapa, Kino?” tanyanya sambil tetap memejamkan mata dan merebahkan kepala di punggung remaja itu.
“Aku juga ingin memeluk, Mba Rien…” ucap Kino pelan. Rien tersenyum dan berkata pelan, “Seperti aku memeluk kamu?”
Kino tidak menyahut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Seperti apa ia ingin memeluk Mba Rien, ia belum tahu caranya!
Rien tersenyum lagi, lalu melepaskan pelukannya. Ia berkata lembut, “Sini…, putar tubuhmu menghadap aku..”
Kino memutar tubuhnya, lalu tiba-tiba saja ia sudah memeluk Mba Rien yang tubuhnya agak lebih pendek sedikit darinya. Dagu Kino menyentuh dahi Mba Rien, dan kedua tangan Mba Rien merengkuh erat, bagai hendak meluluhkan tubuh Kino.
Oh, begini rupanya rasanya dipeluk seorang wanita dewasa! pikir Kino dalam hati, dan ia merasakan sebuah kehangatan menjalar dari antara kedua kakinya.
“Begini?” tanya Mba Rien dengan sedikit nada menggoda. Kino cuma mengangguk. Rien tertawa kecil, nafasnya yang hangat menyerbu leher Kino dan menelusup ke dalam t-shirtnya. Kino pun bergidik, membuat Rien tambah tertawa. Lalu tiba-tiba Rien menggigit leher Kino. Tersentak, Kino lalu ikut tertawa kegelian.
Rien tidak berhenti menggigit, dan bahkan lalu berubah menciumi leher perjaka ini. Hmm, harum sabun wangi, desahnya dalam hati. Persis seperti wangi bayi kakaknya yang dulu ia sering bantu memandikannya. Dengan gemas, ia menciumi terus leher Kino, membuat remaja ini menggelinjang kegelian.
Saat itulah Kino merasakan sebuah desakan kuat untuk membalas tindakan Mba Rien. Tanpa disadari, Kino menunduk dan menempelkan wajahnya ke wajah Rien yang sedang tengadah. Tanpa sengaja pula, kedua bibir mereka telah berpadu.
Sejenak Rien tersentak kaget, tapi ia lalu memejamkan mata dan segera melumat bibir Kino. Berdesir cepat darah Kino merasakan bibir basah yang hangat mengulum bibirnya, dan desahan nafas harum menyerbu penciumannya. Astaga, inilah rupanya ciuman pertama itu!
Tentu saja Kino tak tahu cara berciuman. Ia diam saja membiarkan Mba Rien mengerjakan segalanya, termasuk memaksanya membuka mulut agar lidahnya bisa masuk ke dalam mulutnya.
Dengan nafas tersengal, Kino mencoba melakukan sesuatu dengan lidahnya sendiri, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Maka ia diam saja, membiarkan Mba Rien mengulum-ulum bibirnya, menelusuri rongga mulut dengan lidahnya, dan menghisap-hisap bibir bawahnya dengan rakus.
Rien sendiri merasa kaget atas apa yang ia kerjakan. Rupanya, birahi yang selama ini tak pernah ia tampilkan, kini menyeruak keluar dengan kekuatan sendiri tanpa dapat dicegah. Telah lama sekali Rien tidak berciuman, sejak ia memutus hubungan dengan Rian yang sekarang entah di mana.
Telah lama tubuhnya tidak merasa gejolak seperti ini, dan kalaupun ia membiarkan Kino memegang payudaranya di pantai, itu hanyalah untuk menghapus penasaran remaja yang menarik simpatinya.
Kejadian di pantai dulu, bagi Rien, bukanlah birahi. Tetapi kini, di gua yang gelap dan dingin ini, Rien kaget ketika sadar bahwa ia begitu bersemangat menciumi Kino!
Untunglah kesadaran itu cepat datang. Buru-buru ia menghentikan ciumannya, dan dengan satu tangan ia menghapus bekas-bekas ludah di bibir Kino. Sambil tersenyum, ia minta maaf dengan suara lembut, ” … Mba Rien keterlaluan, nih!”
Kino mengernyitkan dahi tak mengerti. “Kenapa berhenti, Mba?” tanyanya penuh heran.
“Tidak. Kamu tidak boleh saya ciumi seperti itu. Kamu bukan pacar saya…,” kata Mba Rien, masih dengan suara lembut, meneduhkan hati Kino yang sudah bergejolak.
“Tapi saya suka, Mba Rien…” Kino bersikeras. Rien tersenyum melihat tuntutan remaja ini.
“Suka apa?” tanyanya menggoda.
“Suka dicium seperti itu,” jawab Kino cepat. Ia kini semakin berani berdebat.
Sejenak Rien bimbang. Simpatinya kembali datang. Kasihan ia melihat remaja ini terputus di tengah jalan yang sedang dinikmatinya.
Tetapi ia tahu, kalau ciuman itu diteruskan, dirinya sendiri akan ikut hanyut. Satu-satunya jalan untuk menghindari kekecewaan Kino adalah dengan menciumnya lagi, tetapi tidak dengan birahi.
Maka Rien berkata, “Baiklah …” lalu ia menarik leher Kino, mendekatkan bibirnya ke bibir Kino dan menciumi remaja ini dengan lembut. Kino memejamkan mata, menikmati ciuman Mba Rien yang terasa sekali dipenuhi kasih sayang.
Tubuhnya bagai disiram kehangatan kasih yang tak tergambarkan oleh kata-kata. Tubuhnya bagai melayang tak menginjak bumi. Tubuhnya bagai awan di langit yang biru sejuk.
Rien menahan senyum melihat tingkah Kino yang memejamkan mata dan memeluk tubuhnya seperti tak hendak dilepaskan.
Tetapi ada satu hal yang tidak diperhitungkannya! Perlahan tapi pasti, ia merasakan sesuatu membesar menempel sedikit di atas perutnya. Karena Kino lebih tinggi, maka bagian depan kelaki-lakiannya menempel di perut Rien, dan Rien segera menyadari apa yang terjadi.
Dengan tangan kirinya, Rien meraba bagian itu. Ah, tegang sekali kelaki-lakian Kino, dan panas pula rasanya, seperti dialiri air mendidih. Sejenak Rien bimbang lagi, sementara bibirnya masih sibuk mengulum-ngulum bibir Kino.
Apa yang harus ku lakukan? Rien berpikir keras, tetapi tangannya sudah pula mulai meremas. Seakan-akan tangan itu punya pikiran sendiri di luar kepalanya!
Akhirnya kepala Rien mengalah kepada tangannya. Ia melanjutkan remasan, dan mulai menyukai pilihannya. Nafas Kino terdengar terengah-engah, dan Rien semakin merasa tak enak jika harus berhenti sekarang. Ia sudah membangkitkan api di tubuh remaja ini, ia pula yang harus memadamkannya.
Dengan pikiran begitu, Rien membuka resleting celana Kino yang masih terpejam seakan-akan tak sadar. Pelan-pelan tangan Rien merayap ke dalam celana dalam Kino dan menemukan kelaki-lakiannya sudah tegang dan agak basah di ujungnya.
Ah, halus dan kenyal sekali kelaki-lakiannya, desah Rien dalam hati, diam-diam menikmati apa yang dikerjakannya.
Kino merasakan tangan Mba Rien merayapi kelaki-lakiannya, membuat dirinya semakin terlena. Ia merasakan desakan aneh yang nikmat, sama dengan desakan-desakan yang selama ini ia rasakan kalau berhayal sendirian di kamarnya.
Kini desakan itu semakin kuat, dan apa yang dikerjakan Mba Rien di bawah sana sangat berbeda dengan apa yang biasa ia kerjakan. Kali ini jauh lebih nikmat, jauh lebih menggairahkan.
Tangan Rien meremas lebih kuat, lalu menggosok ke atas ke bawah. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan. Rian, pacarnya dulu, pernah mengajarkan bagaimana cara terbaik untuk memuaskan laki-laki dengan tangan. Maka dilakukannya apa yang telah lama tidak dilakukannya.
Rien kini ikut memejamkan mata, berkonsentrasi pada bagian bawah tubuh Kino tanpa melepaskan ciumannya. Ia merasakan betapa kelaki-lakian itu kini menegang dengan cepat, dan mulai berdenyut-denyut.
Rien tahu, sebentar lagi Kino akan mencapai orgasme pertama di tangannya. Sejenak ia menurunkan telapak tangannya sampai ke pangkal kelaki-lakian Kino, lalu dengan gaya mengurut ia membawa naik telapak tangannya, dan sesampai di atas ia meremas-remas dengan kuat.
Kino tak tahan lagi. Tangan Mba Rien yang halus dirasakannya bagai sedang menarik lepas sebuah sumbat di bawah sana. Dan dengan lepasnya sumbat itu, sebuah air bah yang dahsyat menyerbu keluar. Kino mengerang pelan, melepaskan bibirnya dari bibir Mba Rien, mendongak seakan berusaha menghisap lebih banyak udara, lalu menjerit tertahan.
Rien merasakan betapa kelaki-lakian Kino tiba-tiba membesar dengan cepat, lalu bergetar dan berdenyut-denyut kuat. Telapak tangan Rien meremas untuk terakhir kalinya, lalu mulai menerima semprotan-semprotan cairan kental panas.
Ia mengepalkan tangannya, menampung semua itu agar tidak bermuncratan ke mana-mana. Tidak kurang dari tujuh kali rasanya semprotan cairan itu memenuhi kepalannya. Lalu, Kino terkulai lemas, dan memeluk tubuh Mba Rien. Pelan-pelan Rien mengeluarkan tangannya, dan diam-diam mengambil sapu tangan untuk membersihkan tangan itu.
“Enak?” tanya Mba Rien lembut, seperti seorang ibu menanyakan bagaimana rasanya makan malam yang dihidangkannya. Kino tertawa tertahan, malu bercampur senang. Hujan masih turun, walau tak lagi lebat. Kino tak peduli. Walau harus bertarung melawan macan di hutan ini pun, ia tak peduli. Selama Mba Rien ada di sisinya, ia tak peduli!
Bersambung...
“Peristiwa Kenari”, demikian Rien menamakannya, adalah sebuah langkah tak terencana yang sempat membuat wanita lajang ini panik. Ketika mereka berdua akhirnya tiba kembali di kota, menembus rintik hujan dan gelap senja, Rien sempat ingin berbincang dahulu. Ia ingin menjelaskan sesuatu, agar Kino tak salah tangkap.
Tetapi mulutnya terkunci, dan otaknya buntu. Lagipula, apa yang bisa ia jelaskan? Misteri apa yang bisa ia ungkap dalam sebuah peristiwa pendek yang begitu bergelora tadi? Dan kenapa ia harus kuatir akan Kino; kesalah-tangkapan apa yang mungkin terbesit di benak pria muda itu?
Akhirnya mereka berpisah dengan kikuk. Di perempatan dekat kantor camat, Rien berbelok ke kiri, ke tempat kostnya. Sambil berusaha tersenyum menenangkan diri, ia melambaikan tangan dari atas sepedanya.
Kino tampak ragu-ragu, apakah hendak ikut belok kiri atau terus, langsung ke rumahnya. Tetapi dilihatnya Mba Rien hanya melambai, tidak menawarkan mampir. Maka ia pun hanya membalas lambaian dan melanjutkan perjalanan ke rumah.
Di tempat kost, Rien memutuskan untuk segera mandi, terburu-buru melepas jaket parasut dan celana pendeknya. Dengan bersaput handuk, ia berlari kecil ke kamar mandi di sebelah kamar tidurnya.
Teman satu kostnya, seorang guru SMP bernama Laras yang sebaya dengannya, tak tampak. Mungkin sedang bermain ke tetangga sebelah. Cepat-cepat Rien mengunci pintu kamar mandi dan membuka pakaian-pakaian dalamnya. Lalu ia membasuk kaki-kakinya yang terpercik lumpur, dan mencuci tangan.
Sewaktu mencuci tangan itulah, terbayang kembali “peristiwa kenari” yang barusan dialaminya. Sambil tersenyum, dalam hati ia memarahi dirinya sendiri. Rien, kamu telah membuka gerbang ke arah dunia yang tak terduga! Kini, apa yang akan terjadi berikutnya, kamu harus simak dengan seksama.
Dan dengan hati-hati. Siapa yang tahu, apa yang kini bergejolak di hati Kino, dan apakah keremajaannya mampu menampung gejolak itu. Rien mengambil sabun dan membasuh kedua tangannya dengan seksama. Tangan itu yang tadi meremas-membelai, menguak sebuah tabir dari babak cerita di panggung kehidupan!
Lalu Rien menumpahkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya. Segera kesegaran menyerbu badannya, membuatnya ingin bernyanyi. Maka tak lama kemudian ia menggumamkan lagu -entah apa- sambil mulai menyabuni tubuhnya.
Lehernya yang jenjang ia sabuni. Sepasang bukit indah di dadanya, ia sabuni, sampai dipenuhi busa-busa harum. Pada saat menyabuni bagian bawah tubuhnya, ia terkejut sendiri. Hampir saja sabun lepas dari genggaman. Ternyata kewanitaannya basah oleh cairan bening yang telah lama tak pernah ada di sana.
Kekagetannya juga berlanjut, ketika Rien sadar bahwa di bagian itu ada rasa hangat yang berlebihan. Ada sensitifitas yang lebih dari biasanya. Tanpa sabun, tangannya bergerak lebih ke bawah, mengusap-usap seperti sedang menduga apa gerangan yang terjadi.
Sebenarnya, Rien tak perlu menduga, karena setiap usapan mendatangkan rasa yang telah lama tak dirasakannya: sebentuk geli yang bercampur nikmat, yang dengan mudah membuat jantungnya berdegup sekian kali lebih kencang.
Tanpa bisa dicegah, Rien tiba-tiba mendesah, dan kedua kakinya bagai sedang berseteru, saling memisahkan diri satu sama lainnya.
Suara kucuran air cukup keras menyembunyikan desah Rien yang kini memperkuat usapan tangannya. Bahkan itu bukan lagi mengusap namanya. Itu meremas namanya. Menekan-nekan dengan telapak, dan menggaruk-mengurat dengan jari tengah.
Lalu pangkal ibu jarinya bertumbu pada bagian atas, bergerak-gerak seperti sedang menarik picu senjata. Rien menggelinjang, dan hampir saja terpeleset di lantai kamar mandi yang licin. Tangan kirinya yang bebas buru-buru berpegangan ke tembok, sementara tangan lainnya tak hendak berhenti.
Malah bergerak makin cepat seperti ada sesuatu yang mendesak yang harus dilakukan di bawah sana. Mata Rien sedikit terpejam, dan mulutnya yang berpagar bibir basah itu sedikit terbuka. Nafasnya sedikit memburu.
Serbuan-serbuan kenikmatan datang entah dari mana, dan Rien agak terhuyung, sehingga ia akhirnya bersandar di tembok marmer yang dingin dan basah.
Suara orang membuka pintu ruang depan membuat Rien tersentak sadar. Buru-buru ia kembali ke dekat bak mandi. Terdengar suara Lara nyaring, “Rieeeen …….. kau kah itu di kamar mandi?”
Rien membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba tersekat, sebelum menjawab keras-keras, “Ya, ini aku La … sedang mandi…”, entah apa pula perlunya menambahkan kata “sedang mandi” di ujung kalimat!
“Dari mana saja, anak manis?” teriak Lara lagi, terdengar melangkah menuju kamarnya di seberang kamar Rien.
“Dari hutan mencari kenari …. “, jawab Rien sambil mulai mengguyur.
Duh, segera saja api yang berkobar di tubuhnya padam. Dalam hati Rien bersyukur, Lara datang sebelum dirinya betul-betul terlena oleh tangannya sendiri!
Tetapi sesungguhnya ia juga kesal, kenapa Lara datang pada saat seperti itu. Sambil tertawa kecil, Rien menghentikan perdebatan di kalbunya. “Peristiwa Kenari” ternyata tidak hanya mengubah hidup Kino!!
Sementara Kino telah pula sampai di rumahnya. Ia telah pula di kamar mandi, dan telah pula menyabuni tubuhnya. Sama dengan Mba Rien, ia telah pula kembali membayangkan apa yang terjadi di hutan tadi.
Bedanya, Kino tak berhenti karena terganggu oleh teriakan ayah, atau panggilan ibu, atau ajakan Susi untuk bermain petak umpet. Kino melanjutkan gerakan-gerakan tangannya, mengerang pelan ketika akhirnya ledakan-ledakan orgasme tercapai.
Seminggu setelah “peristiwa kenari”, Kino disibukkan oleh ulangan-ulangan di sekolahnya. Dalam kesibukannya itu, Kino tak bertemu Mba Rien. Ia tak mungkin bisa menemui Mba Rien, karena diam-diam Mba Rien pergi ke rumah salah seorang kakaknya di kota B, 6 kilometer di sebelah selatan.
Sebuah pesan pendek disampaikan Niken kepada Kino, ketika pria remaja ini lewat di depan sanggar (tentu saja, ia sengaja lewat!). Kata Niken, Mba Rien menyuruh Kino rajin belajar supaya semua ulangannya bernilai bagus. Kata Niken lagi, Mba Rien baru akan pulang bulan depan, karena sanggar akan tutup sementara murid-murid menjalani ulangan.
Untuk beberapa saat, Kino merasa ada sesuatu yang tak beres. Kenapa dia tiba-tiba menghindar? sergahnya dalam hati, disertai gundah karena kepergian Mba Rien hanya berjarak seminggu dari peristiwa di gua itu.
Apakah ia marah? Tetapi apa yang membuatnya marah? Mba Rien tak tampak marah ketika ia melakukan itu di gua; ia bahkan tampak ceria, dan matanya penuh senyum menggoda. Apakah ia malu menemuiku lagi? Tapi, bukankah aku yang seharusnya malu menemuinya?
Pikiran-pikiran itu berkecamuk sepanjang hari, berlanjut sepanjang malam, sehingga Kino baru tertidur pukul 2 pagi. Untung keesokan harinya ulangan belum lagi dimulai karena masih dalam rentang “minggu tenang”.
Tentu saja Kino tak punya seorang pun yang bisa diajak mendiskusikan pikiran-pikirannya. Tidak Dodi dan Iwan yang baginya cuma akan menambah persoalan. Tidak juga ibu, dan apalagi tentu bukan ayah. Keduanya pasti cuma akan marah dan menuduh yang bukan-bukan.
Maka Kino terpaksa mengambil kesimpulan sendiri. Ia pergi ke pantai sendiri, berenang sampai letih, lalu tidur-tiduran di bawah semak-semak tempat ia dulu pertama kali menyentuh dada Mba Rien. Sambil tertidur itu lah ia memutuskan, bahwa tak mungkin Mba Rien bermaksud buruk.
Tak mungkin tiba-tiba Mba Rien meninggalkan dirinya penuh dengan tanya yang belum terjawab. Ia adalah seorang wanita bijaksana, pikir Kino dalam hati, dan ia pergi karena aku harus ulangan umum. Karena aku harus berkonsentrasi dengan buku-bukuku. Karena dengan Mba Rien di dekatnya, buku-buku akan dia lempar jauh-jauh!
Pikiran itu meneduhkan gejolak hati Kino, walau tak pernah menjadi jawaban sempurna bagi pertanyaan-pertanyaan yang terus berdatangan di kepalanya. Pikiran itu pula yang membantu Kino berkonsentrasi ke pelajaran sekolahnya, sehingga ulangan umum tak terasa begitu menyiksa.
Dua minggu ia hanya belajar dan belajar, sehingga ketika ulangan tiba, kepalanya seperti penuh dengan huruf dan angka. Satu demi satu ia menyelesaikan mata ulangan dengan sedikit kesulitan saja. Di akhir masa ulangan, kepalanya terasa kosong sekali. Ringan dan sejuk.
“Kamu kelihatan riang dan optimis…,” tiba-tiba Alma sudah berdiri di dekatnya, memeluk tas dan menuaskan senyum di mukanya yang tampak letih setelah seharian berkutat dengan kertas ulangan.
Kino membalas senyum Alma, dan tiba-tiba sadar bahwa cuma gadis ini yang tampaknya peduli akan perasaannya. Kino teringat, Alma pula yang dua minggu lalu -sebelum ulangan dimulai- bertanya kenapa wajahnya keruh.
Alma pula yang pernah menawarkan sebotol minuman dingin ketika ia sedang duduk sendirian di pinggir lapangan basket menunggu bel masuk setelah istirahat. Alma yang penuh perhatian!
“Lega rasanya setelah semua ulangan selesai,” ucap Kino sambil memandang Alma, dan menyadari betapa indah kedua bola mata gadis yang oleh Dodi dan Iwan selalu dipuji-puji setinggi langit. Alma tersenyum lagi, menembakkan seberkas perasaan yang belum jelas tertangkap oleh Kino.
“Pulang sama-sama?” kata Alma lembut, seperti mengajak, seperti menebak. Ah, Kino tak tega mengatakan “tidak”, maka ia cuma mengangguk dan mereka berjalan beriringan pulang. Kino menuntut sepedanya, Alma berjalan sambil tetap mendekap tas sekolahnya.
Sayup-sayup Kinomendengar Dodi berteriak “cihuiii..” dan Iwan memperdengarkan suitan nakalnya. Kino mengutuk dalam hati, dua monyet itu sungguh tak punya sopan. Tetapi ia tersenyum juga.
Mereka berjalan pelan-pelan, menyusuri jalan yang dipagari pohon-pohon asam rindang, berbincang-bincang ringan tentang sekolah. Alma bertanya tentang rencana liburan, Kino mengatakan ia belum punya rencana.
Alma berbicara tentang rencana berkemah anak-anak kelas dua dan kelas tiga, Kino mengatakan dukungannya kepada rencana itu. Alma bertanya apakah Kino akan ikut berkemah, dan Kino menjawab “mungkin”. Alma lalu terdiam. Kino juga diam. Pohon-pohon asam juga diam. Angin juga diam.
Dalam diam Kino membandingkan Alma dengan Mba Rien. Betapa berbedanya! Alma tampak lembut, mungil, terkadang seperti sedang bersedih. Mba Rien selalu menggairahkan, tegas, dan penuh ide kegiatan.
Tetapi Alma sangat cantik, terutama jika mereka sedang berdua, dan jika ia sedang bertanya, “Ada apa?” dengan suaranya yang pelan dan matanya yang menatap bening. Di depan Mba Rien, Kino seperti murid di hadapan maha-guru dunia persilatan, mengikuti segala gerak-geriknya dengan seksama, mematuhi anjuran dan permintaannya.
Di depan Alma, sebaliknya, ia merasa perlu melingkarkan tangan di bahu yang tampak ringkih itu. Merasa perlu selalu jalan di sebelah kanan kalau beriringan. Merasa perlu menawarkan membawa alat-alat laboratorium setiap kali mereka selesai praktikum.
Mereka tiba di depan bioskop satu-satunya di kota itu. Mereka harus berpisah di sini, kecuali jika Kino ingin mengantar Alma sampai ke rumahnya. Alma memecah kesunyian di antara mereka, “Sampai jumpa lagi sehabis liburan,” katanya pelan, lalu mulai berbelok.
“Alma..,” tiba-tiba saja Kino sudah berucap, tapi ia sendiri lupa hendak bicara apa. Alma menghentikan langkah, berputar menghadap Kino yang juga sedang berdiri terpaku. Alma menunggu, wajahnya penuh harap. Ah, mengertikah Kino apa artinya “harap”?
“Aku ingin ikut berkemah…, tapi…,” Kino berucap penuh keraguan. Cepat sekali wajah Alma berubah mendengar ucapan Kino, dan bibirnya yang mungil susah-payah menyembunyikan senyum yang tiba-tiba menyeruak. Segumpal harapan tersekat di kerongkongnya.
“….. tapi aku tidak tahu harus mendaftar kepada siapa.” lanjut Kino setelah menelan ludah yang terasa pahit.
“Aku bendahara panitia,” sergah Alma cepat sekali, seperti memang sudah dipersiapkan sejak tadi tetapi ditahan-tahan, “Kamu bisa mendaftar kepadaku. Hari ini juga namamu sudah bisa kutulis sebagai peserta. Aku bisa menalangi uang pendaftarannya. Aku….,” Alma menghentikan ucapannya, sadar melihat Kino berdiri melongo memandang gadis di depannya bicara penuh semangat, seperti berbicara di depan pertemuan partai politik!
Alma merasa mukanya tersiram air hangat, dan ia segera menunduk menyembunyikan rasa malu yang menyerbu. Kino tiba-tiba ingin tertawa keras, tetapi ia bertahan sekuat tenaga, sehingga yang keluar cuma senyuman yang lebar.
“Kalau begitu,” ucap Kino sambil tetap menahan senyum, “Sampai jumpa di alun-alun sekolah Sabtu depan!”
Alma mengangkat muka, memperlihatkan wajahnya yang memerah tetapi juga bersinar riang sempurna. Matanya berbinar seperti bintang timur di pagi hari.
Mulutnya mengguratkan senyum amat manis, bahkan bagi Kino, bahkan di terik siang yang kering itu. “Sampai jumpa,” bisiknya, tetapi tentu Kino tak mendengar karena ia telah mulai melangkah lagi sambil melambaikan tangan.
Alma mengangkat tangan kananya, melambai pelan, dan akhirnya berbalik untuk berjalan ke arah rumahnya. Bumi terasa empuk, seperti kasur terbuat dari busa. Alma senang sekali hari itu. Senang-senang-senang sekali!
Bumi perkemahan adalah arena penuh suka-duka remaja. Pak Guru dan Bu Guru adalah sipir-sipir penjara, dan anak-anak kelas dua dan kelas tiga adalah para pesakitan. Tetapi siapa yang peduli! Setelah letih didera ulangan dan ujian, bumi perkemahan adalah penjara yang dirindukan.
Di sini mereka bisa berteriak mengalahkan guntur di langit, bernyanyi tanpa not balok dan tanpa dirijen (yaitu Pak Sulih, guru seni yang terlalu tua itu!), serta tidur melewati batas waktu yang selalu ditetapkan secara sepihak oleh orangtua. Di sini pula menyebar cinta remaja, cinta monyet, puppy love, atau apa lah namanya!
Di perkemahan itu pula, Kino “menemukan” Alma, setelah sekian lama mereka berteman. Kino kini menyadari, Alma bukan gadis biasa, bukan semata-mata teman sekelas yang duduk di bangku kayu berwarna coklat tua itu.
Bukan seperti Tres, atau Sriani, atau Gina, atau Lisa. Karena Alma punya kelebihan dari semua mereka itu: Alma peduli padanya, peduli pada apa yang dirasakannya, dan peduli dengan ketulusan. Karena Alma tidak meminta, tetapi memberi. Alma tidak mengajak, tetapi mendampingi.
Pagi itu, dengan alasan menemani Alma mengambil air di sungai, Kino menarik gadis itu ke balik sebuah batu besar. Di situ, di antara gemersik air dingin dan kicauan burung yang terlambat bangun, Kino menciumnya.
Lembut dan penuh perasaan, ia mengulum bibir gadis yang kini memeluknya erat sekali. Alma memejamkan mata, merasakan angin seperti sutra menyelimuti tubuh mereka berdua, mendengar nyanyian merdu dari daun-daun yang berjatuhan.
Kino merengkuh tubuh yang terasa jauh lebih mungil itu (Alma cuma setinggi hidungnya), melumat bibirnya yang basah dan terasa manis. Ember terguling berkelontangan.
Sejak itu, Dodi dan Iwan mengubah sebuah lagu pop dengan teks gubahan mereka sendiri yang sangat gombal. Kino pusing sekali mendengar gubahan yang tidak karuan itu.
Bahasanya buruk, tidak puitis, dan jelas-jelas memproklamirkan percintaan Alma dengannya. Pusing sekali Kino dibuatnya, tetapi apa lah dayanya, cuma Dodi dan Iwan yang bisa menghiburnya dengan ketololan-ketololan seperti itu!
Enam hari menjelang masa sekolah, Alma menemani kedua orangtuanya ke ibukota, katanya hendak menjenguk kakek-neneknya. Inilah pertama kalinya Alma merasa perlu melaporkan kepergiaannya kepada Kino, karena sejak perkemahan dan ciuman pertama itu, Kino resmi menjadi kekasihnya.
Seorang kekasih harus tahu kemana pasangannya pergi, bukan? Maka Alma menulis surat pendek, di atas kertas merah jambu, dan dikirim lewat kurir istimewa bernama Dodi dengan pesan wanti-wanti, “Jangan dibuka sebelum tiba di tangan Kino!”
Kino tersenyum membaca surat itu, sementara Dodi memanjang-manjangkan leher ingin mengintip isinya. Dengan seksama, dilipatnya kertas merah muda itu, dan disimpannya di dompet. Kepada Dodi, ia bilang bahwa Alma pergi ke ibukota untuk menikah dengan pria pilihan orangtua mereka.
Dodi mencibir tak percaya, tapi Kino tak peduli apakah temannya percaya atau tidak. Mereka lalu bersiap-siap berenang ke sungai, dan mengajak Iwan ikut serta. Sepanjang sore, mereka berlomba-lomba menyebrangi sungai, dan Kino selalu menang. Kedua temannya terlalu ceking dan terlalu banyak bergadang.
Sepulangnya dari berenang, ketika Dodi dan Iwan telah terpisah darinya, Kino bertemu Niken.
“Hai…, apa kabar!” sergah wanita teman Mba Rien itu.
“Kabar baik,” ucap Kino pendek. Sebetulnya ia ingin melanjutkan dengan pertanyaan tentang Mba Rien, tetapi Kino ragu apakah hal itu patut ditanyakan kepada Mba Niken.
“Tidak pernah ke sanggar lagi?” tanya Niken, entah kenapa Kino merasa wanita ini sedang menggodanya.
“Mmmm …. bukankah latihan tari belum dimulai lagi, dan Susi belum perlu datang lagi?” jawab Kino.
Niken tertawa kecil, “Maksudku, …. koq tidak pernah ngobrol dengan Mba Rien lagi, dia kan sudah datang!”
Kino menelan ludah. Oh, Mba Rien telah pulang. Cepat sekali rasanya waktu berlalu, pikirnya dalam hati. Lalu, entah kenapa ia akhirnya berjalan beriringan dengan Niken ke arah sanggar. Niken berceloteh entah tentang apa, Kino tak begitu memperhatikan, karena kepalanya sibuk menjawab berbagai persoalan yang tiba-tiba muncul.
Sesampai di sanggar, Niken berkata bahwa ia hendak ke belakang dulu, dan bahwa Mba Rien ada di ruang latihan. Kino menggumamkan terimakasih, menjawab sekenannya, lalu berjalan ke arah ruang latihan. Langkahnya terasa berat, tetapi kaki-kakinya seperti digerakkan oleh mesin yang tak bisa dikendalikannya sendiri.
“Hei!!! Kino!…apa kabar?” suara Mba Rien yang lepas-nyaring terdengar begitu Kino muncul di pintu ruang latihan. Kino terpaku sejenak, matanya menyesuaikan diri dengan keremangan ruang latihan. Akhirnya ia melihat Mba Rien, sedang menggelar tikar-tikar bersama seorang wanita lain yang tak dikenal Kino.
Rien mendekat dengan cepat. Duh, kenapa ia jadi rindu kepada remaja ini? sergahnya dalam hati, tetapi ia tak mempedulikan perasaannya. Dipeluknya Kino sebelum pemuda ini sepenuhnya sadar apa yang terjadi, lalu dikecupnya cepat pipinya.
Kemudian dilepasnya pelukan secepat ia mencium pipinya, dan diberondongnya Kino dengan serentetan pertanyaan.
Kino tergagap-gagap menjawab pertanyaan tentang ulangan, tentang liburan, tentang orangtuanya, tentang Susi, tentang …. entah tentang apa lagi. Banyak sekali yang tak bisa dijawabnya. Mba Rien tampak bersemangat sekali, dan Kino baru belakangan menyadari bahwa rambut wanita ini telah berubah pendek.
Tetapi perubahan itu justru menambahkan kecantikan baru, karena lehernya yang jenjang dan mulus itu semakin terpampang indah, dan matanya yang bersinar itu semakin tampil. Kino tiba-tiba merasa ingin melingkarkan tangannya di leher yang menggairahkan itu!
Setelah mencencar dengan pertanyaan dan menyeret Kino untuk membantunya menggelar tikar-tikar, akhirnya Mba Rien mengajak Kino ke tempat kostnya. Kino hendak membantah, karena hari sudah mulai gelap. Tetapi, sebagaimana biasanya, ia tak pernah bisa menolak inisiatif Mba Rien. Lagipula ini malam Minggu dan sekolah belum lagi mulai.
Kino tadi sore telah mengatakan akan bermalam minggu bersama teman-teman, dan ayah-ibu telah mengijinkannya pulang paling lambat pukul 11. Maka akhirnya Kino bertandang ke tempat kost Mba Rien.
Di tempat kost Mba Rien, tampak Mbar Laras sedang berbincang dengan seorang pria berwajah tampan dan berpakaian rapi, mungkin pacarnya. Kino mengangguk sopan, dan Mba Laras mencubit pahanya sambil mengomel, mengatakan bahwa Kino tidak adil karena hanya datang kalau ada Mba Rien.
Pria yang sedang bersama Mba Laras bertanya, siapa si Kino itu (usil juga dia!) dan segera dijawab bahwa Kino adalah adik bungsu Rien. Pria itu menggumamkan, “Oooo..” yang entah mengandung curiga atau percaya. Kino tiba-tiba sebal kepada pria yang -harus diakuinya- berwajah tampan dan berbaju cukup bagus untuk ukuran kota kecil.
Mba Rien mengajak Kino masuk ke kamarnya, dan Kino tentu menurut saja karena Mba Laras juga mengusirnya dari ruang tamu (“mengganggu pembicaraaan,” katanya).
Di kamar, Mba Rien mengeluarkan sebungkus kue bolu oleh-oleh dari kakaknya, dan Kino bersuka-cita melahap pengganan lezat kegemarannya itu. Mba Rien terus bercerita tentang kakaknya, tentang anak kakaknya, tentang kota yang terkenal dengan bolunya, dan sebagainya, dan seterusnya.
Kino, seperti biasa, cuma mendengar dengan seksama. Tetapi mata Kino tak lekang dari Mba Rien yang bergerak lincah mengimbangi keramaian ceritanya. Ia seperti burung gelatik di pagi hari, pikir Kino. Menggairahkan pula, dengan dada yang terlonjak-lonjak seperti itu, dengan mulut yang basah seperti itu, dengan pinggul yang bergoyang seperti itu.
Lalu terdengar Laras berteriak dari kamar tamu, mengatakan bahwa ia dan teman prianya akan keluar untuk menonton. Mba Rien keluar sebentar dan berbicara dengan pria teman Laras itu, lalu terdengar pintu depan ditutup, dan Mba Rien kembali ke kamar.
Kino sedang berdiri membuka-buka album foto di meja kerja Mba Rien yang dipenuhi majalah-majalah dan buku tentang tari-menari. Cantik sekali Mba Rien dalam foto-foto penampilannya.
Ia memang penari yang kata orang penuh bakat, dan sudah pernah diajak tur keliling Indonesia oleh seorang sutradara tari dari ibukota. Kino juga pernah mendengar bahwa Mba Rien diajak tur ke luar negeri, tetapi entah kapan realisasinya.
Kino tersentak ketika merasakan nafas Mba Rien di tengkuknya. Tanpa terdengar, Mba Rien telah berdiri di belakang Kino, dekat sekali. Dengan ringan ia menjelaskan foto-foto di album itu, tetapi Kino tak bisa sepenuhnya mengerti.
Betapa tidak! Tubuh Mba Rien menempel di tubuhnya. Nafasnya harum memenuhi udara. Dadanya yang kenyal menekan punggung Kino, membuat pemuda ini tiba-tiba bersyukur bahwa Mba Laras dan teman prianya pergi ke luar rumah!
Lalu, entah kekuatan apa yang datang ke Kino, tiba-tiba ia sudah berbalik dan memeluk Mba Rien. Bukan itu saja, Kino bahkan tiba-tiba sudah mengulum bibir basah yang bernafas harum menggairahkan itu. Rien tergagap, kedua tangannya siap mendorong dada Kino.
Tetapi dengan tiba-tiba pula tangan itu kehilangan daya, dan berhenti di dada Kino, bukan mendorong melainkan menempel saja. Lalu, ketika Kino terus melumat bibirnya, Rien tak kuasa mencegah kedua tangannya merengkuh tubuh pemuda itu.
Kedua payudaranya terhenyak di dada Kino, membuat Kino semakin bergairah menciumi wanita yang selalu menggairahkan birahinya ini.
Rien mengerang mendapat perlakuan Kino yang penuh nafsu itu. Matanya terpejam penuh penyerahan, juga ketika pelan-pelan mereka bergeser ke arah dipan.
Tangan Rien meremas punggung Kino, dan bahkan lalu menekan tengkuk pemuda itu, mendorong Kino untuk berbuat lebih bergairah lagi. Dan Kino pun menyambut ajakan seperti itu dengan sepenuh hati. Entah bagaimana awalnya, kedua tangannya kini meremas-remas payudara Rien, menyebabkan wanita itu terengah-engah.
Puting-puting susunya terasa menegang mendapat perlakuan Kino yang sebetulnya agak kasar itu. Terasa gatal pula, karena Rien tergesek-gesek beha nilonnya. Kehangatan tiba-tiba menjalari tubuhnya, ke arah bawah, ke antara dua pahanya yang kini menempel erat di paha Kino.
Keduanya lalu terjerembab di dipan yang berderit menahan beban yang lebih berat dari biasanya. Kino menindih Rien dan masih menghujaninya dengan ciuman. Rok Rien yang pendek telah tersingkap, memperlihatkan seluruh pahanya, dan celana dalam krem tipis yang berenda-renda.
Sejenak Kino melihat pemandangan itu, menyebabkan ia semakin bergairah menciumi Mba Rien-nya. Tetapi cuma itulah yang bisa dikerjakan Kino selama ini, meremas payudara (sebagaimana Mba Rien mengajarinya di pantai) dan menciumi bibirnya (seperti “peristiwa kenari” sore itu). Tidak lebih dari itu yang bisa dikerjakan pemuda tak berpengalaman ini!
Adalah Rien yang kemudian tak merasa cukup diciumi dan diremas-remas seperti itu. Tubuhnya minta lebih dari itu, dan Rien ingin mendapatkannya dari Kino, pemuda yang semakin lama semakin disukainya ini.
Ia tahu, ini adalah sebuah permintaan yang berbahaya dan harus diperlakukan hati-hati. Tetapi pancaran birahi dari pemuda yang sekarang mendekapnya ini begitu kuat, mengundang Rien untuk hanyut lebih jauh lagi, berenang lebih dalam lagi. Sanggupkah ia menolaknya?
Dengan tangan kanannya yang bebas, Rien tiba-tiba sudah menuntun tangan kanan Kino, membawanya ke bawah. Tangan pemuda itu tampak lemas tak berdaya, mengikuti saja. Sambil mengerangkan sesuatu yang tak jelas, Rien menelusupkan tangan Kino dan tangannya ke balik celana dalamnya.
Kino merasakan telapak tangannya mengusap rambut-rambut halus dan bukit kecil yang hangat di balik nilon tipis itu. Ah, apa yang harus kulakukan? pikirnya risau. Tetapi Kino diam saja, karena tangan Mba Rien kini mengajak tangannya berputar-putar mengusap.
Hangat sekali di bawah sana, jauh lebih hangat daripada kedua payudaranya, ucap Kino dalam hati. Apalagi kemudian tangannya didorong lebih ke bawah. Tidak hanya ada hangat di sana, tetapi juga agak basah. Gerakannya masih mengusap-usap, menuruti saja gerakan tangan Mba Rien yang kini tampak semakin terengah-engah.
Tiba-tiba Mba Rien melepaskan bibirnya dari pagutan Kino, membuat pemuda ini agak terperanjat. Apalagi kemudian Mba Rien bangkit, membuat Kino khawatir telah melakukan suatu kesalahan fatal. Tetapi ternyata tidak. Ternyata Mba Rien bangkit untuk melepas celana dalamnya, dengan sebuah gerakan cepat yang menakjubkan.
Kino terkesima melihat Mba Rien kini menggeletak di sampingnya, dengan rok tersingkap sepenuhnya, dan dengan kewanitaan yang terpampang jelas, menampakkan segitiga hitam rambut-rambut halus yang sedikit membukit, dan sepasang bibir yang membasah. Kino menelan ludah berkali-kali. Pemandangan itu sungguh berada di luar batas khayalnya selama ini. Jauh di luar batas!
Wajah Mba Rien tampak serius dengan sinar yang menggairahkan, pikir Kino sambil mencari jawab di mata wanita itu. Ia sungguh bingung, tak tahu harus berbuat apa. Mba Rien tersenyum, lalu berbisik, “Kino.. Mba ingin kamu melakukan sesuatu malam ini. Mau?”
Kino mengangguk bisu. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain itu? Ia melihat Mba Rien tersenyum seperti biasanya, penuh dengan bujukan agar ia percaya saja kepadanya. Ia diam saja, ketika tangan Mba Rien menuntun tangannya kembali ke bawah, ke segitiga yang tampak menggoda dan mengundang itu.
Ia diam saja ketika dengan sabar Mba Rien memintanya menjulurkan jari tengahnya. Ia diam saja ketika Mba Rien, dengan tangan kirinya, menguak bibir-bibir di bawah sana, memperlihatkan dinding halus yang tampak licin-basah dan agak berdenyut berwarna merah muda itu.
“Oh, Kino… tolong gosok-gosokkan jari tengahmu di sana….,” tiba-tiba Mba Rien mendesah penuh dengan permohonan.
Kino terenyuh mendengar baru kali ini Mba Rien memohon. Cepat-cepat ia memenuhi permintaannya, dan dengan rasa kagum mulai menelusuri celah bibir dan dinding halus yang basah itu dengan jari tengahnya. Perlahan ia menelusur ke bawah, ujung jarinya terasa menyentuh sebuah liang liat yang agak sempit.
Perlahan ia naik kembali, terus ke atas karena tangan Mba Rien menariknya sampai hampir keluar dari lepitan bibir-bibir yang tampaknya menebal itu. Ujung jari Kino kini merasakan sebuah tonjolan kecil di balik selaput kulit yang agak tebal. Mba Rien tampak memejamkan mata erat-erat ketika Kino mengurut-urut tonjolan itu seperti yang diminta Mba Rien.
“Terus, Kino… teruskan, ohhhhhh..,” Mba Rien seperti merengek-rengek dengan wajah yang semakin memerah dan mulut membuka menghembuskan nafas memburu. Kino memenuhi permintaannya, menggosok dan mengurut dengan jari tengahnya lebih cepat lagi.
Mudah sekali melakukannya, karena jarinya licin dipenuhi cairan kental bening yang ia tak tahu apa namanya. Mudah sekali jari tangannya melesak ke liang kenyal kecil di bawah sana, karena liang itu seperti membuka dengan sendirinya, dan seperti hendak menyedot masuk jarinya.
Gerakan-gerakan tangan Kino semakin teratur; naik…, turun…. berputar,… naik … turun…. melesak sedikit. Demikan seterusnya, sementara Mba Rien kini menggelinjang, mengerang-erang seperti orang mengejan, dan melentingkan badannya seakan punggungnya tertusuk duri.
“Oooooh, Kino… lebih cepat lagi …. Kino, ahhhh…,” Mba Rien kini seperti orang mau menangis dan memohon-dengan-sangat kepada Kino.
Sungguh membuat iba Kino, tetapi sungguh menggairahkan pula permintaan itu. Maka Kino bergerak secepat mungkin, sekeras mungkin, sekuat mungkin. Tangannya terasa pegal, tetapi ia tak peduli, ia harus lebih cepat lagi dan lebih kuat lagi menggosok.
Harus lebih kuat lagi memutar sambil menekan kalau perlu, karena setiap putaran dan tekanan tampaknya membuat Mba Rien semakin keenakan. Rasanya seperti sedang menimba sumur dengan satu tangan, peluh telah membasahi dahi Kino, tetapi untuk wanita ini rasanya masuk sumur pun rela!
Tiba-tiba Mba Rien mengejang, dan untuk beberapa detik Kino menyangka perempuan ini sedang menghadapi maut. Kaget, ia tarik tangannya, tetapi Mba Rien memprotes…”Ah, jangan Kino….jangan berhenti!” sambil menarik tangan Kino untuk kembali ke bawah sana.
Cepat-cepat Kino memenuhi permintaan itu, dan menggosok-mengurut kembali sekuat tenaga. Satu kali, dua kali, tiga kali …. lima kali… akhirnya Mba Rien seperti berteriak tertahan.
Tubuhnya menggeliat lalu melenting seperti busur panah, lalu terjerembab kembali ke kasur dan berguncang-guncang seperti sedang diserang batuk hebat. Tetapi bukan batuk yang keluar dari mulutnya, melainkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan. Kino takut sekali melihatnya!
“Ohhhhhh…, Kino!” ucap Mba Rien seperti orang menahan tangis, memeluk leher pemuda itu, meraihnya ke pelukan tubuhnya yang masih turun-naik dengan nafas memburu. Kino terdiam menempelkan kepalanya di dada Mba Rien, mendengar jantungnya bagai berdentum-dentum, keras sekali.
“Kino …. maafkan Mba Rien !” tiba-tiba terdengar wanita itu berucap. Kino hendak mengangkat kepalanya, tetapi tertahan oleh tangan yang memeluk erat lehernya.
Lalu ia merasakan air hangat mengalir di dahinya. Mba Rien menangis!
Ada apa gerangan? Apa yang salah? Cepat-cepat Kino melepaskan diri dari pelukan, dan memandang heran. Mba Rien memang menangis, matanya penuh air mata, tetapi mulutnya tersenyum manis.
“Kenapa?” tanya Kino dengan sejuta keheranan.
Mba Rien menggelengkan kepalanya pelan-pelan, tangannya lembut mengusap wajah Kino, lalu juga mengusap rambutnya yang agak menutupi dahi. Dia berbisik, “Aku telah menguak sebuah rahasia penting untukmu …..”
Kino diam dan masih mengernyitkan dahi. Mba Rien berkata lagi, masih dengan berbisik, “Itu tadi orgasme pertamaku di tangan kamu, Kino…”
Orgasme. Rahasia penting. Kino menghela nafas panjang. Ia menguakkan kepadaku rahasia terpenting seorang wanita.
Mba Rien membawakan kepadaku dunia yang kini justru penuh misteri untuk dikuakkan, pikir Kino dengan dada dipenuhi aneka perasaan: bangga bahwa ia dipilih oleh wanita menggairahkan ini, takjub karena ternyata orgasme itu begitu indah sekaligus menakutkan, terharu karena melihat wanita ini harus berjuang melawan dirinya sendiri sampai menangis!
Dengan cepat dipeluknya Mba Rien, diciuminya leher wanita yang harum itu. Oh, terima kasih untuk kunci rahasia itu Mba Rien. Terima kasih banyak!!
Bersambung...