Bab 1

"MAMA... AKU PINTAR MENGGAMBAR BEBEK HIJAU RAMBUT KUNING , MAA...!"

Teriak seorang gadis kecil kegirangan dengan tangannya yang melambai-lambaikan buku gambarnya seraya berlari hendak masuk ke dalam sebuah toko syal rajutan milik orang tuanya .

"Aneh mama .!. Kenapa tidak keluar toko.?"

Guman gadis kecil yang masih berusia enam tahun, berwajah cantik imut menggemaskan dengan rambutnya keriting ala mie . Dalam hati ia berkata...

{"Lebih baik aku kagetkan mama saja !. Pasti mama suka dengan gambar bebekku .!"}

Dengan mengendap-endap, sepasang kaki kecil yang masih mengenakan kaos kaki dan sepatu sekolah pun masuk ke dalam toko tanpa bersuara, bibirnya merah mungil tersenyum manis dan bola matanya yang coklat tua berbinar-binar. Sudah terpikirkan di otaknya , pasti mamanya terkejut jika ia mengejutkan mamanya dari belakang.

"Hi..hi...hi.. hi.."

Gadis kecil itu tertawa lirih sembari bersembunyi di balik tumpukan kardus yang berisi syal .

*CLEK*

Gadis kecil itu memiringkan kepalanya dan mengerutkan keningnya melihat sepasang laki perempuan masuk ke dalam toko dan mengunci pintu dari dalam.

"Kok orang beli syal , mengunci pintu toko .?"

Desisnya dengan suara amat sangat lirih nyaris tak terdengar.

*KLING.. KLING...*

Tangan wanita itu menekan bel di atas meja kasir , guna memanggil penjual untuk menghampirinya.

"Selamat pagi. Anda ingin membeli syal .?"

Merdu suara nyonya Amedea Cardozo sembari menghampiri kedua orang pembeli.

"Kamu nyonya Amedea .?"

Suara bariton seorang pria dewasa itu membuat gadis kecil melongok dari balik tumpukan kardus.

" Ya, saya nyonya Amedea . Ada perlu apa ya .?"

Tanya nyonya Amedea Cardozo dengan ramah seramah wajahnya yang cantik. Sepasang laki perempuan yang berdiri di hadapan nyonya Amedea Cardozo itu saling beradu pandang. Tangan laki itu masuk ke dalam saku mantelnya saat perempuan yang berdiri di sampingnya mengangguk .

"Ini yang kami perlu , nyonya .!"

*KRAS....KRAS......*

Laki itu dengan gemetaran menghujamkan pisau ke kedua bahu nyonya Amedea Cardozo .

"TO..LONG...TO..LONG..TO..LONG..!"

Perempuan itu langsung menyambar rajutan syal merah di atas meja dan membekap mulut nyonya Amedea Pienza dengan syal tersebut dan mengambil pisau dari tangan pria di samping dihujamkan pisau ke perut dan dada nyonya Amedea

*KRASS....KRAS....

"Mama.."

Desis gadis kecil itu melihat kedua mata nyonya Amedea Cardozo terbelalak menahan sakit.

*BRUAK*

Tubuh nyonya Amedea Cardozo ambruk jatuh ke lantai. Darah segar membasahi gaun dan lantai membuat kedua orang itu panik.

"Apa dia sudah mati, Amaranta.?"

Tanya laki itu dengan suara ketakutan dan tubuh gemetaran.

"Ya , Achilleo. Kita harus pergi sebelum suaminya datang.!"

Jawab perempuan itu dengan suara dingin. Gadis kecil cantik menahan nafasnya sembari melihat jelas wajah laki pembunuh itu yang ketakutan dan wajah perempuan yang sangat sadis mengerikan. Sejenak, tubuh gadis kecil itu membeku dengan tatapan mata nanar dari balik tumpukan kardus, ia melihat sepasang orang jahat itu bergegas keluar dari toko, meninggalkan Nyonya Amedea Cardozo yang tergeletak di lantai bersimbah darah.

"Tolong...tolong... Tuhan tolong aku..!."

Suara lirih nyonya Amedea Cardozo menyadarkan gadis kecil itu, perlahan-lahan ia keluar dari balik tumpukan kardus dan menghampiri...

"Mama..aku bisa menggambar bebek hijau rambut kuning.!"

Ucap gadis kecil sembari berjongkok dan memamerkan gambar bebek di buku gambarnya,

"Pin..tar.., a..nak... Pin..tar... Amore Cardozo Pienza ."

Ujar nyonya Amedea Cardozo dengan nafasnya tersengal-sengal, seperti ada beban berat yang menekan dadanya.

"Aku lihat dua orang jahat menusuk mama."

Ujar gadis kecil yang bernama Amore Cardozo Pienza jujur dengan mimik wajah sedih dan mata berkaca-kaca.

"Aku laporkan pada papa ya, ma .!"

Tukas Amore Cardozo Pienza , ujung hidungnya memerah menahan ingusnya yang mau keluar.

"Ba..ba..haya... !. Ja...ngan... bi...cara..!."

Ujar nyonya Amedea Cardozo dengan suara terputus-putus dan nafas makin tersengal-sengal, tangan gemetaran berusaha memberikan syal yang tadi di bekapkan ke mulutnya oleh perempuan sadis itu.

"Syal..be..bek... hi..jau..."

Amore Cardozo Pienza tidak paham maksud mamanya tapi tetap di ambil syal itu.

"Pe..luk.. ma..ma..!"

Pinta nyonya Amedea Cardozo dengan nafas makin tersengal-sengal, seketika itu juga kedua tangan gadis kecil meletakkan syal merah beserta buku gambarnya di lantai lalu membungkukkan badannya dan kedua tangannya memeluk leher mamanya dengan penuh rasa sayang. Demikian juga sebaliknya, kedua tangannya memeluk leher anaknya sembari berbisik..

"Pu..lang... Gan..ti.. ba..ju..mu...!!.. ba..ha...ya.. di...am... Ja...ngan... Bi..ca..ra...!!"

"Iya, mama.."

Sahut Amore Cardozo Pienza dengan suara aksen anak usia enam tahun .

"Ma..ma.. sa..yang.. ka..mu.. , nak..!. Ce..pat... Pu..lang...lah..!. Di..am.. ja..ngan... Bi..ca..ra...!.. ba..ha..ya..!"

Itulah kalimat terakhir nyonya nyonya Amedea Cardozo di saat meregang nyawa kemudian kedua tangannya lunglai terlepas memeluk leher anaknya.

"Iya mama."

Jawab gadis kecil itu sembari melepaskan pelukan dan dilihatnya kedua mata yang terpejam dan senyuman tersungging di bibir mamanya. Ya, nyonya Amedea Cardozo meninggal dalam keadaan bahagia karena telah memeluk leher Amore Cardozo Pienza anaknya yang masih berusia enam tahun.

"Lho mama tidur.!"

Guman Amore Cardozo Pienza dengan polosnya, ia tidak tahu jika sebenarnya mamanya sudah meninggal karena wajah beliau tersenyum bagaikan orang sedang tidur. Cepat-cepat gadis kecil berambut keriting bangkit berdiri , ia tertegun dan berkata dalam hati...

{"Mama menyuruhku diam , jangan bicara karena bahaya. Aku di suruh cepat pulang dan ganti baju.!. Aku harus mematuhi mama.!"}

Amore Cardozo Pienza memasukkan syal merah pemberian mamanya dan buku gambarnya ke dalam jaketnya lalu keluar lewat pintu belakang toko, kemudian berjalan kaki pulang ke rumahnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari toko syal rajutan milik orang tuanya. Di sepanjang jalan , otak gadis kecil itu mengolah semua kalimat yang keluar dari mulut mamanya tapi tetap tidak paham apa maksud mamanya. Sesampainya di rumah , ia cepat-cepat ganti baju dan menyimpan syal juga buku gambar di laci meja belajarnya. Hatinya dan pikirannya tidak nyaman , ingin rasanya kembali ke toko untuk menemui mamanya tapi kedua kakinya lemas. Amore Cardozo Pienza hanya bisa terduduk lemas dengan kepala tertunduk.

"AMORE CARDOZO PIENZA ANAKKU SAYANG .!!"

Kepala gadis kecil itu langsung mendongak , mendengar namanya di panggil.

"AMORE CARDOZO PIENZA ANAKKU SAYANG , AYO KITA JEMPUT MAMAMU DI TOKO.!!"

"Papa pulang.!"

Desisnya , bukannya Amore Cardozo Pienza tidak mau keluar keluar kamar menghampiri Tuan Alessandro Pienza yang berteriak memanggilnya tapi jangankan untuk berjalan ke kamar tapi untuk bangkit berdiri dari kursinya saja, ia merasa tak bisa. Entah kenapa, tubuh gadis kecil itu lemas .?.

*KRIEEKK*

Suara pintu kamarnya di buka , Tuan Alessandro Pienza melangkah masuk menghampirinya.

"Maaf, papa terlambat menjemputmu ke sekolah karena harus mengantar pesanan syal ke rumah para pembeli. Jangan marah, Amore Cardozo Pienza putriku sayang .!. Ayo sekarang kita jemput mama di toko dan makan di luar.!"

Ujar tuan Alessandro Pienza .

Bab 2

Tuan Alessandro Pienza dengan sikap kebapakan mengelus-elus rambut Amore Cardozo Pienza , ingin rasanya gadis kecil itu mengatakan pada tuan Alessandro Pienza tapi terngiang - giang pesan mamanya ... Diam , jangan bicara. Tatapan matanya Amore Cardozo Pienza suram menyimpan sesuatu .

"Hei gadis kecil cantik ini masih marah karena papa terlambat menjemput ke sekolah ya.!. Maaf ya.!. Papa janji , tidak terlambat menjemputmu lagi .!"

Ujar tuan Alessandro Pienza sembari menggendong anak perempuan kesayangannya.

"aku tidak marah ,papa.!"

Bisik Amore Cardozo Pienza sembari memeluk erat leher tuan Alessandro Pienza.

"Terima kasih, gadis kecilku. Kita ajak mama makan di restoran langganan kita ya , Amore Cardozo Pienza.!"

Seru tuan Alessandro Pienza dengan riang gembira, gadis kecil itu merebahkan kepalanya di bahu papanya. Semua orang tahu tuan Alessandro Pienza dan nyonya Amedea Cardozo adalah sepasang suami istri yang sama-sama berprofesi sebagai pedagang yang memiliki sebuah toko syal rajutan dan mereka di karunia Amore Cardozo Pienza seorang putri yang cantik , pintar dan lucu. Keluarga kecil yang sangat bahagia ini bermukim di suatu kota kecil pinggiran Italia.

"TUAN ALESSANDRO PIENZA.....TUAN ALESSANDRO PIENZA....."

Teriakan beberapa orang yang berlari menghampiri pria tampan yang sedang berjalan sambil menggendong putri kecilnya .

"Ada apa.?"

Ekspresi wajah kebingungan tuan Alessandro Pienza melihat beberapa orang yang memegang lengannya.

"Sepertinya tokomu di rampok, cepatlah ke sana.!"

Seru seseorang sembari menunjuk ke arah toko syal rajutan miliknya. Terbelalak mata tuan Alessandro Pienza , yang dipikirkan bukan tokonya tapi keadaan nyonya Amedea Cardozo istrinya, seketika itu juga ia berlari dengan masih menggendong putrinya yang makin memeluk erat leher papanya karena takut jatuh. Banyak orang berkerumun di depan tokonya dan ada dua mobil polisi yang baru parkir di depan tokonya.

"AMEDEA CARDOZO.... AMEDEA CARDOZO.. ...."

Teriak tuan Alessandro Pienza sembari menerobos melewati kerumunan banyak orang di depan tokonya. Sontak kakinya berhenti berlari saat melihat tubuh istrinya tergeletak di lantai bersimbah darah. Seorang polisi menghampirinya..

"Tuan Alessandro Pienza , ada beberapa pembeli melaporkan pada kami jika nyonya Amedea Cardozo istri anda ditemukan meninggal di dalam toko ini.!"

Penuturan polisi membuat semua orang terhenyak.

"SIAPA YANG MEMBUNUH AMADEA CARDOZO ISTRKU.!"

Suara tuan Alessandro Pienza menggelegar di seluruh ruangan toko syal rajutan miliknya , dengan tatapannya seperti harimau yang hendak menerkam lawan.

"papa..!"

Suara lirih putrinya membuat tuan Alessandro Pienza memejamkan kedua matanya dan menarik nafas dalam-dalam untuk menguasai emosinya.

"Papa, itu mama tidur di lantai kotor.!"

Tangan gadis kecil itu menunjuk ke arah mayat nyonya Amedea Cardozo Pienza , buru-buru tangan tuan Alessandro Pienza mendekap kepala gadis kecil sampai wajahnya menempel di bahunya yang tegap..

"Jangan lihat mamamu, Amore Cardozo Pienza anakku sayang .!"

bisik tuan Alessandro Pienza dengan lembut kepada anaknya meskipun remuk redam hatinya melihat kenyataan tubuh istrinya tergeletak bersimbah darah.

"Ayo kita bangunkan mama , pa. ! Mama harus mandi, ganti baju terus kita antar ke dokter.!. Nanti aku bisiki dokter, jangan menyuntik mama.!. Kita antar mama ke dokter terus pulangnya makan. Ayo, pa.!"

Sesak dada tuan Alessandro Pienza mendengar celoteh gadis kecilnya yang belum tahu kalau mamanya sudah meninggal. Ia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan berusaha keras tidak meneteskan air matanya walau setitik di hadapan Amore Cardozo Pienza. Terdengar sirine ambulans yang menyelamatkan tuan Alessandro Pienza yang masih kesulitan menjelaskan ke putrinya kalau mamanya mati terbunuh.

"Papa...itu ada dua pak dokter datang , membawa tempat tidur dorong.!. Oh mama mau dibawa ke rumah sakit ya.!"

Ujar Amore Cardozo Pienza dengan gaya sok tahu seorang anak kecil.

"Tidak ada barang yang hilang di toko ini , semua uang juga masih utuh di dalam laci meja kasir. Jadi ini bukan perampokan, tuan Alessandro Pienza. Tapi kami dari pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan.!"

Ujar seorang polisi dengan santun pada tuan Alessandro Pienza tidak bisa menjawab karena masih shock namun masih sempat mengangguk meng-iya-kan perkataan polisi. Dalam hati ia berkata...

{"Bagaimana bisa Amedea Cardozo istriku tercinta di bunuh.?. Siapa yang membunuhnya dan kenapa membunuh istriku .?. Tuhan , tolong beritahu aku.!"}

"Tuan Alessandro Pienza , anakmu tertidur. Duduklah di sini.!"

Ujar seseorang sembari mendekatkan kursi kosong pada tuan Alessandro Pienza yang melirik gadis mungilnya yang tertidur di pelukannya. Ia duduk di kursi kosong sembari mengecup pucuk kepala Amore Cardozo Pienza.

"Kasihan tuan Alessandro Pienza dan Amore Cardozo Pienza putrinya. Siapa yang tega membunuh istrinya.?"

"Sungguh keji dan biadab orang yang membunuh nyonya Amedea Cardozo Pienza .?"

"Semoga pembunuhnya cepat tertangkap dan di jatuhi hukuman setimpal .!"

Bisikan semua orang yang terenyuh melihat seorang pria tenggelam dalam kesedihan sedang duduk sembari memeluk erat anak gadisnya yang masih berusia enam tahun. Di saat anak gadisnya yang kecil mungil itu tertidur di pelukannya, di saat itu pula tangannya menghapus air mata yang menetes di pipinya. Hati suami mana yang tidak hancur melihat istrinya mati dalam keadaan mengenaskan seperti ini .?. Padahal selama ini , rumah tangga mereka juga baik-baik saja.

"tuan Alessandro Pienza , aku turut bersedih atas kejadian yang menimpa Amedea istrimu .!

Kepala tuan Alessandro Pienza mendongak , melihat ke asal suara.

"Terima kasih, Achilleo."

Sahut tuan Alessandro Pienza dengan suara parau yang sarat dengan kesedihan mendalam.

Papa , aku lapar.!"

Gadis kecil itu menggeliat di pelukan tuan Alessandro Pienza,

"Hai anak cantik , siapa namamu .?"

Mendengar suara bariton seorang pria dewasa , seketika itu juga Amore Cardozo Pienza berhenti menggeliat. Ia seperti pernah mendengar suara bariton pria itu tapi di mana dan kapan .?. Otaknya mencoba untuk mengingat dan kedua bola matanya yang coklat indah melihat ke asal suara , serasa jantungnya berhenti berdetak. Bagaimana tidak ,?!. Pria yang menusuk mamanya , sekarang ada di hadapannya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya dan teringat pesan mamanya... Diam, jangan bicara.!. Bahaya .!

Gadis kecil itu langsung diam seribu bahasa , tidak mau memberitahu namanya pada pria jahat itu. Cepat-cepat dipejamkan kedua matanya dan dibenamkan wajahnya ke dada tuan Alessandro Pienza.

"Ini Amore Cardozo Pienza anakku , Achilleo. Dia sedih melihat mamanya dan tidak mau menjawab pertanyaanmu ,!"

Tutur tuan Alessandro Pienza yang langsung mendekap erat Amore Cardozo Pienza anaknya.

"Ya, tuan Alessandro Pienza. Aku paham , namanya juga anak kecil pasti sedih.!"

Ujar Achilleo teman tuan Alessandro Pienza yang baru sebulan kenal tapi Achilleo selalu bersikap ramah , baik dan sopan.

Bab 3

"Papa , ayo pulang.!"

Bisik Amore Cardozo Pienza pada tuan Alessandro Pienza yang langsung balas membisikkan..

"Ya, anakku sayang .!. Tapi tunggu sebentar ya .!"

Achilleo melirik ayah dan anak yang saling berbisik, hatinya sudah merasa tak nyaman dan salah tingkah saat tuan Alessandro Pienza menoleh padanya.

"Maaf, Achilleo . Saat ini putri kecilku sedang sedih . Maklumlah , dia dekat sekali dengan mamanya dan sekarang mamanya sudah meninggal .!"

Achilleo menarik nafas lega mendengar penjelasan tuan Alessandro Pienza.

"Ya, aku memahami. "

Suara datar Achilleo menutup sikapnya yang salah tingkah tapi tuan Alessandro Pienza lebih fokus pada para polisi yang memeriksa tempat kejadian.

"Tuan Alessandro Pienza , aku harus pulang dulu.!. Kalau ada perlu apa-apa , cepat hubungi aku .!"

Ujar Achilleo dengan ramah dan nada sopan.

"Ya ,Achilleo. "

Tuan Alessandro Pienza menjabat tangan Achilleo ada seorang perempuan yang berdiri di antara kerumunan orang yang fokus memperhatikan Achilleo dan tuan Alessandro Pienza. mendengar Achilleo berpamitan pada tuan Alessandro Pienza , pelan-pelan Amore Pienza yang masih dalam pelukan , memberanikan diri menoleh melihat Achilleo menghampiri seorang perempuan yang berdiri di dekat kerumunan orang. Dalam hati ia berkata..

{"Itu perempuan jahat yang membekap mulut mama dengan syal. Kok dia kesini lagi .?"}

Andai saja , Amore Cardozo Pienza berani mengatakan pada papanya kalau dua orang itu punya andil dalam pembunuhan mamanya pasti mereka berdua di tangkap dan masalah selesai namun lagi-lagi ia teringat pesan mamanya untuk diam , jangan bicara.

"Ayo kita cepat pulang , Amaranta .!"

Bisik Achilleo sembari menggandeng lengan Amaranta , mereka berdua masuk ke dalam mobil.

"Seharusnya tadi kita mengambil uang di toko buku .!"

Ujar Achilleo sembari mengemudi , tatapannya lurus ke depan. Amaranta melirik sembari menjawab..

"Sekarang kamu berani bicara seperti ini , tapi tadi kamu ketakutan membunuh nyonya Amedea . Dasar pengecut .!"

"jelas aku ketakutan karena baru pertama membunuh orang dan aku takut kalau dia mengenaliku karena suaminya temanku,"

ujar Achilleo dengan nada datar sembari meluncurkan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah kontrakan mereka. Amaranta dan Achilleo ini sepasang kekasih yang tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan. Sepuluh menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi sampai juga di depan rumah kontrakan mereka yang jauh dari tetangga kanan kiri.

"Sebentar lagi, kita harus membayar kontrakan rumah dan sampai sekarang kita masih belum punya uang .!"

Keluh Achilleo sembari masuk ke dalam rumah.

"Kenapa kamu risau , Achilleo .?. Sebentar lagi menjadi orang kaya .!"

Sahut Amaranta dengan santainya , seraya mengunci pintu depan dan mengayunkan langkahnya ke dapur. Achilleo tidak menghiraukan ucapan kekasihnya yang di anggap hanyalah bualan semata.

""Kita makan dulu , Achilleo .!"

Amaranta mulai menyajikan sup ayam dan kentang goreng di atas meja makan.

"Hanya ini makanan kita , Amaranta.?"

Achilleo mendengus kasar sambil berkacak pinggang melihat makanan di atas meja makan , ia benar -benar tak selera melihat makanan yang itu-itu saja ,

"Kamu bosan makan seperti ini setiap hari .?. Kalau mau makan enak , bekerjalah .!. Jangan menganggur .!"

Cetus Amaranta sinis dengan tatapan mengejek pada kekasihnya yang menarik kursi dengan kasar .

"Aku sudah memberimu uang bulanan , Amaranta . Apa itu masih kurang .?."

Tanya Achilleo , tak habis pikir ia dengan cara Amaranta mengatur keuangan mereka. Berapa pun uang yang diberikan pasti habis dengan gaya Amaranta yang suka berfoya-foya menghabiskan uang untuk belanja di mall.

*BRUAK*

Achilleo memukul meja makan dengan kesal dan meninggalkan Amaranta yang asyik makan sendirian.

"Dasar laki tolol .!. Sudah mlarat , banyak tingkah lagi !. Sebentar pasti kubuang kamu ke sampah.!"

Desis Amaranta dengan ekspresi wajah licik. Selesai makan , ia membereskan meja makan dan menyusul masuk ke kamar tidur mereka.

"Achilleo..."

ia melihat Achilleo terbaring di ranjang dengan santai sambil menonton TV.

" Achilleo , tidurlah daripada kamu mengabaikan aku.!"

Ucap Amaranta yang masih mengenakan legging dan kemeja sebatas lutut itu membuka lemari pakaian kemudian menuju ke kamar mandi. Achilleo melirik sekilas ke arah kekasihnya ...

"Tiap bulan , kakakku mengirim uang dan semua kuberikan padamu tapi kamu tidak bisa mengatur keuangan, Amaranta.!"

Amaranta hanya diam tidak menanggapi ucapan kekasihnya.

"kakakku mengancam tidak mau mengirimi uang lagi."

Tukas Achilleo dengan santai. Sontak Amaranta menghentikan langkahnya masuk ke dalam kamar mandi dan mengangkat wajahnya menatap tajam Achilleo .

"Kita hidup bersama dan Kamu wajib menanggung kebutuhan hidup kita berdua , Achilleo.!"

jawab Amaranta dengan suara lantang dan sangat sengit.

"Kamu belum menjadi istriku, jadi aku tidak berhak sepenuhnya menanggung hidup kita berdua.!"

Achilleo bangun dari ranjang lalu duduk di tepinya,

"Amaranta, aku ingatkan kamu kalau kita tinggal serumah tapi belum menikah dan jangan banyak tuntutan.!"

lanjut Achilleo sembari menyalakan rokoknya.

"Ya, lebih baik sekarang kita putus , Achilleo .!"

Sahut Amaranta penuh penekanan karena merasa Achilleo hanya mau gratisan dan seenaknya sendiri , otomatis tersulut juga emosi Achilleo mendengar perkataan Amaranta kekasihnya.

"BANGSAT KAMU , AMARANTA .!. UANGKU SUDAH HABIS BANYAK BUAT KAMU .!. AKU JUGA SUDAH MENURUTI KEMAUANMU MEMBUNUH AMADEA PIENZA.!"

*PRANG*

Achilleo membanting sebotol Vodka yang berada di atas meja, tidak jauh dari ranjang. Kemudian bangkit berdiri berdiri, mendorong badan Amaranta sampai kepalanya terbentur ke dinding.

"Auww.."

Pekiknya kesakitan tapi Achilleo tidak perduli, malah dengan kasar mencengkeram pipi mulus kekasihnya, Amaranta meringis kesakitan.

"Kamu mengajariku menjadi pembunuh !. Kalau aku bisa membunuh Amedea , pastinya aku juga bisa membunuhmu , Amaranta.!"

Desis Achilleo dengan tatapan penuh kemarahan. Amaranta terdiam tidak melawan karena jika melawan pasti Achilleo membunuhnya. Pelan-pelan ia memasukkan tangannya ke dalam celana Achilleo dan meremas lembut penis kekasihnya .

"Amaranta.."

Pekik Achilleo terkejut lalu memegang tangan kekasihnya .

"Aku marah tapi kamu malah bergurau , Amaranta. Apa yang kamu inginkan .?"

"Kamu. Aku mau kamu , Achilleo."

Amaranta merayu agar Achilleo kekasihnya itu luluh dengan membuka celana kekasihnya.

"Teruskan marahmu, Achilleo .!"

Ujar Amaranta dengan suara genit sembari berjongkok, Achilleo menatap tajam kekasihnya yang mulai menjilat 'miliknya' dan memasukkan ke dalam mulut.

"Kamu benar-benar perempuan binal yang menggairahkan, Amaranta.!"

Desis Achilleo, masih dengan tatapan tajam. 'aktifitas' menyenangkan di sore hari bagi mereka berdua. Achilleo melenguh merasakan nikmatnya kuluman hangat kekasihnya yang tiada henti mengulum 'miliknya' sampai akhirnya Achilleo...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED