Bab 1

Tak ....

Tak ....

Suara sepatu hak tinggi melangkah, menuju ke arah pria yang sudah menunggunya duduk memangku tangan di kursi taman. "Sudah selesai?" tanya pria berumur dua puluh tahunan itu.

Dia seorang CEO muda bernama Reynold Bill Timur, yang baru saja dinobatkan menjadi salah satu pemuda terkaya di Asia.

Gadis yang kini ia temui bernama Ajeng Kirei Iswari, ia hanyalah seorang wanita penghibur handalan di Macau R.A. sekaligus telah berpacaran dengan Bill sekitar sepuluh tahun lamanya, semenjak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Ajeng menatap Bill dalam, ia tidak biasanya menanyakan hal tersebut pada Ajeng yang baru selesai melayani para tamu yang datang.

"Aku akan menikah, Besok!" lanjut Bill, yang berhasil membuat Ajeng terkesiap kaku.

Bibir Ajeng bergetar, hatinya terenyuh ... akhirnya harapan dan doa Ajeng kini terkabul, Keluarga Bill bisa menerimanya dan rela menikahkan anak mereka pada gadis rendahan seperti Ajeng.

"T-tapi i-ini terlalu cepat, bahkan akupun belum mengatakan apa pun pada keluargaku, Bill!" jawab Ajeng terbata-terbata.

Bill menggeleng pelan, lalu balik menatap Ajeng dan menggenggam jemarinya erat. "Tidak denganmu, Jeng ... tapi aku dijodohkan dengan wanita pilihan papa," suara Bill memberat.

Sontak Ajeng menundukkan kepala, meneteskan air matanya. Ia hanya bisa terisak menelan takdir kepahitan yang selalu berpihak padanya.

"Kau terima? Kau tega denganku? Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Semuanya sia-sia Bill! Kenapa bukan denganku, Bill? Kenapa? Karena aku kotor? Menjijikkan? Atau sampah di mata keluargamu? Kau pun sangat tahu mengapa aku terpaksa melakukan pekerjaan ini?!" rentetan pertanyaan dari Ajeng memberontak.

Bill seketika memeluk Ajeng, menenggelamkan wajahnya di bahu gadis yang sangat ia cintai. Lalu meneteskan air matanya tak tertahan, bukan hanya Ajeng yang terpuruk dengan perjodohan ini. Bill pun hancur berkeping-keping. Hatinya sudah tertutup oleh siapa pun ... hanya ada Ajeng di dalamnya dan tidak akan tergantikan oleh siapa pun.

Deruan napas panas di telinga Ajeng membuat hati Ajeng semakin perih, Ajeng mendorong tubuh Bill pelan. Menyapu noda air mata di wajah Bill dan melempar senyuman padanya.

"Pulanglah, Bill ... beristirahatlah yang cukup. Karena besok akan menjadi hari yang begitu melelahkan untukmu."

Ajeng beranjak bangun ... tubuhnya seolah lemas untuk berjalan, tetapi ia berusaha untuk kuat melangkah meninggalkan pria yang besok sudah menjadi milik wanita lain seutuhnya.

Namun, sesaat Ajeng akan melangkahkan kaki. Lengannya tertahan oleh Bill. "Pliss, Sayang! Kumohon jangan tinggalkan aku!" ujar Bill memohon.

Ajeng tersenyum miring, "Kutunggu di kamar No 812," ucap gadis itu seraya mengendurkan genggaman Bill.

Kemudian Ajeng melanjutkan langkahnya, ia berusaha tenang sekuat mungkin dan mengikhlaskan hal yang amat sangat berat untuk diikhlaskan.

Klek!

Ia membuka pintu berwarna hitam dengan nomor 812 di depannya, belum sempat Ajeng masuk. Wanita tua berumur sekitar setengah abad dengan dandanan super heboh bagai bintang pantura itu, memanggil namanya seraya melenggok berjalan ke arah Ajeng.

"Hello, Honeyku yang paling cantik ... we have a special guest! Dirimu tidak boleh menolak! Bayarannya sangat tinggi dan ini tamu special for you!" ujar wanita yang sering dipanggil dengan sebutan mami.

Ajeng yang merasa telah membuat janji pada kekasihnya dengan cepat menolak perintah mami, "Mam, maaf ... kali ini aku tidak bisa, aku ada urusan sebentar."

"Cih! Ini bukan permintaan, Honey! Ini adalah perintah yang harus kau lakukan!" ujar mami dengan kedua tangan yang melingkar sombong di pinggangnya.

Ajeng menelan salivanya, ia menatap wanita dihadapannya dengan gamang. "Satu kali ini saja ... kumohon, Mam! Aku sudah melayani empat puluh lima pria dari pagi sampai sekarang! Aku pun lelah, biarkan aku menghilangkan penatku sedikit!" gumamnya dengan suara yang penuh penekanan.

"Ini sudah tugasmu!" jawab mami tegas dengan netra yang menyorot tajam.

Wanita berusia setengah abad itu mendorong Ajeng masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya dari luar.

Ajeng tersungkur di lantai, beringsut ke arah pintu dan menyenderkan kepalanya. Ia memejamkan matanya dengan suara isakan yang terdengar sengak.

Namun, untuk berteriak dan menangis meratapi nasip sekali pun tidak akan mengubah keadaan. Bahkan untuk memberontak saja adalah hal yang percuma untuk dilakukan, itu malah membuat Ajeng akan banyak kehilangan energinya.

Sedangkan energi Ajeng sangatlah penting bagi Ajeng, yang terkenal senior dalam menyambut tamu dengan kepuasan yang maksimal. Meski usia Ajeng sendiri baru menginjak dua puluh empat tahun.

Kreeeekk ... suara pedal pintu terputar, saat ini Ajeng berharap itu adalah Bill.

Ajeng berdiri menatap ke arah pintu, dan datanglah seorang pria berambut kuning, bermata biru dengan setelan Jas berwarna navy.

Dan ... tunggu dulu, Ajeng melihat samar wajah Bill di belakangnya. Baru saja Ajeng ingin memastikan, pintu itu sudah tertutup keras.

"Hello my love," sapa pria dengan wajah oriental.

Ajeng hanya tersenyum dalam anggukkan, kali ini Ajeng dibuat bingung dengan keadaan. Ia takut yang di lihatnya tadi benar Bill dan ia sekarang sedang menunggu di balik pintu. Apa jadinya jika Bill mendengar suara rintihannya dari balik pintu itu?

Meski Bill mengetahui pekerjaan Ajeng sejak empat tahun lamanya, tetapi tidak pernah sekali pun Ajeng menunjukkan pekerjaannya secara gamblang pada Bill. Karena Ajeng masih memikirkan perasaan pria yang sangat ia cintai itu.

Pria yang belum diketahui siapa namanya itu berjalan ke arah Ajeng, "Inikah wanita terbaik di Macau R.A? Aku membayarmu mahal bukan untuk berdiri kaku bagaikan manekin!" gumamnya dengan memutari tubuh Ajeng seraya memperhatikan kemolekan tubuh Ajeng dari bawah hingga atas.

Pria itu melempar Jas, kemeja, dan celananya. Hingga kali ini pria itu sudah benar-benar telanjang tanpa sehelai kain pun. Ia duduk di ujung ranjang dengan melebarkan kakinya.

"Come here, Dear ...," panggilnya.

Ajeng berjalan pelan menghampirinya dan membungkuk ke arah pedal pria itu yang sudah menjulang tinggi. "Maaf, mungkin pelayananku kali ini tidak akan bisa memuaskanmu ... sejujurnya aku sangatlah lelah!" ujar Ajeng pelan yang hanya beralaskan, sebenarnya ia memikirkan Bill yang ia takutkan sedang berdiri di depan pintu menunggu Ajeng.

Pria itu menyeringai, lalu berdiri dan melempar tubuh Ajeng ke atas kasur dengan kasar. "Oke ... jika begitu, aku yang akan memandu permainan ini!" ucapnya enteng.

Ia berjalan mengambil pisau di dalam saku celananya, Ajeng seketika panik dan menganga melihat pisau yang terjulur ke arahnya.

Kreeeeeek!

Suara robekan kain yang di robek oleh pisau, kini tubuh indah Ajeng terbuka lebar. Pria itu dibuat terpesona oleh keindahan tubuh Ajeng. Seolah tidak ingin melewati keindahan itu, dia memandu Ajeng untuk terbentang dan membiarkan dirinya menyeruputi tubuh Ajeng dari bawah hingga ke atas.

Pria itu benar-benar terpikat akan keindahan dan kelembutan tubuh Ajeng, dia menyusuri dan melahap tubuh itu dengan nafsu yang begitu tinggi. Deru napas pria itu seperti berlomba dan tersengal, tetapi Ajeng masih tidak berani mengeluarkan sepatah katapun meski hanya mendesah.

Tubuh Ajeng menggelijang, sesaat pria itu memasukkan semua tangannya ke liang kenikmatan Ajeng.

Ajeng menggigit kuat bibirnya, memastikan suaranya tidak akan sampai keluar dari dalam mulutnya.

Namun, pria itu melihat Ajeng yang tidak sama sekali menderuh malah mempercepat pompaan tangannya. Ia mencelupkan tangannya yang besar itu sepenuhnya dan memberi aba-aba untuk menghantam liang Ajeng dengan kuat seperti tinjuan.

Brugh!

"AKHHH!" Ajeng merintih kuat tak sengaja, rintihan itu sangatlah kuat dan pompaan tangan pria itu semakin menjadi. Hingga Ajeng tidak mampu lagi menahan desahannya.

"Amhhh ... amhh," suara Ajeng sudah diluar kendalinya.

Membuat pria itu semakin bernafsu bermain dengan Ajeng, sekarang ia menyatukan tubuhnya pada Ajeng. Menggerakkan tubuhnya cepat hingga Ajeng menggelijang untuk yang kesekian kalinya.

Kemudian pria berambut kuning itu rupanya belum puas akan permainannya sendiri, dia memandu Ajeng untuk bergaya sesuai kemauannya. Sampai Ajeng pun dibuat kewalahan akan permainan pria bertubuh kekar itu.

Suasana kamar yang sunyi pun kini hanya terdengar suara deru napas yang saling memburu diiringi dengan rintihan panas.

Setelah dua jam lamanya, pria itu akhirnya berdiri memakai semua perlengkapannya dan melangkah keluar meninggalkan Ajeng. Tanpa sepatah ucapan apa pun.

Ajeng yang melihat pria itu ingin keluar, ia lantas bangun dan berjalan cepat ke arah pintu dan benar saja seperti dugaan Ajeng sebelumnya. Bill sedang berdiri di samping pintu dengan tangan yang di angkat enteng di pinggangnya. Kini sepasang kekasih itu saling menatap dengan netra yang kaku ....

Bab 2

Bill meninggikan bahunya, "It is okay, Sayang! Dan kamu selalu tahu ... I have no problem with all that," ujar Bill seraya tersenyum kecut.

Ajeng yang masih bersingkap selimut putih itu terdiam kaku, ia hanya bisa menggigit bibirnya tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata apa pun.

Kemudian Bill melangkah masuk ke dalam, mengedarkan bola matanya dengan cepat. Melihat betapa berantakannya keadaan di dalam kamar, sprei yang lepas, bantal yang berserakan, hingga kursi yang bukan pada tempatnya. Menandakan betapa hebatnya permainan mereka tadi.

Bill mengulum senyumnya, ia terduduk menatap nanar wanita yang selalu ia cintai. "Apakah Tuhan sedang menunjukkan, siapa yang pantas menjadi istriku?!" batin Bill bergumam. Selama ini Bill selalu menerima Ajeng apa adanya, ia tidak peduli Ajeng tidur bersama siapa pun! Asal hatinya tetap milik Bill seutuhnya! Dan Bill pun tidak pernah sedikit pun berniat meninggalkan atau menggantikan Ajeng dengan yang lain.

Namun, sekarang? Ntah mengapa dirinya teramat sakit saat mendengarkan desahan, rintihan dan teriakan kecil yang Ajeng keluarkan dari dalam kamar ini.

Di saat Bill sedang sibuk dalam fikirannya, Ajeng dengan santai melebarkan kedua kakinya dan duduk di atas tubuh Bill yang sedang terduduk di ujung ranjang.

"Jangan mendekat!" ucap Bill refleks seraya mendorong tubuh Ajeng hingga ia tersungkur ke lantai.

Ajeng mengerutkan keningnya, menatap mata Bill penuh dengan ketulusan. "Why ... Bill? Kau jijik padaku? Atau kau sama saja dengan keluargamu yang menganggap tubuhku ini adalah barang najis yang tidak sudi untuk disentuh?" tanya Ajeng yang mulai terisak.

Bill beranjak bangun menatap balik Ajeng sebentar, lalu memilih pergi meninggalkan wanita yang pernah menjadi satu-satunya di hati Bill.

Ajeng terperangah melihat langkah kaki Bill yang meninggalkannya begitu saja, "Bill!" pekik Ajeng memanggil pria harapannya dan kini harapan itu telah pergi begitu saja.

Ia beringsut ke arah cermin, menatap tubuhnya sendiri tanpa penutup apa pun. "Kau lihat? Sekarang ... pria yang selalu menerima dirimu apa pun yang terjadi, kini telah jijik menyentuhmu! Kau sadar? Sekarang siapa yang akan mencintaimu? Tidak ada Ajeng! Tidak ada! Kau hanya wanita murahan yang tidak ada harga dirinya dan akan tetap menjadi najis sampai kapan pun!" ucap Ajeng mencerca dirinya sendiri, ia menangis dengan kacau menarik rambutnya kuat seperti orang yang kehabisan akal.

***

"Selamat Malam, semuanya ...," suara Bill yang baru saja masuk membuka pintu rumahnya. Dan netranya tertuju pada satu wanita yang sedang duduk anggun bersama keluarga Bill.

"Hey! My boy kesayanganku ... kau pulang tepat pada waktunya! Perkenalkan ini Ginni Banks yang akan mama jodohkan padamu!" ucap Susan Rometty yang sangat berpenampilan sosialita itu.

Gadis bernama Ginni Banks itu berdiri membungkukkan tubuhnya ke arah Bill, dia berpenampilan sangat anggun dengan rambut terurai bergelombang, memakai dress berwarna putih, dipadukan dengan blazer bercorak kotak-kotak dan riasan yang sangat tipis membuatnya begitu natural.

"Panggil saja aku, Ginni," tuturnya sembari melemparkan senyuman mengarah pada Bill.

Bill balik membungkukkan tubuhnya, "Aku, Bill. Salam kenal ...," jawab Bill singkat.

Gadis itu kembali duduk ke tempat semula, semuanya terlihat begitu senang. Termasuk gadis bernama Ginni itu nampak tidak pernah sekali pun ia lupa untuk tersenyum, dirinya selalu melempar senyuman ketika menatap seseorang di hadapannya.

"Come here, Bill ...," ajak Susan menepuk sofa di sampingnya.

Billy membelalakkan matanya, seraya tersenyum paksa mengarah pada mereka. "Maaf semuanya ... Bill ke atas dulu."

Ia melangkah naik dengan tergesa-gesa.

Kemudian masuk ke dalam kamar untuk menenangkan hatinya kembali.

Prak!!

Suara pintu ditutup keras oleh Bill, ia tidak peduli mereka mendengarnya atau tidak yang jelas saat ini tidak ada yang bisa mengerti dirinya selain dirinya sendiri.

Bill membanting tubuhnya keranjang, memejamkan matanya berharap rasa sakit di hatinya akan membaik.

Saat mata Bill masih tertutup, suara putaran pedal pintu terdengar. "Jangan bilang pada mama kau masih bertemu dengan perempuan murahan itu, Bill?!" teriak Susan yang baru saja menyusul Bill ke atas karena mendengar gebrakan pintu yang kencang. "Sudah berapa kali mama bilang, jangan pernah bertemu dengan wanita sampah itu lagi! Mama mohon, Bill ... dia itu bukan gadis yang baik untukmu! Dia hanya bisa merusak nama baik keluarga besar kita! Percaya pada mama! Bahkan seorang binatang pun jauh lebih mulia dibanding dirinya!" ujar Susan dengan rentetan hina yang dilayangkan untuk Ajeng.

Bill membuka matanya dengan malas, menatap wajah wanita yang selama ini selalu ia percayakan. Tetapi mengapa harus perkataan yang begitu menyakitkan yang keluar dari dalam mulutnya.

Bill tahu ... tuduhan yang dilayangkan untuk Ajeng ada alasannya, tetapi ... apakah segitu hinanya Ajeng di mata keluarganya.

"M-mama ...,"

"Mama sudah berbaik hati selama ini, memberikan kesempatan untukmu berpacaran dengannya! Yang mama harapkan adalah kalian berpisah tanpa adanya sangkut paut dari mama ... tapi, sepertinya ... kalian sudah melebihi batas sangat jauh! Inilah waktu yang tepat mama menjodohkanmu, di saat karirmu sedang di atas awan!" ucap Susan menyela perkataan Bill, seraya menepuk bahunya pelan.

Bill hanya mengangguk pasrah, "Lakukan apa yang menurut mama itu yang terbaik untuk, Bill." Bill menidurkan kembalik matanya, ia sudah tidak ingin lagi beradu argumen pada Susan saat ini.

Susan tersenyum lega, melihat Bill jauh lebih baik dari hari sebelumnya yang selalu menentang keras perjodohan ini. Ia menyingkapkan selimut di tubuh Bill, lalu melangkah pelan keluar kamar.

***

Waktu begitu cepat berlalu, hari ini semuanya telah berkumpul untuk menunaikan pernikahan Bill dan Ginni.

Termasuk Ajeng yang baru saja datang memakai dress hitam sangat cantik dengan mata yang sembab. Sepanjang malam Ajeng selalu memikirkan tentang Bill, tentang hidupnya yang mungkin ntah akan menjadi seperti apa tanpa hadirnya Bill.

Ajeng melangkah pelan untuk masuk ke dalam, hatinya teramat hancur ... kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.

Sesaat ia akan melangkah masuk, tiba-tiba lengannya tertarik oleh seseorang dari belakang.

Drep!!

Ajeng menoleh seketika, ternyata yang menarik dirinya adalah Susan dengan kebaya khasnya pernikahan.

"Hey! Wanita pelacur! Mau apa kau kemari? Ingin kau rusak semuanya? Seperti kau yang hampir saja merusak masa depan, Anakku?!" ucap Susan yang meraih dagu Ajeng dan mencengkramnya, hingga meninggalkan jejak goresan disana.

Ajeng hanya bisa menangis dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Susan, "Aku hanya ingin melihat, Bill! Untuk terakhir kalinya ... itu saja tante!" ucap Ajeng tersengal-sengal.

"Cih! Tante? Kau panggil aku dengan sebutan tante? Ingat ... Ajeng! Kau tidak akan pernah bertemu, Bill! Meski hanya melihatnya dari jauh!" raut wajah Susan begitu kejam, mendekat pada wajah Ajeng ... yang jaraknya hanya satu jari jika diukur.

Perlahan Ajeng memanggil nama Biil, saat ia melihat Bill yang baru saja datang berdiri di belakang Susan.

Dengan cepat Susan melepaskan cengkramannya dan Ajeng berlari memeluk Bill, lalu Bill menarik Ajeng menjauh dari tempat itu.

Bill menyenderkan Ajeng di sudut pilar, dengan mata yang berlinang. "Terima Kasih, telah menemuiku ... setidaknya kau masih peduli dengan hubungan kita," ucap Bill dengan tatapan nanar.

Hargh ....

Ajeng mengatur napasnya, ia memejamkan matanya perlahan ... lalu membuka dengan menatap balik Bill. "Peduli? Apa yang bisa diselamatkan dari hubungan kita, Bill? Tidak ada! Kau telah memilih dia sebagai istrimu ... dan yang harus kau tahu, betapa inginnya aku hidup bersamamu, menjadi istrimu dan mencintaimu selamanya! Ouhhh ... tapi sepertinya tidak ada yang menentukan pilihan disini, memang ... memang dia yang harus menjadi istrimu, bukan aku!" ucap Ajeng menangis setengah berteriak.

Melihat Ajeng yang begitu terpukul, Bill memeluk wanita di hadapannya ini erat. Melumat bibirnya hingga ia tenang.

Jemari Bill menyentuh wajah Ajeng, menyusuri setiap wajahnya dengan lembut. "Benar katamu ... aku memang tidak akan pernah menentukan pilihan, karena tidak ada yang harus aku pilih disini! Hanya tetap dirimulah satu-satunya wanita dihidupku ....

Bab 3

Bola mata Ajeng perlahan naik memperhatikan wajah Bill, menatapnya tersenyum di dalam tangisan. Bill menghapus tangisan itu dan menarik lengan Ajeng, mendudukkannya di sebuah kursi berderetan dengan para tamu.

"Percaya saja padaku ... ini tidak akan lama," bisik Bill pelan, tak jarang seseorang melempar tatapan aneh ke arah mereka. Namun kali ini Bill sudah tidak lagi peduli dengan anggapan mereka, yang terpenting saat ini bagaimana caranya Bill bisa menenangkan hati wanita tercintanya.

Ajeng hanya membalas Bill dengan anggukkan dan senyuman yang dibuat terpaksa, lalu Bill meninggalkan Ajeng dan kembali berkumpul bersama keluarga.

Langkah Bill membuat bola mata Susan menatap tajam kedatangannya, belum sempat putranya sampai menghampirinya ... ia dengan cepat bangun dari duduknya, kemudian mencengkram erat lengan Bill menariknya ke arah yang sepi menjauh dari sanak family.

"Bill! Kau lihat pesta di hotel mewah ini? Kau belum sadar sebentar lagi dirimu sudah berstatus suami orang?! Dengan gilanya dirimu menggandeng lengan wanita murahan itu di depan semua tamu! Kau ingin mempermalukan mama? Kau ingin merusak citra keluarga besar kita? Ayolah, Bill ... sekali ini saja, jangan malukan mama di depan semuanya, mama mohon!" Susan berceloteh dengan panjang, fikirannya kini sudah sangat gila memikirkan putranya. Ia tidak habis fikir bagaimana bisa wanita itu masuk dan lolos dari penjagaan ketat bodyguard yang diutus Susan untuk tidak membiarkan wanita murahan itu masuk ke dalam dan mengacaukan semuanya.

Mendengar rentetan ocehan Susan, Bill hanya melangkah dengan kesal meninggalkannya. Kemudian ia berkumpul bersama sanak family kembali.

Sorot mata Susan masih menatap Bill tajam, seolah memberi kode ancaman untuk tidak lagi berbuat macam-macam.

***

"Kita sambut dengan meriah kedua mempelai pengantin kita dan keluarga besar dari kedua mempelai, untuk memasuki ruangan janji suci yang telah disiapkan."

Suara MC itu menyadarkan Ajeng dari lamunannya, semua tamu beranjak dari duduk mereka termasuk Ajeng yang ikut berdiri untuk menyambut kedua mempelai ....

Bill lewat di depan kedua matanya, menggandeng lengan wanita yang sangat begitu cantik dan terlihat begitu terhormat jauh dibanding dirinya.

Air matanya jatuh bersama taburan bunga yang ditabur mengiringi kedua mempelai, dadanya begitu sesak melihat semuanya.

"Bill ... hanya kamu yang selalu aku perjuangkan, hanya kamu harapanku satu-satunya untuk bisa membawaku pergi dari semua masalah dihidupku! Tapi kini?" gumam batin Ajeng terhenti tidak sanggup untuk mengutarakan apa pun lagi.

Sesekali Bill memutarkan bola matanya ke arah Ajeng untuk memastikan wanita tercintanya itu baik-baik saja, tetapi setiap kali Bill mencuri pandang selalu saja mata Susan menangkap sorot netranya dengan tajam.

Untuk sesaat Bill diam menatap wajah wanita yang kini sudah sah menjadi istri di hidupnya, usia Ginni yang bertaut sama dengan Ajeng. Dia cantik ... bisa dibilang kecantikannya melebihi Ajeng, dia sexy ... keringat yang membasahi wajahnya saat ini pun menambah nilai keseksiannya, meski tubuh Ginni tidak semolek dan seindah Ajeng. Ginni pun wanita berpendidikan dengan karir yang bagus ditambah lagi jejak keluarganya yang jauh sekali lebih terhormat dibandingkan Ajeng.

Seharusnya ... Bill beruntung memiliki Ginni yang mau begitu saja menerima perjodohan dari keluarga besar mereka.

Namun, lagi-lagi pandangan Bill tetap memikirkan kekasihnya! Meski Bill sedang menatap Ginni, tetapi di hati Bill hanyalah Ajeng seorang.

"Hey ... dirimu menatapku terlalu dalam, tau!" goda Ginni mengejutkan Bill. Yang merasa Bill sangat kagum akan kecantikannya saat ini.

Bill mengerjapkan matanya dan langsung membuang wajah ke arah lain, sekali lagi Bill mencoba mencuri pandang untuk melihat Ajeng. Tetapi kali ini Ajeng terlihat sangatlah pucat, Bill mulai gelisah ... takut akan hal yang buruk menimpa Ajeng.

Gerak-gerik Bill sudah tidak lagi beraturan, ia mulai terus melihat jam di tangannya berharap acara semua ini segera selesai! Agar dirinya bisa menemui Ajeng dan meminta maaf atas kesakit hatiannya di hari ini.

"B-Bill? Kamu lelah?" tanya Ginni dengan nada yang begitu lembut.

Bill menoleh ke arah Ginni, "Yah! Aku lelah! Aku hanya ingin cepat pulang dari sini!" jawab Bill datar.

"Hmm, kurasa sebentar lagi. Oh iya ... kulihat sedari tadi, kau hanya sibuk melihat ke arah sana ... ada apa, Bill?" tanya Ginni menunjuk ke arah Ajeng.

Bill terkejut mendengar pertanyaan Ginni, "Eh ... hmm, tidak! Tidak ada apa-apa!"

Ginni mengerutkan dahi, "Why, Bill? Ekspresimu terlihat sangat aneh! Hahaha!" tutur Ginni diiringi dengan tawaan yang geli melihat tingkah laku Bill yang begitu menggemaskan.

Bill pun hanya bisa terdiam melihat Ginni yang kini jemari Ginni pun mulai menggengam jemarinya, Bill sempat terkejut awalnya. Tetapi Bill memilih untuk membiarkannya agar tidak terlalu mencolok jika Bill sama sekali tidak mengharapkan Ginni hadir di hidupnya.

Senyuman sumringah sangat menonjol di wajah Ginni, dirinya sekarang merasa bangga dan sangat bahagia telah menjadi istri seorang CEO muda sukses sekaligus yang terkaya di Asia.

***

Acara telah usai, kini Ginni terbaring di atas ranjang dengan balutan kebaya modern yang sengaja tidak ia buka. Berharap Bill akan membuka kebayanya seperti di novel Fizzo romance yang selalu dirinya baca.

Ginni sengaja membuka kain di bawahnya keatas hingga menampakkan kedua belah pahanya yang putih mulus sangat menggoda. Dengan gaya bokong sengaja di buat seksi menungging ke samping, berharap Bill akan sangat tergoda saat melihatnya.

Ceklek!!

Suara pedal pintu berbunyi, Bill datang dari balik pintu dan mendapati Ginni yang sudah bergaya aneh di atas tempat tidur.

Bill tidak menyangka, Ginni yang terlihat sangat anggun bisa-bisanya ia menjelma sebagai Ajeng ketika di kamar.

Paha putih mulus sangat terpampang di depan mata, gumpalan kenyal yang sengaja Ginni tonjolkan berhasil membuat darah Bill berdesir.

Bill mengerjapkan matanya sesaat, dalam hitungan detik Bill menjadi kaku bak manekin dan celananya mulai terasa sesak. Tetapi, Bill masih berusaha tetap tenang sambil melangkah ke arah toilet.

Ia melangkah terburu-buru dan menutup pintu toilet dengan cepat.

Hargh!

Bill menarik napas panjangnya, mencengkram rambutnya pusing dan ia mendudukkan tubuhnya ke lantai. Harus beginikah hidupnya setiap hari? Hidup bersama wanita yang sama sekali tidak ia cintai, bahkan untuk menidurinya pun Bill sangat tidak ingin! Karena selama ini dirinya hanya boleh berhubungan tubuh pada Ajeng seorang, tidak ada yang lain. Meski sekarang Bill sudah menjadi status suami wanita lain, tetapi bagi Bill kesetiaannya pada Ajeng masih terkunci rapat dan ntah sampai kapan bisa terbuka.

30 menit lamanya Bill mengunci diri di dalam kamar mandi, Ginni mulai mengerutkan keningnya kecewa. Ia beranjak bangun dari tidurnya untuk sekedar berganti baju.

Dengan malas Ginni membuka helai demi helai yang menempel di tubuhnya, hingga akhirnya tubuh itu benar-benar lega tanpa sehelai kain pun menempel disana.

Ckretek!

Suara pedal pintu kamar mandi terputar, mata Ginni membelalak. Kali ini dirinya benar-benar dibuat malu, memperlihatkan tubuhnya begitu saja tanpa permintaan Bill!

Bill keluar dari balik pintu dan sangat terkejut melihat apa yang baru saja ia lihat, sebuah pemandangan yang harusnya dia senang melihatnya. "Hey! are you that cheap?" ucap Bil seraya menutup mata dengan kedua tangannya dan keluar dari kamar tergesa-gesa.

Ginni yang melihat perilaku Bill hanya menatapnya tidak percaya, ia masih berdiri kaku tanpa busana. Otaknya masih tak habis fikir memikirkan suaminya, "Is this what they call the first night? Atau hanya dia yang tidak pandai merayu suaminya?" batin Ginni bergejolak, ia memutuskan untuk memakai lingeri merah dan langsung beranjak tidur lagi tanpa ada niatan untuk membasahi diri.

Dirinya yang masih bingung menghadapi malam pertama mereka, akhirnya ada niatan Ginni untuk mencari informasi seputar malam pertama di sosial media. 'Cara melakukan malam pertama' Ginni mengklik di pencarian dan timbullah seputar pengetahuan disana, seperti harus tenang dan tidak boleh imajinasi mengintimidasi fikiran.

Kini Ginni sadar setelah melihat jawaban dari akses sosial medianya, semua kesalahan memang ada pada dirinya yang terlalu tergesa-gesa untuk melakukan malam pertama bersama Bill. Ia mulai menutup matanya dan perlahan tidur dengan kesendirian tanpa seorang Bill yang baru saja sah menjadi suaminya.

***

Tok ....

Tok ....

Tok ....

Bill berdiri di depan pintu kamar kost Ajeng dengan gelisah. Ia mengetuk pintu pun tergesa-gesa.

Cklek!

Pintu terbuka dan hadirlah Ajeng dibaliknya yang hanya menggunakan Lingery berwarna hitam tanpa dalaman.

Bill yang masih berdiri di depan pintu, menatap Ajeng penuh nafsu, ia menelan salivanya dan melempar senyuman lebar ke arah Ajeng.

"Ada apa? Bukannya kau seharusnya sedang menghabiskan malam pertama bersama istrimu?" tanya Ajeng ketus.

Bill hanya diam dan masuk begitu saja, mendorong Ajeng sampai ke sudut dinding. "Aku ingin menghabiskan waktu malam pertamaku bersamamu, Sayangku!" Bisik Bill dengan wajah berantakan dan masih menggunakan kemeja putih pengantin.

Ajeng hanya mengerutkan keningnya, tanpa penolakan sedikit pun. Mau bagaimana lagi? Dirinya memang mencintai Bill sepenuhnya, wanita itulah yang merebut Bill darinya.

"Kau ingin menghabiskan malam pertamamu bersamaku, Bill? Baiklah ... kuberi malam pertama yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."

Ajeng mendorong tubuh Bill ke atas ranjang, membuka seluruh pakaiannya dan menarik Bill kedalam kamar mandi, lalu Menidurkan Bill ke dalam bath tub. "Kau harus mandi dulu, Honey ...," ucap Ajeng dengan intonasi yang sangat seksi.

Ajeng mulai bermain busa bersama tubuh Bill, ia mulai membersihkan tubuh Bill dengan sentuhan yang geli. "Arghhhhh, Sayang. Kau sangat hebat." Bill menggelijang kegelian.

Wanita kecintaanya itu terus merangsang Bill, hingga bermain busa di atas titik paling sensitif pria dan mengulumnya penuh dengan semangat.

Bill sampai dibuat terengah-engah menghadapi rangsangan Ajeng yang begitu kuat. Bill tidak kuat lagi, akhirnya memutar tubuh Ajeng bergantian masuk kedalam bathtub lalu memasukkan benda pusaka Bill kedalam liang kehangatan Ajeng.

Dup!

Suara benturan keras dari dalam liangnya, membuat Ajeng merintih keras. "Akhhhh," Ajeng tersengal sengal menderu keras.

Bill memompa dengan kuat, menaikkan pinggulnya dari atas ke bawah membuat ritme keintiman mereka semakin panas.

Dua jam lamanya mereka berpagut kasih, dengan permainan yang aduhai membuat para pria mana pun selalu mabuk kepayang setelah permainan yang Ajeng mainkan.

Kini Ajeng dan Bill tidur bersama di atas ranjang, seraya berpelukan dengan tubuh yang masih terbuka tanpa balutan kain apa pun.

***

Sinar pagi mulai menyeruak masuk ke dalam kamar, berbarengan dengan bisingnya alarm menunjukkan pukul jam 08:00.

Mata Ginni mulai terbuka perlahan, menoleh kesamping mencari keberadaan Bill yang sedari malam tidak tidur bersamanya. "Semarah itukah dirinya, hingga tidak pulang semalaman?" Ginni menggerutu kecewa atas perilaku Bill yang dianggap Ginni terlalu kekanak kanakan.

Ia beranjak dari tidurnya, membersihkan diri dan berhias natural untuk bersiap-siap sarapan bersama keluarga besar Bill.

Klak ....

Klakk ....

Suara langkah Ginni menuruni anak tangga dengan anggun, memakai dress berwarna white gold dibarengi dengan sendal high hills yang memacu tubuh Ginni semakin terlihat berkelas.

Ginni mengarah pada keluarga besar Bill, "Good Morning semuanya dan terima kasih untuk Tuan Sergey Musk atas luang waktunya menghadiri acara pernikahan kami," tutur Ginni seraya membungkuk di depan meja makan keluarga.

Tuan Sergey Musk salah satu orang terkaya di Asia, yang kekayaannya sebentar lagi akan memasuki deretan orang paling kaya di dunia.

"Hahaha ... formal banget, ya! Ayolah, Nak ... ini rumahmu juga! Mulai sekarang panggil aku papa bukan tuan! Kau harus ingat, aku bukan lagi kolega kerja papamu! Tapi sudah menjadi papa mertuamu! Lagian, jelas saja aku menghadiri pernikahan kalian! Bill adalah anak semata wayangku, jelas sudah pasti aku datang!" ucap Tuan Musk dengan tawaan ringan.

"Sudah ... sudah, duduk disini," ucap Susan seraya memberi kursi kosong pada Ginni. "Dimana Bill sekarang? Apa dia masih tidur karena lelah semalaman?" ucap Susan lagi menggoda Ginni.

Ginni hanya tersenyum kecut membalas pertanyaan Susan, dirinya tidak tahu harus menjawab seperti apa atas pertanyaan ibu mertuanya dan tidak mungkin juga Ginni jujur jika anaknya tidak pulang semalaman karena kecerobohan yang Ginni perbuat.

Disela-sela diamnya Ginni, suara Bill datang dari luar dengan pakaian masih mengunakan kemeja pengantin lusuh. "Selamat pagi, semuanya ...," ucap Bill enteng dengan para mata yang tertuju padanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED