Sampul Novel Gairah Jantan Mafia Kampus

Gairah Jantan Mafia Kampus

8.3 / 10.0
Kisah romansa modern ini dirancang bagi Anda yang pernah memadu kasih dengan lawan jenis. Meski begitu, pembaca dengan ketertarikan sesama jenis tetap diajak menikmati alurnya. Siapa tahu, narasi di dalamnya mampu menghadirkan sudut pandang baru hingga menggeser ketertarikan Anda pada lawan jenis. Mari selami jalinan asmara penuh gairah yang menantang sekaligus memikat di tengah kerasnya dunia mafia kampus.
Ringkasan Gairah Jantan Mafia Kampus
Kisah romansa modern ini dirancang bagi Anda yang pernah memadu kasih dengan lawan jenis. Meski begitu, pembaca dengan ketertarikan sesama jenis tetap diajak menikmati alurnya. Siapa tahu, narasi di dalamnya mampu menghadirkan sudut pandang baru hingga menggeser ketertarikan Anda pada lawan jenis. Mari selami jalinan asmara penuh gairah yang menantang sekaligus memikat di tengah kerasnya dunia mafia kampus.
Baca Selengkapnya

Gairah Jantan Mafia Kampus Bab 1

“Ra, kemaren kemana aja si?!” Suara pria yang ku dengar berasal dari arah kananku.

Aku sejenak menghentikan aktifitas makanku dan menggerakan wajah ke kanan untuk melihat ke sumber suara. Seorang pria dengan tinggi sekitar 180cm sedang berdiri di sebelah kananku.

“Kemaren tuh aku ketiduran Ndre.” Suara seorang wanita dari sisi kiriku.

Tanpa memalingkan wajah. Aku hanya menggerakan bola mataku sedikit ke kiri. Melihat ke arah seorang wanita yang sejak dari tadi sedang bermain hp bersebrangan denganku.

“Gak usah bohong, lu. Nata udah ngomong ke gua!” bentak pria itu lagi.

Pria itu berjalan ke depan melewatiku, mendekati sang wanita, wajah sang wanita seketika terlihat panik.

“Ih apaan sih, Ndre. Aku gak bo’ong, kok,” ucap sang wanita masih mencoba memberikan penjelasan.

Sang pria tampak tak mempedulikan ucapan wanita itu, dengan cepat dia menggerakan tangan dan meraih lengan sang wanita.

“Ah boong mulu lu, Anjing! Udah sini lu buru!” hardik pria itu dengan nada membentak.

Pria itu dengan kasar menarik lengan sang wanita ke atas, hingga dia terpaksa berdiri akibat tarikan di lengannya.

“Ndre pliss Ndre.. aku gak…”

“Ah bacot, lu!”

Tanpa memberikan kesempatan pada sang wanita untuk dapat menyelesaikan ucapannya, sang pria kembali membentak sambil menarik lengan sang wanita, hingga wanita itu terpaksa mulai bergerak keluar dari area meja makan.

“Ndree pliss!!” hiba sang wanita saat pasrah mengikuti tarikan pria itu.

Namun pria itu tak peduli dan terus menarik lengan sang wanita, memaksanya berjalan. Mereka berdua jalan ke arahku.

Ketika mereka hendak melewatiku, dengan cepat aku berdiri lalu mengambil selangkah ke kanan, hingga pria itu kini berada tepat di hadapanku, sementara sang wanita berada di sisi belakangnya.

Aku harus sedikit menaikan pandanganku ke atas untuk melihat wajah pria itu, karena postur tubuhnya beberapa centi lebih tinggi dariku. Mata kami saling bertatapan, aku dapat melihat ekpresi kaget saat ia melihatku yang tiba – tiba berdiri menghalanginya.

“Sorry Bro, jangan kasar-kasar lah sama cewek,” ucapku tenang sambil terus menatapnya.

Matanya sedikit membesar saat mendengar ucapanku, aku baru saja menarik pelatuk emosi di dalam dirinya.

“Buset dah, lu siapa, Jing!?” bentaknya persis di hadapanku, sambil mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Bahkan aku dapat mencium bau napasnya yang lekat dengan aroma asap rokok.

Merasa risih karena wajah kami yang sangat berdekatan. Aku menggerakan wajahku ke kiri, memandang ke area pedagang kantin yang rupanya sedang menyaksikan ketegangan yang terjadi antara kami berdua.

“Di luar aja kalau mau!” ucapku tenang.

“BACOT, LU!” balasnya dengan berteriak.

Mendengar teriakannya, aku reflek melihat ke kanan. Rupanya dia telah melepas genggaman tangannya pada lengan sang wanita. Tangannya lalu bergerak melayang ke arahku, namun beberapa saat kemudian gerakan tangannya nampak tertahan.

“Ndree.. jangan gituu..” jerit sang wanita sambil menahan tangan kanan sang pria dengan cara memeluk lengannya.

“Pliss Ndre, ini aku mau ikutin kamu kok,” lanjut sang wanita mencoba membujuk.

Pria itu sejenak terdiam.

Tiba-tiba aku merasakan dorongan kuat pada pundak kananku sehingga aku harus mengambil satu langkah ke kiri, menyebabkan kursi yang aku duduki saat aku makan tadi terseret ke samping.

“Minggir lu, Bangsat” hardiknya.

Rupanya tangan kirinya lah yang mendorong pundakku sehingga kini aku tak lagi menghalangi jalannya. Mata kami masih saling bertatapan, namun beberapa saat kemudian ia mulai berjalan ke depan.

“Hati-hari lu kalau ketemu gua lagi!” ancamnya sambil terus berjalan melewatiku.

Beberapa saat kami masih saling bertatapan, hingga akhirnya aku melepaskan pandanganku. Namun pandanganku kembali terkunci saat bertemu dengan tatapan sang wanita yang rupanya juga terus melihat ke arahku.

Sejenak aku tenggelam dalam tatapannya.

Sesaat kemudian, bibir tipisnya bergerak melengkung ke atas menunjukan senyuman yang terpampang indah pada wajah orientalnya. Belum sempat aku membalas senyumannya, ia dengan cepat memalingkan wajahn melihat ke depan sembari berjalan meninggalkan area kantin.

Setelah selesai melahap makananku, aku bergegas pergi meninggalkan area kantin sambil menyalakan sebatang rokok di dalam mulutku. Baru saja aku keluar dari area kantin, tiba – tiba langkahku terhenti karena merasakan sebuah tepukan di pundaku..

“Woii…. gilaa lu Za, gak ada takut-takutnya lu jadi manusia,” ucap seorang pria yang kini berada di sampingku. Haris, pria dengan wajah pas-pasan yang merupakan teman seangkatanku.

“Anjing lu, Ris. Gua kirain siapa?” balasku sambil mengambil satu langkah ke depan sehingga tangan Haris terlepas dari pundakku.

“Lu kagak tahu emang tadi lu hampir ribut sama siapa?” tanyanya.

“Emang siapa dia?” Aku balik bertanya.

Aku mulai berjalan meninggalkan Haris namun pandanganku masih melihat ke belakang menunggu jawaban.

“Itu abang-abangannya 3Panur, bego!” jawabnya sambil sedikit berlari, mengimbangi langkahku.

“Oh ya?” jawabku singkat.

“Buset, lu kaga takut emang?” tanya Haris, kini dia sudah berada percis di sampingku.

“Ya mau gimana lagi, Njir, mana gua tahu dia siapa,” jawabku sambil terus berjalan.

Haris memanjangkan tangan kirinya merangkul leherku, dengan pelan namun kuat, ia menarik leherku mendekatinya.

“Mangkanya lu nongkrong lah ja, biar kalau ada apa – apa, lu dibantuin sama senior,” Bisiknya mencoba memberikan saran.

Setelah mendengar ucapannya. Aku dengan cepat menggerakan lenganku, mendorong tubuh Haris menjauh.

“Elah ris, kalau masih manusia mah mau gimana juga gua lawan,” ucapku sambil sedikit tersenyum sinis ke arah Haris.

Haris sebentar menatapku, entah tatapan kaget, takut, ataupun kesal. Ia melemparkan rokoknya ke bawah lalu menginjaknya.

“Serah lu dah ja, saran gua mending ati – ati dah lu,” balas Haris.

Haris kemudian membelokan langkahnya ke kanan. Rupanya kami kini berada tepat di depan gedung UKM, tempat dimana biasanya anak-anak 5HC berkumpul.

Haris terus melangkah meninggalkanku hingga akhirnya dia masuk ke dalam gedung UKM. Sementara aku melanjutkan perjalanku menuju gedung kuliahku.

^*^

Aku baru saja tiba di depan ruangan kelasku, rupanya dosen sudah berada di dalam ruangan, dengan cepat aku segera masuk ke dalam.

Di dalam kelas, aku melihat semua kursi sudah di tempati. Hanya tersisa satu kursi kosong, aku segera melangkah menuju kursi tersebut. Namun sialnya, rupanya sudah terdapat sebuah tas di kursi tersebut, menandakan bahwa kursi tersebut sudah ada yang menempati.

Aku kembali melihat ke sekitar ruangan, mencari sekiranya masih ada kursi yang kosong, namun tiba–tiba.

“Eh maaf… duduk aja, ini tasku kok.” Suara wanita dan aku refleks segera melihat ke sumber suara.

Seorang mahasiswi sedang tersenyum ke arahku sambil menarik tasnya yang dia letakan di atas kursi yang berada di hadapanku. Aku meletakan tasku di meja lalu menurunkan tubuhku terduduk di kursi, tepat di samping wanita itu.

Aku kembali melihat ke arahnya, lalu sedikit tersenyum.

“Makasih ya,” ucapku.

“Iya,” balasnya sambil memeluk tasnya dan tetap tersenyum.

Aku menatapnya sesaat, lalu memalingkan wajahku untuk melihat ke arah dosen. Namun tiba-tiba pandanganku tertahan saat dia kembali mengucapkan sesuatu.

“Intan,” ucapnya.

“Reza,” balasku reflek setelah mendengar bahwa dia baru saja menyebutkan namanya. Aku kembali melihat ke arahnya dan mata kami saling bertemu.

Setelah beberapa saat, ia memalingkan pandangannya melihat ke arah dosen. Sejenak aku melihat wajahnya dari samping, aku bahkan sempat menikmati pemandangan kulit putih lehernya diatas kemeja yang sedang ia kenakan.

“Penanggung jawab kelasnya siapa?” Sebuah suara di kiriku.

Kaget, aku segera melihat ke sumber suara. Ternyata dosen sudah berdiri di depan ruangan.

“Saya Pak!” Jawab seorang mahasiswi, hingga akhirnya kegiatan perkuliahan pun dimulai.

^*^

“Oke.. sampai jumpa di pertemuan selanjutnya,” pungkas dosen menandakan bahwa kelas sudah berakhir.

Sontak, suasana menjadi bising di penuhi aktifitas para mahasiswa merapihkan perlengkapan kuliahnya, begitu juga denganku. Setelah selesai, aku segera berdiri sambil mengaitkan tas pada lenganku, dan saat hendak ingin berjalan, aku melihat Intan yang masih saja sibuk dengan hapenya.

“Masih nyatet?” tanyaku berbasa-basi sambil melangkah hingga kini posisiku sudah berada di depan meja.

“Eh engga kok, cuman bales chat,” jawab Intan sambil menaikan pandangannya melihatku sambil tersenyum, dia memasukan hapenya ke dalam kantong kemejanya.

“Oh..kirain,” balasku juga ikut tersenyum.

Intan berdiri lalu mengangkat tasnya dari atas meja.

“Yu,” ajak Intan sambil melangkah ke sampingku.

“Eh….iya,” balasku yang sedikit kikuk karena merasa aneh mendengar ucapannya, entah mengajak apa.

Aku berjalan bersama Intan keluar dari kelas, hingga kini kami sudah berada di area lorong gedung.

“Kamu mau langsung pulang, Za?” tanya Intan membuka omongan.

“Iya,” jawabku singkat

“Ke rumah?” tanya Intan lagi.

“Engga, ke konstan,” jawabku lagi.

“Oh,” balas Intan singkat.

Beberapa saat kami kembali terdiam sambil terus melangkah menuju ke arah pintu gedung. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya..

“Hmm…lu?” tanyaku singkat, bingung harus menggunakan kata ‘lu’ atau ‘kamu’.

“Engga, mau ke gedung UKM dulu,” balas Intan.

Aku kaget mendengar jawabannya. Reflek aku melihat ke arahnya, Intan yang sadar dengan gerakanku juga ikut melihat ke arahku.

“5HC?” tanyaku.

Aku dapat melihat raut keraguan pada wajah Intan, setelah beberapa saat, akhirnya dia menjawab “Ehmm.. iya,” jawabnya pelan.

“Ngapain?” tanyaku kebingungan.

Aku merasa heran, mengapa mahasiswi baru secantik Intan mau berurusan dengan kelompok mahasiswa yang di kenal secara negatif itu.

“Kakak kelas smaku pada main di sana semua…,” jawab Intan.

Entah mengapa aku merasa kesal mendengar jawabannya. “Ya elah, kayak gak ada….”

“Udah ya ja, aku duluan,” potong Intan atas omonganku.

Intan segera mempercepat langkahnya meninggalkanku. Aku justru berhenti dan sejenak melihat kepergiaannya yang melangkah menuju ke arah gedung UKM, meninggalkanku.

“Apa-apaan sih?” tnayaku mengeluh sambil menggelengkan kepala menyadari besarnya daya tarik 5HC bagi mahasiswa baru.

Dengan berat hati, aku mulai melangkah mejauhi gedung perkuliahan menuju area parkiran, menaiki motorku lalu pergi meninggalkan area kampus.

^*^

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Gairah Jantan Mafia Kampus

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Dalam kisah romansa modern ini, David dan Arina memulai perjalanan emosional yang menuntun mereka pada kebahagiaan sejati. Berlatar keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan jiwa masing-masing. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka tumbuh dengan begitu indah. Momen singkat di musim ini berhasil menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan cinta yang tulus, kuat, dan sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali dengan membawa wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menawarkan janji pernikahan palsu demi menikahi perempuan itu. Sebagai putri bangsawan sekaligus menantu dari dinasti konglomerat, aku menolak menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan ini, aku akan memastikan dia jatuh miskin tanpa sisa.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya yang koma, tetapi saat terbangun, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan umum. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Di hari pernikahan, ia tega membuangku di jalan tol demi Stella. Akhirnya, aku memilih pergi meninggalkan semuanya menuju bandara.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika selalu sabar menghadapi cemoohan ibu mertua demi cintanya pada sang suami, Askara Brahma. Namun, biduk rumah tangga mereka yang berjalan dua tahun mulai retak saat Askara mendadak bersikap dingin dan penuh rahasia. Kecurigaan Nadia menuntunnya pada kenyataan pahit yang tak terbayangkan. Bagaimana ia menghadapi fakta bahwa suaminya diam-diam mengkhianatinya dengan menjalin hubungan gelap bersama adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan hancur setelah dikhianati calon istrinya. Demi meluapkan kekecewaan, ia nekat memaksa Zahra menikah dengannya. Zahra tentu saja terkejut dan langsung menolak rencana gila itu. Tak tinggal diam, Rayhan menawarkan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra bersedia menggantikan posisi pengantin wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima tawaran tersebut dan sanggup hidup sebagai istri pengganti bagi pria sedingin Rayhan?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED