“Ra, kemaren kemana aja si?!” Suara pria yang ku dengar berasal dari arah kananku.
Aku sejenak menghentikan aktifitas makanku dan menggerakan wajah ke kanan untuk melihat ke sumber suara. Seorang pria dengan tinggi sekitar 180cm sedang berdiri di sebelah kananku.
“Kemaren tuh aku ketiduran Ndre.” Suara seorang wanita dari sisi kiriku.
Tanpa memalingkan wajah. Aku hanya menggerakan bola mataku sedikit ke kiri. Melihat ke arah seorang wanita yang sejak dari tadi sedang bermain hp bersebrangan denganku.
“Gak usah bohong, lu. Nata udah ngomong ke gua!” bentak pria itu lagi.
Pria itu berjalan ke depan melewatiku, mendekati sang wanita, wajah sang wanita seketika terlihat panik.
“Ih apaan sih, Ndre. Aku gak bo’ong, kok,” ucap sang wanita masih mencoba memberikan penjelasan.
Sang pria tampak tak mempedulikan ucapan wanita itu, dengan cepat dia menggerakan tangan dan meraih lengan sang wanita.
“Ah boong mulu lu, Anjing! Udah sini lu buru!” hardik pria itu dengan nada membentak.
Pria itu dengan kasar menarik lengan sang wanita ke atas, hingga dia terpaksa berdiri akibat tarikan di lengannya.
“Ndre pliss Ndre.. aku gak…”
“Ah bacot, lu!”
Tanpa memberikan kesempatan pada sang wanita untuk dapat menyelesaikan ucapannya, sang pria kembali membentak sambil menarik lengan sang wanita, hingga wanita itu terpaksa mulai bergerak keluar dari area meja makan.
“Ndree pliss!!” hiba sang wanita saat pasrah mengikuti tarikan pria itu.
Namun pria itu tak peduli dan terus menarik lengan sang wanita, memaksanya berjalan. Mereka berdua jalan ke arahku.
Ketika mereka hendak melewatiku, dengan cepat aku berdiri lalu mengambil selangkah ke kanan, hingga pria itu kini berada tepat di hadapanku, sementara sang wanita berada di sisi belakangnya.
Aku harus sedikit menaikan pandanganku ke atas untuk melihat wajah pria itu, karena postur tubuhnya beberapa centi lebih tinggi dariku. Mata kami saling bertatapan, aku dapat melihat ekpresi kaget saat ia melihatku yang tiba – tiba berdiri menghalanginya.
“Sorry Bro, jangan kasar-kasar lah sama cewek,” ucapku tenang sambil terus menatapnya.
Matanya sedikit membesar saat mendengar ucapanku, aku baru saja menarik pelatuk emosi di dalam dirinya.
“Buset dah, lu siapa, Jing!?” bentaknya persis di hadapanku, sambil mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Bahkan aku dapat mencium bau napasnya yang lekat dengan aroma asap rokok.
Merasa risih karena wajah kami yang sangat berdekatan. Aku menggerakan wajahku ke kiri, memandang ke area pedagang kantin yang rupanya sedang menyaksikan ketegangan yang terjadi antara kami berdua.
“Di luar aja kalau mau!” ucapku tenang.
“BACOT, LU!” balasnya dengan berteriak.
Mendengar teriakannya, aku reflek melihat ke kanan. Rupanya dia telah melepas genggaman tangannya pada lengan sang wanita. Tangannya lalu bergerak melayang ke arahku, namun beberapa saat kemudian gerakan tangannya nampak tertahan.
“Ndree.. jangan gituu..” jerit sang wanita sambil menahan tangan kanan sang pria dengan cara memeluk lengannya.
“Pliss Ndre, ini aku mau ikutin kamu kok,” lanjut sang wanita mencoba membujuk.
Pria itu sejenak terdiam.
Tiba-tiba aku merasakan dorongan kuat pada pundak kananku sehingga aku harus mengambil satu langkah ke kiri, menyebabkan kursi yang aku duduki saat aku makan tadi terseret ke samping.
“Minggir lu, Bangsat” hardiknya.
Rupanya tangan kirinya lah yang mendorong pundakku sehingga kini aku tak lagi menghalangi jalannya. Mata kami masih saling bertatapan, namun beberapa saat kemudian ia mulai berjalan ke depan.
“Hati-hari lu kalau ketemu gua lagi!” ancamnya sambil terus berjalan melewatiku.
Beberapa saat kami masih saling bertatapan, hingga akhirnya aku melepaskan pandanganku. Namun pandanganku kembali terkunci saat bertemu dengan tatapan sang wanita yang rupanya juga terus melihat ke arahku.
Sejenak aku tenggelam dalam tatapannya.
Sesaat kemudian, bibir tipisnya bergerak melengkung ke atas menunjukan senyuman yang terpampang indah pada wajah orientalnya. Belum sempat aku membalas senyumannya, ia dengan cepat memalingkan wajahn melihat ke depan sembari berjalan meninggalkan area kantin.
Setelah selesai melahap makananku, aku bergegas pergi meninggalkan area kantin sambil menyalakan sebatang rokok di dalam mulutku. Baru saja aku keluar dari area kantin, tiba – tiba langkahku terhenti karena merasakan sebuah tepukan di pundaku..
“Woii…. gilaa lu Za, gak ada takut-takutnya lu jadi manusia,” ucap seorang pria yang kini berada di sampingku. Haris, pria dengan wajah pas-pasan yang merupakan teman seangkatanku.
“Anjing lu, Ris. Gua kirain siapa?” balasku sambil mengambil satu langkah ke depan sehingga tangan Haris terlepas dari pundakku.
“Lu kagak tahu emang tadi lu hampir ribut sama siapa?” tanyanya.
“Emang siapa dia?” Aku balik bertanya.
Aku mulai berjalan meninggalkan Haris namun pandanganku masih melihat ke belakang menunggu jawaban.
“Itu abang-abangannya 3Panur, bego!” jawabnya sambil sedikit berlari, mengimbangi langkahku.
“Oh ya?” jawabku singkat.
“Buset, lu kaga takut emang?” tanya Haris, kini dia sudah berada percis di sampingku.
“Ya mau gimana lagi, Njir, mana gua tahu dia siapa,” jawabku sambil terus berjalan.
Haris memanjangkan tangan kirinya merangkul leherku, dengan pelan namun kuat, ia menarik leherku mendekatinya.
“Mangkanya lu nongkrong lah ja, biar kalau ada apa – apa, lu dibantuin sama senior,” Bisiknya mencoba memberikan saran.
Setelah mendengar ucapannya. Aku dengan cepat menggerakan lenganku, mendorong tubuh Haris menjauh.
“Elah ris, kalau masih manusia mah mau gimana juga gua lawan,” ucapku sambil sedikit tersenyum sinis ke arah Haris.
Haris sebentar menatapku, entah tatapan kaget, takut, ataupun kesal. Ia melemparkan rokoknya ke bawah lalu menginjaknya.
“Serah lu dah ja, saran gua mending ati – ati dah lu,” balas Haris.
Haris kemudian membelokan langkahnya ke kanan. Rupanya kami kini berada tepat di depan gedung UKM, tempat dimana biasanya anak-anak 5HC berkumpul.
Haris terus melangkah meninggalkanku hingga akhirnya dia masuk ke dalam gedung UKM. Sementara aku melanjutkan perjalanku menuju gedung kuliahku.
^*^
Aku baru saja tiba di depan ruangan kelasku, rupanya dosen sudah berada di dalam ruangan, dengan cepat aku segera masuk ke dalam.
Di dalam kelas, aku melihat semua kursi sudah di tempati. Hanya tersisa satu kursi kosong, aku segera melangkah menuju kursi tersebut. Namun sialnya, rupanya sudah terdapat sebuah tas di kursi tersebut, menandakan bahwa kursi tersebut sudah ada yang menempati.
Aku kembali melihat ke sekitar ruangan, mencari sekiranya masih ada kursi yang kosong, namun tiba–tiba.
“Eh maaf… duduk aja, ini tasku kok.” Suara wanita dan aku refleks segera melihat ke sumber suara.
Seorang mahasiswi sedang tersenyum ke arahku sambil menarik tasnya yang dia letakan di atas kursi yang berada di hadapanku. Aku meletakan tasku di meja lalu menurunkan tubuhku terduduk di kursi, tepat di samping wanita itu.
Aku kembali melihat ke arahnya, lalu sedikit tersenyum.
“Makasih ya,” ucapku.
“Iya,” balasnya sambil memeluk tasnya dan tetap tersenyum.
Aku menatapnya sesaat, lalu memalingkan wajahku untuk melihat ke arah dosen. Namun tiba-tiba pandanganku tertahan saat dia kembali mengucapkan sesuatu.
“Intan,” ucapnya.
“Reza,” balasku reflek setelah mendengar bahwa dia baru saja menyebutkan namanya. Aku kembali melihat ke arahnya dan mata kami saling bertemu.
Setelah beberapa saat, ia memalingkan pandangannya melihat ke arah dosen. Sejenak aku melihat wajahnya dari samping, aku bahkan sempat menikmati pemandangan kulit putih lehernya diatas kemeja yang sedang ia kenakan.
“Penanggung jawab kelasnya siapa?” Sebuah suara di kiriku.
Kaget, aku segera melihat ke sumber suara. Ternyata dosen sudah berdiri di depan ruangan.
“Saya Pak!” Jawab seorang mahasiswi, hingga akhirnya kegiatan perkuliahan pun dimulai.
^*^
“Oke.. sampai jumpa di pertemuan selanjutnya,” pungkas dosen menandakan bahwa kelas sudah berakhir.
Sontak, suasana menjadi bising di penuhi aktifitas para mahasiswa merapihkan perlengkapan kuliahnya, begitu juga denganku. Setelah selesai, aku segera berdiri sambil mengaitkan tas pada lenganku, dan saat hendak ingin berjalan, aku melihat Intan yang masih saja sibuk dengan hapenya.
“Masih nyatet?” tanyaku berbasa-basi sambil melangkah hingga kini posisiku sudah berada di depan meja.
“Eh engga kok, cuman bales chat,” jawab Intan sambil menaikan pandangannya melihatku sambil tersenyum, dia memasukan hapenya ke dalam kantong kemejanya.
“Oh..kirain,” balasku juga ikut tersenyum.
Intan berdiri lalu mengangkat tasnya dari atas meja.
“Yu,” ajak Intan sambil melangkah ke sampingku.
“Eh….iya,” balasku yang sedikit kikuk karena merasa aneh mendengar ucapannya, entah mengajak apa.
Aku berjalan bersama Intan keluar dari kelas, hingga kini kami sudah berada di area lorong gedung.
“Kamu mau langsung pulang, Za?” tanya Intan membuka omongan.
“Iya,” jawabku singkat
“Ke rumah?” tanya Intan lagi.
“Engga, ke konstan,” jawabku lagi.
“Oh,” balas Intan singkat.
Beberapa saat kami kembali terdiam sambil terus melangkah menuju ke arah pintu gedung. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya..
“Hmm…lu?” tanyaku singkat, bingung harus menggunakan kata ‘lu’ atau ‘kamu’.
“Engga, mau ke gedung UKM dulu,” balas Intan.
Aku kaget mendengar jawabannya. Reflek aku melihat ke arahnya, Intan yang sadar dengan gerakanku juga ikut melihat ke arahku.
“5HC?” tanyaku.
Aku dapat melihat raut keraguan pada wajah Intan, setelah beberapa saat, akhirnya dia menjawab “Ehmm.. iya,” jawabnya pelan.
“Ngapain?” tanyaku kebingungan.
Aku merasa heran, mengapa mahasiswi baru secantik Intan mau berurusan dengan kelompok mahasiswa yang di kenal secara negatif itu.
“Kakak kelas smaku pada main di sana semua…,” jawab Intan.
Entah mengapa aku merasa kesal mendengar jawabannya. “Ya elah, kayak gak ada….”
“Udah ya ja, aku duluan,” potong Intan atas omonganku.
Intan segera mempercepat langkahnya meninggalkanku. Aku justru berhenti dan sejenak melihat kepergiaannya yang melangkah menuju ke arah gedung UKM, meninggalkanku.
“Apa-apaan sih?” tnayaku mengeluh sambil menggelengkan kepala menyadari besarnya daya tarik 5HC bagi mahasiswa baru.
Dengan berat hati, aku mulai melangkah mejauhi gedung perkuliahan menuju area parkiran, menaiki motorku lalu pergi meninggalkan area kampus.
^*^
Aku baru saja tiba di kostanku.
Memarkirkan motorku di area kecil yang sudah di sediakan, lalu menaiki tangga karena kamar kostanku berada di lantai dua. Saat aku sudah berada di depan kamar kostan, aku melihat pintu kamarku terbuka.
Panik, aku segera masuk ke dalam kamar.
Seluruh isi kamarku berantakan, lemariku terbuka, bahkan aku tak dapat menemukan laptopku yang tadi pagi ku sembunyikan di atas lemari.
“Bangsa,t” ucapku dalam hati tak terima dengan ke adaan kamarku.
Aku dengan cepat melangkah keluar kamar, lalu mengentuk pintu kamar yang berada di samping kamarku. Tiba- tiba aku mendengar sebuah suara dari dalam kamar.
“Ehmmm…aahh itu ada yang ngetok yangg.” Suara wanita.
Tak berapa lama pintu pun terbuka, munculah seorang pria telanjang dada yang hanya menungeluarkan setengah badannya dari selipan pintu.
“Sorry bang, tadi ada ngeliat siapa yang masuk ke kamar gua ga?” tanyaku.
Namun ia malah terdiam dan tampak seperti memperhatikanku, setelah beberapa saat.
“Anak 3Punar, gua saranin kalau masih maba gausah nyari masalah dah tong,” Jawabnya.
Dengan cepat ia kembali memasukan badannya ke dalam ruangan lalu menutup pintu. Jujur aku merasa sangat kesal mendengar jawabannya yang malah menceramahiku.
“Ngentot!!” makuku sambil mengingat kejadian di kantin tadi.
Aku dengan segera mengeluarkan hapeku dari kantong celana, lalu mencari sebuah nama di daftar kontak watsapku.
‘Haris’
Aku menekan layar untuk meneleponnya. Hingga beberapa saat nada berdering mulai terdengar.
“Halo? Ada apaan, Za?” tanya Haris membuka omongan.
“Lu dimana?” ucapku balik bertanya
“UKM, kenapa emang?” tanya Haris lagi.
“Gua otewe ke UKM,” jawabku tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Aku langsung mematikan hubungan telepon, lalu melangkah menuju ke arah tangga….
^*^
Di depan gedung UKM
Aku melihat segerombolan mahasiswa yang sedang nongkrong di depan gedung UKM namun mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiranku, lalu aku mencari keberadaan Haris dan menemukannya sedang bermain kartu bersama ketiga orang temannya.
“RIS!” teriakku.
Haris dan ketiga temannya melihat ke arahku, namun sesaat kemudian ketiga temannya kembali melihat kartu mereka masing – masing, sedangkan Haris bangkit berdiri dan berjalan ke arahku.
“Ada apaan dah, Za?”
“Kostan gua di jebol sama anak 3Punar, laptop gua diambil!”
“Hah? Seriusan lu?”
“Iye. Anak-anak 3Punar pada nongkrong dimana? Bantuin gua Ris, ajak anak-anak 5HC, lu,” ucapku sambil melihat ke gerombolan mahasiswa yang sedang sibuk bercengkrama di dekat pintu masuk gedung UKM.
“Buset, gila lu, Reza!” bentak Haris.
Haris dengan cepat melangkah ke sampingku lalu menarik pundakku untuk berputar arah. Aku mengikuti tarikannya, memutarkan badan sehingga kini posisiku searah dengannya, membelakangi gedung UKM.
“Lu sini dulu dah, biar gua omongin,” ucap Haris.
Haris mulai berjalan ke depan. Aku yang tak mengerti dengan maksud sikapnya hanya diam mengikuti langkahnya. Kami berdua berjalan hingga akhirnya tiba pada sebuah warung yang masih berada di dekat area kampus.
“Duduk dulu gih lu, kayaknya emang harus gua jelasin biar lu ngerti kondisinya,” ucap Haris sambil menunjuk ke sebuah kursi kayu panjang yang berada di samping warung.
Aku berjalan ke arah kursi dan duduk, sementara Haris memesan rokok dan minuman pada penjaga warung.
Sesaat kemudian..
“Sekarang gua jelasin ya, biar lu ngerti nih,” ucap Haris sambil berjalan membawa dua gelas es teh lalu meletakannya di samping tempatku duduk.
“Lu ada masalah sama anak 3Punar? Lu mau minta tolong sama anak 5HC?” tanya Haris.
Haris duduk di sampingku, sehingga gelas es teh tadi kini berada diantara kami.
“Emang lu pikir lu siape sih, Za?” tanya Haris lagi.
Bingung dengan ucapannya, aku segera melihat ke arah Haris yang rupanya juga sedang melihat ke arahku.
“Gua aja ragu Za kalau ada masalah sama anak 3Punar, minta tolong sama anak 5HC?” lanjutnya.
“Maksud lu?”
“Gua bukan anggota 5HC, Za. Anak-anak yang tadi pada nongkrong di depan UKM juga bukan.”
Aku mengerenyitkan alis saat mendengar jawaban Haris, karena selama ini berpikir bahwa Haris dan mahasiswa yang berkumpul di depan gedung UKM adalah anggota 5HC.
“Lah terus ngapain lu tiap hari nongkrong di sono?” tanyaku.
“Oke, gini Za….”
Haris menghentikan ucapannya, meminum es teh yang berada diantara kami berdua, juga menyalakan rokok yang dari tadi sudah ia pegang.
“Yang tadi nongkrong di depan UKM itu cuman anak-anak yang kenal sama anak 5HC, berharap mereka bisa diajak gabung atau sekedar di undang ke acaranya 5HC,” lanjut Haris, kemudian menghisap dalam asap dari rokoknya.
“Terus anak 5HC pada dimana?” tanyaku.
“Anak 5HC mah pada di dalem ruang UKM, kalau gak ya pada di kontrakan.”
“Kontra……”
“Iye, anak 5HC punya kontrakan, anak 3Punar juga punya. Dijadiin basecamp sekaligus tempat tinggal buat anggota yang perantauan,” lanjut Haris memotong pertanyaanku.
Aku terdiam sejenak, menyadari bahwa sepertinya Haris tidak bisa membantuku.
“Lu tahu dari mana, Ris?” tanyaku heran mendengar penjalasan Haris yang sepertinya tahu banyak mengenai kelompok mahasiswa di kampus ini.
Haris malah tersenyum.
“Nah, ini yang sebenernya pengen gua omongin sama lu tadi siang Za. Gua kenal sama satu anak 5HC, senior gua pas SMA. Gua pengen ngajak lu buat ikut masuk 5HC, eentar gua minta kenalan gua buat ngerekomendasiin kita berdua,” ucap Haris menjelaskan maksud obrolannya denganku tadi siang.
Aku terdiam, entah mengapa aku jadi teringat masa-masa kelamku saat SMA dulu.
“Ah, males gua, Ris. Kalau soal ribut-ribut mulu isinya,” sanggahku.
“Ga gitu juga, Za, kerjaannya bukan ribut doang.”
Tiba-tiba menggerakan jari-jari tangannya, memasukan jari jempol diantara jari telunjuk dan jari tengah.
‘Ngentot?’ Tak sadar mulutku berucap tanpa suara.
“Kapan lagi coy bisa nikmatin senior, hahaha,” balas Haris.
Aku tersenyum, bagaimanapun aku tidak dapat menghindari menariknya ajakan Haris perilah ‘menikmati senior’ tersebut.
“Tahu dah Ris, ah,” balasku.
Jujur, aku mulai merasa tenang karena setidaknya aku masih memiliki seorang teman yang mau mendengarkan masalahku. Aku mengambil gelas es teh yang ada disampingku, sedikit menyeruput cairan manis tersebut lalu meletakannya kembali.
“Eentar kalau emang gua pengen gua kabarin dah,” ucapku
Haris menyodorkan bungkusan rokoknya kepadaku, aku mengambil sebatang rokok, memasukannya ke dalam mulut lalu membakarnya.
“Terus lu sekarang mau ngapain, Za?” tanya Haris di saat aku masih berusaha membakar rokok.
Rokokku menyala, aku menghisapnya dalam sambil terdiam sejenak untuk memikirkan keputusanku, karena bagaimanapun juga aku membutuhkan laptop untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.
“Kontrakannya anak 3Punar dimana?” tanyaku tenang.
Haris langsung meruncingkan pandangannya ketika mendengar pertanyaanku.
“Lu mau nyamperin?” tanya Haris
“Au dah, emang kontrakannya dimana?”
“Di perumahan pohon palem, lu jangan nekat ke sana, Za.”
Perumahan pohon palem, perumahan yang tidak jauh dari kampus. Dengan cepat aku menaikan tubuhku berdiri dari kursi lalu melihat ke arah Haris yang masih menatapku.
“Ini lu yang bayarin kan?” tanyaku sambil melirik ke arah gelas es teh.
“Lu mau kemana, Njng?” Haris malah balik bertanya.
Entah mengapa aku malah sedikit tersenyum melihat ekpresi wajah Haris yang tampak tak setuju dengan keputusanku.
“Ya elah lu kalem aja, Ris,” ucapku.
Aku menepuk pelan pundak Haris lalu mulai berjalan pergi meninggalkannya, aku sudah membulatkan niatku untuk mendapatkan kembali laptopku.
“Oi REZAAA!” Suara teriakan Haris.
Aku memutarkan leher melihat Haris yang rupanya sudah berdiri di depan warung.
“Udah tenang aja, lu! Ohi ya kalau besok gua gak masuk, titip absen dulu ya!” balasku dengan suara sedikit meninggi.
Tanpa menunggu balasannya, aku kembali memutarkan leherku ke depan, lanjut berjalan memasuki area kampus.
^*^
Di area perumahan pohon palem.
Aku sempat memutari area perumahan untuk mencari dimana kontrakan 3Punar, hingga aku melihat sebuah rumah bertingkat dua yang terlihat ramai karena banyak anak muda yang sedang duduk di teras rumahnya.
Aku yakin bahwa itu adalah kontrakan 3Punar.
Aku melewati depan kontrakan 3Punar, namun tidak berhenti, terus berjalan hingga tiba di sebuah warung yang tidak jauh dari kontrakan 3Punar.
“Bang, filter sebungkus,” icapku pada penjaga warung setelah memarkirkan motorku dipinggir jalan.
Transaksi terjadi, sebungkus rokok yang kini sudah berada di tanganku aku imbali dengan selembar uang dua puluh ribuan.
“Numpang duduk bentar ya bang,” ucapku.
“Ohiya silahkan,” Jawab penjaga warung.
Aku berjalan ke arah kursi plastik di samping warung, duduk, lalu membakar rokok yang sudah ada di mulutku. Beberapa saat, aku mencoba untuk mempersiapkan diri, tak bisa ku pungkiri jantungku mulai berdetak cepat memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi padaku di dalam kontrakan 3Punar, namun entah mengapa aku merasa senang dapat merasakan sensasi ini, sensasi yang sudah lama tak aku rasakan bentarjak aku lulus SMA.
“Heyyy…ngapain disini?” Sebuah suara yang tiba-tiba memecahkan lamunanku.
Aku melihat ke sumber suara, seorang wanita dengan wajah tak asing sedang berdiri di hadapanku, menggunakan celana jeans panjang dan kaos putih ketat.
“Lu yang tadi siang kan?” tanyaku setelah mengingat bahwa dia adalah wanita di kantin tadi siang, wanita yang sebenarnya memulai masalah ini.
“Iya, lu ngapain sendirian di sini?” tanyanya.
“Ehmm… mau ngambil laptop.”
“Ngambil laptop? Eh… gua boleh duduk di sini kan?” ucapnya sambil berjalan kedepan dan menunjuk kursi yang berada disampingku.
Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan mengangguk, dia pun dengan santai menurunkan tubuhnya dan duduk disampingku.
“Oh iya kenalin, gue Tiara,” ucapnya sambil tersenyum dan menjulurkan tangan.
“Reza,” balasku sambil kami bersalaman.
“Emang mau ngambil laptop di mana sih?”
Posisi duduk kami cukup dekat, aku bahkan dapat mencium parfumnya yang terasa sedap di hidungku.
“Di kontrakan 3Punar.”
Ekpresi wajahnya seketika berubah saat mendengar jawabanku.
“Hah? Maksudnya?”
“Kamar kostan gua dijebol sama anak 3Punar, laptop gua di ambil.”
Tiara terdiam sejenak, wajahnya nampak sedang memikirkan sesuatu.
“Duh, maaf ya. Itu pasti gara-gara kejadian di kantin tadi kan?” tanya Tiara, wajah cantiknya kini menunjukan ekspresi memelas.
“Gak papa. Ini juga udah mau gua ambil lagi, kok.”
“Lu mau ke kontrakan anak 3Punar sendirian?”
Lagi-lagi wajahnya berubah, kini dia terlihat bingung. Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.
“Lu semester berapa sih?” lanjut Tiara.
“Satu, lu?”
Tiara tak menjawab pertanyaanku, wajahnya semakin terlihat keheranan mendengar jawabanku. Beberapa saat ia hanya menatap mataku, aku bahkan terpaksa memalingkan wajahku karena merasa canggung terlalu lama bertatapan dengannya.
“Tiga,” jawab Tiara singkat.
Aku reflek langsung kembali melihat ke arahnya karena merasa tak enak berperilaku terlalu santai dihadapan seorang senior.
“Eh maaf, Kak.”
Entah mengapa aku meminta maaf. Namun Kak Tiara hanya mengangguk lalu sedikit tersenyum.
“Lu ke sini naik apa?” tanya Kak Tiara.
“Saya naik motor, Kak,” jawabku sopan.
Tiba-tiba Kak Tiara berdiri lalu mengambil selangkah ke depan.
“Ikutin gua sekarang,” ucap Kak Tiara.
Kak Tiara lalu berdiri dan berjalan ke depan, menyebrangi jalanan lalu masuk ke sebuah mobil sedan, bentartara aku hanya terdiam tak mengerti maksud ucapan Kak Tiara.
Kaca mobil yang tadi Kak Tiara masuki perlahan terbuka, wajah Kak Tiara muncul sedang menatapku, ia menggerakan mulutnya seperti sedang mengucapkan ‘cepet’. Aku reflek mengangguk lalu bangkit dari kursi sambil membuang rokokku ku aspal dan berjalan ke arah motorku.
Kak Tiara menyalakan mesin mobilnya lalu berjalan pelan, aku menyalakan mesin motorku dan mengikuti laju mobilnya.
^*^
Aku terus mengikuti laju mobil Kak Tiara, perjalan cukup jauh hingga akhirnya kami berhenti di depan rumah mewah.
Kak Tiara turun dari mobil lalu berjalan ke arah gerbang, sebentar ia membuka pintu gerbang lalu mendorongnya lebar. Pintu gerbang sepenuhnya terbuka, Kak Tiara kembali ke dalam mobilnya lalu memarkirkannya di area teras rumah mewah tersebut.
“Motornya masukin aja, Za,” ucap Kak Tiara setelah turun dari mobil dengan nada sedikit kencang kepadaku yang masih berada di atas motor.
Aku dengan segera memajukan motorku lalu memarkirkannya di sebelah mobil Kak Tiara, sementara Kak Tiara melangkah ke arah gerbang lalu menutupnya.
“Yuk masuk, Za!” ajak Kak Tiara saat aku baru saja mematikan mesin motor.
Kak Tiara langsung berjalan meninggalkanku, dengan terburu-buru aku segera turun dari motor, melepaskan helm dan sedikit berlari untuk mengimbangi Kak Tiara.
“Sini masuk aja,” ajak Kak Tiara saat kami sudah berada didepan pintu rumah.
“Iya Lak.” Aku melangkah masuk ke dalam rumah bersama Kak Tiara.
Di dalam rumah, aku sempat melihat ke sekitar, ruangannya sangat besar, namun anehnya sama sekali tidak ada barang apapun di ruangan yang biasanya menjadi ruang tamu ini.
“Hmmm…. Di kamar aja deh yu,” ucap Kak Tiara saat aku masih sibuk melihat sekitar ruangan.
Entah mengapa aku seketika menelan ludah saat mendengar ajakannya masuk ke kamar. Matakku bergerak sendiri turun ke bawah menuju area pantat Kak Tiara yang masih tertutupi celana jeans ketat.
Dengan pikiran campur aduk, akhirnya kami tiba di depan pintu kamar.
“Yuk,” ucap Kak Tiara sambil membuka pintu.
Kamar yang sangat mewah. Master bed, tv lcd yang tergantung di tembok, keramik yang terasa dingin akibat ac yang sudah menyala.
“Duduk dulu, Za,” ucap Kak Tiara sambil melihat ke arah kasur. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, aku menuruti suruhan Kak Tiara, duduk di pinggiran kasur.
Kak Tiara berjalan menjauhiku, menuju sebuah lemari besar yang berada di pojok ruanga lalu membuka pintu lemari lalu terlihat meraih sesuatu. Sementara aku hanya terdiam sambil mencuri pandang menikmati pemandangan indah bentuk tubuhnya dari belakang.
Kak Tiara tiba-tiba berbalik, aku reflek membuang pandanganku, dia lalu berjalan mendekat dan duduk disampingku.
“Nah, gini, Za. Tadi siang kan lu udah bantuin gua pas berantem sama Andre. Sekarang biar gua yang bantuin lu,” ucap Kak Tiara sambil meletakan sebuah tas laptop yang tadi ia ambil dari dalam lemari di atas pahanya.
“Maksudnya, Kak?”
Sebenarnya aku merasa canggung karena Kak Tiara duduk terlalu dekat, aku bahkan dapat merasakan area pinggul kami saling bersentuhan.
“Laptop lu kan diambil sama anak 3Punar. Nah ini gua punya laptop gak dipake. Lu pake ini aja dulu sampe laptop lu balik,” jelas Kak Tiara.
“Gak usah Kak, entar biar saya ambil aja laptop saya.”
“Za, lu tahu anak 3Punar itu gimana kan?” tanya Kak Tiara, nadanya berubah menjadi serius.
“Iya tahu, Kak”
“Udah lu pake dulu aja laptop ini. Nanti biar gua yang coba buat mintain laptop lu,” bujuknya
Aku mengangguk dan sedikit tersenyum untuk menunjukan rasa terimakasihku pada Kak Tiara.
“Kakak anak 3Punar?” tanyaku.
“Jangan manggil pake kakak gitu kek za, kayak apaan aja” ucap Kak Tiara malah memprotes kesopananku.
“Oh oke”
“Eh tapi gapapa deh gitu aja” ucapnya plin-plan.
Tiba-tiba Kak Tiara berdiri.
“Nih pegang laptopnya,” ucap Kak Tiara sambil meletakan laptop di pahaku.
Kak Tiara lalu berjalan ke arah pintu sambil meliriku.
“Lu mau minum apa? Biar kakak bikinin?” tanya Kak Tiara sambil tersenyum manis ke arahku.
Entah mengapa aku ikut tersenyum saat mendengar Kak Tiara juga menggunakan panggilan ‘kakak’.
“Apaan aja deh kak,” Jawabku.
“Okay, wait ya Za,” balas Kak Tiara sambil berjalan keluar dari kamar.
Sendirian dikamar, aku menggunakan kesempatan ini untuk sekedar berjalan melihat ke sekitar ruangan. Kamar Kak Tiara sangat luas, bahkan terdapat kamar mandi pribadi dengan fasilitas bathub dan shower di dalamnya..
“Lagi ngapain, Za?” Suara Kak Tiara tiba-tiba terdengar.
Aku melihat ke sumber suara, ternyata Kak Tiara sudah berdiri di depan pintu sambil mebawa gelas dan botol minuman bersoda di tangannya.
“Liat – liat, kak,” jawabku singkat.
Aku membelokan badan lalu berjalan mendekatinya.
“Maaf yah za, rumahnya masih kosong jadi belum ada apa – apa,” Ucap Kak Tiara sambil meletakan gelas di atas kasur lalu duduk.
“Gapapa kak…hmm.. orang tuanya mana kak?” tanyaku sambil ikut duduk diatas kasur.
“Orang tua kakak tinggal di daerah barat. Pas semester 2 kemarin kakak di beliin rumah ini sama papah, dari setiap bulan harus bayar kostan mending sekalian beli rumah itung – itung investasi katanya”
“Oh,” Jawabku singkat.
Kak Tiara tak membalas, dia kemudian meraih botol minuman yang berada di kasur dan membukanya. Akhirnya aku dan Kak Tiara mengobrol panjang di dalam kamarnya ini, bercerita tentang kehidupan kami masing-masing.
Aku sedikit menceritakan mengenai masa-masa kelamku selama SMA, membuat Kak Tiara merasa tak heran melihatku berani melawan Andre di kantin tadi siang, juga berani untuk ingin datang ke kontrakan 3Punar sendirian.
“Eh, Za, lu jangan bilang siapa-siapa kalau Kakak tinggal di sini, ya,” ucap Kak Tiara melanjutkan obrolan.
“Iya kak.”
Kak Tiara terdiam, aku juga terdiam. Berduaan di dalam kamar tanpa ada orang lain di dalam rumah, ingin sekali aku menyerang tubuh mulus Kak Tiara saat ini juga, namun dengan cepat aku turun dari kasur.
“Kak… saya pulang dulu ya,” ucapku.
“Eh…bentar Za,” cegah Kak Tiara sambil ikut berdiri.
Kak Tiara sejenak tampak berpikir.
“Hmmmm….kakak minta nomor wa boleh?” tanya Kak Tiara.
Aku dapat melihat Kak Tiara menyembunyikan rasa malu pada ucapannya.
“Boleh lah kak,” jawabku santai.
Aku pun memberikan nomor wa kepada Kak Tiara, lalu pamit pulang, Kak Tiara mengantarkanku ke depan gerbang, tak lupa dengan membawa laptopnya.
^*^
Di kamar kostan, sekitar jam 8 malam.
Selesai membereskan kamar kostanku, aku segera mandi. Setibanya kembali di dalam kamar, aku iseng membuka laptop Kak Tiara, laptopnya bahkan jauh lebih canggih dibanding laptopku.
“Orang kaya,” ucapku dalam hati sambil menekan tombol power.
Aku melihat ada sebuah folder dengan nama ‘foto’ di desktopnya, penasaran aku langsung mengklik folder tersebut. Munculah banyak file file foto Kak Tiara, bahkan beberapa foto menunjukan gambar dimana Kak Tiara sedang menggunakan pakaian-pakaian yang minim dan super ketat.
“Tahu gini mending gua sikat dah tadi,” ucapku sambil menikmati pemandangan indah di layar laptop Kak Tiara.
^*^
Pagi ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya, sekitar jam setengah 7. Mungkin karena semalam aku langsung tertidur pulas setelah melampiaskan hasratku menggunakan foto – foto Kak Tiara yang ada di dalam laptopnya.
Layaknya manusia modern pada umumnya, yang pertama aku lakukan setelah bangun adalah melihat hapeku.
[Rezaa, besok ke kampus kan?] Pesan dari Kak Tiara, sekitar jam 10 malam.
[Iya Kak, maaf kak semalem udah tidur] balasku
Beberapa saat aku menunggu balasan dari Kak Tiara sembari mengumpulkan kesadaranku, namun Kak Tiara tak kunjung membalas, mungkin dia masih tertidur.
Akhirnya ku putuskan untuk bangkit dari kasur dan pergi keluar kamar untuk mandi dan melaksanakan setoran pagi.
^*^