Leanna, terbangun ketika merasakan sakit dan perih di pusat dirinya. Matanya mengerjap menatap ke langit-langit kamar yang terasa begitu asing baginya. Ia sedang terlentang diatas tempat tidur, yang juga tak ia kenali. Leanna mencoba menggerakkan badannya untuk duduk, tapi tidak bisa. Ia meringis ketika pusat dirinya terasa semakin perih dan panas. Otaknya berputar memikirkan tentang apa yang sudah terjadi padanya semalam, ketika ia merasakan adanya pergerakan di samping kiri tempat tidurnya.
Leanna menoleh, dan matanya terbelalak kaget, “Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?” lirih Leanna langsung menutup mulutnya seakan tak percaya.
Disampingnya, terbaring seorang pria bertubuh kekar dengan kulit sewarna madu dengan posisi telungkup. Pria itu bergerak dan sedikit bergumam ketika mendengar suara Leanna yang mengganggu tidurnya.
Cepat-cepat Leanna mengintip ke balik selimut yang menutupi tubuh mereka. Memastikan tidak ada hal terlarang yang terjadi diantara mereka seperti yang sedang Leanna pikirkan saat ini.
Dan sedetik kemudian, Leanna menutup kembali selimutnya dengan gerakan cepat. Ia menangis sambil membungkam mulutnya sendiri dengan kepalan tangan. Ketika menyadari dibawah selimut itu, tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.
Perlahan Leanna mulai ingat. Mengapa dia bisa berada diatas tempat tidur pria itu. Pria yang sialnya adalah calon adik iparnya sendiri, Dean.
Trisha, adik kandung Leanna akan menikah dua hari lagi. Dan, semalam selepas maghrib. Ibunya mencari-cari Trisha untuk menyuruhnya mengantarkan baju pengantin yang akan dipakai Dean di acara pernikahannya nanti. Baju itu baru saja dikirimkan dari butik ternama bersamaan dengan gaun pengantin milik Trisha yang berwarna seputih gading.
“Kemana anak itu? Kebiasaannya selalu saja menghilang. Dua hari lagi pernikahannya tapi masih suka berkeliaran,” omel ibu sambil mondar-mandir dengan ponsel di telinga kirinya. Leanna yang memang seorang guru sedang memeriksa tugas murid-muridnya di atas meja ruang keluarga. Sesekali matanya menoleh geli ke arah sang ibu, “Nanti juga pulang, bu. Macet mungkin.”
“Walaupun macet, kenapa dia tidak mengangkat telpon ibu? Bajunya Dean harus segera dikirim ke rumahnya. Biar dicoba, takutnya tidak muat. Tau sendiri kan Dean sibuk, hingga tak punya waktu untuk fitting baju.” Ibu menyerah. Ia meletakan ponselnya ke meja disamping laptop milik Leanna.
Sudah lebih dari setengah jam Ibu mencoba menghubungi ponsel Trisha yang memang tersambung tapi tak kunjung diangkat.
“Menurutku, bajunya pasti akan pas di tubuh Dean, bu. Meski belum dicoba, tapi kan sudah diukur dengan bajunya Dean yang lain,” ujar Leanna menenangkan ibunya.
Ibu menghela nafasnya sebelum ia berkata, “Tapi ibu telanjur buat masakan kesukaan Dean tadi siang. Semur ikan. Sayang kalau harus menunggu besok. Semurnya pasti akan beda rasanya.” Ibu yang duduk disamping Leanna menahan pipinya dengan satu tangan.
Ia menoleh pada Leanna yang sibuk berkutat dengan laptop serta berlembar-lembar kertas yang menumpuk.
"Apa ibu mau aku saja yang antarkan ke rumah Dean?” tawar Leanna yang langsung membuat mata ibunya berbinar.
“Memangnya tidak apa-apa. Kau sendiri kan sibuk harus memeriksa tugas murid-muridmu yang sudah menumpuk sebesar gunung ini. Tapi malah harus repot juga ke rumah Dean.”
“Bukan masalah, bu. Hanya sebentar saja. Lagipula rumahnya Dean tidak akan terasa jauh kalau aku pergi ke sana dengan menggunakan sepeda motor. Dean juga pasti sudah tidak sabar mencicipi semur ikan buatan ibuku yang sudah menjadi makanan favoritnya,” kata Leanna sembari memberikan tumpukan kertas dan menutup laptopnya. Ibu bergegas bangkit dari duduknya.
“Terimakasih, sayang. Tunggu sebentar, biar ibu siapkan dulu semur ikannya ke dalam kotak makan.” Leanna mengangguk ketika ibu sudah melesat menuju dapur rumah mereka yang sederhana. Setelah menunggu 10 menit, Semur ikan yang sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu itu sudah dibungkus rapi di kotak makan.
Leanna memakai helmnya, dan menyalakan motor vespa kesayangannya menuju rumah Dean. Tak lupa baju pengantin milik pria itu yang ia masukkan ke dalam papper bag ia kaitkan di bagian depan sepeda motornya.
Ketika sampai dirumah Dean, Leanna yang sudah memanggil pria itu berkali-kali tapi tak ada jawaban dari dalam.
Mencoba mendorong sedikit pintu rumah Dean dan ia kaget ketika tahu pintu itu tidak dikunci. Leanna menerobos masuk dan mencari keberadaan calon adik iparnya itu.
“Dean!” seru Leanna ketika mendapati Dean tengah telungkup di lantai ruang tamunya.
Dengan pecahan botol minuman yang Leanna tahu sebagai minuman yang memabukan, bertebaran di atas lantai.
“Dean! Kau kenapa?” Leanna mencoba membalikkan posisi Dean hingga ia telentang. Leanna melihat wajah Dean yang nampak sayu dengan matanya yang terpejam. Dean sesekali bergumam dengan suara yang tak jelas terdengar di telinga Leanna.
“Badanmu panas, kau demam!” Leanna panik ketika mendapati dahi dan leher Dean yang terasa begitu panas. Ia tak habis pikir, disaat sedang demam bukannya berobat. Dean malah meminum minuman memabukan itu.
Dean menggerakkan tangannya perlahan dengan mata yang masih terpejam, berusaha menggapai telapak tangan Leanna kemudian menggenggamnya.
Membuat Leanna mengernyitkan alis, “Jangan pergi!” gumam Dean setengah berbisik.
“Kau sedang demam, Dean. Dan kau mabuk,” ujar Leanna mencoba melepaskan genggaman tangan Dean. Tapi secepat mungkin, Dean meraih telapak tangan Leanna kembali. “Aku hanya minum sedikit, aku mohon jangan marah.”
“Tidak ada yang marah. Aku kesini untuk mengantarkan makanan dan baju pengantin yang harus kau coba. Tapi melihat keadaanmu seperti ini. Sebaiknya kau istirahat. Kau bisa mencobanya besok. Sekarang biar ku bantu menaikan tubuhmu ke atas sofa. Tidur di lantai hanya akan membuat demammu semakin parah.”
“Tidak mau! Bantu aku naik ke atas,” lirih Dean menunjuk ke sebuah kamar yang terletak di lantai atas. Matanya masih sayu dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Leanna memandangnya tidak enak. “Tapi, aku tidak bisa membawamu ke kamar. Selain karena tubuhmu berat, aku rasa juga tidak pantas. Terlebih saat tak ada siapapun di rumah ini,” tolak Leanna dengan halus.
“Aku mohon! Disini tubuhku kedinginan. Aku ingin tidur dikamarku.”
Setelah berpikir, Leanna akhirnya menyerah. Leanna membantu Dean pindah ke kamarnya dengan mengalungkan lengan kiri Dean yang kekar ke lehernya.
Setiap langkah rasanya seperti kehilangan setengah nafas bagi Leanna. Bagaimana tidak? Tubuh Dean yang tinggi kekar di angkat dengan susah payah oleh tubuh Leanna yang kecil dan kurus.
Terlebih Leanna merasa kepalanya mendadak pening saat melewati satu-persatu tangga menuju lantai atas.
“Hah, Akhirnya,” ucap Leanna dengan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Leanna lega Dean sekarang sudah ia baringkan di atas tempat tidur. Ketika sudah menutupi setengah tubuh Dean dengan selimut, Leanna hendak berbalik untuk pulang. tapi kemudian genggaman tangan Dean menahannya.
“Jangan pergi!” Leanna berbalik ke arah Dean dan tersentak ketika Dean sudah membuka mata dan sedang menatapnya dengan tatapan berkabut. “Aku harus pulang, Dean! Ini sudah malam.” Leanna mencoba menarik tangannya dari genggaman Dean yang kian erat.
Dean bangkit dari tidurnya. Dengan tangan yang masih menggenggam Leanna, Dean mendekat dan berdiri tepat di depan wajah Leanna yang menatapnya terkejut. Dean mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Leanna dan berbisik, “Aku mohon! Jangan pergi! Aku sangat membutuhkanmu saat ini”
Leanna mengerjap, Ia masih berpikir mungkin Dean masih membutuhkannya karena pria itu sedang demam.
Tapi tetap saja, Leanna merasa tak memiliki hak untuk berlama-lama di rumah Dean.
“Dean! Apa yang kau lakukan?” pekik Leanna ketika tangan Dean mulai menarik tengkuknya dalam hitungan detik. Dan mereguk madu manis di bibir mungil Leanna yang masih sangat murni. “Trisha, aku mencintaimu,” bisik Dean ketika melepaskan bibirnya sejenak untuk mengatur nafas.
Sedang Leanna mencoba memberontak dengan air mata yang berurai disela-sela godaan Dean yang memabukkan.
“Dean. Aku bukan Trisha! Aku Leanna!” Leanna mendorong tubuh Dean menjauh ketika ia berhasil menendang benda berharga milik pria itu. Nyaris saja Leanna berhasil mencapai pintu, sebelum tangan kekar Dean menarik perutnya dan memeluknya dari belakang.
“Maafkan aku, sayang! Aku janji. Akan selalu ada untukmu mulai saat ini.”
“Dean. Aku mohon jangan!” Leanna menjerit dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Dean. Tapi usahanya sia-sia. Karena dengan sigap Dean mengangkat tubuh Leanna dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Leanna tak ingat apapun saat Dean mulai menyusuri seluruh permukaan wajah Leanna dengan bibirnya. Karena Leanna hanya fokus untuk memberontak dalam kesia-siaan.
Yang Leanna ingat, hanya ketika ia merasakan sesuatu yang keras terasa membelah pusat dirinya hingga Leanna menjerit dengan kesakitan yang tak dapat ia tahan.
Leanna mengerti, Dean telah mengambil apa yang bukan haknya. Dean telah mereguk madu dari bunga yang bukan rumahnya. Dean, telah menghancurkan kehormatannya.
Jika berkenan, mampir ke novelku yang lainnya yuk! Siapa tahu ada yang kalian suka.
Judulnya:
1. Mantan Istri CEO Tampan
2. CEO in My Bed
3. Salah Pilih Pengantin.
Leanna tersentak dari lamunannya ketika ia merasakan sebuah pelukan tangan kekar yang merapatkan tubuhnya pada Leanna, “Maafkan aku! Aku mencintaimu,” bisik pria itu dengan mata tertutup. Sedang tangan kekarnya yang tadi memeluk erat tubuh Leanna, mulai bergerak menyusuri bagian lain yang lebih sensitif.
Leanna menggigit bibir bawahnya ketika jari tangan pria itu nyaris mencapai pusat dirinya.
Membuat Leanna memekik tertahan, sebelum ia berteriak dengan lantang, “Jangan!” hingga pria itu tersentak membuka matanya, dan seakan kaget ketika melihat wajah Leanna yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Pria itu segera bangkit berdiri dari tidurnya.
Setelah ia memakai celana yang tergeletak dilantai dengan gerakkan cepat. Ia menatap Leanna yang sedang berusaha untuk duduk diatas tempat tidur sambil merapatkan selimutnya.
“Mengapa kau bisa ada dikamarku?” bentak pria itu dengan mata yang berkilat karena kemarahan. Ia menyorot tajam pada Leanna yang menatapnya dengan berkaca-kaca.
Leanna hanya bisa terdiam dalam ketakutan. Ingin sekali ia membuka mulutnya untuk menjawab, namun entah mengapa lidahnya terasa begitu kelu.
“Jawab!” bentak Dean.
“A.. aku, semalam. Kita.”
“Ya Tuhan! Apa yang kalian lakukan?” belum sempat Leanna menyelesaikan ucapannya, Ibu Leanna yang baru sadar tadi pagi bahwa Leanna belum pulang sejak semalam. Memutuskan untuk datang menyusul ke rumah Dean. Kini, dua orang itu menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka lebar dengan ekspresi yang sama kagetnya.
“Ibu!” pekik Leanna. Ia makin merapatkan selimutnya. Tidak menyangka ibunya akan datang dan melihat keadaannya yang seperti ini.
“Leanna! Dean! Kalian..” Ibu tak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba pening, “Siapa yang akan menjelaskan tentang apa yang aku lihat sekarang ini!” teriaknya. Leanna menunduk ketakutan. Sedangkan Dean menatap Leanna dengan tatapan mengintimidasi. Lalu kembali menoleh ke arah calon ibu mertuanya.
“Aku tidak tahu! Tiba-tiba saja saat aku terbangun, Dia sudah ada ditempat tidurku tanpa sehelai pakaian,” tegas Dean dengan nada tak mau disalahkan. Leanna menoleh ke arahnya. Ia tidak percaya dengan apa yang Dean katakan. Bukankah semalam Dean sendiri yang merenggut kesucian Leanna dengan memaksanya? Tapi, mengapa sekarang Dean bersikap seolah tidak tahu apa-apa? Leanna menoleh pada ibunya yang menatapnya dengan tatapan terluka. Kemudian memberanikan diri untuk berkata,
“Ibu, aku ..”
“Aku tidak bemaksud menghianati Trisha. Aku bahkan tidak ingat apa yang sudah terjadi semalam.” Dean memotong perkataan Leanna. Ia meremas rambutnya sendiri dengan gusar. Dean bahkan tak bisa memutar otaknya untuk berfikir tentang mengapa ia bisa satu tempat tidur dengan calon kakak iparnya sendiri yang entah kapan datangnya.
Dengan mata yang memerah karena menahan kemarahan, kini tatapan ibu tertancap pada Leanna yang penampilannya kusut dan awut-awutan. Leanna menatap nanar ibunya yang sudah bergerak melangkah menuju ke arahnya.
Plak!
Satu tamparan yang melayang dari sebuah tangan yang halus, namun terasa begitu kasar dan menyakitkan. Hingga membuat Leanna tersungkur ke tengah tempat tidur. Leanna merasakan sakit yang begitu dalam. Tapi bukan pada pipinya yang memerah akibat tamparan ibu. Melainkan pada ulu hatinya yang terluka. Ini kali yang pertama. Ibu menamparnya.
“Sejak kapan ibu mengajarimu untuk menjadi wanita murahan?” teriak ibu tepat di telinga kiri Leanna. Leanna segera menoleh kearah ibunya yang sudah memegang dadanya sendiri, “Ibu.. aku bisa jelaskan,” mohon Leanna yang mencoba meraih tangan ibunya, namun selau ditepis dengan kasar.
“Cukup!” bentak ibu mengangkat tangannya sebagai tanda Leanna untuk berhenti berbicara, “Apapun yang mau kau jelaskan, jelaskanlah dirumah. Didepan ayah dan adikmu!” tekan ibu. Leanna menggelengkan kepalanya, ia menangis dengan berusaha terus menggapai tangan ibunya untuk memohon. Namun selalu ditepisnya lagi dan lagi.
Ibu menatap Dean tak kalah tajamnya, “Dean! kau juga harus ikut dengan tante!” perintahnya. Dean membelalakan matanya terkejut, “Tapi untuk apa? Jangan katakan kalau tante akan meminta pertanggung jawabanku tentang ini? Jika itu yang tante maksud, jelas aku akan menolak. Aku akan menikah dua hari lagi kalau tante lupa. Dan satu lagi yang harus aku tegaskan. Aku bahkan tidak ingat apapun semalam. Jadi, aku sama sekali tidak merasa bersalah disini,” papar Dean dengan tegas.
“Tante minta sekali lagi. Kamu ikut tante sekarang!” perintah ibu tak kalah tegasnya. Dean menampilkan raut wajah tidak setuju, “Bahkan orang yang tidak waras pun akan tahu apa yang telah terjadi semalam, setelah melihat keadaan kalian saat ini. Mau ingat ataupun tidak, kalian sudah melakukan kesalahan. Dan setiap kesalahan harus ada pertanggung jawabannya. Jadi, saya minta. Ikut saya sekarang!” bentak ibu dengan rahang yang mengeras.
Baik Leanna maupun Dean, sama-sama tak bisa berkutik ataupun membela diri masing-masing. Saat ini, mereka tak mempunyai pilihan lain kecuali ikut dengan Ibu Leanna yang akan menghadapkan mereka berdua didepan ayah Leanna dan Trisha. Memikirkan hal itu, membuat Dean mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia meremas rambutnya gusar dan berdoa dalam hati, “Semoga saja Trisha tidak membatalkan pernikahan ini.”
***
Plak!
Sebuah tamparan kembali melayang dan mendarat tepat di pipi kanan Leanna. Kali ini dari seorang lelaki yang selalu menjadi panutan dalam hidupnya. Hingga Leanna merasa pipinya begitu panas dan perih. Karena mendapat tamparan ditempat yang sama.
“Ayah,” lirih Leanna.
“Jangan lagi berani memanggil namaku dengan sebutan itu!” hardik Ayah menunjuk Leanna yang terduduk bersimpuh di depannya. Sedangkan Trisha, ibunya, Dean dan juga paman Leanna sedang duduk di kursi ruang tamu dengan melemparkan tatapan merendahkan pada Leanna yang menangis tak berdaya.
“Mulai sekarang, aku mengharamkan mulutmu yang hina itu menyebut namaku,” bentak ayah dengan urat leher yang bertonjolan. Leanna menangis semakin terisak dengan memeluk erat kaki sang ayah. Leanna merasa fisiknya sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit dari semua rasa sakit yang pernah ia rasakan selama hidupnya. Leanna tak menyangka, hardikan itu akan keluar dari mulut sang ayah yang ditujukan padanya.
“Ayah, maafkan aku!” lirih Leanna makin terisak.
Ayah meremas rambut Leanna kemudian menariknya paksa hingga Leanna berdiri, “Minta maaflah pada adikmu! Dia orang yang kau hianati,” perintah ayah lalu tangan kirinya mencengkram dagu Leanna, sedang tangannya yang kanan masih meremas rambut Leanna dengan kuat. Ayah sengaja menghadapkan wajah Leanna tepat dihadapan Trisha yang matanya basah dan sembab.
“Perlihatkan wajah hinamu pada adikmu. Lihatlah dia! Kau tahu dua hari lagi pernikahannya. Dan sekarang, kau malah mengacaukannya dengan menggoda calon pengantin prianya,” geram ayah yang makin mengetatkan cengkraman tangannya. Hingga membuat Leanna meringis. Sejenak mata Leanna bukan tertancap pada Trisha, melainkan pada Dean yang terlihat begitu datar dan tak bereaksi ketika melihat Leanna sedang diadili oleh ayahnya.
Leanna menjerit dalam hati. Mengapa hanya dia yang disalahkan? Mengapa sejak tadi mereka tak menyebut nama Dean sebagai salah satu tersangkanya? Bukankah semua kekacauan yang terjadi juga disebabkan oleh Dean?
“Trisha..” lirih Leanna menatap Trisha yang bahkan tak mau menatapnya sama sekali.
“Aku malu sekali melihatmu. Tapi aku tidak tahu, apa kau masih memiliki rasa malu itu atau tidak.” Ayah yang berkata sambil menghempaskan Leanna ke lantai yang dingin.
“Sudah berapa kali kukatakan kalau Leanna itu iri pada adiknya. Usianya sudah dua puluh delapan tahun, tapi belum juga menikah. Makannya dia mau menggaet semua pria yang menyukai Trisha,” sela paman Leanna.
“Diamlah Rusman!” bentak ayah.
“Kenapa kak? Aku hanya bicara kenyataan kan,” ucap paman yang sepertinya tak mau diam.
Kini mata ayah tertuju pada Dean dan Trisha yang duduk berjauhan, karena Trisha masih tidak mau mendengar penjelasan Dean, “Jadi, bagaimana keputusan kalian? Setelah kejadian memalukan ini?” tenya ayah. Dean langsung menatap ayah, cepat-cepat ia berkata, “Aku tetap ingin menikah! Tapi aku menyerahkan semuanya pada Trisha. Dan aku juga sangat berharap, kalau ia akan mengambil keputusan yang sama,” ujar Dean sambil matanya tak lepas memandang Trisha yang masih menangis karena merasa tidak percaya ia telah dihianati oleh calon suami dan kakaknya sendiri.
“Trisha, ayah menunggu keputusanmu!”
Trisha mengangkat wajahnya, menatap sang ayah. Kemudian ia berkata, “Aku mau pernikahan ini.. dibatalkan!” putus Trisha yang langsung membuat semua mata memandangnya dengan tatapan tak percaya. Terlebih Dean menatap Trisha dengan sorot mata yang terluka.
Tiba-tiba saja Leanna bersimpuh dihadapan Trisha, “Aku mohon Trisha, jangan batalkan pernikahanmu! Aku minta maaf padamu. aku bersalah padamu. Tapi ku mohon! Jangan menghancurkan kebahagiaanmu dengan membatalkan pernikahan ini.”
“Kebahagiaan? Kebahagiaanku sudah hancur sejak penghianatan menjijikan yang kau lakukan!” tegas Trisha mendorong bahu Leanna hingga terjengkang kebelakang.
“Aku hanya berfikir, mungkin saja benar apa yang dikatakan oleh paman. Kau iri melihatku bisa mendapatkan pria tampan dan kaya. Hingga kau nekat untuk menggoda siapapun pria yang mendekatiku,” teriak Trisha disela-sela tangisnya. Leanna menggeleng tak percaya dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulut adiknya.
“Aku tidak pernah melakukan itu!” elak Leanna.
“Maling, mana mau ngaku,” sela paman dengan pedas. Leanna memutar kepalanya kasar untuk menatap ke arah pamannya, “Aku bukan maling, paman!” tolaknya.
“Iya, tapi kau wanita penggoda!”
“Aku bukan wanita seperti itu!” Leanna berteriak sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Tak mau mendengar setiap tuduhan dan hinaan yang dilontarkan oleh pamannya.
Paman menatap sinis pada Leanna, “Setelah apa yang telah terjadi semalam, kau pikir sebutan apa yang pantas disematkan padamu? Mustahil kalau kupanggil kau wanita terhormat,” ejek paman.
Leanna mengarahkan pandangannya pada ibunya yang terlihat enggan menatapnya. Leanna mencoba merangkak untuk kemudian memeluk kaki sang ibu dan menangis di pelukannya, “Ibu.. tolong katakana bu! Aku bukan wanita seperti itu. Aku tidak bersalah!” ucap Leanna lirih disela tangisnya.
Leanna mendongkakan kepalanya perlahan untuk menatap wajah ibunya, sejenak Leanna merasa terluka. Ekspresi ibunya nampak datar dan tak peduli. Leanna hendak kembali menghambur menangis dipelukan ibunya, ketika ibunya sudah bergerak melepaskan pelukan Leanna dengan paksa, dan berdiri lalu pergi meninggalkan Leanna yang tersungkur tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Ibu..” panggil Leanna tapi ibunya tetap tak menoleh sedikitpun. Leanna menggerakkan kepalanya untuk menatap pada ayahnya yang masih berdiri tak jauh didekatnya, “Ayah,,” panggil Leanna. Tapi ayahnya juga sama sekali tak memperdulikannya. Ayah malah menatap serius pada Dean.
“Dean! Trisha telah membatalkan pernikahan kalian. Sekarang, bagaimana keputusanmu selanjutnya?” Tanya ayah. Dean terlihat menghembuskan nafasnya kasar, lalu menatap Leanna dengan sinis.
“Apapun yang akan aku putuskan selanjutnya. Yang jelas, aku tegaskan didepan kalian semua. Bahwa aku tidak merasa perlu untuk bertanggung jawab terhadap perempuan ini,” tegas Dean dengan menekan setiap kalimatnya sambil menunjuk ke arah Leanna.
“Aku tak merasa bersalah sama sekali,” lanjut Dean, kemudian ia menatap Trisha dengan sorot pandangan yang lembut dan tenang.
“Trisha! Aku tahu, aku telah membuatmu kecewa dan terluka. Tapi satu hal yang perlu kau tahu. Bahwa kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Dan aku akan selalu berusaha untuk membuatmu kembali mau menikah denganku,” ujar Dean dengan tulus. Ia tersenyum ketika Trisha menoleh padanya dan pandangan mereka bertemu untuk sejenak.
Kemudian Trisha berdiri dengan mata yang masih tertancap pada bola mata Dean yang abu. Senyum Dean semakin lebar, saat Trisha berjalan ke arahnya. Dean membentangkan tangan siap menyambut Trisha yang ia kira akan menghambur memeluknya. Tapi, sampai di depan Dean Trisha bahkan tak menghentikan langkahnya.
Trisha terus berjalan melewati Dean hingga membuat Dean berbalik menatap punggungnya dengan rasa kecewa. Setelah Trisha pergi, Dean menggerakkan kepalanya kasar ke arah Leanna. Hingga tatapan mereka bertemu.
Leanna takut bukan main, ketika Dean melemparkan tatapan kebencian dan penuh intimidasi ke arahnya. Leanna menggeserkan tubuhnya yang sedang terduduk di lantai, untuk mundur. Ketika Dean yang bertubuh tinggi menjulang tersenyum culas sambil melangkah kemudian berhenti tepat di depan Leanna. Dean bahkan sampai jongkok untuk menyamakan tingginya dengan Leanna. Dengan jarak sedekat ini, Leanna sekarang tahu bagaimana sorot kemarahan Dean yang sesungguhnya.
“Ini semua karenamu! Ingat selalu raut wajahku saat ini! Agar kau tahu, kalau aku tak akan pernah melepasmu jika sampai Trisha membenciku,” tegas Dean yang berbicara dengan rahang yang mengeras.
“A.. aku tidak bersalah,” ucap Leanna susah payah membela dirinya. Dean malah tertawa mengejek. Membuat Leanna semakin ketakutan melihatnya. Setelah Dean menghentikan tawanya, Dean kembali menatap Leanna dengan tatapan yang menyiratkan kebencian.
“Katakan itu saat nyawamu pergi meninggalkan tubuhmu nanti,” hardik Dean kemudian berdiri dan pergi tanpa sekedar berbasa-basi sedikitpun pada ayah dan paman Leanna yang sejak tadi hanya diam menyaksikan Dean yang mengintimidasi Leanna.
“Ayah..” panggil Leanna. Tapi ayah malah pergi setelah melemparkan tatapan menghinanya pada Leanna. Membuat Leanna semakin terisak. Ia meremas dadanya kuat-kuat.
“Makanya, jadi perempuan, jangan suka menggoda calon suami orang!” ejek paman yang berkacak pinggang menatap Leanna. Leanna hanya diam, tak ingin membalas hinaan pamannya lagi yang tak akan pernah puas menghinanya.
Paman mendengus, ia malah tersenyum puas dan pergi setelah meludah ke arah Leanna. Hampir saja mengenai wajah Leanna, jika Leanna tak segera menggeser tubuhnya dengan cepat.
“Ya Tuhan! Maafkan aku!” isak Leanna dalam tangisnya.
***
Sudah jam istirahat, ketika guru yang lain sedang sibuk mengenyangkan perut, Leanna masih sibuk berkutat dengan setumpuk lembaran tugas para muridnya.
Leanna duduk di mejanya, dan memeriksa dengan serius setiap tugas yang akan dibagikan lagi pada muridnya esok hari.
“Ibu Leanna tidak makan siang?” Tanya Bu Sekar, guru berkacamata yang mengajar matematika di kelas tujuh.
Leanna menoleh dan menggeleng perlahan.
“Tidak bu. Saya sudah makan banyak tadi pagi,” jawab Leanna dengan dusta. Padahal perutnya sudah terasa sangat perih sekali.
Bu Sekar mengangguk dengan cepat, “Oh, pantas saja Bu Leanna masih sibuk bekerja di jam istirahat. Syukurlah kalau Bu Leanna sudah makan. Soalnya Kepala Sekolah tadi bilang katanya jam pulang akan diperlambat sampai pukul enam sore,” ujar Bu Sekar.
Leanna mengerutkan keningnya, ia bahkan belum sempat melihat papan pengumuman, tadi pagi.
“Memangnya.. ada acara apa ya, Bu?” tanya Leanna penasaran.
“Itu, kalau saya tidak salah dengar, katanya sekolah kita akan ada seminar dadakan. Itu loh bu, yang bulan kemarin sempat dibatalkan karena bintang tamunya sedang sibuk. Jadi, seminarnya akan diadakan sekarang.” Jawab Bu Sekar.
Leanna ingat sekarang! Sebulan yang lalu sempat ada seminar yang dibatalkan dengan alasan si bintang tamu sedang sibuk hingga tak bisa datang.
Dan, sekarang seminar itu kembali digelar bahkan tanpa ia tahu.
“Nanti, sebelum ke aula. Bu Leanna dandan yang cantik dulu ya!” ujar Bu Sekar dengan nada menggoda.
Leanna mengangkat sebelah alisnya.
“Memangnya kenapa, bu?”
Bu sedikit cengengesan. Bukannya langsung menjawab, Bu Sekar malah tersenyum malu-malu. Hingga membuat Leanna geregetan.
Sebenarnya apa maksud Bu Sekar ini?
“Soalnya.. ini kan seminar kesehatan. Sudah pasti bintang tamunya seorang dokter. Dan yang saya dengar, katanya dokternya masih single, Bu,” papar Bu Sekar dengan wajah sumringah.
Sedang Leanna malah menepuk keningnya.
“Lalu kenapa, Bu. Kalau dokternya masih single? Memangnya dokter single itu mau sama saya?” Tanya Leanna dengan nada geli.
“Ya sudah pasti. Bu Leanna kan cantik. Kulitnya juga putih seperti bintang film. Lelaki mana yang tidak akan kepincut?” jawab Bu Sekar mantap.
Leanna hanya menggelengkan kepalanya. Kalau sudah berbicara dengan Bu Sekar, pasti arah topiknya akan kemana-mana.
Jadi, sebelum Bu Sekar kembali menggodanya lagi, Leanna lebih baik bergegas untuk mengajar di jam pelajaran selanjutnya.
Mengingat bell juga akan berbunyi dua menit lagi.
“Ah, sudahlah, bu. Bu Sekar ini senang sekali menggoda saya. Saya pamit, mau mengajar di kelas sembilan,” ujar Leanna tersenyum manis yang langsung dibalas dengan anggukan mantap oleh Bu Sekar.
“Jangan lupa pakai parfum nanti, bu! Saya dengar dokternya tampan juga,” teriak Bu Sekar yang masih bisa didengar oleh Leanna yang sudah berjalan melewati pintu ruang guru.
Lagi-lagi Leanna hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
Aula sekolah itu akan menjadi tempat diadakannya seminar hari ini, yang Leanna tahu di acara Seminar ini katanya akan menghadirkan bintang tamu seorang dokter lelaki.
"Bu, Leanna. Silakan duduk di sini Bu!" Kezia, salah satu guru di sekolah itu menyambut baik Leanna da menyuruh Leanna untuk duduk di sebelahnya. Karena kursi di sebelahnya kosong.
"Baik. Terima kasih Bu Kezia." Leanna menganggukan kepala, lalu mendaratkan pantatnya di sana.
Kini mereka berdua berada di dalam aula yang megah itu. Untuk menunggu kedatangan bintang tamu yang tampaknya sedang dinanti-nantikan oleh para guru, terutama para siswi yang sejak tadi menggigit bibir bawah mereka. Sambil tangan mereka sudah mempersiapkan ponsel.
Leanna bisa menebak. Sepertinya ponsel itu akan digunaka untuk memotret sang bintang tamu.
"Bu Leanna sudah tahu belum, siapa bintang tamu yang akan datang di acara seminar ini?" Kezia bertanya pada Leannya, sambil menyenggol lengan wanita itu.
Leanna menggeleng. "Tidak, Bu. Ini seminarnya dadakan. Dan kemarin saya tidak masuk sekolah sela beberapa hari. Jadi saya belum tahu siapa bintang tamu yang diundang ke seminar ini. Yang saya tahu, bintang tamunya adalah seorang dokter laki-laki," jawab Leanna, menjelaskan pada Kezia.
"Benar. Memang dokter. Tapi Masalahnya, dokternya tampak sekali."
"Oh ya?" mata Leanna mulai melebar. Tertarik dengan ucapan Kezia.
Kezia menganggukan kepala. "Benar, Bu. Saya pernah berobat ke dokter tampan itu. Wajahnya sangat mirip seperti aktor hollywood. Ah, andai saja saya bisa punya suami setampan dia. Pasti senang hati saya," seloroh Kezia, yang lantas membuat Leanna terkekeh pelan mendengarnya.
Memang ada-ada saja guru satu itu.
Setelah semua siswa berkumpul di dalam aula, beserta para guru, ketika itu tiba-tiba terdengar suara riuh tepuk tangan, juga seruan heboh para siswi yang menjerit melengking.
Leanna yang penasaran pun segera mengalihkan matanya ke arah ambang pintu masuk aula. Dan ia menatap ke sana dengan kening yang berkerut.
"Kenapa mereka heboh sekali, Bu?" Leanna menautkan kedua alisnya. Merasa heran dengan reaksi para siswa yang hadir di dalam Aula itu.
Kezia pun tampaknya penasaran dengan apa yang membuat siswi di dalam Aula itu menjerit dengan heboh. Dan saat Kezia menolehkan matanya ke arah ambang pintu masuk aula, seketika itu ia terkejut ketika melihat pemandangan yang baru saja melihatnya.
"Bu Leanna, lihat itu siapa yang datang! Dokter Dean Sebastian. Itu dokter tampan yang saya maksud, Bu Leana. Lihatlah betapa tampannya dia. Dan semua siswi sedang menjerit karena bintang tamunya sudah datang." Kezia memekik terkejut sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Dia tak percaya karena bisa kembali melihat sosok dokter tampan yang selama ini dikaguminya.
Mendengar nama Dean Sebastian disebut oleh Kezia, Leana pun ikut menolehkan matanya ke arah ambang pintu dan seketika itu juga Leana melebarkan matanya.
Ia terkejut melihat Dean berjalan memasuki Aula sambil dijaga oleh beberapa orang agar tidak ada tangan jahil dari siswi yang menarik-narik bajunya.
Sampai ketika Dean telah berdiri di atas panggung, lelaki itu tanpa sengaja beradu pandang dengan bola mata Leana yang berwarna coklat muda hingga membuat Leana gelisah.
Leanna mengatupkan rapat bibirnya. Ia tak dapat berkata-kata. Leanna terkejut melihat Dean yang saat ini tiba-tiba menghentikan langkah dan menatap ke arahnya dengan sorot yang menyiratkan kebencian.
Tatapan itu mampu membuat Leanna meneguk kasar ludahnya.